Feeds:
Pos
Komentar

SULING MAS (Serial Bu Kek Siansu 1)


Cipt: Kho Ping Ho

Pada jaman lima wangsa ( th.907- 960 ) , kerajaan Nan-Cao merupakan negara kecil di propinsi Yu-Nan sebelah selatan. Mungkin karena kecilnya kerajaan ini tidak dipandang mata oleh kerajaan lain, juga oleh kerajaan Sung yang kemudian di bangun.

Akan tetapi, pada pagi hari di pertengahan musim chun ( semi ) itu, banyak sekali tokoh-tokoh terkenal di dunia kang-ouw termasuk ketua-ketua perkumpulan dari pelbagai aliran, orang-orang muda yang patut di sebut pendekar silat, dan orang-orang aneh yang memiliki kesaktian, Datang membanjiri Nan-cao. Apakah gerangan yang menarik para kelana dan pe tualangan itu mendatangi Nan-cao? Ada pula hal yang menarik mereka berdatangan dari tempat-tempat yang amat jauh.

Pertama adalah pengangkatan Beng-kauw ( Ketua Agama Beng-kauw ) sebagai Koksu ( Guru Negara ) Kerajaan Nan Cao. Mereka berdatangan untuk memberi selamat kepada Ketua Beng-kauw yang sudah amat terkenal di dunia kang-ouw. Siapakah tidak mengenal Ketua Agama Beng-kauw yang bernama Liu Gan dan berju-luk Pat-jiu Sin-ong ( Raja Sakti Berlengan Delapan ) Itu ? Pada masa itu, Pat-jiu Sin-ong Liu gan merupakan tokoh gemblengan yang jarang ditemukan keduanya, jarang menemukan tanding. Selain memiliki kesaktian hebat, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan juga merupakan pendiri Agama Beng-kauw atau pembawa agama itu dari barat. Tidaklah mengherankan kalau apabila kini tokah-tokoh dari partai persilatan besar seperti Siauw lim-pai, Kun-lun-pai, Hoa-san-pai, dan lain-lain mengirim utusan untuk menghaturkan selamat atas pengangkatan tokoh sakti ini sebagai Koksu Kerajaan Nan-cao.

Adapun hal kedua yang meyebabkan terutama kaum muda, para pendekar perkasa dari pelbagai penjuru dunia ikut pula berdatangan, adalah tersiarnya berita bahwa puteri tunggal Pat-jiu Sin-ong hendak mempergunakan kesempatan berkumpulnya para tokoh persilatan itu untuk mencari jodoh ! Tentu saja hal ini menggegerkan dunia kaum muda, menggerakan hati mereka untuk ikut datang mempergunakan kesempatan baik mengadu untung. Siapa tahu ! Nama Liu Lu Sian, puteri Ketua Beng Kauw itu sudah terkenal di mana-mana. Terkenal sebagai seorang gadis yang selain tinggi ilmu silatnya, juga memiliki kecantikan seperti dewi khayangan. Terkenal pula betapa gadis jelita ini telah berani menolak pinangan-pinangan yang datangnya dari orang-orang besar, dari putera-putera para ketua perkumpulan, bahkan menolak pula pinangan dari istana beberapa kerajaan !

Tentu saja para pemuda inipun sebagian besar hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ujud rupa dan bentuk dara yang terkenal itu, karena jarang diantara mereka yang pernah melihat Liu Lu Sian. Yang pernah bertemu dengan gadis ini memuji-muji setinggi langit, terutma sekali tentang kecantikannya, yang

menjadi buah bibir para muda, bahkan entah siapa orangnya yang membuat, telah ada sajak pujian bagi Liu Lu Sian.

“Rambutnya Halus licin laksana sutera harum melambai, meraih cinta asmara ! Mata indah, kerling tajam menggunting jantung, bulu mata lentik berkedip mesra membuat bingung ! Hidung mungil, halus laksana lilin diraut, cuping tipis bergerak mesra menambah patut ! Hangat lembut, merah basah juwita Gendewa terpentang berisi sari madu Puspita !”

Banyak lagi puji-puji yang mesra bagi kejelitaan dara ayu Liu Lu Sian, yang dikagumi siapa yang pernah melihatnya, dipuji dari ujung rambut sampai ke telapak kakinya ! Memang sesungguhnyalah, Liu Lu Sian seorang dara jelita.

Usianya baru enam belas tahun (pada jaman itu sudah dewasa dan masak) Namun ilmu silatnya amat tinggi. Hal ini tidak mengherankan karena semenjak kecilnya ia digembleng oleh ayahnya sendiri. Hanya sayang bahwa sejak berusia dua tahun, Liu Lu Sian telah ditinggal mati ibunya. Ia tidak pernah merasa kasih sayang ibu kandung dan mungkin hal ini yang membuat ia menjadi seorang gadis yang berwatak aneh, riang gembira, lucu jenaka, akan tetapi juga liar bebas, tak terkekang ingin menang dan berkuasa saja, tidak mau tunduk kepada siapapun juga.

Para muda yang mendatangi Nan-Cao semua tahu belaka betapa sukarnya memperoleh gadis puteri ketua Beng-kauw itu. Bagaikan setangkai bunga, Lu Sian adalah bunga dewata yang tumbuh di puncak gunung yang amat tinggi dan sukar didapatkan.

Dara itu puteri tunggal Pat-Jiu Sin-ong yang sakti, yang tentu saja menghendaki seorang mantu pilihan, baik dipandang dari sudut keturunan, keadaan, maupun tingkat kepandainnya. Bahkan kabarnya dara itu hanya mau menjadi isteri seorang pendekar muda yang mampu mengalahkan dirinya ! Namun, para muda yang sudah dimabok asmara, bagaikan serombongan semut yang tertarik oleh harum dan manisnya madu, tidak takut bahaya, berusaha mendapatkannya biarpun bahaya mengancam nyawa.

Tiada hentinya para muda itu mempercakapkan tentang Lu Sian, memuji-muji kecantikannya, menyatakan harapan-harapan muluk ketika mereka bermalam dirumah-rumah penginapan di kota raja sambil menanti saat dibukanya kesempatan bagi mereka untuk memasuki halaman gedung Pat-jiu Sin-ong beberapa hari lagi, dimana selain hendak ikut memberi selamat, merekapun berharap akan dapat menyaksikan kehebatan dara yang mereka percakapkan dan yang kembang mimpi mereka setiap malam.

ia sengaja mengenakan pakaian indah, menunggang seekor kuda putih, lalu melarikan kudanya mengelilingi kota raja ! Memang hebat dara ini. Wajahnya kemerahan, berseri-seri dan pada kedua pipinya yang bagaikan pauh dilayang (merah jambu) itu, nampak lesung pipit menghias senyum dikulum. Rambutnya yang hitam gemuk digelung keatas, diikat rantai mutiara dan ujungnya bergantung dibelakang punggung, halus melambai tertiup angin. Tubuhnya amat ramping, pinggangnya kecil sekali dapat dilingkari jari-jari tangan agaknya, terbungkus pakaian sutera merah muda bergaris pinggir biru dan kuning emas, ketat mancetak bentuk tubuh yang padat berisi karena terpelihara dan terlatih semenjak kecil.

Pengait baju terbuat daripada benang emas yang gemilang, ikat pinggangnya dari sutera biru yang bergerak-gerak bagaikan sepasang ular hidup. Celananya sutera putih yang seakan membayangkan sepasang kaki indah, padat berisi dan sempurna lekuk-lekungnya, diakhiri dengan sepasang sepatu hitam yang berlapis perak. Cantik tak terlukiskan ! Menyaingi bidadari sorga dengan gerak tubuh yang lemah gemulai dan elok, akan tetapi rangka pedang yang tergantung dipinggangnya membuat ia lebih patut menjadi seorang Dewi Kwan Im Pouwsat !

Kuda putih tunggangannya berlari congklang dan Lu Sian memandang lurus ke depan namun ujung matanya menyambarkan kerling tajam kesana-sini, terutama diwaktu kudanya lewat depan rumah-rumah penginapan dimana para tamu muda berjajar depan pintu dengan mata jalang dan mulut ternganga, terpesona mengagumi dewi yang baru lewat.

Setelah dara ayu itu lenyap bayangannya, ributlah para muda teruna itu. Makin parah penyakit asmara menggerogoti jantung. Makin ramai percakapan mereka tentang Si Cantik manis. Rindu dendam dan harapan mereka yang terbawa dari rumah ratusan bahkan ribuan li jauhnya terpenuhi sudah. Mereka dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dewi pujaan hati mereka. Dan betapa tidak mengecewakan pemandangan itu. Bahkan melebihi semua dugaan dan mimpi. Tergila-gila belaka mereka setelah Lu Sian Lewat di atas kudanya.

“Aduh …, mati aku …! Kalau aku tidak berhasil menggandengnya pulang, percuma aku hidup lebih lama lagi…!” Seorang pemuda tampan tanpa ia sadari mengucapkan kata-kata ini sambil menarik napas panjang.

“Lebih baik mati di bawah kaki si jelita dari pada pulang bertangan hampa !” sambung pemuda ke dua.

“Siapa tahu, rejekiku besar tahun ini menurut perhitungan peramal ! Jodohku seorang gadis bermata bintang. Dan matanya…! Ah , matanya…, Kalah bintang kejora !” kata pemuda lain.

“Mulutnya yang hebat ! Amboooiii mulutnya…ah, ingin aku menjadi buah apel agar dimakannya dan berkenalan dengan bibir itu. Aduhhh…!”

Bermacam-macam seruan para muda itu yang seakan lupa diri, menyatakan perasaan hati masing-masing yang menggelora. Sudah lajim kalau sekumpulan orang muda bercakap-cakap, mereka lebih berani manyatakan perasaan hati masing-masing sehingga percakapan itu menjadi hangat dan kadang-kadang terdengar kata-kata yang kurang sopan.

Apalagi para muda yang tergila-gila pada seorang gadis jelita ini adalah orang-orang kang-ouw, pemuda-pemuda kelana kelana dan petualang. Banyak sudah tempat mereka jelajahi, cukup sudah dara-dara jelita mereka saksikan, namun baru sekali ini mereka menjumpai dara secanti k Lu Sian. Melampaui semua kembang mimpi.

Tujuh orang pemuda yang berkumpul dalam sebuah rumah penginapan itu adalah pendekar-pendekar muda dari beberapa partai. Seperti biasa, karena merasa segolongan dan setujuan, mereka lekas bersahabat dan selain menuturkan pengalaman masing-masing yang biasanya mereka lebihi, juga mereka tiada habisnya memuji-muji dan membicarakan diri Liu Lu Sian yang diam-diam mereka perebutkan. Setelah Lu Sian yang lewat di depan rumah penginapan itu, sampai jauh malam para pemuda ini bicara tentang Lu Sian dan masing-masing menyatakan harapan menjadi orang yang terpilih dengan mengemukakan dan menonjolkan keistimewaan masing-masing.

“Sebagai puteri Beng-kauw, tentu kepandaiannya amat tinggi dan belum tentu aku mampu menandinginya. Akan tetapi, ilmu golokku yang terkenal dan nama Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru memiliki keindahan yang melebihi keindahan seni tari manapun juga. Siapa tahu, keindahan seni permainan golokku akan menawan hatinya !” kata pemuda muka putih dengan pandang mata merenung penuh harapan dan di depan matanya terbayanglah mulut manis Lu Sian, karena dialah yang jadi tergila-gila oleh mulut manis itu dan ingin menjadi buah apel !

“Aku tidak punya kedudukan, orang tuaku miskin dan akupun tidak berpendidikan, tidak pandai tulis baca. Akan tetapi, biarpun ilmu silatku mungkin tidak setinggi dia, aku memiliki tenaga besar yang boleh diukur dengan tenaga siapapun juga.” kata pemuda tinggi besar yang matanya lebar.

“Mudah-mudahan nona Lu Sian sudi memandang nama besar Kun-lun-pai sehinga aku sebagai murid kecil Kun-lun-pai akan menarik perhatiannya.” kata pemuda ke tiga yang tampan juga. Demikianlah, tujuh orang pemuda itu menonjolkan keistimewaan masing-masing dengan harapan dialah yang akan terpilih.

Lewat tengah malam barulah mereka memasuki kamar masing-masing, namun tentu saja mereka tak dapat tidur, karena di depan mata mereka selalu terbayang wajah Liu Lu Sian. Maka ketika terdengar ada tamu baru datang dan disambut oleh pengurus rumah penginapan, mereka bertujuh semua keluar dan melihat tamu seorang pemuda berpakaian indah, berwajah tampan sekali dan bersikap tenang memasuki ruang dalam.

“Maaf, Kongcu (tuan muda), bukan kami kurang hormat terhadap tamu. Akan tetapi, kamar yang patut untuk Kongcu sudah penuh semua. Kecuali kalau diantara para Enghiong (Pendekar) yang terhormat membagi kamarnya…” Dengan ragu-ragu dan penuh harap pengurus penginapan itu memandang ke arah tujuh pemuda yang sudah keluar dari kamar masing-masing

Tujuh orang muda itu memandang Si Pendatang baru penuh perhatian. Pemuda ini berpakaian seperti orang terpelajar, gerak-geriknya halus, sama sekali tidak membayangkan gerak seorang ahli silat. Otomatis orang pendekar muda itu memandang rendah.

Mana ada seorang pendekar suka membagi kamar dengan kutu buku yang tentu akan menjemukan dan bicaranya tentu soal kitab-kitab dan sajak belaka ? Pemuda itu agaknya maklum akan pandang mata mereka, maka cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan ke depan dada, dan memberi hormat berkata dengan penuh kesopanan.

“Harap Cu-wi Enghiong (Tuan-tuan Pendekar Sekalian) sudi memberi maaf kepada siawte (aku yang muda). Tentu saja siawte tidak berani menggangu para Enghiong, akan tetapi barangkali ada diantara para Cu-wi yang sudi membagi kamar…” Ia berhenti bicara melihat mereka mengerutkan kening, dan menanti jawaban. Ketika tidak ada jawaban datang, ia tersenyum.

“Saudara siapakah dan dari golongan mana ? Apakah tamu dari Beng-kauwcu Liu-locianpwe (Orang Tua Gagah she Ketua Beng-kauw) ?” tanya pemuda tinggi besar yang bertenaga gajah.

“Siauwte she Kwee bernama Seng, orang lemah seperti siauwte yang setiap hari menekuni huruf-huruf kuno, tidak dari golongan mana-mana dan siauwte hanya pelancong biasa.”

Hmm, maaf, kamarku sempit sekali.”jawab si Tinggi Besar kehilangan perhatian.

“Aku tidak biasa tidur berteman.” kata orang ke tiga.

“Maaf, maaf, memang siauwte tidak berani mengganggu Cu-wi. Eh, Lopek, kau tadi bilang tentang kamar yang patut, apakah masih ada kamar yang tidak patut ?” Kwee Seng menoleh kearah pengurus penginapan sedangkan tujuh orang pendekar itu sudah kembali ke kamar masing-masing dan menutupkan daun pintunya.

“Ah, ada.. Ada, Kongcu. Akan tetapi, itu adalah kamar-kamar kecil di sebelah belakang, dahulu menjadi kamar pelayan, tidak berani saya menawarkannya kepada Kongcu…”

Kwee Seng tersenyum. “Tidak mengapa, Lopek. Malam sudah begini larut, mencari kamar di penginapan lain pun repot. Biarlah aku bermalam di kamar pelayan itu.”

Dengan tergopoh-gopoh pengurus penginapan itu lalu mendahului Kwee Seng sambil membawa sebuah lampu, mengantar tamunya ke sebuah kamar yang berada jauh di ujung belakang. Benar saja, kamar ini kecil, hanya terisi sebuah pembaringan bambu yang setengah reyot, lantainya tidak begitu bersih pula.

“Ah, cukup baik !” seru Kwee Seng sambil menaruh bungkusan pakaiannya di atas pembaringan. “Tidak usah kau tinggal lampumu, Lopek aku biasa tidur gelap. “Ia menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang mengeluarkan bunyi berkereotan.

Pengurus penginapan itu keluar dari dalam kamar membawa lampunya sambil menggeleng-geleng kepala saking heran melihat seorang kongcu berpakaian indah itu kelihatannya sudah tidur pulas begitu tubuhnya menyentuh pembaringan, ia menutupkan daun pintu perlahan-lahan.

Sebentar kemudian sekeliling tempat penginapan sunyi. Pengurus dan penjaga pun sudah tidur . Yang terdengar hanya dengkur yang keras dari kamar pemuda tinggi besar. Dari beberapa buah kamar lain terdengar suara orang mengigau menyebut-nyebut nama Liu Lu Sian. Bahkan dalam mimpi pemuda-pemuda ini selalu merindukan Lu Sian!

Suara mengigau ini keluar dari kamar pemuda anak murid Kun-lun-pai. Tiba-tiba sebagai seorang ahli silat, pemuda tampan itu meloncat turun dari pembaringannya ketika pendengarannya, atau agaknya lebih tepat indera keenamnya, mendengar suara yang mencurigakan.

Dalam meloncat tadi sekaligus ia telah mencabut pedangnya, dan sekali menggoncang kepalanya lenyaplah semua kantuk dan ia sudah berada dalam posisi siap siaga, sepasang matanya melirik ke arah jendela kecil kamarnya. Tiba-tiba jendela itu terbuka daunnya dari luar, dan muncullah seorang laki-laki jangkung yang berusia empat puluh tahun lebih, bertangan kosong. Orang ini memasuki kamar melalui jendela dengan gerakan ringan dan sikap tenang saja.

“Siapa kau ? Mau apa…”

“Mau membunuhmu. Manusia macam kau berani menyebut-nyebut peteri Beng-kauwcu harus mampus !” berkata bayangan laki-laki itu dengan suara mendesis, lalu menerjang maju.

Pemuda Kun-lun-pai itu tentu saja tidak menjadi gentar biarpun ia merasa kaget sekali. Pedangnya berkelebat dan bergulung-gulung sinarnya di depan dada bermaksud melindungi dirinya saja terhadap orang yang agaknya gila ini. Akan tetapi, tiba-tiba sekali gerakan pedangnya berhenti seakan- akan tertahan oleh tenaga yang tak tampak dan sebelum pemuda Kun-lun-pai ini tewas seketika tanpa dapat bersambat lagi !

Suara mendengkur dari kamar si Tinggi Besar terhenti seketika. Jagoan bertenaga gajah ini pun biar tidurnya mendengkur, Sedikit suara saja cukup membuat ia terjaga dari tidurnya. Kamarnya berada di sebelah kamar murid Kun-lun-pai, maka ia mendengar suara dari dalam kamar itu, cukup membuatanya terbangun dan curiga.

Karena tiap kamar penginapan terdapat jendela di sebelah belakang, ia cepat membuka daun jendela dan… seperti kilat cepatnya ia meloncat keluar dan menerkam seorang laki-laki yang berdiri di depan jendela murid ku-lun-pai. Kedua lengannya yang kuat bergerak, dalam segebrakan saja si Tinggi Besar berhasil mencekik leher orang itu.

“Hayo mengaku, siapa kau dan…uuhhh!” Tubuh yang tinggi besar itu seketika menjadi lemas dan
kepalanya miring, lalu ia roboh tak berkutik lagi di depan laki-laki setengah tua yang jangkung itu !

Sebatang golok menyambar dengan hebatnya membentuk sinar melengkung seperti pelangi. Kiranya pemuda yang memiliki Ilmu Golok Pelangi di Awan Biru telah turun tangan melihat ada orang merobohkan temannya yang tinggi besar. Memang indah gerakannya, gulungan sinar goloknya seperti gerakan pita dan selendang para bidadari sedang menari-nari.

Namun, dengan mudah bayangan itu menyelinap di antara gulungan sinar golok dan belum juga empat jurus Si Pemuda menyerang, ia sudah roboh pula terkena tamparan pada lehernya roboh untuk selamanya karena nyawanya melayang.

Dengan gerakan tenang namun cepat sekali, si Bayangan Maut itu menuju ke kamar yang lain. Namun belum sempat ia membuka jendela, empat orang pemuda yang lain sudah berlari datang dan mengepungnya. Mereka lalu berlari ke belakang dan segera mengepung si Bayangan Maut ketika melihat betapa dua orang temannya sudah menggeletak pula tak bernyawa.

“Kalian harus mampus semua…!”

Bayangan itu mendengus, tubuhnya bergerak secara aneh sekali, menyelinap diantara sambaran empat buah senjata para pengurungnya. Hebat memang kepandaian bayangan maut ini. Empat orang pemuda yang mengeroyoknya bukanlah pemuda-pemuda sembarangan. Mereka itu sudah terdidik dalam ilmu silat yang cukup tinggi, setingkat dengan anak murid Kun-lun-pai dan dengan si Tinggi Besar atau si Golok Pelangi. Namun menghadapi bayangan maut ini, mereka tak mampu berbuat banyak. Lawan mereka yang mereka keroyok ini seakan-akan hanya bayangan kosong tak mungkin dapat tersinggung senjata mereka.

Tiba-tiba bayangan itu terkekeh dan.. .setelah terdengar suara “plak-plak-plak-plak ! “empat kali, empat orang pemuda itupun roboh, terpukul pada leher mereka dan tewas seketika !

Setelah membunuh tujuh orang pemuda itu, bayangan ini berdiri dengan kaki terpentang lebar, mendongakkan mukanya ke atas sambil tertawa. “Ha ha hah ! Alangkah lucunya !Orang-orang macam ini mengharapkan seorang dewi seperti dia ! Ha ha hah !”

Kemudian, melihat suara ribut-ribut dari pengurus penginapan yang agaknya terjaga, sekali meloncat ia sudah berada di atas genteng, lalu bagaikan gerakan seekor kucing, ia berlari ke arah belakang tanpa menimbulkan suara. Akan tatapi mendadak orang itu berseru perlahan ketika kakinya terpeleset karena genteng yang diinjaknya merosot turun. Cepat ia berjongkok di atas bangunan bagian belakang rumah penginapan itu dan membuka genteng, mengintai.

Kiranya di situ terdapat seorang pemuda lagi yang enak tidur telentang.Sebatang lilin kecil menyala di atas meja. Kepalanya diganjal bantalan pakaian. Tidak tampak senjata di dalam kamar itu sehingga bayangan itu mengerutkan kening. Seorang pemuda pelajar, pikirnya, tak mungkin dia yang main-main denganku. Akan tetapi siapa tahu ? Ia mengeluarkan sebatang jarum merah dan sekali jari-jari tangannya bergerak, melesatlah sinar merah ke bawah melalui celah-celah genteng, menuju ke arah leher si pemuda yang tidur telentang.

Pemuda di bawah itu yang bukan lain adalah Si Pelajar Kwee Seng, menggeliat dan mengaluh seperti orang mengingau dalam tidurnya,lalu miring. Akan tetapi tiba-tiba tubuh itu menegang kaget dan tak bergerak-gerak lagi. Bayangan orang di atas genteng tersenyum puas melihat korbannya yang ke delapan, maka ia bangkit berdiri dan cepat ia lari pergi dari tempat itu, menghilang di dalam gelap !

“Tolong…! Pembunuhan… pembunuhan…! !” Suara pengurus penginapan ini terdengar lantang sekali di waktu fajar itu, mengagetkan semua orang. Para pelayan bersama para tamu lainnya berbondong keluar dan sebentar saja di tempat pembunuhan sudah penuh dengan orang. Obor-obor dan lampu-lampu dipasang sehingga keadaan menjadi terang sekali. Pembunuhan yang sekaligus mengorbankan nyawa tujuh orang pemuda kang-ouw benar-benar merupakan peristiwa hebat yang mengejutkan sekali.

Ketika pengurus penginapan melihat Kwee Seng berada di antara banyak itu, ikut menjenguk dan melihat pemuda-pemuda teruna yang menjadi korban pembunuhan aneh, pengurus itu segera memegang lengannya dan berkata. “Ah, Kongcu benar-benar seorang yang masih dilindungi Thian (Tuhan) ! Seandainya Kongcu diterima tidur dengan mereka, ah… tentu akan bertambah seorang lagi korban pembunuh kejam ini !”

Kwee Seng hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum duka. Di dalam hatinya ia menyangkal keras pendapat pengurus rumah penginapan ini. Andaikata ia diterima bermalam dengan mereka, belum tentu iblis maut yang malam itu merajalela dapat menjatuhkan tangan mautnya.

Diam-diam ia meraba jarum kecil yang ia masukkan ke dalam saku bajunya, jarum merah yang malam tadi pun hampir membunuhnya. Menyesallah hati Kwee Seng mengapa malam tadi ia tidak mengejar si penjahat yang mencoba membunuhnya, dan mengapa ia begitu enak tidur sehingga ia tidak tahu di bagian depan penginapan itu menjadi tempat penyembelihan tujuh orang muda.

Kwee Seng adalah seorang mahasiswa gagal. Ia suka sekali akan bun (sastra), bu (silat), namun bakatnya lebih menjurus kepada bu (silat). Seorang pemuda yatim piatu, sebatang kara merantau tanpa tujuan.

Namun ilmu kepandaiannya amat tinggi, ilmu silatnya sukar mendapatkan tandingan karena selain ia telah mempelajarinya dari para pertapa sakti di puncak-puncak gunung sebelah barat, juga ia pernah berjumpa dengan manusia dewa Bu Kek Siansu yang telah menurunkan beberapa macam ilmu kepadanya.

Bu Kek Siansu terkenal sebagai manusia dewa yang sewaktu-waktu muncul untuk mencari bahan baik, tulang pendekar berwatak budiman, dan menurunkan ilmu. Tak seorang pun di dunia ini tahu dari mana asalnya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.

Kwee Seng pernah mengikuti ujian di kota raja namun gagal. Semenjak itu, ia tidak pernah kembali ke kampung halamannya, yaitu di sebuah dusun kecil di kaki gunung Luliang-san, karena ayah bundanya sudah lama meninggal dunia oleh wabah penyakit ketika ia masih kecil.

Ia merantau sebagai seorang kang-ouw yang tak terkenal karena semua sepak terjangnya ia sembunyikan. Hanya beberapa orang tokoh besar saja di dunia kang-ouw yang mengenal pendekar sakti muda ini, malah diam-diam ia diberi julukan Kim-mo-eng (pendekar Setan Emas).

Ia disebut setan karena sepak terjangnya seperti setan, tak pernah memperlihatkan diri. Akan tetapi ia di sebut emas yang mengandung maksud bahwa pendekar ini berhati emas, membela kebenaran dan keadilan, pembasmi kelaliman dan kekejaman. Namun nama ini hanya kalangan atas terbatas saja pernah mendengar, di dunia kang-ouw nama Kim-mo-eng Kwee Seng tak pernah terdengar.

Kwee Seng tidak berbohong ketika mengatakan kepada ke tujuh orang pendekar pada malam yang lalu bahwa ia adalah seorang pelancong yang kebetulan lewat di kota raja Nan-Cao. Memang ia tidak mempunyai niat untuk menjadi tamu Beng-kauw, sungguhpun nama Pat-jiu Sin-ong bukanlah nama asing baginya.

Ia tidak suka tokoh besar itu diangkat menjadi koksu, hal yang ia anggap sebagai bukti kerakusan akan kedudukan dan kemuliaan. Maka baginya, hal itu tidak perlu diberi selamat. Apalagi mendengar berita tentang putri Pat-jiu Sin-ong yang hendak memilih jodoh, seujung rambutpun tiada niat di hatinya untuk ikut-ikutan memasuki sayembara, bahkan ingin melihat si jelita pun sama sekali ia tidak ada nafsu.

Memang demikianlah watak Kwee Seng. Ia memandang rendah kepada hal-hal yang dianggapnya tidak benar atau menyimpang daripada kebenaran. Padahal harus diakui bahwa ia adalah seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tiga tahun, yang tentu saja sebagai seorang pemuda normal, selalu berdebar-debar apabila melihat seorang gadis cantik.

Ia seorang pemuda yang pada dasarnya memiliki watak romantis,suka akan keindahan, suka akan tamasya alam yang permai, suka akan bunga yang indah dan harum, dan tentu saja bentuk tubuh seorang dara jelita. Akan tetapi, kekuatan batinnya cukup untuk menekan semua perasaan ini dan membuat ia tetap tenang.

Peristiwa pembunuhan di dalam rumah penginapan itu membangkitkan jiwa satrianya.

Ia mendengar keterangan sana-sini dan tahu bahwa tujuh orang pemuda itu adalah calon- calon pengikut sayembara untuk meminang puteri Beng-kauwcu. Mendengar pula betapa pemuda-pemuda itu sudah kegilaan akan Nona Liu Lu Sian, dara rupawan yang pada pagi hari kemarin lewat didepan rumah penginapan.

Karena ini, diam-diam KweeSeng menghubungkan semua itu dengan pembunuhan. Agaknya karena mereka itu tergila-gila kepada Liu Lu Sian maka malam ini menjadi korban pembunuhan keji. Entah apa yang menjadi dasar pembunuhan , entah cemburu atau bagaimana. Namun yang pasti, untuk mencari pembunuhnya ia harus datang menjadi tamu Beng-Kauw !

Inilah yang membuat Kwee Seng terpaksa menunda perantauannya dan bersama dengan para tamu lainnya , ia pun melangkahkan kaki menuju ke gedung keluarga Pat-jiu Sin-ong.

Rumah gedung keluarga Liu dihias meriah. Pekarangan yang amat luas itu telah diatur menjadi ruangan tamu, dibagian tengah agak mendalam yang letaknya lebih tinggi rauangan depan, kini dipergunakan untuk tempat rumah dan para tamu yang terhormat atau para tamu kehormatan.

Ruangan ini disambung dengan sebuah panggung setinggi satu meter yang cukup luas dan panggung ini diperuntukkan untuk mereka yang hendak bicara mengadakan sambutan, juga dibentuk semacam panggung tempat main silat.

Panggung semacam ini memang lajim diadakan setiap kali ada ahli silat mengadakan sesuatu, karena perayaan diantara ahli silat tanpa pertunjukan silat akan merupakan hal yang janggal dan mentertawakan.

seperguruan), yaitu pertama adalah Liu Mo adik kandungnya sendiri, Liu Mo berusia empat puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan pendiam, sinar matanya membayangkan watak yang serius (sungguh-sungguh) dan berwibawa.

Biarpun Liu Mo memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan merupakan orang ke dua dalam Beng-kauw, namun ia tetap sederhana dan tidak mempunyai julukan apa-apa. Di dalam Beng-kauw, ia merupakan pembantu yang amat berharga dari kakak kandungnya dan boleh boleh dikatakan untuk segala urusan dalam, Liu Mo inilah yang sering mewakili kakaknya.

Orang ke dua adalah Ma Thai kun. Orangnya tinggi kurus, wajahnya selalu keruh dan biarpun usianya baru tiga puluh enam tahun, namun ia memelihara jenggot dan kelihatan lebih tua. Ia terkenal pemarah dan wataknya keras, kepandaianya juga tinggi dan ilmu silatnya tangan kosong amat hebat.

Segala macam pukulan dipelajarinya dan kedua tangannya mengandung tenaga dalam yang amat dahsyat. Berbeda dengan Liu Mo yang sabar dan berwibawa, orang ke tiga dari Beng-kauw ini menyambut tamu dengan wajah gelap dan tak pernah tersenyum, juga ia memandang rendah kepada para tamunya.

Orang ke tiga dari para wakil Ketua Beng-Kauw ini usianya hampir tiga puluh tahun, akan tetapi wajahnya terang dan kelihatan masih muda. Dandanannya sederhana sekali, bahkan lucu karena ia menggunakan sebuah caping (topi berujung runcing) seperti dipakai para petani atau penggembala.

Di punggungnya terselip sebatang cambuk yang biasa dipergunakan para penggembala mengatur binatang gembalaannya! Memang murid termuda ini seorang yang ahli dalam soal pertanian dan peternakan. Wajahnya terang dan ia menerima para tamu dengan sikap hormat sekali.

Inilah Kauw Bian seorang pemuda desa yang menjadi sute termuda dari Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Biarpun sikapnya sederhana dan seperti seorang desa, akan tetapi jangan dipandang rendah kepandaiannya dan pecut itu sama sekali bukanlah pecut biasa melainkan senjatanya yang ampuh!

Sebagaimana lazimnya para tokoh besar, mereka ini selalu menahan “harga diri”, tidak sembarangan orang dapat menjumpai dan dalam menyambut tamu, biasanya diwakilkan dan kalau perlu barulah ia sendiri muncul menemui tamunya.

berkumpul semua dan tidak ada lagi yang datang baru tokoh besar ini muncul di ruangan tuan rumah. Para tamu segera bangkit berdiri memandang ke arah tuan rumah dengan kagum.

Memang patut sekali Liu Gan menjadi seorang tokoh yang terkenal lebih tinggi daripada perawakan seorang laki-laki biasa. Kekar dan berdiri tegak, dadanya lebar membusung, pakaiannya indah, pandang matanya berwibawa. Kepalanya tertutup topi bulu yang terhias bulu burung rajawali.

Ketua Beng-Kau ini keluar sambil tersenyum-senyum dan menjura ke arah para tamu lalu duduk. Para tamu juga lalu duduk kembali, akan tetapi semua mata tetap terbelalak lebar memandang gadis yang keluar bersama, Pat-jiu Sin-Ong.

Itulah dia, gadis yang kini menarik semua pandang mata bagaikan besi sembrani menarik logam. Liu Lu Sian, dara jelita yang pada saat itu mengenakan pakaian sutera putih terhias benang emas dan renda-renda, merah muda. Cantik jelita bagaikan dewi khayangan!

Para muda melongo, ada yang menelan ludah, ada yang lupa mengatupkan mulutnya, bahkan ada yang menggosok-gosok mata karena merasa dalam mimpi! Namun orang yang menjadikan para muda terpesona itu tetap duduk dengan tegak dan senyum manisnya tak pernah meninggalkan bibir. Tapi banyak pula yang memandang dengan hati ngeri.

Mereka semua, tua muda, sudah mendengar belaka tentang peristiwa hebat di dalam rumah penginapan, dimana tujuh orang pendekar muda yang tergila-gila kepada gadis ini terbunuh secara aneh.

Para tamu yang duduk di ruangan kehormatan mulai bergerak menghampiri Pat-jiu Sin-ong menghaturkan selamat, diikuti tamu-tamu lain. Pat-jiu Sin-ong menyambut pemberian selamat itu sambil tertawa-tawa dan tidak berdiri dari bangkunya, sikap yang jelas memperlihatkan keangkuhannya.

Setelah para tamu memberi selamat, dan mereka kembali ke tempat masing-masing, tiba-tiba Pat-jiu sin-ong berdiri dari bangkunya memandang ke luar dan berseru keras. “Aha, saudara muda Kwee Seng ! Kau datang juga hendak memberi selamat kepadaku? Bagus! Menggembirakan sekali. Mari ke sini, kau mau duduk bersamaku!”

Tentu saja semua tamu menoleh ke arah luar untuk melihat tamu agung manakah yang begitu menggembirakan Pat-jiu Sin-ong sehingga tokoh ini sampai berdiri dan berseru menyambut segembira itu? Mereka mengira bahwa yang datang tentulah seorang tokoh besar di dunia kang-ouw.

Akan tetapi alangkah heran hati mereka ketika melihat seorang pemuda berpakaian sastrawan yang melangkah masuk ke ruangan itu dengan langkah lambat dan sikap lemah-lembut. Seorang pelajar lemah seperti ini bagaimana bisa mendapatkan perhatian begitu besar dari Pat-jiu Sin-ong yang terkenal angkuh dan tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh kang-ouw yang hadir di situ?

Pemuda itu bukan lain adalah Kwee Seng. Memang jarang ada orang kang-ouw mengenalnya, tetapi di antara sedikit tokoh besar dunia kang-ouw yang tahu akan kehebatan orang muda ia adalah Pat-jiu Sin-ong, karena Ketua Beng-kauw ini pernah bertemu dengan Kwee Seng ketika dia mengunjungi Ketua Siauw-lim-pai, Kian Hi Hosiang yang sakti, memperlakukan pemuda ini sebagai seorang tamu agung pula!

Inilah sebabnya maka Ketua Beng-kauw mengenal Kwee Seng dan biarpun belum membuktikan sendiri kehebatan pemuda ini, ia sudah dapat menduga bahwa pemuda yang di sambut demikian hormatnya oleh Ketua Siauw-lim-pai, yang malah dijuluki Kim-mo-eng, tentulah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Dengan tenang dan tersenyum ramah Kwee Seng menghampiri tuan rumah menjura dengan hormat sambil berkata, “Liu-enghiong (Orang Gagah She Liu), maafkan saya datang menggangu secawan dua cawan arak. Terus terang saja, kebetulan lewat dan mendengar tentang keramaian di sini dan ingin menonton.

“Akan tetapi sama sekali bukan untuk memberi selamat. Makin tinggi kedudukan makin banyak keruwetan dan makin besar kemuliaan makin besar pula kejengkelan, apa perlunya diberi selamat?”

“Ha-ha-ha-ha! Kata-katamu ini memang cocok bagi orang yang mengejar kedudukan dan memperebutkan kemuliaan, yang tentu saja hanya akan menemui kejengkelan dan memperbanyak permusuhan. Akan tetapi aku menjadi koksu (guru negara) untuk membimbing pemerintahan negaraku yang dipimpin oleh keluargaku sendiri.

“Ini namanya panggilan negara dan bangsa, kewajiban seorang gagah. Akupun tidak butuh pemberian selamat yang semua palsu belaka, basa-basi palsu, berpura-pura untuk mengambil hati. Ha-ha-ha! Lebih baik yang jujur seperti kau ini, Kwee-hiante. Mari duduk!”

“Liu-enghiong, aku mendengar pula bahwa kau hendak mencari mantu dalam perayaan ini…”

“Ah, anakku yang ingin mencari jodoh. He, Lu Sian, perkenalkan ini sahabat baikku, Kwee Seng!” Ketua Beng-kauw itu dengan bebas berteriak kepada puterinya. Liu Lu Sian sejak tadi memang memperhatikan Kwee Seng yang disambut secara istimewa oleh ayahnya.

Biarpun pemuda ini gerak-geriknya halus seperti orang lemah, namun melihat sinar matanya, Lu Sian dapat menduga bahwa Kwee Seng adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Mendengar seruan ayahnya ia lalu bangkit berdiri lalu menghampiri Kwee Seng sambil merangkapkan kedua tangannya. “Kwee-kongcu (Tuan Muda Kwee), terimalah hormatku!” katanya dengan suara merdu dan bebas, gerak-geriknya manis sama sekali tidak malu-malu atau kikuk seperti sikap gadis biasa.

Kwee Seng sejak tadi hanya memperhatikan Liu Gan saja maka tidak tahu bahwa di ruangan itu terdapat gadis puteri Liu Gan yang kecantikannya telah banyak pemuda tergila-gila, bahkan agaknya yang telah menjadi sebab daripada akibat mengerikan di rumah penginapan malam kemarin.

Mendengar suara merdu ini ia menengok dan… pemuda itu berdiri terpesona, sejenak ia tidak dapat berkata-kata, bahkan seakan-akan dalam keadaan tertotok jalan darah di seluruh tubuhnya, tak dapat bergerak seperti patung batu! Belum pernah selama hidupnya ia terpesona oleh kejelitaan seorang wanita seperti saat itu. Mata itu!

Bening bersih gilang-gemilang tiada ubahnya sepasang bintang kerling tajam menggores jantung kedip mesra membuat bingung

Bulu mata lentik berseri bagai rumput panjang di pagi hari sepasang alis hitam kecil melengkung menggeliat-geliat malas kedua ujung!

“Kwee-kongcu…” kata pula Liu Sian melihat pemuda itu diam saja seperti patung, dalam hatinya geli bukan main.

“A… oh…, Liu-siocia (Nona Liu), tidak patut saya menerima penghormatan ini…!” jawabnya gagap sambil cepat-cepat mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia merasa betapa angin pukulan menyambar dari arah kedua tangan gadis yang dirangkap di depan dada itu.

Angin pukulan yang mengandung hawa panas dan yang tentu akan cukup membuat ia terjungkal dan terluka hebat. Alangkah kecewanya hati Kwee Seng! Dara juwita ini, yang dalam sedetik telah membuat perasaannya morat-marit, yang kecantikannya memenuhi semua seleranya, menguasai seluruh cintanya, ternyata memiliki watak yang liar dan ganas!

Sekilas teringat lagi ia akan pembunuhan tujuh orang pemuda tak berdosa dan seketika itu Kwee Seng merasa jantungnya sakit. Ia masih terpesona, masih kagum bukan main melihat dara jelita ini, namun kekaguman yang bercampur kekecewaan. Maka ia pun cepat mengarahkan tenaga ke arah ke dua tangannya yang membalas penghormatan.

“Aiiihhh…! Mengapa Kwee-kongcu demikian sungkan? Penghormatan kami sudah selayaknya!” kata Liu Lu Sian yng berseru untuk menutupi kekagetannya ketika angin pukulan yang keluar dari pengerahan sin-kang di kedua tangannya membalik seperti angin meniup benteng baja.

Gadis ini sambil tersenyum manis menyambar guci arak pilihan dari tangan pelayan bersama sebuah cawan perak, lalu menuangkan arak ke dalam cawan itu. Cawan sudah penuh, terlampau penuh akan tetapi anehnya, arak di dalam cawan tidak luber, tidak membanjir keluar. Permukaan arak melengkung ke atas berbentuk telur.

Dengan tangan kanan memegang cawan yang terisi arak itu Liu Lu Sian berkata,”Kehadiran Kwee-kongcu merupakan kehormatan besar, harap sudi menerima arak sebagai tanda terima kasih kami.”

Kembali Kwee Seng tertegun. Dara juwita ini tidak saja cantik seperti bidadari, akan tetapi juga memiliki kepandaian hebat. Sin-kang yang diperlihatkan kali ini lebih halus, sehingga bagi orang biasa tentu merupakan perbuatan yang tak masuk akal, seperti sihir.

Akan tetapi makin kecewalah hati Kwee Seng karena ia menganggap bahwa gadis ini terlalu binal dan suka membuat malu orang lain. Kalau yang menerima arak sepenuh itu tidak memiliki sin-kang yang tinggi, apakah tidak akan mendatangkan malu karena araknya pasti akan tumpah semua begitu gadis ini

melepaskan pegangannya?

“Siocia terlampau sungkan. Terlalu besar kehormatan ini bagi saya…” Kwee Seng menerima cawan sambil mengerahkan tenaganya sehingga ketika Lu Sian melepas cawan itu, arak yang terlalu penuh tetap melengkung di atas cawan tidak tumpah sedikitpun juga.

Akan tetapi jantung Kwee Seng berdegup keras karena ketika ia menerima cawan tadi jari tangannya bersentuhan dengan kulit tangan yang halus sekali, sementara itu, hidungnya mencium bau harum semerbak yang luar biasa, bau harum bermacam bunga yang baru sekarang ia menciumnya karena tadi ia terlampau terpesona oleh kecantikan Lu Sian.

Ia tadi sudah berhati-hati sekali, sebagai seorang yang sopan, agar jari tangannya tidak menyentuh jari gadis itu, akan tetapi toh bersentuhan, maka ia tahu bahwa gadis itulah yang sengaja menyentuhkan tangannya!

Berbarengan dengan datangnya degup jantung mengeras dan ganda harum yang memabokkan otak, timbul hasrat hati Kwee Seng untuk memamerkan kepandaiannya pula di depan gadis jelita yang berlagak ini.

Ia segera menuangkan arak ke dalam mulutnya, mengangkat cawan tinggi ke atas mulut dan menuangkannya. Akan tetapi, sampai cawan itu membalik, araknya tetap tidak mau tumpah ke dalam mulut ! Arak itu seakan-akan sudah membeku di dalam cawan!

“Ah, maaf… maaf… saya memang tidak bisa minum arak baik!” kata Kwee Seng sambil menurunkan lagi cawannya. Tiba-tiba ia membuka sedikit mulutnya dan dari cawan yang sudah berdiri lagi itu tiba-tiba meluncur arak seperti pancuran kecil menuju ke atas dan langsung memasuki cawan itu menjadi kering!

“Wah, kehadiran Kwee-kongcu benar-benar menggembirakan. Kalau tadi secawan arak untuk penghormatan kami, sekarang kuharap kongcu sudi menerima secawan lagi, khusus dariku!” kata pula Lu Sian sambil menuangkan lagi arak ke dalam cawan kosong, kali ini lebih penuh daripada tadi, lalu memberikannya kepada Kwee Seng.

Seketika terbelalak mata Kwee Seng kedua pipinya menjadi merah dan sinar matanya berkilat. Lenyap seketika pesona yang menguasai dirinya. Gadis ini benar-benar terlalu liar, aneh, dan ganas! Ia melihat betapa tadi dari tangan gadis itu berkelebat sinar putih memasuki cawan dan sebagai seorang pendekar

sakti, ia maklum apa artinya itu.

Arak kali ini dicampuri semacam obat bubuk yang biarpun sedikit sekali, namun ia dapat menduga tentu amat hebat akibatnya kalau terminum olehnya. Ia tahu bahwa gadis ini tidak sengaja mencelakakannya, hanya untuk menguji, akan tetapi cara ujian yang amat berbahaya!

“Nona terlalu menghormat …! ” jawabnya dan ia menerima cawan itu. Begitu cawan diterimanya, ia berseru, “Ah, nona terlalu banyak mengisi araknya…!” dan tiba-tiba, biarpun cawan itu dipegangnya lurus-lurus, isi cawan berhamburan keluar dan tumpah semua sampai habis. Anehnya, tangan Kwee Seng yang memegang sawan sama sekali tidak basah karena ara itu tumpahnya “melayang” ke depan dan sebaliknya malah membasahi sebagian celana dan sepatu si jelita!

“Ah, maaf.. maaf..!” kata Kwee Seng sambil menjura penuh hormat.

“Kwee-kongcu terlalu merendah …!” Sepasang pipi Lu Sian menjadi merah sekali dan kilatan matanya membayangkan kemarahan ketika ia menjura dan mengundurkan diri kembali ke bangkunya sambil mengusap noda arak dengan sapu tangannya.

Peristiwa aneh ini hanya disaksikan oleh beberapa orang tamu kehormatan yang duduk berdekatan, akan tetapi para tamu yang jauh tidak melihat jelas, dan hanya mengira bahwa pemuda pelajar itu amat canggung sehingga menumpahkan arak yang disuguhkan orang kepadanya. Namun, banyak yang merasa iri hati melihat betapa Si Bidadari sampai dua kali memberi suguhan arak kepada pemuda lemah itu.

“Ha-ha-ha, lama tak jumpa, kau makin hebat, Kwee-hiante! Mari, mari kita minum sampai mabok!”

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong mengajak pemuda itu menghadapi meja penuh hidangan. “Liu-enghiong tentu maklum bahwa aku tidak biasa minum arak lebih dari tiga cawan,” bantah Kwee Seng.

“Ha-ha-ha!” Ocehan burung yang tak patut didengar! Aku percaya, biarpun habis tiga guci, orang macam kau mana bisa mabok ? Ha-ha-ha marilah, tak usah sungkan. Kita orang sendiri!”

tuan rumah yang keras ini terdengar semua orang dan ia sudah melihat sinar mata iri dilempar orang, terutama kaum mudanya, ke arahnya. Ia memang tidak suka minum arak terlalu banyak, akan tetapi kali ini hatinya sedang rusak dan kacau.

Harus ia akui bahwa ia tertarik oleh kecantikan Liu Lu Sian yang luar biasa, dan ia tahu bahwa hatinya sudah siap mengaku cinta. Seorang dewa sekalipun akan jatuh hati berhadapan dengan Lu Sian! Akan tetapi disamping perasaan yang baru kali ini ia rasakan selama hidupnya, terselip rasa nyeri yang membuat hatinya perih, yaitu kenyataan bahwa gadis yang menjatuhkan hatinya ini memiliki watak yang liar dan ganas, sama sekali berlawanan dengan pendiriannya.

Karena perasaan yang bertentangan antara perasaan cinta dan benci inilah maka Kwee Seng menjadi seperti orang nekat dan ia menerima terus setiap kali Pat-jiu Sin-ong menyuguhkan arak. Sebentar saja ia sudah minum arak tua belasan cawan banyaknya!

“Lu Sian, hayo kau gembirakan hati para tamu kita dengan tarian pedang!” tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong berseru memerintah puterinya sambil tertawa-tawa karena tokoh inipun sudah terpengaruh hawa arak.

Lu Sian tersenyum mengangguk, lalu bangkit berdiri dan dengan lenggang yang dapat mengayun hati para muda yang memandangnya, gadis ini ini berjalan menuju ke tengah panggung terbuka. Tepuk tangan riuh gemuruh menyambutnya. Lu Sian menjura dengan hormat sambil berseru, suaranya merdu nyaring mengatasi keriuhan tepuk tangan itu.

“Permainanku masih amat dangkal, harap cu-wi jangan metertawakan!” Setelah berkata demikian, Lu Sian menggerakan tangannya dan …. dalam pandangan mereka yang ilmu silatnya kurang tinggi, gadis itu tiba-tiba lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan kesana kemari dibungkus sinar putih berkilauan bergulung-gulung dan berkilat-kilat.

Dari sana-sini terdengar seruan kagum, yang muda-muda kagum akan keindahan ilmu silat pedang yang benar-benar merupakan tarian luar biasa itu, adapun golongan tua kagum karena mereka melihat di dalam gerakan yang indah ini tersembunyi kekuatan yang dahsyat, setiap kelebatan pedang yang begitu indah tampaknya sebetulnya mengandung jurus maut yang tidak mudah dilawan. Dengan bukti kehebatan gadis ini makin tunduklah mereka akan kelihaian dan nama besar Pat-jiu Sin-ong.

Lu Sian sengaja mainkan Hwa-kiamhoat (Ilmu Pedang Kembang) yang indah untuk memamerkan kepandaian dan kecantikannya. Ia bersilat sampai lima puluh jurus dan ketika berhenti di tengah panggung sambil berdiri tegak, ia tampak gagah dan cantik jelita, dengan sepasang pipi kemerahan karena denyut darahnya agak kencang setelah bersilat tadi.

Bibirnya tersenyum-senyum, matanya yang tajam berseri-seri menyambut tepuk tangan yang seakan-akan hendak merobohkan panggung buatan itu. Akan tetapi begitu Lu Sian kembali duduk di tempatnya, berkelebatlah bayangan orang dan seorang laki-laki berusia lima puluh tahun sudah berdiri di atas panggung.

Gerakannya yang demikian ringan dan cepatnya menandakan bahwa ia seorang yang berkepandaian tinggi, sedangkan pakaian dan cara ia menggelung rambut ke atas menyatakan bahwa ia seorang pendekar To atau yang disebut tosu. Di punggungnya tergantung sebuah pedang.

Tosu ini terdengar lantang suaranya setelah keadaan tadi kembali sunyi karena terhentinya tepuk tangan. Sambil menjura ke arah Pat-jiu Sin-ong, tosu itu berkata, “Kauwcu (Ketua Agama), pinto (aku) Ang Sin Tojin dari Kn-lun-pai, merasa kagum akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong, dan sengaja pinto diutus oleh ketua kami memberi selamat.

Akan tetapi tidak nyana bahwa Kawcu dengan puteri Kauwcu menimbulkan hal-hal yang tidak baik! Kauwcu memamerkan kepandaian dan kecantikan puteri Kauwcu, ada kabar hendak menggunakan kesempatan ini mencarikan jodoh bagi puteri Kauwcu. Hal ini sudah sewajarnya. Aka tetapi mengapa banyak pemuda tidak berdosa yang tergila-gila kepada puteri Kawcu menemui kematian yang penuh penasaran?

Sekarang, Kauwcu tidak menyelidiki dan membikin terang perkara itu, malah Kauwcu menambah pengaruh agar para pemuda makin tergila-gila. Apakah sesungguhnya kecantikan yang gilang-gemilang seperti puteri Kauwcu? Kecantikan hanyalah timbul dari kelemahan batin melalui pandang mata, sesungguhnya palsu adanya.

Kecantikan hanya terbatas sampai di kulit, namun siapa tahu isi hati yang tersembunyi di balik kecantikan. Pat-jiu Sin-ong, Pinto kehilangan seorang anak murid Kun-lun yang terbunuh secara tidak wajar, terpaksa mohon penjelasan?”

Seketika tegang keadaan di situ. Terang bahwa tosu ini menuntut kematian muridnya, dan sekaligus mencela keadaan Beng-kauw dengan adanya kematian tujuh orang pemuda dan mencela pula pameran kecantikan dan kepandaian Liu Lu Sian! Keadaan seketika menjadi sunyi karena semua orang menanti dengan hati berdebar.

Sambil tersenyum Pat-jiu Sin-ong berdiri dari bangkunya, akan tetapi tidak mendekati Ang Sin To Jin. Sambil bertolak pinggang ketua Beng-Kauw yang tinggi besar ini bertanya, “Tosu, Kau ini apanya Ang Kun To Jin ?”

“Beliau adalah Suhengku dan Pinto hanyalah murid kedua dari suhu.”

Pat Jiu Sin Ong tiba-tiba tertawa sambil menengadahkan mukanya ke atas. “Heh, Tosu mentah! Kau kira kematian bocah-bocah tolol itu adalah perbuatanku atau perbuatan anakku?”

“Pinto tak berani menuduh siapapun juga, akan tetapi setidaknya peristiwa maut itu terjadi karena Kauwcu berhasrat memilih mantu karena kecantikan putrimu dan tentu dilakukan oleh seorang dari Beng-kauw! Karena itu ketuanya harus bertanggung jawab!”

“Ha-ha, bertanggung jawab bagaimana?”

“Kauwcu harus dapat menangkap pembunuh itu dan menghukumnya mati di depan kami semua. Kemudian Kauwcu lakukan pemilihan calon mantu yang tepat dan tidak banyak menimbulkan korban, pilihlah mantu yang cocok dan karena ini urusan Kauwcu, terserah, asal tidak secara sekarang ini yang membikin gila banyak orang muda tak berdosa.”

“Wah, lagaknya! Kalau aku tidak menuruti permintaanmu itu, bagaimana?”

“Hmmmmm, kalau begitu, berarti Kauwcu tidak peduli akan kematian murid Kun-lun-pai yang menjadi tamu di sini, dan hal itu tentu saja Pinto tidak dapat tinggal diam saja?”

“Habis, kau mau apa, Tosu mentah?”

“Pinto terpaksa menuntut balas atas kematian murid, dan melupakan kebodohan, minta pelajaran dari Beng-Kauwcu Pat-jiu Sin-ong!” Dengan tegak berdiri, Tosu itu siap menghadapi pertandingan.

kurus sudah melompat ke atas panggung, tangannya begerak memukul ke arah Ang Sin Tojin. Gerakan Ma Thai Kun cepat sekali sehingga kejadian yang tak tersangka-sangka itu tidak dapat ditunda lagi. Pukulannya hebat, mengeluarkan angin bersiutan dan menuju ke arah dada tosu kun-lun-pai itu.

Ang Sin Tojin adalah murid kedua dari Ketua Kun-lun-pai, Kim Gan Sian jin, tentu saja ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi dan karena itu pula ia tadi berani mengeluarkan tantangan terhadap ketua Beng-kauw. Kini melihat seorang tinggi kurus bermuka hitam telah berada di depannya dan mengirim pukulan maut, ia pun cepat menggerakkan tangannya menangkis, sambil mengarahkan Sin-kang (tenaga sakti).

“Dukkkkk!” Dua tangan mengandung tenaga sakti. Ma Thai Kun masih berdiri setengah membungkuk, tubuhnya tidak bergoyang. Akan tetapi akibat benturan kedua lengan itu membuat Ang-sin to jin terhuyung-huyung ke belakang sampai lima langkah.

Diam-diam tosu Kun-lun-pai ini terkejut bukan main. Harus diakui tenaga sakti Si Muka Hitam ini hebat sekali, sungguhpun tidak sampai menyebabkan ia terluka parah, namun cukup menggempur kuda-kudanya dan membuat ia terhuyung-huyung.

“Ji-sute (Adik Seperguruan ke Dua), mundurlah! Siapa yang mencari perkara dengan aku dan anakku, biarlah aku menghadapinya sendiri!” Pat-jiu Sin-ong menegur adiknya. Ma Thai Kun mendengus marah, lalu mengundurkan diri.

“Ang Sin Tojin, apakah kau masih tidak mau menarik kembali tuntutanmu?”

“Seorang laki-laki sekali bicara dipegang sampai mati!” jawab tosu itu dengan suara ketus.

“Ah, ah, benar-benar tosu Kun-lun-pai keras kepala. Eh, tosu mentah, kau tadi bilang kecantikan puteriku sebatas kulit. Apa artinya?”

“Pinto mengakui bahwa puteri Kauwcu cantik jelita dan pandai. Akan tetapi semua itu hanya sampai dikulit, hanya akibat pandangan mata lahir. Mata batin takkan dapat ditipu dan takkan silau oleh kecantikkan. Mata batin mencari sampai kedalam batin pula, mencari kebenaran yang suka tertutup oleh kepalsuan.”

Merah muka Pat-jiu Sin-ong, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. “Anakku memang cantik, ini semua orang tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekalipun, yang salah bukan dia, melainkan matanya! Tosu mentah, lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan disini.”

“Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!” kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia tadi sudah membuktikan betapa hebat sin-kang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik seperguruan Ketua Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia mengira akan dapat mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoatnya (ilmu pedangnya).

“Kau menantangku?” Liu Gan bertanya, masih tersenyum.

“Pinto siap!”

“Nah, terimalah ini!” Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya itu sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat julukan Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang oleh delapan pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan memutar pedangnya melindungi diri.

“Plakk! Tranggg… aduhhh…!” Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek!

“Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat suhumu, Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan matamu yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini membuka matamu bahwa Beng-kauw tidak boleh dibuat main-main oleh siapapun juga! Nah, pergilah!”

Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti didepannya ini bukan lawannya, bahkan suhunya, Ketua Kun-lun-pai sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa banyak cakap ia memungut pedangnya, menjura dan berkata, “Pinto hanya dapat melaporkan kepada suhu bahwa pinto gagal dalam tugas.” Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan lalu tertawa dan mengahadapi para tamunya. “Cu-wi yang terhormat harap maafkan gangguan tadi. Nah, karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami akui bahwa hal itu memang tidak salah.

Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di antara para muda gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya. Mereka yang dapat mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara mereka yang lulus, kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku.

“Ha-ha-ha!” setelah berkata demikian dan menjura, Ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.

“Eh, saudara muda kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?”

“Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!” kata Kwee Seng.

“Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!”

Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.

Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di atas meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa mempergunakan senjata.

Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri.

kepandaian Lu Sian dan kehebatan ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan tidak berani mencoba-coba.

Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin malam, mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapapun juga, di antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin dapat menahan hatinya yang sudah runtuh oleh kecantikan Lu Sian.

Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah lebar dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas panggung berhadapan dengan Lu Sian.

Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya mulutnya lebar membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang.

“Aku bernaama Han Bian Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai Min-kiang, ingin mencoba-coba kepandaian nona Liu yang gagah.”

Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut yang agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau coba-coba, pikirnya. Apanya sih yang diandalkan ? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan loncatannya, juga tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.

“Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!” katanya dengan suara dingin.

“Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!” kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik, atau kehabisan napas.

Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang ia sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka seorang demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu cepat ditundukkan sekaligus.

Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula baginya untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau beradu lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biarpun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring.

Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan serangan-serangan mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu akan lebih banyak memungkinkan hasil baik.

“Menjemukan…!” Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik. Tiga orang pemuda itu menyerang dari tiga jurusan, serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka Kuning Bhong Siat yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam.

Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah tangan dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.

Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua puluh jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu “terbang” dari atas panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh tunggang-langgang dan berusaha untuk merangkak bangun.

“Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!” terdengar suara keras membentak di belakang mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh mereka seorang demi seorang terlempar keluar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang melemparkan mereka keluar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung.

Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang tadinya ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat hatinya, menhibur hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona yang amat lihai itu!

Akan tetapi ternyata masih seeorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak panggung, Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki

lwee-kang yang cukup hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia merasa kecewa.

Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakainnya sederhana, mukanya membayangkan kerendahan hati dan kejujuran, namun sama sekali tidak tampan, matanya lebar dan alisnya bersambung hidungnya pesek!

“Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk memasuki sayembara, akan tetapi karena sudah sampai di sini dan saya amat tertarik dan kagum menyaksikan kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri.” Kata-katanya merendah akan tetapi jujur dan sederhana.

Lu Sian tersenyum mengejek. “Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!”

“Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan.” Jawab Lie Kung.

“Hemm, kalau begitu sambutlah ini!” Secara tiba-tiba Liu Lu Sian menyerang, pukulannya amat cepat, gerakannya indah akan tetapi bersifat ganas karena pukulan itu mengarah bagian berbahaya di pusar, merupakan serangan maut ! Lie Kung berseru keras dan kaget. Tak sangkanya nona yang demikian cantiknya begini ganas gerakanya, maka cepat ia melompat mundur dan mengibaskan tangan dan menangkis dengan kecepatan penuh.

Lu Sian tidak sudi beradu lengan, menarik kembali tangannya dan menyusul dengan pukulan angan miring dari samping mengarah lambung. Sekali merupakan terjangan maut yang amat erbahaya, Lie Kung ternyata gesit sekali karena jungkir balik ia dapat menyelamatkan diri!

Tepuk tangan menyambut gerakan ini karena sekarang para tamu merasa mendapat suguhan yang menarik, tidak seperti tadi di mana tiga orang pemuda sama sekali tidak dapat mengimbangi permainan Liu Lu Sian yang gesit. Pemuda pesek ini benar-benar cepat gerakannya walaupun tampaknya lambat dan tenang.

Setelah diserang selama lima jurus dengan hanya mengelak, mulailah dia mengembangkan gerakannya untuk balas menyerang. Telah ia duga bahwa pemuda ini merupakan seorang ahli lwee-kang, dan ternyata benar.

Pukulan pemuda ini berat dan antep, hanya sayangnya pemuda ini berlaku sungkan-sungkan, buktinya yang diserang hanya bagian-bagian yang tidak berbahaya. Marahlah Lu Sian. Sikap pemuda yang hanya mengarahkan serangan pada pundak, pangkal lengan dan bagian-bagian lain yang tidak berbahaya itu, baginya diterima salah. Dianggap bahwa pemuda ini terlampau memandang rendah padanya, seakan-akan sudah merasa pasti akan menang sehingga tidak mau membuat serangannya berbahaya.

Setelah lewat tiga puluh jurus mereka serang-meyerang, tiba-tiba Lu Sian mengeluarkan suara kelengking tinggi yang mengejutkan semua orang. Gerakannya tiba-tiba berubah lambat dan aneh, pukulannya merupakan gerakan yang melingkar-lingkar.

“Bagaimana kaulihat pemuda itu?” Pat-jiu Sin-ong bertanya ketika ia melihat Kwee Seng menoleh dan menonton pertandingan, tidak seperti tadi ketika tiga orang pemuda mengeroyok Lu Sian. Kwee Seng memandang acuh tak acuh.

“Lumayan juga. Bakatnya baik dan kalau ia tidak terlalu banyak kehendak, ia dapat menjadi ahli lwee-keh yang tangguh.”

“Ha-ha, kaulihat . Puteriku sudah mulai mainkan Sin-coa-kun ciptaanku yang terakhir. Pemuda itu takkan dapat bertahan lebih dari sepuluh jurus!”

Diam-diam Kwee Seng memperhatikan. Ilmu Silat Sin-coa-kun (Silat Ular Sakti) memang hebat, mengandung gerakan-gerakan ilmu silat tinggi yang disembunyikan dalam gaya kedua tangan yang gerakannya seperti ular menggeliat-geliat dan melingkar-lingkar.

Namun dalam ilmu silat ini terkandung sifat yang amat ganas, dan kembali sepasang alis pemuda ini berkerut saking kecewa. Sungguh sayang sekali, kecantikan seperti bidadari itu, dirusak sifat-sifat liar dan ganas, diisi ilmu yang amat keji.

Untuk mengusir kekecewaan yang menggeregoti hatinya, pemuda ini menuangkan arak sepenuhnya dan mengangkat cawan. “Minum biar puas!” lalu sekali tenggak habislah arak itu. Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak dan minum araknya pula.

Ramalan Pat-jiu Sin-ong ternyata terbukti. Tepat sepuluh jurus, setelah pemuda she Lie itu terdesak dan bingung menghadapi dua lengan halus yang seperti sepasang ular mengamuk, lehernya kena dihantam tangan miring. Ia mengaduh dan terhuyung-huyung ke belakang, akan tetapi tepat pada saat lehernya dihantam, ia dapat mengibaskan tangannya mengenai lengan Lu Sian sehingga menimbulkan suara “plakk!” dan gadis itu menyeringai kesakitan, lengannya terasa panas sekali.

Biarpun ia sudah tahu bahwa pukulannya mengenai leher lawan dengan tepat, karena lengannya tertangkis tadi, Lu Sian menjadi marah dan cepat ia maju lagi mengirim pukulan yang agaknya akan menamatkan riwayat pemuda itu.

“Cukup…!!” tiba-tiba sesosok bayangan meloncat ke atas panggung dan dengan cepat menangkis tangan Lu Sian yang mengirim pukulan maut. “Dukkk!” Dua buah lengan tangan bertemu dan keduanya terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.

Dengan kemarahan meluap-luap Lu Sian memandang orang yang begitu lancang berani menangkis pukulannya tadi. Ia membelalakkan matanya dan… tiba-tiba ia merasa seakan-akan jantungnya diguncang keras, kemarahannya lenyap dan ia terpesona. Belum pernah selama hidupnya ia melihat seorang pemuda yang begini ganteng!

Rambutnya hitam tebal diikatkan ke atas dengan sehelai sutera kuning. Pakaiannya indah dan ringkas, membayangkan tubuhnya yang tegap berisi, dadanya yang bidang. Alisnya berbentuk golok, hitam seperti dicat, hidung mancung, mulut berbentuk bagus membayangkan watak gagah dan hati keras.

Pendeknya, wajah dan bentuk badan seorang jantan yang tentu akan meruntuhkan hati setiap orang gadis remaja! Seketika Lu Sian jatuh hatinya, akan tetapi mengingat perbuatan lancang pemuda ini, untuk menjaga harga dirinya, ia menegur juga, hanya tegurannya tidak seketus yang dikehendakinya.

“Kau siapa, berani lancang turun tangan mencampuri pertandingan ?”

Pemuda itu menuntun Lie Kung sampai ke pinggir panggung, menyuruhnya mengundurkan diri, Lie Kung menjura ke arah Liu Lu Sian lalu melompat turun, terus pergi meninggalkan tempat itu. Setelah itu, baru pemuda yang membawa sebuah golok disarungkan dan digantungkan pada pinggangnya itu membalikkan tubuh menghadapi Liu Lu Sian sambil berkata.

yang buruk, hanya untuk mencegah terjadinya pertumpahan darah. Sudah terlalu jiwa melayang…ah, sayang sekali. Kunasihatkan kepadamu, Nona. Hentikan cara pemilihan suami seperti ini. Tiada guna! Dan kasihan kepada yang tidak mampu menandingimu. Nah, sekali lagi maafkan kelancanganku tadi!” Ia menjura dan hendak pergi.

“Eh orang lancang! Bagaimana kau biasa pergi begitu saja setelah menghinaku ? Hayo maju kalau kau memang berkepandaian!” Lu Sian sengaja menantang karena hatinya sudah jatuh dan ingin ia menguji kepandaian laki-laki yang menarik hatinya ini. Kalau memang benar seperti dugaannya, bahwa laki-laki ini seperti terbukti ketika menagkisnya tadi, memiliki kepandaian tinggi, ia akan merasa puas mendapat jodoh setampan dan segagah ini.

Kwee Seng memang tampan pula tetapi terlalu tampan seperti perempuan, kalah gagah oleh pemuda ini. Dan biarpun ia tahu ilmu kepandaian Kwee Seng mungkin hebat, akan tetapi sikap pemuda itu terlalu halus, terlalu lemah lembut, kurang “jantan!”

Pemuda itu membalikkan tubuhnya, kembali menjura kepada Lu Sian sambil berkata, suaranya perlahan. “Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang.. akan tetapi… bukan beginilah caranya. Maafkan, Nona, biarlah aku mengaku kalah terhadapmu!” Sambil melempar pandang tajam yang menusuk hati Lu Sian, pemuda itu hendak mengundurkan diri.

“Apakah engkau begitu pengecut, berani berlaku lancang tidak berani memperkenalkan diri ? Siapakah kau yang sudah berani… menghinaku?

Dimaki pengecut, pemuda itu menjadi merah mukanya. “Aku bukan pengecut! Kalau Nona ingin benar tahu, namaku adalah Kam Si Ek dari Shan-si.” Setelah berkata demikian, pemuda gagah bernama Kam Si Ek itu lalu meloncat turun dari panggung dan cepat-cepat lari keluar dari halaman gedung.

Sampai beberapa saat lamanya Liu Lu Sian berdiri bengong di atas panggung, merasa betapa semangatnya seakan-akan melayang-layang mengikuti kepergian pemuda ganteng itu, “Pat-jiu Sin-ong, kau baru saja kehilangan seorang calon mantu yang hebat!” Kwee Seng berkata sambil menyambar daging panggang dengan sumpitnya.

“Kau maksudkan bocah ganteng tadi? Siapakah dia? Namanya tidak pernah kudengar,” jawab Pat-jiu Sin-ong.

“Ha-ha-ha! Kam Si Ek adalah panglima muda di Shan-si dan hanya karena adanya pemuda itulah maka Shan-si terkenal daerah yang amat kuat dan membuat gubernurnya yang bernama Li Ko Yung terkenal. Cocok sekali dia dengan puterimu. Puterimu menjadi perebutan pemuda-pemuda, sebaliknya entah berapa banyaknya gadis di dunia ini yang ingin menjadi istrinya! Ha-ha-ha!” Terang bahwa Kwee Seng sudah mulai terpengaruh arak.

Memang sebetulnyalah kalau pemuda itu tadi mengatakan bahwa dia tidak bias minum arak banyak-banyak. Akan tetapi karena kerusakan hatinya menghadapi cinta terhadap Liu Lu Sian berbareng kecewa, ia sengaja nekat minum terus tanpa ditakar lagi.

“Huh, apa artinya panglima bagiku? Dia memang tampan, akan tetapi kalau disuruh memilih kau, Kwee Seng!”

Liu Lu Sian tersentak kaget dan membalikkan tubuh, masih berdiri di tengah panggung. Juga para tamu mrndengar percakapan yang dilakukan dengan suara keras itu. Kini mereka memandang ke arah mereka, terutama sekali Kwee Seng menjadi pusat perhatian.

Pemuda ini sudah bangkit berdiri, cawan arak di tangan kanannya. Hatinya berguncang keras ketika ia mendengar ucapan ketua Beng-kauw itu. Betapa tidak ? Jelas bahwa Ketua Beng-kauw ini agaknya suka memilih dia sebagai mantu. Dan dia sendiri pun sudah jelas mencintai gadis jelita itu, hal ini tidak dapat ia bantah, seluruh isi hati dan tubuhnya mengakui.

Mau apa lagi? Tinggal mengalahkan gadis itu, apa sukarnya? Akan tetapi di balik rasa cinta, di sudut kepalanya di mana kesadarannya berada, terdapat rasa tak senang yang menekan kembali rasa cinta kasihnya dengan bisikan-bisikan tentang kenyataan betapa keadaan gadis itu dan keluarganya sama sekali tidak cocok, bahkan berlawanan dengan pendirian dan wataknya.

Ia jatuh cinta kepada seorang dara yang berwatak liar dan ganas, sombong dan tinggi hati, licik dan keji, gadis yang menjadi puteri tunggal Ketua Beng-kauw yang sakti, aneh dan sukar diketahui bagaimana wataknya. Gadis yang menjadi sebab kematian banyak pemuda yang tak berdosa!

Kesadarannya membisikkan bahwa betapa pun ia mencintai gadis itu, cintanya hanya karena pengaruh kejelitaan gadis itu dan kalau ia menuruti cintanya yang terdorong nafsu, kelak akan tersiksa hatinya. Akan tetapi perasaannya membantah kalau ia boleh membawa pergi gadis itu bersamanya, mungkin ia bisa membimbingnya menjadi seorang isteri yang baik dan cocok dengan sifat-sifat dan wataknya.

“Lo-enghiong, jangan main-main!”

“Ha-ha, siapa main-main ? Kwee-hiantit hanya kaulah yang agaknya pantas bertanding dengan puteriku. Hayo kau kalahkan dia, kalau tidak anakku itu akan makin besar kepala saja dan para tamu tentu akan mengira aku hendak menang sendiri! Ha-ha-ha!”

“Hemmm, puterimu berkepandaian tinggi. Terus terang saja, akupun ingin sekali menguji kepandaiannya. Akan tetapi… hemm, Lo-enghiong, harap jangan salah sangka. Dengan jujur aku mengaku bahwa puterimu telah menarik hatiku. Akan tetapi, perjodohan melalui pertandingan memang kurang tepat, yang perlu hati masing-masing.

Bagaimana kalau aku naik ke panggung, tapi bukan untuk memasuki sayembara pemilihan jodoh, hanya sekedar main-main menguji kepandaian belaka?” Ucapan ini dilakukan perlahan tidak terdengar orang lain.

Akan tetapi Ketua Beng-kauw itu tertawa keras dan menjawab dengan suara keras pula. “Ha-ha-ha-ha! Aku mengerti,kau memang seorang yang teliti dan cermat, terlalu berhati-hati! Kalau menyalahi peraturan, berarti melanggar dan siapa melanggar harus didenda!”

Kwee Seng tertawa pula dan menenggak sisa araknya. “Dendanya bagaimana? Kau harus menurunkan ilmu pukulan yang kau pergunakan untuk mengalahkan puteriku itu kepadanya.”

“Aku. Tapi dia harus ikut denganku ke mana aku pergi.”

“Boleh. Nah, orang muda, kau cobalah!”

Hati Liu Lu Sian sudah mendongkolkan sekali mendengarkan percakapan antara ayahnya dan pemuda pelajar yang kelihatan lemah lembut itu. Apalagi ketika ia melihat Kwee Seng berjalan menghampirinya dengan langkah sempoyongan dan mukanya yang berkulit putih halus itu kelihatan merah sekali, tanda-tanda seorang mabuk!

menegur dengan kata-kata dingin. Ternyata gadis ini masih mendongkol mengingat betapa tadi di depan ayahnya, Kwee Seng sudah membikin basah pakaiannya dengan arak, merupakan bukti bahwa dalam adu tenaga secara diam-diam itu, pemuda ini sudah memang setingkat daripadanya.

“Cuma kali ini Kongcu sedang mabuk, tidak enak kalau aku mencari kemenangan dan seorang yang mabok!” Dengan kata-kata ketus ini, Liu Lu Sian hendak menebus rasa malunya tadi.

Kwee Seng tersenyum dan diam-diam mengagumi wajah yang demikian eloknya, mulut yang biarpun menghamburkan kata-kata pedas dan pahit, namun tetap manis didengar. Matanya yang agak mabok itu seakan-akan lekat pada bibir itu dan sejenak Kwee Seng terpesona, tak dapat berkata apa-apa, tak dapat bergerak memandang ke arah mulut dara jelita.

Bibir merah basah menantang Bentuk indah gendewa terpentang Hangat lembut mulut juita Sarang madu sari puspita Senyum dikulum bibir gemetar Tersingkap mutiara indah berjajar Segar sedap lekuk di pipi Mengawal suara merdu sang dewi!

“Heh, kenapa kau melongo saja?” tiba-tiba Lu Sian membentak, lenyap sikapnya menghormat karena ia tak dapat menahan kejengkelan hatinya.

Kwee Seng sadar dari lamunannya. “Eh…, ohh… Nona, kau tahu, aku sebetulnya tidak ingin memasuki sayembara… dan aku …aku lebih suka bertanding dengan si pemilik tangan maut!” Sambil berkata demikian ia menoleh, matanya mencari-cari.

“Cukup! Tak perlu banyak bicara lagi Kwee-kongcu. Aku sudah mendengar bahwa kalau aku kalah, aku harus menjadi muridmu dan ikut pergi bersamamu!” kata pula Lu Sian dengan senyum mengejek. “Akan tetapi jangan kira akan mudah mengalahkan aku!” Setelah berkata demikian, gadis itu berkelebat cepat dan tahu-tahu ia sudah lari menyambar pedangnya yang terletak diatas meja dan secepat itu pula berkelebat kembali menghadapi Kwee Seng.

Pemuda itu tersenyum, senyum yang mengandung banyak arti, setengah mengejek dan setengah kagum begitu cepatnya gadis itu bergerak dan menyarungkan pedangnya dengan gerakan indah. Lu Sian merasakan ejekan ini dan dengan gemas ia berkata,” Menghadapi seorang sakti seperti engkau ini, Kwee-kongcu, tidak bisa disamakan dengan segala cacing tanah tadi.

mencabut pedangnya dan tampaklah sinar berkelebat, putih menyilaukan mata.

“Lu Sian, mundurlah! Manusia ini terlalu sombong, biar aku mewakilimu memberi hajaran!” Tiba-tiba bayangan tinggi kurus melayang ke depan Kwee Seng dan sebuah lengan menyambar ke arah dada pemuda itu.

“Wutttt!” Kwee Seng miringkan pundaknya dan pukulan yang hebat itu lewat cepat.

“Hemm, aku senang sekali melayanimu!” kata Kwee Seng dan jari telunjuknya menotok ke arah pergelangan tangan yang lewat di sampingnya. Akan tetapi secepat itu pula Ma Thai Kun sudah menarik kembali lengannya sehingga dalam dua gebrakan ini mereka berkesudahan nol-nol atau sama cepatnya.

“Ji-sute, mundur kau!” kembali Liu Gan berseru keras dan biarpun matanya melotot marah, Ma Thai Kun tidak berani membantah perintah suhengnya dan ia mundurkan diri dengan kemarahan di tahan-tahan.

Orang She Kwee, kau terlalu sombong. Lihat pedangku!” bentak Liu Lu Sian sambil menggerakan pedangnya dengan cepat sehingga pedang itu berubah menjadi segulung sinar putih yang membuat lingkaran-lingkaran lebar, makin lama lingkaran itu makin lebar mengurung tubuh Kwee Seng. Namun pemuda ini hanya menggerakkan sedikit tubuhnya dan selalu ia terhindar daripada kilat yang berpencaran keluar dari sinar pedang itu.

“Lu Sian, jangan pandang ringan dia! Gunakan Toa-hong Kiam-hoat (Ilmu Pedang Angin Badai)!” seru Liu Gan dengan suara gembira, wajahnya berseri dan matanya bersinar-sinar.

Begitu gebrakan pertama dan selanjutnya secara cepat berlangsung, Lu Sian sudah mengerti bahwa Kwee Seng ini benar-benar amat lihai. Pedangnya yang menyambar-nyambar seperti hujan cepatnya itu ternyata dapat dielakkan secara aneh dan sama sekali tidak tampak tergesa-gesa, seakan-akan gerakan-gerakannya ini masih terkampau lambat bagi Kwee Seng.

Oleh karena ini, begitu mendengar seruan ayahnya, ia segera mengerahkan tenaga dan berlaku hati-hati, cepat ia mainkan ilmu pedang ajaran ayahnya, yaitu Toa-hong Kiam-hoat. Gadis ini mengerti bahwa kali ini ia tidak saja harus menjaga harga dirinya, melainkan juga menjaga muka ayahnya.

Melihat perubahan ilmu pedang gadis itu yang kini menderu-deru seperti angin badai mengamuk, diam-diam Kwee Seng kaget dan kagum. Tak percuma Ketua Beng-kauw mendapat julukan Pat-jiu Sin-ong dan tidak percuma pula gadis itu menjadi puteri tunggalnya karena ilmu pedang ini amat cepat dan hebat berbahaya sehingga tak mungkin dihadapi mengandalkan kecepatan belaka.

Pemuda sakti ini maklum pula bahwa Pt-jiu Sin-ong seorang yang amat licik dan aneh. Tentu sekarang Ketua Beng-kauw itu menyuruh anaknya mengeluarkan ilmu pedang simpanan agar terpaksa ia mengeluarkan ilmunya yang sejati pula untuk mengalahkan Lu Sian.

Kwee Seng maklum pula bahwa janji untuk menurunkan ilmunya yang mengalahkan Lu Sian, adalah janji yang amat licik dari Pat-jiu Sin-ong, yang membayangkan sifat loba seorang ahli silat yang ingin sekali menguasai seluruh ilmu yang paling sakti di dunia ini.

Melalui puterinya, Ketua Beng-kauw ini hendak memancing-mancing ilmu silatnya untuk menambah perbendaharaan ilmu Pat-jiu Sin-ong! Karena tidak ingin menggunakan ilmu simpanannya untuk mengalahkan Lu Sian agar ia tidak usah menurunkan ilmu itu pada gadis ini, kembali Kwee Seng mengandalkan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang lebih tinggi daripada kepandaian gadis itu untuk meleset kesana kemari, menyelinap di antara sambaran pedang Lu Sian yang seperti badai mengamuk itu. Akan tetapi belum lima belas jurus Lu Sian mainkan Ilmu Pedang Toa-hong-kian, ayahnya sudah berseru lagi.

“Lu Sian, pergunakan Pat-mo Kiam-hot!” Ilmu pedang Pat-mo-kiam (Pedang Delapan Iblis) ini sengaja diciptakan oleh Pat-jiu Sin-ong untuk mengimbangi Ilmu Pedang Pat-sian-kiam (Pedang Delapan Dewa) yang pernah ia hadapi dahulu. Hebatnya bukan kepalang. Lu Sian kembali menurut perintah ayahnya dan gerakan pedangnya berubah lagi.

Kini pedangnya tidak mengandalkan kecepatan, melainkan lebih mendasarkan serangan pada penggunaan tenaga sin-kang (tenaga sakti). Setiap tusukan atau bacokan mengandung tenaga mujijat sehingga anginnya saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat.

Kembali Kwee Seng kaget dan kagum. Seperti juga sifatnya Pat-sian-kiam yang ia kenal, ilmu pedang ini rapi sekali, seakan-akan dimainkan oleh delapan orang, namun Pat-mo-kiam mengandung sifat yang lebih ganas dan keji. Mendadak ia mendapatkan pikiran yang baik sekali. Biarpun Pat-mo-kiam diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kiam, namun ilmu silat hanya sekedar teori atau peraturan gerakan belaka yang terpenting adalah orangnya. Karena tingkatnya lebih tinggi daripada tingkat Lu Sian, maka ia merasa sanggup mengalahkan Pat-mo-kiam yang dimainkan gadis ini dengan ilmu pedang Pat-sian-kiam.

Ia berseru keras dan tahu-tahu tangannya sudah mencabut keluar sebuah kipas yang di sembunyikan di dalam bajunya. Cepat ia mainkan Ilmu Pedang Pat-sian-kiam, kipasnya mengeluarkan angin yang kuat sekali sehingga gulungan sinar pedang putih terdesak dan tiba-tiba Lu Sian berseru keras karena siku kanannya terkena totokan gagang kipas.

Seketika tangannya kejang dan hampir saja ia melepaskan pedang, baiknya dengan gerakan yang cepat bukan main Kwee Seng sudah memulihkan totokan lagi sehingga gadis itu dapat menyambar pedangnya yang sudah terlepas tadi.

Dasar gadis yang tak dapat menerima kekalahan, begitu pedangnya terpegang lagi ia terus menyerang dengan hebat!

“Aiihh…!” Kwee Seng berseru dan tubuhnya berkelebat. Terpaksa ia mempergunakan ilmunya yang hebat, yaitu Pat-sian Kiam-hoat yang sudah ia gabung dengan Ilmu Kipas Lo-hain San-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Lautan). Kipasnya mengebut pedang lawan dan selagi pedang itu miring letaknya, gagang kipasnya menotok dan… kini seluruh tubuh Lu Sian menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi!

Kwee Seng cepat menempel pedang lawan dengan kipasnya, merampas pedang itu di antara kipas sambil jari tangan kirinya membebaskan totokan! Lu Sian dapat bergerak lagi akan tetapi pedangnya sudah terampas. Gadis itu marah bukan main, siap menerjang dengan tangan kosong berdasarkan kenekatan.

“Lu Sian, cukup ! Haturkan terima kasih kepada calon suami atau gurumu! Ha-ha-ha!” teriak Pat-jiu Sin-ong sambil melompat ke atas panggung. Tepuk tangan riuh menyambut kemenangan Kwee Seng ini, sedangkan Lu Sian lari ke dalam tanpa menoleh lagi.

Sambil merangkul pundak Kwee Seng, Pat-jiu Sin-ong berkata lantang kepada para tamunya. “Sahabat mudaku Kwee Seng telah menang mutlak atas puteriku dan dia berhak menjadi calon mantuku. Akan tetapi, karena dia pun seorang aneh, tidak kalah anehnya dengan aku sendiri, hanya dia yang dapat menentukan apakah perjodohan ini diteruskan atau tidak.

Orang tua itu menggandeng tangan Kwee Seng untuk di ajak minum sepuasnya. Sedangkan para tamu mulai menaruh perhatian dan mempercakapkan pemuda pelajar yang tampaknya lemah-lembut itu. Beberapa orang tokoh tua segera mengenal Kwee Seng sebagai Kim-mo-eng dan mulai saat itu, terkenallah nama Kim-mo-eng Kwee Seng.

Tiga hari kemudian, Kwee Seng dan Lu Sian kelihatan menunggang dua ekor kuda keluar dari kota raja Kerajaan Nan-cao. Seperti telah ia janjikan, setelah menangkan pertandingan, ia akan mengajarkan ilmu kepada Lu Sian dan gadis itu harus menyertai peraturannya sampai menerima pelajaran itu.

Pat-jiu Sin-ong memberi dua ekor kuda yang baik, berikut seguci arak kepada Kwee Seng karena selama tiga hari di tempat itu, pemuda ini siang malam hanya makan minum dan mabuk-mabukan saja, manjadi seorang peminum yang luar biasa.

Betapapun juga, melihat mereka naik kuda berendeng, memang keduanya merupakan pasangan yang amat setimpal. Wajah Lu Sian nampak berseri, karena betapapun juga, menyaksikan sikap Kwee Seng, gadis ini dapat menduga bahwa sebetulnya pemuda yang tampan dan sakti ini jatuh hati kepadanya.

Pandang mata pemuda itu dapat ia rasakan dan diam-diam merasa girang sekali. Memang sudah menjadi waatak Lu Sian, makin banyak pria jatuh hati kepadanya makin giranglah hatinya, apalagi kalau kemudian ia dapat mematahkan hati orang-orang yang mencintainya itu!

“Kwee-koko (Kakanda Kwee), kemanakah kita menuju?” Tanya Lu Sian dengan suara halus dan manis, bahkan mesra. Kwee Seng memeluk guci araknya dan menoleh ke kiri. Melihat wajah ayu itu menengadah, mata bintang itu menatapnya dan mulut manis itu setengah terbuka, hatinya tertusuk dan cepat-cepat ia membuang muka sambil memejamkan matanya,

“Ke mana pun boleh!” jawabnya tak acuh, lalu menenggak araknya sambil duduk di punggung kuda tanpa memegangi kendalinya.

“Eh, bagaimana ini? kau yang mengajak aku. Biarlah kita ke timur, sampai ditepi sungai Wu-kiang yang indah. Bagaimana koko?” “Hemm, baik. Ke lembah Wu-kiang!” jawab Kwee Seng.

Tak lama kemudian mereka sudah keluar dari daerah kota raja, memasuki hutan. Kembali Lu Sian menahan kudanya, dan kuda Kwee Seng juga ikut berhenti.

“Kwee-koko, mengapa kau hanya minum saja? Kita melakukan perjalanan sambil bercakap-cakap, kan menyenangkan? Apa kau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku? Kwee-koko, hentikan minummu, kau pandanglah aku!”

Mulai jengkel hati Lu Sian yang merasa diabaikan atau tidak diacuhkan. Kwee Seng menoleh lagi ke kiri, makin terguncang jantungnya dan kembali ia menenggak araknya!

“Nona, tidak apa-apa, aku senang melakukan perjalanan ini. Ah arak ini wangi sekali!”

Lu Sian cemberut dan tidak menjalankan kudanya. “Uh, wangi arak yang menjemukan ! Masa kau tidak bosan-bosan minum setalah tiga hari tiga malam terus minum bersama ayah ? Kwee-koko, aku” aku pernah disebut ayah bunga kecil harum dan orang-orang di sana semua mengatakan bahwa ada ganda harum sari seribu bunga keluar dari tubuhku. Apakah kau tidak mencium ganda harum itu?”

Kwee Seng tersentak kaget. Alangkah beraninya gadis ini ! Alangkah bebasnya dan genitnya ! Mengajukan pernyataan dan pertanyaan macam itu kepada seorang pemuda. Dia sendiri yang mendengarnya menjadi merah wajahnya, akan tetapi secara jujur ia berkata, “Memang ada aku mencium bau harum itu, nona, semenjak kita bertanding ganda harum itu tidak eh, tidak pernah terlupa olehku. Eh, bagaimana ini!” Ia tergagap dan untuk menutupi malunya kembali ia menenggak araknya. Lu Sian menahan tawanya dan hatinya makin gembira. Kiranya laki-laki ini tiada bedanya dengan yang lain, mahluk lemah dan bodoh, canggung dan kaku kalau berhadapan dengan gadis ayu ! Alangkah akan senang hatinya dapat mempermainkan laki-laki ini, mempermainkan pendekar yang memiliki kepandaian tinggi, yang kesaktiannya menurut ayahnya ketika membisikkan pesan tadi, tidak berada di sebelah bawah tingkat ayahnya !

“Kwee Seng, berhenti! !” Tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang pada saat Kwee Seng sedang minum araknya di awasi oleh Lu Sian. Gadis itu terkejut karena mengenal suara bentakan. Cepat ia membalikkan tubuh diatas punggung kudanya.

“Ma-susiok (Paman Guru Ma)! Ada keperluan apakah Susiok menyusul kami?” Biarpun masih duduk di atas kudanya membelakangi mereka yang baru datang, Kwee Seng tahu bahwa yang datang adalah dua orang. Kemudian ia merasa heran juga ketika mendengar suara Ma Thai Kun berubah sama sekali dalam

jawaban pertanyaan Lu Sian.

“Lu Sian, kau menjauhlah dulu. Urusan ini adalah urusan antara Kwee Seng dengan aku dan percayalah, tindakanku ini sesungguhnya demi kebaikan dirimu.”

Kwee Seng adalah seorang pemuda yang amat halus perasaanya. Ia maklum orang macam bagaimana adanya sute ke dua dari Pat-jiu Sin-ong ini, seorang kasar dan pemarah, sombong dan tinggi hati. Mengapa tiba-tiba terkandung getaran halus yang amat berlawanan dengan wataknya itu ketika bicara terhadap Lu Sian ?

Tiba-tiba ia teringat akan semua peristiwa di Nan-cao dan keningnya berkerut. Tahulah ia sekarang sebabnya dan sekaligus terbongkar sudah olehnya semua rahasia pembunuhan di Beng-kauw. Hal ini mendatangkan marah di hatinya dan ia berkata.

Nona, lebih baik kau menuruti permintaan susiokmu. Kau minggirlah, dan biar aku bicara dengannya.Liu Lu Sian tersenyum dan menjauhkan kudanya dengan wajah berseri. Hal inilah yang tidak dimengerti oleh Kwee Seng. Mengapa gadis itu malah tersenyum seperti orang bergembira padahal jelas bahwa paman gurunya mempunyai niat tidak baik terhadap dirinya ? Ia tidak peduli, lalu meloncat turun dari atas kudanya dengan guci arak masih di tangan kiri, sambil membalik sehingga ketika kedua kakinya menginjak tanah, ia berhadapan dengan Ma Thai Kun dan seorang laki-laki muda yang sikapnya tenang sungguh-sungguh, berpakaian sederhana memakai caping dan punggungnya terhias sebatang cambuk. Ma Thai Kun merah mukanya, alisnya berkerut dan sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan.

Ma Thai Kun, katakanlah kehendak hatimu sekarang. Kwee Seng, kau seorang yang telah menghina Beng-kauw ! Kau tidak memandang mata kepada tokoh-tokoh Beng-kauw, mengandalkan kepandaian mengalahkan seorang wanita muda, mengandalkan mulut manis mengelabuhi seorang tua. Twa-suheng boleh saja kau kelabuhi, akan tetapi aku Ma Thai Kun takkan membiarkan kau pergi menggondol keponakanku begitu saja untuk melaksanakan niatmu yang kotor!

Wah-wah ! Hatimu dan pikiranmu sendiri berlepotan noda, kau masih bicara tentang niat kotor orang lain. Bagus sekali mengenal tangan mautmu yang telah kau pergunakan untuk membunuh tujuh orang pemuda di rumah penginapan dan tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Nona Liu Lu Sian!

Ma-susiok ! Betulkah itu?Tiba-tiba Lu Sian yang mendengar kata-kata ini bertanya dengan suara terdengar gembira. Benar-benar Kwee Seng tidak mengerti dan sekali lagi ia terheran-heran atas sikap Lu Sian ini.

Merah wajah Ma Thai Kun. Memang betul aku membunuh mereka. Cacing-cacing tanah itu tak tahu malu dan berani mengharapkan yang bukan-bujan, orang-orang macam mereka mana patut memikirkan Lu Sian ? Aku membunuh mereka apa sangkut-pautnya dengan kau, Kwee Seng?

Suheng Kenapa kau lakukan kekejaman itu ? Bukankah Ji-suheng sudah melarang kitaOrang muda bertopi runcing itu bertanya, suaranya penuh kekuatiran.

Sute, tak usah kauturut campur ! Kau anak kecil tahu apa!

Kwee Seng tertawa bergelak. Sekali pandang saja tahulah ia bahwa orang muda yang menjadi adik seperguruan Ma Thai Kun ini seorang yang jauh bedanya dengan saudara-saudara seperguruannya, jauh lebih bersih batinnya.

Ma Thai Kun, memang urusan dengan pemuda itu tiada sangkut-pautnya dengan aku, akan tetapi pembunuhan keji itu tak boleh kudiamkan saja tanpa menegurmu. Apalagi, kau masih menitipkan sebuah benda kepadaku, apakah kau tidak ingin memintanya kembali?Sambil berkata demikian, Kwee Seng mengeluarkan sebatang jarum merah dari saku bajunya. Kau mengenal ini ? Kau menghadiahkan ini kepadaku selagi aku tidur, dan untuk kebaikan hati itu aku belum membalasnya.Kwee Seng menyindir.

Berubah wajah Ma Thai Kun. Kau kaukah jahanam itu ?bentaknya dan tanpa memberi peringatan lagi ia sudah menerjang ke depan, menggerakkan kedua tangannya mengirim serangan maut dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sin-kang sepenuhnya.

iii . aiih. inikah tangan maut yang mengandung racun merah itu ?Kwee Seng mengelak sambil mengejek dan tiba-tiba dari dalam guci arak itu meleset keluar bayangan merah dari arah yang mencrat dan menyerang muka Ma Thai Kun. Biarpun hanya benda cair, karena arak itu digerakkan oleh tenaga lwee-kang, terasa seperti tusukan jarum. Ma Thai Kun cepat mengibaskan tangannya dan hawa pukulannya membuat arak itu pecah bertebaran. Akan tetapi mendadak sebuah guci arak yang sudah kosong melayang ke arah kepalanya. Ma Thai Kun menangkis dengan tangan kirinya.Brakkk !guci itu pecah pula berkeping-keping. Namun Kwee Seng sudah merasa puas. Serangannya yang mendadak dapat memecahkan rahasia gerakan Ma Thai Kun, maka ia sudah dapat menyelami dasarnya. Maka ketika Ma Thai Kun menerjangnya lagi, ia menyambut dengan gerakan kedua tangan yang sama kuatnya. Kwee Seng tidak mengeluarkan senjata melihat lawannya juga bertangan kosong.

yang tak pernah menggunakan senjata. Namun, kedua tangannya merupakan sepasang senjata yang mengandung racun, menggila dahsyat dan ampuhnya ! Jarang ia menemui tandingan, apalagi kalau lawannya juga bertangan kosong. Baru beradu lengan dengannya saja sudah merupakan bahaya bagi lawan.

Namun kali ini Ma Thai Kun kecelik. Lawannya biarpun masih muda, namun telah memiliki tingkat kepandaian yang sangat tinggi sekali. Biarpun ia tidak mengisi kedua lengannya itu telah kebal terhadap hawa-hawa beracun yang betapa ampuhnya pun juga, karena ketika ia merantau dan berguru kepadanya pertapa-pertapa di Pegunungan Himalaya, ia telah melatih dan menggembleng kedua lengannya dengan obat-obat mujijat, juga di dalam pertempuran berat ia selalu Mengisi kedua lengannyadengan hawa sakti dari dalam tubuhnya.

Pertandingan itu hebat bukan main. Setiap gerakan tubuh, baik tangan maupun kaki, membawa angin dan menimbulkan getaran, bahkan tanah yang mereka jadikan landasan serasa tergetar oleh tenaga-tenaga dalam yang tinggi tingkatnya. Beberapa kali Ma Thai Kun menggereng dalam pengerahkan tenaga racun merah, disalurkan sepenuhnya ke dalam lengan yang beradu dengan lengan lawan. Namun akibatnya, dia sendiri yang terpental dan merasa betapa hawa panas di lengannya membalik. Makin merahlah ia dan terjangannya makin nekat.

Ma Thai Kun, manusia macam kau ini semestinya patut dibasmi. Akan tetapi mengingat akan persahabatan dengan Pat-jiu Sin-ong, melihat pula muka nona Liu Lu Sian yang masih terhitung murid keponakan dan melihat muka adik seperguruanmuyang bersih hatinya, aku masih suka mengampunkan engkau. Pergilah!

Sambil berkata demikian, tiba-tiba Kwee Seng merendahkan tubuhnya, setengah berjongkok dan kedua lengannya mendorong ke depan. Inilah sebuah serangan dengan tenaga sakti yang hebat. Tidak ada angin bersiut, akan tetapi Ma Thai Kun merasa betapa tubuhnya terdorong tenaga yang hebat dan dahsyat. Ia pun merendahkan diri, mendorongkan kedua lengannya untuk bertahan, namun akibatnya, terdengar bunya berkerotokan pada kedua lengannya dan tubuhnya terlempar seperti layang-layang putus talinya, lalu ia roboh terguling dan kedua lengannya menjadi bengkak-bengkak.

Orang she Kwee, kau melukai suhengku, terpaksa aku membelanya!kata orang muda bertopi runcing sambil melepaskan cambuknya dari punggung.

Saudara yang baik, siapakah namamu?Kwee Seng bertanya, suaranya halus.”Aku bernama Kauw Bian, saudara termuda dari Twa-suheng Liu Gan.Hemm, kaulihat kau seorang yang jujur dan baik. Mengapa engkau henndak membela orang yang meyeleweng daripada kebenaran?

Tindakan Sam-suheng memang tidak kusetujui, akan tetapi sebagai sutenya, melihat seorang suhengnya terluka lawan, bagaimana aku dapat diam ? Kewajibankulah untuk membelanya ! Orang she Kwee, hayo keluarkan senjatamu dan lawanlah cambukku ini! Setelah berkata demikian, Kauw Bian menggerakkan cambuknya keatas dan terdengar bunyi Tar-tar-tar!nyaring sekali. Diam-diam Kwee seng kagum sekali. Cambuk itu biarpun kelihatan seperti cambuk biasa, namun ditangan orang ini dapat menjadi senjata yang ampuh sekali. Dan ia kagum akan isi jawaban yang membayangkan kejujuran budi dan kesetiaan yang patut dipuji. Maka Kwee Seng segera menjura dan berjata.

Kauw-enghiong, sikapmu membuat aku lemas dan aku mengaku kalah terhadapmu. Maafkanlah, aku tidak mungkin mengangkat senjata melawan seorang yang benar, dan aku pun percaya kau tidak seperti Suhengmu untuk menyerang seorang yang tidak mau melawan.Setelah berkata demikian, Kwee Seng melompat keatas kudanya, menoleh kepada Lu Sian sambil berkata.

Nona, terserah kepadamu ingin melanjutkan perjalanan bersamaku atau tidak.Lalu ia melarikan kudanya pergi dari situ. Liu Lu Sian tercengang sejenak lalu tersenyum dan membedal kudanya pula, mengejar. Tinggal Kauw Bian yang masih memegang pecut, tidak tahu harus berbuat apa dan hanya dapat memandang dua buah bayangan yang makin lama makin kecil dan akhirnya lenyap itu.

Kauw Bian-sute ! Adik macam apa kau ini ? Kenapa tidak serang dia?Kauw Bian terkejut dan cepat menoleh. Kiranya Ma Thai Kun sudah berdiri di belakangnya, meringis kesakitan dan ke dua lengannya masih bengkak-bengkak.

Tidak mungkin, Suheng. Dia tidak mau melawanku, bagaimana aku bisa menyerang orang yang tidak mau melawan?

Ahhh, dasar kau lemah. Mendadak Ma Thai Kun menghentikan omelannya karena mendadak bertiup angin dan sesosok tubuh tinggi besar melayang turun.

Kiranya Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang datang. Jelas bahwa tokoh ini marah, sepasang matanya melotot memandang Ma Thai Kun dan begitu kakinya menginjak tanah, ia lalu membentak.

Ma Thai Kun ! Bagus sekali perbuatanmu, ya ? Kau layak dipukul seperti anjing!Tangan kiri Liu Gan bergerak dan Plakkk, plakkk!telapak dan punggung tangan sudah menampar cepat sekali mengenai sepasang pipi Ma Thai Kun yang terhuyung-huyung ke belakang. Pucat muka Ma Thai Kun dan matanya menyipit berbahaya ketika berdongak memandang.

Twa-suheng, apa kesalahanku? Masih bertanya tentang kesalahannya lagi ? Anjing hina kau ! Kau, tua bangka, kau berani menaruh hati cinta kepada puteriku, keponakanmu ? Penghinaan besar sekali ini, tidak dapat diampunkan!

Suheng, apa buktinya? Setan alas ! Kaukira aku tidak tahu akan segala perbuatanmu ? Sebelum kau membunuhi pemuda-pemuda itu, pada malam hari itu kau membujuk-bujuk Lu Sian dengan kata-kata merayu, kau menyatakan cintamu dan minta kepada Lu Sian agar jangan mau diadakan pemilihan jodoh. Huh, tak malu ! Dan kau begitu cemburu dan membunuhi para pemuda yang tergila-gila kepada Lu Sian, malah engkau membunuh tiga orang pemuda yang sudah kalah oleh Lu Sian. Kemudian sekarang kau berani mampus menghadang Kwee Seng sehingga dikalahkan dan karenanya menampar mukaku. Keparat!!

Mendengar ini semua, Kauw Bian mukanya sebentar merah sebentar pucat saking heran, terkejut, dan bingung mendengar kelakuan Sam-suheng (Kakak Seperguruan ke Tiga). Namun Ma Thai Kun malah tersenyum.

Twa-suheng, semua itu memang benar ! Akan tetapi, apa salahnya kalau aku mencinta Lu Sian ! Dia wanita dan aku laki-laki ! Agama kita tidak melarang akan hal ini, tidak melarang perjodohan antar keluarga, apalagi antara kita hanya ada hubungan keluarga seperguruan. Twa-suheng, memang aku mencinta Lu Sian dengan sepenuh jiwaku. Lu Sian sendiri tidak marah mendengar pengakuanku, mengapa Suheng marah-marah?

Gemertak bunyi gigi dalam mulut Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Jahanam hina ! Apa kau kira menjadi tanda bahwa dia membalas cintamu ? Huh, goblok dan hina ! Lu Sian selalu akan gembira mendengar orang laki-laki jatuh cinta kepadanya, karena ia ingin menikmati kelucuan badut-badut itu ! Kau sama sekali tidak memandang mukaku, maka kau harus binasa sekarang juga!Liu Gan sudah bergerak maju, akan tetapi ia menarik kembali tangannya ketika melihat Kauw Bian melompat ke tengah menghalanginya.

Kauw Bian Sute, mau apa?? Maaf, Twa Suheng. Terus terang saja siauwte seendiri tidak setuju perbuatan Ma-suheng itu. Akan tetapi, Twa-suheng, betapapun besar kesalahannya, kiranya tidaklah baik kalau Twa-suheng menjatuhkan hukuman mati kepada Ma-suheng. Pertama, mengingat akan saudara seperguruan, ke dua hal itu akan menjadi buah tertawaan dunia kang-ouw dan merendahkan nama besar Twa-suheng, malah menyeret pula nama Beng-kauw yang kita cintai. Betapa dunia kang-ouw akan gempar kalau mendengar bahwa Ketua Beng-kauw

membunuh adik seperguruannya sendiri.

Liu Gan mengerutkan kening, menarik napas panjang dan memeluk sutenya yang paling muda dan memang paling ia saying itu. Ah, Siauw-sute ! Kau masih begini muda namun pandanganmu luas, pikiranmu sedalam lautan. Untung ada engkau yang dapat menahan kemarahan ku. Eh, Ma Thai Kun, minggatlah kau ! Mulai detik ini, aku tidak sudi lagi melihat mukamu dan kalau kau berani muncul di depanku, hemmm, aku tidak peduli lagi, pasti aku akan membunuhmu !

Ma Thai Kun menjura dalam-dalam lalu membalikkan tubuh dan lenyap di antara pohon-pohon. Kauw Bian menarik napas panjang dan mengusap dua titik air matanya dari pipi.

Kau menangis, Sute ?Liu Gan bertanya heran. Dengan suara serak Kauw Bian menjawab, masih membalikkan tubuh memandang ke arah perginya Ma Thai Kun. Perbuatan manusia selalu mendatangkan kebaikan dan keburukan, Twa-suheng. Kalau kita mengingat yang buruk-buruk saja memang dapat menimbulkan benci. Akan tetapi saya teringat akan kebaikan-kebaikan Ma-suheng selama menjadi kakak seperguruan, dan bagaimana hati saya takkan sedih melihat dia pergi untuk selamanya ? Betapapun juga, beginilah agaknya yang paling baik. Dengan penuh duka adikmu ini melihat betapapun juga Ma-suheng pergi membawa serta dendam dan kebencian yang hebat, yang tentu akan membuatnya nekat dan melakukan hal-hal yang berbahaya. Akan tetapi karena Twa-suheng mengusirnya, berarti bahwa semua perbuatannya tiada sangkut-pautnya dengan Beng-kauw.

Mendengar kata-kata ini, berkerut kening Pat-jiu Sin-ong Liu Gan. Hemmm, agaknya benar lagi pendapatmu tentang baik buruk yang lekat pada perbuatan manusia. Kwee Seng kelihatan seorang yang pilihan, akan tetapi siapa tahu sewaktu-waktu sifat buruknya akan menonjol pula. Kauw Bian Sute, kau kembalilah dan bantulah Suhengmu Liu Mo menjaga Beng-kauw dan beri laporan kepada Sri Baginda bahwa aku akan merantau selama dua tiga bulan.

Twa-suheng hendak membayangi perjalanan Kwee Seng dan Lu Sian ? Itu baik sekali, Twa-suheng, karena perjalanan bersama antara seorang pri dan wanita, sungguh merupakan bahaya besar yang bahayanya lebih banyak mengancam si wanita daripada si pria.

Sute, kau benar-benar berpemandangan tajam. Nah, aku pergi !Pat-jiu Sin-ong Liu Gan berkelebat, angin menyambar dan ia sudah lenyap dari depan Kauw Bian. Pemuda yang berpakaian sederhana seperti pengembala ini menarik napas panjang saking kagumnya, kemudian ia pun melangkah pergi dari hutan itu.

Musim dingin telah tiba dan melakukan perjalanan pada musim dingin bukanlah hal yang menyenangkan atau mudah. Apalagi kalau hanya menunggang kuda tanpa ada tempat untuk berlindung dari serangan hawa dingin yang menusuk tulang, tidak mengenakan baju bulu yang tebal, tentu perjalanan itu akan mendatangkan sengsara dan juga bahaya mati kedinginan.

Namun, tidak demikian agaknya bagi Kwee Seng dan Liu Lu Sian. Dua orang muda ini bukanlah orang-orang biasa, melainkan pendekar-pendekar yang sudah gemblengan yang dengan ilmunya telah dapat menyelamatkan diri daripada serangan hawa dingin tanpa bantuan benda luar seperti baju tebal dan selimut. Mereka melakukan perjalanan seenaknya dan hanya mengaso kalau kuda yang mereka tumpangi sudah lelah dan kedinginan.

Pada siang hari itu, mereka mengaso di pinggir Sungai Wu-kiang yang mengalirkan airnya perlahan-lahan ke jurusan timur. Airnya tampak tenang dan sedikit pun tidak bergelombang, membayangkan bahwa sungai itu amat dalam. Lu Sian menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuh dua ekor kuda mereka, juga dengan bantuan api, mereka merasa nikmat dan hangat.

Kwee-koko, sudah dua pekan kita melakukan perjalanan, akan tetapi belum juga kau penuhi dua permintaanku.Lu Sian berkata sambil mengorek-orek kayu membesarkan nyala api.

Nona ? Nah, yang dua belum dipenuhi, yang satu dilanggar pula. Berapa kali sudah kukatakan supaya kau jangan menyebut Nona kepadaku ? Wah, pelajar apakah kau ini, Begitu pikun dan kurang perhatian ? Mana bisa maju mempelajari sastra begitu sulitnya!

Kwee Seng menarik napas panjang. Gadis ini memang hebat. Tidak saja benar-benar mempunyai kecantikan yang asli dan gilang-gemilang, yang cukup meruntuhkan hatinya, namun juga memiliki watak yang kadang-kadang membuat ia bertekuk lutut karena ia jatuh hatinya. Watak yang berandalan, namun seakan-akan dapat menambah terangnya sinar matahari, menambah merdu kicau burung, menambah meriah suasana dan menjadikan segala apa yang tampak berseri-seri. Akan tetapi, juga makin yakin hatinya bahwa di balik segala keindahan, segala hal-hal yang menjatuhkan hatinya ini, tersimpan sifat-sifat lain yang amat bertentangan dengan hatinya. Sifat kejam dan ganas, tidak mempedulilkan orang lain, terlalu cinta kepada diri sendiri, dan tidak mau kalah, ingin selalu menang dan berkuasa saja.

Memang aku seorang pelajar yang gagal, tidak lulus ujian.Ia menjawab kemudian menambahkan. au minta aku menceritakan riwayatku, apakah gunanya ? Aku tidak ada riwayat yang pantas menjadi cerita, aku seorang sebatang kara, yatim piatu, miskin dan gagal. Apalagi ? Tentang permintaanmu ke dua mempelajari ilmu silat yang sedikit-sedikit aku bisa, nantilah, belum tiba saatnya.

Wah, kau jual mahal, Koko!Lu Sian mengejek dan mengisar duduknya mendekati pemuda itu. Memang demikianlah selalu sikap Lu Sian, terhadap siapapun juga. Jinak-jinak merpati, tampaknya jinak tapi tak mudah didekati ! Hawa begini dingin, kalau ditambah sikapmu, bukankah kita akan menjadi beku ? Eh, Kwee-koko, kalau aku tidak ingat bahwa kau adalah seorang ahli silat yang lihai, kau ini pelajar gagal dan murung mengingatkan aku akan seorang penyair yang sama segalanya dan sama murungnya dengan

engkauhi hikGadis ini menutup mulutnya dengan tangan, akan tetapi matanya jelas mentertawakan Kwee Seng.

Penyair mana yang kau maksudkan?Biarpun tahu gadis itu hanya menggodanya, namun bicara tentang syair dan menyair menimbulkan kegembiraan selalu bagi Kwee Seng.

Siapa lagi kalau bukan Tu Fu ! Pernah aku mendengar ayah bicara tentang syair-syairnya, mengerikan!

Mengapa mengerikan kalu dia selalu mencurahkan isi hatinya berdasarkan kenyataan dan terdorong oleh rasa kasihan kepada sesamanya?

Bukan rasa kasihan kepada sesamanya, Koko, Melainkan rasa kasihan kepada diri sendiri ! Karena keadaannya miskin terlantar, dia pandai bicara tentang kemiskinan. Coba dia itu kaya raya, atau andaikata tidak kaya harta benda, sedikitnya kaya akan cinta kasih kepada alam seperti penyair yang seorang lagieh, siapa itu yang suka memuji-muji alam, yang sukamabok-mabokan, gila arak seperti kau pula

Kau maksudkan penyair Li Po? Na, dia itulah. Kalau Seperti Li Po yang memandang dunia dari segi keindahan, tentu dalam kemiskinannya Tu Fu takkan begitu pahit dan pedas sajak-sajaknya. Wah, aku seperti mengajar itik berenang ! Kau tentu lebih tahu dan pandai. Aku paling ngeri mendengar syair Tu Fu tentang anggur, daging dan tulang. Bagaimana bunyinya, Kwee-koko?

Kwee Seng meramkan mata, menengadahkan mukanya yang tampan ke atas lalu mengucapkan syair ciptaan Tu Fu dengan suara bersemangat, terpengaruh oleh isi sajak yang memaki-maki keadaan pada waktu itu.

Di sebelah dalam pintu gerbang merah hangat indah serba mewah anggur dan daging bertumpuk-tumpuk sampai masam rusak membusuk ! Di sebelah luar pintu gerbang merah dinding kotor serba miskin berserakan tulang-tulang rangka mereka yang mati kedinginan dan kelaparan!

Iiiihhh ! Itu bukan sajak namanya!Lu Sian mencela, kelihatan jijik dan ngeri, Tidak enak benar mendengarkan sajak seperti itu.

Memang sajak itu keras dan tegas, agak berlebihan, namun mengandung kegagahan yang tiada bandingnya, Noneh, Moi-moi.

Sepasang bibir indah merah terbelah memperlihatkan kilatan gigi seperti mutiara ketika Lu Sian mendengar sebutan moi-moi (dinda) itu. Diam-diam ia mentertawakan Kwee Seng di dalam hatinya. Katakanlah kau menang dalam ilmu silat, boleh kau mengira dirimu gagah perkasa dan tampan, namun alangkah mudahnya kalau aku mau menjatuhkanmu, membuatmu bertekuk lutut di depan kakiku ! Demikianlah nona ini berkata dalam hatinya.

Ah, apakah dia itu pun pandai ilmu silat seperti kau, Kwee-koko?Biarpun aku juga hanya seorang bodoh, akan tetapi sedikit banyak mengerti ilmu silat, sedangkan mendiang Tu Fu benar-benar seorang sastrawan yang tak tahu bagaimana caranya memegang gagang pedang, tahunya hanya memegang gagang pensil.

Kalau begitu dia orang lemah. Bagaimana gagah tiada bandingnya?$BE.(Boi-moi, kau tidak tahu. Biarpun orang yang memiliki ilmu silat yang tinggi sekali pada waktu itu, tak mungkin ia berani melontarkan kata-kata yang seperti bunyi sajak itu, karena dapat dicap sebagai pemberontak dan di hukum mati!

Tapi aku lebih kagum kepada penyair Li Po. Masih teringat aku akan sajaknya yang benar-benar membayangkan kegagahan, kalau tidak salah begini :

Alangkah inginku dapat terbangdengan pedang sakti di tanganmenyebrangi samudera untuk membunuh ikan paus pengganggu nelayan!

Ketika mengucapkan sajak ini, Lu Sian bangkit berdiri, kedua kakinya terpentang, tubuhnya tegak dada membusung penuh semangat dan kelihatan gagah dan cantik jelita. Suaranya

bersemangat, merdu dan penuh perasaan sehingga Kwee Seng melihat dan mendengar dengan mata terbelalak dan mulut ternganga ! Ia berada dalam keadaan seperti itu dan baru tersipu-sipu membuang muka ketika Lu sian memandangnya dan bertanya.Kau kenapa, Koko?

Tidak apa-apa, tidak apa-apakau pandai membaca sajak, Moi-moi kata Kwee Seng gagap. Akan tetapi terdengar gadis itu terkekeh tertawa, suara ketawa yang mengandung banyak arti dan gadis itu masih tersenyum-senyum dan sinar matanya mengerling tajam penuh ejekan ketika mereka bangkit berdiri dan berhadapan, Lu Sian menggerakkan kakinya perlahan mendekati, sampai dekat benar, sampai terasa benar oleh hidung Kwee Seng keharuman yang luar biasa keluar dari tubuh gadis itu.

Wajah jelita itu dekat sekali dengan wajahnya, wajah yang berseri dengan mata bersinar-sinar dan bibir terbuka menantang dikulum senyum. Serasa terhenti detik jantung Kwee Seng, bobol pertahanannya dan dengan nafsu yang memabokkan pikirannya didekapnya pundak Lu Sian dalam rangkulan dan ditundukkannya mukanya untuk mencium.

Akan tetapi tiba-tiba Lu Sian menundukkan mukanya sehingga yang tercium oleh Kwee Seng hanyalah rambutnya, rambut yang harum menyengat hidung, dan tiba-tiba terdengar gadis itu bertanya, suaranya dingin aneh, penuh cemooh. Hai, Kwee Seng pendekar muda yang sakti, pertapa belia tahan tapa dan si teguh hati, apakah yang akan kau perbuat ini?

Seakan disiram air salju mukanya, Kwee Seng gelagapan, mukanya menjadi pucat lalu berubah merah, dilepaskannya dekapan tangannya dan ia membuang muka lalu menundukannya. Maaf ah, maafkan aku. Seperti sudah gila aku tadi ah, Nona Liu, maafkan aku. Kenapa kau begitubegitu jelita dan.. dan.. keji

Liu Lu Sian tertawa, suara tawanya merdu sekali, akan tetapi juga penuh dengan ejekan.

Kwee-koko, kau ingatlah. Agaknya kemuraman penyair Tu Fu menularimu. Mari kita lanjutkanTiba-tiba Kwee Seng mendorong gadis itu yang segera meloncat, bermodal tenaga dorongan Kwee Seng yang juga sudah meloncat ke belakang dengan gerakan cepat. Sambil mengeluarkan bunyi berciutan menyambarlah lima batang senjata piauw (pisau terbang) dan menancap ke dalam batang pohon. Tidak hanya berhenti disitu saja penyerangan gelap ini karena dari tiga penjuru menyambarlah bermacam-macam senjata rahasia menghujani tubuh Kwee Seng dan Lu Sian. Akan tetapi, kini dua orang muda yang berilmu tinggi itu kini sudah siap sedia dan waspada, dengan mudah mereka menyelamatkan diri. Lu Sian sudah mencabut pedangnya dan dengan putaran pedangnya secara indah dan cepat, semua piauw jarum dan senjata rahasia paku beracun dapat ia pukul runtuh. Adapun Kwee Seng sendiri hanya dengan menggerak-gerakkan kedua lengannya saja, ujung lengan bajunya mengeluarkan angin pukulan, cukup membuat semua senjata! rahasia menyeleweng dan tidak mengenai dirinya.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan ternyata dua ekor kuda mereka yang dilarikan orang. Keparat hina dina!Lu Sian melompat, pedangnya berkelebat dan dua orang yang menunggang kuda mereka terjungkal, tak bernyawa lagi !

Ah, Moi-moi, kenapa begitu ganas?Kwee Seng menegur penuh sesal sambil memegangi kendali kudanya yang terkejut dan akan memberontak.

Penjahat rendah yang telah menyerang secara pengecut, lalu hendak mencuri kuda, sudah sepatutnya dibunuh.Kata Lu Sian dengan suara dingin sambil menyarungkan kembali pedangnya.

Kwee Seng membungkuk sambil memeriksa dua orang itu. Pakaian mereka tidak menunjukkan orang-orang miskin, juga rapi tidak seperti maling-maling kuda biasa. Akan tetapi, bekas tusukan pedang Lu Sian hebat sekali, mereka itu sudah mati dan tak dapat ditanya lagi.

Justeru karena mereka mengandalkan banyak orang dan secara menggelap menyerang kita, perlu kita ketahui apa latar belakangnya. Dua ekor kuda kita, biarpun merupakan kuda pilihan, kiranya belum patut menggerakkan hati orang-orang kang-ouw untuk merampasnya. Tentu saja ada apa-apa di belakang semua ini, namun sayang, mereka sudah mati tak dapat ditanya lagi. Mari kita lanjutkan perjalanan, dua mayat ini tentu akan diurus oleh teman-temannya yang kurasa tidak kurang dari lima orang banyaknya melihat datangnya senjata-senjata rahasia tadi. Kau hati-hatilah, Moi-moi, kurasa orang-orang yang memusuhi kita takkan berhenti sampai disini saja.

Lu Sian mengangkat kedua pundak, memandang rendah sekali kepada ancaman musuh, lalu melompat ke atas punggung kudanya. Dua orang muda itu segera menjalankan kuda ke timur di sepanjang lembah sungai Wu-kiang. Melihat Kwee Seng naik kuda dengan wajah muram dan alis berkerut, diam tak mengeluarkan kata-kata dan sama sekali tak pernah menoleh kepadanya, Lu Sian bertanya.

Koko, apakah kau masih marah kepadaku?Tanpa menoleh Kwee Seng berkata lirih, Kenapa marah ? Tidak!

Diam pula sampai lama. Hanya suara derap kaki kuda mereka yang berjalan congklang. Dari jauh tampak tembok sebuah kota. Itulah kota Kwei-siang yang terletak di tepi sungai.

Kwe-koko, hemm, ada apakah kau lihat aku. Tidak enak bicara dengan orang yang tunduk saja. Apa kau tidak sudi memandang mukaku lagi?

Mau tidak mau Kwee Seng menoleh dan wajahnya seketika menjadi merah ketika ia melihat wajah gadis itu berseri-seri, sepasang matanya mengeluarkan cahaya yang bersinar tajam menembusi jantungnya, yang seakan-akan mengandung penuh pengertian, yang menjenguk isi hatinya sehingga Kwee Seng merasa seperti ditelanjangi, seperti telah terungkapkan semua rahasia perasaan dan hatinya.

Sian-moi, (adik Sian), kau mau bicara apakah?Kwee Seng mengeraskan hatinya, menekan perasaan.

Kwee-koko, kau telah jatuh hati kepadaku, bukan ? Kau mencintaiku sepenuh hatimu!

Sejenak Kwee Seng menjadi pucat wajahnya. Bukan main, pikirnya. Gadis ini benar-benar berwatak siluman ! Pertanyaan macam benar-benar tak mungkin diajukan oleh gadis manapun juga. Ia tahu bahwa pertanyaan ini disengaja oleh Lu Sian, dan ia maklum pula bahwa gadis ini, sepeti seekor kucing, hendak mempermainkannya seperti seekor tikus. Ia merasa betapa jantungnya tertusuk, akan tetapi Kwee Seng adalah pemuda gemblengan. Cepat ia dapat memulihkan ketenangannya dan mukanya berubah merah kembali.

Tak perlu aku menyangkal, Moi-moi. Aku memang jatuh hati kepadamu. Kau terlalu cantik jelita, pribadimu mengeluarkan daya tarik seperti besi sembrani yang tak dapat kulawan. Kini aku balas bertanya, apakah kau tidak mencintaiku?

Lu Sian kelihatan gembira dan senang sekali. Gadis ini menggerak-gerakkan kepalanya, matanya bersinar-sinar dan ia tertawa sambil menengadahkan muka ke atas. Aku ? Mencintaimu ? Ah, aku tidak tahu, Koko. Aku takkan begitu tergesa-gesa seperti engkau mengambil keputusan tentang cinta. Belum cukup lama aku mengenalmu. Kau terlalu lemah lembut, terlalu muram. Biarlah aku mempelajarimu lebih dulu. Bukankah ayah telah memberi kesempatan kepadamu untuk mengawiniku, mengapa kau menolak dan malah berjanji akan menurunkan ilmu kepadaku?

Aku memang cinta kepadamu, Sian-moi, akan tetapi tentang kawin ah, terlalu banyak aku melihat kekejian-kekejian di Beng-kauw, terlalu banyak aku melihat keganjilan-keganjilan yang mengerikan. Dan kau sendiriah, kurasa takkan mungkin kau bisa mencinta pria secara lahir batin. Aku cinta pribadimu, tapi mungkin aku tidak menyukai watakmu dan keluargamu!

Kembali Lu Sian tertawa sambil menutupi mulut dengan tangannya. Kwee Seng makin heran. Benar-benar gadis yang aneh. Aneh dan berbahaya sekali. Ia tadi sengaja berterus terang untuk membalas agar gadis ini merasa terpukul. Akan tetapi kiranya gadis itu malah mentertawakannya !

Hi-hik, kau lucu, Kwee-koko. Aku pun belum percaya akan cintamu kalau kau belum buktikan dengan berlutut menyembah-nyembah kakiku!Setelah berkata demikian, gadis itu berseru keras dan menyendal kendali kudanya sehingga binatang itu terkejut dan membalap ke depan. Kwee Seng terheran-heran, lebih heran daripada terhina oleh ucapan aneh itu, akan tetapi ia merasa lega bahwa gadis itu mengakhiri percakapan yang menyakiti hatinya, maka ia pun lalu membedal kudanya mengejar, memasuki kota

Kwei-siang.

Hari telah menjelang senja ketika mereka berdua memasuki kota Kwei-siang. Mereka mencari sebuah rumah penginapan yang juga membuka rumah makan di bagian depan. Seorang pelayan penginapan tergopoh-gopoh menyambut mereka, merawat kuda dan memberi dua buah kamar yang mereka minta. Setelah ke dua orang muda ini membersihkan diri daripada debu dan keringat, berganti pakaian bersih, mereka lalu mengambil tempat duduk di rumah makan dan memesan makanan. Kwee Seng yang masih belum lenyap rasa tekanan hatinya, lebih dulu memesan seguci arak yang paling baik.

Wah, kau mau mabok-mabokan lagi Koko ? Benar-benar menjengkelkan ! Aku malam ini ingin sekali bercakap-cakap denganmu sampai semalam suntuk!

Sambil menuangkan arak pada cawannya, Kwee Seng menjawab, memaksa senyum, karena kadang-kadang, seperti sekarang ini sikap Lu Sian yang kekanak-kanakan mengelus dan menghibur hatinya, melenyapkan rasa sakit akibat ucapan-ucapan yang menusuk dari gadis itu pula.

Biarpun minum arak bukan kebiasaanku dan baru saja hinggap padaku semenjak aku berjumpa denganmu, Moi-moi, akan tetapi aku tak akan begitu mudah mabok. Bercakap-cakap sambil minum kan dapat juga.

Ahhh, siapa bilang ? Biar kau tidak mabok, akan tetapi kau lebih mencurahkan perhatianmu pada arak, dan.. eh, koko, lihat mereka itu. Tiba-tiba Lu Sian menghentikan kata-katanya ketika melihat beberapa orang laki-laki muncul seorang demi seorang dari pintu depan dengan gerak-gerik mencurigakan sekali. Yang pertama masuk adalah seorang laki-laki yang berwajah muram, mukanya licin tidak berjenggot, pakaiannya kumal, di punggungnya terselip sebatang golok telanjang, usianya kurang lebih empat puluh tahun. Orang ini berjalan dengan gerakan kaki ringan seperti seekor kucing, dan ketika memasuki pintu, matanya mengerling ke arah tempat duduk Kwee Seng dan Lu Sian.

Karena Kwee Seng duduk membelakangi pintu, maka Lu Sian yang berhadapan dengannya lebih dulu melihat dan tertarik. Apalagi ketika berturut-turut masuk lima orang laki-laki lain di belakang Si Pembawa Golok. Dua orang berpakaian tosu (pendeta To), seorang laki-laki setengah tua yang tampan dengan rambut digelung ke atas, kemudian seorang pemuda tampan yang pakaiannya seperti pelajar akan tetapi di pinggangnya tergantung pedang, kemudian yang terakhir adalah seorang hwesio (pendeta Buddha) berkepala gundul yang membawa sebatang tongkat besi yang berat. Enam orang ini terang bukanlah orang-orang sembarangan karena gerak-gerik mereka ringan dan gesit.

dihiraukan.Kata Kwee Seng yang sikapnya tetap tenang seakan-akan tidak ada apa-apa, kemudian pemuda ini minum araknya dari cawan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tahu-tahu sudah mengeluarkan kipas yang diletakkannya di atas meja. Liu Lu Sian tersenyum dan kembali memperhatikan makanan yang tersedia diatas meja tanpa menghiraukan orang-orang itu. Ia maklum bahwa tanpa ia peringatkan, Kwee Seng juga sudah tahu akan masuknya enam orang itu dan sudah siap sedia. Ia kagum akan sikap ini dan mendapat pelajaran bahwa menghadapi segala macam ancaman, lebih baik bersikap tenang sehingga dapat menentukan sikap dengan tepat.

Betapapun juga, Lu Sian tak dapat menahan keinginan hatinya untuk melihat dengan kerling sudut matanya ke arah orang-orang itu. Ternyata mereka sekarang memperlihatkan sikap yang cukup jelas. Orang pertama sudah mencabut golok, Si Hwesio mengangkat tongkatnya sedangkan yang lain juga sudah bersiap seperti orang hendak bertempur. Jelas bahwa enam orang itu hendak mencari perkara karena pandang mata mereka semua kini terarah kepadanya !Dengan gerakan penuh ancaman enam orang itu kini makin mendekat dan akhirnya mereka mengurung meja yang dihadapi Kwee Seng dan Lu Sian. Namun, Kwee Seng tetap tenang sambil minum araknya, melirik pun tidak ke arah mereka. Lu Sian juga bersikap tenang, namun hatinya berdebar. Tidak biasanya ia bersikap seperti yang diambil Kwee Seng ini. Biasanya, begitu ada orang memusuhinya, ia segera menurunkan tangan besi dan baginya, lebih cepat merobohkan lawan lebih baik.

Para pengurus rumah makan sudah lari ketakutan menyaksikan enam orang itu mengeluarkan senjata dan beberapa orang tamu yang tadinya sedang menikmati hidangan, juga cepat-cepat membayar harga makanan dan segara pergi. Semua orang sudah melihat gelagat tidak baik, hanya Kwee Seng yang seakan-akan tidak tahu akan kesibukan itu semua dan enak-enak minum. Siluman betina ! Kau harus mengganti nyawa puteraku!tiba-tiba Si Pemegang Golok yang berwajah muram itu membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Lu Sian.

Gadis ini mendongkol bukan main, akan tetapi ia tetap duduk dan tersenyum mengejek, kemudian dengan mata berseri-seri memandang kepada pemuda tampan yang membawa pedang. Pandang mata Lu Sian yang tajam, sekali lihat sudah tahu bahwa pemuda tampan itu sejak tadi memandang kepadanya penuh rasa kagum, dan hal inilah yang membuat matanya berseri dan senyumnya mengejek. Sengaja ia mengedip-negedipkan mata kirinya lebih dulu kepada pemuda tampan itu sebelum menjawab.

Siapakah puteramu dan siapa engkau ? Mengapa pula aku harus mengganti nyawa puteramu?

Setan betina ! Masih kau hendak berpura-pura tidak tahu sedangkan tadi dengan kejam kau membunuh pula dua orang pembantuku?

hihhh hihhh jadi kalian ini golongan pencuri-pencuri kuda ? Sungguh sayang. Gadis ini menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memandang kepada pemuda tampan yang tiba-tiba menjadi

merah mukanya karena Lu Sian seakan-akan menunjukan kata-kata sayangitu kepadanya.

Siluman sombong ! Puteraku dengan baik-baik memasuki sayembara karena dia begitu bodoh tergila-gila kepada kecantikanmu, dan andaikata di dalam pertandingan itu dia kalah, apakah salahnya ? Kenapa dia masih harus dibunuh secara penasaran ? Apakah tiap laki-laki yang gagal mengalahkanmu harus mati seperti anakku Lauw Kong itu?

Teringatlah kini Lu Sian akan tiga orang pemuda yang mengeroyoknya di atas panggung. Memang seorang diantara mereka bernama Lauw Kong, yang bermuka hitam dan mengaku datang dari kota Kwi-san yang letaknya tidak jauh dari kota Kwei-siang ini.

Oh, Si Muka Hitam itukah puteramu ? Memang aku sudah mengalahkannya, akan tetapi aku tidak membunuhnya!

Kau setan betina ! Siluman cantik ! Banyak pemuda terbunuh karena engkau tapi kau masih pura-pura, dasar perempuan rendahan

Cukup, ayah. Dengan maki-makian urusan takkan beres!Pemuda tampan yang membawa pedang itu mencela dan maju ke depan menghadapi Lu Sian. Wajahnya yang tampan itu kurang menarik ketika ia bicara, dan setelah mendekat Lu Sian melihat bahwa mata pemuda itu agak kuning. Nona, kami tahu bahwa kau adalah nona Liu Lu Sian puteri Ketua Beng-kauw. Aku adalah Lauw Sun, dan kakakku Lauw Kong telah mencoba memenangkan sayembara beberapa pekan yang lalu. Memang dia kalah oleh nona, Dan bukan nona pula yang membunuhnya, akan tetapi ternyata ia terbunuh dengan pukulan beracun dan hal ini tentu saja sepengetahuan nona. Karena itu, ayah dan kami minta pertanggungan jawabamu!

Muak rasa perut Lu Sian, dan ia mendongkol sekali melihat Kwee Seng masih enak-enak minum arak saja, seolah-olah tidak perduli dirinya dimaki-maki orang. Hemm, pikirnya, apakah tanpa kau aku tidak mampu membereskan buaya-buaya ini ? Tiba-tiba kakinya menghentak lantai dan tubuhnya sudah melayang ke belakang, kedua kakinya hinggap di atas sebuah meja yang masih penuh sisa hidangan dan arak bekas para tamu tadi, yang tidak sempat dibersihkan oleh para pelayan yang sudah lari ketakutan. Dengan gerakan indah ringan Lu Sian meloncat ke belakang dan kedua kakinya sama sekali tidak menyentuh mangkok cawan, kini ia berdiri di atas kedua ujung kakinya, pedangnya sudah berada di tangan kanan melintang di depan dada, matanya bersinar-sinar, mulutnya tersenyum mengejek ketika ia berkata.

kalian hendak mengeroyokku, inilah aku Liu Lu Sian ! Kalau aku tidak berhasil membikin mampus kalian berenam tanpa turun dari meja ini, jangan sebut lagi aku puteri Ketua Beng-kauw!

Ucapan ini benar-benar membayangkan keangkuhan dan kesombongan, akan tetapi diam-diam Kwee Seng maklum bahwa sama sekali ucapan itu bukan kesombongan kosong karena ia tahu, kalau enam orang itu nekat mengeroyok, takkan sukar bagi Lu Sian untuk membuktikan ancamannya.

Ia dapat menduga mereka bahwa mereka itu adalah jago-jago dari kota Kwi-san, bahkan agaknya orang she Lauw ini dalam usahanya menuntut balas atas kematian puteranya, telah minta bantuan seorang hwesio dan dua orang tosu, agaknya tokoh-tokoh dalam kuil di kota itu.

Bagus ! Kau harus menebus nyawa anakku dan dua orang temanku! seru Si Pemegang Golok dan dengan gerakan cepat ia bersama enam orang temannya menyerbu ke arah meja di mana Lu Sian berdiri. Gadis itu menyambut kedatangan mereka dengan senyum mengejek. Tiba-tiba sekali, tanpa kelihatan gadis itu menggerakkan kakinya, cawan arak, mangkok dan piring beterbangan ke arah enam orang dibarengi bentakan Lu Sian.

Nih, makanlah sebagai tebusan senjata rahasia kalian tadi!Hebat sekali serangan lu Sian ini. Gadis itu dengan sin-kangnya yang sudah amat kuat, hanya menggunakan ujung kakinya menyentil barang-barang diatas meja dan beterbanganlah mangkok dan cawan berikut isinya, yaitu masakan dan arak, ke arah enam orang lawannya. Demikian cepatnya sambaran benda-benda ini sehinngga enam orang itu sama sekali tidak berhasil menghindarkan diri dan setidaknya pakaian mereka menjadi kotor tersiram kuah sayur dan arak, bahkan muka si Hwesio terkena hantaman mangkok penuh masakan daging ! Tentu saja hwesio itu gelagapan karena sebagai seorang yang selamanya pantang makanan berjiwa, kali ini masakan daging menghantam muka dan banyak kuah memasuki mulutnya, membuat ia hampir muntah !

Sebetulnya, melihat gerakan ini saja, kalau enam orang itu tahu diri, mereka sudah akan maklum bahwa gadis itu bukan lawan mereka. Akan tetapi agaknya kemarahan meluap-luap membuat mereka mata gelap dan segera menggerakkan senjata masing-masing mengepung meja itu dan menyerang dari semua jurusan, Lu Sian tertawa mengejek, tidak bergerak dari atas meja, melainkan pedangnya kadang-kadang menyambar untuk menangkis senjata pengeroyok yang terlalu dekat. Kadang-kadang ia hanya mengangkat sebelah kaki menghindarkan golok yang menyambar atau merendahkan tubuh untuk membiarkan tongkat melayang melalui atas kepalanya. Gadis ini hanya menanti kesempatan baik untuk membuktikan ancamannya, yaitu membunuh mereka tanpa turun dari meja.

Mendadak saja, enam orang itu berturut-turut mengeluarkan teriakan kaget dan senjata semua runtuh ke atas lantai karena tanpa mereka ketahui mengapa, tahu-tahu tangan mereka yang memegang senjata menjadi kejang yang menyebabkan mereka terpaksa melepaskan senjata masing-masing. Tercium oleh mereka bau arak dan tepat pada jalan darah disiku lengan mereka basah. Dengan kaget dan heran

mereka saling pandang dan terdengarlah suara Kwee Seng yang masih saja duduk minum arak.

Menyerang orang secara menggelap dengan senjata rahasia untuk membunuh sudah termasuk perbuatan pengecut, sekarang mengeroyok seorang gadis mengandalkan tenaga enam orang laki-laki, sungguh amat memalukan. Apakah kalian masih belum mau insyaf dan tidak tahu diri, menantang maut yang sudah membayang di depan mata ? Lekas pungut senjata dan pergi barulah perbuatan orang yang berakal sehat!

Tahulah enam orang itu sekarang bahwa yang membuat mereka semua terpaksa melepaskan senjata adalah pemuda pelajar yang duduk minum arak dengan tenangnya, sahabat puteri Ketua Beng-kauw itu. Tentu saja hal ini membuat mereka menjadi gentar. Nona itu sendiri sudah cukup berat untuk dikalahkan, apalagi dengan adanya seorang yang demikian saktinya, yang tanpa bergerak dari tempat duduknya, tanpa menghentikan keasyikannya minum arak, sudah mampu mengalahkan mereka dan melucuti senjata mereka !

Orang she Lauw tadi memungut goloknya, diturut oleh teman-temannya lalu ia menjura ke arah Kwee Seng. Siauw-enghiong (Pendekar Muda), kepandaianmu membuat mata kami yang bodoh, membuat kami terpaksa menelan hinaan dan menderita kekalahan. Bolehkah kami mengetahui siapa nama dan julukan Siauw-enghiong yang gagah?

Kwee seng menarik napas panjang, kemudian ia berdiri dengan cawan penuh arak di tangan kanan, diangkatnya tinggi lalu ia bernyanyi dengan lagak seorang mabok.

$BE”(Bngin kipas mengusir lalat dan menyegarkan diri suara suling mengusir harimau dan menentramkan hati nama harta kepandaian tiada artinya yang penting adalah pelaksaan kebenaran dalam hidupnya!

Enam orang itu hanya saling pandang, tidak dapat mengenal pemuda ini karena mereka pun tidak pernah mendengar nyanyian itu. Lu Sian tertawa dan dari atas meja itu ia berkata nyaring.

“Sebangsa cacing macam kalian ini mana mengenalnya ? Dia bersama Kwee Seng, para locianpwe mengenalnya sebagai kim-mo-eng. Hanya dia seoranglah yang mampu menandingi aku. Biarpun begitu, masih belum tentu ia bisa menjadi jodohku ! Apalagi orang-orang macam anakmu hendak memperisteri aku. Cih Bukankah itu lucu sekali?

Pelayan-pelayan mulai muncul kembali, memandang takut-takut ke arah Kwee Seng dan Lu Sian. Kwee Sng menyatakan kesanggupannya membayar harga barang-barang yang rusak, mereka kelihatan senang dan melayani sepasang orang ini dengan kehormatan berlebihan.

Lu Sian juga kelihatan senang dan gembira sekali. Mulutnya selalu tersenyum, matanya bersinar-sinar, wajahnya berseri dan tiada hentinya ia menatap wajah Kwee Seng dengan sikap menggoda. Sebaliknya Kwee Seng sama sekali tidak kelihatan gembira. Pemuda ini sudah tidak makan lagi, akan tetapi melihat cara ia berkali-kali memenuhi cawan arak dan meminumnya habis sekali tenggak, terang bahwa perasaan hatinya amat terganggu. Memang demikianlah. Hati pemuda ini tidak karuan rasanya, hampir ia meloncat bangun untuk lari meninggalkan gadis ini. Ia merasa betapa gadis ini sengaja menggodanya, sengaja hendak mempermainkannya. Ucapan Lu Sian tadi benar-benar menikam jantungnya. Gadis itu di depan orang banyak mengakui bahwa hanya Kwee Seng yang mampu menandinginya, namun betapapun juga, pemuda itu belum tentu bisa menjadi jodohnya ! Ia merasa makin tak senang ,muak dan benci menyaksikan sikap Lu Sian, apalagi mengingat betapa tadi gadis itu sudah pasti akan membunuh enam orang lawanny! a ! kalau saja ia tidak cepat-cepat turun tangan. Ia makin benci, akan tetapi juga makin cinta ! Makin lama ia berdekatan dengan gadis ini, makin besar pula daya tariknya menguasai hatinya.

Kwee-koko, dalam nyanyianmu tadi kau menyebut-nyebut tentang kipas dan suling. Tentang kipasmu, aku sudah melihatnya dan sudah tahu kelihaiannya. Akan tetapi tentang suling, adakah kau mempunyai suling, dan pandaikah kau meniup suling dan mempergunakannya sebagai senjata?

Aku seorang bekas pelajar gagal, biasanya hanya berkipas-kipas mendinginkan kepala panas lalu menghibur diri dengan suara suling. Memang tadinya aku memiliki sebuah suling, akan tetapi benda itu hancur ketika aku bertemu dengan Ban-pi Locia (Dewa Locia Berlengan Selaksa) di telaga See-ouw (Telaga Barat).

Terbelalak sepasang mata yang indah itu, penuh perhatian dan ingin tahu. Apa ? Kau betul-betul bertemu dengan ok-hengcia (pendeta jahat) itu ? Aku pernah mendengar dari ayah bahwa pendeta perkasa itu amat cabul dan keji, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Ayah sendiri pernah bentrok dengan Ban-pi Lo-cia, bertempur sampai dua hari dua malam tidak ada yang kalah atau menang. Hanya karena khawatir kalau pertandingan dilanjutkan keduanya akan tewas, maka mereka menghentikan pertandingan. Dan kaukau bertemu dengannya ? Bertanding ? Dan sulingmu hancur olehnya ? Ah, Kwee-koko, apakah kau kalah olehnya?

Kwee Seng mengipas-ngipas lehernya yang terasa panas oleh pengaruh arak. Dia memang hebat, akan tetapi juga jahat bukan main. Secara kebetulan saja aku bertemu dengannya ketika aku berpesiar di telaga See-ouw. Pemuda itu lalu menceritakan pengalamannya seperti berikut.

Seng di telaga See-ouw, Telaga Barat ini amatlah terkenal semenjak dahulu, karena luasnya, karena indahnya, dan karena segar nyaman hawanya.

Air berkeriput biru sehalus beledu tilam pembaringan berkasur bulu bunga teratai aneka warna penghias indah dicumbu rayu ikan-ikan emas berwarna cerah berperahu di telaga barat mandi sinar bulan minum arak sesudah itu mati pun tak penasaran!

Nyanyian ini banyak dinyanyikan tukang-tukang perahu yang menyewakan perahu mereka untuk para pelancong. Pelancong yang tergolong miskin cukup merasa puas dengan berjalan-jalan disekitar telaga, yang tergolong cukup merasa puas dengan menyewa perahu kecil menghadapi seguci arak. Akan tetapi bagi para pelancong kaya raya, acaranya bermacam-macam. Yang sudah pasti mereka itu akan menyewa perahu besar yang mempunyai bilik yang terlindung dan tertutup, memesan hidangan arak dan masakan lezat mewah, kemudian memanggil pula pelacur-pelacur untuk melayani mereka makan minum sambil mendengarkan beberapa orang perempuan penyanyi menabuh yangkim dan bernyanyi. Pesta macam ini hampir diadakan setiap malam diwaktu musim tiada hujan, sehingga keadaan telaga barat amat meriah.

Ketika Kwee Seng tanpa disengaja tiba di telaga See-ouw, keadaan di situ sedang meriah sekali karena musim panas telah tiba. Di waktu musim panas mengamuk, banyak orang-orang kaya dan pembesar-pembesar merasa tidak betah tinggal di kota dan banyak yang mengungsi untuk beberapa hari atau pekan lamanya ke Telaga See-ouw di mana mereka dapat menghibur tubuh dan pikiran, dan baru ingat pulang kalau uang sudah habis dihamburkan !

Begitu melihat seorang pemuda tampan dengan pakaian pelajar yang cukup rapi datang seorang diri, segera para tukang perahu merubungnya, menawarkan perahu mereka.

“Mari, Kongcu (Tuan Muda), perahu saya bersih dan kosong ! Saya pesankan arak Hang-ciu yang paling baik ! Kongcu perlu hidangan yang paling lezat ? Restoran Can-lok atau rombongan penyanyi ? Anak buah Bibi Congcantik-cantik, muda dan suaranya emas atau Kongcu suka ehmm ditemani bidadari jelita ? Tinggal pilih menurut selera Kongcu.

Demikianlah, ribut mereka menawarkan perahu sampai pelacur. Kwee Seng tersenyum dan menggerak-gerakkan tangan menyuruh mereka jangan bicara sambung-menyambung membikin bising.

Dengar baik-baik, jangan ribut sendiri!katanya tertawa. Aku hanya membutuhkan sebuah perahu kecil yang dapat dipakai duduk berdua, tanpa pendayung. Perahu kecil yang bersih dan tidak bocor, terbuka tanpa bilik. Kemudian, boleh sediakan arak dan dua cawannya, beberapa macam masakan yang

panas-panas dan kemudian boleh panggil seorang pelacur yang pandai bicara, pandai main yangkim meniup suling, pandai bernyanyi dan pandai bermain catur.

Wah, mengajak pelesir seorang bidadari, mengapa pakai perahu kecil terbuka, Siangkong (Tuan
Muda)? Saya mempunyai yang besar, ada biliknya yang bersih dan enak, tidak terganggu dari luar

Kembali Kwee Seng tersenyum dan kedua pipinya agak merah. Pemuda ini tidak pantang bersenang-senang dengan wanita, akan tetapi hanya sampai pada batas mengobrol dan bercakap-cakap gembira, bersenda-gurau dan main catur atau mendengarkan si cantik bernyanyi atau menabuh yangkim meniup suling saja.

Aku ingin menyewa perahu kecil terbuka tanpa pendayung, ada tidak? Ada! Ada! Jangan khawatir, Kongcu, perahu saya kecil bersih, dicat biru dan tanggung tidak bocor. Lima belas cni saja untuk semalam suntuk!

Dan perempuan yang kukehendaki itu ada tidak ? Pandai bicara, pandai main musik, bernyanyi dan pandai main catur, tidak menolak minum arak!

Wah, wah yang sepandai itu agaknya, hanyalah Ang-siauw-hwa (Bunga Kecil Merah) seorang . Seorang bidadari yang tercantik dan termahal disini!

Bagus ! Kaupanggil Ang-siauw-hwa untukku,kata Kwee Seng, senang hatinya. Ah, tidak mungkin, Kongcu. Biarlah saya memanggil si Kim-bwe (Bunga Bwee Emas) yang juga pandai segala biarpun tidak secantik Ang-siauw-hwa atau si Kim-lian (Teratai Emas) yang pandai meniup suling dan cantik jelita, akan tetapi tidak pandai main catur dan tidak suka minum arak

Hati Kwee Seng sudah kecewa. Tidak, aku menghendaki Ang-siauw-hwa itu. Mengapa tidak mungkin memanggil dia ? Berapa harganya ? Aku sanggup bayar!

Orang-orang itu menggeleng kepala dan seorang yang setengah tua berkata, suaranya perlahan seperti takut terdengar orang lain, Kongcu, kau tidak tahu. Ang-siauw-hwa amat terkenal disini dan setiap ada pembesar pesiar, tentu dia dipesan. Aneh memang, biarpun Ang-siauw-hwa merupakan kembangnya semua wanita disini, namun dia bukanlah pelacur sembarangan. Dia hanya mau melayani bicara dan bernyanyi, main catur atau minum arak, bahkan mengarang syair, akan tetapi belum pernah terdengar Ang-siauw-hwa mau diajak yang bukan-bukan.

Bagus, dialah pilihanku ! Panggil dia!Kwee Seng tertarik sekali. Akan tetapi orang-orang itu menggeleng kepala. Sekarang dia berada di perahu Lim-wangwe (Hartawan Lim) yang perahunya kelihatan di sana itu.Ia menuding ke arah tengah telaga di mana tampak sebuah perahu Lim-wangwe sendiri yang mengadakan pesta bersama lima orang pendekar yang menjadi tamunya. Sejak pagi tadi Ang-siauw-hwa berada di sana, mungkin sampai semalam suntuk mereka berpesta. Nah, dengar, itu suara suling tiupan Ang-siauw-hwa.

Kebetulan angin bersilir dari arah telaga dan tertangkaplah oleh telinga Kwee Seng tiupan suling yang merdu dan halus.

Lebih baik jangan panggil dia, kongcu. Yang lain masih banyak, boleh Kongcu pilih sendiri. Ang-siauw-hwa hanya mendatangkan ribut belaka.

Ah, kenapa?Kwee Seng terheran. Beberapa orang memberi isyarat akan tetapi pembicara itu agaknya sudah terlanjur dan berkata, Pagi tadi timbul keributan karena dia, Lo Houw (Macan Tua), Seorang tukang pukul yang terkenal di daerah ini, memaksa hendak mengajak Ang-siauw-hwa dan biarpun perempuan itu sudah lebih dulu dipanggil Lim-wangwe, Lo houw tidak mau peduli dan hendak merampas Ang-siauw-hwa, bahkan mengeluarkan kata-kata memaki Lim-wangwe. Kemudian ia mendatangi Lim-wangwe dengan perahunya dan kami semua sudah merasa kuatir. Kami mengenal kekejaman dan kelihaian Lo Houw, dan kami saying kepada Lim-wangwe yang berbudi halus dan suka menolong kami yang miskin. Akan tetapi, apa terjadi ? Lo Houw menyerang ke sana dengan perahu, akan tetapi ia kembali ke pantai dengan basah kuyup!Orang itu tertawa dan yang lain juga tertawa, biarpun ketawanya sambil menoleh ke kanan kiri, kelihatan takut kalau-kalau mereka terlihat orang.

Ah, apa yang tejadi?Kwee Seng makin tertarik.

Kabarnya menurut tukang perahu yang kebetulan berada di dekat sana, Lo Houw meloncat ke perahu besar dan memaki-maki. Akan tetapi tiba-tiba muncul seorang di antara tamu Lim-wangwe dan dalam beberapa gebrakan saja Lo Houw yang terkenal itu terlempar ke dalam air!

Ha-ha, dia harus berenang ke tepi!kata seorang lain. Kwee Seng tersenyum. Hal semacam itu tidaklah aneh baginya yang sudah biasa bertemu dengan peristiwa pertempuran yang lebih hebat lagi. Biarlah, kalau ia sedang melayani hartawan itu, aku pun tidak jadi mengajaknya menemaniku. Beri saja sebuah perahu kecil yang baik, sediakan satu guci arak da cawannya bersama sedikit daging panggang, tiga macam sayur dan sedikit nasi. Nih uangnya, lebihnya boleh kau miliki.Kwee Seng mengeluarkan dua potong uang perak yang diterima dengan tubuh membongkok-bongkok oleh tukang perahu setengah tua

itu yang merasa kejatuhan rejeki.

He, tukang perahu jembel ! Lekas sediakan perahu terbaik, lima guci arak wangi, lima kati daging, lima macam sayur, mi lima kati dan nona-nona manis lima orang yang cantik-cantik dan muda-muda ! Eh, kembang pelacur yang kalian obrolkan tadi, siapa namanya?

Kwee Seng membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara yang besar dan nyaring ini. Ketika melihat orangnya, ia tertegun. Bukan hanya Kwee Seng yang terperanjat, juga semua tukang perahu memandang dengan mata terbelalak, tak seorangpun menjawab.

Pembicara ini adalah seorang laki-laki tinggi besar, sekepala lebih tinggi daripada orang yang berukuran tinggi umum. Melihat pakaiannya yang sederhana dan longgar, apalagi melihat kepalanya yang gundul, orang tentu mengatakan bahwa ia seorang hwesio (pendeta Buddha). Akan tetapi yang meragukan, kalau benar ia seorang pendeta, mengapa ia memesan daging, arak, bahkan pelacur ? Anehnya pula, dia itu seorang diri, mengapa memesan demikian banyaknya makanan dan minuman yang serba lima takar, juga memesan lima orang perempuan lacur ? Pertanyaan-pertanyaan inilah agaknya yang membanj iri pikiran para tukang perahu sehingga sampai lama mereka terheran-heran tak mampu menjawab.

Heh ! Jembel-jembel busuk, mengapa kalian diam saja ? Apakah kalian tuli dan gagu?Laki-laki tinggi besar gundul yang usianya tentu lima puluh tahun itu membentak.

Seorang tukang perahu yang agak tabah hatinya menjura sambil tertawa-tawa. Maaf eh, Lo-suhutapitapi yang Lo-suhu pesan begitu banyak

Hwesio itu menyeringai dan melirik ke arah Kwee Seng yang berdiri dengan tenang, menaksir-naksir dan mengasah otak untuk mengenal siapa gerangan hwesio aneh ini.

Heh-heh, seorang pelajar melarat saja mampu menyewa perahu dan membayar arak, apakah kau kira aku seorang perantau lain tidak mempunyai uang?Ia menggulung kedua lengan bajunya yang lebar sehingga tampaklah lengannya kekar kuat penuh bulu. Ia merogoh ke balik jubahnya dan keluarlah sebuah pundi-pundi berisi penuh uang. Dibukanya tali pundi-pundi itu danhwesio itu memperlihatkan potongan-potongan uang emas dan perak ! Para tukang perahu memandang melotot dan menelan ludah. Belum pernah selama hidup mereka tampak sekian banyaknya uang.

Lo-suhu seorang diri, Pesanannya begitu banyak, apalagi pakai lima orang bidadari

Heh..heh, goblok ! Apa salahnya ? Malah kembangnya pelacur itu harus pula melayani aku, berapapun biayanya akan ku bayar.

Tapi, Lo-suhu, Ang-siauw-hwa telah disewa Lim-wangwe di perahu mewah yang berada di sana tukang perahu itu menunjuk. Hwesio tinggi besar memandang dan mulutnya yang berbibir tebal mengejek.

Biarlah nanti kujemput sendiri dia. Sekarang sediakan pesananku semua. Cepat dan nih uangnya, lebihnya boleh kalian bagi-bagi!Hwesio itu mengeluarkan belasan potong uang perak dan melemparnya kepada tukang perahu seperti orang melempar sampah saja.

Gegerlah para tukang perahu. Benar-benar hari itu mereka kejatuhan rejeki besar. Seperti berlumba mereka lari kesana-kemari untuk memenuhi pesanan hwesio aneh. Akan tetapi Kwee Seng sudah merasa muak perutnya dan begitu pesanannya tiba, ia segera naik ke perahu kecil yang sudah terisi makanan dan minuman pesanannya, kemudian ia mendayungnya ke tengah telaga tanpa mempedulikan lagi hwesio tadi.

Hemmmm, Menjemukan sekali.Pikirnya. Kalau para pembesar negeri suka mencuri uang negara dan makan sogokan seperti anjing-anjing kelaparan, kalau para pendetanya melanggar pantangan, minum arak, makan daging dan main perempuan, akan bagaimanakah jadinya bangsa dan negara?Berpikir sampai disini hati Kwee Seng merasa kecewa sekali. Akan tetapi pemandangan telaga itu benar-benar indah sehingga kekecewaannya terobati. Hari menjelang senja dan matahari di ujung barat tampak tenggelam ke dalam air telaga, kemerah-merahan dan indah sekali. Kwee Seng mulai makan daging dan sayur, dan minum araknya sedikit demi sedikit memang ia tidak begitu suka minum arak.

Makin gelap cuaca tanda malam tiba, makin indah di situ. Bulan muncul dengan cahayanya yang gilang gemilang, langit bersih tak tampak sedikitpun awan, permukaan air telaga bermandikan cahaya bulan, seakan-akan terbakar menjadi emas, berkilauan. Angin bersilir membuat air emas itu berombak sedikit dan bunga-bunga teratai yang berkelompok disana-sini mulailah menari-nari menggoyang-goyangkan pinggang ke kanan kiri. Perahu-perahu yang berkeliaran di permukaan telaga mulai memasang lampu yang dihias dengan beraneka warna, ada yang merah, hijau, kuning, menambah indahnya pemandangan di telaga itu.

Tiba-tiba telinga Kwee Seng tertarik oleh lengking suara suling yang sayup sampai, suaranya mengalun tinggi rendah sesuai dengan gerak air. Kwee Seng tertarik dan mendayung perahunya ke arah suara. Ternyata suara suling itu keluar dari sebuah perahu besar dan mewah, dan kini Kwee Seng dapat mendengar suara suling dengan jelas sekali. Akan tetapi ia segera menjadi kecewa. Suara itu tadi indah

kedengarannya karena dipermainkan oleh angin. Setelah mendengar dari dekat, ia mendapat kenyataan bahwa biarpun peniupnya menguasai lagu dan irama, namun tiupannya kurang tenaga dan amat lemah, tidak membawakan perasaan hati peniupnya. Akan tetapi di samping kekecewaannya, timbul dugaan yang mendebarkan jantungnya. Perahu besar dan mewah inilah agaknya perahu Lim-wangwe yang sedang menyambut lima orang tamunya da mungkin sekali suling itu ditiup oleh Ang-siauw-hwa seperti yang diceritakan oleh para tukang perahu tadi ! Hemm, kalau benar wanita itu yang meniupnya, lumayan ! ju! ga ! Setidaknya, kalau seorang pelacur saja dapat meniup suling seperti itu, benar-benar dia seorang pelacur yang luar biasa.

Ketika suling berhenti ditiup, terdengar tepuk tangan dan tertawa-tawa memuji dari dalam perahu, tanda bahwa orang-orang yang berada di dalam perahu itu gembira dan kagum. Tak lama kemudian, kembali suling itu berbunyi, kini mainkan lagu yang menjadi kegemaran Kwee Seng, yaitu Bulan mengembara cari kekasih.Kalu tadi kwee Seng hanya kecewa mendengar tiupan suling yang dianggapnya kurang baik, kini telinganya terasa sakit mendengar betapa lagu kesayangannya dirusak orang. Karena tidak dapat menahan lagi, pemuda yang sudah terpengatuh oleh hawa arak itu mengeluarkan sebatang suling dari dalam bajunya dan tak lama kemudian melengkinglah suara sulingnya melayang-layang di permukaan telaga, mendesak suara suling pertama yang keluar dari perahu besar. Karena suara suling Kwee Seng luar biasa sekali kuatnya, maka suara pertama tenggelam dan tak terdengar lagi.

Sahabat, alangkah indah bunyi sulingmu!Kwee Seng yang baru saja menghabiskan bait terakhir cepat memandang. Seorang wanita dengan pakaian serba indah berwarna merah muda, berdiri di pinggiran perahu dan kelihatan seperti seorang dewi telaga. Ah, kalau saja aku bersayap, kuakan terbang membebaskan diri dari sini untuk belajar meniup suling darimu sahabat

Kwee Seng tercengang. Inikah pelacur yang berjuluk Ang-siauw-hwa ? Pantas saja terkenal menjadi kembangnya sekalian pelacur di daerah Telaga Barat ini, pikirnya sambil memandang kagum. Tentang kecantikannya, tak dapat ia menilai teliti karena keadaan yang remang-remang itu tidak cukup menerangi wajah si gadis, akan tetapi, selain pandai meniup suling juga kata-katanya begitu halus dan teratur, dari ucapannya itu saja mudah diduga bahwa nona ini tentu pandai bersyair. Dengan hati tertarik Kwee Seng mendayung maju perah kecilnya untuk mendekati perahu besar dan agar ia dapat memandang lebih jelas. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara memanggil dari bilik perahu besar dan nona berpakaian serba merah muda itu membalikkan tubuh dan lenyap ke dalam perahu besar.

Kwee Seng sadar daripada kebodohannya. Perempuan itu sudah disewa hartawan pemilk perahu besar, mau apa ia mendekat ? Ah, mengapa ia begitu tertarik kepada seorang wanita pelacur ? Kwee Seng sadar akan kebodohannya sendiri dan menggerakkan dayung untuk menjauhi perahu besar. Akan tetapi pada saat itu ia melihat sebuah perahu meluncur cepat ke arah perahu besar dan di dalam perahu ini terdapat seorang hwesio tinngi besar bersama lima orang wanita pelacur yang sedang minum-minum dan tertawa cekikikan seperti segerombolan kuntilanak, Kwee Seng cepat mendayung perahunya menyelinap dan bersembunyi di belakang perahu besar untuk mengintai karena ia merasa curiga menyaksikan gerak-gerik hwesio tinggi besar yang aneh itu.

Dari balik perahu besar itu Kwee Seng melihat jelas betapa hwesio tinggi besar itu sekali menggerakkan kaki telah melayang naik ke atas papan dek tanpa menimbulkan guncangan sedikitpun juga. Kwee Seng kaget dan kagum. Hwesio ini benar-benar memiliki ilmu yang tinggi. Ketika ia memandang ke perahu hwesio tadi, ia merasa muak. Lima orang wanita pelacur yang memakai bedak tebal itu dalam keadaan setengah telanjang dan awut-awutan rambutnya, tertawa cekikikan dan bersenda gurau, agaknya sudah mabok semua ! Perahunya yang tidak di kuasai oleh hwesio telah oleng ke kanan kiri tanpa diketahui lima orang pelacur mabok. Karena merasa muak, Kwee Seng tidak mempedulikan mereka dan ia kembali memandang ke arah hwesio yang berdiri kokoh seperti batu karang diatas papan dek perahu besar.

Heh, hartawan she Lim!Hwesio itu berseru dan suaranya yang parau keras itu menembus desir angin. Lekas serahkan Ang-siauw-hwa kepadaku, kutukar dengan lima orang yang berada di perahuku!

Tiba-tiba dari pintu bilik perahu besar itu meloncat seorang laki-laki tinggi kurus yang mengenakan pakaian ringkas dan punggungnya terhias sebatang golok. Gerakan laki-laki ini ringan dan cepat, tahu-tahu ia sudah berdiri di depan hwesio itu dengan mata berkilat. Eh, eh, hwesio jahat darimana berani mengganggu kesenangan kami ? Apakah kau sahabat dari Si Jahanaman Lo Houw yang kulempar ke dalam air?

Hwesio itu memandang sejenak lalu tertawa. Heh-heh-heh, aku tidak tahu itu Lo Houw, dan tidak kenal pula tikus kecil macammu. Aku hanya datang untuk mengambil Ang-siauw-hwa, kutukar dengan lima pelacur itu. Wanita macam Ang-siauw-hwa yang disebut-sebut kembang pelacur di telaga ini patut mengawaniku bersenang-senang. Lekas suruh dia keluar dan berikan kepadaku sebelum perahu ini kubikin tenggelam berikut semua penumpangnya!

Hwesio sesat ! Pergilah!Si Jangkung Kurus menerjang maju dengan gerakan kilat. Cepat sekali gerakannya dan Kwee Seng yang menonton tahu bahwa si jangkung itu memiliki ilmu silat tangan kosong yang cukup hebat. Hwesio ini mencari penyakit, pikirnya, penghuni perahu besar itu ternyata bukan orang-orang lemah. Pukulan si jangkung itu selain cepat, juga jelas mengandung tenaga yang besar, tampak gerakannya begitu mantap dan sekali pukul, kedua tangan si jangkung itu secara berbareng menyerang dada dan lambung. Anehnya, hwesio tinggi besar itu masih tertawa, sama sekali tidak mengelak. Celaka, pikir Kwee Seng, betapapun lihainya, mana hwesio itu akan dapat menahan pukulan yang mengandung tenaga dalam itu?

Buk ! Buk!Dua buah pukulan itu tepat mengenai dada dan lambung. Ha-ha-ha-ha! Si Hwesio malah tertawa bergelak, sedikit pun tidak terpengaruh dua pukulan itu. Sejenak si jangkung terbelalak kaget, kemudian tampak sinar bergulung ketika ia mencabut goloknya dan membacok dengan cepat ke mengarah leher.

Celaka kata Kwee Seng, akan tetapi kali ini ia menyebut celaka bukan untuk si hwesio karena segera ia maklum bahwa hwesio itu benar-benar memiliki sin-kang (tenaga sakti) yang amat tinggi dan pencabutan golok oleh si jangkung itu hanya akan berarti celaka bagi si jangkung.

Memang tidak berlebihan penafsiran Kwee Seng ini. Hanya sedikit menggerakkan tubuhnya si hwesio sudah mampu mengelak dan sebelum si jangkung sempat menyerang lagi, tubuhnya sudah tertangkap dan sekali melontarkan tangkapannya sambil tertawa, hwesio tinggi besar itu sudah melempar lawannya jauh ke luar perahu !

Byurrrr!Air muncrat tinggi dan si jangkung megap-megap dalam usahanya menyelamatkan diri.

Hwesio keparat, berani kau memukul Suteku (adik seperguruanku)?Kini muncul seorang pendek gemuk dengan sebatang toya (tongkat panjang) melintang di tangan. Tanpa menanti jawaban, si gemuk ini sudah menggerakkan toyanya menghantam leher hwesio itu. Sebagai kakak seperguruan si jangkung tadi, dapat di bayangkan betapa hebat serangan si gemuk pendek ini. Batu karang yang kuat agaknya akan pecah

terkena pukulan toya baja itu. Namun, si hwesio sama sekali tidak mengelak, hanya miringkan tubuh dan menerima hantaman toya itu dengan pangkal lengannya.

Bukkk! Si hwesio masih tertawa-tawa dan kedua lengannya bergerak. Tahu-tahu si gemuk memekik keras dan tubuhnya terlempar keluar perahu. Kembali terdengar air menjebur dan tubuh gemuk itu tenggelam timbul, agaknya lebih parah lukanya daripada sutenya.

HebatDiam-diam Kwee Seng terkejut dan kagum. Perhatiannya kini tertuju pada hwesio itu sambil mengingat siapa gerangan hwesio yang demikian lihainya itu. Terang bahwa kepandaian dua orang yang dikalahkannya secara mudah tadi cukup tinggi dan hanya seorang sakti saja yang dapat mengalahkan mereka dengan sekali gebrakan. Akan tetapi kalau memang hwesio ini seorang tokoh sakti, mengapa sikap dan kelakuannya begitu gila-gilaan ? Sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang tokoh sakti yang terkenal. Merampas seorang pelacur ! Benar-benar mengherankan sekali !

Sementara itu, dari dalam bilik perahu sudah berloncatan tiga orang laki-laki. Usia mereka rata-rata empat puluh tahun lebih, dan ketiganya memegang pedang. Gerakan-gerakan mereka pun cepat dan ringan, malah agaknya lebih cekatan daripada dua orang yang sudah kalah oleh si hwesio. Begitu keluar, mereka serentak mengurung dan menyerang hwesio itu dengan pedang mereka.

Kwee Seng melihat hwesio itu tertawa, akan tetapi segera perhatiannya tertarik oleh kejadian lain. Ia melihat seorang wanita berpakaian merah muda berlari-lari ke pinggir perahu besar itu lalu wanita itu meloncat ke air ! Byurrr!air muncrat tinggi dan tubuh wanita itu lenyap !

CelakaUntuk ketiga kalinya selama beberapa menit itu Kwee Seng menyebut celaka, akan tetapi ia cepat mendayung perahunya ke arah terjunnya si pakaian merah tadi. Selagi ia hendak menyelam, tiba-tiba wanita itu muncul dan legalah hati Kwee Seng melihat bahwa wanita itu ternyata pandai berenang ! Ah, benar-benar pelacur yang aneh sampai berenang pun pandai ! Pelacur itu memang bukan lain adalah Ang-siauw-hwa yang kini berenang cepat ke arah perahu Kwee Seng.

Kongcu yang pandai bersuling, kau tolonglah aku yang bernasib malang$B)t(B katanya sambil berusaha mengangkat tubuh memegang pinggir perahu. Akan tetapi beberapa kali usahanya tak berhasil karena pinggiran perahu itu terlampau tinggi dari permukaan air.

Kwee Seng lalu mengulur tangannya dan menarik tubuh wanita itu ke dalam perahunya. Ia memandang, kagum. Memang patut dikagumi wanita ini. Pakaiannya basah kuyup dan karena pakaian ini terbuat daripada sutera tipis dan halus, maka kini tercetaklah tubuhnya membayangkan bentuk tubuh yang padat ramping, dengan lekuk lengkung sempurna, tubuh seorang wanita muda yang sudah masak.

Kenapa kau meloncat ke air?Kwee Seng bertanya, menekan gelora jantungnya yang membuat darah mudanya yang bergerak lebih cepat daripada biasanya.

Ah, hwesio demikian hebat. Kalau aku dirampasnya bagaimana nasibku ? Lim-wangwe yang sudah tua dan pendekar-pendekar itu semua bersikap sopan kepadaku, akan tetapi belum tentu hwesio itu begitu baik sikapnya. Ah, Kongcu, kau tolonglah akubiarlah aku akan mengerjakan apa saja yang kau kehendaki untuk membalas budimu ini. Sambil berkata demikian, Ang-siauw-hwa mendekat dan bau harum menerjang hidung Kwee Seng yang tertegun melihat wanita itu tersenyum manis dan mengerling penuh arti.

Aku aku bersedia menolong, tapi tapi aku tidak menghendaki apa-apa darimu jawabnya gagap sambil menggerakkan dayung.

Wanita di belakangnya menarik napas panjang. Ahhhsudah kuduga, kau seorang pelajar yang sopan dan penuh susila, mana mungkin mau berkenalan dengan seorang tuna susila macam Ang-siauw-hwa?Suaranya mulai terisak. Beginilah nasibku, kongcu hanya orang-orang rendah budi saja yang suka berkenalan denganku, dengan maksud yang kotor, akan tetapi orang baik-baik selalu menjauhkan diri dariku.

Kwee Seng menoleh, agak terharu juga. Memang demikianlah nasib wanita yang terperosok ke Lumpur kehinaan. Bukan begitu, Nona. Tadi pun aku hendak memesanmu menemaniku minum arak, menikmati keindahan telaga sammbil bersuling dan bernyanyi atau mengarang syair. Akan tetapi karena kau telah disewa hartawan itu, aku berperahu seorang diri. Hanya perlu kau ketahui bahwa aku sekali-kali bukan menolongmu karena hendak minta upah. Nih, kaupakai jubah luarku untuk menahan dingin dan angin. Kita harus pergi cepat-cepat dari sini.Setelah melemparkan jubah luarnya untuk dipakai berselimut Ang-siauw-hwa, Kwee Seng cepat mendayung perahunya.

Akan tetapi di atas perahu besar terdengar suara berkerontangan, disusul pekik-pekik kesakitan dan berturut turut tubuh tiga orang jago silat itu pun terlempar ke dalam telaga. Bahkan orang ke tiga terlempar ke arah perahu Kwee Seng disusul bentakan hwesio itu yang parau dan nyaring.

Ah, Ang-siauw-hwa kembang pelacur ! Kau hendak lari ke mana ? Tak boleh lari sebelum melayaniku sampai puas!

Melihat menyambarnya tubuh orang ke arah perahunya, Kwee Seng menggerakkan dayung sehingga perahunya menyeleweng mengelak dan tubuh orang itu terbanting ke dalam air, hanya tiga kaki dari kepala perahunya. Air muncrat membasahi bajunya.

Ah, celaka kita, kongcuAng-siauw-hwa berseru ketakutan, tubuhnya yang sudah dingin itu kini ditambah rasa takut mulai menggigil.

Tak usah takut, kita akan minggir lebih dulu daripada dia.Jawab Kwee Seng sambil mengerahkan tenaga mendayung sehingga perahunya meluncur seperti anak panah terlepas dari busurnya.

Ang-siauw-hwa menengok dan melihat betapa hwesio yang menakutkan itu sudah meloncat ke dalam perahunya sendiri. Sekali ia menggentakkan perahu, lima orang pelacur yang mabok-mabokan di dalam perahu itu terlempar ke dalam air pula ! Menjemukan ! Tingallah kalian di air!kata hwesio itu sambil tertawa bergelak dan mulailah ia mendayung perahunya mengejar perahu Kwee Seng. Sementara itu, para penghuni perahu sibuk menolong lima orang jago silat dan juga lima orang pelacur yang menjerit-jerit dan gelagapan seperti lima ekor anak ayam terlempar ke air.

Kongcu, dia dia mengejar, Ang-siauw-hwa memeluk pinggang Kwee Seng dari belakang. Bau harum dan kelunakan tubuh yang merapat di punggungnya membuat Kwee Seng meramkan matanya dan menahan napas. Diam-diam hatinya mengeluh. Usianya sudah dua puluh dua dan belum pernah ia berdekatan begini dengan seorang wanita. Getaran yang menggelora di jantungnya melemahkan tenaga sakti sehingga kurang cepat ia mendayung perahu.

He, orang muda tolol ! Apakah kau bosan hidup ? Berhenti dan berikan gadis itu kepadaku! Suara hwesio itu melengking di telinganya. Akan tetapi Kwee Seng tidak peduli dan cepat ia mengerahkan tenaga mendayung perahunya.

Kau ingin mampus!Suara ini disusul oleh desir angin ke arah kepala Kwee Seng. Maklum bahwa ada benda menyambar, Kwee Seng mengibaskan tangannya dan dari ujung lenan bajunya menyambar angin yang memukul runtuh benda itu yang ternyata adalah sekepal kayu, agaknya gagang dayung yang diremas hancur oleh hwesio hebat itu!

Kwee Seng maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang amat tangguh, mungkin lawan yang paling tangguh yang selama hidupnya pernah ia hadapi. Dengan adanya Ang-siauw-hwa di dalam perahu, tentu saja hal ini berarti melemahkan kedudukannya sendiri apabila terjadi pertandingan melawan hwesio kosen itu, apalagi kalau diingat bahwa hwesio memang bermaksud merampas Ang-siauw-hwa. Selain itu juga, bertanding di atas perahu amatlah berbahaya. Kepandaiannya di atas air hanya terbatas dan sekali jatuh ke dalam air, takkan ada gunanya lagi. Inilah sebabnya maka Kwee Seng segera mengerahkan tenaga sekuatnya sehingga perahunya meluncur lebih cepat lagi meninggalkan perahu hwesio yang mengejarnya.

Sesampainya di pinggir telaga, Kwee Seng cepat menarik lengan Ang-siauw-hwa dan diajaknya melompat ke darat, lalu berkata lirih, Nona, cepatlah, kau lari dari sini! Tapi, tapi kau bagaimana, Kongcu

Jangan pikirkan aku, lekas lari.Kwee Seng mendorong wanita itu dalam gelap, kemudian ia meloncat lagi ke dalam perahunya dan mendayung ke bagian lain dari tepi telaga itu untuk menyesatkan perhatian si hwesio terhadap Ang-siauw-hwa. Usaha dan akalnya ini berhasil baik, karena perahu hwesio itu terus mengikutinya setelah mendekat, kemudian terdengar hwesio itu berseru keras.

Bocah setan, sekali ini aku tidak akan memberi ampun kepadamu!

Akan tetapi karena ia sudah terbebas daripada keselamatan Ang-siauw-hwa kini Kwee Seng tidak melarikan diri lagi. Ia berdiri di kepala perahunya, berkipas-kipas diri sambil menanti dekatnya perahu si hwesio. Setelah dekat ia berkata, Lo-suhu, seorang beribadat seharusnya mengekang nafsu memupuk kebajikan agar menjadi contoh bagi orang banyak. Mengapa Lo-suhu malah mengejar-ngejar seorang pelacur, hendak merampasnya dengan paksa dan memukul orang mengandalkan kepandaian?Suara Kwee Seng sopan dan halus akan tetapi di dalamnya mengandung teguran pedas.

Heh he he he, bocah yang masih bau susu ibu ! Macam engkau ini hendak memberi kuliah kepada Ban-pi Lo-cia ? Heh he he!Ucapan diselingi tawa ini lalu diikuti bunyi keras seperti petir menyambar-nyambar di atas kepala Kwee Seng dan tampaklah sinar hitam melecut-lecut di udara. Kiranya kakek itu sudah mengeluarkan sebatang cambuk hitam yang bermain-main di atas kepala Kwee Seng seperti seekor ular hidup yang ganas. Kwee Seng kaget setengah mati mendengar disebutnya nama Ban-pi Lo-cia (Dewa Locia Berlengan Selaksa)! Nama ini adalah nama seorang tokoh yang tak pernah atau jarang sekali muncul di dunia kang-ouw, namun yang terkenal sebagai tokoh yang amat jahat, keji dan memiliki kesaktian hebat. Kabar tentang tokoh ini yang ia dengar paling akhir adalah bahwa Ban-pi Lo-cia menghilang di utara, di daerah Khitan, karena memang ada berita bahwa dia mempunyai darah bangsa Khitan. Bagaimana tokoh ini dapat muncul secara tiba-tiba di tempat ini?

Kekagetan dan keheranan hati Kwee Seng inilah agaknya yang membuat ia lengah sehingga ketika ada gulungan sinar hitam menyambar, ia hanya miringkan tubuhnya dan tahu-tahu pinggangnya sudah telibat cambuk yang bergerak seperti ular. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakan tangan kanannya, tubuh Kwee Seng melayang seperti terbang, terbawa oleh ujung cambuk ! Kwee Seng terkejut, namun ia dapat menenangkan hati dan mencari akal. Dengan kipas di depan dada untuk melindungi diri, ia mengerahkan sin-kang di tubuhnya untuk menahan tekanan ujung cambuk yang melilit pinggangnya, kemudian ia membiarkan dirinya terlempaar melayang ke arah Ban-pi Lo-cia yang berdiri di atas perahu sambil menyeringai ! Orang gendut itu ternyata amat memandang rendah terhadap Kwee Seng yang dianggapnya seorang pelajar yang tahu sedikit akan ilmu silat, maka ia bermaksud mempermainkannya.

Akan tetapi alangkah kaget hati raksasa gundul ini ketika tubuh Kwee Seng sudah sudah melayang ke dekatnya, tiba-tiba angin pukulan yang hebat bertiup dari kipas disusul totokan kilat yang menuju ke jalan darah di lehernya, dilakukan oleh gagang kipas itu. Begitu cepatnya gerakan ini sehingga hampir saja jalan darah Tiong-cu-hiat di lehernya tertotok ! Ketika raksasa itu mengelak ke belakang, tahu-tahu kaki Kwee Seng sudah menotol pundaknya dan menggunakan pundak raksasa ini sebagai batu loncatan, Kwee Seng mengerahkan tenaganya dan melompat sambil mengerahkan tenaga pada pinggang untuk membebaskan diri daripada libatan ujung cambuk. Usahanya berhasil. Ban-pi Lo-cia berseru heran dan tubuh Kwee Seng sudah melayang kembali ke atas, tepat tiba di gerombolan pohon kembang di pinggir telaga yang cepat disambarnya dan dengan ayunan indah tubuh pemuda itu sudah berada di darat, berdiri dengan tenang ! da! n dengan kipas di tangan sambil memandang ke arah lawan yang masih berada di atas perahunya !

“He he he, kau boleh juga, bocah!” Ban-pi Lo-cia berseru setengah marah setengah kagum, cambuknya bergerak cepat mengeluarkan ledakan-ledakan keras. Ternyata cambuk itu memukul air di pinggir perahu danbagaikan didorong tenaga gaib, perahunya meluncur cepat sekali ke pinggir telaga, kemudian sekali meloncat raksasa itu sudah melayang dan tiba di depan Kwee Seng ! Dua orang ini kini berhadapan dan saling memandang penuh perhatian. Bulan bersinar terang bersih, indah sekali akan tetapi di dalam keindahan itu tersembunyi kengerian yang di timbulkan oleh pandang mata kedua orang yang saling bertentangan ini. Pinggir telaga sudah sunyi karena mereka yang mendengar tentang hwesio tinggi besar yang mengamuk, sudah melarikan diri cepat-cepat akan tetapi ada pula beberapa orang yang bersembunyi dan melihat dua orang itu berhadapan dari jauh.

“Ban-pi Lo-cia, sudah lama sekali aku mendengar namamu, dan ternyata keadaanmu cocok benar dengan namamu!” kata Kwee Seng yang kini sudah mengeluarkan suling bambu yang tadi ditiupnya dan memegang suling itu di tangan kanannya sedangkan kipasnya ia pegang di tangan kiri. Ia maklum bahwa menghadapi seorang sakti seperti ini ia harus di Bantu sulingnya, karena hanya dengan kipas saja kiranya belum tentu ia akan dapat mencapai kemenangan.

“Heh, kau mengenalku ? Dan kau bilang cocok seakan-akan kau telah mengenalku baik-baik. Orang muda lancang, keadaanku yang bagaimana kausebut cocok dengan namaku?”

“Kau terkenal sebagai tokoh sakti yang aneh, kejam keji dan memuja kejahatan mengandalkan kepandaian. Nah, bukankah cocok benar dengan perbuatanmu sekarang?”

“Wah, sombong ! Bocah bermulut lancang, siapa namamu?”

“Aku Kwee Seng, datang tidak menonjolkan nama, pergi tidak meninggalkan nama, hanya suling dan kipas ini yang kubawa.”

“Heh..heh, kata-kata muluk ! Kau berlagak sopan dan terpelajar, akan tetapi bukankah kau sendiri juga memperebutkan kembang pelacur telaga ini ? He-heh, orang muda, tiada bedanya antara engkau dan aku, hanya aku lebih suka secara terbuka dan terang-terangan, sebaliknya engkau suka sembunyi-sembunyi dan berkedok kesopanan. Aku paling jemu melihat segala yang palsu ini, maka kau bersiaplah mampus di tangan Ban-pi Lo-cia!” Berbareng dengan habisnya ucapan itu, sinar hitam bergulung-gulung ke depan dibarengi ledakan-ledakan seperti petir menyambar kepala.

Hebat bukan main kalau Ban-pi Lo-cia mainkan cambuknya, cambuk sakti yang terkenal dengan nama Lui-kong-pian (Cambuk Halilintar). Gerakan cambuk ini mengandung getran penuh dari sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi. Jangan kan terkena pukulan cambuk, baru mendengar bunyinya saja membuat lawan menjadi pening kepalanya, melihat sinarnya membuat mata lawan kabur, dan hawa pukulan yang mendahului datangnya ujung cambuk cukup kuat untuk menjungkalkan lawan yang kurang tinggi ilmu kepandaiannya ! Cambuk ini kelihatannya hanya sebatang benda lemas dan licin, akan tetapi jangan dipandang ringan senjata ini. Bahannya saja terbuat daripada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat dilihat belasan tahun sekali di lautan utara, diantara gunung-gunung es. Di tangan Ban-pi Lo-cia, cambuk ini benar-benar menjadi halilintar. Bisa lemas melebihi sutera, bisa kaku keras melebihi baja, dan hebatnya, tidak ada sebuah senjata pun di dunia yang mampu membabatnya putus. Menyaksikan gerakan ini Kwee Seng maklum bahwa ia berhadapan lawan yang benar-benar sakti dan berbahaya, maka ia pun tidak berani main-main, segera ia menggerakkan suling dan kipasnya untuk menghadapi permainan cambuk halilintar yang dahsyat itu. Karena tahu bahwa ilmu cambuk halilintar

adalah ilmu sakti yang sukar dilawan dan harus dilawan dengan ilmu sakti lagi, maka Kwee Seng segera mainkan suling di tangan kanan menurut ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipasnya ia mainkan dengan ilmu kipas Lo-hai San-hoat. Ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat (Delapan Dewa) dan ilmu kipas Lo-hai San-hoat (Mengacau Lautan) telah menjadi ilmu silat yang sakti dan hebat setelah ia menerima petunjuk-petunjuk dari seorang manusia dewa, yaitu Bu Kek Siansu, beberapa tahun yang lalu di puncak pegunungan Himalaya. Kwee Seng tak pernah bertemu tanding yang dapat mengalahkannya. Dan sekarang mengahadapi Ban-pi Lo-cia yang demikian sakti, terpaksa ia mengeluarkan dua ilmunya yang dima! in! kan dengan lincah dan penuh mengandung tenaga sin-kang. Sulingnya ketika ia gerakkan mengeluarkan bunyi melengking tinggi, lengking yang dapat memecahkan anak telinga lawan dan tepat sekali dipergunakan untuk melawan pengaruh suara cambuk yang menggelegar. Adapun kipasnya mengeluarkan angin amat kuat yang menyembunyikan totoka-totokan maut oleh ujung gagang kipas yang dua buah banyaknya. Sesungguhnya, kipas inilah yang merupakan senjata penyerang Kwee Seng sedangkan sulingnya lebih banyak menjadi senjata penahan atau pelindung dengan suaranya yang menahan pengaruh suara cambuk dan gerakannya yang menangkis datangnya ujung cambuk.

Kalau Kwee Seng tidak merasa heran menyaksikan kehebatan ilmu cambuk lawannya, sebaliknya Ban-pi Lo-cia kaget dan heran bukan main menyaksikan gerakan lawan. Raksasa gundul ini tadinya memandang rendah kepada Kwee Seng yang masih muda dan bersikap seperti seorang pelajar. Sama sekali ia tidak menyangka bahwa pemuda itu demikian hebat.

Tangkisan suling pemuda itu sanggup menggetarkan cambuknya, sedangkan hawa pukulan kipas itu selalu mengancam jalan darahnya sehingga terpaksa ia harus berlaku hati-hati dan mengelak dengan bantuan gerakan ujung lengan baju kiri untuk menyelamatkan diri. Padahal ia mengenal betul bahwa suling itu memainkan ilmu pedang Pat-sian Kiam-hoat sedangkan kipas itu mainkan ilmu silat Lo-hai San-hoat. Akan tetapi alangkah bedanya dengan permainan orang lain.

Permainan pemuda ini telah membuat dua macam ilmu silat itu menjadi ilmu yang amat dahsyat, yang biarpun sudah ia kenal gerakan-gerakan dan perubahannya, namun masih sukar untuk dihadapi ! Diam-diam Ban-pi Lo-cia harus mengakui pendapat umum di dunia persilatan bahwa kehebatan seseorang bukan semata-mata tergantung kepada ilmu silatnya, melainkan kepada si orang itu sendiri, kematangan dan kesempurnaannya memepelajari ilmu itu. Pula benar kalau orang mengatakan bahwa dalam menghadapi lawan, orang harus berlaku hati-hati terhadap pertapa, yang kelihatan tua dan lemah, terhadap pelajar yang kelihatan halus dan terhadap wanita yang biasanya digolongkan orang lemah !

Puuuttttar-tar-tar! !sekali serang, cambuk itu sudah menyambar secara berturut-turut hanya selisih beberapa detik saja ke arah ubun-ubun kepala, leher, lalu pusar. Kwee Seng menggerakkan suling menangkis serangan pada ubun-ubunnya, kemudian ia memiringkan tubuh mengubah kedudukan kaki untuk menghindarkan diri serangan pada leher. Adapun pecutan pada pusarnya ia tangkis lagi dengan sulingnya sambil menggerakan kipasnya ke depan menotok jalan darah pada siku lawan. Kalau totokan ini mengenai sasaran, tentu lawannya akan terpaksa melepaskan cambuk.

Haiihhh!Ban-pi Lo-cia berseru keras, mengerahkan sin-kang dan ujung cambuknya terus melibat suling sedangkan totokan pada siku kanannya ia tangkis dengan ujung lengan sebelah kiri.

Brettt!Robeklah ujung lengan baju oleh ujung kipas, akan tetapi totokan itu meleset tidak mengenai sasaran. Kwee Seng terkejut karena tak mampu menarik kembali sulingnya yang terlibat, maka ia menggerakkan kaki maju setengah langkah, mencondongkan tubuh ke depan dan melanjutkan gerakan kipasnya, kini menusuk lambung lawan disusul kaki kanan menendang ke arah pusar !

Diserang secara hebat ini, Ban-pi Lo-cia kembali berseru keras dan tubuhnya meloncat ke belakang. Ia berhasil berhasil menyelamatkan diri dari bahaya, namun sekali renggut dengan pengerahan tenaga oleh Kwee Seng membuat suling yang terlibat lepas dari ujung cambuk ! Kwee Seng menahan rasa sakit pada telapak tangan yang memegang suling, terasa panas dan kesemutan.

Hebat ! Kau orang muda aneh dan hebat. Tapi rasakan kini tangan maut Ban-pi Locia!Seru raksasa itu dengan suara gembira dan wajah berseri. Memang raksasa gundul ini mempunyai dua macam kesukaan, yaitu wanita-wanita muda yang cantik dan berkelahi ! Makin kuat lawannya, makin gembira hatinya dan makin muda cantik seorang wanita, makin tergila-gila dia sebelum mendapatkannya !

Kini Dewa Locia Berlengan Selaksa itu menjauhkan diri dari lawannya, cambuknya di gerakkan dan lenyaplah cambuk itu, berubah menjadi gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil, lingkaran yang telan-menelan membingungkan pandangan mata. Juga diselingi bunyi nyaring seperti halilintar menyambar-nyambar di waktu hujan gerimis. Dengan cambuknya yang panjang, raksasa ini dapat menyerang Kwee Seng dari jarak jauh tanpa bahaya diserang kembali oleh lawan yang hanya menggunakan dua senjata pendek. Sambil menghujani lawan dengan lecutan cambuk yang merupakan jari-jari maut itu, Ban-pi Lo-cia lari mengelilingi Kwee Seng.

Kagetlah hati pemuda ini. Tak disangkanya tokoh sakti yang terkenal ini selain sakti, juga amat licik dan curang, tidak segan-segan menggunakan akal pengecut untuk mengalahkan lawan. Ia maklum bahwa karena dia berada dalam lingkaran, kedudukannya berbahaya, dan membutuhkan ketenangan sepenuhnya untuk menghadapi serangan seperti itu. Maka ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri dengan kuda-kuda kaki sej ajar di kanan kiri, tubuhnya agak merendah, suling diangkat tangan kanan tinggi melintang di atas kepala sedangkan kipas terbuka di tangan kiri melindungi bagian bawah.

Anehnya, Kwee Seng malah meramkan kedua matanya, akan tetapi seakan-akan dapat melihat jelas, ia menggeser kaki setiap kali lawannya berada di belakang tubuhnya. Serangan-serangan membanjir datang dari belakang, kanan dan kiri namun semua itu dapat ia tangkis dengan suling dan dapat ia kebut dengan kipas. Hebat bukan main pertandingan ini, namun merupakan pertandingan yang berat sebelah karena Ban-pi Lo-cia selalu menyerang sedangkan Kwee Seng selalu melindungi diri tanpa mampu balas menyerang.

Mengapa Kwee Seng meramkan kedua matanya ? Apakah ia memandang rendah lawannya ?

Bukan, sama sekali bukan ! Karena kehebatan lawannyalah maka ia terpaksa meramkan matanya. Untuk menghadapi hujan serangan itu, ia membutuhkan ketenangan dan pengerahan panca inderanya, pencurahan perhatian sepenuhnya. Kalau ia membuka mata, maka bayangan yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil itu akan menyilaukan mata dan mengacaukan perhatiannya. Biarpun kedua matanya meram, namun sepasang telinganya cukup untuk menangkap gerakan lawan. Dan mengapa pula pendekar sakti yang muda ini rela mengalah dan mempertahankan diri saja tanpa mencari kesempatan balas menyerang ? Ini pun merupakan siasat baginya, karena dengan cara ini, ia tidak mengeluarkan banyak tenaga, sebaliknya lawannya cepat lelah karena harus banyak bergerak dan lari-lari mengitarinya, sedangkan dengan penjagaannya yang kokoh dan kuat ia mampu mempertahankan diri.

Orang-orang cerdik pandai mengatakan bahwa yang diam itu lebih kuat daripada yang gerak. Gentong air yang penuh tak tersembunyi, yang kosong berbunyi nyaring. Orang yang mengerti pendiam, yang bodoh penceloteh. Air yang diam dalam, yang bergerak dangkal. Demikian pula dalam dunia persilatan, terutama bagi mereka yang sudah tinggi tingkatnya, terdapat keyakinan bahwa si penahan lebih kuat kedudukannya daripada si penyerang. Setiap penyerang berarti membuka pertahanan sendiri yang menjadi lemah dan juga lengah, sebaliknya si penahan akan selalu menutup diri mempertahankan diri dengan kokoh dan kuat.

Karena bernafsu sekali ingin mengalahkan Kwee Seng dengan cepat, untuk beberapa jam lamanya Ban-pi Lo-cia lupa akan hal ini dan terus menerus menghujankan serangannya yang selalu sia-sia karena dapat ditangkis lawan. Namun diam-diam Kwee Seng juga mengerti bahwa lawan yang sekali ini bukan lawan yang biasa, dan tidak dapat diharapkan cepat-cepat menjadi lelah. Juga dalam tingkat ilmu silat dan tenaga, Ban-pi Lo-cia benar-benar sudah hebat sekali dan ia tidak berani mengaku sudah lebih pandai daripada lawan ini. Sulingnya sudah retak-retak dan kedua tangannya sudah mulai lelah dipakai menangkis semua serangan itu. Diam-diam Kwee Seng menggerakkan ujung jari kakinya, mengerahkan tenaga menjebol sepatunya sendiri sehingga ibu jari kaki kanannya tampak keluar dari sepatunya.

Ia mencari kesempatan baik. Ketika Ban-pi Lo-cia menggerakkan cambuk ke atas kepala membuat lingkaran-lingkaran baru untuk memulai serangkaian serangan dahsyat, tiba-tiba ibu jari itu menyentil ke depan. Segumpal tanah melayang cepat sekali memasukilubang pertahanan Ban-pi Lo-cia yang terbuka dan cepat menghantam jalan darah di bawah lengan Si Raksasa.

Kyaaaa!Ban-pi Lo-cia terhuyung-huyung mundur dan tangan kanannya menjadi setengah lumpuh, matanya melotot heran dan kaget.

Tentu saja Kwee Seng tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia meloncat ke depan dan menerkam bagaikan seekor singa, menggerakkan suling dan kipasnya menghantamkan serangan-serangan maut. Namun Ban-pi Lo-cia adalah seorang tokoh yang banyak pengalaman dan tubuhnya sudah kebal. Serangan segumpal kecil tanah tadi hanya membuat ia terhuyung-huyung sejenak, dan kini tangan kirinya sudah cepat menyambar cambuknya sendiri dari tangan kanan yang agak lumpuh, kemudian cambuk itu melecut-lecut dengan bunyi keras, membentuk benteng sinar bergulung di depan tubuhnya sehingga suling dan kipas Kwee Seng dapat ditangkisnya. Dalam menangkis ini, Si Raksasa mengerahkan lwee-kangnya. Terdengar suara keras ketika cambuk beradu dengan suling dan kipas, akibatnya Keduanya terlempar ke belakang sampai tiga empat meter dan keduanya jatuh bergulingan di atas tanah !

Dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi mukanya, raksasa gundul itu duduk di atas tanah sambil memandang dengan muka berseri, Heh-heh-heh, kau hebat orang muda!

Kwee Seng juga sudah bangkit duduk dan mengatur napas memulihkan tenaganya. Dan kau jahat, Ban-pi Lo-cia!jawabnya.

Kembali Si Raksasa gundul tertawa. Aku pernah mendengar sayup sampai tentang seorang tokoh berjuluk Kim-mo-eng, yang tingkat kepandaiannya sudah masuk hitungan. Agaknya kaukah orangnya?

Tidak salah, para Locianpwe memberi sebutan Kim-mo-eng kepadaku.

Heh-heh-heh, masih muda sudah sombong, ya ? Kau kira Ban-pi Lo-cia kalah olehmu ? Kita masih seri, belum ada yang menang atau kalah. Mari kita lanjutkan!Raksasa itu berdiri, cambuknya terayun-ayun di tangan kanan yang sudah pulih kembali.

Kwee Seng juga bangkit berdiri. Aku selau melayani, kalau kau memang hendak berkelahi, dan aku selalu akan menghalangimu, kalau kau hendak melakukan hal-hal jahat!

Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak lalu menerjang maju dan memaksa lawannya melakukan pertandingan jarak dekat yang lebih berbahaya. Ia hendak mengadu tenaga dalam pertemuan tenaga tadi si raksasa ini dapat menduga bahwa dalam hal tenaga dalam, ia menang setingkat.

menyerang, namun ia sedapat mungkin menghindarkan adu tenaga karena hal ini akan banyak merugikannya. Sulingnya sudah retak dan kalau terus-menerus diadu dengan cambuk, tentu akan hancur sedangkan cambuk lawannya sama sekali tidak mengalami kerusakan apa-apa, Kwee Seng mengerahkan gin-kang (meringankan tubuh) dan menggunakan kegesitannya untuk menghadapi serangan dengan balasan serangan pula. Ia lebih muda, tubuhnya lebih kecil dan karenanya ia lebih gesit daripada lawannya yang tua dan tinggi besar.

Kini Kwee Seng benar-benar menguras ilmunya. Ia mencoba mainkan segala macam ilmu silat yang pernah ia pelajari, namun tetap saja ia tidak mampu mendesak lawan. Sebaliknya, tidaklah muda bagi Ban-pi Lo-cia untuk mengalahkan lawan yang amat kuat ini. Dalam benturan ke dua yang sama dahsyatnya dengan tadi, keduanya kembali terjengkang sampai beberapa meter jauhnya. Pertandingan telah setengah malam dan kini fajar mulai menyingsing, sinar merah mengambang di ufuk timur. Mereka saling pandang, muka berpeluh, uap putih mengepul dari ubun-ubun kepala masing-masing.

Bah, kau ini orang muda luar biasa. Selama hidup baru sekali ini bertemu orang muda seperti kau. Baru dua kali selama hidupku benar-benar gembira melakukan pertandingan. Pertama melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ke dua dengan kau inilah ! Heh-heh-heh ! Orang muda, aku pernah mendengar kau ini diambil murid Bu Kek Siansu. Manusia dewa itu katanya paling sakti, akan tetapi mengapa muridnya hanya seperti kau ini, manusia biasa yang dapat kulawan?

Aku tidak mendapat kehormatan sebesar itu menjadi murid beliau, aku hanya pernah beruntung menerima petunjuknya. Tak usah kau membawa-bawa nama suci Bu Kek Siansu. Kalau memang hendak bertanding, mari kita lanjutkan.Kwee Seng kini bangkit lebih dulu. Ia mulai penasaran menghadapi lawan yang begini tangguh dan ulet.

Heh-heh-heh, sampai mati, bocah sombong!Ban-pi Lo-cia menerjang maju dan kini ia membekuk cambuknya lalu menghantam dengan gerakan ilmu silat toya. Pukulan yang hebat ini tak mungkin dielakkan lagi. Terpaksa Kwee Seng menangkis dengan sulingnya, berbareng menyodokkan kipasnya.

Brakkkk!! Uh-uhKwee Seng terhuyung mundur, sulingnya hancur ! Akan tetapi Ban-pi Lo-cia juga terhuyung mundur, perutnya kena ditotok ujung kipas sehingga mendadak perut itu menjadi mulas ! Kalau orang lain terkena totokan ujung kipas yang mengandung tenaga sin-kang, tentu akan tembus perutnya atau rusak isi perutnya, mati seketika. Akan tetapi Ban-pi Lo-cia yang sudah kebal itu hanya merasakan perutnya mulas seperti orang terlalu banyak lombok saja !

Serrr.. serrrserrr!Belasan batang anak panah menyambar ke arah Ban-pi Lo-cia. Cepat kakek itu mengibaskan lengan bajunya dan anak-anak panah itu runtuh berhamburan. Dari kanan kiri berlompatan keluar belasan orang yang bersenjata lengkap.

Inilah hwesio jahat itu ! Serbu KeroyokKiranya belasan orang ini adalah lima orang jago silat bersama teman-temannya, sedangkan di belakang mereka masih tampak puluhan orang yang merupakan regu penjaga keamanan. Agaknya peristiwa di tengah telaga itu telah dilaporkan oleh hartawan Lim yang minta bantuan yang berwajib, sedangkan lima orang jago silat sudah mengundang teman-temannya untuk membantu.

Kwee Seng yang maklum bahwa sekian banyaknya orang itu bukanlah lawan Ban-pi Lo-cia, cepat menerjang lagi si raksasa gundul dengan kipasnya. Ban-pi Lo-cia juga maklum bahwa Kwee Seng merupakan lawan seimbang, kalau sekarang dibantu oleh puluhan orang, ia bisa celaka. Sambil tertawa terkekeh-kekeh, ia melompat dan sekali lompat ia telah melampaui kepala mereka yang mau mengeroyok. Mendadak tujuh orang pengeroyok jatuh berturut-turut dan mati seketika karena kepala mereka telah kena disambar hawa pukulan Ban-pi Lo-cia yang mereka sambil melompat pergi. Dari jauh terdengar suaranya.

Eeh, Kwee Seng. Belum selesai pertandingan kita, lain kali kita lanjutkan!

Sekarang pun boleh!Kwee Seng juga melompat dan mengejar karena ia makin penasaran, apalagi melihat raksasa itu pergi sambil membunuh tujuh orang. Akan tetapi beberapa lama ia mengejar, tak tampak bayangan raksasa itu. Kwee Seng tidak mau kembali ke tempat tadi, tidak suka ia bertemu dengan mereka yang tentu hanya akan merepotkannya saja. Ia lalu mengambil jalan sunyi menjauhi telaga. Ia merasa menyesal bahwa sulingnya telah hancur, tak dapat dipakai menyuling, apalagi sebagai senjata. Dengan lesu ia melempar sulingnya yang hancur dan terasa betapa tubuhnya basah semua oleh peluh. Ia perlu beristirahat memulihkan kekuatannya. Ia hendak mencari tempat yang sunyi agar tidak terganggu orang lain.

Kongcu Kalau suara ini parau dan kasar, agaknya Kwee Seng takkan mengacuhkannya. Akan tetapi justeru tidak demikian. Suara itu halus dan merdu, dan inilah yang membuat ia bagaikan terpagut ular dan cepat ia berpaling ke kiri.

Dia sendiri di situ ! Siapa lagi kalau bukan Ang-siauw-hwa, pakaiannya masih serba merah muda, dari pita penghias rambut sampai sepatunya. Akan tetapi terang bukan pakaian yang semalam, karena pakaian ini selain kering juga bersih sekali. Rambutnya digelung indah terhias perhiasan burung Hong dari emas dan permata. Sepasang pipinya kemerahan, matanya bersinar-sinar, bibirnya tersenyum manis. Akan tetapi wajah yang cantik itu kelihatan berbayang menjadi dua tiga oleh pandangan mata Kwee Seng yang berkunang-kunang. Pertandingan setengah malam suntuk itu ternyata hebat pula akibatnya bagi pemuda ini.

Kongcu, kau kenapa Kau terluka Kwee Seng memaksa diri tersenyum dan menggeleng kepala. Akan tetapi wanita itu sudah maju mendekat dan memegang tangannya. Ah, kau tentu terluka. Hwesio itu jahat sekali. Kau kelihatan lemah dan lelah, Kongcu. Aku sengaja menunggumu disini dan kebetulan kau lewat di sini. Bukankah ini jodoh namanya?

Ooh tanya Kwee Seng lemah, kata-kata ini mengejutkan dan mengherankan hatinya.

Ang-siaw-hwa menarik lengannya. Tentu saja jodoh. Kongcu, marilah ikut Ang-siauw-hwa, kau perlu beristirahat, biarlah Ang-siauw-hwa merawatmu. Dengan kata-kata yang mesra dan merdu ini wanita itu menggandeng tangan Kwee Seng dan dituntunnya pergi.

Kenapa kenapa kau begini baik kepadakuKwee Seng masih mencoba menolak. Akan tetapi Ang-siauw-hwa menarik tangannya dan diguncang-guncangnya. Kenapa ? Karena kau telah menolong nyawaku, menyelamatkan kehormatanku. Kongcu, karena karena aku ingin belajar menyuling darimu

Menyuling ?Akan tetapi keadaan Kwee Seng makin lemas. Pertemuan ini mengganggu hati dan pikirannya dan amat merugikannya kerena seharusnya ia dapat beristirahat memulihkan tenaga tenaga dalam yang banyak dikerahkan dalam pertempuran. Bagaikan seorang mimpi dan linglung ia membiarkan dirinya digandeng dan dituntun Ang-siauw-hwa dan ia hampir tidak sadar ke mana ia dibawa oleh wanita itu.

Ketika Kwee Seng membuka matanya, ia telah rebah di atas pembaringan yang hangat, bersih dan berbau harum. Kamar itu indah sekali dan di pinggir pembaringan ia melihat Ang-siauw-hwa duduk memijiti pundak dan lengannya.

Melihat betapa di atas meja ada lilin tertutup sutera biru, ia heran dan tahu bahwa saat itu hari telah malam. Akan tetapi melihat wanita cantik itu duduk begitu dekat dengannya dan hanya mengenakan pakaian yang tipis, ia meramkan matanya kembali.

Ambilkan bubur dan sayur itu, kemudian kalian pergi tinggalkan kamar ini, aku hendak melayani Kongcu makan.Terdengar Ang-siauw-hwa berkata perlahan. Dari balik bulu matanya Kwee Seng melihat dua orang wanita pelayan yang tadinya duduk di bawah, bangkit berdiri. Tak lama kemudian mereka datang lagi membawa baki terisi hidangan untuknya.

menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh Kwee Seng. Pemuda ini bangkit duduk, memandang ke sekeliling lalu berkata, penuh kegugupan dan malu-malu.

Ah, agaknya aku tak sadar tertidur di sini, menyusahkan Nona saja. Biarkan aku pergi

Akan tetapi Ang-siauw-hwa merangkulnya. Mengapa begitu, Kongcu ? Tidak sudikah Kongcu menerima pembalasan budi dariku ? Apakah Kongcu seperti orang-orang lain memandang rendah kepadaku, seorangpelacur?Wanita itu masih memeluknya sambil menangis !

Kwee Seng menarik napas panjang. Ia suka kepada nona ini, yang selain cantik jelita juga halus tutur sapanya, baik budinya. Akan tetapi tentu saja ia tidak suka melibatkan dirinya dalam perhubungan dengan seorang pelacur.

Sudahlah, Nona. Aku sekali-kali tidak memandang rendah kepadamu. Kau baik sekali.

Nona itu mengangkat mukanya dan biarpun air mata masih membasahi pipinya,ia teresenyum gembira. Marilah makan, Kongcu.Katanya merdu.

Kwee Seng tidak menolak lagi, perutnya amat lapar. Tidur sehari itu amat bermanfaat baginya, memulihkan sebagian tenaganya. Setelah makan yang dilayani amat mesra oleh Ang-siauw-hwa, ia merasa tubuhnya segar kembali. Ang-siauw-hwa menepuk tangannya dan dua orang pelayan datang dan segera diperintahnya untuk membersihkan mangkok piring, lalu menyuruh mereka pergi lagi. Kemudian, dengan gerakan lemah gemulai dan mesra, tanpa ragu-ragu atau malu-malu lagi Ang-siauw-hwa lalu menghampiri Kwee Seng dan duduk diatas pangkuannya !

Ah, Nonainiini.. bagaimanaKwee Seng tergagap.

Kongcu, budimu terlalu besar. Tak tahu aku dengan apa aku harus membalas budimu, selain dengan penyerahan diriku menjadi hambamu, menjadi budakmu dan melakukan apa saja untuk memalas budimu. Kongcu, bolehkah aku mengetahui namamu?

Tidak karuan rasa hati Kwee Seng. Kepalanya sampai terasa pening dan dengan halus ia mendorong tubuh nona itu dari atas pangkuannya. Nona, duduklah yang betul dan mari kita bicara. Kau mau tahu

namaku ? Aku adalah Kwee Seng, seorang pelajar gagal yang tiada tempat tinggal, miskin dan tak berharga.

Ah, Kwee-kongcu mengapa bicara begitu ? Kau seorang budiman, gagah perkasa dan amat berharga. Kalau mau bicara tentang orang tak berharga, akulah orangnya Kembali nona itu menangis dan ia kini duduk di atas kursi dan menutupi muka dengan kedua tangannya. Kwee Seng melihat air mata menetes dari celah-celah jari tangan yang putih, halus dan kecil meruncing itu.

Nona, kulihat kau bukan orang sembarangan. Kau terpelajar dan tidak kelihatan seperti gadis bodoh. Mengapa kau sampai sampai tidak kuasa ia melanjutkan kata-katanya menyebut pelacur.

Sampai menjadi pelacur?Ang-siauw-hwa menurunkan tangannya dan mukanya menjadi merah sekali, air mata menetes di sepanjang kedua pipinya yang halus kemerahan. Ah, panjang ceritanya, Kwee-kongcu. Ketahuilah, di waktu kecilku, aku adalah seorang berdarah bangsawan, Ayahku seorang pangeran dari Kerajaan Tang

Kaget seperti disambar petir rasa hati Kwee Seng. Ahhh ! Mengapa sampai begini?

Nona itu dengan suara pilu bercerita. Ayahnya memang seorang pangeran bernama Khu Si Cai yang mempunyai sepasang puteri kembar. Ketika kerajaan Tang runtuh, sekeluarga pangeran ini menjadi korban pula, semua tewas kecuali sepasang anak kembar itu yang berhasil di bawa lari oleh seorang pelayan. Akan tetapi di tengah jalan mereka terhalang oleh keributan dan perang sehingga seorang di antara dua anak kembar itu terlepas dari gandengan tangan dan hilang. Yang hilang bernama Khu Gin In, Sedangkan yang masih dapat diselamatkan oleh pelayan itu adalah Khu Kim In. Anak ini lalu dipelihara pelayan itu, akan tetapi karena keadannya yang amat miskin, hampir saja mereka berdua mati kelaparan.

Akhirnya, pelayan itu terjerat oleh cengkraman seorang pemilik sarang pelacuran bernama bibi Cang yang mau membantu mereka karena melihat betapa cantiknya anak perempuan bernama Khu Kim In. Makin lama, hutang mereka berumpuk dan akhirnya, setelah Khu Kim In berusia lima belas tahun, terpaksa Khu Kim In Dijualkepada bibi Cang sebagai pembayar hutang.

Demikianlah, Kwee-kongcu. Akulah Khu Kim In. Tak dapat aku melepaskan diri dari cengkraman bibi Cang. Akan tetpai baiknya aku disayang oleh hartawan-hartawan dan pembesar-pembesar sekitar tempat ini sehingga aku dapat mempengaruhi bibi Cang dan aku agak bebas. Aku boleh memilih sendiri laki-laki mana yang akan kulayani, dan karena aku banyak mendatangkan hasil sehingga bibi Cang menjadi kaya, maka aku pun ia perlakukan dengan baik serta mendapat kebebasan, malah aku mempunyai pelayan dan tempat tinggal menyendiri. Akan tetapi semua ini kulakukan dengan

pengorbanan besar, Kongcu. Ayah bundaku tewas, Adik Gin In entah ke mana, dan akuaku harus mengorbankan kehormatan, menjadi perempuan hina yang dipandang rendah oleh orang-orang terhormat seperti kau kembali Ang-siauw-hwa menangis.

Bukan main terharu hati Kwee Seng. Alangkah buruknya nasib gadis ini. Rasa haru dan kasihan membuat ia memegangi pundak wanita itu dengan halus dan menghibur.

Sudahlah, Nona. Aku tidak memandang rendah kepadamu dan aku berjanji akan menebusmu dari bibi Cang, kemudian aku akan mencarikan orang tua yang baik yang suka memungutmu sebagai anak. Adapun tentang nona Khu Gin In, biarlah perlahan-perlahan kucarikan untukmu.

Ah, Kwee-kongcukau menumpuk budi kebaikan padaku. Ang-siauw-hwa menubruk kwee Seng dan menangis sambil mendekap dada pemuda itu dengan mukanya. Kini Kwee Seng tidak menolaknya, mengusap-usap rambut wanita itu dengan penuh perasaan kasihan dan sayang. Seorang puteri pangeran sampai begini, pikirnya. Karena ia yakin bahwa semua sikap nona ini bukan pura-pura, melainkan keluar dari setulusnya hati yang amat berhutang budi kepadanya, maka ia pun tidak tega untuk menolak pernyataan kasih sayangnya, apalagi memang ia amat tertarik oleh nona yang memiliki kecantikan jarang keduanya ini.

Setelah reda menangis, tanpa melepaskan pelukannya Ang-siauw-hwa berkata, suaranya mesra dan manja. Aku tertarik sekali oleh bunyi sulingmu, Kwee-koko, kuharap kau suka mengajarku. Hati Kwee Seng berdebar sebutan Kongcu (Tuan Muda) berubah menjadi Koko (Kakanda) ini.

Sulingku remuk oleh si Hwesio jahanam.Jawabnya, masih mengagumi rambut hitam halus panjang dan harum itu.

Di sebelah barat telaga ada penjual suling yang baik, biarlah ku suruh pelayan membeli untukmu.

Tak usah, biarlah kubeli sendiri besok. Memilih sebuah suling bukanlah sembarangan, harus dicoba dulu.

Malam itu merupakan malam yang amat mesra bagi Kwee Seng, akan tetapi juga malam yang menimbulkan kasihan di hatinya terhadap Ang-siauw-hwa, rasa kasihan yang tentu dengan mudah akan menggelimpang menjadi rasa cinta kalau saja ia tidak teringat bahwa nona ini adalah seorang pelacur !

Di lain fihak, sama sekali tidaklah aneh kalau Ang-siauw-hwa Khu Ki In jatuh cinta kepada Kwee Seng karena selama hidupnya, baru sekarang ia bertemu dengan pemuda yang tidak memandangnya sebagai seorang pelacur yang hina. Biasanya, laki-laki yang manapun juga hanya akan menganggap ia sebagai barang permainan, yang datang kepadanya dengan kandungan nafsu dan mengharapkan kesenangan dan hiburan daripadanya. Akan tetapi kwee Seng ini berbeda sekali, pemuda tampan ini menolongnya tanpa pamrih, menganggapnya manusia terhormat, maka sekaligus hatinya jatuh dan tidak mengherankan kalau dia dengan rela menyerahkan jiwa raga kepada Kwee Seng dan mengharapkan untuk dapat melayani pemuda itu selama hidupnya !

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kwee Seng berpamit kepada Ang-siauw-hwa yang masih setengah tidur di atas pembaringan. Moi-moi, aku pergi dulu hendak mencari suling yang baik.

Dengan mata masih setengah meram, Ang-siauw-hwa mengembangkan kedua lengannya yang berkulit putih halus ke arah Kwee Seng, lalu berkata, suaranya mesra dan penuh cinta kasih, Kwee-kokojangan kau tinggalkan aku lagi.

Kwee Seng merasa terharu sekali. Ia merasa yakin akan perasaan cinta wanita ini kepadanya. Untuk sejenak jari-jari tangan mereka saling cengkeram lalu Kwee Seng melepaskannya dan berkata sambil tersenyum. Jangan kuatir, Moi-moi, aku takkan meninggalkanmu begitu saja sebelum kau pandai bersuling!

Entah mengapa ia sendiri tidak tahu, pagi itu Kwee Seng merasa gembira sekali.

Lenyap sudah rasa lelah dan lemah sebagai akibat pertandingan mati-matian melawan Ban-pi Lo-cia. Sinar matahari pagi yang menyoroti permukaan air telaga dan pohon-pohon di sekitarnya, tampak amat indah menyegarkan. Suara kicau burung pagi amat sedap, tidak seperti biasanya. Dan pemuda ini tersenyum, matanya bersinar-sinar, dan kedua pipinya menjadi kemerahan bibirnya tersenyum aneh kalau ia teringat pada Ang-siauw-hwa ! Ia harus mencari suling yang baik, tidak saja yang baik suaranya, akan tetapi juga yang memenuhi syarat untuk menjadi senjata. Bambu yang pilihan tua dan kering betul.

Benar seperti dikatakan Ang-siauw-hwa, di sebelah barat telaga itu terdapat seorang penjual suling buatannya sendiri. Akan tetapi Kwee Seng kecewa melihat bahwa biarpun pembuatannya amat halus, namun bahannya terbuat daripada bambu biasa saja.

Saya mempunyai sebatang bambu berbintik hitam yang biasa disebut bambu berbintik hitam, Kongcu. Bambu itu saya beli mahal dari seorang perantau di Lembah Huang-ho, akan tetapi karena mahalnya,

sampai sekarang belum saya bikin suling, takut tidak akan ada yang berani membelinya.Akhirnya Si Tukang Pembuat Suling itu berkata. Kwee Seng girang sekali. Ia mengenal bambu naga hitam sebagai bambu yang kuat dan lurus maka amatlah baik untuk dijadikan suling dan dibuat senjata.

Mana bambu itu ? Kenapa tidak dari tadi kaubilang ? Keluarkanlah, biar kumelihatnya.

Setelah bambu itu dikeluarkan, Kwee Seng menjadi girang sekali. Benar bambu naga hitam yang amat baik, tua dan sudah kering betul. Mereka tawar-menawar, kemudian Kwee Seng berkata, Jadilah. Harap kaubuatkan suling dari bambu ini sekarang juga, aku akan menunggunya.

Setengah hari lebih Kwee Seng berada di rumah pembuat suling itu. Akhirnya lewat tengah hari, suling itu pun jadi dan setelah mencobanya dan mendapat kenyataan bahwa memang sudah tepat ukuran lubang-lubangnya. Kwee Seng membayar harga suling yang limapuluh kali lebih mahal daripada harga suling biasa, membeli pula sebuah suling biasa dan meninggalkan tempat itu. Ia girang sekali, mempercepat larinya menuju ke rumah mungil yang menurut cerita Ang-siauw-hwa menjadi tempat istirahatnya tak jauh dari telaga.

Moi-moi, kaulihatlah suling ini!Di depan pintu rumah Kwee Seng sudah berseru memanggil, rindu akan senyum manis dan pandang mata mesra yang pasti akan menyambutnya. Akan tetapi sunyi saja di sebelah dalam. Kwee Seng mendorong daun pintu dan dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dua sosok tubuh melang-melintang di belakang daun pintu. Ketika ia membungkuk dan memeriksa, ternyata itu adalah dua orang pelayan wanita yang sudah tak bernyawa lagi tanpa menderita luka yang kelihatan. Kwee Seng menjadi pucat mukanya.

Moi-moi serunya dan mendengar ada suara perlahan dari dalam kamar, sekali meloncat ia sudah menerjang dun pintu kamar dan masuk ke dalam kamar. Apa yang dilihatnya ? Memang Ang-siauw-hwa berada di situ, akan tetapi dalam keadaan yang jauh bedanya dengan malam tadi, Gadis itu telentang di atas pembaringan, pakaiannya hampir telanjang, rambutnya terlepas dari ikatan dan menutupi sebagian leher dan dada, bajunya yang berwarna merah muda itu robek-robek dan penuh darah yang keluar dari dadanya di mana tampak menancap sebuah gunting !

Kwee Segera menubruknya, akan tetapi sekali pandang maklumlah ia bahwa nyawa gadis ini tak dapat ditolongnya lagi, karena gunting itu tepat menancap di ulu hati. Ia diam-diam heran mengapa Ang-siauw-hwa tidak mati seketika dengan tusukan seperti itu.

Ang-siauw-hwa membuka matanya yang sudah layu dan tiba-tiba gadis itu tersenyum lemah. Kwee-kokokau datang terlambat tapi lebih baik beginitak mungkin aku dapat melihat mukamu setelah apa yang terjadilebih baik aku akhiri hidupku

Apa katamu ? Kau membunuh diri ? Tapitapi mengapa, Moi-moi

Koko pada saat kau pergi datang hwesio iblis ituah, dua orang pelayanku dibunuhnya dan aku aku Wanita itu menangis dan napasnya terengah-engah. Setelah bertemu dengan engkau setelah aku bersumpah setia hanya padamu seorangkebiadaban hwesio itu membuat aku tak mungkin dapat melihatmu lagi di dunia ini aku aku ah koko, aku cinta padamu kau carikan saudaraku Gin In

Moi-moi,Akan tetapi Ang-siauw-hwa atau Khu Lim In yang bernasib malang itu telah menghembuskan napas terakhir dalam pelukan Kwee Seng.

Pada saat itu, dari luar terdengar suara perempuan memanggil. Ang-siauw-hwaKenapa kau dua hari tidak kembali ke kota ? Aku menanti-nantimu, banyak tamu menanyakan kauLalu terdengar jerit wanita.

Kwee Seng maklum bahwa tentu wanita yang datang itu Bibi Cang yang sudah melihat dua orang pelayan yang tewas, maka untuk tidak melibatkan diri dalam urusan pembunuhan ini, cepat ia merebahkan tubuh Ang-siauw-hwa di atas pembaringan, menunduk dan mencium bibir yang mulai layu itu dan secepat kilat ia melompat ke luar kamar melalui jendela, membawa jubahnya yang kemarin dipinjam Ang-siauw-hwa, dan meninggalkan sulingnya di dekat tubuh pelacur itu.

Demikianlah, Sian-moi, pertemuanku dengan Ban-pi Lo-cia yang mengangkibatkan sulingku hancur!Kwee Seng mengakhiri ceritanya kepada Liu Lu Sian. Tentu saja dalam cerita itu ia tidak menjelaskan hubungannya dengan Ang-siaw-hwa secara jelas. Dalam pandangannya, dibandingkan dengan Ang-siauw-hwa, Liu Lu Sian menang segala-galanya. Kalau Ang-siauw-hwa diumpamakan setangkai bunga, maka pelacur itu adalah bunga botan yang tumbuh dilapangan rumput, tiada pelindung dan mudah dilayukan sinar matahari dan dirontokkan angin besar. Akan tetapi Liu Lu Sian merupakan setangkai bunga mawar hutan yang semerbak harum, indah terlindungi pohon besar, di samping itu sukar dipetik karena tertutup duri-durinya yang runcing.

Kwee-koko, mengapa ketika kau bercerita tentang dicemarkannya pelacur itu oleh Ban-pi Lo-cia, matamu berkilat marah ! Seorang perempuan lacur macam Ang-siauw-hwa itu, mana ada harganya untuk dibela?Memang ini termasuk sebuah di antara watak Lu Sian yang aneh. Kalau ada laki-laki menyatakan

suka atau tertarik oleh wanita lain, biarpun laki-laki itu bukan apa-apanya, ia akan merasa iri hati dan cemburu !

Di lain fihak, Kwee Seng adalah seorang pemuda yang sama sekali belum berpengalaman tentang wanita dan asmara, maka ia tidak tahu dan tidak mengerti akan sikap ini. Ia malah merah mukanya karena jengah mendengar teguran Lu Sian.

Ah, mengapa kau bilang begitu, Sian-moi ? Pelacur atau bukan, dia hanya seorang lemah yang diperkosa oleh seorang jahat yang kuat. Sudah menjadi kewajibanku untuk membelanya, dan sudah semestinya kalau aku marah melihat kejahatan Ban-pi Lo-cia. Aku mengharapkan perjumpaan sekali lagi dengan pendeta iblis itu!

Makin tak senang hati Lu Sian karena dianggapnya bahwa kematian pelacur itu membuat Kwee Seng sakit hati dan ini menandakan bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada Si Pelacur.

Koko, apakah kau mencinta perempuan hina itu?tiba-tiba ia bertanya, matanya memandang tajam. Kwee Seng juga memandang dan melihat sinar mata bening tajam itu bertambah kagumlah hatinya.

Tidak, aku hanya kasihan kepadanya.Jawab Kwee Seng , suaranya jelas menyatakan isi hatinya.

Akan tetapi agaknya Liu Lu Sian belum puas. Gadis ini mengerutkan keningnya dan mendesak lagi. Pernahkah kau jatuh cinta ? Adakah seorang wanita yang kau cinta di dunia ini?

Bertemu dengan pandang mata tajam bening penuh selidik itu, muka Kwee Seng menjadi makin merah. Sebelum menjawab ia menggigit bibir menekan perasaan, kemudian katanya.

Selama ini aku tidak pernah jatuh cinta. Hanyahanya setelah bertemu dengan engkau, Sian-moiah, entahlah. Agaknya kalau ini yang dinamakan cinta, berarti aku jatuh cinta kepadamu!

Apa ? Hampir tengah malam begini?Akan tetapi Lu Sian sudah melangkah ke kamarnya dan tak lama kemudian ia keluar lagi membawa buntalan pakaian dan memanggil pelayan dengan suara nyaring. Ketika pelayan berlari-lari datang, ia cepat memerintahkan pelayan untuk menuntun dua ekor kuda mereka dan menyiapakannya di depan rumah penginapan.

Mengapa tidak, Koko ? Apa salahnya melakukan perjalanan malam ? Setelah keributan tadi, aku tidak senang di sini, ingin lekas-lekas pergi saja. Aku ingin berada di tempat bebas dan udara terbuka untuk mendinginkan kepala agar dapat aku enak memikirkan.

Memikirkan sesuatu saja harus pergi tengah malam di tempat terbuka?Kwee Seng mengomel karena sesungguhnya ingin ia mengaso. Memikirkan apa saja, sih?

Liu Lu Sian tersenyum manis. Memikirkan pernyataan cintamu tadi itu!

Kwee Seng melongo dan pipinya menjadi merah, akan tetapi cepat-cepat ia pun mengambil pakaian dan keduanya lalu keluar dari rumah penginapan, melompat ke atas kuda dan meninggalkan pelayan-pelayan yang memandang dengan mata terbelalak, terheran-heran menyaksikan dua orang muda yang lihai dan royal itu, yang meninggalkan hadiah tidak sedikit di tangan mereka sebelum pergi.

Begitu keluar dari kota, Lu Sian membalapkan kudanya, Kwee Seng terpaksa mengikutinya dengan perasaan heran. Alangkah anehnya gadis ini, pikirnya, dan hatinya berdebar kalau ia teringat betapa tadi ia telah mengucapkan pengakuan cintanya kepada Lu Sian. Akan tetapi ternyata gadis ini melakukan perjalanan setengah malam suntuk tanpa bicara dan Kwee Seng yang masih marasa malu karena pengakuan cintanya, tidak berani bicara sesuatu, hanya mengiringkan gadis itu dari belakang.

He, paman tukang perahu ! Mari kau seberangkan aku dan kudaku ke sana ! Berapa biayanya kubayar!

Tukang perahu yang kurus dan bermata sipit memakai topi lebar itu segera meminggirkan perahunya, perahu yang cukup besar. Ternyata ia seorang nelayan karena di atas dek perahu tampak alat-alat pancing dan jaring. Di bagian belakang perahu duduk seorang anak tanggung memegang dayung bambu panjang.

Baiklah, nona. Memang setiap hari kerjaku hanya menyeberangkan orang yang lari mengungsi. Akan tetapi dari seberang sana ke sini. Sungguh heran sekali pagi-pagi buta begini nona malah hendak

menyeberang ke sana.Kata si tukang perahu dengan suara penuh keheranan.

Lu Sian menuntun kudanya dan mengajaknya melompat ke atas dek perahu, sedangkan Kwee Seng mengikutinya tanpa banyak bicara. Dalam keadaan remang-remang kini ia dapat melihat wajah gadis itu, masih berseri-seri gembira dan cantik sekali.

Kali ini Lu Sian melirik kepadanya dan tersenyum-senyum manis, akan tetapi juga tidak bicara apa-apa.

Ah, Paman, kau tadi bilang apa?ketika perahu sudah meluncur ke tengah, Lu Sian bertanya. Orang-orang mengungsi dari sana ? Ada terjadi apakah diseberang sana?

Si Tukang Perahu memandang, keningnya berkerut. Apakah nona belum tahu ? Daerah San-si mulai geger. Sejak gubernur Li Ko Yung berkuasa dan kerajaan Tang ditumbangkan belum pernah terjadi kehebohan di kalangan rakyat. Akan tetapi setelah Jenderal Muda Kam menentang kekuasaan gubernur dan tidak setuju dengan pemberontakan melawan kerajaan, keadaan menjadi geger karena jenderal Kam mempunyai banyak pengikut. Malah sesungguhnya rakyat banyak yang menyokong jenderal muda gagah perkasa itu. Banyaklah dilakukan penangkapan-penangkapan oleh gubernur, dengan tuduhan memberontak

Ah Dan bagaimana dengan jenderal itu ? Apakah ditangkap juga ? Dan dimana dia sekarang?

Lu Sian agaknya tertarik sekali, akan tetapi Kwee Seng mendengar semua itu dengan hati dingin. Memang sama sekali ia tidak ada perhatian terhadap keributan negara yang tiada hentinya, semenjak pemberontakan yang terjadi puluhan tahun yang lalu terus menerus, sampai tumbangnya Kerajaan Tang dan tanah air menjadi pecah-pecah karena diperebutkan. Entah berapa banyaknya sekarang raja-raja dan raja-raja muda atau bekas-bekas gubernur yang mengangkat diri sendiri, mendirikan kerajaan-kerajaan kecil yang saling curiga-mencurigai, seakan-akan sekelompok anjing masing-masing mendekap sebatang tulang. Ia muak dengan itu semua, muak melihat manusia-manusia yang demi mencari kemuliaan dan kedudukan duniawi, berebutan tak tahu malu, mempergunakan rakyat yang dipecah-pecah untuk memihak demi kepentingan masing-masing tanpa menghiraukan korban berjatuhan di kalangan rakyat jelata yang selalu hidup miskin dan bodoh !

Mana bisa Jenderal Kam ditangkap ? Biar gubernur sendiri takkan berani menangkapnya, hanya berani menangkapi rakyat yang tak berdaya ! Pula, tanpa adanya jenderal yang gagah perkasa dan dicinta rakyat itu, bagaimana mungkin Shan-si akan dapat bertahan terhadap serangan dari luar?

Paman yang baik, bukankah jenderal itu bernama Kam Si Ek?

Betul, bagaimana nona dapat mengenal nama jenderal kami itu sedangkan tadi nona tidak tahu apa-apa tentang keributan di daerah San-si?

Kini Kwee Seng mulai memperhatikan apalagi ketika disebut nama Kam Si Ek. Ia sudah mendengar akan kehebatan sepak terjang Jenderal Muda itu, bahkan belum lama ini Kam Si Ek muncul pula di pesta Beng-kauw dan telah memperlihatkan sikap dan wataknya yang memang gagah perkasa ketika mencegah Lu Sian menjatuhkan tangan maut kepada seorang pengagumnya. Seorang pemuda gagah yang berwatak satria, tidak melayani tantangan Lu Sian padahal pemuda yang menjadi jenderal itu belum tentu kalah oleh gadis puteri Beng-kauwcu ini. Laki-laki yang tidak tunduk oleh wajah cantik ! Tidak seperti aku, demikian Kwee Seng memaki diri sendiri.

Ah, Sian-moi. Kau menyebrang sungai ini, apakah hendak melakukan perjalanan ke utara ? Mau ke manakah ? Ingat, perjalanan ini adalah perjalananku, kau hanya ikut denganku,kata Kwee Seng setelah tukang perahu itu pergi ke kepala perahu untuk membantu penyebrangan karena air mulai agak deras alirannya dan tidak amanlah kalau hanya mengandalkan tenaga pembantunya yang masih anak-anak.

Dengan kerling tajam Lu Sian mencibirkan bibirnya yang merah. Jantung Kwee Seng serasa ditarik-tarik. Manisnya gadis ini kalau begitu !

Kwee-koko, seorang suami boleh membawa kehendak sendiri, ada kalanya harus menghormati dan menuruti keinginan si isteri, tunangan pun bukan. Bagaimana aku harus selau menuruti kehendakmu ! Kau bukan suamiku, bukan tunanganku, juga bukan atau belum menjadi guruku karena kau belum menurunkan apa-apa seperti yang telah kau janjikan kepada ayah. Aku ingin ke utara, kalau kau hendak mengambil jalan lain tanpa menurunkan kepandaian kepadaku yang berarti kau melanggar janji, terserah.

Kwee Seng mengeluh di dalam hatinya. Terlalu sekali gadis ini menggodanya. Ia tertawa dengan sabar. Adik yang baik, kata-katamu seperti ujung pisau tajamnya. Aku sih tidak mempunyai tujuan tertentu, ke mana pun boleh. Akan tetapi kalau di utara terjadi keributan perang, mengapa kau hendak ke sana?

Lu Sian tertawa dan giginya yang putih berkilau terkena matahari pagi yang mulai muncul dan sinarnya menembus celah-celah daun pohon. Justeru karena ada perang aku ingin ke sana. Aku hendak menonton keramaian ! Kwee-koko, ada tontonan bagus, mengapa kita lewatkan begitu saja ? Pula, melakukan perjalanan bersamaku, biarpun menempuh bahaya, bukankah amat menyenangkan bagimu?Gadis itu mengerling, manis sekali dan Kwee Seng menahan napasnya. Sinar matahari pagi jatuh pada kepala gadis

itu, membuat sekeliling kepala seperti dilingkungi sinar keemasan !

Kau cantik sekali, Moi-moi , katanya perlahan, penuh kekaguman.

Lu Sian tertawa. Gadis di pagi hari belum berhias, mana bisa cantik ? Ihhh, kau sudah mabok lagi, Koko, kini bukan mabok arak, melainkan mabok asmara ! Lu Sian tertawa-tawa menggoda, lalu berjongkok di pinggir perahu, tangannya menyambar air yang jernih dan mulailah ia mencuci mukanya, digosok-gosoknya sehingga seluruh kulit mukanya sehingga seluruh kulit mukanya menjadi kemerahan dan segar laksana bunga mawar merah tersiram embun pagi.

Digoda secara terang-terangan seperti itu, Kwee Seng menjadi lemas dan selanjutnya ia tidak mau banyak bicara lagi, karena setiap godaan gadis itu merupakan tusukan di hatinya. Mengapa ia tiba-tiba menjadi begini lemah ? Mengapa ia tidak pergi saja tinggalkan gadis ini ? Ke mana perginya keangkuhannya yang selama ini ia banggakan ? Ah, ia masih mengharap. Ia masih menanti. Lu Sian telah mendengar pengakuan cintanya, dan gadis ini sukar sekali diraba isi hatinya. Kadang-kadang begitu mesra seakan-akan gadis itu pun mencintainya sungguhpun ingin memperlihatkan kebalikannya, akan tetapi mengapa kadang-kadang begitu kejam menyerangnya dengan kata-kata sindiran ?

Setelah menyeberang, kembali Lu Sian membalapkan kudanya. Kwee Seng mengikuti dari belakang dan sebentar saja mereka sudah memasuki sebuah hutan. Benar saja seperti yang dikatakan tukang perahu, setelah agak siang tampaklah berbondong-bondong orang mengungsi ke selatan. Karena jalan mulai ramai dengan rombongan pengungsi, Lu Sian dan Kwee Seng mengambil jalan hutan yang kecil akan tetapi sunyi.

Mengapa mengungsi saja harus beramai-ramai seperti itu ? Memenuhi jalan saja.Lu Sian mengomel karena jalan hutan yang dilalui sempit dan seringkali pohon-pohon kecil berduri mengganggunya.

Rakyat sudah terlalu banyak mengalami tindasan dan kekerasan, Sian-moi. Mereka tahu bahwa mengungsi pun tidak terlepas dari intaian bahaya gangguan orang jahat atau binatang buas maka mereka merasa lebih aman untuk melakukan pengungsian beramai-ramai. Pada perang sekacau ini biasanya orang-orang jahat suka mempergunakan kesempatan merampok.

Hah, kau benar, koko dan agaknya kita yang akan menjadi korban. Kau dengar itu?

perampok-perampok yang mengejar kita, Moi-moi.

Mereka berdua berhenti dan menoleh ke belakang. Tak lama kemudian derap kaki kuda berbunyi lebih jelas dan muncullah tiga orang penunggang kuda yang membalapkan kuda mereka cepat sekali. Tiga ekor kuda tunggangan mereka itu besar-besar dan ternyata merupakan kuda pilihan, malah lebih besar dan baik daripada kuda tunggangan Kwee Seng dan Lu Sian. Sedangkan tiga orang penunggangnya adalah wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan berpakaian mewah akan tetapi ringkas. Pedang berukir indah bergantung di punggung mereka, tangan kiri memegang kendali kuda, tangan kanan memegang cambuk. Melihat kesigapan mereka menunggang kuda, mudah diduga mereka itu adalah wanita-wanita yang pandai ilmu silat, apalagi pedang mereka membayangkan pedang pusaka yang baik. Yang terdepan paling tua usianya, antara dua puluh lima tahun, pakaiannya serba merah, yang ke dua berusia dua puluh tahun, pakaiannya serba kuning dan yang ke tiga baru delapan belas tahun berpakaian serba hijau.

Melihat raut muka mereka, dapat diduga bahwa mereka itu kakak beradik, dan sukar dikatakan mana yang paling cantik diantara mereka. Semua cantik dan pandang mata mereka tajam. Akan tetapi wajah yang berkulit halus itu diperbagus lagi dengan bedak dan yanci (pemerah bibir / pipi) sehingga menimbulkan kesan di hati Kwee Seng bahwa tiga orang wanita ini adalah gadis-gadis pesolek, seperti Ang-siauw-hwa. Berbeda dengan Liu Lu Sian yang ia lihat tak pernah memakai bedak dan yanci, sungguhpun hal ini memang tidak perlu karena kulit muka Lu Sian sudah terlalu putih halus dan bibirnya selalu merah membasah, pipinya kemerahan seperti buah apel masak.

Minggir ! Minggir!Tiga orang gadis itu berseru nyaring tanpa mengurangi kecepatan lari kuda mereka. Padahal jalan itu sempit sekali. Terpaksa Kwee Seng menarik kendali kudanya, dipinggirkan. Melihat Lu Sian tetap membiarkan kudanya menghadap jalan, Kwee Seng tidak mau membiarkan keributan terjadi, ia meraih kendali kuda tunggangan Lu Sian dan menarik binatang itu minggir pula.

Dua ekor kuda tunggangan pertama dan kedua lewat cepat sekali dan tercium bau harum minyak wangi. Kuda ke tiga yang ditunggangi gadis termuda, melambat dan gadis ini mengerling ke arah Kwee Seng, lalu melempar senyum ! Setelah melirik penuh arti barulah gadis ke tiga ini membalapkan kudanya lagi.

Kwee Seng cepat menggerakkan tangannya menangkap pergelangan tangan Lu Sian. Gadis ini menggenggam jarum-jarum yang merupakan senjata rahasia dan yang tadinya hendak ia sambitkan kepada tiga orang gadis itu !

Lu Sian menjebirkan bibirnya, kebiasaan yang selalu membetot jantung Kwee Seng, lalu menyimpan kembali jarum-jarum rahasianya. Menjemukan ! Koko, apakah kau selalu menjadi lemah hati dan siap menolong setiap orang perempuan cantik?

Merah kedua pipi Kwee Seng. Bukan begitu, moi-moi. Aku hanya suka menolong kepada orang yang perlu ditolong, tak peduli dia perempuan atau laki-laki. Akan tetapi mereka itu tadi tidak mempunyai salah apa-apa, mengapa hendak kau serang?

Tidak salah apa-apa ? Ihh, kenapa matanya lirak-lirik seperti tukang copet?

Kwee Seng tertawa geli mendengar ini. Tukang copet ? Ha-ha, perumpamaanmu sungguh tak tepat. Masa gadis cantik menjadi tukang copet ? Dan lagi, aku Si Miskin ini apanya yang patut di copet? Lu Sian tersenyum juga. Apalagi kalau bukan hatimu yang akan dicopet?

Kwee Seng membelalakan matanya memandang, akan tetapi gadis itu hanya mentertawakannya tanpa menutupi mulut, memperlihatkan deretan gigi putih dan lubang mulut kemerahan. Kwee Seng merasa ditertawakan, hatinya sebal dan sakit.

Mari kita lanjutkan perjalanan!Akhirnya ia berkata agak marah, akan tetapi Lu Sian tetap tertawa-tawa ketika membedal kudanya di belakang pemuda itu.

Ah, kau terburu-buru amat. Apakah hendak mengejar pencopet dan menyerahkan hatimu ? Dia manis sekali, Kwee-koko ! Kerlingnya tajam dan mengundang tantangan !Berkali-kali Lu Sian menggoda, akan tetapi Kwee Seng tidak menjawab dan terus membalapkan kudanya.

Akan tetapi agaknya tiga orang gadis tadi pun melarikan kuda cepat sekali, buktinya sampai tiga hari mereka berdua belum juga dapat menyusul tiga orang gadis itu. Pada hari ke empatnya, setelah bermalam di dalam hutan yang dingin, Kwee Seng dan Lu Sian melanjutkan perjalanan. Di persimpangan jalan mereka melihat banyak orang pengungsi pula, akan tetapi anehnya mereka itu bukan berjalan ke selatan, sebaliknya mereka menuju ke utara ! Bukan hanya Lu Sian yang merasa heran, juga Kwee Seng terheran-heran sehingga pemuda ini menanya kepada seorang pengungsi laki-laki yang sudah tua.

Mengapa di lain tempat tidak aman Lopek ? Apakah yang mengancam keselamatan kalian?Kwee Seng mulai tertarik sedangkan Lu Sian juga mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mendengar pertanyaan ini kakek itu memandang heran. Kongcu datang dari manakah sehingga tidak tahu keadaan disini ? Dimana-mana terdapat manusia-manusia serigala, bala tentara gubernur merajalela menganggu penduduk dan merampok harta memperkosa wanita dengan alasan membasmi pemberontak ! Semua orang takut menentang Gubernur Li, hanya Kam-goan swe seorang yang berani melindungi kami.

Kongcu dan Nona sebagai orang-orang asing sebaiknya jangan melakukan perjalanan di daerah ini, berbahaya.Setelah berkata demikian, kakek itu melanjutkan perjalanan bersama rombongan pengungsi yang terdiri dari tiga puluh orang lebih itu.

Kopek, masih jauhkah benteng itu dari sini?tiba-tiba Lu Sian bertanya sambil mengajukan kudanya. Kakek itu menoleh dan memandang, akan tetapi keningnya berkerut, tidak mau menjawab, malah lalu berjalan lagi dan timbul kemarahannya, membentak,

Ah, Kakek ! Apakah kau tuli dan bisu?

Kakek itu cemberut, menoleh lagi dan mengomel. Tidak ada wanita baik di jaman edan ini!

Tentu saja Lu Sian makin marah. Melihat ini, Kwee Seng khawatir kalau-kalau Liu Sian akan turun
tangan, maka ia cepat menggeprak kudanya, maju ke depan Lu Sian dan berkata kepada kakek itu.

Kopek, sahabatku ini bertanya baik-baik, mengapa kau tidak mau menjawab ? harap jangan salah melihat orang, sahabatku ini seorang pendekar wanita yang berhati mulia.

Lenyap kemarahan Lu Sian dan ia tersenyum-senyum mendengar pujian ini. Adapun kakek itu lalu membalikkan tubuh, memandang ragu kepada Lu Sian lalu menjura.

Harap nona suka maafkan. Baru pagi tadi sini lewat pula tiga orang gadis seperti nona, akan tetapi mereka itu kasar bukan main, bahkan lima orang kami mereka pukul dengan cambuk karena kurang cepat minggir untuk mereka lewat dengan kuda mereka yang besar-besar. Kalau nona hendak mengetahui, benteng itu tidak jauh lagi, kurang lebih tiga li lagi dari sini.

Setelah rombongan itu bergerak lagi dan Kwee Seng mulai menggerakkan kendali untuk melanjutkan perjalanan, Lu Sian menyentuh lengannya dan berkata,

Kwee-koko, kita berhenti disini, mencari tempat mengaso sampai nanti malam.

Ah, mengapa begitu ? Hari masih siang, dan perjalanan masih jauh. Ada keperluan apa yang harus berhenti disini?

Keadaan benteng itu, Jenderal Kam itu, dan tiga orang gadis yang agaknya juga pergi ke sana, menarik hatiku untuk menyelidiki. Malam nanti aku hendak menyelidiki ke sana, melihat keadaan dan mencari tahu apakah sebenarnya yang terjadi.

Ah, Moi-moi, mengapa kau mencari urusan yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kita ? Urusan Jenderal Kam adalah urusan negara, dan selama orang menyangkutkan diri dengan urusan negara, maka tak boleh tidak ia mempunyai cita-cita yang kotor. Tak perlu kita mencampurinya, Moi-moi.

Akan tetapi lu Sian sudah memutar kudanya dan mencari tempat yang enak untuk mengaso dan bermalam. Akhirnya ia berhenti di bawah pohon yang besar, lalu turun dari kudanya. Terpaksa Kwee Seng mengikutinya.

Sudahlah, koko, aku lapar karena terlalu banyak bicara. Biar kucarikan daging untuk teman roti kering kita.Gadis itu meloncat dan lenyap memasuki hutan yang gelap. Tak lama kemudian ia tertawa-tawa sambil memegang dua ekor kelinci gemuk pada telinganya, Kwee Seng tidak berkata apa-apa, hanya membantu gadis itu menguliti kelinci dan membakar dagingnya. Setelah mereka makan kenyang, Lu Sian merebahkan diri di atas rumput yang gemuk empuk. Tak sampai sepuluh menit kemudian gadis itu sudah tidur nyenyak, mukanya miring berbantal tangan, napasnya panjang teratur, pipinya kemerahan, bulu matanya yang merapat kelihatan panjang membentuk bayangan pada pipi.

Pikirannya melayang-layang. Alangkah cantiknya gadis ini. Rambutnya yang hitam itu agak kacau, sebagian rambut yang terlepas dari ikatan menutupi pipi dan kening. Dahi yang halus putih itu agak basah oleh peluh karena hawa memang panas menjelang senja itu. Kwee Seng melihat ini lalu memadamkan api unggun yang tadi dipakai memanggang daging kelinci. Kemudian ia duduk lagi menghadapi Lu Sian sambil menikmati wajah ayu itu.

Lu Sian bergerak sedikit dalam tidurnya, bibirnya tersenyum, tangannya menyibakkan rambut yang menutup pipi dan kening, lalu tubuhnya bergerak terlentang, terdengar bisikannya, Kwee-koko

Berdebar keras jantung Kwee Seng. Gadis ini mengigau dan menyebut-nyebut namanya dalam tidur ! bukankah itu berarti bahwa Lu Sian juga menaruh hati kepadanya?

Ia memandang lagi. Mulut yang manis itu masih tersenyum. Tiada bosannya memandang wajah ini, bagaikan orang memandang setangkai bunga mawar segar. Terpesona Kwee Seng memandangi rambut hitam panjang yang kini awut-awutan itu, mengingatkan ia akan syair tentang keindahan rambut yang pernah di bacanya :

halus licin laksana sutera hitam mulus melebihi tinta gemuk panjang berikal mayang mengikat kalbu menimbulkan sayang harum semerbak laksana bunga melambai meraih cinta asmara sinom berikal di tengkuk dan dahi pembangkit gairah dendam berahi !

Setelah kenyang pandang matanya menikmati keindahan rambut di kepala lalu pandang mata itu menurun, berhenti di alis dan mata yang terlindung bulu mata panjang melengkung, sejenak terpesona oleh bukit hidung.

Kecil mungil mancung dan patut halus laksana lilin diraut cuping tipis bergerak mesra mengandung seribu rahasia

Makin berdebar jantung Kwee seng, hampir tak terahankan lagi, serasa hendak meledak. Melihat rambut itu, bulu mata, hidung yang agak berkembang-kempis cupingnya, mulut manis yang tersenyum-senyum dalam tidur, pipi yang putih kemerahan, teringatlah ia akan Ang-siauw-hwa. Bukan gadis pelacur itu yang terbayang, melainkan pengalaman mesra penuh asyik yang pada saat itu mendorong semua gairah birahi memenuhi hati dan pikirannya bagaikan awan mendung hitam menggelapkan kesadarannya. Dengan tubuh gemetar menggil, Kwee Seng lalu membungkuk ke arah wajah ayu itu dan mencium bibir dan pipi Lu Sian sepenuh kasih hatinya.

Suara ketawa gadis itu mengejutkannya, membuyarkan sebagian awan mendung yang menutupi kesadarannya. Terkejutlah Kwee Seng, mukanya pucat dan ia cepat-cepat menjauhkan diri, jantungnya berdebar keras dan barulah lega hatinya ketika ia melihat bahwa Lu Sian masih tidur. Suara ketawa tadi pun agaknya hanya dalam keadaan mimpi. Akan tetapi ciumannya tadi membuat ia makin dalam terjatuh ke jurang asmara !

Lewat senja, setelah matahari mulai bersembunyi, Lu Sian menggeliat dan membuka matanya. Ahhh, alangkah sedapnya tidur di sini. Ehkwee-koko, kau masih duduk di situ sejak tadi ? Tidak mengaso?Gadis itu kini bangkit duduk dan membereskan rambutnya. Duduk seperti itu, kedua kaki di tekuk ke belakang, tubuh tegak dada membusung, kedua lengan dikembangkan karena sepuluh buah jari tangannya sibuk menyanggul rambut di belakang kepala, benar-benar merupakan pemandangan indah. Hemm, kalau saja aku pandai melukis, alangkah indahnya gadis ini dilukis dalam keadaan begini, pikir Kwee Seng, demikian terpesona sehingga ia seakan-akan tidak mendengar akan kata-kata Lu Sian.

Hih ! Kwee-koko, apakah kau sudah berubah menjadi arca ? Apa sih yang kau lihat?tegur Lu Sian, senyumnya lebar dan sepasang matanya berkedip-kedip mengandung ejekan.

hohkau bilang apa tadi, Moi-moi Kwee seng tergagap.

Kini Lu Sian tertawa, Kukira kau tidak mengaso kiranya kau agaknya malah tidur. Kwee-koko, aku ingin sekali mandi. Kalau saja ada anak sungai di sini

Kudengar suara air gemericik di sebelah kiri sana, Sian-moi. Mungkin ada anak sungai atau air terjun di sana.

Bagus, mari kita ke sana, Koko. Seperti seorang anak kecil, Lu Sian menyambar tangan Kwee Seng dan menariknya berlari-lari ke arah kiri. Benar saja dugaan Kwee Seng, di situ terdapat sebatang sungai kecil yang amat jernih airnya, pula tidak dalam, hanya semeter kurang lebih. Batu-batu licin di dasar tampak beraneka warna menambah keindahan dan kesejukan air. Hah, dingin dan segar, Koko!teriak Lu Sian kegirangan ketika memasukkan tangannya ke dalam air di pinggir sungai. Koko, aku hendak mandi

! Kau jangan melihat ke sini sebelum aku masuk ke dalam air. Awas, kalau kau menengok, kumaki kau kurang sopan dan kusambit kau dengan batu!

Kwee Seng tertawa, terseret oleh kenakalan dan kegembiraan gadis itu. Siapa ingin melihat?serunya sambil membalikkan tubuh berdiri membelakangi sungai. Ia hanya mendengar gerakan gadis itu, suara pakaian dilepas, kemudian mendengar gadis itu turun ke dalam air. Semua yang didengarnya ini

menimbulkan bayangan yang amat menggodanya sehingga ia meramkan kedua matanya seakan-akan hendak mengusir bayangan itu dari depan mata.

Sudah, Kwee-koko. Kau sekarang boleh saja melihat ke sini, aku sudah aman tertutup air. Ah, enak benar, Koko. Kau mandilah segar bukan main.

Kwee Seng membalikkan tubuhnya dan ia terpaku di tempat ia berdiri. Kedua kakinya menggigil dan matanya berkunang-kunang. Aduh, Lu Sian apakah benar-benar sengaja kau sengaja ingin menggodaku ? Demikian keluhnya dalam hati. Ketika ia menengok, ia melihat pakaian gadis itu bertumpuk di pinggir sungai, di atas sebuah batu besar, semua pakaian berikut sepatu dan pita rambut. Kemudian, apa yang dilihatnya di tengah sungai itu benar-benar membuat ia berkunang dan lemas. Memang gadis itu merendamkan tubuhnya di dalam air sehingga yang tampak dari luar air hanya leher dan kepalanya. Akan tetapi agaknya Lu Sian lupa bahwa air itu amat jernih ! Ataukah memang sengaja ? Air itu demikian jernihnya sehingga batu-batu di dasarnya tampak. Apalagi tubuh yang duduk di atasnya ! Pemandangan aneh tampak oleh Kwee Seng. Tubuh padat berisi sempurna lekuk-lekungnya, bergoyang-goyang bayangannya oleh air. Cepat-cepat ia menundukkan mukanya. Kuatkan hatimu ! Ah, kuatkan hatimu sebelum ! ka! u kemasukan iblis ! Demikianlah dengan kaki gemetar Kwee Seng berdiri menundukkan mukanya, mengerahkan tenaga batinnya untuk melawan dorongan nafsu.

Moi-moi Ia berhenti karena suaranya kedengaran aneh. Hemm Kau mau bilang apa, Koko?

Kwee Seng menarik napas panjang dan mulai tenanglah gelora isi dadanya. Sian-moi, aku tidak mandi. Kau mandilah yang puas, biar kunanti kau disana. Aku khawatir kalau-kalau kuda kita dicuri orang.Tanpa menanti jawaban Kwee Seng lalu membalikkan tubuhnya dan lari dari tempat semula di mana ia menjatuhkan diri duduk termenung memikirkan Lu Sian. Gadis yang aneh ! Ia harus mengaku bahwa hatinya sudah jatuh betul-betul. Ia memuja Lu Sian, memuja kecantikannya. Padahal ia maklum sedalam-dalamnya bahwa watak gadis itu sama sekali tidak cocok dengan wataknya, bahwa kalau ia mempunyai isteri seperti Lu Sian, hidupnya akan banyak menderita. Aku harus dapat menahan diri, semua ini godaan iblis, pikirnya. Aku sejak semula tidak menghendakinya sebagai isteri, hanya karena sudah berjanji dengan Pat-jiu Sin-ong untuk menurunkan ilmu yang mengalahkannya, maka sekarang mengadakan perjalanan bersama. Ah, mengapa ia menjanjikan hal itu ? Ia kena diakali Pat-jiu Sin-ong yang! t! entu saja ingin menguras ilmunya. Kalau sudah menurunkan ilmu, aku harus cepat-cepat menjauhkan diri dari Lu Sian, pikirnya. Akan tetapi, teringat akan perbuatannya mencuri ciuman tadi, kembali gelora di dadanya membuat Kwee Seng meramkan mata. Gila ! Kau sudah gila ! Tiba-tiba Kwee Seng yang masih meram itu menampar kepalanya sendiri !

Kiranya Lu Sian sudah berdiri di depannya, biarpun cuaca sudah mulai gelap, masih tampak gadis itu segar dan berseri-seri, makin cantik setelah mandi. Gadis itu tertawa geli. Kwee-koko, kukira kau tadi menjadi gila, apa-apaan itu tadi kau menampar kepalamu sendiri ?

Aku Ah.. kau tidak melihat tadi ? Banyak nyamuk di hutan ini. Mengiang-ngiang di atas telinga, kucoba menepuk mampus nyamuk-nyamuk itu.

Baiknya Lu Sian percaya alasan ini. Kwee-koko, sekarang aku hendak pergi. Kau menanti di sini saja, ya?

Kemana, Sian-moi? Ke benteng itu. Meyelidik! Ah, apakah perlunya ? Jangan mencari perkara Sudahlah ! Kau seperti nenek bawel saja. Kalau tidak suka, kau tidak usah ikut. Aku tahu kau tidak suka, maka aku akan pergi sendiri. Biarlah kau menanti di situ bersamaeh, nyamuk-nyamuk itu. Aku pergi, Koko!Setelah berkata demikian, Lu Sian mempergunakan kepandaianny meloncat dan lari cepat, sebentar saja lenyap dari situ.

Kwee seng mengerutkan keningnya. Gadis aneh. Ia takkan berbahagia hidup di samping gadis itu sebagai isterinya. Akan tetapiah, mengapa hatinya seperti ini ? Mengapa timbul kekuatirannya kalau-kalau Lu Sian menghadapi malapetaka ? Biarlah kalau ia tertimpa bencana. Salahnya sendiri. Mencari perkara. Mencampuri urusan orang lain ! Kwee Seng mengeraskan hatinya dan mulai membuat api unggun untuk mengusir nyamuk yang memang banyak terdapat di hutan itu. Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak enak. Terjadi perang di dalam hatinya antara membiarkan atau pergi menyusul Lu Sian.

Dengan pengerahan gin-kang dan ilmu lari secepatnya, sebentar saja Lu Sian telah tiba di luar tembok benteng. Tembok benteng itu cukup tinggi, pintu gerbangnya berada di tengah, terjaga kuat oleh belasan orang prajurit. Pintu belakang juga terjaga, malah tertutup rapat, sedangkan di atas tembok itu, pada setiap ujungnya terdapat bangunan kecil di mana tampak pula penjaga yang bersenjata lengkap. Beberapa menit sekali, penjaga-penjaga meronda di sekeliling tembok. Pendeknya, benteng itu terjaga rapat sekali. Untuk melompat tembok, terlampau tinggi dan andaikata dapat juga, pasti akan tampak oleh para penjaga diempat penjuru.

Akan tetapi, Lu Sian adalah seorang gadis yang banyak akal, berani dan lihai. Ia memilih bagian yang agak sepi, menanti sampai peronda lewat, kemudian cepat sekali ia menggunakan pedangnya membongkar tembok ! Pedangnya bukanlah pedang biasa, melainkan pedang pusaka, pedang buatan daerah Go-bi, terbuat daripada logam baja biru dan oleh ayahnya diberi nama Toa-hong-kiam (Pedang Angin Badai), karena Pat-jiu Sin-ong memberikan pedang itu kepada puterinya ketika menurunkan Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-sut. Pedang baja biru ini dapat dipergunakan untuk memotong besi dan baja. Apalagi tembok yang terbuat daripada bata itu, dengan mudah saja dapat ditembusi Toa-hong-kiam. Belum lima menit, Lu Sian telah berhasil membuat lubang yang cukup dimasuki tubuhnya. Di lain saat

tubuhnya berkelebat menyelinap masuk dan bagaikan seekor kucing ia sudah berloncatan cepat menghilang di antara kegelapan malam, mendekam di tempat gelap sambil memperhatikan keadaan di dalam benteng.

Benteng itu cukup luas, kiranya cukup untuk menampung ribuan orang bala tentara. Di dalamnya selain terdapat lapangan luas untuk berlatih para perajurit, juga terdapat bangunan-bangunan kecil berjajar yang agaknya menjadi tempat bermalam para perajurit. Ada pula bangunan terbuka yang dipakai sebagai dapur, lalu kandang-kandang kuda dan gudang-gudang perlengkapan. Di tengah sendiri terdapat empat buah bangunan besar yang bentuknya kembar. Tak salah lagi, di sinilah tempat para perwiranya. Maka tanpa ragu-ragu Lu Sian lalu berindap-indap menghampiri empat bangunan ini karena memang kedatangannya ini terdorong oleh rasa hatinya ingin mengintai dan menyelidiki keadaan Jenderal Muda Kam Si Ek ! Di sudut lubuk hatinya memang ia tak pernah melupakan Kam Si Ek, pemuda gagah perkasa dan ganteng yang pernah menggetarkan hatinya di atas panggung adu ilmu. Sayangnya pemuda itu tidak mau melayaninya mengadu kepandaian. Namun sikapnya yang gagah dan keras, wajahnya yang membay! an! gkan kejantanan, telah menggerakkan hati Lu Sian sehingga ketika dalam perjalanan ini ia mendengar disebutnya nama Kam Si Ek, sekaligus bangkit hasrat hatinya untuk menemuinya dan mempelajari keadaannya, kalau perlu mencoba kepandaiannya !

Melihat bendera tanda pangkat jenderal di depan sebuah di antara empat gedung, hati Lu Sian berdebar. Ia menyelinap ke belakang gedung ini, kemudian menggerakkan tubuhnya melayang naik ke atas genteng sebelah belakang, dan dengan hati-hati ia merayap di atas genteng menuju ke bagian tengah. Ketika ia melihat sinar api penerangan yang besar dan mendengar suara orang, ia membuka genteng dan mengintai ke bawah. Betapa girang hatinya ketika ia melihat orang yang dicari-carinya, yaitu Kam Si Ek sendiri, berada di dalam sebuah ruangan besar di bawahnya ! Biarpun seorang jenderal, Kam Si Ek ternyata berpakaian biasa, mungkin karena tidak sedang dinas. Pakaiannya serba biru dan rambutnya digelung ke atas, diikat sutera kuning. Tubuhnya yang tegap itu kelihatan gagah dan penuh tenaga. Ia duduk menghadapi meja besar yang penuh hidangan

Yang membuat hati Lu Sian kaget dan tak senang adalah ketika ia melihat tiga orang gadis cantik yang pernah di lihatnya. Kini tiga orang gadis itu mengenakan pakaian yang lebih mewah lagi, biarpun warna pakaiannya tetap sama, yaitu yang pertama serba merah, yang kedua serba kuning dan yang ketiga serba hijau. Rambut mereka digelung rapi dan dihias emas permata mahal. Muka mereka dilapisi bedak, bibir dan pipi ditambah warna merah dan bau minyak wangi mereka sampai tercium oleh Lu Sian yang mendekam di atas genteng !

Pada saat itu, dengan sikap gagah dan suara tegas Kam Si Ek berkata. Tidak bisa ! Siauwte (aku) bukanlah seorang penghianat ! Sejak dahulu, nenek moyangku adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan, yang rela mengorbankan nyawa untuk negara dan bangsa, yang menduduki kedudukan tinggi di dalam kentaraan tanpa pamrih untuk pribadinya, melainkan semata untuk berbakti kepada negara dan bangsa ! Kedatangan Sam-wi Lihiap (Pendekar Wanita Bertiga) saya terima dengan penuh kehormatan, akan tetapi kalau Sam-wi mengajak siauwte sekongkol dengan Cu Bun, terpaksa saya menolak keras!

Dengan suara manis sekali Si Pakaian Merah yang tertua di antara mereka bertiga, berkata halus, Kami bertiga Enci Adik sudah cukup mengenal kegagahan dan kesetiaan keluarga Kam. Kami mana berani membujuk Goan-swe (Jenderal) untuk bersekongkol dengan penghianat atau pemberontak ? Akan tetapi, bukankah bekas Gubernur Cu Bun kini telah menjadi raja dari kerajaan Liang yang sudah berdiri belasan tahun lamanya ? kini terjadi perebutan kekuasaan, dan raja tidak dapat membiarkan mereka yang memisahkan diri, tidak mau tunduk kepada kekuasaan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Liang yang menggantikan Kerajaan Tang. Karena itu, kami mengajak kepada Goan-swe untuk berjuang bersama, menghalau para pemberontak, terutama sekali bangsa buas dari luar yang hendak menggunakan kesempatan ini untuk mengganas.

Maaf, siaute terpaksa membantah, memang benar bahwa Gubernur Cu Bun berhasil menumbangkan Kerajaan Tang belasan tahun lalu. Akan tetapi, berhasil atau tidaknya sebuah kerajaan baru tergantung daripada dukungan rakyat. Dan untuk mendapat dukungan rakyat, terutama sekali rakyat harus diberi kehidupan yang tentram, penghasilan yang wajar dan sumber hidup yang layak. Akan tetapi apakah buktinya ? Rakyat menjadi korban selalu. Dimana-mana timbul kejahatan, perebutan kekuasaan, kehidupan rakyat tidak aman, masih ditekan pajak, diperas oleh lintah-lintah darat yang berupa raja-raja kecil di dusun-dusun, masih diganggu oleh para tentara kerajaan yang buas melebihi perampok. Buktinya ? Sam-wi dapat melihat betapa banyaknya penduduk dusun mengungsi, bingung mencari tempat aman sehingga di dalam benteng ini saja kami terpaksa menampung seratus orang lebih pengungsi. Bukankah ini sudah membuktikan bahwa Kerajaan Liang tidak didukung rakyat ? Dan selama pemerintahan ti! da! k mendapat dukungan rakyat, saya yakin takkan berhasil dan lekas runtuhlah pemerintahan itu.Muka jenderal muda itu menjadi merah, bicaranya penuh semangat dan wajahnya yang tampan gagah itu mengeluarkan wibawa seperti seekor harimau yang menakutkan.

Kam-goanswe yang perkasa,kata Nona kedua yang berpakaian kuning. Bolehkah saya bertanya, Goanswe ini sebetulnya mengabdi kepada siapakah ? Dahulu keluarga Goanswe mengabdi kepada Kaisar Tang yang terakhir. Setelah kaisar jatuh, Goanswe mengabdi kepada siapa ? Kalau Goanswe tidak mengakui kekuasaan Raja Liang, apakah Goanswe mengabdi kepada gubernur Li?

Kam Si Ek kini berdiri dari bangkunya. Tubuhnya yang tinggi tegap itu seakan-akan makin besar. Ia mengepal tinjunya dan berkata. Aku hanya mengabdi kepada tanah air dan bangsa ! Siapa saja yang mengganggu rakyatku, akan kulawan ! Bangsa apa saja yang berani memasuki tanah airku akan kuhancurkan ! Aku tidak mengabdi kepada Raja Liang, dan terhadap Gubernur Li Ko Yung yang menjadi teman seperjuanganku dahulu, dia tetap teman baik asal saja dia tidak menyeleweng daripada jalan benar.

Nona paling muda yang berbaju hijau mengedipkan matanya kepada kedua orang encinya, lalu bangkit berdiri menghampiri Kam Si Ek. Ia menuangkan arak dan menjura kepada jenderal muda itu sambil berkata, suaranya halus merdu penuh rayuan.

Maaf, maafKam-goanswe. Harap maafkan kedua enciku yang seakan-akan lupa bahwa saat ini bukanlah saat untuk bicara tentang urusan negara yang berat-berat. Kasihan sekali suasana menjadi begini panas, sebaliknya masakan menjadi dingin. Kam-goanswe, mari kita lanjutkan makan minum sambil membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Sudilah kau menerima secawan arak dariku sebagai cawan minta maaf!Ia melangkah maju, Tergopoh-gopoh Kam Si Ek balas menjura dan ia pun tersenyum.

Hihiap benar, maaf. Aku sampai lupa diri.Ia menerima cawan itu dan sekali tenggak habislah isinya. Si Baju Hijau tersenyum manis dan menuangkan arak lagi. Untuk kedua kalinya kuharap kau suka menerima secawan sebagai tanda persahabatanDengan sikap yang amat mesra ia menyerahkan cawan dan dalam kesempatan ini jari-jarinya yang halus menyentuh tangan Kam Si Ek. Pemuda itu kelihatan bingung dan kikuk, alisnya yang berbentuk golok dan hitam itu bergerak-gerak, agaknya ia ragu-ragu bagaimana harus menghadapi wanita yang tiba-tiba berubah sikap ini.

Cukup cukup katanya dan merenggut cawan arak itu agar tidak terlalu lama tangannya terpegang jari-jari halus mungil.

Ah, Kam-goanswe, masa tidak mau menerima penghormatanku?Si Baju Hijau berkata manja dan berdiri makin mendekat sehingga sebagian tubuhnya merapat, dadanya sengaja menyentuh lengan kiri Kam Si Ek. Hampir saja pemuda ini meloncat pergi, akan tetapi sebagai tuan rumah ia masih mempertahankan diri, hanya mengisar kaki menjauhi lalu berkata, Baiklah, kehormatan yang diberikan Lihiap kuterima!Ia minum lagi arak dari cawannya.

Akan tetapi alangkah terkejut dan kikuknya ketika ia melihat nona muda cantik berpakaian hijau ini tidak kembali ke bangkunya di seberang, melainkan menyeret sebuah bangku dan duduk di sampingnya ! Ini dilakukan sambil tersenyum-senyum, matanya mengerling tajam penuh arti.

Daripada berdebat yang bukan-bukan, yang sebetulnya tidak ada artinya sama sekali, bukankah lebih baik kita berteman ? Kam-goanswe, kami sudah lama mendengar nama besarmu, sudah lama mengagumi Jenderal Muda Kam Si Ek yang gagah perkasa dan menjadi idaman setiap orang wanita di propinsi Shan-si ! Kami bertiga enci adik tidak mempunyai niat buruk terhadap jenderal, melainkan hendak membantu usahamu, hendak menyerahkan jiwa raga mengabdi kepadamu, Kam-goanswe! Sambil berkata demikian, dengan lagak genit si baju hijau ini menggeser bangkunya sampai mepet dengan bangku Kam Si Ek.

Si Baju Merah dan kuning segera tertawa-tawa dan mengitari meja, menarik bangku dan mengisi cawan arak. Betul sekali kata adikku yang bungsu. Kam-goanswe, kami menyerahkan jiwa raga asal kau suka kami temani! kata yang tertua sambil menyerahkan secawan arak dan tangan kirinya memegang pundak pemuda tampan itu.

Percayalah, kami bertiga sanggup mengangkatmu menjadi yang dipertuan di daerah ini.Kata si baju kuning yang memeluk leher Kam Si Ek dari belakang !

Dirayu dan dikeroyok tiga orang gadis-gadis cantik yang berbau harum ini, sejenak Kam Si Ek tertegun saking kaget dan herannya. Kemudian ia serentak bangkit dari bangkunya, melangkah mundur tiga tindak, mukanya merah sekali dan ia berkata, suaranya keren.

sam-wi ini apa maksudnya bersikap seperti ini? Maksud kami sudah jelas, masa Goanswe tidak tahu ? Sudah lama kami kagum dan sekarang begitu berjumpa kami jatuh cinta, apakah kau tidak menghargai perasaan suci kami ini ?kata Si Baju Merah tanpa malu-malu lagi.

Kam-goanswe, ribuan orang pemuda tergila-gila kepada kami dan semua kami tolak, sekarang melihatmu, kami bertiga sekaligus jatuh hati. Bukankah ini jodoh yang baik sekali ?kata Si Baju Kuning.

Dengan kepandaian kami bertiga digabung kepandaianmu, apa sukarnya merampas kedudukan raja di waktu orang pandai sedang memperebutkan kekuasaan ini ? Goanswe mempunyai tentara yang cukup banyak dan kuat.Kata Si Baju Hijau.

Gila!Kam-goanswe berseru marah. Pergilah kalian ! Pergi dan jangan ganggu aku lagi. Pergi !Kam Si Ek marah bukan main, akan tetapi kemarahan ini agaknya belum menyamai kemarahan Liu Lu Sian yang mengintai di atas genteng. Gadis ini marah sekali kepada tiga orang perempuan yang dianggap tak tahu malu itu. Juga disamping kemarahannya ia pun kagum kepada Kam Si Ek ! Sungguh jantan ! Sungguh gagah dan keras hati, tidak tunduk oleh gadis-gadis cantik yang tergila-gila kepadanya.

Dinggg! !Tampak kilatan tiga batang pedang yang dicabut berbareng oleh tiga orang gadis jelita itu.

Pilihan kami hanya dua. Kau menerima kerja sama dengan kami atau kau serahkan kepalamu untuk kami hadiahkan kepada Raja Muda Kerajaan Liang!

Bagus!Kam Si Ek melangkah mundur dua tindak dan mencabut goloknya yang berkilauan saking tajamnya. Telunjuk tangan kirinya menuding dan ia berkata bengis, Kalian tiga orang wanita muda tak tahu malu. Kalian datang mengaku sebagai See-liong-sam-ci-moi (Tiga Enci Adik Naga Barat), berlagak

pendekar wanita yang bermaksud membantu karena melihat kesengsaraan rakyat dalam jaman perang perebutan kekuasaan. Aku menerima kalian dengan baik dan hormat. Kiranya kalian mengandung maksud hati yang kotor dan hina. Kalau aku memberi tanda, alangkah mudahnya anak buahku yang ribuan orang banyaknya datang menangkap kalian untuk dijatuhi hukuman mati. Akan tetapi aku Kam Si Ek seorang laki-laki sejati, tidak mengandalkan jumlah orang banyak. Majulah, dan sudah sepatutnya golokku mengakhiri riwayat kalian yang tersesat ke dalam jurang kenistaan!

“Manusia sombong!” Si Baju Merah meloncat dan bagaikan kilat menyambar pedangnya menusuk, berikut tubuhnya yang melayang ke depan, benar-benar seperti seekor naga menyambar. Hebat serangan ini, akan tetapi Kam Si Ek yang sudah siap dengan goloknya, menangkis keras.

“Tranggg!!” Wanita baju merah itu terpental ke samping, akan tetapi dengan gerakan indah ia membuat loncatan salto dua kali. Adapun kedua orang adiknya juga sudah menerjang maju dengan loncatan-loncatan tinggi dan menyerang dengan pedang selagi tubuh mereka masih di udara. Kam Si Ek terkejut sekali. Tiga orang wanita ini benar-benar patut dijuluki Naga Barat, karena gerakan mereka benar-benar lincah dan cepat laksana naga menyambar. Ia cepat mengelak sambil memutar golok sehingga berhasil menangkis tusukan pedang dari kanan kiri. Akan tetapi tiga orang enci adik itu sudah mendesaknya dengan serangan pedang bertubi-tubi. Kam Si Ek cepat memutar goloknya dan mainkan ilmu silat keturunan keluarga Kam.Pertahanannya kuat sekali, namun didesak oleh tiga batang pedang yang bekerja sama baik sekali, ia hanya mampu menangkis sambil berloncatan ke sana ke mari, sebentar saja terdesak hebat.

Namun, sebagai seorang jantan Kam Si Ek berpegang kepada kata-katanya. Ia tidak mau berteriak minta bantuan para penjaga yang berada di luar gedung itu dan tetap mempertahankan diri dengan goloknya. Sewaktu pedang Si Baju Merah menusuk tenggorokan dan ia menangkis dengan golok, pedang Si Baju Kuning sudah membabat penggangnya. Cepat ia bergerak dengan jurus Burung Walet Membalikkan Tubuh, membuat gerakan memutar untuk mengelak sambil memutar goloknya melindungi tubuh belakang. Ia berhasil mengelak dan sekaligus menangkis babatan pedang Si Baju Hijau tepat pada waktunya. Akan tetapi kembali pedang Si Baju Merah sudah menerjang datang, disusul dua buah pedang yang lain ! Karena ketiga orang gadis lihai itu kini menghujankan serangan di tiga bagian, yaitu bawah tengah dan atas, maka sibuk jugalah Kam Si Ek. Dengan ilmu golok emasnya yang diputar merupakan benteng melindungi tubuhnya, ia hanya dapat melindungi bagian atas dan tengah saja, sehingga menghadapi penyerangan pedang d! i ! bagian bawah, ia harus meloncat-loncat yang membuat gerakan pemutaran goloknya terganggu. Setelah lewat tiga puluh jurus, pemuda ini mulai berputar-putar dan terdesak ke sana ke mari, semua jalan keluar telah dihadang oleh tiga orang gadis yang tertawa-tawa mengejek.

“Jenderal sombong, daripada mati di ujung pedang, bukankah lebih baik kau memeluk tiga orang gadis jelita ? Ah, alangkah goblok engkau ! Mana bisa engkau melawan See-liong-sam-ci-moi ? Kami benar-benar mencintaimu, Kam-goanswe !”

“Lebih baik aku mati !” teriak Kam Si Ek ganas dan melihat kesempatan selagi Si Baju Merah bicara, golok emasnya menyambar dengan pembalasan serangan dahsyat. Namun tiga batang pedang sudah menangkisnya dan kembali ia terkepung tiga gulungan sinar berkilau yang mematikan semua jalan ke luar itu.

Liu Lu Sian yang menonton dari atas genteng, segera mengetahui bahwa biarpun Kam Si Ek memiliki tenaga yang cukup kuat, namun di bidang ilmu silat agaknya belum dapat diandalkan benar, jauh di bawah tingkat tiga orang gadis itu. Kemarahannya memuncak dan kekagumannya terhadap Kam Si Ek juga memuncak. Ia segera mengambil jarum-jarum rahasianya dan tiga kali tangannya bergerak disertai pengerahan sin-kang yang sepenuhnya. Senjata rahasia jarum ini adalah ajaran ayahnya, penggunaannya amat sukar karena jarum-jarum itu kecil dan ringan sekali, harus disambitkan dengan sin-kang tertentu baru dapat meluncurcepat melebihi anak panah. Dan sekali jarum-jarum ini meluncur, sama sekali tidak mendatangkan suara, kalaupun ada, suara itu halus sekali sukar ditangkap telinga.

Hebat sekali kesudahannya. Terdengar jerit melengking dan tiga orang gadis iti seperti disambar petir. Si Baju Merah melepaskan pedangnya dan berputar-putar seperti mabok, disusul Si Baju Kuning yang melemparkan pedang dan mencekik lehernya sendir, kemudian Si Baju Hijau terjungkal dan melingkar-lingkar di atas lantai. Tiga orang gadis itu berkelojotan di atas lantai dan beberapa menit kemudian tak bergerak lagi. Si Baju Merah kemasukan jarum tepat di ubun-ubunnya, Si Baju Kuning terkena lehernya dan Si Baju Hijau terserang dadanya. Jarum-jarum itu mengandung racun kelabang yang gigitannya menewaskan seketika, maka bukan main hebatnya.

Kam Si Ek berdiri dengan golok melintang di depan dada, matanya terbelalak lebar. Pada saat itu berkelebat bayangan memasuki pintu dan muncullah seorang wanita berpakaian serba putih, wajahnya cantik dan terang, usianya sebaya dengan Kam Si Ek. Wanita ini memegang sebatang pedang dan tangan kirinya menjambak rambut dua orang laki-laki berpakaian tentara lalu ia mendorong dua orang itu sehingga terguling di atas lantai, terus berlutut di situ dengan tubuhmenggigil.

“Eh, Sute siapa mereka ini … ah, bukankah ini See-liong-sam-ci-moi yang menjadi tamu kita ? Dan … ah, mereka sudah tewas dan … kau memegang golok ! Apa yang terjadi, Sute ?”

Kam Si Ek menggunakan tangan kirinya menggosok mata lalu menyusut peluh di dahinya, menggeleng-geleng kepala. “Bukan aku yang membunuh mereka, Suci. Tapi mereka patut tewas, mereka mempunyai niat busuk terhadap aku. Akan tetapi .. ..agaknya ada orang pandai membantu dan membunuh mereka..”

Wanita itu membanting-banting kakinya. “Celaka ! Mereka adalah tamu-tamu kita, mana patut tewas di sini ? Kalau ada orang yang membunuh mereka secara bersembunyi, belum tentu berniat baik. Kita harus cari dia untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya!” Wanita baju putih itu meloncat keluar lagi.

“Nanti dulu, Suci. Dua orang ini … ada apakah ?”

“Hemm, sialan benar. Dia dan lima orang lain melakukan pemerasan kepada beberapa orang pengungsi,
malah mengganggu wanita. Yang lima kulukai, yang dua ini pemimpinnya, kubawa ke sini untuk kau adili.”

“Jahanam !” Kam Si Ek menggerakkan kakinya menendang dan dua orang yang sial itu terlempar, kepala mereka membentur tembok,pecah dan tewas seketika. Beginilah watak Kam Si Ek yang benci akan penyelewengan-penyelewengan. Akan tetapi kakak seperguruannya, wanita baju putih itu sudah

meloncat pergi ke luar untuk mencari pembunuh See-liong-sam-ci-moi. Kam Si Ek juda cepat lari ke luar setelah menyambar gendewa dan anak panahnya. Dalam ilmu silat boleh jadi dia kurang pandai, akan tetapi ilmu panahnya terkenal di seluruh Shansi, di samping ilmunya mengatur siasat perang dan ilmu menunggang kuda.

Ketika Kam Si Ek tiba di luar gedung, ia melihat para penjaga sudah ribut-ribut memandang ke atas. Ketika ia berdongak, ia melihat bahwa sucinya telah bertanding pedang dengan hebatnya melawan seorang gadis yang gerakannya lincah sekali. Bulan malam itu menerangi jagat, akan tetapi dari bawah ia tidak dapat melihat siapa adanya gadis yang bertanding melawan enci seperguruannya itu.

“Goblok !” terdengar wanita itu memaki, suaranya nyaring dan merdu, melengking menembus kesunyian malam. “Beginikah kalian membalas pertolongan orang ?”

“Kau harus menyerah, tak boleh sembarangan membunuh orang di tempat kami,” jawab sucinya dengan suaranya yang tegas.

Pada saat itu, entah mengapa , tiba-tiba sucinya kehilangan keseimbangan tubuhnya, terhuyung di atas genteng dan sesosok bayangan yang bergerak seperti terbang telah menyambar tubuh wanita itu.

Lu Sian kaget melihat lawannya wanita baju putih itu tiba-tiba menghentikan penyarangannya dan terhuyung, kemudian ia lebih kaget lagi ketika tubuhnya tibq-tibq menjadi lemas dan tahu-tahu ia telah disambar orang dan dipanggul pergi ! Ketika melihat bahwa yang memanggulnya adalah Kwee Seng, ia meronta-ronta, namun tidak berhasil melepaskan diri. Ingin ia menusukkan pedangnya pada punggung pemuda ini, namun totokan tadi membuat tubuhnya terlalu lemas.

Kam Si Ek sudah sejak tadi merasa berhutang budi kepada wanita yang ternyata telah menolongnya kalau tidak segera tertolong, rasanya ia takkan mampu menangkan See-liong-sam-ci-moi. Tadinya ia

sudah hendak meloncat naik mencegah sucinya menyerang wanita itu, sekarang melihat seorang laki-laki muda berpakaian pelajar memondong wanita itu, ia menyangka bahwa tentulah pemuda itu, seorang jahat. Cepat ia memberi aba-aba untuk menyerang pemuda itu dengan anak panah, sedangkan ia sendiri pun lalu mementang gendawanya.

Akan tetapi pemuda itu hanya menengok sambil tersenyum. Wajah yang tampan itu tersinar bukan dan hatinya Kam Si Ek tercengang. Pemuda itu tampan bukan main dan senyumnya manis sekali ! Tentu sebangsa jai-hwa-cat (penjahat cabul) yang hendak melarikan gadis dengan maksud kotor dan rendah !

“Lihat panah !” bentaknya dan sekali gendawanya menjepret, lima batang anak panah menyambar ke arah tubuh belakang Kwee Seng !

“Bagus !” Kwee Seng yang masih menengok itu tersenyum lebar dan memuji, karena kepandaian melepas panah itu benar-benar hebat. Lima anak panah itu menuju ke lima bagian jalan darah di punggung dan kakinya, dan dengan kecepatan yang luar biasa !

Cepat tangan kirinya mencabut kipasnya dan ia harus mengerahkan lwee-kangnya untuk mengebut dan meruntuhkan anak-anak panah itu. Akan tetapi kini para perajurit panah sudah pula ikut melepaskan anak panah, sedangkan Kam Si Ek dengan kecepatan luar biasa sudah pula menghujankan anak panahnya. Terpaksa Kwee Seng kembali mengebut sambil mengerahkan sin-kang-nya, kemudian sekali berkelebat tubuhnya sudah meloncat jauh, kemudian berlari cepat setelah tubuhnya melayang turun dan sekali ia menggerakkan kakinya, ia telah meloncat ke atas tembok benteng. Hujan anak panah lagi dari kanak kiri, namun pelepasan anak panah oleh para perajurit itu tentu saja tidak begitu di hiraukan oleh Kwee Seng. Sekali kipasnya mengebut, angin kebutannya sudah membuat semua anak panah menyeleweng arahnya atau runtuh ke bawah. Kemudian ia meloncat keluar tembok dan lenyap !

“Suci … ! Dimana kau … ?” Kam Si Ek berseru, akan tetapi ia tidak melihat kakak seperguruannya itu. Namun ia mempunyai banyak pekerjaan, maka ia tidak mencarinya lagi, melainkan cepat mengatur anak buahnya untuk melakukan penjagaan yang lebih kuat dan memerintah orang-orang untuk mengurus lima buah mayat yang menggeletak di lantai ruangan gedung. Malam itu juga ia mengadili lima orang lain yang dilukai encinya dan menggunakan kesempatan ini untuk mengancam para tentara dengan hukuman berat apabila ada yang berani melakukan penyelewengan. Kemudian ia masuk ke dalam kamarnya dan duduk termenung. Ia maklum bahwa tidak semua anggota bala tentaranya setia kepadanya, karena sesungguhnya, ia tidak mampu memberi belanja yang cukup kepada mereka. Banyak diantara mereka yang diam-diam ingin rupanya dia mengabdi kepada Raja Liang atau kepada Gubernur Li yang juga sudah mengangkat diri sendiri sebagai raja muda di Shan-si.

Sementara itu, Lu Sian terus meronta-ronta, kedua kakinya di gerak-gerakkan danakhirnya Kwee Seng menurunkannya di dalam hutan tempat mereka tadi beristirahat sambil membebaskan totokannya. Dengan pedang di depan dada Lu Sian meloncat maju dan membentak.

“Kwee Seng, kali ini kau terlalu ! Mengapa kau mengganggu urusanku ? Apakah kau hendak pamer kepandaianmu ?”

“Eh, Sian-moi …, aku hanya hendak mencegah kau menimbulkan keributan di tempat orang, aku … aku hanya bermaksud menolongmu … ”

“Siapa butuh pertolongan mu? Siapa sudi ? Kwee Seng, agaknya di samping kelemahan hatimu, kau juga memiliki kesombongan memandang rendah orang lain. Apa yang kulakukan, kau peduli apakah ?”

“Sian-moi, mengapa kau berkata demikian ? Bagaimana aku dapat tidak mempedulikan apa yang kau lakukan ? Sian-moi … kau sudah tahu akan perasaan hatiku, tak perlu kusembunyikan lagi. Aku cinta padamu ! Nah, sekarang terlepaslah sudah ganjalan hatiku. Aku mencintaimu, tentu saja aku tak dapat membiarkanmu terancam bahaya atau melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Kam Si Ek seorang patriot sejati, seorang gagah perkasa, tak boleh diganggu…”

“Cukup ! Biar seribu kali kau mencintaku, kau belum berhak untuk mengurusi persoalanku. Aku bukan apa-apamu, tahu ? Kau boleh mencintaku sampai mampus, akan tetapi aku tidak mencintaimu ! Dengar baik-baik, Kwee Seng, aku tidak cinta kepadamu ! Kau memang tampan, kau memang gagah perkasa, memiliki kesaktian tinggi melebihi aku, akan tetapi kau lemah ! Kau bukan laki-laki sejati, hatimu lemah, mudah jatuh. Kaukira aku cinta kepadamu ? Ihh ! Aku suka ikut bersamamu karena mengharapkan

kepandaianmu yang kaujanjikan kepadaku di depan ayah. Nah kau dengar sekarang ? Setelah kauketahui pendirianku, apakah kau kini hendak menarik janjimu lagi seperti layaknya seorang pengecut ?”

Bukan main hebatnya serangan ini bagi Kwee Seng, seakan-akan ribuan batang jarum berbisa menusuk-nusuk jantungnya. Wajahnya sebentar pucat sebentar merah, tubuhnya gemetar, bibirnya menggigil, matanya sayu dan dua butir air mata membasahi pipinya. Kemudian ia menggertak gigi mengeraskan perasaan, menguatkan hatinya, mengepal tangan dan berkata sambil menengadahkan muka ke langit.

“Bagus sekali ! Memang kau patut menjadi puteri Pat-jiu- Sin-ong ! Aku yang bodoh. Ha-ha-ha, aku yang tolol. Orang macamku mana berharga menjatuhkan hati padamu ? Tidak, Liu Lu Sian, aku tidak menarik janjiku ! Kapan saja kau minta, akan kuturunkan ilmuku yang kupakai mengalahkan kau di panggung Beng-kauw ketika itu. Memang aku cinta kepadamu, dan kau tidak mencintaiku sama sekali. Ha-ha-ha, biarlah, biar dirasakan oleh hati yang rakus ini, oleh pikiran yang pendek dan tak tahu diri ini, Si Cebol merindukan bulan, ha-ha-ha!”

Senang bukan main hati Liu Lu Sian. Memang beginilah watak gadis puteri Beng-kauwcu ini. Mungkin karena semenjak kecil terlalu dimanja, atau memang memiliki watak aneh keturunan ayahnya yang terkenal sebagai tokoh aneh di dunia kang-ouw, gadis ini suka sekali melihat laki-laki, sebanyak-banyaknya, jatuh hati kepadanya. Suka Ia menggoda, menonjolkan kejelitaannya agar mereka makin dalam terperosok, kemudian akan ia kecewakan mereka, akan ia permainkan mereka dan melihat mereka menderita, ia akan mentertawakannya !

“Untung engkau masih belum terlalu rendah untuk menarik kembali janjimu. Kwee Seng, aku menuntut janjimu itu pada besok malam, tepat tengah malam, di sini juga. Aku akan menjumpaimu di sini dan … ”

“Tidak, Liu Lu Sian. Tempat ini kurang sepi, mungkin ada orang lewat dan akan melihat kita. Kau lihat bukit di sana itu. Tampaknya sukar didatangi, terjal dan liar. Jangan kira mudah menerima ilmu. Aku hanya mau menurunkan ilmuku kepadamu di puncak bukit itu. Besok malam tengah malam tepat, aku menantimu di sana !”

Lu Sian menengok ke arah timur. Matahari mulai muncul dan tampaklah bayangan sebuah bukit yang tak berapa jauh dari tempat itu. Bukit yang bentuknya aneh, puncaknya mencuat tinggi bentuknya seperti kepala naga atau kepala mahluk aneh.

“Baik, besok malam aku akan berada di pumcak itu!” Setelah berkata demikian, Lu Sian meloncat ke atas kudanya dan melarikan kuda itu pergi meninggalkan Kwee Seng.

Pemuda itu berdiri tegak seperti patung, mendengarkan derap kaki kuda yang yang makin lama makin jauh, lalu ia meramkan matanya, serasa perih hatinya, serasa jantungnya dirobek dan serasa semangatnya terbang melayang mengikuti suara derap kaki kuda yang membawa lari Lu Sian, gadis yang selama ini memenuhi hatinya. Tiba-tiba ia tertawa dan menampar kepalanya sendiri. “Ha-ha-ha, tolol ! Gila perempuan!!” Kwee Seng lalu mengambil guci araknya dan minum dari guci araknya dan minum dari guci itu tanpa takaran lagi. Arak menggelok memasuki kerongkongannya.

Tiba-tiba ia berhenti minum dan menengok memandang ke arah gerombolan pohon kembang kecil yang belim kebagian sinar matahari pagi, masih gelap. Biarpun perasaannya terganggu batinnya terpukul hebat, namun telinga pemuda ini masih amat tajam, perasaannya masih amat peka terhadap bahaya. Ia mendengar ferakan orang disitu, maka tegurnya, “Siapakah mengintai disitu?”

Sesosok bayangan putih berkelebat keluar dari belakang pohon-pohon dan seorang gadis berdiri di hadapan Kwee Seng dengan muka merah dan sinar mata membayangkan rasa malu. Gadis ini cepat menjura dengan hormat sambil berkata.

“Harap Taihiap sudi memaafkan. Sesungghnya bukan maksud saya untuk mengintai, akan tetapi keadaan tadi membuat saya tidak berani untuk keluar memperkenalkan diri.”

Kwee Seng cepat membalas penghormatan gadis yang memakai pakaian serba putih ini. Gadis bermata jernih, bermuka terang dan bersikap gagah, yang belum pernah ia kenal. Akan tetapi ia segera teringat bahwa gadis inilah agaknya Si Bayangan Putih yang bertempur melawan Lu Sian di atas genteng benteng tadi.

“Hemm, kalau sudah lama Nona mengintai, agaknya tak perlu lagi memperkenalkan diri, tentu Nona sudah mengetahui segalanya!” kata Kwee Seng dengan hati mengkal karena adegan Lu Sian yang amat memalukan, yang merendahkan dirinya.

“Sekali lagi maaf, Taihiap. Sesungguhnya saya melihat dan mendengar semua dan sekarang tahulah saya bahwa gadis lihai yang secara aneh mendatangi benteng adik seperguruanku itu bukan lain adalah Nona Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu yang amat terkenal. Sungguh merupakan hal yang tidak pernah kami duga, dan andaikata dia datang memperkenalkan diri secara wajar, sudah pasti kami akan menyambutnya dengan segala kehormatan. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur dan saya merasa bersalah terhadap Kwee-taihiap yang amat saya kagumi karena kesaktiannya. Oleh karena itu, saya peresilakan Kwee-taihiap sudi singgah di benteng kami untuk mempererat persahabatan dan untuk menambahkan pengetahuan kami yang dangkal.”

Diam-diam Kwee Seng kagum. Biarpun hanya seorang wanita, seorang gadis muda, namun nona ini benar-benar jauh bedanya dengan wanita-wanita yang ia temui. Nona ini membayangkan otak tajam, pandangan luas, sopan-santun dan hati-hati, seperti sikap orang yang sudah banyak pengalaman. Ia lalu teringat bahwa ia belum menanyakan nama, dan sebagai seorang yang begitu luas pandangannya seperti nona ini, tentu saja tak mungkin akan memperkenalkan nama kalau tidak ditanya.

nama nona yang terhormat?”

“Saya yang bodoh bernama Lai Kui Lan, membantu perjuangan Kam-sute (Adik Seperguruan Kam). Saya murid tunggal dari mendiang ayah Kam-sute, akan tetapi saya yang bodoh tak dapat mewarisi sepersepuluhnya dari ilmu silat keluarga Kam.”

Kembali jawaban yang mengagumkan hati Kwee Seng. Ah, kalau saja Liu Lu Sian mempunyai watak dan sikap seperti nona baju putih ini, pikirnya.

“Sekali lagi terima kasih atas undangan Nona Liu yang manis budi. Akan tetapi, sebetulnya saya tidak ingin mengganggu ketenteraman Nona dan Kam-goanswe. Tadi pun saya hanya bermaksud mencegah terjadinya hal-hal yang mendatangkan kekacauan, maka maafkan kalau tadi saya melakukan kesalahan turun tangan terhadap Nona, karena maksud saya hanya menghentikan pertandingan.”

Kui Lan menundukkan mukanya dan pipinya merah sekali. Akan tetapi ia menjawab dengan sikap sederhana merendah, “Ilmu kepandaian Kwee-taihiap telah membukla mata saya. Saya ulangi lagi, atas nama Kam-sute juga, kami persilakan Kwee-taihiap untuk singgah dan menerima penghormatan kami.”

“Tidak bisa, Nona Lai. Terima kasih. Saya harus pergi sekarang juga.” Setelah berkata demikian, Kwee Seng mengangkat kedua tangan memberi hormat, lalu melompat ke atas kudanya dan meninggalkan guci araknya yang sudah kosong. Hatinya yang penuh rasa nelangsa itu agaknya membuat ia tidak pedulian, sehingga guci arak kosong tidak pula dibawanya.

Setelah pemuda itu pergi, Lai Kui Lan berdiri termenung di tempat itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang, kemudian pandang matanya bertemu dengan guci arak. Ia melangkah maju, membungkuk dan mengambil guci arak itu. Tanpa ia sadar, ia menekankan guci arak kosong itu pada dadanya, dan ia meramkan matanya seakan-akan guci arak yang tadi ia lihat diminum oleh Kwee Seng itu mewakili diri pemuda sakti yang telah membuat jantungnya menggetar-getar itu. Kalau Lu Sian memandang rendah dan menghina Kwee Seng, sebaliknya Lai Kui Lan ini sekaligus jatuh cinta saking kagumnya melihat Kwee Seng dalam segebrakan merobohkan dia !

Memang aneh-aneh di dunia ini, apa lagi kalau menyangkut asmara yang mengamuk di hati orang-orang muda. Lai Kui Lan yang berwatak gagah dan polos ini sekali jumpa jatuh dan mencintai Kwee Seng, akan tetapi yang dicintanya tidak tahu akan hal ini karena Kwee Seng kegilaan Liu Lu Sian. Sebaliknya Lu Sian tidak mau membalas cinta kasih Kwee Seng dan gadis liar ini kagum kepada Kam Si Ek !

Ketika Lai Kui Lan sadar kembali akan keadaan dirinya, mukanya menjadi makin merah dan beberapa butir air mata terlontar keluar dari pelupuk matanya. Teringat akan keadaan Kwee Seng ia bergidik. Kasihan sekali pendekar itu. Jatuh cinta kepada puteri Beng-kauwcu. Ia sudah mendengar akan Liu Lu Sian puteri Beng-kauwcu, gadis jelita dan perkasa yang sudah menjatuhkan hati entah berapa banyak pemuda. Ia mendengar pula tentang para muda yang menjadi korban di Beng-kauw. Dan kini agaknya pendekar sakti Kwee Seng menjadi korban pula. Kemudian ia teingat akan sutenya, Kam Si Ek. Ada persamaan antara Liu Lu Sian dan Kan Si Ek. Sutenya itu pun menjadi rebutan para gadis, membuat banyak gadis tergila-gila, akan tetapi sutenya tetap tidak mau menerima cinta seorang di antara mereka. Banyak pula yang menjadi korban asmara, di antaranya tiga orang enci adik See-liong-sam-ci-moi-itu !

Teringat pula akan janji Kwee Seng untuk menurunkan ilmu pada besok tengah malam di puncak bukit sebelah timur, ia merasa ngeri. Bukit itu terkenal dengan nama Liong-kui-san (Bukit Siluman Naga), biarpun bukan sebuah di antara gunung-gunung besar, namun di daerah itu amat terkenal sebagai bukit yang sukar didatangi orang, serem dan dikabarkan banyak setannya. Kam Si Ek sendiri melarang anak buahnya naik gunung itu, karena memang keadaannya amat berbahaya dan harus diakui bahwa ada sesuatu yang membuat puncak bukit itu kelihatan aneh. Banyak jurang-jurang yang tak terukur dalamnya, dan di sana mengalir pula sungai yang deras airnya, sungai yang sumbernya dari dalam gunung dan yang kemudian menggabung dengan sungai Wu-kiang. Sungai ini pun oleh penduduk diberi nama Liong-hiat-kiang (Sungai Darah Naga), karena pada saat tertentu sinar matahari membuat sungai itu kelihatan kemerahan seperti darah !

Kemudian Lai Kui Lan mengeluh dan berjalan dengan langkah gontai sambil mendekap guci arak. Semangatnya seolah-olah melayang pergi mengikuti bayangan Kwee Seng Si Pendekar Muda yang sakti dan tampan !

Kwee Seng yang merana hatinya oleh ppengakuan Liu Lu Sian yang tidak membalas cintakasihnya, membalapkan kudanya menjauhi letak benteng Jendral Kam Si Ek. Karena teringat akan janjinya kepada Liu Lu Sian, ia lalu membelokkan kudanya ke arah timur dan hatinya lega ketika memasuki sebuah dusun tak jauh dari kaki gunung, sebuah dusun yang cukup ramai, bahkan di situ terdapat sebuah rumah penginapan sederhana yang membuka pula sebuah restoran. Untung baginya, rumah penginapan itu dalam keadaan kosong tidak ada tamu sehingga keadaan sunyi dan ia tidak benyak menunggu.

Kwee Seng menjual kudanya dengan perantaraan pengurus hotel, kemudian ia minum mabok-mabokan sambil bernyanyi-nyanyi untuk mengusir pergi kerinduan dan kesedihan hatinya. Sebentar saja para pelayan hotel memberinya nama Sastrawan Pemabok ! Dalam maboknya Kwee Seng menyanyikan sajak-sajak romantis ciptaan penyair terkenal Li Tai Po.

Pada senja hari itu Kwee Seng berdiri di ruangan belakang rumah penginapan, memandang sinar matahari yang mulai lenyap, hanya tampak sinar merah kekuningan menerangi angkasa barat. Tangan kanannya memegang sebuah tempat arak terbuat daripada kulit labu kering. Ia bersandar kepada

langkan, memandangi angkasa barat yang berwarna indah sekali sambil sekali-kali meneguk arak dari tempat itu. Teringat ia akan sajak karangan Li Tai Po, maka sambil mengangkat muka dan menggerak-gerakan tempat arak di depannya, Kwee Seng lalu menyanyikan sajak itu,

Kunikmati arak hingga tak sadar akan datangnya senja rontokan daun bunga memenuhi lipatan bajuku mabok kuhampiri anak sungai mencerminkan bulan ohhh, burung terbang pergi, sunyi dan rawan

Kwee Seng berhenti bernyanyi dan meneguk araknya. Biarpun hawa arak sudah memenuhi kepalanya, membuat kepalanya serasa ringan dan hendak melayang-layang namun sebagai seorang ahli silat yang sakti, telinganya menangkap suara langkah kaki orang. Sambil minum terus dan arak menetes-netes dari bibirnya, Kwee Seng melirik ke sebelah kanan. Ia masih berdiri bersandarkan langkan.

“Heh-heh-heh, matahari pergi tentu terganti munculnya bulan…” Ia berkata-kata seorang diri akan tetapi diam-diam ia memperhatikan orang-orang yang baru datang. Mengapa ada orang datang dari belakang rumah penginapan ?

Ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang pemuda dan seorang gadis, ia tidak berani memandang langsung, melainkan mengerling dan memperhatikan dari sudut matanya. Alangkah herannya ketika ia mengenal wanita itu. Bukan lain adalah gadis baju putih, Lai Kui Lan, suci (kakak seperguruan) dari Jenderal Kam Si Ek ! Pakaiannya masih sutra putih seperti pagi tadi, wajahnya masih terang dan manis seperti tadi, akan tetapi ada keanehan pada diri gadis ini. Kalau pagi tadi Lai Kui Lan amat peramah dan sinar matanya bening terang, kini gadis itu sama sekali tidak menengok ke arahnya, seakan-akan tidak mengenalnya atau tidak melihatnya, padahal tak mungkin tidak melihatnya karena di tempat itu tidak ada orang lain. Dan sinar mata gadis itu, seperti kehilangan semangat, tidak sewajarnya ! Apalagi lengan kiri gadis itu digandeng dengan erat oleh Si Pemuda yang memandang penuh curiga kepadanya.

Kwee Seng membalikkan tubuh, menggoyang-goyang kepalanya seperti seorang pemabokan dan mengangkat tempat arak ke arah pemuda itu dengan gerakan menawarkan. Akan tetapi diam-diam ia memperhatikan Si Pemuda. Seorang pemuda sebaya dengannya, berwajah cukup tampan akan tetapi membayangkan keanehan dan kekejaman, sepasang alisnya yang tebal hitam itu bersambung dari mata atas kiri ke atas mata kanan. Kepalanya kecil tertutup kain penutup kepala yang bentuknya lain daripada biasa. Pada muka itu terbayang sesuatu yang asing, seperti terdapat pada wajah orang-orang asing. Tubuhnya tidak berapa besar namun membayangkan kekuatan tersembunyi yang hebat, sedangkan sinar matanya pun membayangkan tenaga dalam yang kuat. Diam-diam Kwee Seng terkejut dan menduga-duga siapa gerangan pemuda ini, dan mengapa pula Lai Kui Lan ikut dengan pemuda ini dengan sikap seolah-olah seekor domba yang dituntun ke penjagalan.

Seng, membuatnya termenung lupa akan araknya ketika dua orang itu sudah memasuki kamar tengah, mendengar suara Si Pemuda yang berat dan parau minta kamar dijawab oleh pengurus rumah penginapan. Kemudian, masih lupa akan araknya, Kwee Seng berjalan perlahan menuju ke kamarnya sendiri, kalimat tadi masih terngiang di telinganya. Mungkin, bisik hatinya. Mungkin sekali Lai Kui Lan menjadi domba dan pemuda itu kiranya patut pula menjadi seorang penyembelih domba, seorang jai-hwa-cat (penjahat cabul). Kalau tidak demikian, mengapa sikap Lai Kui Lan begitu aneh seperti orang terkena sihir ? Seperti seorang yang melek akan tetapi tidak sadar ?

Makin gelap keadaan cuaca di luar hotel, makin gelap pula pikirnya Kwee Seng menghadapi teka-teki itu. Hatinya pernah penasaran, biarpun beberapa kali ia meyakinkan hatinya bahwa kehadiran Lai Kui Lan bersama seorang pemuda itu sama sekali bukan urusannya dan bahwa tidak patut mengintai keadaan muda-mudi yang mungkin sedang di lautan madu asmara, namun kecurigaannya mendesak-desaknya sehingga tak lama kemudian, di dalam kegelapan malam, Kwee Seng sudah melayang naik ke atas genteng hotel dan melakukan pengintaian. Hal ini ia lakukan dengan guci arak masih di tangan, karena untuk melakukan pekerjaan yang berlawanan dengan kesusilaan ini ia harus menguatkan hati dengan minum arak.

Akan tetapi ketika ia mengintai ke dalam kamar dua orang itu, hampir saja ia terjengkang saking marah dan kagetnya. Tak salah lagi apa yang dikuatirkan hatinya ! Ia melihat Lai Kui Lan terbaring telentang di atas pembaringan dalam keadaan lemas tak dapat bergerak, mukanya yang pucat itu basah oleh air mata, terang bahwa gadis itu tertotok hiat-to (jalan darah) di bagian thian-hu hiat dan mungkin juga jalan darah yang membuat gadis itu menjadi gagu ! Akan tetapi air mata itu menceritakan segalanya ! Menceritakan bahwa keadaan gadis seperti itu bukanlah atas kehendak Si Gadis sendiri, melainkan terpaksa dan karena tak berdaya. Adapun pemuda tadi, duduk di tepi pembaringan sambil berkata lirih membujuk-bujuk.

“Nona yang baik, mengapa kau menangis?” Dengan gerakan halus dan mesra pemuda itu mengusap-usap kedua pipi yang penuh air mata. “Aku tertarik oleh kecantikanmu, dan andaikata aku tidak tahu bahwa kau adalah suci dari Jenderal kam Si Ek, tentu aku tidak akan berlaku sesabar ini! Aku ingin kau menyerahkan diri kepadaku berikut hatimu, ingin kau membalas cintaku dan kau akan kuajak ke Khitan, menjadi isteriku, isteri seorang panglima! Dengan ikatan ini, tentu adik seperguruanmu akan suka bersekutu dengan kami. Nona, kau tinggal pilih, menyerah kepadaku dengan sukarela, ataukah kau ingin menjadi orang terhina karena aku menggunakan kekerasan? Kau tidak ingin dinodai seperti itu, bukan? Aku Bayisan, panglima terkenal di Khitan, tidak kecewa kau menjadi kekasihku…” Pemuda itu menundukkan mukanya hendak mencium muka gadis yang tak berdaya itu.

Tiba-tiba pemuda yang bernama Bayisan itu meloncat bangun, membatalkan niatnya mencium karena tengkuknya terasa panas dan sakit. Matanya jelilatan ke sana ke mari, cuping hidungnya kembang kempis karena ia mencium bau arak. Ia meraba tengkuknya yang ternyata basah dan ketika ia mendekatkan tangannya ke depan hidung, ia berseru kaget.

“Keparat, siapa berani main-main dengan aku?” “Penjahat cabul jahanam! Di tempat umum kau berani melakukan perbuatan biadab, sekarang beremu dengan aku tak mungkin kau dapat mengumbar nafsu iblismu!” terdengar suara Kwee Seng dari atas genteng.

Bayisan bergerak cepat sekali, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela kamar dan beberapa menit kemudian ia sudah meloncat naik ke atas genteng. Akan tetapi ia tidak melihat orang di atas genteng yang sunyi itu! Bayisan celingukan, napasnya terengah-engah karena menahan amarah, sebatang pedang sudah berada di tangan kanannya.

“Heeeei! Jahanam cabul, aku di sini. Mari kita keluar dusun kalau kau memang berani!” Tahu-tahu Kwee Seng suah berada agak jauh dari tempat itu, melambai-lambaikan guci araknya ke arah Bayisan. Tentu saja orang Khitan ini makin marah dan sambil berseru keras ia mengejar. Kwee Seng lari cepat dan terjadilah kejar-kejaran di malam gelap itu, menuju ke luar dusun. Di luar dusun inilah Kwee Seng menantikan lawannya.

Mereka berhadapan. Kwee Seng tenang dan ketika lawannya datang ia sedang meneguk araknya. Bayisan marah sekali, mukanya merah matanya jalang, pedang di tangannya gemetar. Ketika mengenal pemuda pelajar pemabokan itu, ia makin marah.

“Eh, kiranya kau, pelajar jembel tukang mabok! Kau siapakah dan mengapa kau lancang dan mencampuri urusan pribadi orang lain?” Bayisan membentak menahan kemarahannya karena ia maklum bahwa yang berdiri di depannya bukan orang sembarangan sehingga ia harus bersikap hati-hati dan mengenal keadaan lawan lebih dulu. Bayisan terkenal sebagai seorang pemuda yang selain tinggi ilmunya. Juga amat cerdik dan keji. Di Khitan ia terkenal sebagai seorang panglima muda yang tangguh dan pandai. Kwee Seng tertawa. “Aku orang biasa saja, tidak seperti engkau ini, Panglima Khitan merangkap penjahat cabul! Aku mendengar tadi namamu Bauw I San? Belum pernah aku mendengar nama itu! Pernah aku mendengar nama Kalisani sebagai tokoh Khitan yang dipuji-puji, akan tetapi nama Bouw I San (Bayisan) tukang petik bunga (penjahat cabul) aku belum pernah!”

“Hemm, manusia sombong! Aku memang bernama Bayisan Panglima Khitan, kau mendengarnya atau belum bukan urusanku. Aku suka gadis itu dan hendak mengambilnya sebagai kekasih, kau mau apa? Apakah kau iri? Kalau kau iri, apakah kau tidak bisa mencari perempuan lain? Tak tahu malu engkau, hendak merebut perempuan yang sudah menjadi tawananku!”

“Heh-heh-heh, Bayisan hidung belang! Jangan samakan aku dengan engkau! Kau suka mengganggu wanita, aku tidak! Kau penjahat cabul, aku justeru membasmi penjahat cabul! Aku Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!” kalaimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng selamanya tidak memaksa perempuan yang tidak cinta kepadaku!” Kalimat terakhir ini tanpa ia sadari keluar dari mulutnya dan diam-diam Kwee Seng meringis

karena ia teringat akan Liu Lu Sian yang tidak cinta kepadanya.

Di lain pihak, Bayisan kelihatan terkejut dan marah mendengar disebutnya nama ini. “Akhh, keparat! Jadi kau ini Kwee Seng, pelajar jembel tak tahu malu itu? Kau telah terlepas dari tangan maut Suhuku Ban-pi Lo-cia, sekarang kau tak mungkin terlepas dari tanganku!” setelah berkata demikian, Bayisan menuyerang hebat dengan pedangnya. Pedang itu digerakkan ke atas akan tetapi dari atas menyambar

ke bawah dengan bacokan ke arah kepala, kemudian disusul gerakan menusuk dada. Hebat serangan ini, karena sekaligus dalam satu gerakan saja telah menjatuhkan dua serangan yaitu membacok kepala dan menusuk dada!

Akan tetapi Kwee Seng menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya mencelat ke belakang sejauh dua meter sambil meneguk araknya. Sekaligus dua serangan itu gagal sama sekali!

“Aih… aihhh… jadi kau ini murid Ban-pi Lo-cia? Pantas… pantas…. Gurunya hidung belang, muridnya mata keranjang!”

Akan tetapi dengan gerakan kilat Bayisan sudah menerjang maju dan permainan pedangnya benar-benar hebat. Kiranya Bayisan bukanlah sembarang murid dari Ban-pi Lo-cia, agaknya sudah menerima gemblengan dan mewarisi ilmu silat bagian yang paling tinggi, di samping ilmu silat yang dipelajarinya dari orang-orang pandai di daerah utara dan barat. Pedang di tangannya berkelebatan berubah menjadi sinar bergulung-gulung dan angin yang ditimbulkan mengeluarkan bunyi berdesingan mengerikan.

Diam-diam kwee seng kagum juga. Sayang sekali, pikirnya. Jarang ada orang muda dengan ilmu kepandaian sehebat ini, maka amatlah saying kepandaian begini baik jatuh pada diri seorang pemuda yang bermoral rendah. Orang dengan kepandaian seperti ini tentu akan dapt menjunjung tinggi nama besar suku bangsa Khitan yang memang terkenal sejak dulu sebagai suku bagsa yang kuat dan pengelana yang ulet. Menghadapi pedang Bayisan yang tak boleh dipandang ringan ini, terpaksa Kwee Seng mengeluarkan kipasnya dan dengan kipas di tangan kir, barulah ia menghalau semua ancaman bahaya dari pedang itu.

Sebaliknya, Bayisan kaget sekali. Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw muncul jago muda bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-o-eng. Akan tetapi gurunya tidak bicara tentang kehebatan pemuda itu, maka sungguh kagetlah ia ketika melihat betapa pemuda itu hanya dengan kipas di tangan mampu menghadapi pedangnya, malah kini semua jalan pedangnya serasa buntu, lubang untuk

menyerang tertutup sama sekali! Celaka, pikirnya, andaikata ia dapat menangkan sastrawan muda itu, hal yang amat meragukan, tentu akan makan waktu lama sekali. Pertandingan melawan sastrawan ini tidak penting baginya, lebih penting lagi diri Lai Kui Lan yang ia tinggalkan dalam kamar hotel. Pengaruh totokannya tidak akan tahan lama, apalagi gadis itu memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah. Kalau ia terus melayani sastrawan ini dan Lai Kui Lan dapat membebaskan diri daripada totokan, tentu akan

terlepas dan lari. Kalau sudah lari kembali ke benteng,sukarlah untuk menangkapnya lagi. Ia akan menderi! ta! rugi dua kali, pertama, kehilangan calon korban yang begitu menggiurkan, ke dua, rencananya menarik Jenderal Kam Si Ek sebagai sekutu Khitan akan gagal sama sekali.

Berpikir demikian, pemuda Khitan yang cerdik ini lalu mengeluarkan seruan keras dan tinggi hampir merupakan suara lengking memekakkan telinga, kemudian pedangnya bergerak menusuk-nusuk seperti datangnya belasan batang anak panah. Kwee Seng terkejut. Lengking tadi hampir mencapai tingkat yang dapat membahayakan lawan. Kalau pemuda Khitan ini tekun berlatih dan menerima bimbingan orang pandai, tentu akan berhasil memiliki ilmu pekik semacam Saicu-ho-kang (Auman Singa) yang dapat melumpuhkan lawan hanya dengan pengerahan suara saja ! Apalagi lengking itu disusul serangan pedang sehebat itu. Benar-benar pemuda Khitan ini mengagumkan dan berbahaya.

Kwee Seng cepat memutar kipasnya dan karena ia kuatir kipasnya akan rusak menghadapi hujan tusukan itu, ia mengalah dan meloncat ke belakang. Akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh Bayisan untuk menggerakan tangan kirinya. Benda-benda hitam menyambar dan Kwee Seng mencium bau yang amat tidak enak ketika ia mengelak dan jarum-jarum hitam itu lewat di depan mukanya. Jarum-jarum beracun yang lebih jahat daripada jarum beracun milik Liu Lu Sian ! Untuk menghilangkan bau tidak enak, ia meneguk araknya. Akan tetapi Bayisan meloncat pergi sambil berkata.

“Jembel busuk, Tuanmu tidak ada waktu lagi untuk … ” Hanya sampai di sini kata-kata Bayisan karena tiba-tiba ia terguling roboh dan tubuhnya lemas ! Kiranya secepat kilat Kwee Seng tadi telah menyemburkan dari mulutnya dan menyusulkan sebuah totokan dengan ujung kipasnya. Gerakannya melompat seperti kilat menyambar dengan cepatnya sehingga tidak terduga-duga oleh Bayisan yang lebih dulu sudah tersembur arak pada punggungnya. Robohlah tokoh Khitan itu, terguling telentang. Ia berusaha bangkit namun tak berhasil dan roboh lagi. Di lain saat Kwee Seng sudah berdiri di dekatnya dan menudingkan gagang kipas pada dadanya. Kini suara Kwee Seng keren berpengaruh.

“Bayisan ? Kau terhitung apa dengan Kalisani?” Bayisan orangnya cerdik sekali. Kalau perlu ia sanggup bersikap pengecut untuk menyelamatkan diri. Seketika ia mengerti bahwa nyawanya tergantung pada jawabannya ini. Tanpa ragu-ragu ia berkata, “Dia Kakak Misanku, tunggu saja kau akan pembalasannya karena kau berani menghinaku!”

Kwee Seng tertawa bergelak dan melangkah mundur. “Ho-ho-ha-ha ! Kau hendak menggunakan nama Kalisani untuk menakut-nakuti aku ? Aha, lucu ! Justeru karena engkau saudara misannya, justeru karena memandang mukanya, aku mengampuni jiwamu yang kotor, bukan sekali-kali karena aku takut kepadanya. Huh, manusia rendah yang mencemarkan nama besar orang-orang gagah Khitan!” Kwee Seng meludah, mengenai muka Bayisan, lalu pemuda ini meninggalkan Bayisan, berlari cepat ke dusun.

matanya bercucuran, akan tetapi kini gadis itu sudah dapat mulai bergerak-gerak lemah. Kwee Seng cepat menggunakan ujung kipasnya menotok jalan darah dan terbebaslah Kui Lan. Gadis ini meloncat bangun, mukanya membayangkan kemarahan besar. Ia bersikap seperti orang hendak bertempur, kedua tangannya yang kecil mengepal, matanya berapi-api memandang ke sana ke mari, mencari-cari. “Mana dia ? Mana jahanam terkutuk itu ? Aku hendak mengadu nyawa dengan jahanam itu!”

“Tenanglah, Nona. Bayisan sudah pergi kupancing dia keluar dusun dan dia sekarang terbaring di sana, tertotok gagang kipasku. Untung bahaya lewat sudah, Nona, dan kiranya tak baik menimbulkan gaduh di hotel ini sehingga memancing datang banyak orang dan akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang amat tak baik bagi nama Nona…”

Tiba-tiba Lai Kui Lan memandang Kwee Seng dan menjatuhkan diri di depan pemuda itu sambil menangis. Kwee Seng kebingungan dan menyentuh pundak gadis itu dengan halus. “Ah, apa-apaan ini Nona ?Mari bangkit dan duduklah, kalau hendak bicara, lakukanlah dengan baik, jangan berlutut seperti ini.”

Lai Kui Lan menahan isaknya, lalu bangkit dan duduk di atas kursi. Kwee Seng tetap berdiri dan menenggak araknya yang tidak habis-habis itu.

“Kwee-taihiap, kau telah menolong jiwaku…” “Ah, kau tidak terancam bahaya maut, bagaimana bisa bilang aku menolong jiwamu?”

“Kwee-taihiap bagaimana bisa bilang begitu ? Bahaya yang mengancamku di tangan jahanam itu lebih hebat daripada maut…” Gadis itu menangis lagi lalu cepat menghapus air matanya dengan saputangan. “Sampai mati aku Lai Kui Lan tidak dapat melupakan budi Taihiap…” Tiba-tiba sepasang pipinya menjadi merah dan sinar matanya menatap wajah Kwee Seng penuh rasa terima kasih.

Melihat sinar mata itu, Kwee Seng membuang muka dan menenggak araknya lagi. “Lupakanlah saja, Nona, dan berterima kasih kepada Tuhan bahwa kejahatan selalu pasti akan hancur.”

“Ah, di mana dia ? Aku harus membunuhnya ! Dia tertotok di luar dusun?” Setelah berkata demikian, gadis itu cepat ke luar dan berlari di dalam gelap.

Kwee Seng menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang Bayisan patut di bunuh, akan tetapi ia merasa tidak enak kepada Kalisani, tokoh Khitan yang dikagumi semua orang dunia kang-ouw. Maka ia tidak

menghendaki nona itu membunuh Bayisan, dan diam-diam ia mengikuti Lai Kui Lan dari jauh. Akan tetapi hatinya lega ketika ia melihat bahwa ketika Lai Kui Lan tiba di luar dusun, Bayisan sudah tak tampak lagi bayangannya. Kembali ia merasa kagum. Pemuda Khitan itu benar-benar luar biasa, dapat membebaskan diri dari totokan sedemikian cepatnya.

Ketika dengan hati kecewa Kui Lan kembali ke kamar itu, ia tidak melihat Kwee Seng, hanya melihat sehelai kertas bertulis di atas meja. Ia memungutnya dan membaca tulisan yang rapi dan bagus.

Para pelayan telah melihat nona datang bersama dia, tidak baik bagi nona tinggal lebih lama di tempat ini, lebih baik kembali.

Surat itu tak bertanda tangan, akan tetapi Kui Lan maklum siapa orangnya yang menulisnya. Dengan helaan napas panjang, lalu meloncat keluar lagi dan berlari-lari menuju benteng sutenya. Gadis ini tidak tahu bahwa diam-diam dari jauh Kwee Seng mengikutinya untuk menjaga kalau-kalau gadis ini bertemu lagi dengan Bayisan. Setelah gadis itu memasuki benteng, barulah ia berjalan perlahan kembali ke hotelnya, memasuki kamar lalu tidur dengan nyenyak.

Pada keesokan malamnya, Kwee Seng berjalan perlahan mendaki bukit Liong-kui-san. Baiknya malam hari itu angkasa tidak terhalang mendung sehingga bulan yang masih besar menyinar terang, menerangi jalan setapak yang amat sukar dilalui. Diam-diam pemuda ini kagum akan keadaan gunung yang tak dikenalnya ini, bergidik menyaksikan jurang-jurang yang amat dalam, dan ia merasa menyesal mengapa ia kemarin minta supaya Lu Sian datang ke tempat seperti ini. Kalau ia tahu gunung ini begini berbahaya, tentu ia memilih tempat lain. Akan tetapi karena sudah terlanjur, dan ia maklum pula bahwa Lu Sian cukup pandai untuk untuk dapat mendaki gunung ini, ia melanjutkan pendakiannya.

Tepat pada tengah malam ia tiba di puncak bukit. Puncak ini merupakan tempat datar yang luasnya lima belas meter persegi, ditumbuhi rumput tebal, dan di sebelah selatan dan barat merupakan tempat pendakian yang sukar, adapun di sebelah utara dan timur tampak jurang ternganga, jurang yang tak dapat dibayangkan betapa dalamya karena yang tampak hanya warna hitam gelap mengerikan. Jauh sebelah bawah, agaknya di jurang sebelah timur, terdengar suara air gemericik, akan tetapi tidak tampak airnya.

Ketika tiba di tempat itu, Kwee Seng menengok ke belakang dan menarik napas panjang. Sejak tadi ia tahu bahwa ada orang mengikutinya, dan tahu pula bahwa orang itu bukan lain adalah Lai Kui Lan. Ketika tiba di bagian yang sukar dan banyak batunya tadi, diam-diam ia menyelinap dan mengambil jalan lain turun lagi maka ia melihat bahwa orang yang membayanginya tadi itu adalah Lai Kui Lan. Ia diam saja dan tidak menegur, lalu melanjutkan perjalanannya, malah menjaga agar ia tidak mengambil jalan terlalu sukar agar nona yang membayanginya itu dapat mengikutinya dengan aman. Ia menduga-duga apa

maksud nona itu dan akhirnya ia mengambil kesimpulan bahwa nona itu tentu ingin pula melihat kelanjutan daripada urusannya dengan Lu Sian. Tiba-tiba ia teringat, Lu Sian seorang yang aneh wataknya. Kalau

diketahui bahwa ada orang ketiga hadir, tentu akan marah, bukan tak mungkin timbul keganasannya dan menyerang Kui Lan. Oleh karena inilah maka Kwee Seng tidak jadi naik, cepat ia berlari t! ur! un lagi menyongsong Kui Lan.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Kui Lan ketika melihat Kwee Seng secara tiba-tiba berdiri di depannya, tak jauh dari puncak. Mereka berdiri berhadapan saling pandang, dan Kui Lan menjadi makin gugup.

“Eh… ah… Kwee-taihiap….aku… aku ingin bercerita kepadamu tentang… tentang mengapa aku sampai datang bersama… jahanam itu. Karena aku tidak bisa menjumpai Taihiap di sana, aku… aku lalu datang ke sini karena kau tahu bahwa malam ini Taihiap tentu akan datang disini.” Kata-kata ini diucapkan tergesa-gesa dan tergagap sehingga Kwee Seng merasa kasihan, tidak mau menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mendesak.

“Kau aneh sekali, Nona Lai. Mengapakah kau hendak menceritakan hal itu ? Akan tetapi biarlah, karena kulihat bahwa orang yang hendak kujumpai di sini belum datang di puncak, baiklah kau bercerita. Nah, sekarang aku bertanya, bagaimana kau bisa bertemu dan tertawan oleh Bayisan ? Duduklah biar enak kita bicara.”

Lai Kui Lan bernapas lega, lalu ia duduk di atas sebuah batu, berhadapan dengan Kwee Seng yang duduk di atas tanah.

“Kemarin, setelah Taihiap meninggalkan aku di hutan itu.” Ia mulai bicara, suaranya menggetar, “aku tak dapat menahan hatiku yang merasa kasihan dan kagum kepada Taihiap. Aku kecewa karena Taihiap tidak sudi menerima undanganku, kami sesungguhnya membutuhkan petunjuk-petunjuk orang sakti seperti Taihiap. Aku tidak putus asa dan berusaha mengejar Tahiap yang menunggang kuda.” Ia berhenti sebentar untuk melihat dan menunggu reaksi dari Kwee Seng, akan tetapi pemuda ini diam saja maka ia melanjutkan ceritanya.

“Setelah keluar dari hutan itu, tiba-tiba muncul Bayisan. Dia menyatakan kehendaknya, yaitu bermaksud untuk membujuk sute untuk bersekutu dengan orang-orang Khitan. Tentu saja aku menjadi marah dan memaki lalu kami bertempur dengan kesudahan aku kalah dan tertawan. Dia lihai bukan main,orang Khitan keparat itu. Demikianlah, dalam keadaan tak berdaya aku dibawa ke rumah penginapan itu. Untung Tuhan melindungi diriku sehingga dapat bertemu dengan Taihiap. Kwee-taihiap, kuulangi lagi permohonanku, sudilah kiranya Taihiap berkunjung ke benteng, berkenalan dengan Suteku dan kami mohon petunjuk-petunjuk dari Tahiap dalam suasana yang kacau balau ini. Kami seakan-akan hampir kehilangan pegangan, Taihiap, demikian banyaknya muncul raja-raja yang membangun kerajaan-kerajaan kecil sehingga sukar bagi kami untuk menentukan nama yang baik dan mana yang buruk.”

Di dalam hatinya Kwee Seng memuji. Nona ini, seperti juga Kam Si Ek, adalah seorang yang amat cinta kepada negara, orang-orang berjiwa patriot yang akan rela mengorbankan jiwa raga demi negara dan bangsa. Tak enaklah kalau menolak terus.

“Baiklah, Nona Lai. Setelah selesai urusanku di sini, aku akan singgah di benteng Jenderal Kam.”

“Terima kasih, Taihiap, terima kasih…!” Dengan suara penuh kegembiraan Kui Lan menjura, berkali-kali.

“Ssttt, ada orang di puncak. Nona Lai, karena kau sudah terlanjur berada di sini, aku pesan, kau bersembunyilah dan jangan sekali-kali kau keluar, jangan sekali-kali memperlihatkan diri, apapun juga yang terjadi. Maukah kau memenuhi permintaanku ini?”

Lai Kui Lan dapat mengerti isi hati Kwee Seng, dengan muka sedih ia mengangguk. Akan tetapi karena muka itu tertutup bayangan, Kwee Seng tidak melihat kesedihan ini, Kwee Seng lalu bangkit dan meninggalkan Kui Lan, mendaki puncak. Benar saja dugaannya, ketika ia tiba di puncak, di sana telah berdiri Liu Lu Sian. Bukan main jelitanya gadis ini. Di bawah sinar bulan yang tak terhalang sesuatu, gadis ini seperti seorang dewi dari khayangan. Sinar bulan membungkus dirinya, rambutnya mengeluarkan cahaya, matanya seperti bintang.

“Kiranya kau tidak lupa akan janjimu. Kwee Seng, aku sudah berada di sini, siap menerima ilmu seperti yang kau janjikan dahulu.” Kata Liu Lu Sian, akan tetapi suaranya amat tidak menyenangkan hati, karena terdengar dingin, alangkah jauh bedanya dengan pribadinya yang seakan-akan menciptakan kehangatan dan kemesraan. Ia tahu bahwa gadis itu selain tidak membalas cinta kasihnya, juga mendendam kepadanya. Karena itu, ia pun tidak mau menggunakan sebutan moi-moi (adinda), karena kuatir kalau-kalau hal itu akan menambah kemarahan Si Gadis dan akan menimbulkan cemoohan terhadap dirinya yang sudah terang tergila-gila kepada Lu Sian.

“Lu Sian, sebetulnya ilmu yang kupergunakan untuk menandingimu dahulu itu hanyalah Ilmu Silat Pat-sian-kun biasa saja.”

“Tak perlu banyak alasan, Kwee Seng. Kalau ada ilmu yang hendak kau turunkan kepadaku seperti janjimu, lekas beri ajaran!”

Kwee Seng menggigit bibirnya, lalau berkata, “Kau lihatlah baik-baik. Inilah ilmu silat itu.” Ia lalu bersilat dengan gerakan lambat dan memang ia mainkan Ilmu Silat Pat-sian-kun-hwat dengan tangan kosong, akan tetapi jelas bahwa gerakan-gerakan ini diperuntukkan senjata pedang. Sebetulnya ilmu silat ini ada enam puluh jurus banyaknya. Akan tetapi ketika Kwee Seng menerima petunjuk dari Bukek Siansu Si Manusia Dewa, ia hanya meringkasnya menjadi seperempatnya saja, jadi hanya enam belas jurus inti yang sudah meliputi seluruhnya dan mencakup semua gerak kembang atau gerak pancingan, gerak serangan atau gerak pertahanan. Setelah mainkan enam belas jurus itu, Kwee Seng berhenti dan memandang kepada Lu Sian sambil berkata.

“Nah, inilah ilmu silatku yang hendak kuajarkan kepadamu, Lu Sian, Sudahkah kau memperhatikan gerakannya ? Harap kau coba latih, mana yang kurang jelas akan kuberi penjelasan.”

“Ah, kau membohongi aku!” Lu Sian berseru marah. “Ilmu silat macam itu saja, dilihat dari gerakannya jauh kalah lihai daripada Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Ayah ! Mana bisa kaukalahkan aku dengan ilmu itu ? Kwee Seng, aku tahu, setelah kau tidak bisa mendapatkan cintaku, kau hendak membalasnya dengan menyuguhkan ilmu silat pasaran untuk menghinaku!”

Gemas hati Kwee Seng, dan perih perasaannya. Gadis ini terlalu kejam kepada orang yang tidak menjadi pilihan hatinya. “Lu Sian, sipa membohongimu ? Ketika aku menghadapimu dahulu, aku tidak menggunakan ilmu lain kecuali ini!”

“Aku tidak percaya ! Coba kau sekarang jatuhkan aku dengan ilmu itu!”

“Baiklah. Biar kugunakan ini sebagai pedang.” Kwee Seng mengambil sebuah ranting pohon yang berada di tempat itu. “Kau mulailah dan lihat baik-baik, aku hanya akan menggunakan Pat-sian-kun!”

Lu Sian mencabut pedangnya, lalu menerjang dengan gerakan kilat, mainkan jurus berbahaya dari ilmu pedang ciptaan ayahnya, yaitu Pat-mo Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis) yang memang diciptakan untuk menghadapi Pat-sian-kun (Ilmu Silat Delapan Dewa).

Melihat pedang nona itu berkelebat menusuk ke arah dadanya dengan kecepatan luar biasa, Kwee Seng menggeser kakinya ke kiri lalu ranting di tangan kanannya melayang dari samping menempel pedang dari atas dan menekan pedang lawan itu ke bawah disertai tenaga sin-kang. Pedang Lu Sian tertekan dan tertempel seakan-akan berakar pada ranting itu ! Betapapun Lu Sian berusaha melepaskan pedang, sia-sia belaka.

“Nah, tangkisan ini dari jurus keempat yaitu pat-sian-khat-bun (Delapan Dewa Buka Pintu) dan dapat dilanjutkan dengan serangan jurus ke delapanPat-sian-hian-hwa (Delapan Dewa Serahkan Bunga), pedang menyambar sesuka hati, boleh memilih sasaran, akan tetapi untuk contoh aku hanya menyerang bahu.” Tiba-tiba ranting yang tadinya menekan pedang itu lenyap tenaga tekannya dan selagi pedang Lu Sian yang telepas dari tekanan ini meluncur ke atas, ranting cepat melesat dan menyabet bahu kanan Lu Sian !

Lu Sian meringis, tidak sakit, akan tetapi amat penasaran. “Coba hadapi ini!” teriaknya dan pedangnya membuat lingkaran-lingkaran lebar, dari dalam lingkaran itu ujung pedang menyambar-nyambar laksana burung garuda mencari mangsa, mengancam tubuh bagian atas dari lawan.

“Seranganmu ini kuhadapi dengan jurus ke lima yang disebut Pat-sian-hut-si (Delapan Dewa Kebut Kipas) untuk melindungi diri.” Kata Kwee Seng dan tiba-tiba ranting di tangannya berputar cepat merupakan segunduk sinar bulat melindungi tubuh atasnya dan dilanjutkan dengan serangan jurus ke empat belas yang disebut Delapan Dewa Menari Payung!” Tiba-tiba gulungan sinar bulat itu berubah lebar seperti payung dan tahu-tahu dari sebelah bawah, ranting telah meluncur dan menyabet paha Lu Sian sehingga mengeluarkan suara “plak!” keras. Kalu saja ranting itu merupakan pedang tentu putus paha gadis itu !

“Aduh …!” Lu Sian menjerit karena pahanya yang disabet terasa pedas dan sakit. “Kwee Seng, kau kurang ajar…!”

“Maaf, bukan maksudku menyakitimu. Sudah percayakah kau sekarang?”

“Tidak ! Kau akali aku ! Aku minta kau ajarkan ilmu-ilmi silatmu yang terkenal, seperti Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Menaklukan Lautan), atau Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang), atau Ilmu Pukulan Bian-sin-kun (Tangan Sakti Kapas)!”

Kwee seng terkejut. Bagaimana nona ini bisa tahu akan ilmu-ilmu silat rahasia simpanannya itu ? Ia menjadi curiga. Kalau Pat-jiu Sin-ong mungkin tahu, akan tetapi nona ini ? Suaranya keren berwibawa ketika ia menjawab.

“Liu Lu Sian, harap kau jangan minta yang bukan-bukan. Aku hanya hendak mengajarkan kau Pat-sian-kun, dan kau harus menerima apa yang hendak kuberikan kepadamu.”

“Kau hendak melanggar janji??” “Sama sekali tidak. Aku berjanji kepada ayahmu hendak mengajarkan ilmu yang dapat mengalahkan ilmu pedangmu itu, dan kurasa Pat-sian-kun yang dapat menjadi Pat-sian Kiam-hoat dapat mengalahkan ilmu pedangmu Pat-mo Kiam-hoat!”

“Hoa-ha-ha-ha ! Kau menggunakan akal untuk menipu anak kecil, Kwee-hiante. Sungguh keterlaluan sekali!”

Kwee Seng kaget dan cepat menengok. Kiranya Pat-jiu Sin-ong sudah berdiri disitu, tinggi besar dan bertolak pinggang sambil tertawa. Cepat Kwee Seng memberi hormat sambil berkata, “Ah, kiranya Beng-kauwcu telah berada disini!” Akan tetapi di dalam hatinya ia tidak senang dan tahulah ia sekarang mengapa Lu Sian mengenal semua ilmu simpanannya, tentu sebelumnya telah diberi tahu oleh orang tua ini yang hendak mempergunakan puterinya untuk menjajaki kepandaiannya dan kalau mungkin mempelajari ilmu simpanannya. “Beng-kauwcu, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku menggunakan akal untuk menipu puterimu?”

“Ha-ha-ha ! Kau bilang tadi bahwa Pat-sian-kun dapat menangkan Pat-mo Kiam-hoat ! Tentu saja kau dapat menangkan Lu Sian karena memang tingkat kepandaianmu agak lebih tinggi daripada tingkatnya.” Dengan ucapan “agak lebih tinggi” ini terang orang tua itu memandang rendah kepada Kwee Seng, akan tetapi pemuda itu mendengarkan dengan tenang dan sabar. “Andaikata aku yang mainkan Pat-mo

Kiam-hoat, apakah kau juga masih berani bilang dapat mengalahkannya dengan Pat-sian-kun?”

“Orang tua yang baik, mana aku yang muda berani main-main denganmu? Kita sama-sama tahu bahwa ilmu silat sama sekali bukan merupakan syarat mutlak untuk menangkan pertandingan, melainkan tergantung daripada kemahiran seseorang. Betapa indah dan sulitnya sebuah ilmu kalau si pemainnya kurang menguasai ilmu itu, dapat kalah oleh seorang ahli mainkan sebuah ilmu biasa saja dengan mahir. Puterimu dahulu kuhadapi dengan Pat-sian-kun, hal ini kau sendiri tahu. Aku berjanji hendak menurunkan ilmu yang kupakai mengalahkan dia, malam ini kuturunkan kepadanya Pat-sian-kun, apalagi yang harus diperbincangkan?”

“Orang muda she Kwee ! Dua kali kau menghina kami keluarga Liu!” Si Ketua Beng-kauw membentak, suaranya mengguntur sehingga bergema di seluruh punucak, membikin kaget burung-burung yang tadinya mengaso di pohon. Dari jauh terdengar auman binatang-binatang buas yang merasa kaget pula mendengar suara aneh ini.

“Pa-jiu Sin-ong, aku tidak mengerti maksudmu.” Jawab Kwee Seng, tetap tenang.

“Dengan setulus hati aku menjatuhkan pilihanku kepadamu, aku akan girang sekali kalau kau menjadi suami anakku. Akan tetapi kau pura-pura menolak ketika berada di sana. Ini penghinaan pertama. Kemudian kau mengadakan perjalanan dengan puteriku, kuberi kebebasan karena memang aku senang mempunyai mantu engkau. Dalam perjalanan ini kau jatuh cinta kepaa Lu Sian, sikapmu menjemukan seperti seorang pemuda lemah. Ini masih kumaafkan karena memang kukehendaki kau mencintainya dan menjadi suaminya. Akan tetapi Lu Sian meliha kelemahanmu dan tidak mau membalas cintamu, melainkan mengharapkan ilmumu. Dan sekarang, kau yang katanya mencintainya mati-matian, ternyata hanya hendak menipunya, karena kalau betul mencinta, mengapa tidak rela mewariskan ilmu simpananmu ? Inilah penghinaan ke dua!”

Panas hati Kwee Seng. Terang sudah sekarang bahwa orang tua ini secara diam-diam mengawasi gerak-geriknya. Ia menjadi malu sekali mengingat akan kebodohan dan kelemahannya. Akan tetapi orang tua ini terang berlaku curang dan tak tahu malu.

“Pat-jiu Sin-ong ! Sama kepala lain otak, sama dada lain hati ! kau menganggap aku menipu, aku menganggap kau dan puterimu yang hendak mendesakku dan bahkan kau hendak menggunakan rasa hatiku yang murni terhadap puterimu untuk memuaskan nafsu tamakmu akan ilmu silat. Tidak, beng-kauwcu aku tetap dengan pendirianku, karena Pat-sian-kun yang mengalahkan Pat-mo-kun yang dipergunakan puterimu, maka sekarang aku hanya dapat menurunkan Pat-sian-kun saja.”

“Singgg!!!” Tiada menduga, kilat menyambar. Kiranya kilat itu keluar dari pedang di tangan Pat-jiu Sing-ong yang telah dihunusnya secara cepat sekali sehingga seperti main sulap saja, tahu-tahu di tangannya sudah ada sebatang pedang yang kemilau. Inilah Beng-kong-kiam (Pedang Sinar Terang) yang sudah puluhan tahun menemani tokoh ini merantau sampai jauh ke barat, pedang yang minum entah berapa banyaknya darah manusia.

“Kalau begitu, kau cobalah hadapi Pat-mo-kiam dengan begitu Pat-sian-kiam !” teriaknya.

Terkejutlah Kwee Seng. Menghadapi seorang tokoh seperti Pat-jiu Sin-ong, bukanlah hal main-main, karena berarti merupakan pertempuran selama dua hari dua malam melawan Ban-pi Lo-cia berkesudahan seri, tiada yang kalah atau menang. Ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya kepandaian kakek ini, dan sekarang kakek ini mengajak ia bertanding pedang ! Dia tidak mempunyai pedang, biasanya ia menggunakan suling sebagai pengganti pedang. Akan tetapi sulingnya tidak ada lagi ! Namun Kwee Seng adalah seorang pemuda gemblengan yang telah memiliki batin yang kuat sekali. Kalau baru-baru ini batinnya tergoncang dan lemah oleh asmara, hal ini tidaklah aneh karena ia masih muda, tentu saja menghadapi Dewi Asmara ia tidak akan kuat bertahan ! Dengan sikap tenang Kwee Seng mengambil ranting yang tadi ia lepaskan di atas tanah lalu menghadapi kakek itu sambil berkata.

“Pat-jiu Sin-ong, aku tidak mempunyai senjata lainnya selain ini. Kalau kau bertekad hendak memaksaku, silakan.”

“Ha-ha-ha-ha, Kwee Seng. Coba kau keluarkan Pat-sian-kun yang kau agung-agungkan itu menghadapi Pat-mo-kun ! Lu Sian, mundur kau jauh-jauh dan jangan sekali-kali campur tangan!” Lu Sian meloncat mundur, menonton dari pinggir jurang.

Pat-jiu Sin-ong memutar-mutar pedangnya di atas kepala sambil tertawa bergelak. Hebat sekali kakek ini. Pedangnya yang diputar di atas kepala itu berdesingan mengaung-ngaung seperti suara sirene dan lenyaplah bentuk pedang, berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang melebihi sinar bulan terangnya

“Kwee Seng, inilah jurus ke tiga dari Pat-mo-kun, sambutlah!” teriak pat-j iu-Sin-ong, disusul dengan menyambarnya sinar terang ke arah Kwee Eng.

Karena Pat-mo Kiam-hoat ini sengaja dicipta untuk menghadapi Pat-sian Kiam-hoat, maka tentu saja gerakannya ada persamaan dan Kwee Seng mengenal baik gaya serangan ini, akan tetapi ia maklum bahwa jurus ini kalau dimainkan oleh pat-jiu Sin-ong amatlah jauh bedanya dengan permainan Lu Sian. Jurus apa saja kalau diperagakan oleh tangan kakek Ketua Beng-kauw ini merupakan jurus maut yang amat hebat dan berbahaya. Sekali pandang ia tahu bahwa jurus lawannya ini harus ia hadapi dengan Pat-sian-kun, jurus ke sebelas. Setiap jurus Pat-sian-kun yang sudah ia ringkas itu dapat menghadapi empat macam jurus lawan. Sambil mengerahkan tenaganya ia menggerakkan ranting di tangan kanannya, memutar-mutar ranting itu seperti gerakan seekor ular berenang. Dengan tepat rantingnya berhasil menangkis pedang.

“Krakkkk!” Ranting itu patah menjadi dua. Pat-jiu Sin-ong menarik pedangnya sambil tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha-ha, kau sungguh tak memandang mata kepadaku, Kim-mo-eng ! Apa kaukira dapat mempermainkan aku hanya dengan sepotong ranting saja seperti yang kaulakukan kepada Lu Sian?”

“Kau tahu bahwa aku tidak memiliki senjata pedang, Pat-jiu Sin-ong.” Jawab Kwee Seng dengan sikap tenang, akan tetapi diam-diam ia senang juga karena ternyata Ketua Beng-kauw ini biarpun wataknya aneh dan kadang-kadang kejam ganas, namun masih memiliki kegagahan seorang tokoh besar sehingga

tadi menarik kembali pedangnya karena senjata lawan yang tak berimbang kekuatannya itu patah.

“Lu Sian, kaupinjamkan pedangmu kepadanya, biar dia mencoba membuktikan omongannya bahwa Pat-sian-kun dapat mengalahkan Pat-mo-kun kita.”

Lu Sian mengeluarkan suara ketawa mengejek mencabut pedangnya dan melontarkannya ke arah Kwee Seng. Jangan dipandang ringan lontaran ini, karena pedang itu bagaikan anak panah terlepas dari busurnya terbang ke arah Kwee Seng.Ahli silat biasa saja tentu akan “termakan” oleh pedang terbang ini. Akan tetapi dengan tenang Kwee Seng mengulur tangan dan tahu-tahu ia telah menangkap pedang itu dari samping tepat pada gagangnya.

“Ha-ha-ha, sekarang kau sudah bersenjata pedang. Kalau kalah jangan mencari alasan lain. Awas, sambut ini jurus ke tujuh Pat-mo-kun!” kata Pat-jiu Sin-ong sambil menggerakkan pedangnya membabat ke arah iga kiri Kwee Seng dilanjutkan dengan putaran pedang membalik ke atas menusuk mata kanan.

Diam-diam Kwee Seng mendongkol. Terang bahwa Ketua Beng-kauw ini sengaja mengejek dan memandang rendah kepadanya sehingga setiap menyerang menyebut urutan nomor jurus Pat-mo-kun. Kalau ia tidak memperhatikan kelihaiannya, kakek yang sombong ini akan menjadi semakin sombong, pikirnya. Maka ia cepat memutar pedang pinjamannya itu, pedang yang amat ringan dan enak di pakai. Tahu bahwa pedang Toa-hong-kiam ini merupakan pedang pusaka yang ampuh juga, hatinya besar dan cepat ia mainkan Pat-sian Kiam-sut dengan pengerahan tenaga sin-kangnya. Dua kali serangan lawan dapat ia tangkis dengan meminjam tenaga lawan kemudian pedangnya terpental seperti terlepas dari tangannya, padahal sebetulnya terpentalnya pedang itu terkendali sepenuhnya oleh tenaga sin-kangnya, maka dapat ia atur sehingga pedang itu terpental dengan ujungnya mengarah tenggorokan lawan yang sama sekali tidak menyangkanya. Pat-jiu Sin-ong diam-diam kaget juga,karena ia tiidak mengira bahwa serangan pertamanya itu se! ak! an-akan malah dijadikan batu loncatan oleh Kwee Seng sehingga bukan merupakan serangan lagi melainkan merupakan tenaga bantuan bagi lawan untuk balas menyerang dengan tenaga sedikit namun dapat mematikan!

Ketika Pat-jiu Sin-ong menarik kembali pedangnya dan menangkis sambil menggetarkan pedangnya untuk membuka kesempatan serangan balasan, kembali pedang Kwee Seng yang tertangkis itu terpental dan langsung membabat leher! Kaget sekali hati Pat-jiu Sin-ong. Bukan kaget menghadapi serangan ini bainya mudah saja menghindari diri daripada babatan. Akan tetapi yang mengejutkan hatinya adalah menyaksikan perubahan jurus-jurus Ilmu Silat Pat-sian-kun ini. Ia mengenal bahwa semua gerakan Kwee Seng adalah benar-benar Pat-sian-kun dimainkan seperti ini sehingga menjadi ilmu silat yang lihai sekali dan benar-benar ia melihat bahwa kalau ia melanjutkan serangan-serangan dengan Pat-mo-kun, ia selalu akan terserang oleh Kwee Seng karena setiap kali ia menangkis dengan jurus Pat-mo-kun, pedang di tangan Kwee Seng yang tertangkis itu terpental dan langsung menjadi jurus lain yang melanjutkan serangan!

Pat-jiu Sin-ong mengeluarkan seruan keras, lengking suaranya hebat sekali, seakan-akan menggetarkan bumi yang berada di bawah kaki, gemanya sampai panjang susul-menyusul di kanan kiri puncak. Kwee Seng cepat mengerahkan sin-kangnya karena jantungnya berguncang mendengar lengking tinggi ini. Diam-diam ia makin kagum. Kakek ini bukan main hebatnya, dan lengking tadi tak salah lagi tentulah Ilmu Coan-im-I-hun-to (Ilmu Kirim Suara Pengaruhi Semangat Lawan) yang terkenal sekali dari Ketua Beng-kauw. Kalau saja sin-kangnya tidak sudah amat kuat, tentu ia akan menjadi setengah lumpuh mendengar seruan ini, bahkan ia percaya mereka yang tidak memiliki ilmu tinggi, mendengar lengking ini bisa jantungnya dan tewas seketika ! Ia dapat melindungi jantung dan perasaannya daripada pengaruh lengking tadi, sedangkan permainan pedangnya tetap tenang dan selalu menggunakan kesempatan melanjutkan serangan-serangan yang terus ia dasa! rk! an pada Ilmu Silat Pat-sian-kun. Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang satria perkasa, sekali berjanji hendak menggunakan Pat-sian-kun, ia akan terus menggunakan ini, biar andaikata ia terancam bahaya maut sekalipun !

Setelah gema suara lengking itu mereda, Kwee Seng sambil menusukkan pedangnya ke arah pusar lawan dengan jurus Pat-sian-lauw-goat (Delapan Dewa Mencari Bulan) berkata, “Orang tua, apakah begitu perlu Pat-mo-kun harus kaubantu dengan Coan-im-kang (Tenaga Mengirim Suara) untuk mengalahkan pat-sian-kun?”

Merah wajah Pat-jiu Sin-ong. Ia mengerahkan tenaga menangkis tusukan ke arah pusar sambil menjawab. “Pat-mo Kiam-sut belum kalah, jangan kau banyak tingkah dan menjadi sombong!”

Akan tetapi ketika pedang Kwee Seng tertangkis pedang itu kembali sudah terpental dan membentuk jurus Pat-sian-ci-lou (Delapan Dewa Menunjuk Jalan) yang menusuk ke arah leher. Gerakan Kwee Seng begitu cepat dan susulan serangannya secara otomatis sehingga lawannya tiada kesempatan untuk membalas. Karena jelas bahwa Pat-mo-kun selalu “tertindih” oleh Pat-sian-kun, makin lama makin panaslah hati Pat-jiu Sin-ong, yang membuat dadanya serasa akan meledak ! Ia menggereng dan kini Pat-mo Kiam-sut ia mainkan cepat sekali dalam usahanya untuk mendobrak dan membobol garis kurungan Pat-sian-kun. Pedangnya bergulung-gulung merupakan sinar terang, berubah-ubah bentuknya, kadang-kadang merupakan sinar bergulung-gulung membentuk lingkaran-lingkaran. Hebat sekali memang Pat-mo Kiam-sut yang diciptakan oleh kakek sakti itu.

Namun Kwee Seng sudah mengetahui rahasia Pat-mo-kun, karena sesungguhnya Pat-mo-kun diciptakan dengan dasar Pat-sian-kun dan Kwee Seng adalah seorang ahli Pat-sian-kun. Maka pemuda sakti ini dapat menggerakkan pedangnya yang selalu mengatasi gerakan lawan, selalu mengurung dan selalu menindih, sebagian besar dia yang menyerang. Lingkaran-lingkaran yang dibentuk oleh gulungan sinar pedangnya lebih luas dan lebih lebar, seakan-akan “menggulung” lingkaran sinar Pat-jiu Sin-ong !

Dua jam lebih mereka bertanding dan selama ini Pat-jiu Sin-ong selalu mainkan Pat-mo-kun sedangkan
di lain pihak Kwee Seng mainkan Pat-sian-kun. Biarpun Kwee Seng juga tidak pernah dapat menyentuh
lawan dengan pedangnya, namun dalam pertandingan selama dua jam ini, jelas bahwa Pat-sian-kun lebih

unggul karena delapan puluh prosen Kwee Seng menyerang sedangkan lawannya selalu harus mempertahankan diri dengan sekali waktu membalas serangan yang tiada artinya.

Makin lama pat-jiu Sin-ong makin marah. Bukan marah kepada Kwee Seng melainkan panas perutnya karena benar-benar Pat-mo Kiam-sut tidak dapat mengatasi Pat-sian-kun. Memang watak ketua Beng-kauw ini aneh sekali, tidak mau ia dikalahkan. Ia sebenarnya amat suka kepada Kwee Seng, bahkan ia akan merasa gembira sekali kalau puteri tunggalnya dapat menjadi isteri Kwee Seng ini yang ia kagumi. Akan tetapi kalau ia harus kalah, nanti dulu ! Watak ini pula agaknya yang menurun kepada Lu Sian.

“Kwee Seng ! Kalau Pat-mo-kun tidak dapat mengatasi Pat-sian-kun, itupun belum cukup menjadi alasan untukmu menurunkannya kepada anakku ! Apa artinya Pat-sian-kun yang biarpun sedikit lebih unggul dan dapat mengalahkan ilmuku yang lain, bukan hanya Lu Sian, aku sendiri akan membuang semua ilmu silatku dan hanya mempelajari satu macam ilmu saja, yaitu Pat-sian-kun!” Setelah berkata demikian, kakek itu kini memutar pedangnya sedemikian hebatnya sehingga gulungan sinarnya bergelombang datang hendak menelan Kwee Seng ! Di samping gelombang gulungan sinar pedang itu, masih terdengar angin menderu menyambar ketika tangan kiri kakek itu ikut menerjang dengan dorongan-dorongan jarak jauh yang mengandung angin pukulan kuat sekali !

“Hei…hei…! Orang tua, apakah kepalamu kebakaran ? Hati boleh panas kepala harus tetap dingin!” Kwee Seng sibuk sekali memutar pedangnya untuk melindungi diri sambil mengucapkan kata-kata memperingatan.

“Ha-ha-ha, orang muda, kau mulai takut?”

Kata-kata takut adalah pantangan bagi semua orang gagah, tak terkecuali Kwee Seng. Mendengar ia disangka takut, hatinya panas sekali. “Siapa takut?” bentaknya dan pandangnya berkelebat-kelebat dalam usaha membalas serangan.

Namun, Pak-sian Kiam-sut kurang lengkap kalau harus melayani gelombang serangan ilmu pedang itu apalagi masih dibantu dengan sambaran angin pukulan tangan kiri yang demikian ampuhnya. Kwee Seng masih terus mempertahankan dengan permainan Pat-sian Kiam-hoat, dan biarpun ia mampu membendung gelombang serangan, namun ia terdesak dan harus mundur-mundur ke arah jurang hitam !

“Ha-ha-ha, Kim-mo-eng ! Begini sajakah kepandaianmu ? Apakah kau hanya mengandalkan Pat-sian-kun untuk menjagoi dan mengangkat nama sebagai seorang pendekar sakti ? Ha-ha-ha, sungguh lucu!” Pat-jiu Sin-ong tertawa bergelak.

Kwee Seng biarpun sudah menerima gemblengan semenjak kecil, namun ia tetap masih seorang pemuda yang kalau dibandingkan dengan pat-jiu Sin-ong, tentu saja kalah pengalaman dan kalah cerdik. Ia tidak mengira sama sekali bahwa kakek itu memang sengaja menyerangnya dengan ilmu silat pilihan untuk mendesaknya dan sengaja pula memanaskan hatinya agar ia suka menggunakan ilmu simpanannya. Kakek yang haus akan ilmu silat itu menggunakan semua ini untuk memancing keluar ilmu-ilmu simpanannya ! Kwee Seng tidak menduga akan hal ini, maka mendengar ejekan itu ia lalu berseru keras dan tiba-tiba angin yang mengeluarkan suara bersiutan menyambar dari tangan kirinya yang sudah mengeluarkan kipasnya ! Kini ia merasa dirinya lengkap ! Tangan kanan memegang pedang mainkan Pat-sia Kiam-hoat sedangkan tangan kiri memegang kipas mainkan Ilmu Kipas Lo-hai-san-hoat ! Bukan main hebatnya.

Namun pasangan ilmu pedang dan ilmu kipas yang selama ini mengangkat namanya sehingga ia dijuluki Kim-mo-eng, hanya dapat membendung gelombang penyerangan Pat-jiu Sin-ong saja, tanpa dapat banyak membalas. Karena ia tidak ingin terdesak terus ke pinggir jurang yang hanya tinggal tiga meter di belakangnya, terpaksa Kwee Seng merobah gerakan pedangnya dan kini pedangnya mulai main Ilmu pedang Cap-j it-seng-kiam yang jarang ia keluarkan karena ilmu pedang ini merupakan ilmu pedang rahasia yang menjadi inti sari daripada ilmu pedang simpanannya. Melihat pemuda itu mengeluarkan ilmu pedang simpanannya, diam-diam hati Pat-jiu Sin-ong menjadi girang sekali. Ia tahu bahwa mengalahkan pemuda ini bukan merupakan hal mudah dan memang maksudnya untuk dapat mengalahkannya cepat-cepat sebelum menguras dan mempelajari ilmu-ilmu pemuda ini yang benar-benar merupakan ilmu pilihan.

Hebat pertandingan itu dan diam-diam Kwee Seng harus mengakui bahwa selama hidupnya, baru kali ini ia menemui tanding yang luar biasa kuatnya. Bahkan harus ia akui bahwa kalau dibandingkan dengan Ban-pi Lo-cia, ketua Beng-kauw ini lebih kuat sedikit. Biarpun ia telah mengerahkan kepandaian dan tenaganya, tetap saja ia tidak mampu mendesak ke tengah. Apalagi ketika tiba-tiba ia teringat akan watak gila kakek ini yang ingin mengumpulkan semua ilmu hebat di dunia sehingga Kwee Seng yang sadar bahwa ia sedang dipancing, cepat-cepat mengacaukan gerakan Cap-jit-seng-kiam itu dengan ilmu silat lainnya.

Melihat perubahan ini, hati Pat-jiu Sin-ong yang tadinya kegirangan menjadi kecewa dan timbullah kemarahannya sehingga ia memperhebat permainannya untuk mendesak dan menekan Kwee Seng agar pemuda itu terpaksa mengandalkan Cap-jit-seng-kiam lagi. Sekarang waktu sudah berjalan tiga jam lebih dan subuh mulai membayang.

Pada saat Kwee Seng terdesak hebat, tiba-tiba pemuda ini berseru keras dan terhuyung-huyung ke belakang. Tadi ketika ia sedang sibuk mempertahankan diri menghadapi gelombang serangan, tiba-tiba telinganya menangkap bunyi mendesir dari arah kiri. Ia terkejut sekali, maklum bahwa ada senjata rahasia yang amat halus menghujaninya, cepat ia mengebutkan kipasnya dan berhasil menyampok banyak sekali jarum-jarum halus, akan tetapi sebatang jarum masih berhasil memasuki pundaknya, mendatangkan rasa

sakit sekali. Pundaknya seketika menjadi kaku dan setengah lumpuh, juga rasa gatal membuktikan bahwa jarum itu mengandung racun jahat. Kwee Seng terhuyung ke belakang dan terpaksa melepaskan pedang di tangan kanannya yang sudah menjadi lumpuh dan pada saat itu, kembali ia dihujani jarum yanglebih banyak lagi. Dalam keadaan terhuyung ini, Kwee Seng yang maklum bahwa jarum-jarum itu amat berbahaya, menyampok dengan kipa! sn! ya sambil melompat mundur, akan tetapi ia lupa bahwa ketika ia terhuyung-huyung ke belakang tadi ia telah mendekati jurang sehingga jarak satu meter. Maka ketika ia melompat ke belakang sambil menyampok kipasnya, memang ia dapat membebaskan diri daripada penyerangan jarum-jarum rahasia, namun tak dapat dicegah lagi tubuhnya terjerumus ke dalam jurang dan melayang-layang ke bawah tanpa dapat ditahannya ! Terdengar jerit mengerikan dari belakang semak-semak dan muncullah Lai Kui Lan yang lari ke tepi jurang sambil menangis.

“Pengecut keparat!” bentak Pat-jiu Sin-ong sambil lari dan menghantamkan pedangnya ke arah bayangan hitam yang tadi menyerangkan jarum-jarum rahasianya ke arah Kwee Seng.

“Locianpwe, saya membantumu…” Bayangan itu yang bukan lain adalah Bayisan si Orang Khitan, mengelak sambil memprotes. Akan tetapi pat-jiu Sin-ong Liu Gan tidak mempedulikan protes ini.

“Siapa butuh bantuanmu ? Kau pengecut curang patut mampus!” Pedangnya menyambar lagi akan tetapi alangkah herannya ketika bayangan hitam itu kembali dapat mengelak. Dua kali serangannya dapat dielakkan ! Ini tandanya bahwa orang muda ini bukanlah orang sembarangan.

“Siapa kau?” bentaknya, menahan serangannya karena gerakan pemuda itu menarik perhatiannya, membuatnya ingin tahu siapa gerangan pemuda yang dapat mengelak sampai dua kali ini.

“Saya bernama Bayisan dari Khitan musuh besar Kwee Seng…”

“Keparat orang Khitan ! Kau telah bersikap pengecut!” Kembali pat-jiu Sin-ong menyerang, kali ini lebih hebat. Bayisan gelagapan dan maklum bahwa ia tidak boleh main-main menghadapi kakek ini, maka ia cepat melompat ke belakang dan melarikan diri dalam gelap, Pat-jiu Sin-ong mengejar sambil memaki-maki.

Sementara itu, Liu Lu Sian yang pucat mukanya menyaksikan Kwee Seng terjerumus ke dalam jurang hitam yang hanya dapat berarti maut, merasa heran melihat seorang gadis pakain putih lari ke tepi jurang sambil menangis dan ketika ia mendekat, ia tekejut mengenal wanita itu sebagai wanita pakaian putih yang ia hadapi di atas genteng gedung dalam benteng Jenderal Kam Si Ek, gadis yang menjadi suci (kakak seperguruan) Kam Si Ek ! Pada saat itu, Lai Kui Lan membalikkan tubuhnya dengan pipi basah air mata ia mendamprat Lu Sian.

Lu Sian yang ingat bahwa gadis itu adalah kakak seperguruan Kam Si Ek yang di kaguminya, menjawab halus, “Cici yang baik, kalau memang sejak tadi kau mengintai, tentu kau maklum bahwa bukan aku maupun ayahku yang membuat Kwee Seng terjerumus ke dalam jurang, melainkan seorang yang mengaku bernama Bayisan dan yang sekarang dikejar-kejar ayah. Akan tetapi, engkau, bagaimana kau mengenal Kwee Seng dan mengapa pula kau menangisinya?”

Tiba-tiba wajah Kui Lan menjadi merah sekali. Dia seorang gadis yang jujur, maka dengan menabahkan hati ia berkata, “Kwee-taihiap telah menolongku daripada Si Laknat Bayisan. Aku berhutang budi, berhutang nyawa dan kehormatan kepada Kwee-taihiap ! Biarpun kau telah menyia-nyiakan cinta kasihnya, berlaku kejam kepadanya namun aku… aku… ah…” Ia menangis lagi.

“Cici ! Kau cinta padanya?” Perasaan Lu Sian tersinggung dan ia merasa kasihan juga pada gadis ini.

“Ya ! Aku cinta padanya ! Aku… aku… takkan sudi berjodoh dengan orang lain ! Sekarang ia telah tewas…ah, apa lagi yang kuharapkan di dunia ini ? Aku… aku akan berdoa selamanya untuk arwahnya…” Sambil terisak Kui Lan lalu membalikkan tubuh dan lari menuruni puncak dengan cepat sekali.

Lu Sian menarik napas panjang, diam-diam ia menyesal pula akan kesudahan pertandingan antara ayahnya dan Kwee Seng. Ia tidak membalas cinta kasih Kwee Seng karena hatinya sendiri sudah tercuri oleh kegagahan dan kejantanan kam Si Ek, akan tetapi ia pun tidak bisa membenci Kwee Seng, tidak menghendaki pendekar itu mati secara begitu menyedihkan.

Setelah malam mulai berganti fajar, ayahnya muncul. Lu Sian cepat menyongsong ayahnya dengan penuh harapan ayahnya dapat menangkap dan membunuh Bayisan yang mencurangi Kwee Seng. Akan tetapi wajah ayahnya muram dan terdengar ayahnya berkata marah. “Iblis jahanam Bayisan itu ! Kepandainnya boleh juga, ilmu lari cepatnya hebat dan ia menggunakan kegelapan malam menghilang dari kejaranku. Lu Sian, kau seorang gadis yang goblok sekali!”

Lu Sian membelalakkan matanya, terheran-heran mendengar teguran ayahnya. Akan tetapi, kalau ayahnya sedang marah, gadis ini tak berani banyak bicara, maklum bahwa kalau ayahnya marah sukar untuk dikendalikan.

Siapapun juga yang kau pilih, aku tentu tidak akan merasa cocok setelah kau menolak Kwee Seng.”

“Ayah, dalam soal perjodohan, aku ingin memilih sendiri. Aku tidak cinta kepada Kwee Seng, betapapun gagah dan pandai dia!”

“Huh ! Kau keras kepala dan sombong ! Tidak akan Kwee Seng ke dua di dunia ini.”

“Tidak ada Kwee Seng ke dua memang, akan tetapi pasti ada yang melebihi dia!”

“Tak mungkin ! Sudah, mari kita pulang saja. Kejadian ini benar-benar membikin hatiku penuh kekecewaan dan penyesalan.”

“Ayah, kau menyesal karena kau tidak dapat menguras kepandaian simpanan Kwee Seng. Kau tidak peduli tentang perjodohanku, asal kau dapat menambah ilmu-ilmu yang kau kumpulkan!”

Karena rahasianya ditebak tepat oleh puterinya, Pat-jiu Sin-ong menjdi marah. “Kau anak kecil tahu apa ? Betapa pun sukaku mengumpulkan ilmu, namun aku masih memikirkan calon suamimu. Kalau kau berjodoh dengan Kwee Seng, berarti sekali panah mendapatkan dua ekor harimau. Pertama, kau mendapat jodoh pemuda paling hebat di dunia, ke dua, setelah ia menjadi suamimu, berarti ia menjadi keluarga kita dan ilmu-ilmunya juga menjadi ilmu keluarga kita yang akan membikin Beng-kauw makin bersinar. Tolol kau. Hayo pulang!”

“Tidak, Ayah. Aku belum ingin pulang. Aku ingin berkelana.” Bantah Lu Sian yang sebenarnya ingin mendekati Kam Si Ek pujaan hatinya.

Pat-jiu Sin-ong melotot, akan tetapi hatinya sudah terlalu kecewa untuk memusingkan urusan ini. Sudah terlalu sering puterinya ini berkelana seorang diri dan ia pun tidak kuatir karena puterinya memiliki kepandaian yang lebih daripada cukup untuk menjaga diri.

“Sesukamulah, anak bandel. Akan tetapi kalau dalam waktu setahun kau tidak pulang membawa jodohmu yang setimpal, kau akan kucari dan kuseret pulang, kukurung dalam kamar sampai lima tahun tak boleh keluar. Sebaliknya kalau kau pulang membawa jodoh yang menyebalkan, akan kubunuh laki-laki itu dan kau akan kujodohkan dengan seorang anggota Beng-kauw pilihanku sendiri. Nah, kau

dengar baik-baik pesanku itu!” Setelah berkata demikian, kakek itu mendengus dan tubuhnya berkelebat lenyap dari situ.

Sejenak Liu Lu Sian tertegun. Betapa pun besar rasa sayang ayahnya terhadap dirinya, namun ayahnya berwatak keras dan ucapannya tadi tentu akan dipegang teguh. Bagaimana kalau kelak ayahnya tidak menyetujui pilihannya ? Ah, bagaimana nanti sajalah, demikian ia menghibur hati. Lalu ia memungut pedangnya yang tadi dilepaskan oleh Kwee Seng, sejenak berdiri di tepi jurang melongok ke bawah, bergidik melihat jurang yang hitam tak berdasar dan mendengar suara berkericiknya air jatuh di bawah, lalu ia menarik napas panjang dan berjalan pergi meninggalkan puncak itu

Ketika tubuhnya melayang ke bawah dengan kelajuan yang menyesakkan napas, Kwee Seng maklum bahwa nyawanya terancam maut yang ia sendiri tak mungkin dapat menolong. Ia terjatuh di tempat yang tak ia ketahui betapa dalamnya, yang gelap pekat tak tampak sesuatu di sekelilingnya. Oleh karena itu, ia tidak berani menggerakkan tubuh dan menyerahkan nasibnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Suatu sikap yang baik sekali dan patut dicontoh. Memang, sepandai-pandainya manusia, sekali-kali ia akan mengalami hal yang membuat ia sama sekali tidak mampu berdaya, dan di mana ikhtiar dan usaha sudah tiada gunanya lagi, memang jalan terbaik menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa keraguan lagi, sebulat-bulatnya.

Tepatlah kata para bijaksana bahwa segala sesuatu di dunia ini, kesudahannya berada dalam kekuasaan Tuhan. Apabila Tuhan menghendaki seseorang mati, biarpun si orang bersembunyi di lubang semut, maut pasti akan tetap akan datang menjemput. Sebaliknya, apabila Tuhan menghendaki seseorang tetap hidup, biarpun seribu bahaya datang mengurung, pasti ada jalan orang itu akan tertolong.

Kwee Seng sudah hampir pingsan karena napasnya sesak, kepalanya pening dan semangatnya serasa melayang-layang. Betapapun tabahnya, namun malapetaka yang dihadapinya ini membuatnya merasa ngeri, membayangkan apa yang akan menyambut tubuhnya yang pasti akan terbanting hancur luluh pada dasar jurang. Terlalu lama rasanya ia menanti, terlalu lama rasanya maut mempermainkan dirinya, tidak segera datang menjangkau. Ya Tuhan, bisiknya, mengapa sebelum mati hamba-Mu ini harus mengalami siksaan begini mengerikan ?

Tiba-tiba… “byuuurr!!” tubuhnya terhempas ke dalam air yang amat dingin. Sebagai seorang ahli silat yang ilmu kepandaiannya sudah amat tinggi, tubuh Kwee Seng segera membuat reaksi, bergerak membalik mengurangi tamparan air. Namun tetap saja ia merasa betapa kulit punggungnya seperti pecah-pecah, nyeri, perih dan panas rasanya. Untung baginya air itu cukup dalam sehingga ketika tubuhnya tenggelam, ia cepat menendang ke bawah dan tubuhnya muncul lagi ke permukaan air. Masih gelap pekat di situ, dan tiba-tiba Kwee Seng merasa serem dan terkejut karena tubuhnya terseret arus air

yang bukan main kuatnya. Kembali ia menyerahkan dirinya kepada Tuhan. Sekali tadi Tuhan telah menyelamatkannya, ini alamat baik, pikirnya. Ia hanya menggerakkan kaki tangan agar tubuhnya jangan tenggelam. Arus air itu kuat bukan main, tubuhnya dibawa berputar-putar sampai kepalanya menjadi pening. Kembali rasa takut mencekam hatinya. Ia berputaran, hal ini berarti bahwa ia terbawa oleh pusaran air ya! ng! kuat. Benar dugaannya, makin lama makin cepat ia berputaran dan tiba-tiba tubuhnya tanpa dapat ia pertahankan lagi, disedot ke dalam air !

Kwee Seng sudah siap. Ia mengambil napas cukup banyak dan ketika ia berada di bawah air ia menggerakkan kaki tangannya kuat-kuat sehingga ia berhasil bebas daripada pusaran air di bawah yang tidak sekuat di atas. Kini tubuhnya hanyut oleh arus dan ketika ia menggerakkan kakinya muncul kembali di permukaan air, hatinya girang melihat bahwa kini ia terbawa oleh air sungai yang sempit dan kuat arusnya, akan tetapi yang tidak begitu gelap lagi sehingga ia dapat melihat. Kanan kiri merupakan tebing tinggi, mungkin ada lima ratus meter tingginya, tebing batu gunung yang hijau berkilau dan licin rata. Akan tetapi sungai kecil itu ternyata cukup dalam, kalau tidak, arus yang kuat itu pasti akan menghantamkannya pada batu-batu.

Karena tidak ada tempat untuk mendarat, diapit-apit tebing tinggi, terpaksa Kwee Seng membiarkan dirinya hanyut. Ada seperempat jam ia hanyut dan tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget, wajahnya pucat dan hatinya ngeri.

Betapa tidak akan ngeri hatinya melihat bahwa tak jauh di depannya, air itu tertumbuk pada tebing lain yang juga tinggi dan kiranya air itu memasuki terowongan di dalam tebing ! Bagaimana akalnya ? Untuk mendarat tidak mungkin, kanan kiri tebing tinggi dan licin, di depan pun tebing yang sama, menahan arus air tak mungkin ! Celaka, pikirnya, kali ini aku akan dibanting hancur oleh arus air kepada tebing di depan ! Akan tetapi ia tidak mau menyerah kepada maut begitu saja selama ia masih dapat berikhtiar. Ia cepat mengambil napas sampai memenuhi rongga dadanya, kemudian ia menyelam sedalam mungkin.

Ikhtiarnya ini menyelamatkannya dari cengkraman maut. Arus air pecah-pecah bagian atasnya menghantam tebing, akan tetapi di bagian bawah dengan kecepatan luar biasa menerobos ke dalam sebuah lubang yang lebar garis tengahnya kurang lebih dua meter. Kalau saja terowongan di dalam perut gunung ini terlalu panjang, tentu Kwee Seng takkan tertolong lagi nyawanya. Ia terseret arus yang amat cepat, ia hanya menahan napas meramkan mata, sedapat mungkin mengerahkan sin-kang di tubuhnya karena tubuhnya mulai terbentur-bentur batu. Kalau ia bukan seorang gemblengan, tentu sudah remuk tulang-tulangnya. Akan tetapi siksaan alam ini terlalu hebat dan ia sudah hampir pingsan ketika tiba-tiba ia melihat cahaya terang di atas. Cepat ia menggerakkan kedua kakinya yang terasa sakit-sakit itu dan tubuhnya mumbul ke atas. Ia masih berada dalam terowongan yang amat besar, merupakan gua panjang yang amat menyeramkan. Air mengalir di tengah terowongan, kini air makin melebar dan makin dangkal. Di! a! tas bergantungan batu-batu yang meruncing seperti tombak besar, dinding yang hijau berkilauan terkena cahaya matahari yang entah menembus dari mana. Karena air amat dangkal akhirnya tubuhnya yang lemas itu tersangkut pada batu.

Kwee Seng mengeluh, kepalanya puyeng, tubuhnya sakit-sakit semua, lemas dan tangan kanannya kaku lumpuh akibat racun jarum yang masih menancap didalam pundak kanannya. Rambut awut-awutan menutupi muka, pakaiannya yang basah kuyup itu tidak karuan macamnya, robek sana-sini. Ia mengerahkan tenaganya untuk bangkit berdiri. Kiranya air hanya tinggal sepaha dalamnya. Ketika ia merangkak minggir, air makin dangkal akan tetapi ia beberapa kali terjatuh dan kakinya tersangkut batu. Air yang amat jernih, akan tetapi pandang mata Kwee Seng amat gelap, pikirannya amat keruh. Ia tidak tahu bahwa tak jauh dari situ berdiri seorang wanita tua, seorang nenek-nenek yang memandang ke arahnya pwnuh perhatian. Nenek ini tubuhnya kecil kurus, mukanya amat tua penuh keriput, pakaiannya bersih akan tetapi penuh tambalan. Mata nenek ini terang jernih bersinar-sinar.

“Sungguh aneh seorang manusia terbawa arus maut bisa sampai ke sini dalam keadaan masih hidup!” Nenek itu berkata penuh keheranan, akan tetapi ia segera melangkah, gerakannya cepat dan cekatan sekali ketika ia melihat Kwee Seng mengeluh panjang dan terguling roboh di tepi sungai, tak bergerak lagi karena sudah pingsan.

Amatlah mengherankan dan mengagumkan betapa nenek-nenek tua renta yang kurus itu setelah memeriksa nadi tangan Kwee Seng, lalu mengangkat tubuh Kwee Seng bagaikan mengangkat tubuh seorang bayi saja, begitu mudah dan ringan, lalu membawa tubuh Kwee Seng ke sebuah ruangan di bawah tanah yang tak jauh dari sungai itu, melalui terowongan yang berlika-liku. Dengan hati-hati nenek itu merebahkan tubuh Kwee Seng di atas pembaringan batu, kemudian sekali lagi memeriksa tubuhnya. Ia mengeluarkan suara kaget ketika melihat betapa pundak kanan Kwee Seng berwarna hitam.

“Aihhh, kejamnya orang yang menggunakan jarum beracun!” serunya, cepat-cepat ia mengambil obat dari pojok di mana terdapat meja dan lemari batu, kemudian ia menggunakan sebatang pisau merobek kulit pundak Kwee Seng, mengeluarkan jarum hitam yang bersarang di situ. Dengan beberapa kali pijatan di sekitar pundak ia mengeluarkan darah hitam dan menempelkan sebuah batu yang warnanya putih dan ringan sekali, besarnya sekepalan tangan. Aneh bukan main, batu putih ringan itu dalam sekejap mata menjadi berubah hitam dan berat, dan kiranya darah yang berada di sekitar luka telah disedot oleh batu itu ! Setelah mencuci batu dan mengeringkannya kembali di atas api, nenek itu kembali menggunakan batu mujijat untuk menyedot darah. Sampai lima kali hal ini dilakukan, setelah batu itu warnanya berubah merah, barulah ia berhenti, menggunakan obat bubuk dituangkan ke dalam luka dan membalut luka itu dengan sehelai kain sutera yang agaknya adalah sebuah ikat pinggang.

Tekanan batin dan penderitaan lahir yang dialami Kwee Seng agaknya memang hebat sehingga ia seakan-akan keluar kembali dari lubang kubur, terlepas dari cengkraman maut yang mengerikan, sehingga ketika ia roboh pingsan itu, selama tiga hari tiga malam ia tetap dalam keadaan tidak sadar. Ia tidak tahu betapa luka-lukanya dirawat secara tekun oleh seorang nenek tua, tidak tahu betapa setiap hari nenek itu menjaga dan merawatnya siang malam, tidur sambil duduk bersila di dekat pembaringan batu.

dan lemah, ketika ia membuka matanya, ia melihat langit-langit batu yang kasar. Pandang matanya terus menjalari dinding batu itu yang penuh dengan tulisan lebih tepat ukiran karena dinding itu penuh tulisan huruf yang agaknya diukir. Huruf-hurufnya halus dan indah, jelas membayangkan tulisan tangan wanita, dan sekilas pandang tahulah ia bahwa tulisan-tulisan itu merupakan syair-syair yang amat indah pula walaupun mengandung peluapan hati berduka. Ketika mendapat kenyataan bahwa ia rebah di atas pembaringan batu di dalam sebuah “kamar” batu seperti gua, teringatlah Kwee Seng dan cepat ia bangkit duduk. Pada saat itu ia melihat seorang nenek duduk bersila di atas lantai, dekat pembaringan batu.

“Tubuhmu masih lemah, engkau masih perlu beristirahat lebih lama lagi. Berbaringlah, aku akan masak ikan dan sayur untukmu.”

Suara itu halus sekali, teratur dan sopan-santun. Kwee Seng terbelalak kaget. Nenek ini bukan orang sembarangan, itu sudah jelas. Akan tetapi, di samping ini, nenek itu membayangkan sifat seorang terpelajar tinggi, seorang yang tahu akan tata susila dan sopan santun, sama sekali berbeda dengan sikap orang-orang kang-ouw, pantasnya seorang nenek yang biasa hidup di dalam istana raja-raja !

Ketika merasa pundaknya sakit dan ketika diliriknya ia melihat pundaknya sudah dibalut, dan tidak ada rasa kaku maupun gatal tanda bahwa pengaruh racun sudah lenyap, tahulah Kwee Seng bahwa nenek ini merupakan penolongnya. Cepat ia turun dari pembaringan, mengeluh karena hampir saja ia terjungkal saking lemahnya tubuh, kemudian ia terpaksa berlutut karena nenek itu tetap duduk bersila.

“Locianpwe (Orang Tua Yang Mulia) telah sudi memberi pertolongan kepada saya orang muda yang menderita, saya Kwee Seng takkan melupakan budi kebaikan ini.”

Nenek itu tertawa dan menggunakan punggung tangan kanan menutupi mulutnya, gerakan khas wanita sopan yang tak pernah mau tertawa secara terbuka di depan siapapun juga. Kemudian terdengar pula suaranya yang halus dengan gaya bahasa yang biasa dipergunakan oleh para bangsawan, “Saling tolong tidak mengenal tua dan muda, dan akupun tidak bermaksud menolongmu, melainkan kaulah yang datang dan membutuhkan pertolonganku. Air itu disebut Arus Maut, mahluk berjiwa apapun juga yang terseret ke dalam Neraka Bumi ini, tentu telah tak bernyawa lagi. Akan tetapi engkau terseret masuk dalam keadaan bernyawa. Ahhh, entah setan yang mana mengirim engkau datang kepadaku untuk menemaniku!”

“Maaf, Locianpwe, saya kira bukan setan yang Locianpwe maksudkan. Tentu Tuhan yang telah melindungi saya…”

memohon, terlalu sering mulut ini menyebut, akan tetapi buktinya…. Ah, kalau toh ada Tuhan itu sama sekali tidak peduli kepada diriku….” Bukan main pahitnya suara dalam kata-kata ini dan Kwee Seng dapat menduga bahwa nenek ini tentu telah mengalami penderitaan hidup yang amat luar biasa sehingga hatinya seakan-akan menjadi beku dan penuh penyesalan mengapa hidupnya selalu menderita seakan-akan Tuhan tidak mempedulikannya. Karena menghadapi seorang nenek yang agaknya sakti dan malah menjadi penolongnya, ia tidak mau membantah lagi walaupun ia merasa penasaran dan terheran-heran mengapa seorang nenek tua yang sudah memiliki ilmu kepandaian tinggi, begitu dangkal pandangannya tentang kebesaran dan keadilan Tuhan.

“Bolehkah saya mengetahui nama Locianpwe yang mulia?” akhirnya ia bertanya.

“Ah, aku sendiri tidak tahu siapa namaku, akan tetapi karena kau sudah berada di sini menemaniku, biarlah kelak kau yang memilihkan nama untukku. Sipa saja terserah kepadamu.” Kembali nenek itu menutupi mulut menahan suara tawanya, kemudian ia bangkit berdiri, gerakannya ringan dan cekatan, “Ah, sampai lupa aku. Kau tentu lapar, untung pada musim seperti ini, daun kelabang di bawah Guha Seratus Golok tumbuh dengan suburnya. Daun kelabang merupakan sayur yang selain enak juga dapat mempercepat kembalinya kesehatanmu, dan dimasak dengan ikan ekor putih bukan main lezatnya.” Setelah berkata demikian, nenek itu pergi meninggalkannya.

Kwee Seng memandang dengan melongo. Tadi ia berlutut di depan nenek itu yang duduk bersila, mereka berhadapan dalam jarak satu meter sehingga jelas ia dapat mencium keharuman dari tubuh nenek itu. Hal ini tentusaja amat janggal, seorang nenek berbau harum ? Apakah memakai minyak bunga ? Dan mata nenek itu. Bukan main ! Diam-diam meremang bulu tengkuk Kwee Seng, bergidiklah dia. Tak mungkin nenek itu manusia. Ah, masih hidupkah dia ? Ataukah sebetulnya sudah mati dan inikah keadaan neraka dimana ia dihukum dan diharuskan tinggal bersama seorang iblis betina ? Nenek tadi menyebut air itu Arus Maut dan tempat ini disebutnya Neraka Bumi ! Gerak-geriknya memang seperti manusia yang berilmu, akan tetapi suaranya begitu halus, matanya seperti mata… ah, sukar mencari perbandingan, pendeknya begitu jernih, begitu tajam, bagian putihnya tiada cacat, bagian hitamnya berkilau seakan menyinarkan api. Serasa ia mengenal mata ini ! Ah, tak mungkin !

Tiba-tiba nenek itu membalikkan tubuh dan dari jauh ia berkata, suaranya bergema di seluruh ruangan, “Oya, di ruangan paling kiri terdapat kamar kitab, kalau kau suka kau boleh membaca kitab yang mana saja. Kitab-kitab tua yang sukar sekali dibaca, aku sendiri ogah membacanya!”

Suara ini menyadarkan Kwee Seng daripada lamunannya. Mengapa ia harus merasa ngeri ? Manusia maupun setan, nenek itu telah membuktikan niat baik terhadap dirinya. Telah menolongnya, mengangkatnya dari sungai, merawat lukanya sampai sembuh, dan kini malah bersiap menyediakan makanan untuknya. Kitab-kitab kuno ? Lebih baik melihat-lihat daripada duduk menanti orang masak, karena teringat akan masakan, perutnya yang perih akan makin terasa. Ia bangkit berdiri, menahan napas dan mengumpulkan kembali kekuatannya. Kwee Seng merasa betapa lemahnya tubuh, seakan-akan habis semua tenaganya. Hemm, untung nenek itu berniat baik, kalau mengandung niat jahat terhadapnya,

dalam keadaan seperti ini, tentu ia takkan mampu mengadakan perlawanan sama sekali. Dengan terhuyung-huyung ia menyeret kedua kakinya menuju ke kiri melalui jalan terowongan mencari kamar kitab-kitab itu.

Ketika memasuki kamar dalam tanah paling kiri, ia berseru heran dan kagum. Dinding kamar itu merupakan rak buku dan di situ berdiri banyak sekali kitab yang berj ajar rapi. Sekilas pandang ia menaksir bahwa di situ terdapat tidak kurang dari seratus buah kitab yang tebal ! Sebelum menjadi ahli silat, Kwee Seng adalah seorang kutu buku (penggemar bacaan), apalagi kitab-kitab kuno yang mengandung filsafat-filsafat berat. Kini melihat kitab kuno berderet-deret rapi, ia seperti seorang kelaparan melihat daging segar. Lupa ia akan semua kelemahan tubuhnya, setengah tubuhnya, setengah meloncat ia mendekati rak buku batu itu dan jari-jari tangannya gemetar ketika ia memeriksa judul-judul buku. Ternyata kitab-kitab itu adalah kitab-kitab mengenai Agama To, sebagian pula merupakan kitab dongeng-dongeng raja-raja jaman dahulu, kitab berisi syair-syair para pujangga kuno. Sampai bingung Kwee Seng akan melihat bacaan mana yang akan ia dahulukan. Karena ingin sekali tahu semua kitab itu, ia tidak mau mengambil sebuah diantaranya, melainkan ia membuka lembaran pertama dari semua kitab untuk mengetahui judulnya. Dua buah kitab amat menarik hatinya, yaitu kitab Siulian (Meditasi) dan yang sebuah lagi kitab tentang rahasia letak dan gerakan-gerakan bintang-bintang.

Yang mula-mula ia buka dan baca adalah kitab tentang samadhi itu dan alangkah girang hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kitab kuno itu benar-benar merupakan kitab rahasia yang amat berharga, di mana dijelaskan tentang pelbagai ilmu samadhi, cara-caranya dan segala yang berhubungan dengan samadhi mengenai peredaran jalan darah, pernapasan dan lain-lain. Ia pernah melatih diri bersamadhi untuk melatih lwee-kang dan memperkuat sin-kangnya, akan tetapi pelajaran yang ia dapat dahulu amatlah dangkal dan tak berarti kalau dibandingkan dengan isi kitab ini. Bagaikan seorang miskin menemukan sebuah batu permata yang tak ternilai harganya, Kwee Seng membawa kitab Samadhi dan Perbintangan itu keluar dari kamar kitab dan kembali ke ruangan tadi. Betapapun juga, ia harus minta ijin dulu dari Si Pemilik Kitab. Mengingat ini, ia tercengang. Ternyata wanita itu bukan sembarang orang ! Dengan memiliki kitab-kitab seperti ini, jelas bahwa nenek itu adalah seorang yang memiliki ilmu yang amat tinggi ! Heran ia memikirkan, siapa gerangan nenek itu yang mengaku tidak punya nama, bahkan minta ia kelak yang memilihkan nama untuknya !

Ia sedang tekun membalik-balik lembaran kitab Samadhi ketika nenek itu yang muncul membawa mangkok-mangkok batu dengan masakan yang masih mengebul dan masih menyiarkan bau yang sedap-sedap aneh. Cepat Kwee Seng menutup kitabnya dan berlutut lagi sambil berkata, “Mohon maaf sebanyaknya bahwa saya berani lancang mengganggu Locianpwe yang budiman, berani pula memasuki kamar kitab yang terahasia mengambil dua buah kitab ini. Apabila Locianpwe memperkenankan, saya mohon pinjam dua ini untuk saya baca.”

Nenek itu tak bergerak kulit mukanya, menaruh mangkok-mangkok masakan di atas meja batu, lalu menghadapi Kwee Seng, memandang ke arah dua kitab itu, “Hemm, bangkitlah. Tak enak melihat kau sedikit-sedikit berlutut seperti itu. Kita berdua seakan-akan hidup di dunia tersendiri, terpisah dari dunia ramai, mengapa harus memakai banyak tatacara yang palsu? Kwee Seng, duduklah dan mari kita makan. Kau memilih kitab-kitab itu ? Hemm, kitab tentang Samadhi dan kitab Perbintangan ? Ah, justeru dua

kitab itu yang aku sendiri paling tidak doyan (tidak suka)! Terlalu ruwet dan kalimat-kalimatnya amat kuno, pengertianku tentang sastra tidak sampai di situ. Kau bacalah, dan boleh memiliki dua kitab itu.”

Bukan main girangnya hati Kwee Seng. “Locianpwe amat mulia, terima kasih atas pemberian ….” “Siapa memberi ? Kitab-kitab itu sudah berada di sini sebelum aku lahir ! Mari kita makan, perutmu kosong dan kita lanjutkan bicara nanti saja.”

Untuk menghormati ajakan orang yang demikian manis budi, Kwee Seng tidak banyak cakap lagi, lalu menghadapi hidangan. Ternyata masakan itu adalah masakan ikan yang gemuk bersama sayur-sayuran yang berwarna hitam. Kelihatannya sayur itu menjijikkan, terasa gurih dan sedap. Tanpa malu-malu lagi Kwee Seng makan dengan lahapnya dan mendapat kenyataan bahwa perutnya menjadi hangat dan badannya terasa segar setelah makan hidangan aneh itu.

Sehabis makan Kwee Seng hendak membantu Si Nenek mencuci mangkok batu, akan tetapi cepat-cepat Si Nenek mencegahnya, “Mencuci mangkok adalah pekerjaan wanita, kalau kau membantu dan canggung sampai membikin pecah mangkok batu, aku harus bersusah payah membuat lagi.” Nenek itu lalu pergi lagi dan ketika Kwee Seng mengikutinya,ternyata Neraka Bumi ini merupakan tempat tinggal yang lengkap juga. Ada air mancur yang jernih, dan disuatu sudut tumbuh bermacam sayuran aneh yang daun-daunnya berwarna hitam kehijauan, ada yang kemerahan. Tidak kekurangan kayu bakar di situ, agaknya dari kayu-kayu dan ranting-ranting yang terbawa aliran Arus Maut, ditampung dan dikeringkan di tempat itu, di mana terdapat sinar matahari menyinar masuk melalui tebing yang tak dapat diperkirakan tingginya.

Jalan lain untuk keluar dari Neraka Bumi ini tidak ada sama sekali ! Mereka telah terkurung hidup-hidup dan agaknya hanya melalui terowongan air itu saja jalan keluar masuk neraka ini ! Untuk memasukinya saja mempertaruhkan nyawa, apalagi keluarnya, harus melawan arus yang begitu deras, agaknya tidak mungkin lagi. Mendapat kenyataan ini, Kwee Seng lesu dan duka, akan tetapi kalau ia teringat akan derita hidup karena putus cinta, ditolak kasihnya oleh Liu Lu Sian, ia tidak ingin lagi kembali ke dunia ramai.

Tempat itu biarpun menyeramkan dan sederhana, namun cukup enak untuk menjadi tempat tinggal. Makanan cukup, air cukup, sinar matahari pun tidak kurang, dan di situ terdapat seorang nenek yang merawatnya begitu teliti penuh perhatian seperti seorang nenek merawat cucunya sendiri. Masih terdapat ratusan lebih kitab kuno tebal-tebal yang agaknya tak mungkin dapat habis biarpun ia baca setiap hari sampai selama ia hidup. Mau apa lagi ?

Namun ternyata kitab Samadhi itu amat menarik perhatian Kwee Seng. Makin dibaca makin menarik, makin di pelajari makin sulit. Akan tetapi, setiap kali ia mencoba bersamadhi menurut petunjuk-petunjuk isi kitab, Kwee Seng mendapat kenyataan bahwa hasilnya luar biasa. Tenaga dalamnya cepat pulih

kembali, behkan ia merasa betapa dengan latihan menurut kitab itu, tenaganya menjadi makin kuat, pikirannya makin jernih dan tubuhnya terasa nyaman selalu. Makin tekunlah ia mempelajari isi kitab dan kadang-kadang saja ia membaca kitab ke dua tentang perbintangan. Kitab ini pun menarik hatinya karena setelah membaca tentang pergerakan bintang-bintang ia mendapat pandangan yang luas tentang ilmu silat, apalagi tentang ilmu pedangnya Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang) !

Nenek itu jarang sekali bicara, namun dalam sikap diamnya, nenek itu kelihatan amat memperhatikan segala keperluannya. Bahkan pakaiannya yang robek-robek itu telah ditambali oleh Si Nenek. Seringkali Kwee Seng memutar otak untuk menerka siapa gerangan nenek ini yang tak pernah mau mengaku namanya maupun riwayatnya. Ketika Kwee Seng mencoba untuk mendesak, nenek itu bersungut-sungut dan menjawab dengan suara kesal. “Sudahlah, kausebut saja aku nenek, habis perkara. Aku tidak suka kausebut sebut locianpwe segala. Orang macam aku ini ada kepandaian apa sih?”

Tertegun Kwee Seng kadang-kadang menyaksikan sikap nenek ini. Begitu mudah ngambul dan marah, kadang-kadang diam termenung seperti orang menyedihkan sesuatu. Untuk menyenangkan hatinya terpaksa ia menghilangkan panggilan locianpwe dan memanggilnya nenek. Anehnya kadang nenek itu tertawa menutupi mulutnya mendengar sebutan ini. Dan yang amat membingungkan hati Kwee Seng, setiap kali nenek itu memandangnya dengan mata bening jernih memancarkan semangat bernyala-nyala dan amat tajam, ia merasa seakan-akan pernah melihat mata macam ini. Akan tetapi entah kapan dan di mana, ia tidak dapat ingat lagi karena memang rasanya baru pertama kali ini ia bertemu dengan seorang nenek yang begini aneh.

Dengan mendapat hiburan kitab samadhi itu waktu tidak terasa lagi oleh Kwee Seng. Saking tekunnya ia melatih diri dalam samadhi dan memperdalam ilmu silatnya dari kitab Perbintangan, tak terasa lagi ia telah terkurung di dalam Neraka Bumi itu selama hampir seribu hari ! Tiga tahun lewat tanpa terasa oleh Kwee Seng yang semakin girang menyaksikan kemajuan ilmu silatnya. Tenaga sin-kangnya hebat sekali

sehingga ketika ia mencoba kedua tangannya, hawa pukulannya sanggup menahan aliran air yang deras untuk beberapa detik ! Dengan latihan-latihan berdasarkan ilmu perbintangan, ia dapat menggunakan dua buah ranting untuk “mendaki” naik sepanjang dinding tebing yang licin dan keras dengan cara menancap-nancapkan dua ranting itu secara bergantian, merayap seperti seekor kelabang !

Hubungannya dengan nenek itu makin akrab dan selama itu Si Nenek memperlihatkan sikap yang penuh kasih sayang, benar-benar ia merasa seperti dekat dengan seorang nenek sendiri, atau bahkan dengan ibu sendiri ! Tidaklah mengherankan ketika pada suatu hari Kwee Seng menyatakan keinginannya untuk mencari jalan keluar, nenek itu menangis tersedu-sedu !

“Kalau kau pergi … aku… aku mati saja…” Si Nenek berkata dalam tangisnya.

“Nenek, mengapa begitu?” Kwee Seng menghibur. “Percayalah, kalau aku bisa mendapatkan jalan keluar, tentu kau akan kuajak keluar dari neraka ini dan…”

“Tidak…! Tidak…! Mau apa aku mencari derita di dunia ramai ? Aku mau mati di sini!”

Kwee Seng terharu, melangkah maju dan menyentuh pundak nenek itu. “Harap kau jangan berpendirian begitu, Nek…!”

“Jangan sentuh aku!” Tiba-tiba nenek itu menggerakkan pundaknya dan Kwee Seng merasa betapa dari pundak itu keluar tenaga dorongan yang cukup hebat. Ia merasa heran. Memang hebat tenaga dorongan pundak yang hanya digerakkan begitu saja, akan tetapi ia harus akui bahwa tenaga itu tidaklah sehebat yang ia sangka. Tenaga murni dari sin-kang nenek ini agaknya tidak akan melebihi tenaga sin-kangnya sendiri. Hal ini amatlah mengherankan.

“Nenek yang baik. Aku harus mengaku bahwa aku telah menerima budimu bertumpuk-tumpuk, sampai mati pun aku takkan mampu membalas budimu. Oleh karena itu, perkenankanlah aku mencari jalan keluar dan membawamu di dunia ramai, dan aku bersumpah akan menganggap kau sebagai nenek atau ibu sendiri, dan aku akan berbakti kepadamu, merawatmu, menjagamu untuk membalas budi…”

“Cukup ! Aku tak mau dengar lagi!” Nenek itu lalu meninggalkannya dengan sikap marah. Kwee Seng duduk terlongong, terheran-heran. Akan tetapi sikap nenek itu tentu saja tidak memadamkan niatnya untuk mencari jalan keluar. Betapa pun besar ia berhutang budi, masa ia yang masih muda mengubur diri sampai mati di tempat itu ?

Tiba-tiba terdengar suara berkerosokan hebat di sebelah atas, dan keadaan menjadi gelap. Cepat-cepat Kwee Seng menyalakan lampu dari minyak yang dikumpulkan dari ikan sehingga keadaan di situ menjadi remang-remang. Nenek itu datang berjalan perlahan.

“Suara apakah itu, Nek?” “Hujan ! Agaknya akan datang musim hujan besar. Dulu pernah sampai tiga puluh hari lebih tidak cahaya matahari, gelap di sini dan Arus Maut mengalir deras mengamuk, membabi buta.”

“Wah, celaka ! Tentu di sini terendam air, Nek?”

“Jangan kuatir. Air itu membanjir ke depan, terus keluar melalui terowongan. Tak pernah banjir di sini, akan tetapi sukar menangkap ikan. Maka sebelum banjir besar dan gelap datang, kita harus banyak

mengumulkan ikan untuk bahan makan, juga mengumpulkan sayur.”

Tiga hari mereka kerja keras, setiap saat menangkap ikan dan mengumpulkan kayu bakar, sayur-sayur. Kemudian tibalah musim gelap dan hujan yang dikuatirkan. Air yang mengalir ke dalam terowongan itu menjadi liar dan besar, batu-batu diterjangnya hanyut, suaranya memenuhi ruangan itu, bergema menakutkan. Lubang di atas melalui tebing-tebing tinggi itu tidak dijenguk matahari lagi. Gelap pekat, hanya diterangi lampu minyak yang hanya kadang-kadang kalau perlu saja dinyalakan, harus seringkali dipadamkan, apalagi di waktu mereka tidur, untuk menghemat minyaknya. Si Nenek tidak marah-marah lagi. Dalam keadaan terancam itu mereka seringkali duduk bercakap-cakap.

Pada hari ke empat, di dalam gelap pekat karena lampu sudah dipadamkan, nenek itu bertanya suaranya halus menggetar penuh perasaan, “Kwee Seng, apakah masih ada niat hatimu untuk keluar dari sini?”

Kwee Seng terharu. Suara itu menggetar, jelas bahwa nenek itu amat kuatir ditinggalkan. “Sesungguhnya, Nek. Aku yang masih muda tak mungkin harus mengubur di sini terus selamanya. Aku akan keluar dan tentu saja besar harapanku untuk mengajakmu keluar. Kau memiliki kepandaian, tentu dapat pula keluar bersamaku.”

Hening sejenak. Ingin sekali Kwee Seng dapat melihat wajah nenek itu atau lebih tepat melihat matanya, karena wajah nenek yang keriputan itu tak pernah membayangkan isi hatinya. Akan tetapi matanya dapat membayangkan. Namun di dalam gelap itu ia hanya menanti, tak dapat melihat apa-apa.

“Kwee Seng…” tertahan lagi. “Ya, Nek ? Ada apa ?” “Kau bilang hendak merawatku selama aku hidup. Akan tetapi aku tidak tahu orang macam apa kau ini, dari mana asalmu dan bagaimana kau sampai dapat tiba di tempat ini. Belum pernah kau bercerita tentang dirimu.”

Kwee Seng tersenyum di dalam gelap. Memang tak pernah ia bercerita. Bukankah nenek itu pun tak pernah menanyakan dan tak pernah pula menceritakan tentang dirinya ? Pertanyaan nenek itu merupakan harapan. Agaknya Si Nenek hendak menimbang-nimbang untuk ia ajak keluar di dunia ramai !

“Aku seorang yatim piatu, Nek. Orang tuaku meninggal sejak aku masih kecil. Aku hidup mengabdi kepada orang-orang, menjadi buruh tani, menggembala kerbau. Di dunia ini tidak ada seorang pun keluargaku. Aku seorang mahasiswa gagal, kepalang tanggung. Siucai (lulusan mahasiswa) bukan, buta huruf pun bukan. Lebih senang ilmu silat, itu pun serba tanggung-tanggung.”

“Ilmu silatmu hebat, kepandaianmu luar biasa, ini aku tahu.” Bantah Si Nenek.

“Ah, agaknya mendapat sedikit kemajuan berkat dua buah kitab yang kau pinjamkan, Nek.” Kemudian Kwee Seng menceritakan semua pengalamannya, karena makin banyak ia bicara, makin terlepas lidahnya. Ia menganggap seakan-akan ia berhadapan dengan neneknya atau ibunya sendiri. Segala dendam dan sakit hati ia keluarkan, ia tumpahkan karena justeru selama ini ia membutuhkan seorang yang dapat ia ceritakan untuk menumpahkan semua dendam dan sakit hati. Ia bercerita tentang Ang-siauw-hwa, kembangnya pelacur di see-ouw yang bernama Khu Kim Lin itu, ia bercerita pula tentang Liu Lu Sian yang menampik cinta kasihnya. Ia menuturkan pertempurannya melawan Pat-jiu Sin-ong yang mengakibatkan ia terjungkal ke dalam Arus Maut dan yang menyeretnya ke dalam Neraka Bumi itu.

“Nah, begitulah riwayatku, Nek. Nek, apakah kau tertidur?” Kwee Seng mendongkol dan bertanya agak keras. Ia bercerita dua jam lebih, mulutnya sampai lelah, akan tetapi nenek itu diam saja, agaknya sudah tertidur pulas ! Akan tetapi ternyata tidak. Ia mendengar suara nenek itu menjawab, suara yang serak seperti orang menangis.

“Nek, mengapa kau menangis?” “Aku… aku kasihan kepadamu, Kwee Seng. Orang macam Liu Lu Sian itu mana pantas kaucinta ? Agaknya… agaknya lebih patut kau mencinta Ang-siauw-hwa.”

“Hemm, memang agaknya begitu. Dan terus terang saja, aku mengalami kebahagiaan yang takkan terlupa olehku selamanya bersama Ang-siauw-hwa, walaupun hanya satu malam. Ah, siapa sangka, ia meninggal dunia dalam usia muda…”

“Kurasa lebih baik begitu. Dia sudah menjadi pelacur, apakah baiknya ? Hina sekali itu ! Lebih baik mati ! Akan tetapi, apakah… kau dapat mencintanya andai kata ia tidak mati?”

“Hemm, kurasa… hal itu mungkin. Dia wanita yang hebat ! Dan wataknya… ah, jauh lebih menyenangkan daripada Liu Lu Sian…”

Hening pula sejenak, akan tetapi Kwee Seng masih mendengar nenek itu terisak-isak menangis, ia mendiamkannya saja, mengira bahwa nenek itu masih terharu mendengar riwayat hidupnya yang memang tidak menyenangkan. Ia pun menjadi terharu. Nenek ini sudah amat mencintainya, seperti kepada anak sendiri, atau cucu sendiri sehingga mendengar semua penderitaannya, nenek ini menjadi amat berduka ! Akan tetapi setelah lewat satu jam nenek itu masih saja terisak-isak, Kwee Seng menjadi kuatir juga.

“Nek, apa kau menangis ? Sudahlah, harap jangan menangis, menyedihkan hati, Nek.”

Akan tetapi nenek itu tetap menangis. Kwee Seng curiga dan khawatir. Jangan-jangan nenek yang sudah tua renta ini jatuh sakit karena kesedihannya. Ia mencetuskan batu api dan membakar daun kering, menyalakan pelita. Akan tetapi begitu lampu menyala, menyambarlah angin yang kecil akan tetapi keras dan api itu pun padam. Kiranya Si Nenek meniupnya dari jauh, memadamkan api.

Kwee Seng mengangkat pundak. “Nek, kau mengkuatirkan hatiku karena menangis sejak tadi. Diamlah, Nek. Apakah kau sakit?”

Tidak ada jawaban pula, akan tetapi suara isak itu mengendur dan mereda, akhirnya terdiam. Lega hati Kwee Seng dan ia sudah merebahkan diri telentang, bermaksud untuk beristirahat dan tidur. Akan tetapi beberapa menit kemudian terdengar suara Si Nenek, agak jauh dari tempat ia berbaring.

“Kwee Seng…” “Ya, Nek. Ada apa?” “Kalau kau keluar dari sini…” berhenti seakan sukar dilanjutkan. “Ya.. ..?” Kwee Seng mendesak. “…. Aku tidak akan ikut. Tapi aku hanya mempunyai sebuah permintaan…” “Ya… ? Permintaan apa, Nek ? Tentu aku siap untuk melaksanakan semua permintaanmu.”

“Kwee Seng, bukankah kau bilang bahwa kau berhutang budi kepadaku dan sanggup untuk membalas budi dengan merawatku selamanya?”

“Betul, Nek, betul. Karena itu kau harus ikut…”

“Tak perlu kau lakukan hal itu. Tak perlu bersusah payah merawatku selama hidup. Sebagai gantinya, aku hanya minta sedikit..”

“Apa, Nek ? Katakanlah.” Hening kembali sampai lama, menegangkan hati Kwee Seng yang makin tidak mengerti akan keanehan nenek itu.

“Ya, Nek ? Bagaimana kehendakmu?” “Kwee Seng, keadaan hujan dan gelap ini akan makan waktu sedikitnya lima belas hari lagi.”

“Ya, betul agaknya. Lalu?” “Selama itu kau tidak boleh mencoba keluar…”

Kwee Seng tertawa. Hanya inikah permintaannya ? Gila benar. Mengapa bersusah-susah mengucapkannya ? “Ha-ha-ha ! Tentu saja, Nek. Tidak usah meminta pun bagaimana aku dapat keluar kalau Arus Maut begitu hebat mengamuk?”

“Selama gelap dan hujan kau tinggal di sini dan…” “Ya… ??” Kwee Seng mulai tidak sabar. “…. dan … kita menjadi suami isteri sampai hujan berhenti!”

“Apa ??” Kini Kwee Seng terloncat ke atas dan jatuh berdebuk di atas tanah. Begitu saja ia terguling dari atas pembaringan batu, saking kagetnya. Ia terhenyak di atas lantai, terlongong keheranan, seketika menjadi bisu tak dapat mengeluarkan suara. Setelah lidahnya tidak kaku lagi, suara yang dapat keluar dari mulutnya hanya, “… apa …? ?… ah… bagaimana…?” Ia tidak percaya kepada telinganya sendiri.

Suara nenek itu penuh kegetiran, terdengar lirih mengandung rasa malu. “Hanya itu permintaanku. Kita menjadi suami isteri sampai pada saat kau berhasil keluar dari sini, yaitu setelah hujan berhenti.”

Kwee Seng meloncat berdiri, mengepal tinjunya, mengerutkan keningnya. “Apa ?? Gila ini ! Tak mungkin! !”

Sunyi sejenak, lalu terdengar nenek itu tersedu-sedu menangis, ditahan-tahan sehingga suara tangisnya tertutup, agaknya kedua tangan nenek yang kecil itu menutupi mulut dan hidung agar sedu sedannya tidak terlalu keras. Kemudian terdengar suara nenek itu makin jauh dari situ, diantara tangisnya, “Ah, aku tahu…kau tentu menolak…”

Kwee Seng terduduk di atas pembaringan batu, ada sejam lebih tak bergerak-gerak, seakan-akan ia sudah pula berubah menjadi batu. Suara sedu-sedan nenek itu seakan-akan pisau menusuk-nusuk jantungnya. Apakah nenek itu sudah menjadi gila ? Nenek-nenek yang melihat keriput di mukanya tentu berusia enam puluh tahun kurang lebih, bagaimana ingin menjadi isterinya ? Mana ia sudi melayani kehendak nenek yang gila-gilaan ini ? Menjemukan sekali ! Sialan ! Kwee Seng mengumpat diri sendiri. Ada wanita yang mencintanya, seorang nenek-nenek hampir mati ! Mana mungkin ia membalas cinta seorang nenek-nenek yang buruk rupa ? Teringat ia akan Ang-siauw-hwa. Teringat pula Liu Lu Sian.

Gadis puteri Beng-kauw itu pun menolak cintanya. Padahal ia tergila-gila kepada nona itu. Penolakan cinta yang menyakitkan hati. Kwee Seng terkejut teringat akan hal ini. Nenek itu pun mencintanya, mencinta dengan suci, sudah dibuktikan dengan perawatan dan pelayanan yang demikian sungguh-sungguh penuh kasih sayang selama seribu hari ! Dan dia menolak cinta nenek itu. Menolak begitu saja ! Padahal nenek itu pun hanya menghendaki pembalasan cinta hanya untuk beberapa hari lamanya ! Ah, betapa sakit hati nenek itu, dapat ia membayangkannya. Ia menjadi seorang yang tak kenal budi ! Mungkin nenek itu pun hanya ingin diakui sebagai isteri saja, hanya ingin ia dekati dan ia sebut isteri, tak lebih daripada itu. Mungkin nenek itu, ingin menjadikan pengalaman manis ini sebagai kenang-kenangan manis untuk dibawa mati ! Nenek ini semenjak kecil berada di sini, demikian pengakuannya beberapa hari yang lalu secara pendek ketika ia tanya. Berarti bahwa nenek ini tak pernah mengalami dewasa di dunia ramai ! Sebagai wanita yang selamanya tak pernah menjadi isteri orang, tentu timbul keinginan untuk menerima perlakuan manis dari seorang pria yang mengaku sebagai suaminya ! Ah, betapa bodohnya. Apa sih artinya pengorbanan sekecil ini ? Hanya bermain sandiwara, menyebut nenek itu sebagai isteri, bicara manis dan menghibur dengan kata-kata penuh sayang. Kiranya cukup bagi Si Nenek yang tak mungkin menghendaki lebih daripada itu.

Berjam-jam Kwee Seng duduk termenung. Terjadi perang di dalam hatinya sendiri, sedangkan suara sedu-sedan nenek itu tetap terdengar olehnya makin lama makin menusuk jantung. Teringat ia akan pengalamannya bersama Ang-siauw-hwa. Selama ia hidup, baru sekali itu ia bercinta kasih dengan seorang wanita. Mencinta dan dibalas cinta. Merasai kemesraan seorang kekasih yang mencinta sepenuh hatinya. Mendengar bisikan halus yang menyatakan cinta kasih Ang-siauw-hwa, melihat mata indah dari dekat, mata yang memandang kepadanya penuh bayangan kasih sayang, mata yang..! Kwee Seng tersentak kaget. Mata itu ! Mata nenek itu ! Itulah mata Ang-siauw-hwa ! Tak salah lagi. Mata Ang-siauw-hwa Si Kembang Pelacur Telaga Barat. Sama jernihnya, sama lebarnya, sama tajamnya dan lirikannya pun sama. Mata Ang-siauw-hwa ! Pantas ia merasa seperti pernah mengenal mata itu apabila Si Nenek memandangnya.

“Ahhh…!” terdengar Kwee Seng berseru melalui kerongkongannya. Akan tetapi Ang-siauw-hwa sudah mati. Hanya persamaan yang kebetulan saja. Banyak mata wanita yang cantik-cantik hampir serupa dan agaknya nenek ini dahulu pun seorang wanita cantik. Seorang wanita terpelajar dan cantik jelita. Kecantikan hanya sebatas kulit. Kalau orang sudah mencinta, apa artinya usia ? Apa artinya keburukan rupa ?

Nenek itu masih menangis terus. Dari suara tangisnya, Kwee Seng tahu bahwa nenek itu tentu pergi menyendiri di kamar kitab. Memang seringkali nenek itu tidur di sana, di tempat yang sunyi, tempat istirahat yang paling jauh dalam “rumah tinggal” itu. Kalau ia menangis terus sampai jatuh sakit dan mati, maka akulah pembunuhnya ! Aku membalas budinya dengan menghancurkan hatinya. Ah, betapa rendah perbuatan ini !

Kwee Seng berdiri, meraba-raba dalam gelap, membawa pelita dan batu api, akan tetapi tidak berani menyalakannya. Pertama, karena ia takut kalau-kalau nenek itu marah melihat ia menyalakan pelita. Ke dua, karena untuk melakukan “sandiwara” yang bertentangan dengan hatinya ini, lebih baik di dalam

gelap, tanpa melihat wajah Si Nenek! Ia meraba-raba dan akhirnya kedua kakinya yang sudah hafal keadaan di situ, membawanya ke depan pintu kamar kitab. Nenek itu masih terisak-isak perlahan.

“Nek… aku datang…” “… pergi ! Mau apa lagi kau datang ? Kalau kau mengejekku, mau menghinaku…, demi setan… akan kubunuh kau!”

“Tidak, aku berhutang budi kepadamu, berhutang nyawa, bagaimana aku sampai hati melukai hatimu ? Aku datang kepadamu untuk… untuk memenuhi permintaanmu…”

Tiba-tiba isak tangis itu berhenti dan sejenak keadaan menjadi sunyi sekali. Tak terdengar sesuatu oleh Kwee Seng, seakan-akan nenek itu tidak hanya berhenti menangis tapi juga berhenti bernapas ! Kemudian tedengar gerakan nenek itu mendekat, terdengar suaranya menggetar berbisik.

“Apa…? Kau.. kau tidak menipuku…? Kau… kau mau menerimaku sebagai… sebagai isterimu…?”

“Ya!” jawab Kwee Seng dengan suara penuh keyakinan. “Karena inilah cara terbaik untuk menyenangkan hatimu, untuk membalas budimu. Aku menerima permintaanmu dengan kesungguhan hati, walaupun kita sama tahu bahwa aku tidak mencintamu.” Hal inilah yang mengganggu perasaan hati Kwee Seng tadi, maka kini ia terpaksa mengucapkannya agar ia tidak merasa seperti seorang penipu.

“Ah, terimakasih…!” Nenek itu tahu-tahu sudah merangkulnya dan menangis, mendekapkan muka pada dadanya, berbisik-bisik, “Terimakasih… Kwee-koko (Kanda Kwee)… sekarang matipun aku tidak akan penasaran lagi…”

Girang rasa hati Kwee Seng. Ternyata dugaannya cocok. Nenek ini ingin mendapatkan kenang-kenangan manis untuk dibawa mati. Biarlah ia memenuhi hasrat hati ini, bukan menipu, melainkan bersandiwara, karena bukankah tadi ia sudah menyatakan sejujurnya bahwa ia memenuhi permintaan ini hanya untuk membalas budi, sama sekali bukan karena cinta ? Betapapun juga, meremang bulu tengkuknya mendengar suara halus nenek itu menyebutnya “kakanda”!

“Niocu..” katanya perlahan sambil mengelus rambut di kepala yang bersandar di dadanya. Menggigil tubuh yang bersandar dan merapat padanya itu ketika mendengar sebutan “niocu”. “Karena keadaan tidak mengijinkan, maka kita menikah tanpa upacara. Biarlah Tuhan yang menyaksikan pernikahan kita tanpa upacara ini, menyaksikan bahwa pada saat ini aku, Kwee Seng menyatakan dirimu sebagai isteriku.”

“Dan aku, Nenek Neraka Bumi, pada saat ini menyatakan bahwa kau menjadi suamiku… ah, Koko, betapa rindu hatiku selama tiga tahun ini ! Hampir gila aku dibuatnya, melihat engkau sama sekali tidak pernah pedulikan aku…!” Nenek itu memeluknya makin erat.

Biarpun keadaan di situ amat gelap, Kwee Seng masih meramkan matanya ! Akan tetapi hidungnya kembang-kempis, bau harum yang selalu ia rasakan apabila nenek itu mendekatinya, kini makin menghebat. Sedap harum mengusir rasa muak dan jijik yang tadinya mulai menggerogoti hatinya. Dan lengan yang merangkulnya begitu halus ! Begitu halus dan hangat. Dan ia teringat betapa sepasang mata nenek ini amat indahnya. Di dalam gelap itu, terbayanglah oleh Kwee Seng akan semua kemesraan yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, yaitu ketika ia berjumpa dengan Ang-siauw-hwa. Hatinya tergerak dan tanpa ia sadari, ia balas memeluk dan ia menundukkan mukanya. Tanpa ia ketahui, nenek itu pun sedang menghadapkan muka kepadanya, sehingga muka mereka bertemu.

Kwee Seng tersentak kaget. Muka itu halus kulitnya seperti muka Ang-siauw-hwa ketika dahulu ia menciumnya. Ah, Kwee Seng, kau sudah menjadi gila, ia mengumpat diri. Ini nenek, tua bangka bermuka keriputan, hampir mati ! Pikirannya dan perasaannya membantah, namun kenyataannya, ia bukan seorang nenek yang sudah tua, melainkan dalam perasannya ia memeluk Ang-siauw-hwa ! Beberapa kali ia menciumi muka wanita dalam pelukannya ini, tangannya meraba-raba membelai muka, rambut dan leher. Ia yakin, ini Ang-siauw-hwa ! Akan tetapi Ang-siauw-hwa sudah meninggal dunia ! Mana mungkin ?

“Kwee-koko… ah, betapa cintaku kepadamu…” Nenek itu berbisik-bisik dan terisak penuh kebahagiaan dan haru.

Suaranya pun suara Ang-siauw-hwa ! “Kwee-koko, betapa rindunya aku kepadamu…”

Kwee Seng teringat akan batu api dan pelita yang ia letakkan di atas lantai. Tangannya meraba-raba dan lain saat ia telah mencetuskan batu api sehingga bunga api berpijar-pijar memberi penerangan sekilatan saja. Namun sinar terang sekilat itu cukuplah sudah. Tangannya menggigil. Dalam kilatan sinar bunga api itu ia melihat muka yang halus, cantik jelita, hidung mancung bibir merah mata indah. Muka Ang-siauw-hwa!

“Kekasihku…, kau.. kau Kim Lin… Ang-siauw-hwa… alangkah rinduku kepadamu!”

Kwee Seng menjadi seperti gila. Ia menumpahkan seluruh rasa rindu dan cintanya, bahkan cinta kasihnya yang pernah ia kandung terhadap diri Liu Lu Sian, ia tumpahkan kepada nenek itu ! Kesadarannya kadang-kadang memperingatkannya bahwa yang berada dalam pelukannya adalah seorang nenek akan tetapi ia tidak mau menerima peringatan ini, karena menurut perasaannya ia berkasih-kasihan mesra dengan seorang wanita muda yang dalam anggapannya kadang-kadang seperti Ang-siauw-hwa dan kadang-kadang seperti Liu Lu Sian !

Memang di dunia, tiada yang sempurna kecuali Tuhan. Apalagi manusia, mahluk yang banyak sekali melakukan penyelewengan-penyelewengan, mahluk yang selemah-lemahnya, setiap orang manusia tentu ada saja kelemahannya di samping kebaikan-kebaikannya. Pemuda ini dahulunya tidak suka minum arak, mencium arak pun menimbulkan rasa muak. Akan tetapi setelah ia terguncang batinnya oleh Lu Sian di dalam pesta Beng-kauw, ia menjadi pemabok, minum tanpa batas lagi, tenggelam ke dalam nafsunya, seperti orang mabok, lupa daratan lupa segalanya. Lupa bahwa ia barkasih-kasihan dengan seorang nenek ? Dalam anggapannya, ia memperisteri seorang wanita yang muda dan cantik jelita ! Inilah kelemahan Kwee Seng, pendekar muda yang sakti itu. Perasaannya terlalu halus, terlalu lemah, mudah terpengaruh.

Belasan hari lamanya dalam gelap gulita itu ia berkasih-kasihan dengan nenek Neraka Bumi yang dianggapnya seorang gadis jelita setengah Ang-siauw-hwa setengah Liu Lu Sian ! Tak pernah nenek itu membolehkan dia menyalakan pelita. Tak pernah Kwee Seng meninggalkan kamar kitab, dilayani nenek itu yang bergerak cepat menyediakan segala kebutuhan makan mereka, semua dilakukan di dalam gelap. Akan tetapi Kwee Seng merasa bahagia, tak pernah teringat pula olehnya tentang diri nenek tua renta yang berkeriputan kedua pipinya.

Dua pekan lewat dengan cepatnya bagi dua orang mahluk yang berkasih-kasihan itu. Malam itu Kwee Seng tidur dengan nyenyaknya, tidur dengan senyum menghias bibirnya, dengan bayangan kepuasan batin menyelimuti wajahnya. Ia mimpi tentang rumah gedung seperti istana, di mana ia tidur dalam sebuah kamar yang terhias indah, di atas pembaringan dari kayu cendana berukir, di samping isterinya, seorang puteri yang cantik jelita ! Hawa udara amat dingin, menyusup ke tulang sum-sum, membuatnya setengah sadar. Ketika membuka matanya sedikit, ia melihat keadaan remang-remang, teringat ia akan isteri dalam mimpi, tangannya meraba-raba dan menyentuh rambut halus di dekatnya, ia membalik dan memeluk isterinya puteri cantik jelita, menarik napas panjang penuh kebahagiaan.

Tiba-tiba Kwee Seng teringat dan kaget. Ia tidak mimpi ! Ia berada dalam kamar kitab bersama isterinya. Dan mengapa keadaan tidak gelap lagi ? Ada cahaya memasuki kamar. Ah, musim gelap dan banjir sudah berhenti ! Ia dapat melihat tangannya, dapat melihat rambut hitam halus yang melibat-libat tangan dan lehernya, dapat melihat kepala yang ia dekap di dadanya. Kegelapan yang mengerikan telah pergi !

Ia melompat bangun, bukan main gembiranya. Saking gembiranya, ia hendak memeluk isterinya, hendak memberi tahu bahwa kegelapan sudah pergi. Ia membungkuk dan… tiba-tiba ia terbelalak dan tubuhnya mencelat mundur seakan-akan dipagut ular berbisa. Yang tidur melingkar karena hawa dingin, tidur pulas dengan napas panjang, rambut hitam gemuk terurai kacau, pakaian tambalan, ternyata sama sekali bukan gadis jelita seperti yang ia anggap selama belasan hari ini, melainkan seorang nenek tua bermuka penuh keriput !

Teringatlah Kwee Seng akan segala hal yang selama ini tertutup oleh gelora nafsunya sendiri. Sadarlah ia bahwa selama belasan hari ini ia berkasih-kasihan dengan seorang nenek-nenek ! Bukan lagi mengorbankan diri untuk menyenangkan hati nenek-nenek itu, bukan lagi mengorbankan diri untuk membalas budi, sama sekali bukan, karena selama belasan hari ini dialah yang memperlihatkan kasih sayang yang mesra ! Dialah yang seakan-akan tergila-gila, dan ternyata ia telah tergila-gila kepada seorang nenek-nenek !

Mendadak Kwee Seng tertawa dan kedua tangannya menampari mukanya sendiri, “Plak-plak-plak-plak!” Begitu terus menerus berkali-kali sampai kedua pipinya menjadi merah biru dan bengkak-bengkak, kemudian ia lari keluar dari kamar itu sambil masih terus tertawa-tawa. Cepat sekali ia lari seperti dikejar setan. Memang ia dikejar setan. Setan bayangan pikirannya sendiri. Kesadaran yang telah membuka matanya kini berubah menjadi setan yang mengejar-ngejarnya, yang mengejeknya, sehingga ia malu ! Malu dan harus ia pergi dari situ cepat-cepat. Begitu cepat larinya sehingga ia tidak mendengar lagi seruan jauh di belakangnya, seruan suara halus memanggil-manggilnya. Begitu tiba di tepi sungai di dalam terowongan, yaitu Arus Maut yang sudah mulai menurun airnya dan tidak begitu ganas lagi, tanpa berpikir panjang Kwee Seng yang lari ketakutan terhadap kejaran setan itu segera meloncat ke tengah.

“Byuuur!” Air muncrat tinggi. Akan tetapi biarpun ia sudah terjun ke dalam air dan menyelam di dalam air dingin, tetap saja bayangan itu mengejar-ngejarnya dan mengejeknya, Kwee Seng meramkan mata, menggerakkan kaki tangannya melawan arus air sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

Ia tidak tahu betapa di pinggir sungai itu, seorang wanita berlutut dan menangis, memanggil-manggil namanya dengan suara mengharukan, seorang wanita yang rambutnya riap-riapan; rambut yang hitam halus dan panjang, seorang wanita yang pakaiannya tambal-tambalan, yang mukanya basah air mata, muka yang cantik jelita kedua pipinya kemerahan hidungnya mancung bibirnya merah matanya jernih, muka yang muda dan jelita. Kwee Seng tidak sempat melihat betapa wanita muda yang cantik ini menangis, di tangan kanannya tergenggam gagang kipasnya yang dahulu rusak ketika ia terseret arus dan tinggal gagangnya saja, tidak sempat melihat betapa tangan kiri wanita jelita itu tergenggam sebuah topeng daripada kulit yang amat halus buatannya, topeng seorang nenek-nenek tua renta..!

tidak yang terpenting, dalam cerita ini. Sebelum kita melupakan gadis perkasa yang sudah mendatangkan banyak gara-gara karena kecantikan dan kegagahannya ini, marilah kita mengikuti perjalanan dan pengalamannya yang amat menarik.

Seperti yang telah diceritakan di bagian depan, Liu Lu Sian tidak mau ikut pulang dengan ayahnya, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, yang memeberi waktu satu tahun kepadanya untuk merantau dan “memilih suami”. Gadis itu masih berdiri termangu-mangu di atas puncak bukit, memandang ke arah jurang dimana Kwee Seng terjungkal dan lenyap. Betapapun juga, ia merasa kasihan kepada Kwee Seng yang ia tahu amat mencintanya. Untuk penghabisan kali ia menjenguk ke jurang hitam itu dan berkata lirih. “Salahmu dan bodohmu sendiri, mudah saja menjatuhkan hati terhadap setiap gadis cantik.” Kemudian ia menyimpan pedangnya dan berlari menuruni puncak bukit. Ia kembali menuju ke benteng, akan tetapi tidak langsung ke sana, melainkan berkuda memasuki sebuah dusun yang masih ramai karena penduduknya mengandalkan keamanan dusun mereka dengan benteng yang letaknya tidak jauh dari situ.

Sewaktu Lu Sian makan dalam sebuah warung untuk sekalian beristirahat menentramkan pikirannnya yang terguncang dan sambil makan ia mengenangkan keadaan Jenderal Kam Si Ek yang amat menarik hatinya, ia mendengar derap kaki banyak kuda memasuki dusun. Pelayan warung kelihatan gugup sekali dan di luar terdengar orang berteriak-teriak. Tadinya Lu Sian tidak mempedulikan keadaan ini, akan tetapi ketika derap kaki kuda, mendekat, ia kaget sekali mendengar gemuruh kaki kuda, menandakan bahwa yang datang adalah pasukan yang banyak jumlahnya. Dan ketika ia menengok ke jalan, orang-orang sudah lari cerai-berai bersembunyi.

“Ada apakah, Lopek?” tanyanya kepada tukang warung yang juga kelihatan takut.

“Nona, tidak ada waktu lagi bicara panjang. Aku harus segera barsembunyi dan kalau nona sayang keselamatanmu, sebaiknya ikut bersembunyi pula.”

“Ada apakah ? Barisan apa yang datang itu?”

“Entah barisan apa. Akan tetapi terang bahwa ada pasukan berkuda yang banyak sekali lewat kampung ini, dan pada saat seperti sekarang ini, semua pasukan merupakan perampok-perampok yang jahat, apalagi kalau melihat wanita cantik.” Setelah berkata demikian, tukang warung itu tanpa menanti Lu Sian lagi sudah lari melalui pintu belakang !

Lu Sian tersenyum mengejek dan melanjutkan makannya. Apa yang perlu ia takutkan ? Pasukan itu boleh jadi ganas dan menggangu orang baik-baik, akan tetapi terhadap dia, mereka akan bisa apakah ? Boleh coba-coba ganggu kalau hendak berkenalan dengan pedangnya ! Akan tetapi ketika mendengar

derap kaki kuda itu sudah dekat, ia tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk ke luar warung menonton.

Kiranya pasukan yang cukup besar, lebih dari lima puluh orang pasukan berkuda, dengan kuda yang bagus-bagus, dipimpin oleh seorang komandan muda yang bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Pada saat Lu Sian keluar, ia melihat seorang menyimpangkan kudanya ke pinggir jalan dimana terdapat

seorang wanita muda sedang membetot-betot tangan puteranya yang berusia tiga tahun. Anak ini agaknya senang melihat begitu banyaknya orang berkuda dan menangis tidak mau ikut ibunya. Wanita itu masih muda, usianya takkan lebih dua puluh lima tahun. Wajahnya lumayan kulitnya kuning bersih.

“Aihh, manis kau tinggalkan saja anak nakal itu dan mari ikut denganku, malam ini bersenang-senang denganku. Ha-ha-ha!” Penunggang kuda itu membungkukan tubuhnya ke kiri dan tangannya yang berlengan panjang itu sudah diayun hendak menyambar pinggang wanita muda yang menjerit ketakutan.

“Tar-tar!” Dua kali cambukan mengenai lengan tentara yang hendak berbuat tidak sopan itu, disusul bentakan nyaring, “Mundur kau ! Masuk barisan kembali ! Di wilayah Kam-goanswe, apakah kau berani hendak mencemarkan namaku ? Orang tolol!” Kiranya yang mencambuk dan membentak itu adalah Si Opsir Muda. Wanita itu cepat-cepat menggendomg anaknya yang menangis dan lenyap ke belakang sebuah rumah.

Akan tetapi mata opsir tinggi besar hitam itu kini mengerling ke arah Lu Sian, jelas bayangan matanya penuh kekaguman dan kekurangajaran. Akan tetapi agaknya si opsir menahan napsunya dan melanjutkan kudanya, memimpin barisannya menuju ke benteng. Hanya sekali lagi ia menengok dan tersenyum kepada Lu Sian. Juga hampir semua anggota barisan menengok ke arahnya, tersenyum-senyum menyeringai. Muak rasa hati Lu Sian dan ia masuk kembali ke dalam warung. Akan tetapi kejadian itu membuat ia duduk termenung, lenyap nafsu makannya.

Kam Si Ek agaknya amat disegani oleh para tentara pikirnya. Benar-benar seorang muda yang mengagumkan. Akan tetapi mengapa pemuda seperti itu suka menjadi seorang jenderal, padahal sebagian besar anak buahnya terdiri dari orang-orang yang suka mempergunakan kedudukan dan kekuasaan serta kekuatan menindas Si Lemah ? Ia harus menguji kepandaiannya.

Setelah rombongan tentara itu lenyap berangsur-angsur penduduk kembali ke rumah masing-masing jalan penuh lagi oleh orang-orang yang hilir mudik. Pemilik warung juga datang kembali dan ia terheran-heran melihat Lu Sian masih duduk di situ, “Eh, kau masih berada di sini, Nona ? Hebat, benar-benar Nona memiliki ketabahan yang luar biasa. Untung bahwa dusun ini dekat dengan benteng Kam-goanswe, kalau tidak, tentu sudah rusak binasa dusun ini sejak lama seperti dusun-dusun lain yang dilewati rombongan seperti itu.”

“Lopek (Paman Tua), apakah semua tentara selalu berbuat kejahatan seperti itu terhadap rakyat?”

“Boleh dibilang semua. Tergantung kepada komandannya. Kalau si komandan baik, anak buahnya pun baik. Ah, kalau saja semua perwira seperti Jenderal Kam, tentu hidup ini akan lebih aman dan tenteram. Semoga orang seperti Kam-goanswe diberi panjang umur!”

Lu Sian termenung. Orang muda seperti Kam Si Ek memang sukar dicari keduanya. Dalam hal ilmu silat, tentu saja tidak mungkin dapat mengalahkan Kwee Seng. Akan tetapi dalam hal-hal lain Kam Si Ek jauh menang kalau dibandingkan dengan Kwee Seng. Teringat ia penuh kekaguman betapa Kam Si Ek menghadapi rayuan tiga orang wanita cantik. Dan ia merasa jantungnya berdebar ketika ia teringat ucapan Kam Si Ek sebulan lebih yang lalu ketika panglima muda itu naik ke panggung di pesta Beng-kauw untuk menolong seorang pemuda yang kalah. Masih terngiang di telinganya kata-kata Kam Si Ek ketika itu, “Hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya hatiku menjadi pemenang …. Akan tetapi …. Bukan beginilah caranya. Maafkan, Nona, biarlah aku mengaku kalah terhadapmu.” Itulah kata-katanya, kata-kata yang jelas merupakan pengakuan bahwa pemuda ganteng itu juga “ada hati” terhadapnya.

Malam hari itu, dengan mengenakan pakaian ringkas akan tetapi setelah menghias diri serapi-rapinya, Lu Sian membawa pedangnya, berlari cepat menuju ke benteng Kam Si Ek. Ia menjadi heran dan juga lega melihat bahwa penjagaan di sekitar benteng sekarang sama sekali tidaklah sekuat kemarin, bahkan beberapa orang penjaga yang berada di pintu benteng, kelihatan sedang bermain kartu di bawah sinar pelita reng. Dengan mudah Lu Sian lalu melompati tembok benteng melalui sebatang pohon, dan beberapa menit kemudian ia telah berloncatan ke atas genteng.

Akan tetapi ketika ia berada di atas genteng gedung tempat tinggal Kam Si Ek yang berada di tengah-tengah kumpulan bangunan itu, ia mendengar suara orang berkata-kata dengan keras, seperti orang bertengkar. Cepat ia berindap dan dengan hati-hati melayang ke bawah memasuki gedung dari belakang, dan di lain saat ia mengintai dari sebuah jendela ke dalam ruangan di mana terjadi pertengkaran. Ia melihat seorang wanita berpakaian serba putih yang bukan lain adalah Lai Kui Lan kakak seperguruan Kam Si Ek. Kui Lan berdiri di tengah ruangan sambil bertolak pinggang, mukanya kemerahan metanya berapi-api marah sekali. Di hadapannya duduk tiga orang perwira, dengan muka tertawa-tawa mengejek. Seorang di antaranya, yang duduk di tengah bukan lain adalah komandan pasukan yang tadi dilihat Lu Sian ketika pasukan lewat di dusun.

“Lai Li-hiap , sebagai bekas pembantu Sutemu, saya harap Li-hiap (Nona Yang Gagah) suka ingat bahwa urusan mengenai ketentaraan adalah urusan kami, Li-hiap tidak berhak mencampurinya.” Kata perwira yang duduk di kiri.

“Betul, sudah cukup lama kami terpaksa bersabar dan tak berkutik di bawah kekerasan Kam-goanswe. Sekarang Phang-ciangkun (Panglima Phang) yang memegang komando di benteng ini, Lai-hiap tidak berhak mencampuri urusan kami!” kata perwira ke dua yang duduk di sebelah kanan. “Sudah terlalu banyak Li-hiap biasanya mencampuri urusan ketenteraan, sewenang-wenang menghukum anak buah kami padahal biarpun Li-hiap adalah kakak sepergurun Kam-goanswe namun Li-hiap tetap seorang biasa, bukan anggauta ketentaraan.”

Makin marahlah Lai Kui Lan. Ia menuding telunjuknya ke arah dua orang bekas pembntu adik seperguruannya itu. “Kalian manusia-manusia yang pada dasarnya sesat ! Suteku menjalankan disiplin keras, menghukum tentara menyeleweng, itu sudah semestinya ! Dan aku membantu Suteku menegakkan nama baik benteng ini, mencegah anak buah melakukan penganiayaan kepada rakyat, juga sudah merupakan kewajiban setiap orang gagah. Di depan Sute, kalian berpura-pura baik, sekarang , baru setengah hari Sute pergi memenuhi panggilan gubernur untuk menghadapi bahaya serangan bangsa Khitan, kalian sudah memperlihatkan sifat asli kalian yang buruk ! Membiarkan anak buah kalian menculik wanita, merampas harta benda rakyat. Orang-orang macam kalian ini mana patut memimpin tentara ? Pantasnya dikirim ke neraka !”

Dua orang perwira itu marah dan bangkit berdiri sambil mencabut golok mereka, sedangkan Kui Lan masih berdiri tegak tanpa mencabut senjata, memandang dengan senyum mengejek karena ia sudah maklum sampai di mana kepandaian kedua orang bekas pembantu sutenya itu. Akan tetapi komandan baru benteng itu, Phang-ciangkun yang tinggi besar dan berkulit hitam itu segera berdiri, tertawa dan menjura kepada Kui Lan

“Nona, betapapun juga, kedua orang saudara ini berkata benar bahwa semenjak saat berangkatnya Sutemu tadi, secara sah akulah yang menjadi komandan di sini dan bertanggung jawab terhadap semua peristiwa. Nona, sebagai seorang yang sudah lama hidup di dalam benteng, tentu Nona tahu akan peraturan-peraturan di sini, tahu bahwa segala apa yang terjadi adalah tanggung jawab sepenuhnya daripada komandan benteng. Mengapa Nona sekarang hendak turun tangan sendiri ? Bukankah ini berarti Nona melakukan pemberontakan dan sama sekali tidak memandang mata kepada komandan barunya ? Nona, harap nona suka bersabar dan daripada kita bertengkar yang hanya akan menimbulkan hal-hal tidak baik dan memalukan kalau terdengar anak buah, lebih baik mari kita bergembira, makan minum bersama dan bersenang-senang!” Setelah demikian, komandan muda itu memandang kepada Kui Lan dengan sinar mata bercahaya, muka berseri-seri mulut tersenyum, jelas membayangkan maksud hati yang kurang ajar.

Hampir meledak rasa dada Kui Lan saking marahnya. Akan tetapi ia tahu bahwa sutenya sendiri akan marah kalau ia menimbulkan keributan di dalam kekuasaan komandannya, maka ia segera berkata keras, “Aku akan menyusul Sute, akan kuceritakan semua dan awaslah kalian kalau dia kembali!” Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan meloncat keluar dari dalam rumah itu.

memang akan mendatangkan kesulitan saja kalau tetap tinggal di sini. Dia hendak menyusul Kam Si Ek ? Ha-ha-ha!” kata seorang yang duduk di kiri.

Temannya, yang duduk di kanan berkata pula sambil tertawa, “Begitu datang ke kota, Kam Si Ek akan terjeblos ke dalam perangkap. Sucinya menyusul, biarlah ditangkap sekali. Phang-ciangkun, mari kita bersenang-senang makan minum sepuasnya, dan anak buah kami tadi berhasil menangkap beberapa ekor anak ayam, kau boleh pilih yang paling mungil, ha-ha-ha!”

Mereka bertiga tertawa-tawa gembira, akan tetapi hanya sebentar karena secara tiba-tiba saja mereka berhenti tertawa, berdiri dan mencabut senjata. Di depan mereka telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah perkasa. Gadis yang bertubuh ramping padat, berpakaian indah tapi ringkas sehingga mencetak bentuk tubuhnya, rambutnya yang hitam gemuk digelung ke atas, diikat dengan pita sutera kuning, wajahnya jelita sekali dengan sepasang mata bintang, hidung mancung dan bibir merah. Begitu dia muncul, ruangan itu penuh bau yang harum semerbak. Di tangannya tampak sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya, gagang pedang berupa kepala naga.

Tiga orang perwira itu berdiri ternganga, tidak hanya kaget melihat tadi ada sinar berkelebat dan ternyata berubah menjadi seorang gadis, kan tetapi juga terpesona, kagum menyaksikan kecantikan yang tiada taranya ini. Phang-ciangkun agaknya teringat akan gadis ini, gadis yang siang tadi keluar dari sebuah rumah makan. Ia adalah seorang yang sudah banyak mengalami pertempuran, seorang yang sudah mengeras oleh tempaan pengalaman, maka cepat ia dapat menenteramkan hatinya, malah segera tertawa dan berkata.

“Ah, Nona yang cantik seperti bidadari ! Kau sudah menyusul datang ? Apakah hendak menemaniku makan minum?”

Akan tetapi tiba-tiba ia berteriak kaget karena tahu-tahu meja di depannya telah melayang ke arahnya. Tidak tampak siapa yang melakukan ini, hanya kelihatan gadis jelita itu sedikit menggerakkan kaki. Dengan goloknya, Phang-ciangkun menangkis dan membacok meja yang pecah menjadi dua sedangkan dia sendiri melompat ke pingir, akan tetapi tetap saja ada kuah sayur asin yang menyambar ke mukanya, membuat matanya pedas sekali. Dua orang temannya berseru marah dan meloncat maju dengan golok di tangan, menerjang Lu Sian.

“Tahan!” teriak Phang-ciangkun, yang betapapun juga, merasa sayang kepada gadis yang luar biasa cantiknya ini, tidak ingin melihat gadis itu terbunuh dan ingin menawannya hidup-hidup. Dua orang temannya menahan golok dan meloncat mundur.

“Nona, kau siapakah ? Dan apa sebabnya kau datang mengamuk ? Tidak ada permusuhan di antara kita!”

Dengan telunjuknya yang kecil runcing Lu Sian menuding ke arah muka hitam itu. “Ihh, manusia keparat ! Kau masih bisa bilang tidak ada permusuhan ? kau menipu Kam Si Ek, kemudian merampas kedudukannya, menghina sucinya. Dan kau masih bilang tidak ada apa-apa?”

“Eh, kau apanya Kam Si Ek?” “Tak usah kau tahu!” jawab Lu Sian dan tahu-tahu pedangnya berkelebat menjadi sinar berkilauan yang bergulung-gulung dan menyambar ke arah Phang-ciangkun. Perwira ini kaget bukan main. Itulah sinar pedang yang luar biasa, tanda bahwa pemainnya adalah seorang kiam-hiap (pendekar pedang) yang mahir. Ia cepat memutar golok besarnya, dan dua orang perwira pembantunya juga meloncat dari kanan kiri membantunya. Akan tetapi mereka itu hanyalah orang-orang kasar yang pandai memerintah anak buah, menggunakan kekuasaan dan kekasaran untuk bertindak sewenang-wenang, yang hanya berani dan sombong karena mengandalkan anak buah banyak. Mana bisa mereka menghadapi pedang Toa-hong-kiam di tangan Liu Lu Sian, dara perkasa yang telah digembleng secara luar biasa sejak kecil oleh ayahnya ? Tak sampai sepuluh jurus, Phang-ciangkun

sudah terjungkal dengan leher terputus, dan dua orang perwira pun terjungkal, seorang tertembus dadanya oleh pedang, yang seorang lagi sengaja dirobohkan dengan sebuah totokan pada lambungnya. Sebelum roboh tiga orang itu sempat berteriak-teriak memanggil bala bantuan, akan tetapi ketika penjaga di luar gedung menyerbu ke dalam, mereka hanya melihat Pang-ciangkun dan seorang perwira pembantunya menggeletak tak bernyawa lagi, sedangkan perwira pembantu lainnya telah lenyap. Para penjaga berserabutan lari mencari dan mengejar, ada yang melaui jendela yang terbuka, ada yang melalui pintu depan dan belakang. Kentong dan gebreng dipukul bertalu-talu karena tadinya mereka itu semua bersenang-senang karena mereka terbebas daripada tindakan disiplin keras dari Kam Si Ek.

Dengan cepat sekali Liu Lu Sian melarikan diri dari benteng sambil mengempit tubuh perwira yang dirobohkan dengan totokan tadi. Setelah tiba di dalam hutan yang sunyi dan gelap, ia membanting perwira itu ke atas tanah sambil membebaskan totokannya dengan ujung sepatu yang menendang. Perwira itu mengerang kesakitan dan ia segera berlutut minta-minta ampun. Memang sebenarnyalah, hanya seorang pengecut yang biasa bertindak sewenang-wenang apabila kebetulan kekuasaan berada di tangannya, akan tetapi begitu kekuasaannya lenyap dan ia terancam bahaya, ia tidak akan merasa malu-malu untuk memperlihatkan sifat pengecutnya.

“Hayo lekas ceritakan, rencana jahat apa yang dilakukan komplotan Phang-ciangkun untuk mencelakakan Kam Si Ek ! Sekali kau membohong, pedangku akan memenggal lehermu!”

Merasa betapa pedang yang dingin menempel di tengkuknya, dengan suara tergagap-gagap perwira itu berkata, “Ampunkan saya, Lihiap (Pendekar Wanita), saya… saya hanya orang bawahan, tidak ikut-ikut…! Yang mengatur semua adalah Phang-ciangkun dan teman-temannya di Shan-si. Karena iri terhadap nama besar dan kekuasaan Kam-goanswe, untuk diajak berunding mengenai urusan negara. Kesempatan ini dipergunakan Phang-ciangkun yang mengundang Kam-goanswe ke ibu kota, akan tetapi

di sana ia telah bersekongkol dengan teman-temannya untuk menangkap Kam-goanswe dan melaporkan kepada Gubernur bahwa Kam-goanswe tidak mau menghadap dan malah merencanakan pemberontakan.”

“Hemm, keji!” Lu Sian makin keras menempelkan pedangnya. Hayo katakan di mana Kam Si Ek akan di tahan !”

“Saya… saya tidak tahu betul, hanya … hanya mendengar dari Phang-ciangkun bahwa pencegatan akan dilakukan di kota Poki dan mereka bermarkas dalam Kelenteng Tee-kong-bio di kota itu … dan …

ahh! !” jerit terakhir ini mengiringkan nyawanya yang melayang ketika pedang Yoa-hong-kiam memisahkan kepala dari badannya.

Lu Sian berlari pulang ke rumah penginapan, akan tetapi alangkah marahnya ketika mendapat kenyataan bahwa pasukan tentara yang tadinya mengejarnya telah mendatangi rumah penginapan, merampas kuda dan pakaiannya, bahkan memukuli Si Pemilik rumah penginapan dan merampas harta benda orang itu pula.

Penduduk sudah mendengar akan kehebohan di dalam benteng, tentang terbunuhnya ciangkun baru. Mereka merasa kuatir sekali karena Jenderal Kam sudah pergi, dan diam-diam mereka mengharapkan bantuan Lu Sian. Maka ketika gadis ini muncul, mereka itu, terutama sekali orang-orang tua para gadis yang terculik ke dalam benteng, berlutut mohon bantuan Lu Sian untuk membebaskan gadis-gadis itu. Tanpa menjawab Lu Sian lenyap ke dalam gelap, dengan hati panas ia kembali ke benteng !

Tak lama kemudian, menjelang tengah malam, kembali timbul geger di dalam benteng. Kandang kuda kebakaran, belasan orang penjaga tewas dan kuda yang paling baik, tunggangan Phang-ciangkun sendiri, seekor kuda pilihan, telah lenyap ! Akan tetapi, Lu Sian sama sekali tidak peduli tentang nasib gadis-gadis yang tertawan. Memang demikianlah watak Liu Lu Sian. Ia terlalu mementingkan diri sendiri, dan hanya mau turun tangan mati-matian untuk membela kepentingan sendiri atau kepentingan orang yang ia cinta. Urusan orang lain ia sama sekali tidak peduli.

Kota Poki adalah sebuah kota di propinsi Shan-si, kota yang cukup besar dan ramai. Tembok kotanya tinggi dan keadaan kota itu cukup subur dan makmur karena selain letaknya di kaki gunung Cin-ling-san, juga di sebelah selatan kota ini mengalir Sungai Wei-ho yang airnya cukup untuk keperluan para petani di daerah itu. Pintu gerbang-pintu gerbang kota selalu terbuka lebar dan orang-orang hilir mudik keluar masuk pintu gerbang, berikut-kereta-kereta yang membawa banyak dagangan. Selain ini, juga sebagai kota pelabuhan sungai, banyak barang mengalir masuk atau keluar melalui jalan sungai, menambah kesibukan para pedagang di dalam kota.

Lu Sian tidak mau memasuki kota itu dengan kudanya. Selain kuda yang ia tunggangi adalah kuda milik Pang-ciangkun yang mungkin akan dikenal orang, juga kedatangannya ke kota itu adalah untuk menyelidiki Kam Si Ek. Ia menitipkan kudanya pada seorang petani yang tinggal di dusun sebelah selatan kota, kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Sebuah perahu menyeberangkannya ke kota Poki dan ia memasuki kota yang ramai itu sambil berjalan perlahan.

Akan tetapi, ke manapun juga Liu Lu Sian pergi dan dimanapun ia berada, selalu gadis ini menjadi perhatian orang. Tak lama sesudah ia masuk kota Poki, segera ia menjadi pusat perhatian, terutama laki-laki, yang terpesona oleh kecantikannya yang luar biasa. Lu Sian tidak pedulikan mereka ini sungguhpun keadaan macam ini selau mendatangkan rasa bangga di dalam hatinya. Yakin akan kecantikannya yang membikin semua orang laki-laki menoleh untuk mengaguminya, Lu Sian berjalan dengan langkah cepat, lalu masuk ke dalam rumah penginapan yang cukup besar, memesan kamar. Setelah berada di rumah penginapan, bebaslah ia daripada perhatian orang di jalan, sungguhpun beberapa orang tamu penginapan dan para pelayan tetap saja menatapnya dengan pandang mata serigala jantan kelaparan !

Karena tidak ingin menarik perhatian banyak orang, Lu Sian memanggil seorang pelayan mendekati kamarnya, seorang pelayan yang sudah setengah tua dan berwajah jujur.

“Paman pelayan, tahukah kau dimana letaknya Klenteng tee-kong bio di kota ini ? Aku hendak pergi bersembahyang ke sana.”

Muka yang membayangkan kejujuran itu berkerut-kerut, lalu Si Pelayan menengok ke kanan kiri lebih dulu, baru menjawab dengan suara perlahan. “Nona, kalau hendak bersembahyang, banyak kelenteng-kelenteng ternama di kota ini. Mengapa harus ke sana? Lebih baik ke Kwan-im-bio di sebelah timur jembatan besar, atau ke Hai-ong-bio di dekat sungai atau…”

“Tidak, aku hanya ingin bersembahyang ke Tee-kong-bio.” Jawab Lu Sian yang sudah menduga bahwa agaknya Tee-kong-bio merupakan tempat yang tidak menyenangkan hati pelayan itu, maka cepat disambungnya. Aku hendak bersembahyang membayar kaul, maka harus ke Tee-kong-bio. Di manakah letaknya kelenteng itu?” Memang tentu saja tidak sukar mencari kelenteng di dalam kota sebesar Poki saja, akan tetapi daripada bertanya-tanya orang di jalan dan menarik perhatian, lebih baik kalau sudah mengetahui tempatnya sehingga dapat langsung ke sana.

“memang, Siocia (Nona), bukan sekali-kali saya hendak mencampuri urusan nona. Akan tetapi sungguh-sungguh keadaan kelenteng itu tidak cocok untuk didatangi seorang tamu seperti nona. Kelenteng itu selalu sunyi, tak pernah ada pengunjungnya, tidak terawat sehingga hampir merupakan sebuah kelenteng kuno yang sudah tak terpakai lagi. Yang datang ke situ hanyalah orang-orang

gelandangan, hwesio-hwesio yang suka minta derma paksa dan… ah, sudahlah, saya sudah bercerita cukup. Kelenteng itu letaknya di sebelah utara kota, dekat pintu gerbang, tempat yang sunyi. Sebaiknya Nona jangan pergi ke sana…”

“Cukup, aku dapat menjaga diri. Terima kasih atas keteranganmu.” Kata Lu Sian yang merasa tak sabar lagi mendengar ucapan Si Pelayan. Pelayan itu melihat sinar mata marah dari Lu Sian, membalikkan tubuhnya dan pergi sambil mengangkat pundak.

Karena amat menguatirkan nasib Kam Si Ek, siang itu juga Lu Sian ke luar dari rumah penginapan. Ia hanya membawa pedangnya yang disarungkan di punggung. Kembali banyak pasang mata laki-laki menoleh ke arahnya, bahkan banyak yang berhenti berjalan dan mengikutinya dengan pandang mata kagum. Akan tetapi Lu Sian tidak menghiraukan mereka, mulutnya memperlihatkan senyum mengejek. Ketika ia lewat di jalan yang menuju ke utara, jalan yang agak sunyi, ia melihat sekelompok orang muda terdiri dari lima orang yang tadinya bercakap-cakap di pinggir jalan, saling berbisik ketika melihatnya, kemudian mereka itu sengaja berdiri di tengah jalan sikap yang menjemukan. Melihat mereka itu ia tidak takut biarpun ia membawa-bawa pedang, agaknya mereka itu terdiri dari orang-orang yang mengandalkan diri sendiri, agaknya mereka tahu sedikit akan ilmu silat maka hendak menggodanya.

Lu Sian tidak mau membuang banyak waktu dengan urusan-urusan kecil. Ia menghadapi urusan besar hendak mencari dan menolong Kam Si Ek, apa gunanya melayani segala macam laki-laki kurang ajar seperti mereka itu ! Ia mengerahkan lwee-kangnya dan terus melangkah dengan tindakan gagah, sama sekali tidak melirik ke arah mereka. Sebaliknya, lima orang laki-laki itu membuka mata lebar, mengeluarkan suara tak menentu dan seperti dikomando mereka lalu menyingkir ke pinggir jalan dengan mata masih melotot lebar dan mulut ternganga. Siapa orangnya yang tak menjadi gentar melihat seorang gadis cantik yang berpedang di punggungnya, berjalan seenaknya akan tetapi bekas telapak kakinya membuat tanah yang diinjaknya ambles sampai sejengkal dalamnya ? Seekor gajah pun takkan meninggalkan tapak kaki seperti itu di atas jalan yang banyak batunya !

Lu Sian mempercepat jalannya ketika kelenteng itu sudah tampak dari jauh. Genteng-gentengnya banyak yang pecah dan sepasang ukiran naga di atas genteng kelenteng itu pun sudah luntur warnanya dan mustika naga di tengah yang diperebutkan dua ekor naga itu sudah pecah-pecah pula. Tembok bangunan kelenteng juga sudah tampak batanya. Agaknya kelenteng Tee-kong-bio ini dahulunya besar juga, akan tetapi karena tidak terawat, maka menjadi amat buruk. Pekarangannya luas, bahkan di belakangnya juga terdapat kebun yang luas, bangunannya besar, akan tetapi di depan kelenteng sudah tidak tampak asap hio (dupa) mengebul seperti sudah menjadi tanda pada tiap rumah kelenteng. Namun, di tembok besar masih terdapat ukiran dengan huruf-huruf besar yang juga sudah lenyap warnanya, yaitu huruf TEE KONG BIO (Kelenteng Malaikat Bumi).

Dilihat dari depan, kelenteng itu demikian sunyi seakan-akan tidak ada penghuninya. Pintu depannya yang terdiri dari sepasang daun pintu amat besar dan tebal, juga tertutup. Tanpa ragu-ragu lagi Lu Sian memasuki pekarangan dan sesampainya di depan pintu, ia menggunakan tangannya mendorong.

Terdengar suara berkerit seperti biasa bunyi daun pintu yang lama tidak dibuka tutup. Lu Sian menanti sebentar, akan tetapi suasana tetap lengang, tidak ada sambutan pada suara daun pintu itu. Kiranya hanya daun pintu yang terdepan itu daja yang terkunci. Dari luar kin tampak jendela-jendela dan daun-daun pintu sebelah dalam terbuka belaka, ada yang terbuka separuh ada yang terbuka seluruhnya. Akan tetapi jelas bahwa tempat ini pernah dikunjungi orang-orang, malah bekas telapak kaki pada debu di lantai masih baru. Keadaan di dalamnya sama dengan keadaan di luar, penuh debu dan kotor tidak terpelihara. Di sana-sini tampak kertas-kertas butut, ada pula tikar-tikar butut. Meja toapekong (arca kelenteng) tidak tertutup kain lagi, dan tempat toapekong juga kosong. Hanya arca-arca yang sudah hampir rusak, singa-singaan batu yang tiada harganya, masih tetap di tempatnya. Barang-barang lain yang berharga tidak tampak lagi.

Dengan penuh ketabahan Lu Sian melangkah masuk. Ruangan tengah juga kosong, tidak tampak manusia. Dengan hati-hati ia melangkah lagi. Terdengar suara gerakan di sebelah kelenteng. Ia waspada dan mencabut pedangnya dengan tangan kanan, lalu memasuki sebuah kamar di ruangan tengah itu. Di atas meja yang terbuat daripada bata tampak sebuah pot kembang di mana tumbuh kembang yang masih segar, dan di sudut ruangan terdapat sebuah arca singa. Selain itu kosong, tidak tampak apa-apa lagi. Lu Sian melangkah di ambang pintu yang tak berdaun lagi, memasuki kamar.

“Wer-wer-wer……………………. !!” Tiga buah benda melayang cepat mengarah leher dan dadanya. Lu Sian cepat

miringkan tubuhnya dan tiga batang pisau menancap pada dinding di belakangnya. “Hui-to (Golok Terbang)!” Lu Sian berseru kaget karena maklum bahwa hanya orang-orang pandai saja yang dapat melontarkan golok terbang sekaligus tiga buah secara demikian kuat. Ia maklum menghadapi lawan tangguh.

“Hanya pengecut saja yang menyerang orang secara menggelap!” bentaknya marah.

Dari arah dalam terdengar orang tertawa disusul jawaban, “Hanya pengecut saja yang memasuki tempat orang tanpa permisi!”

Merah sepasang pipi Lu Sian. Ia maklum akan kebenaran kata-kata itu. Akan tetapi sebagai seorang yang wataknya tidak mau kalah, ia membentak, “Kalau kau bukan pengecut, keluarlah!”

Terdengar daun pintu berkerit dan muncullah seorang laki-laki yang sama sekali tidak disangka-sangka oleh Lu Sian. Ia mengira bahwa penyerangnya tentu seorang hwesio yang biasanya mendiami kelenteng, atau orang jahat yang telah menculik Kam Si Ek. Akan tetapi yang muncul adalah seorang pemuda yang tampan, berkepala kecil bertopi batok, wajahnya yang muda dan tampan membayangkan kelicikan,

terutama pada mulutnya yang tersenyum mengejek dan matanya yang seperti mata burung hantu. Juga pemuda itu tercengang ketika bertemu dengan Lu Sian, benar-benar tercengang sampai memandang dengan melongo.

“Aduhai, Kwam Im Pouwsat (Dewi Welas Asih) yang cantik jelita agaknya yang datang berkunjung..!” katanya, masih terpesona.

Sebaliknya, Lu Sian marah dan mendongkol sekali. “Cih, tak tahu malu ! mengaku-aku ini tempat kediamanmu sedangkan tempat ini adalah sebuah kelenteng tua yang sudah kosong dan kau sama sekali bukan pendeta!”

Orang itu segera menjura, sikapnya manis dibuat-buat, matanya tetap mengincar wajah cantik dan mulutnya tersenyum. “Bukan, Nona. Sama sekali aku bukan pendeta, melainkan seorang pemuda, berdarah bangsa Khitan yang gagah berani, namaku Bayisan…”

“Tak peduli namamu anjing atau kucing aku tidak sudi mengenalnya ! Yang jelas, serangan gelapmu tadi tak mungkin dapat kudiamkan saja tanpa terbalas!” Sambil berkata demikian, Lu Sian melangkah maju, pedangnya siap menerjang.

Akan tetapi pemuda itu tetap bersikap tenang, bahkan tertawa lebar.

“Aku tadi tidak tahu bahwa yang datang adalah seorang dara perkasa yang cantik jelita, kalau aku tahu, mana aku tega menyerang dengan hui-to ? Untung kau demikian pandai mengelak, kalau tidak… ah, sayang sekali kalau mukamu sampai lecet.”

“Keparat bermulut busuk!” Lu Sian marah dan pedangnya bergerak mengeluarkan suara berdesing. Bayisan cepat meloncat mundur dengan wajah kaget sekali. Pedang itu menyambar hebat, menyerempet meja batu yang menjadi terbelah dua seperti agar-agar terbabat pisau tajam saja !

“Kau… kau… puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan ! Kau puteri Ketua Beng-kauw yang bernama Liu Lu Sian!”

Diam-diam Lu Sian terkejut. Begini hebatkah kepandaian orang asing ini sehingga melihat sekali gerakan pedangnya saja sudah dapat mengenalnya ? Ia terkejut dan heran, terpaksa menunda serangannya, membentak. “Hemm, kau sudah tahu siapa aku, tidak lekas berlutut?”

Akan tetapi Bayisan malah tertawa girang sampai terbahak-bahak. “Bagus ! Bagus sekali ! Karena terhalang urusan penting, aku tidak sempat datang mengunjungi pesta Beng-kauw dan mencoba untuk memetik bunga dewata dari Beng-kauw ! Sekarang bertemu di sini, bukankah ini jodoh namanya ? Sudah lama aku mendengar bahwa puteri Beng-kauw memiliki ilmu kepandaian hebat, apalagi ilmu pedangnya, dan memiliki kecantikan yang tiada bandingya di dunia. Sudah terlalu banyak aku melihat wanita cantik, akan tetapi tidak ada seorang pun yang boleh dikata tiada bandingnya. Akan tetapi melihat kau, benar-benar tak pernah aku melihat lain wanita yang dapat menyamaimu, maka terang bahwa kau tentulah Liu Lu Sian ! Aha, kebetulan sekali!”

Akan tetapi ucapan ini sudah membuat Lu Sian tak dapat menahan kemarahannya lagi. Juga ia menjadi lega karena ternyata dari ucapannya itu bahwa Bayisan bukan mengenalnya dari sekali gerakan pedangnya tadi, melainkan dari dugaan tentang ilmu pedang dan kecantikannya. Maka sambil berseru keras ia menggerakkan pedangnya lagi sambil melangkah maju dan menusukkan pedangnya se arah dada lawan.

Bayisan cepat mengelak, miringkan badan ke bawah. Akan tetapi pedang Lu Sian yang bergerak aneh sudah mengejar dengan lanjutan serangan membabat ke arah leher. Cepatnya bukan main ! Bayisan terkejut, cepat ia menggulingkan diri ke bawah dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya, sambil berguling ia melepaskan sebatang hui-to ke arah lawan.

“Tranggg!” Lu Sian menangkis hui-to lawan dan sekarang Bayisan sudah berdiri menghadapinya dengan pedang di tangan sambil tertawa.

“Hebat ilmu pedangmu dan hebat kecantikanmu ! Kau patut menjadi isteri Panglima Bayisan, mari juitaku, mari ikut aku ke Khitan. Kita berdua akan dapat merebut kekuasaan di sana dan hidup bahagi…”

“Tranggg!” Terpaksa Bayisan menangkis karena cepat sekali pedang Lu sian sudah menyambar, membacok mulutnya sehingga terpaksa ia menghentikan kata-katanya. Akan tetapi selanjutnya ia tidak berani membuka mulut lagi karena Lu Sian sudah menyerangnya secara bertubi-tubi. Pedang nona ini berkelebatan laksana naga mengamuk dengan gerakan-gerakan aneh dan ganas. Inilah Ilmu Pedang Toa-hong-kiam (Ilmu Pedang Angin Badai) yang dahsyat. Angin dari pedang ini menggerakkan daun-daun pohon yang tumbuh di pot besar di sudut kiri kamar, malah beberapa helai daun rontok karenanya. Ujung pedangnya berubah banyak sekali, akan tetapi dengan jelas Bayisan melihat ujung yang asli menyerang ganas ke arah perutnya sedangkan ujung pedang lain hanya bayangan karena cepatnya pedang bergerak.

Tentu saja pemuda Khitan murid Ban-pi Lo-cia ini tidak mau dirinya disate oleh pedang lawan. Cepat ia mengubah kuda-kuda kaki menjadi miring sambil menghantamkan pedangnya dari kiri ke kanan. Kembali terdengar suara nyaring bertemunya kedua pedang dan sebelum Lu Sian sempat menyerang kembali, bayisan sudah melanjutkan pedangnya menusuk ke arah dada kiri ! Lu Sian menggerakkan lengan, pedangnya sudah terputar ke kanan dan tepat sekali menangkis. Namun Bayisan hanya menggertak, sebelum pedang tertangkis ia sudah menarik kembali pedangnya, membuat gerakan lengkung dan membabat ke arah kaki sedangkan tubuhnya mendoyong ke depan dengan tangan kiri terbuka jarinya mencengkram ke arah dada. Gerakan yang dahsyat, berbahaya, dan juga kurang ajar !

“Aiihhh!!” Seruan yang keluar dari mulut Lu Sian ini bukan seruan biasa, melainkan pekik yang dilakukan dengan pengerahan khikang sehingga kalau saja Bayisan tidak kuat sinkangnya, tentu akan roboh karena lumpuh terserang pekik luar biasa ini ! Ternyata, seperti juga Bayisan, gadis puteri beng-kauwcu ini sudah mempelajari mempergunakan jerit yang mengandung tenaga khikang untuk merobohkan lawan. Melihat

lawannya tidak terpengaruh oleh pekikannya dan serangan berbahaya itu terus dilanjutkan, Lu Sian meloncat ke atas, membiarkan pedang lawan membabat angin di bawah kedua kakinya sedangkan pedangnya sendiri dengan kecepatan kilat lalu berkelebat membabat tangan kiri lawan yang hendak berbuat kurang ajar tadi.

Di sini terbukti kehebatan Lu Sian yang dapat mengubah kedudukan terserangmenjadi penyerang. Namun lawannya juga seorang ahli karena cepat-cepat dapat menarik tangan kirinya sedangkan pedang yang membabat angin itu sudah cepat menusuk tepat ke arah hidung Lu Sian selagi gadis ini turun kembali ke atas lantai. Serangan ini terlalu mudah bagi Lu Sian dan dielakkannya. Bayisan mempergunakan ilmu pedang gaya barat, kembali pedangnya mebabat kedua kaki, begitu membabat tubuhnya mendoyong ke belakang sehingga tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membarengi dengan serangan balasan. Dan setiap kali Lu Sian meloncat, pedang Bayisan sudah terputar dan menyambut lagi kedua kaki yang turun !

Menjemukan!” Lu Sian berseru keras dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas, hampir dua meter tingginya dan dari atas pedangnya langsung membabat leher lawan yang tubuhnya mendoyong ke belakang. Bagaikan seekor kura-kura menyembunyikan kepala ke dalam leher, Bayisan menarik lehernya ke bawah dan dengan hati ngeri ia mendengar mendesingnya pedang tepat di atas tengkuknya, dan alangkah kagetnya katika ia melihat Lu Sian tidak turun ke bawah melainkan tadi meloncat dan kini tepat berada di atas kepalanya, kedua kakinya berbareng melakukan gerakan menendang ke bawah ke arah ubun-ubun dan lehernya !

“Lihai…!” serunya, dan kembali ia menggelinding ke atas lantai, tidak peduli bahwa debu tidak saja mengotori bajunya, juga mukanya terkena debu sehingga muka yang tampan menjadi coreng-moreng ! Akan tetapi ia selamat daripada bahaya maut dan kini mereka sudah saling berhadapan lagi.

menangkapmu, kalau kau masih hidup dalam pertempuran ini, lihat betapa kau akan menjadi permainanku sebelum kau kubunuh…”

“Tutup mulut!” Lu Sian meloncat ke depan dan kini ia menggunakan jurus Pat-mo Kiam-hoat yang paling lihai. Pedangnya tidak berdesing lagi, melainkan menyambar tanpa suara, hanya angin gerakan pedangnya terasa panas seperti mengandung api. Pedang itu membabat lagi ke arah mulut, mulut pemuda yang kurang ajar dan amat dibencinya. Ia sudah membayangkan akan merobek mulut itu dengan pedangnya. Akan tetapi Bayisan juga sudah marah dan mengerahkan seluruh kepandaiannya yang ia terima dari Ban-pi Lo-cia. Pedangnya membuat gerakan menyilang, pertama menangkis dan kedua menekan dari atas dengan maksud menindih pedang lawan untuk dapat menggunakan tangan kirinya mengirim pukulan. Namun perhitungannya meleset. Pat-mo Kiam-hoat merupakan ilmu pedang hitam yang penuh dengan akal muslihat, mana mudah ditindih ? Bagaikan belut licinnya, pedang itu sudah melesat keluar dari tenaga tindihannya dan kini membacok ke arah paha kanannya. Bayisan melangkah mundur, dan membarengi pukulan ke arah pusar, sedangkan tangan kirinya kini merupakan senjata hebat dengan dorongan ke depan, mengarah muka dengan pengerahan tenaga sinkang.

Dengan gerakan yang lemas dan indah Lu Sian menekuk tubuh ke kiri tanpa mengubah kedudukan kaki sehingga kepalanya hampir menempel tanah, kemudian pedangnya dari arah kiri itu melesat ke depan hendak merobek perut! “Trang, trang !” Dua kali pedang bertemu karena bagitu ditangkis pedang Lu Sian sudah bergerak lagi membacok pundak yang hanya dapat dihindarkan dengan tangkisan ke dua.

Serang-menyerang mati-matian terjadi, setiap tusukan dibalas bacokan dan demikian sebaliknya. Mereka berputaran di dalam ruangan itu, bertanding tanpa saksi, ada kalanya tubuh mereka lenyap terbungkus gulungan sinar pedang mereka, ada kalanya mereka bertanding lambat dan bergerak berputar-putar, seperti dua ekor ayam berlaga. Hampir seratus jurus mereka bertanding, peluh membasahi muka, namun belum ada yang terluka atau terdesak. Biarpun ilmu kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, juga berbeda sumber, namun ternyata tingkat mereka seimbang. Lu Sian kalah sedikit tenaganya, namun kekalahan ini tertutup oleh kelebihannya dalam kelincahan gerak.

Sebagai seorang pemuda mata keranjang yang sudah biasa menggoda dan merusak wanita, tentu saja Bayisan terpesona dan tergila-gila kepada Lu Sian yang memiliki kecantikan sukar dicari tanding, namun kehebatan ilmu silat gadis ini membuat ia merasa penasaran sekali sehingga serangan-serangannya tidak lagi main-main dan lenyaplah keinginannya menawan hidup-hidup karena lawannya benar-benar berbahaya sekali. Kini ia tidak peduli lagi apakah ia akan dapat menawan hidup-hidup atau harus membunuh, pokoknya ia harus menang karena kalau ia kalah berarti kematian baginya ! Mereka bertanding tanpa sebab tertentu, keduanya sudah melupakan urusan yang membuat mereka datang ke tempat itu.

Setekah lewat seratus jurus dan Liu Lu Sian yang maklum akan kemenangannya dalam ginkang, cepat mempergunakan kemenangan ini, mengerahkan ginkangnya, menggerakkan tubuhnya secepat burung walet menyambar-nyambar, pedangnya berkelebat bagaikan kilat halilintar. Dengan campuran Toa-hong

Kiam-hoat dan Pat-mo Kiam-hoat, ia dapat mendesak lawannya tanpa memberi kesempatan pedangnya beradu, karena terlalu sering beradu pedang berarti kerugian baginya karena ia kalah tenaga. Bayisan mulai terdesak dan di dalam hati ia menyumpah-nyumpah. Namun, tidaklah mudah bagi Lu Sian untuk mengalahkan lawan ini, lawan yang baru kali ini ia temui tanpa dapat menjatuhkannya dengan segera. Selain Kwee Seng baru kali ini ia bertemu tanding yang begini muda tapi begini tangguh, sehingga ia merasa penasaran sekali, penasaran dan marah sehingga ia tidak akan berhenti sebelum dapat membinasakannya !

Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya, pedangnya yang telah mengurung lawan, meluncur dari atas menusuk tengkuk Bayisan yang baru saja membalikkan tubuh karena melihat gadis itu tahu-tahu sudah bergerak cepat dan berada di belakangnya. Bayisan mengerti bahwa tengkuk lehernya berada dalam keadaan gawat, salah-salah bisa putus, maka sambil membalik tadi ia cepat membabitkan pedang dengan setengah putaran melindungi tengkuk. Akan tetapi karena ia menangkis dengan badan setengah membalik, maka kali ini tenaganya tidak dapat dipergunakan sepenuhnya dan tidak berhasil menindih tenaga Lu Sian yang sebaliknya memang memperhitungkan hal ini dan telah mengerahkan tenaga sepenuhnya, menggetarkan pedang yang tersalur tenaga sinkang sehingga untuk beberapa detik kedua pedang saling menempel dan lekat ! Pada detik itu juga Lu Sian telah menggerakkan tangan kirinya dan dalam pandangan Bayisan, tangan kiri gadis itu seakan-akan berubah menjadi seekor ular karena gerakannya lenggak-lenggok macam ular akan tetapi tahu-tahu dua buah jari tangan itu telah mengancam sepasang biji matanya ! Hebat sekali serangan Lu Sian kali ini, karena gerakan tubuhnya adalah berdasarkan Toa-hong-kun, gerakan pedangnya berdasarkan Pat-mo Kiam-hoat, sedangkan tangan kirinya ini mainkan gerakan Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti). Sekaligus dapat mainkan jurus-jurus campuran dari tiga macam ilmu silat tinggi, dapat dibayangkan kehebatannya.

“Ayaaaaa!!” Bayisan berseru keras saking kagetnya, mengerahkan tenaga untuk menarik pedang dan terus menggunakan tenaga tarikan itu untuk melempar tubuhnya ke belakang, bergulingan sampai beberapa meter dan baru berhenti setelah tubuhnya membentur dinding. Akan tetapi pada saat ia melompat bangun, tangan kirinya bergerak dan sinar hitam menyambar cepat ke arah Lu Sian ! Kiranya ketika menghindarkan diri daripada serangan maut sambil bergulingan tadi, Bayisan sudah mengeluarkan senjata rahasianya dan begitu meloncat bangun telah membalas dengan senjata gelap ini. Memang hebat ! Kali ini ia tidak menggunakan hui-to yang telah dua kali ia pergunakan tanpa hasil, maka kini ia menggunakan Jarum Racun Hitam (Hek-tok-ciam) yang pernah ia pergunakan terhadap Kwee Seng sehingga pemuda sakti itu terjungkal ke dalam jurang. Sekarang, saking jengkelnya menghadapi gadis jelita yang amat hebat ilmu kepandaiannya ini, Bayisan tidak segan-segan mempergunakan jarum racunnya.

Melihat sinar hitam dan desir angin, Lu Sian berseru marah. Dia sendiri adalah seorang ahli senjata rahasia jarum, tentu saja sekali melihat ia tahu benda apa yang menyambar itu. Tangan kirinya menyambar ikat pinggangnya dari sutera, dan sekali menggerakkan pergelangan tangan, ikat pinggang itu bergulung menjadi sinar kuning emas dan tergulunglah jarum-jarum hitam lawan menempel pada ujung ikat pinggang. Kemudian sekali ia menggentakkan tangan kirinya, jarum-jarum itu terbang ke arah Bayisan ! Ini masih belum hebat, biarpun sudah membikin Bayisan berseru kagum dan kaget, karena gerakan kain dari tangan kiri Lu Sian menciptakan sinar hitam tertiup angin, menyambar ke arah Bayisan. Ternyata gadis ini pun mengeluarkan jarum hitamnya, selain mengembalikan senjata lawan, juga memberi “hidangan” yang sama dan yang tidak kalah lezatnya !

“Aiiihhh, perempuan iblis!” teriak Bayisan yang cepat memutar pedangnya menangkis jarum-jarum itu. Lu Sian tersenyum puas dan menerjang maju lagi. Kembali terdengar berdesingnya pedang, disusul berkerontangannya kedua pedang bertemu, dan menyambarnya angin dari gerakan kedua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi ini.

Pada saat itu, terdengar suara bentakan laki-laki dari luar, “Iblis Khitan penjahat cabul, kau menipu kami!” Maka muncullah tiga orang laki-laki setengah tua yang berpakaian seperti jembel pengemis. Mereka itu berpakaian pengemis, pakaian mereka penuh tambalan bermacam-macam warna, akan tetapi tubuh mereka tampak sehat dan kuat, sedangkan gerakan mereka ketika muncul diruangan itu, kelihatan gesit-gesit sekali. Mereka semua membawa sebatang tongkat di tangan , tongkat yang butut akan tetapi di ujungnya dipasangi besi berwarna merah.

Munculnya tiga orang jembel ini menhentikan pertandingan itu. Bayisan memandang mereka dengan kening berkerut. “Apa maksud kalian memaki?” bentaknya.

“Masih pura-pura lagi ! Kau mengaku seorang pendekar yang hendak membantu pembebasan Kam-goanswe yang kami muliakan, akan tetapi apakah yang kau lakukan di dusun Ki-san ? Kau membasmi keluarga yang dengan baik hati telah menolong dan merawatmu. Keparat!” Setelah seorang di antara tiga jembel itu berkata demikian, mereka serentak maju menerjang. Melihat ini, Bayisan kaget sekali. Gerakan mereka itu cukup hebat, seungguhpun tentu ia tidak gentar menghadapi keroyokan tiga orang pengemis ini, namun kalau mereka bertiga membantu Lu Sian menghadapinya, tentu ia akan

celaka. Kepandaiannya melawan Lu Sian berimbang, ada sedikit saja bantuan yang menambah tenaga Lu Sian, berarti ia menghadapi maut. Bayisan cerdik orangnya. Melihat gelagat tidak menguntungkan dirinya, ia tertawa dan tiba-tiba tubuhnya meloncat ke luar dari jendela. Tiga orang pengemis itu mengejar cepat. “Hendak lari ke mana kau jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga)?”

Akan tetapi Lu Sian tidak mengejar. Gadis ini hanya mengangkat pundaknya saja. Ia tidak mempunyai urusan dengan Bayisan, dan pertandingan tadi sudah cukup untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya terhadap kekurang ajaran Bayisan. Tentang Bayisan memperkosa atau membunuh orang, itu bukan urusannya dan ia tidak akan mencampuri. Apalagi kalau mendengar kata-kata pengemis tadi bahwa Bayisan bermaksud membantu pembebasan Kam Si Ek. Bukankan itu berarti bahwa Bayisan adalah seorang sahabat Kam Si Ek ?

Tiga orang pengemis tadi baru mengejar sampai di depan kelenteng, tiba-tiba Bayisan membalik dan menyerang mereka dengan jarum-jarum hitamnya. Tiga orang pengemis itu bukan orang-orang sembarangan pula, cepat mereka mengelak sehingga jarum-jarum itu lewat di dekat tubuh mereka, menancap dan lenyap ke dalam tembok. Akan tetapi bau jarum-jarum itu yang amis membuat mereka kaget sekali.

“Jarum-jarum beracun…!” teriak mereka dan sejenak mereka ragu-ragu untuk melanjutkan pengejaran. Bayisan sudah pergi jauh dan melihat jarum beracun ini, tiga orang pengemis itu tidak berani mengejar lagi, dan teringat akan gadis perkasa yang tadi sanggup menahan pedang orang Khitan yang kosen itu, mereka segera memasuki kelenteng.

Lu Sian tidak membuang waktu lagi. Melihat mereka menjura dengan hormat, sebelum mereka membuka mulut ia sudah bertanya, “Tiga sahabat dari partai pengemis manakah?”

Pada masa itu memang para pengemis membentuk perkumpulan, dan hal ini dipergunakan oleh orang-orang kang-ouw untuk menyamar sebagai pengemis pula dan terbentuklah perkumpulan-perkumpulan pengemis mereka dapat bergerak leluasa dan tidak begitu menarik perhatian.

Tahu bahwa gadis itu bukan orang sembarangan, pengemis tertua menjura dan memperkenalkan diri. “Kami adalah pimpinan dari Wei-ho-kai-pang.”

“Ah, kiranya Sam-wi (Tuan Bertiga) adalah Sin-tung Sam-kai (Tiga Pengemis Tongkat Sakti)? Hemm, kebetulan sekali. Aku adalah Liu Lu Sian, puteri Beng-kauwcu…”

“Ah, maaf… maaf, kami telah berlaku kurang hormat terhadap Li-Hiap. Maaf bahwa beberapa bulan yang lalu kami tidak dapat datang menghadap ayah Li-hiap (Pendekar Wanita).”

“Tidak apa,” kata Lu Sian yang serta merta menganggap mereka itu sahabat karena ucapan merkea tadi yang memuliakan Kam Si Ek. “Tahukah kalian dimana adanya Kam-goanswe sekarang? Aku mendengar bahwa dia dijebak orang jahat di kelenteng ini, dan tadi kalian bicara tentang Kam-goanswe kepada orang Khitan itu, apa artinya semua ini? Harap Sam-wi suka menceritakan dengan jelas.”

Diam-diam tiga orang itu saling pandang. Mereka sama sekali tidak tahu apa hubungannya puteri Beng-kauw dengan jederal muda yang mereka kagumi itu. Akan tetapi mengingat akan kebesaran nama Pat-jiu Sin-ong Liu Gan Ketua Bang-kauw, dan menduga bahwa gadis ini tentu bermaksud baik, mereka lalu bercerita.

ibu kota Shan-si untuk memenuhi panggilan Gubernur Li Ko Yung yang disampaikan oleh Phang-siangkun Si Komandan muka hitam yang diam-diam mengatur pengkhianatan untuk menjatuhkan Kam Si Ek. Setelah tiba di kota Poki, rombongan Kam Si Ek dicegat oleh gerombolan yang memang sudah disiapkan terlebih dulu. Celakanya, para pengawal Kam Si Ek diam-diam sudah disogok pula oleh Phang-siangkun sehingga selagi tidur, Kam Si Ek disergap dan dijadikan tawanan. Penyergapan dilakukan di dalam kelenteng yang memang diajukan sebagai tempat penginapan oleh para pengawal Kam Si ek. Sebagai seorang komandan yang jujur dan tidak mau menggangu rakyat, Kam Si Ek memang biasa melakukan perjalanan sederhana, menginap pun di mana saja asal jangan mengganggu penduduk, maka usul untuk bemalam di rumah kelenteng itu diterimanya baik.

“Kami menyaksikan itu semua karena kebetulan sekali kelenteng tua ini sejak lama menjadi tempat perkumpulan kami para pengemis Wei-ho-kai-pang.” Demikian seorang di antara pimpinan kai-pang (perkumpulan jembel) itu berkata, “Kami amat kagum kepada Kam-goanswe dan ingin sekali menolongnya, akan tetapi apakah yang dapat kami lakukan terhadap pasukan yang begitu ketat, apalagi yang dikawal pula oleh tokoh-tokoh rahasia berilmu tinggi yang sengaja dikirim dari Kerajaan Liang?”

“Hemm, kalau begitu, yang merencanakan panawanan tehadap diri Kam-goanswe adalah Kerajaan Liang?”

“Betul, Li-hiap. Seperti diketahui, Kerjaan Liang setelah berhasil merobohkan Kerajaan Tang, selalu mengalami rong-rongan dari pelbagai pihak yang hendak menjatuhkannya pula. Terjadi perebutan kekuasaan dan selain ancaman bangsa liar dari utara, juga Kerajaan Liang harus menghadapi ancaman yang tidak kalah hebatnya dari bangsa sendiri yang memperebutkan kekuasaan setelah Kerajaan Tang roboh. Kam-goanswe terkenal sebagai seorang jenderal yang jujur, setia dan pengetahuannya akan ilmu perang amat terkenal. Inilah sebabnya Kerajaan Liang ingin sekali mempergunakan tenaganya dan cara satu-satunya hanya menculiknya karena Jenderal Kam tidak pernah mau mengakui kedaulatan kerajaan-kerajaan baru yang banyak muncul setelah Kerajaan Tang jatuh. Dia seorang pahlawan sejati, seorang patriot yang betul-betul hanya mementingkan negara dan rakyat, sama sekali tidak meributkan soal kedudukan dan kemuliaan pribadi.”

Lu Sian biasanya tidak peduli akan keadaan negara. Kini ia tertarik sekali dan makin kagumlah ia terhadap Kam Si Ek, amat senang hatinya mendengar nama pemuda pilihan hatinya itu dipuji-puji. Dengan penuh perhatian ia mendengarkan cerita tiga orang pengemis itu, cerita tentang keadaan negara yang biasanya ia takkan suka mempedulikannya.

Menurut cerita Sin-tung Sam-kai, semenjak Kerajaan Tang roboh pada tahun 907 oleh pemberontakan Gubernur Ho-nan yang bernama Cu Bun yang kemudian mendirikan kerajaan baru yang disebut Kerajaan Liang, maka keadaan tidak pernah aman. Perang terjadi dimana-mana, perebutan kekuasaan terjadi. Para pejabat tinggi bekas Kerajaan Tang mengangkat diri sendiri menjadi raja muda dan sebagian besar tidak mau tunduk kepada raja baru itu. Sementara itu, ancaman dari utara dan barat masih terus datang sehingga keadaan makin kacau balau. Banyak pula bekas pejabat tinggi Kerajaan Tang yang

masih setia dan mereka ini pun menggunakan pelbagai usaha untuk mendirikan kembali kerajaan yang sudah jatuh.

“Sehari setelah Kam-goanswe dibawa pergi oleh pasukan Kerajaan Liang, di sini muncul Bayisan yang mengaku seorang pendekar sahabat baik Kam-goanswe. Dia telah memperlihatkan kepandaiannya sehingga kami percaya dan ketika dia minta bantuan kami untuk menyelidiki kemana Kam-goanswe dibawa, kami lalu mengerahkan anak buah kami untuk melakukan penyelidikan itu. Akan tetapi, dengan kaget kami mendengar berita dari seorang anak buah kami akan kejahatan Bayisan itu di dusun Ki-san.”

“Apa yang ia lakukan?” “Seorang pencari kayu di hutan pada suatu hari mendapatkan Bayisan dalam keadaan pingsan di dalam hutan. Pencari kayu she Chie itu menolongnya dan membawanya pulang ke rumah. Akan tetapi apa yang dilakukan jahanam itu sebagai balas budi ini ? Dua hari kemudian ia membunuh pencari kayu berikut isterinya dan anak-anaknya sebanyak tiga orang berikut gadis itu sendiri ! Tentu saja kami yang mendengar ini menjadi marah sekali dan menyerbu ke sini, kiranya Li-hiap sudah lebih dulu datang menggempurnya. Sayang ia terlalu lihai sehingga kita tak dapat membinasakannya!”

Akan tetapi Lu Sian sama sekali tidak tertarik oleh cerita tentang Bayisan ini, maka tanyanya cepat, “Lalu, bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian ? Kemana dibawanya Kam-goanswe oleh pasukan itu?”

“Sudah kami selidiki dan ternyata dibawa ke kota raja, yaitu di ibukota Ho-nan.”

Ke manapun juga akan kukejar, pikir Lu Sian. Ibu kota Ho-nan yang sekarang menjadi kota raja adalah Kai-feng, dan ia harus segera berangkat ke sana.

“dan Bayisan itu, apa maksudnya dengan pernyataannya bahwa ia hendak menolong Kam-goanswe pula?”

“Kami tidak tahu jelas karena ia seorang yang berhati palsu. Akan tetapi kami dapat menduganya, Li-hiap. Bukan tak mungkin bahwa dia pun seorang kepercayaan Kerajaan Khitan yang juga ingin sekali mempergunakan tenaga dan pikiran Kam-goanswe dalam soal ilmu perang. Bangsa Khitan sendiri sudah berkali-kali mengalami kekalahan apabila berhadapan dengan pasukan yang dipimpin Kam-goanswe.”

“Baik, terima kasih, Sin-tung Sam-kai. Sekarang perkenankan aku pergi, aku hendak menyelidiki ke Kai-feng.”

“Berhati-hatilah, Li-hiap. Dalam masa perebutan kekuasaan ini, raja-raja muda banyak menarik tenaga orang-orang pandai yang tentu akan berlomba merampas seorang penting seperti Kam-goanswe.”

Dengan tergesa-gesa karena masih saja hatinya mengkhawatirkan nasib jenderal muda she Kam itu, Liu Lu Sian segera meninggalkan kota Poki, kembali ke dusun keluar kota untuk mengambil kudanya, kemudian ia membalapkan kuda itu ke timur-laut, menuju ke kota raja dari Kerajaan Liang.

Apa yang diceritakan secara singkat oleh Sin-tung Sam-kai tiga orang pimpinan perkumpulan jembel Wei-ho-kai-pang itu memang benar. Perebutan kekuasaan di antara para bekas pembesar tinggi Kerajaan Tang, para bekas pangeran dan raja muda yang mengangkat diri sendiri setelah Kerajaan Tang roboh, benar-benar membuat rakyat amat menderita. Rakyat yang tidak tahu apa-apa, yang lemah dan miskin, selalu yang menjadi korban tiap kali terjadi perang dan keributan. Pemuda-pemudanya dipaksa menjadi tentara, hasil sawah ladangnya dirampasi, pajaknya diperberat secara paksa, gadis-gadisnya yang muda dan cantik diambil secara paksa untuk menghibur pasukan-pasukan yang lewat.

Akan tetapi, mereka yang tergolong orang-orang pandai, ahli silat dan ahli perang, bermunculan dan keadaan keruh seperti itulah merupakan masa jaya bagi mereka. Inilah masanya bagi para perampok untuk beraksi tanpa takut dihancurkan petugas keamanan karena orang lebih meributkan mencari kedudukan daripada menjaga keamanan rakyat. Masanya bagi yang kuat menindas yang lemah. Masanya pula bagi orang-orang sakti yang di masa aman tenteram pergi ke guha-guha, ke puncak-puncak gunung, ke tepi-tepi laut untuk bertapa, untuk turun gunung masuk kota raja untuk menawarkan kepandaian mencari jasa dan kedudukan mulia ! Dan memang para raja muda yang mempunyai cita-cita mengangkat diri menjadi raja besar, amat membutuhkan tenaga orang-orang sakti ini. Tidak peduli si orang sakti itu terdiri daripada golongan hitam maupun putih, penjahat maupun pendeta, asal sakti dan tenaganya dapat dipergunakan, tentu oleh si pangeran atau raja muda akan diterima penuh kegembiraan, dihujani hadiah emas permata, pakaian indah, makanan lezat, atau wanita cantik.

Memang menurut sejarah, jaman Lima Wangsa selama setengah abad ini, adalah jaman yang paling keruh dan penuh dengan perang antara saudara. Semenjak Kerajaan Tang jatuh dalam tahun 907, disusul dengan perebutan kekuasaan yang memecah-mecah bangsa. Dunia kang-ouw terpecah-belah pula, karena masing-masing membela yang mempergunakan mereka. Tidak jarang terjadi bentrokan hebat antara perkumpulan-perkumpulan orang gagah. Bahkan parai-partai persilatan besar, kelenteng-kelenteng besar yang mempunyai banyak anak murid banyak yang terseret-seret.

Dalam perjalanannya mencari Kam Si Ek menuju ke ibu kota Kai-feng yang berada di lembah selatan Sungai Kuning, Liu Lu Sian banyak sekali melihat pertempuran-pertempuran dan banyak penderitaan para pengungsi ! Namun karena ia sendiri mempunyai urusan penting yang amat menggoda hatinya, maka

ia sengaja menjauhkan diri dari semua halangan, tidak mau melayani urusan kecil yang akan memperlambat perjalanannya dan tidak mempedulikan pula penderitaan para pengungsi yang amat menyedihkan itu. Akan tetapi, pada suatu hari, ia tertarik juga akan sesuatu peristiwa dan terpaksa menunda perjalanannya untuk menyaksikan peristiwa itu.

Pagi hari itu, ketika Lu Sian menunggangi kudanya melalui jalan sunyi yang rusak oleh air hujan, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan yang sambung menyambung. Suara seperti ini sudah biasa ia dengar. Tentu wanita yang diculik pasukan tentara, atau diganggu orang jahat, pikirnya tanpa mau mempedulikannya. Akan tetapi pekik itu tidak hanya jerit wanita, bahkan pula teriakan laki-laki yang agaknya menghadapi maut. Ini pun tidak menarik perhatian Lu Sian. Tiba-tiba ia menghentikan kudanya dengan menahan kendali. Telinganya mendengar bersiutnya angin yang aneh. Itulah hawa pukulan yang luar biasa, pikirnya. Tentu ada orang sakti yang bertempur di sana. Sebagai seorang ahli silat, hal ini amat menarik hatinya dan ia segera meloncat turun dari kudanya, membiarkan kudanya makan rumput di situ lalu ia sendiri berlari memasuki dusun itu, menyelinap di antara pohon dan semak-semak.

Ia melihat seorang kakek yang rambutnya riap-riapan, akan tetapi pakaiannya biarpun kotor berdebu terbuat daripada bahan sutera yang mahal, mukanya keruh pandang matanya kejam, alisnya berkerut seperti orang marah. Kakek ini duduk di atas sebuah batu besar di pinggir jalan, kedua kakinya bersila dan kelihatan lemas. Di dekat batu besar itu tampak sebuah dipan bambu yang biasa digunakan orang untuk mengangkut orang-orang sakit, dan dua orang pemanggulnya kini berada di belakang kakek itu, seorang duduk mengipasi lehernya yang berkeringat dan yang seorang lagi berdiri sambil bertolak pinggang mengikuti gerakan kakek tadi. Melihat wajah dua orang itu yang bodoh, mereka itu agaknya hanya tukang panggul dipan itu yang hanya bertenaga besar.

Yang amat menarik perhatian Lu Sian adalah di sekeliling tempat duduk kakek itu, di mana tampak belasan mayat bergelimpangan. Mereka itu tidak kelihatan terluka dan di dekat mereka banyak senjata malang melintang, bahkan di antara mayat itu ada yang masih memegang pedang. Akan tetapi semua mayat itu mengeluarkan darah dari mulut, hidung, mata dan telinga ! Di antaranya terdapat pula wanita-wanita yang agaknya hanya wanita biasa, mungkin para pengungsi karena di sana-sini kelihatan buntalan-buntalan pakaian.

Pada saat itu, datang pula serombongan pengungsi, di depannya berjalan dua orang laki-laki muda dan seorang gadis tanggung. Melihat gerakan mereka, dapat diduga bahwa dua orang pemuda itu memiliki kepandaian silat, bahkan yang seorang sudah memegang sebatang pedang telanjang. Para pengungsi laki-laki dan perempuan dan yang jumlahnya dua puluh orang lebih, berjalan di belakang tiga orang muda itu dengan mata terbelalak lebar membayangkan kengerian dan ketakutan.

“Mana dia ? Mana kakek gila yang jahat dan membunuhi pengungsi itu?” bentak pemuda yang memegang pedang.

Para pengungsi yang berada di belakangnya dengan muka pucat menuding ke arah kakek yang sedang duduk tenang di atas batu sambil berkata, “Itu dia, iblis tua itu…”

Si Pemuda bersama dua orang temannya tercengang, seperti tidak percaya. Pemuda berpedang melangkah maju. “Dia ini…? Kakek lumpuh…?”

Kakek itu membuka matanya yang tadinya seperti selalu ditutup, memandang tiga orang muda dengan penuh perhatian, lalu dengan suara malas bertanya.

“Kalian juga mengungsi ? Apakah hendak tunduk kepada Kerajaan pemberontak Liang?”

“Kakek iblis ! Orang-orang ini mengungsi menyelamatkan diri dari ancaman perang, mengapa kau bunuh mereka ? Siapa kau?” bentak pemuda berpedang.

“Jawab ! Kalian hendak mengungsi dan tunduk kepada pemberontak Liang?”

“Kami tunduk kepada pemerintah yang mana, peduli apa denganmu?”

“Hemm, kalian tidak setia kepada Kerajaan Tang, maka harus mati juga.”

“Kakek gila ! Kau… kau pembunuh kejam, kau harus dienyahkan…” Pemuda itu menerjang maju dengan pedang digerakkan, akan tetapi dengan kakek itu menggerakkan tangan kirinya, didorongkan dengan jari tangan terbuka. Bagaikan sehelai daun kering tertiup angin, pemuda berpedang itu terangkat dan terlempar ke belakang, menjerit dan roboh dengan pedang di tangan, dari mulut, hidung, mata dan telinganya keluar darah. Gadis tanggung itu menubruknya dan menangis ketika menyaksikan bahwa kakaknya itu ternyata telah tewas !

“Siluman keji…!” Pemuda ke dua marah sekali, lupa akan bahaya dan melompat ke depan, kedua tangannya bergerak memukul.

Si kakek tetap tenang, kembali tangan kirinya terangkat dan… pemuda kedua itu mengalami nasib sama. Tubuhnya terangkat dan terlempar lalu terbanting ke bawah, tewas dalam keadaan mengerikan ! Kakek itu tidak berhenti sampai di situ, ia menggerakkan tangannya pula dan kini gadis tanggung yang menangis itu bagaikan kena hantam kepalanya oleh palu godam, terjengkang dan tewas, juga berdarah dari mulut, hidung, mata dan telinganya !

Melihat ini, para pengungsi itu lari seperti dikejar setan dan keadaan di situ sunyi kembali. Lu Sian bergidik. Hebat kakek ini. Pukulan jarak jauh membayangkan tenaga sin-kang yang luar biasa. Lu Sian bersembunyi dan mengintai terus. Dari jauh datang lagi rombongan pengungsi baru, terdiri dari sebelas orang. Mereka itu terkejut ketika melihat mayat bergelimpangan di pinggir jalan, akan tetapi mereka tidak menaruh curiga kepada Si Kakek Lumpuh.

“Apa yang terjadi ? Lopek, apakah yang terjadi di sini ? Mengapa begini banyak orang mati…” Seorang di antara rombongan pengungsi itu bertanya.

Dengan gerakan perlahan, kakek itu menoleh, menyapu para pengungsi yang terdiri dari dua keluarga itu dengan pandang mata dingin. “Kalian hendak mengungsi ke daerah Kerajaan Liang?”

“Tidak.” Jawab orang itu, “Kami mencari daerah tak bertuan, lebih baik hidup di gunung-gunung di mana terdapat ketentraman.”

“Hemm, kalian tidak senang dengan pemberontak Liang?”

“Ah, semenjak runtuhnya Kerajaan Tang, kami tidak pernah mengalami ketenteraman lagi. Mana ada pemerintah yang menyenangkan sekarang ini, biarpun banyak hidup kerajaan-kerajaan baru?”

Tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak, tangannya merogoh saku baju dan ia melemparkan sekantung uang perak. “Terimalah ini, berangkatlah dan memang lebih baik kalian mengungsi ke gunung-gunung. Selamat jalan!”

Orang itu terkejut dan bingung, pandang matanya menaruh curiga. Pasti ada hubungannya keadaan kakek aneh ini dengan kematian begitu banyak orang. Setelah menghaturkan terima kasih, ia tergesa-gesa membawa keluarganya meninggalkan tempat itu.

Setelah rombongan ini pergi, sampai sore hari, hanya serombongan pengungsi lagi yang lewat di situ, terdiri dari belasan orang yang kesemuanya, dari anak bayi sampai kakek-kakek, dibunuh oleh kakek lumpuh ini karena mereka itu semua hendak mengungsi ke kota raja Liang, yaitu kota Lok-yang ! Bertumpuk-tumpuk mayat pengungsi di tempat itu, dan Si Kakek Lumpuh lalu pergi dari situ, duduk di atas pikulan yang berupa dipan bambu digotong dua orang pemikulnya.

Liu Lu Sian adalah puteri ketua Beng-kauw. Semenjak kecil gadis ini berdekatan dengan orang kang-ouw yang sakti dan aneh, tidak heran pula melihat kekejaman-kekejaman dilakukan orang. Ayahnya dan para pimpinan Beng-kauw juga merupakan orang-orang aneh yang dapat membunuh orang lain begitu saja tanpa berkedip. Akan tetapi kini menyaksikan kakek lumpuh yang membunuh para pengungsi tanpa pilih bulu, laki perempuan tua muda, sampai bayi dibunuh hanya karena mereka hendak mengungsi ke Lok-yang, benar-benar menjadi kaget dan bergidik. Bukan main kejamnya kakek lumpuh ini, pikirnya. Biarpun urusannya itu tiada tiada sangkut-pautnya dengan dirinya, namun ia sudah merasa tertarik untuk mengikuti kakek lumpuh itu, dan kalau perlu ia hendak turun tangan mencoba-coba kehebatan Si Kakek Lumpuh yang ia percaya tentu mempunyai kepandaian tinggi sekali.

Kakek itu bermalam di sebuah gubuk rusak di pinggir sawah, dilayani oleh kedua orang pemikulnya. Betapa herannya hati Lu Sian ketika kakek itu mengeluarkan sekantung uang emas, memberikan kepada kedua pemikulnya sambil berpesan agar besok kedua orang itu mencarikan sebuah kereta dan kuda yang baik untuknya. “Aku hendak melakukan perj alanan jauh ke selatan, kalian mana kuat memikul aku

terus?” demikian katanya dengan suara perlahan akan tetapi berpengaruh sedangkan kalimatnya teratur baik seperti ucapan seorang pembesar atau bangsawan. Dua orang pemikul itu tidak banyak cakap, akan tetapi meraka itu memperlihatkan sikap menghormat sekali, menyanggupi dan menyebut paduka kepada kakek itu, kadang-kadang menyebut Ong-ya atau Taijin.

Malam itu bulan bersinar penuh,Lu Sian masih mengintai di sekitar tempat itu ketika ia malihat berkelebatnya bayangan yang gerakannya cepat bukan main. Tahu-tahu bayangan itu sudah tiba di depan gubuk di mana Si Kakek Lumpuh berada, dan terdengar suara erang laki-laki yang parau tetapi nyaring.

“Hee, Couw Pa Ong ! Kau terkenal dengan julukan Sin-jiu (Tangan Sakti), apakah tangan saktimu itu hanya untuk membunuhi rakyat tidak berdosa ? Sin-jiu Couw Pa Ong, kalau ada kepandaian, keluarlah!”

Terdengar suara tertawa mengejek dari dalam gubuk. Couw Pa Ong Si Raja Muda sudah lenyap bersama lenyapnya Kerajaan Tang yang besar ! Akan tetapi aku Si Tua Bangka Kong Lo Sengjin akan membunuh setiap orang yang tidak setia kepada Dinasti Tang. Orang usilan, kau siapa?”

Orang di luar itu tertawa juga, “Ha-ha-ha, Couw Pa Ong ! Setelah kau kalah dan remuk kedua kakimu, kau merasa malu dengan kekelahanmu sehingga kau mengganti nama ? Ha-ha-ha, sungguh lucu ! Biarpun mengganti nama seribu kali, siapa tidak akan mengenal Sin-jiu Couw Pa Ong yang besar namanya akan tetapi kini sudah bangkrut dan lumpuh ? Pinceng Houw Hwat Hwesio dari Siauw-lim-si, tidak akan

mendiamkan saja melihat kau bertindak sewenang-wenang!”

Dari dalam gubuk terdengar suara meludah. “Cuhhh ! Segala macam pendeta ! Kau selalu hanya membantu yang menang, untuk yang kuat memberi sumbangan, untuk orang-orang kaya dan orang-orang segolongan. He, pendeta tengik ! Selama kau menjadi pendeta pernahkah kau berdoa untuk si miskin jembel kelaparan ? Pernahkah kau berdoa untuk si jahat agar kembali ke jalan yang benar ? Pernah kau membantu untuk pelaksanaan doa-doamu dengan perbuatan nyata ? Apa jasamu untuk negara dan bangsa ? Apakah orang-orang menjadi baik setelah kau setiap hari bersembahyang?”

“Cukup ! Kau bekas raja muda memang terkenal jahat, tidak mengenal Thian!” Si Hwesio marah, memutar toya (tongkat panjang) dan mendekati pintu gubuk.

“Ha-ha-ha-ha ! Apakah tandanya orang mengenal Tuhan ? Hanya karena gerak bibir dan goyang lidah cukup menjadi tanda mengenal Tuhan ? Dengar, pendeta tengik, orang bisa saja mengenal Tuhan tanpa mempedulikan perilaku kebajikan, akan tetapi tak mungkin orang mengabdi kebajikan tanpa mengenal Tuhan! Perbuatan nyata yang menjadi ukuran, bukan gerak bibir dan goyang lidah!”

“Apa perbuatanmu baik ? Ihhh, manusia yang sudah gelap hatinya ! Kalau pinceng (aku) tidak turun tangan menghukummu mewakili Thian, kau tentu akan makin merajalela!” Setelah berkata demikian, hwesio itu berkelebat memasuki pintu gubuk.

Liu Lu Sian memandang penuh perhatian. Gerakan hwesio cukup hebat dan ia pikir tentu kakek lumpuh itu akan menghadapi lawan tangguh. Akan tetapi setelah hwesio itu menerobos masuk, ia hanya mendengar suara ketawa Si Kakek Lumpuh, dibarengi suara “krakkk!” dan disusul melayangnya tubuh hwesio itu keluar gubuk bersama toyanya yang sudah patah-patah menjadi tiga potong ! Akan tetapi hwesio itu bukan terlempar melainkan melompat keluar. Agaknya ia gentar dan juga marah.

“Couw Pa Ong orang buronan (pelarian)! Pinceng datang memang bukan untuk melawanmu seorang diri, akan tetapi hendak menyampaikan tantangan ! Kalau memang gagah, datanglah di tepi sungai, kami Wei-ho Si-eng (Empat Orang Gagah Sungai Wei-ho) menantimu malam ini juga!”

“Ha-ha-ha ! Aku Kong Lo Sengjin mana kenal segala cacing tanah yang bernama Wei-ho Si-eng segala ? Akan tetapi jangan kira karena kedua kakiku lumpuh, kalian empat ekor cacing tanah dapat menghinaku. Kalian tentulah empat orang pengkhianat dan penjilat Kerajaan Liang, harus kubunuh. Kautunggulah, sekarang juga aku datang memenuhi tantanganmu!”

Hwesio itu meleset pergi dengan gerakan cepat sekali. Liu Sian makin tertarik. Ia sudah mendengar dari ayahnya akan nama Sin-jiu Couw Pa Ong yang terhitung seorang diantara tokoh-tokoh besar di dunian persilatan. Menurut cerita ayahnya, Couw-Pa Ong adalah seorang Raja Muda Kerajaan Tang yang memiliki ilmu silat tinggi sekali, seorang yang mempertahankan Kerajaan Tang, akan tetapi karena pengeroyokan orang-orang gagah yang berusaha menjatuhkan kerajaan itu, ia kalah dan terpukul hancur kedua kakinya. Semenjak itu orang tidak mendengar lagi namanya dan ia dianggap sebagai seorang pelarian yang selalu dicari oleh Kerajaan Liang untuk dibinasakan. Sekarang ia secara kebetulan bertemu dengan tokoh ini, menyaksikan keganasan yang luar biasa dan juga sebentar lagi ia akan menyaksikan kelihaian kakek lumpuh ini menghadapi empat orang gagah yang berjuluk Wei-ho Si-eng. Maka ketika ia melihat kakek itu keluar dari gubuk, duduk di atas dipan bambu dan dipukul dua orang pelayannya, secara diam-diam ia mengikuti dari jauh. Tidak berani ia mengikuti terlalu dekat karena kakek lihai itu berbahaya sekali dan ia tidak mau melibatkan diri dalam pertandingan yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya. Maka ia malah mendahului larinya dua orang pemikul itu, menuju ke tepi sungai, ia melihat empat orang sudah menanti musuh. Ia memperhatikan mereka.

Di bawah sinar bulan yang penuh dan terang, ia melihat seorang hwesio setengah tua, yang ia duga tentulah hwesio yang tadi dipatahkan toyanya oleh Si Kakek Lumpuh. Hwesio ini bertangan kosong, akan tetapi melihat bentuk tubuhnya yang tegap, dapat dibayangkan bahwa tanpa toya, hwesio bernama Houw Hwat Hwesio murid Siauw-lim-pai ini tentulah seorang lawan yang cukup tangguh. Orang ke dua adalah seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, memegang sebatang tongkat baja, berdiri tegak memandang ke depan. Orang ke tiga adalah seorang tosu (pendeta To) yang tidak memegang senjata apa-apa, akan tetapi pinggangnya terlibat sebuah cambuk hitam. Adapun orang ke empat adalah seorang wanita berusia empat puluh tahun, di punggungnya terselip sebatang pedang. Mereka berempat berdiri dengan sikap tegang dan memandang ke depan, menanti datangnya musuh mereka yang lihai, yang akan muncul dari arah timur.

Lu Sian juga memandang ke arah itu. Dan tak lama kemudian, di bawah sinar bulan yang mencorong yang merupakan bola api merah bulat di sebelah timur, muncullah dua orang pemikul itu, berjalan dengan langkah lebar setengah berlari. Kakek lumpuh itu bersila di atas dipan bambu, rambutnya sebagian besar menutupi muka, menyembunyikan sepasang matanya yang bersinar-sinar seperti mata harimau. Suasana menjadi tegang sekali, dan ini terasa oleh Liu Lu Sian yang sudah merasa gembira karena sebentar lagi ia akan menyaksikan pertandingan hebat. “Berhenti!” Kakek lumpuh mengomando dan kedua orang pemikul itu berhenti pada jarak dua puluh meter dari keempat orang yang sudah siap itu. Tiba-tiba pikulan itu berikut dipan bambu dan kakek lumpuh, terlempar ke atas, melayang ke depan dan turun ke atas tanah di depan empat orang musuh, turun tanpa suara dan tanpa menimbulkan debu seakan-akan sehelai daun kering melayang turun dari pohon. Bukan main hebatnya gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang diperlihatkan kakek lumpuh itu !

Dua orang pemikul lau berjongkok dan sikap mereka tidak peduli. Agaknya sudah terlalu sering mereka ini melihat tuan mereka bertempur atau membunuh orang. Memang selama belasan tahun ini setelah Kerajaan Tang roboh, Sin-jiu Couw Pa Ong yang sudah mengganti namanya menjadi Kong Lo Sengjin, kerjanya hanyalah mencari perkara dan membunuhi orang-orang yang dianggapnya tidak setia kepada Kerajaan Tang yang sudah roboh. Dalam kecewanya dan sakit hatinya karena kedua kakinya lumpuh, kakek ini menjadi seperti tidak normal lagi pikirannya, menjadikan ia ganas kejam dan gila-gilaan !

“Nah, kalian menentangku, aku sudah datang. Majulah!” dengan sikap tenang saja, masih bersila, kedua tangannya diletakkan di atas paha, kakek itu menantang.

Hwesio itu mewakili teman-temannya menjawab setelah melangkah maju setindak, “Couw Pa Oag, sebelum kami turun tangan terhadapmu, baiklah kau ketahui lebih dulu bahwa kami bukanlah orang-orang yang tidak tahu bahwa kau seorang bekas raja muda yang setia terhadap rajamu, dan di samping itu seorang yang terkenal di dunia kang-ouw. Kalau kau membunuhi musuh-musuhmu atau membunuhi orang-orang yang kau anggap telah menghianati Kerajaan Tang, itu pinceng dan adik-adik pinceng ini tidak akan ambil peduli. Akan tetapi secara kejam kau membunuhi para pengungsi hanya karena mereka hendak mengungsi ke daerah Kerajaan Liang, hal ini amatlah keji dan bukan hanya kami, melainkan semua orang gagah tentu akan menentangmu. Kami berempat sudah mengangkat saudara, bersumpah hendak membasmi kejahatan. Pinceng Houw Hwat hwesio murid dari Siauw-lim-pai, Toheng ini Liong Sin Cu seorang tosu dari Kun-lun-pai, dia itu Bun-tanio dari Hoa-san-pai beserta Lu Tek Gu adik seperguruannya. Kaulihat kami adalah murid-murid partai besar, selalu mentaati perintah perguruan untuk membasmi kejahatan…”

“Cukup ! Ha-ha-ha, hwesio mentah ! Kau perlu apa berpidato di depanku ? Kau tahu apa ? Dengan membunuhi para pengungsi itu, aku telah berbuat kebaikan terhadap mereka. Pertama, mereka mengungsi ke daerah pemerintah pemberontakan Liang, sama dengan mencari kesengsaraan, maka aku bebaskan mereka sehingga tidak usah menghadapi bencana. Ke dua, mereka itu mudah melupakan pemberontakan Cu Bun yang merebut tahta kerajaan, berarti mereka itu lemah dan pengecut, tidak setia. Apa harganya untuk hidup lebih lama lagi!”

“Benar-benar alasan yang bocengli (tak pakai aturan), seenak perutnya sendiri!” bentak Lo Tek Gu si murid Hoa-san-pai yang memegang tongkat. “Mari kita hajar tua bangka keji ini!”

Liu Lu Sian yang menonton sambil sembunyi, diam-diam merasa gembira dan kagum terhadap Kong Lo Sengjin Si Kakek Lumpuh. Lihai ilmu silatnya, lihai pula kata-katanya, aneh dan juga terlalu sekali ! Ia mengharapkan pertandingan yang ramai sehingga tidak percuma ia mengintai dan mengikuti kakek itu sampai sehari lamanya, apalagi kalau diingat bahwa empat orang pengeroyok ini adalah murid-murid partai persilatan besar, Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, dan Hoa-san-pai ! Tiga buah partai besar yang sering disebut-sebut ayahnya dan dikagumi.

Mula-mula memang empat orang itu bergerak dengan cepat dan indah sekali mengurung Si Kakek Lumpuh. Hwesio Siauw-lim-pai itu yang telah kehilangan toya, kini mematahkan dahan pohon dan memutar-mutar dahan ini dengan tenaga besar menimbulkan angin berderu, Tosu dari Kun-lun-pai yang bernama Liong Sun Cu itu pun meloloskan cambuknya dan terdengar bunyi keras seperti petir menyambar di atas kepala. Sungguhpun tidak sehebat paman gurunya, Kauw Bian, permaianan cambuk

itu, namun Lu Sian mengagumi keindahannya. Adapun kakak beradikseperguruan dari Hoa-san-pai, juga tidak kalah hebatnya. Permainan pedang wanita itu amat cepat, pedangnya lenyap berubah sinar pedang bergulung-gulung, sedangkan tongkat sutenya juga bergerak-gerak laksana seekor naga mengamuk.

Akan tetapi segera Lu Sian kecewa. Entah empat orang itu hanya memiliki gerakan ilmu silat indah yang kosong saja, ataukah Si Kakek Lumpuh yang terlalu ampuh bagi mereka ? Disambar empat macam senjata dari empat penjuru, tubuh bagian atas kakek itu hanya bergerak-gerak seperti batang padi tertiup angin pukulannya menyeleweng ke kanan ke kiri. Tiba-tiba terdengar kakek itu tertawa bergelak, tubuhnya yang masih bersila itu tahu-tahu sudah melayang ke atas kemudian menyambar ke arah Houw Hwat Hwesio. Hwesio Siauw-lim-pai ini kaget sekali, cepat ia menyambut dengan sodokan toyanya ke arah ulu hati. Kong Lo Sengjin menangkap toya itu berbareng tangan kirinya menampar dilanjutkan dengan tangan kanan yang menangkap toya mendorong keras. Houw Hwat Hwesio berteriak sekali dan tubuhnya sudah terlempar ke bawah. Terdengar air muncrat dan tampaklah tubuh hwesio itu terapung-apung seperti sebatang balok hanyut !

“Siluman tua, berani kau membunuh saudara kami?” bentak Liong Sun Cu si tosu Kun-lun-pai. Cambuknya menyambar-nyambar dengan suara keras. Karena kakek tua itu kini sudah duduk bersila lagi di atas bambu setelah tadi menyerang Houw Hwat Hwesio, maka cambuk Liong Sun Cu menyambar ke bawah, ke arah kepalanya. Bun-toanio yang juga marah, menerjang dengan tusukan pedang dari belakang, mengarah punggungnya, sedangkan Lu Tek Gu menghantamkan tonkatnya ke arah pundak kiri.

Kong Lo Sengjin kembali mengeluarkan suara ketawa keras. Ia membiarkan cambuk itu mengenai kepalanya. Ujung cambuk menghantam kepalanya terus melibat, akan tetapi ketika tosu Kun-lun-pai yang kegirangan melihat hasil serangannya itu hendak menarik kembali cambuknya, ia kaget setengah mati karena cambuknya seakan-akan telah tumbuh akar di kepala kakek itu, tak dapat ditarik kembali ! Pedang yang menusuk punggung dan tongkat yang menghantam pundak juga tidak ditangkis, akan tetapi pedang dan tongkat meleset hanya merobek baju saja, seakan-akan yang diserang adalah baja yang keras dan licin sekali. Selagi tiga orang pengeroyoknya kaget, kakek itu sudah menyambar cambuk dan tubuhnya kembali mencelat ke atas. Kedua tangannya bergerak, cepat sekali sehingga sukar diikuti dengan pandang mata, menampar tiga kali ke arah kepala para pengeroyoknya, sambil menampar, ia terus mencengkram dan melempar. Hanya jerit tiga kali terdengar dan tampaklah tiga orang gagah itu berturut-turut melayang dari atas tebing, jatuh ke dalam sungai dan tubuh mereka terapung-apung seperti ikan-ikan mati, hanyut mengikuti mayat Houw Hwat Hwesio !

Dua orang pemikul itu kini menghampiri Si Kakek Lumpuh. Mereka itu dengan wajah takut sudah menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Seorang yang lebih tua berkata. “Ong-ya, hamba berdua mohon pembebasan, sampai di sini saja hamba berdua dapat melayani Ong-ya, harap beri perkenan kepada kami untuk mengambil jalan sendiri.”

pemikul itu tentu akan mampus di tangan kakek sakti itu !

“Hemm, kenapa ? Apakah kalian takut?”

“Sesungguhnya, Ong-ya, hamba berdua takut menyaksikan sepak terjang Ong-ya yang mudah dan suka membunuh orang banyak, Ong-ya berkepandaian tinggi, tentu saja tidak takut menghadapi pembalasan mereka, akan tetapi hamba berdua yang bodoh, mana dapat melindungi diri sendiri kalau kelak orang-orang gagah datang kepada kami?”

“Hemm, apakah kalian juga hendak menakluk kepada pemerintah pemberontak?” pertanyaan ini dilakukan dengan suara penuh ancaman.

“Ahh, bagaimana Ong-ya masih dapat menyangsikan kami ? Tidak sudi kami menjadi anjing penjilat mengekor kepada raja pemberontak ! Hamba berdua malah akan masuk hutan menjadi perampok, mengacaukan wilayah kerajaan Liang!”

“Bagus ! Nah, kauperhatikan baik-baik ilmu ini untuk bekal!” Kakek itu lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya sambil tiada hentinya memberi petunjuk bagaimana kedudukan dan perubahan kaki harus dilakukan. Agaknya kedua orang bekas pemikul itu sudah pernah menerima pelajaran ini dan sekarang mereka mendapatkan petunjuk tentang rahasia-rahasianya, maka dalam waktu setengah malam, mereka sudah berhasil menyelesaikan pelajaran ilmu silat yang luar biasa itu. Liu Lu Sian demikian tertariknya sehingga ia bertahan untuk mengintai terus sampai semalam suntuk. Ia mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang diwariskan kakek lumpuh itu kepada dua orang bekas pemikulnya, merupakan ilmu pilihan yang termasuk tingkat tinggi. Ia percaya bahwa biarpun baginya sendiri ilmu itu masih tidak usah mendatangkan kuatir, namun menghadapi orang lain, dua orang bekas pemikul ini tentu merupakan dua orang perampok yang amat tangguh dan berbahaya. Ilmu silat tadi gerakan-gerakannya seperti ilmu silat Sin-coa-kun, agaknya ciptaan Si Kakek Lumpuh mengambil contoh ular pula. Teringat ini, ia membayangkan betapa hebatnya kepandaian Si Kakek Lumpuh, dan kalau dibanding dengan ayahnya, agaknya mereka itu seimbang. Dia sendiri terang tidak akan dapat menangkan Kong Lo Sengjin, akan tetapi kalau di situ ada Kwee Seng, tentu ia akan berani keluar mencoba-coba. Hanya ayahnya, atau Kwee Seng, yang agaknya akan dapat menandingi kakek ini dalam pertandingan yang luar biasa tegang dan ramainya.

Menjelang pagi, pada saat ayam ramai berkokok menyambut munculnya matahari yang sudah mengirim lebih dulu cahaya merahnya, dua orang bekas pemikul itu berpamit, kemudian berlari cepat sekali meninggalkan tempat itu. Kong Lo Sengjin lalu merenggut lepas dua batang bambu bekas pikulan, kemudian ia… berjalan dengan langkah-langkah lebar, dengan kedua kaki masih bersila, tergantung di antara dua batang bambu yang menggantikan sepasang kakinya. Biarpun kedua kakinya terganti bambu yang terpegang kedua tangannya, namun dibandingkan dengan orang yang tidak lumpuh, jalannya jauh

lebih sigap dan cepat. Bahkan dibandingkan dengan ahli-ahli ilmu lari cepat, kakek lumpuh ini masih menang jauh ! Sebentar saja bayangannya lenyap ke arah timur dari mana malam tadi muncul.

Liu Lu Sian menarik napas panjang. Sayang tidak ada Kwee Seng di situ. Kalau ada, agaknya pemuda sakti itu tidak akan mau melepaskan kakek lumpuh itu begitu saja. Berbeda sekali dengan dia. Andaikata dia selihai Kwee Seng, ia akan mengajak kakek itu bertempur, bukan sekali-kali untuk membalaskan kematian sekian banyaknya pengungsi yang menjadi korban, melainkan untuk diukur kepandaiannya, karena ia memang mempunyai watak tidak mau kalah oleh siapapun juga. Kalau Kwee Seng tentu lain, tentu menggempur kakek itu karena telah membunuhi orang tak bersalah. Teringat akan Kwee Seng, wajah Lu Sian menjadi muram dan agaknya ia kecewa. Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang pemuda tampan dan menyenangkan, apalagi amat mencintainya, merupakan seorang teman seperjalanan yang lumayan, daripada sekarang ini berjalan tanpa teman ! Akan tetapi setelah wajah Kam Si Ek terbayang lenyaplah segala kekecewaan dan pemikiran tentang Kwee Seng, dan tiba-tiba ia teringat akan keadaan Kam Si Ek yang berbahaya, timbul kekhawatirannya dan segera ia meninggalkan tempat itu untuk cepat-cepat pergi ke kota raja dari Kerajaan Liang, yaitu kota raja Lok-yang yang terletak di Propinsi Honan.

Karena ia sama sekali kehilangan jejak Kam Si Ek dan di sepanjang jalan tak seorang pun pernah melihat jenderal muda ini, Lu Sian menduga bahwa andaikata benar pemujaan hatinya itu diculik oleh kaki tangan Kerajaan Liang, agaknya mereka itu membawa Kam Si Ek ke kota raja melalui jalan sungai. Maka ia pun segera mencari tukang perahu dan menyewa perahu itu ke timur. Kota raja Lok-yang letaknya masih di Lembah Sungai Kuning, namun agak jauh dari sungai, di sebelah selatan.

Pada saat itu, Sungai Kunimg airnya penuh, bahkan di beberapa bagian membanjir, meluap sampai jauh dari sungai, menyelimuti ratusan hektar sawah ladang. Dusun-dusun yang berada di lembah, yang terlalu dekat sungai, sudah banyak yang dilanda banjir. Namun karena airnya mengalir tenang, Si Tukang Perahu berani melayarkan perahunya menurut aliran air. Keadaan di kanan kiri sungai amat menyedihkan dan perjalanan dengan perahu kali ini bagi Lu Sian benar-benar tidak menyenangkan sama sekali. Lenyap pemandangan alam yang biasanya amat indah, terganti keadaan yang mengenaskan, sungguhpun Lu Sian tidak ambil peduli terhadap bencana alam ini. Hatinya sendiri sedang penuh dengan rasa gelisah kalau ia memikirkan nasib Kam Si Ek.

“Tahan perahumu, minggir ke sana…!” tiba-tiba Lu Sian memerintah tukang perahu ketika ia melihat sebuah perahu besar berlabuh di sebelah kanan. Ia merasa curiga. Perahu itu besar dan mewah, sama sekali bukan perahu nelayan miskin, patutnya perahu bangsawan atau hartawan yang sedang pesiar. Saat seperti itu sama sekali bukan saat yang patut untuk berpesiar, maka adanya perahu di tempat sunyi itu sungguh mencurigakan hatinya. Apalagi ketika ia melihat bahwa dusun di tempat itu juga sudah tenggelam oleh air bah, hanya satu-satunya rumah gedung yang berada di dusun, yang kebetulan letaknya di tempat agak tinggi masih belum kemasukan air. Tak seorang pun manusia tampak di dusun yang kebanjiran itu, agaknya semua penghuninya telah pergi mengungsi. Kalau demikian halnya, mengapa perahu besar berada di situ dan perahu itu pun kosong tidak ada orangnya ?

Setelah perahu kecil itu minggir dan Lu Sian mendapat kenyataan bahwa perahu besar itu benar-benar kosong ia berkata, “Kautunggu di sini, aku hendak menyelidiki kemana perginya orang-orang dari perahu ini!” Tanpa menanti jawaban, Lu Sian menggerakkan tubuhnya meloncat ke atas wuwungan rumah ke rumah yang terendam air, kemudian dengan kelincahan yang mengagumkan ia berloncatan dai rumah, kadang-kadang melalui pohon yang juga terendam air, menuju ke rumah gedung yang masih belum terendam air. Tukang perahu itu melongo, lalu bergidik ia sudah mengira bahwa penumpangnya adalah seorang wanita kang-ouw yang pandai ilmu silat, kalu tidak demikian tak mungkin gadis muda dan cantik jelita ini berani melakukan perjalanan seorang diri, apalagi gadis ini membawa pedang ! Akan tetapi ia hanya mengira Lu Sian seorang gadis yang pandai main pedang seperti biasa dipertunjukan para penjual obat, siapa kira gadis ini dapat berloncatan seperti itu. Jangan-jangan dia bukan manusia, pikir Si Tukang Perahu. Di waktu sungai banjir meluap-luap seperti itu, menurut cerita rakyat, siluman-siluman pada bermunculan, juga para dewi-dewi yang sengaja turun dari khayangan untuk menggempur para siluman yang hendak merusak manusia dengan air banjir. Biarpun rakyat tak pernah melihatnya, akan tetapi selalu terjadi pertarungan hebat antara para dewa-dewi melawan siluman-siluman, dan betapapun juga dewa-dewi yang menang dan air yang digerakkan siluman mengamuk ke dusun-dusun itu kembali ke sungai pula seperti biasa ! Kini melihat gadis penyewa perahunya pandai “terbang” melayang-layang dari rumah ke rumah, Si Tukang Perahu bergidik.

“Tidak tahu dia itu dewi atau siluman, akan tetapi sinar matanya tajam mengerikan. Lebih baik aku pegi sebelum ia kembali!” Melihat Lu Sian berloncatan makin jauh, diam-diam tukang perahu segera mendayung perahunya ke tengah lagi dan melarikan diri dengan perahunya dari tempat itu ! Ia tidak peduli bahwa uang sewa perahu belum dibayar, ia sudah merasa lega dan puas dapat meninggalkan gadis itu, karena siapa tahu, bukan dia menerima pembayaran, malah dia harus membayar nyawa.

Liu Lu Sian tidak tahu bahwa perahunya telah pergi meninggalkannya, karena ia sedang berloncatan mendekati gedung dengan hati berdebar penuh harapan akan dapat melihat Kam Si Ek. Ia meloncat ke atas genteng gedung itu dan dari atas genteng ia mengintai ke dalam. Ternyata di dalamnya terdapat enam orang anak perahu. Mereka duduk menghangatkan tubuh du dekat tempat perapian sambil makan roti kering dan dendeng. Terdengar mereka bersungut-sungut. “Kita ditinggalkan di sini, untuk apa ? Kalau banjir makin besar, ke mana kita harus bawa perahu ? Ah, lebih enak menjadi pegawai di darat kalau begini. Banyak teman dan aman. Masa untuk mengawal seorang tawanan saja harus menggunakan pasukan lima puluh orang lebih ? Dan keadaan tawanan itu lebih enak daripada kita!”

“Sam-lote, jangan kaubilang begitu.” Cela temannya. “Tawanan itu memang seorang penting, siapa tidak mengenal Jenderal Kam Si Ek ? Malah aku mendengar dari anggota pasukan, bahwa komandan mereka menerima perintah khusus dari kota raja untuk menghormati Kam-goanswe sebagai tamu agung. Kita hanya petugas-petugas biasa, mau apa lagi?”

Mendengar percakapan mereka ini. Lu Sian girang sekali. Dengan kepandaiannya yang tinggi, ia meninggalkan tempat itu tanpa ada yang mengetahui. Gedung itu letaknya di tempat tinggi maka tidak terlanda banjir, di bagian belakang gedung merupakan kaki sebuah bukit kecil dan ke sinilah Lu Sian

mengambil jalan ke selatan, ke kota raja Lok-yang. Tak lama kemudian ia sampai di jalan besar dan segera mempercepat larinya. Sayang kudanya ia tinggalkan ketika ia mempergunakan jalan sungai, akan tetapi karena ilmu lari cepatnya juga sudah mencapai tingkat tinggi, Lu Sian segera mempergunakan Ilmu Lari Cepat Liok-te-hui-teng sehingga tubuhnya berkelebat seperti terbang cepatnya, tidak kalah cepatnya, oleh larinya seekor kuda biasa !

Perjalanan selanjutnya melalui pegunungan yang biarpun jalannya lebar, namun banyak naik turun dan amat sunyi. Ini pegunungan Fu-niu yang puncaknya menjulang tinggi. Dari atas puncak ini tampaklah gunung-gunung yang memang banyak mengepung daerah itu. Di utara tampak puncak-puncak Pegunungan Luliang-san dan Tai-hang-san, di sebelah barat tampak Pegunungan Cin-ling-san, di selatan samar-samar tampak dibalik mega puncak Pegunungan Tapa-san. Biasanya Lu Sian amat suka menikmati tamasya alam di pegunungan, akan tetapi kali ini ia tidak mempunyai perhatian terhadap semua keindahan itu karena hati dan pikirannya penuh oleh bayangan Kam Si Ek yang hendak ditolongnya.

Ketika ia membelok di sebuah lereng, tiba-tiba ia melihat banyak tubuh orang menggeletak di pinggir jalan. Golok dan pedang malang melintang, darah berceceran dan dua belas orang itu sudah menjadi mayat. Mereka ini kelihatan sebagai orang-orang kang-ouw yang gagah, dan melihat betapa senjata-senjata mereka tidak berjauhan, malah ada yang masih di dalam cengkraman tangan, melihat tubuh mereka penuh luka, agaknya orang-orang ini telah melakukan pertandingan mati-matian dan nekat. Jelas kejadian ini belum lewat lama, mungkin pagi tadi dan di situ tampak bekas-bekas pertempuran dahsayat. Lu Sian berdebar. Apakah hubungannya belasan mayat orang ini dengan ditawannya Kam Si Ek ? Hatinya makin kuatir dan ia mempercepat larinya mengejar ke depan.

Menjelang senja, ketika ia menuruni lereng, ia mendengar suara hiruk-pikuk di kaki bukit. Jelas terdengar suara banyak orang sedang berkelahi, diseling ringkik kuda dan denting senjata tajam saling bertemu. Lu Sian mempercepat larinya dan napasnya terengah-engah ketika ia tiba di tempat pertempuran, karena selain terus-menerus ia mengerahkan gin-kang untuk berlari cepat juga hatinya selalu penuh ketegangan dan kekuatiran akan keselamatan pemuda idaman hatinya.

Kiranya banyak sekali orang yang bertanding di depan sebuah danau kecil di kaki bukit itu. Hampir seratus orang banyaknya saling gempur dan merupakan perang kecil yang kacau-balau. Ada yang masih menunggang kuda, ada yang sudah bertanding di atas tanah, bahkan ada yang bergulat sambil bergulingan, saling cekik dan saling jotos. Tidak kurang pula yang terlempar ke danau sedang berusaha berenang minggir. Kacau-balau dan hiruk-pikuk, suara makian diseling teriakan marah, keluh kesakitan dan ketakutan.

Lu Sian dapat menduga bahwa orang-orang yang berpakaian seragam biru itu tentulah pasukan yang mengawal atau yang menawan Kam Si Ek, karena diantara mereka ini masih banyak yang menunggang kuda. Adapun lawan pasukan ini adalah orang-orang yang berpakaian macam-macam, ada yang berpakaian petani, ada pula yang berpakaian pendeta, akan tetapi sebagian besar berpakaian pengemis. Tentulah segolongan dengan Wei-ho-kai-pang, pikir Lu Sian dan tentu saja hatinya lalu condong

membantu para pengemis. Bukankah Kam Si Ek tertawan oleh pasukan itu dan kini para pengemis hendak menolongnya ? Akan tetapi, Lu Sian tidak berniat membantu mereka, matanya mencari-cari karena ia tidak melihat Kam Si Ek. Ia tidak mempedulikan pertempuran hebat itu, karena yang ia butuhkan untuk dicari adalah Jenderal Kam.

Dengan sama sekali tidak mengacuhkan pertandingan, Lu Sian berjalan terus memasuki gelangang perang. Kalau ada senjata menyambar, tidak perduli senjata pihak pasukan atau lawan mereka ia mengelak dan kaki tangannya bergerak merobohkan siapa saja yang menghalangi jalannya ! Hebat sepak terjang gadis ini. Baik pihak pasukan maupun pihak pengemis, sekali terkena pukulan maupun tendangannya pasti roboh !

“Dimana Kam Si Ek?” Berkali-kali Lu Sian bertanya kepada seorang anggota pasukan yang ia robohkan, akan tetapi tak seorangpun mau menjawabnya, bahkan ia segera dikeroyok empat anggota pasukan. Golok gagang panjang dari dua orang lawan yang masih menunggang kuda, menyambar ke arah leher dan pinggang Lu Sian. Cepat gadis itu melompat, menyambar belakang golok, membetot dengan gerakan mendadak sambil menendang ke arah golok ke dua. Golok pertama yang ia tarik itu terlepas dari pegangan dan menghantam kawan sendiri yang menyerang dari kiri, tepat mengenai pahanya dan menembus memasuki perut kuda ! Kuda itu meringkik keras dan kabur membawa penungganya yang hampir putus paha kakinya. Adapun orang yang terampas goloknya, hampir saja jatuh terguling karena terbetotot. Pada saat itu, dua orang pasukan yang tidak berkuda sudah menyerbu pula dari depan dan belakang, menggunakan pedang, Lu Sian tidak pedulikan mereka, tubuhnya meloncat ke atas dan tahu-tahu ia sudah berdiri di atas punggung kuda, tepat dibelakang lawan yang terampas goloknya tadi. Sekali menggerakan tangan, ia sudah mencekik leher lawan dari belakang. Dua orang temannya hendak menolong, akan tetapi Lu Sian mengangkat tubuh lawan dan menggunakannya sebagai perisai ! Tentu saja dua orang itu tidak berani menyerang, takut melukai tubuh teman mereka sendiri yang ternyata adalah seorang atasan mereka.

“Hayo, katakan di mana adanya Kam-goanswe!” Lu Sian membentak sambil mempererat cekikan pada tengkuk Si Perwira yang sudah tidak berdaya itu.

“Di… di sana…” Perwira itu menuding ke arah batu karang besar dan Lu Sian cepat membanting tubuhnya ke atas tanah, meloncat turun dari kuda dan berloncatan ke arah sekelompok batu karang yang memang terdapat tidak jauh dari tempat itu. Tempat itu terjaga oleh beberapa orang anggota pasukan, dan agaknya orang tawanan itu disembunyika di belakang batu-batu.

Sebelum Lu Sian sempat turun tangan, tiba-tiba ia mendengar gaduh luar biasa di antara orang-orang yang bertanding. Alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa, berkepala gundul menggunakan kedua lengan bajunya mengamuk. Seperti sepak terjangnya sendiri tadi, laki-laki gundul itu tidak peduli siapa saja, asal berada dekatnya, lalu disapu roboh oleh ujung kedua lengan bajunya. Akan tetapi gerakan laki-laki ini jauh lebih hebat, lebih ganas dan sebentar saja tubuh orang-orang bergelimpangan di sekitarnya. Kemudian laki-laki itu melompat dan bagaikan terbang

saja tahu-tahu ia sudah tiba di depan batu-batu karang besar. Lima orang penjaganya segera mencegat dengan senjata di tangan, akan tetapi sekali laki-laki tinggi besar itu menggerakkan tangan kakinya, lima orang itu terlempar semua, terbanting pada batu karang dan hebatlah kesudahannya. Dua di antaranya pecah-pecah kepalanya, yang tiga mungkin patah-patah tulang iganya karena mereka roboh tak dapat berkutik lagi !

Raksasa gundul itu tertawa ha-ha-he-heh, lalu melangkah lebar memasuki sekelompok batu karang itu dan di lain saat ia telah melesat keluar mengempit tubuh Kam Si Ek ! Kagetlah Lu Sian. Cepat ia menggerakkan kakinya menjejak tanah dan tubuhnya melesat pula mengejar. Akan tetapi gerakan Si Raksasa gundul itu benar-benar hebat karena sebentar saja ia sudah jauh meninggalkan tempat pertempuran. Betapapun juga, Lu Sian tidak mau mengalah, gadis ini mengeluarkan ilmunya berlari cepat sehingga kedua kakinya seakan-akan tidak menyentuh tanah lagi !

“Lepaskan dia!!” Ia membentak setelah dapat menyusul sehingga jarak mereka hanya tinggal lima meter lagi. Kedua tangan gadis ini bergerak dan serangkum sinar kemerahan menyambar ke depan. Itulah jarum-jarum rahasia yang amat hebat. Gadis ini amat suka akan bunga-bunga yang harum, maka sejak kecil ia mempelajari keadaan segala macam bunga. Setelah ia pandai ilmu silat dan banyak mendapat petunjuk ayahnya tentang pelbagai macam racun, maka ia lalu dapat mencampur racun-racun berbahaya dengan sari keharuman bunga, maka terciptalah jarum-jarumnya yang ia namakan Siang-tok-ciam (Jarum Racun Harum). Memang amat harum baunya jarum-jarum ini, bahkan ketika menyambar dengan sinar merah, sudah tercium baunya yang amat harum, begitu harumnya sehingga dapat memabokkan orang. Tidak terkena jarumnya, baru mencium baunya saja sudah cukup berbahaya, apalagi kalau sampai jarum itu menembus kulit memasuki jalan darah !

Akan tetapi, raksasa gundul itu benar-benar lihai sekali. Tanpa menoleh ia sudah mengebutkan lengan bajunya dan… jarum-jarum itu memasuki lubang tangan baju dan menancap disitu. Tiba-tiba raksasa gundul itu berseru keras, tangannya bergerak dan jarum-jarum itu menyambar keluar, kembali ke pemiliknya ! Tentu saja Lu Sian terkejut sekali, cepat ia menyampok jarum-jarumnya sendiri dengan pedangnya yang sudah ia cabut keluar. Lawan ini benar lihai, pikirnya dan terkejutlah ia ketika teringat bahwa raksasa gundul selihai ini kiranya hanya ada seorang saja di dunia, yaitu Ban-pi Lo-cia! Ban-pi Lo-cia tokoh utara yang sudah bertanding dua hari dua malam melawan ayahnya dan berkesudahan seri ! Bahkan Kwee Seng sendiri yang begitu sakti, sampai dapat dihancurkan sulingnya oleh raksasa gundul ini. Sejenak Lu Sian meragu. Terang bahwa dia bukan lawan kakek itu. Akan tetapi Kam Si Ek telah dikempit dan dibawa lari, bagaimana ia dapat mendiamkannya saja ? Gadis ini sudah mempersiapkan jarum-jarumnya lagi, akan tetapi melihat kakek itu tidak mempedulikannya dan malah lari makin cepat, ia berpikir dan tidak jadi menyerang, melainkan terus mengikuti dengan cepat pula, takut kalau-kalau tak dapat menyusul.

“Ia tentu tidak berniat membunuh Kam Si Ek.” “Kalau hendak membunuhnya, perlu apa dibawa-bawa lari ? Agaknya Kam Si Ek tidak berdaya, kelihatannya lemas tentu sudah terkena totokan, kalau mau dibunuh sekali pukul juga mati.” Karena berpikir demikian maka Lu Sian tidak jadi menyerang secara nekat, melainkan kini ia membayangi Ban-pi Lo-cia yang terus lari memasuki sebuah hutan di kaki bukit.

Dengan hati-hati sekali Lu Sian menghampiri sebuah bangunan kuil tua yang berada di dalam hutan. Ia tahu bahwa Ban-pi Lo-cia memasuki kuil itu maka ia tidak berani menerjang masuk secara sembrono. Bukan ia takut menhadapi bahaya, melainkan Lu Sian seorang gadis yang cerdik. Sia-sia saja kalau harus menempuh bahaya dan membiarkan dirinya dirobohkan atau ditangkap pula, akan gagallah usahanya menolong Kam Si Ek. Ia berindap menghampiri kuil dan mengintai. Senja telah datang akan tetapi cuaca di luar kuil belum gelap benar. Hanya di sebelah dalam kuil yang tua dan rusak itu sudah gelap. Akan tetapi ia dapat mendengar suara Ban-pi Lo-cia yang parau diselingi suara ketawanya penuh ejekan.

“Heh-heh-heh, Kam-goanswe tentu banyak kaget. Untung saya keburu datang, kalau tidak tentu keselamatan Goanswe takkan dapat dipertahankan lagi.” Kembali kakek itu tertawa. Lu Sian merasa heran mendengar kata-kata ini dan ia mengerahkan pandang matanya untuk melihat sebelah dalam yang agak gelap. Setelah matanya biasa, ia dapat melihat bayangan Kam Si Ek duduk bersila di atas lantai, agaknya mengatur napas dan tenaga, sedangkan Ban-pi Lo-cia juga duduk bersandar tembok.

Kam Si Ek menggerakkan kedua lengannya menjura, masih sambil bersila, dan terdengar suaranya yang nyaring, “Losuhu (Bapak Pendeta) siapakah ? Harap suka memperkenalkan diri, agar aku yang sudah menerima budi pertolongan akan dapat mengingat nama besar Losuhu.”

Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha ! Kam Si Ek, dengarlah. Aku bukan seorang hwesio seperti kau sangka, aku orang biasa. Sebaliknya kau seorang jenderal yang amat dibutuhkan orang pada saat seperti sekarang ini. Oleh karena itu, aku menolongmu tentu bukan sekali untuk melepas budi, melainkan untuk keperluan yang tiada bedanya dengan para penculikmu. Ha-ha-ha!”

“Hemmm, kiranya begitulah ? Kalau begitu, siapapun adanya kau, dan betapapun tinggi kepandaianmu, tak mungkin kau akan dapat memaksa aku untuk tunduk dan mentaati perintahmu. Raja Liang bermaksud menculikku, akan tetapi kau lihat sendiri, banyak orang mencoba mengagalkan penculikannya. Kulihat pendeta, orang-orang Kang-ouw, dan para pengemis yang menyerbu. Aku boleh jadi terkenal dalam perang, akan tetapi aku sama sekali tidak terkenal di antara mereka. Kalau mereka juga berusaha menolongku, tentu juga bermaksud menguasaiku. Ah, alangkah bodoh dan sia-sia ! Selama negara terpecah-pecah seperti sekarang, selama orang-orang besar dan pemimpin rakyat main berebutan, kemuliaan dan kedudukan, selama tentara dipergunakan untuk memerangi saudara sebangsa, aku Kam Si Ek takkan sudi mengeluarkan setetes pun keringat untuk membantu!”

Ban-pi Lo-cia bangkit berdiri, bertolak pinggang dan menundukkan muka memandang orang muda yang sedang duduk bersila itu. “Ah, Kam Si Ek, tahukah kau siapa aku?”

lihai seperti kau ini masih dapat diperalat oleh orang-orang yang haus akan kedudukan tinggi, yang ingin memperoleh kekuasaan dan kemuliaan di atas ratusan ribu mayat dari rakyat!”

“Ha-ha-ha ! Kalau aku memperkenalkan diriku, tentu kau juga takkan mengenal namaku, karena kau bukan seorang kang-ouw, melainkan seorang ahli perang. Akan tetapi agaknya menarik bagimu kalau kukatakan bahwa aku menangkapmu untuk kuserahkan kepada rajaku di Khitan.”

“Ahhh…!” Kam Si Ek benar-benar terkejut mendengar ini. Ia sudah amat terkenal sebagai pemukul orang-orang Khitan sehingga di kalangan musuh besar ini, yaitu para prajurit Khitan, menjulukinya Im-kan-ciangkun (Panglima Akhirat)! Ia tahu bahwa orang-orang Khitan paling membencinya, maka tahulah Kam Si Ek bahwa kali ini ia tentu akan tewas. Akan tetapi ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan rasa takut, maka ia lalu tertawa mengejek.

“Hemm, sejak dahulu aku tahu bahwa orang-orang Khitan amat licik dan pengecut…”

Ban-pi Lo-cia berseru keras dan di luar kuil, Lu Sian sudah siap dengan jarum-jarum dan pedangnya. Kalau kakek itu turun tangan membunuh Kam Si Ek, ia akan mendahuluinya dengan serangan jarum beracun disusul serbuannya ke dalam untuk mengadu nyawa !

“Apa kaubilang ? Bangsa Khitan adalah bangsa yang paling besar, bangsa paling gagah perkasa. Bagaimana kau berani menyebut licik dan pengecut?”

“Mereka kalah perang, entah sudah berapa kali mereka terpukul muncur dalam perang melawan pasukanku. Mengapa sekarang mereka menggunakan akal keji untuk menculikku ? Bukankah ini cara yang licik sekali ? Kalau memang gagah, mengapa tidak mengajukan panglima perang yang ulung untuk melawanku mengatur barisan?”

“Ha-ha-ha ! Kalau kau katakan itu licik, kau gila ! Justeru karena kami membutuhkan kepandaianmu mengatur maka kami sengaja menculikmu. He, Kam Si Ek. Tinggal kaupilih sekarang. Kau sudah menumpuk hutang terhadap kami bangsa Khitan. Untuk membalas dendam, membunuhmu sama mudahnya dengan membunuh seekor cacing. Akan tetapi rajaku tidak menghendaki demikian. Kau ikut denganku ke Khitan dan bekerja untuk rajakku. Kelak kau tentu akan menjadi panglima tertinggi dan hidup penuh kemuliaan.”

menyambar dalam serangannya kepada Ban-pi Lo-cia. Kiranya, tadi ketika ia ditawan oleh pasukan Kerajaan Liang, ia diperlakukan baik dan golok emasnya pun tidak dirampas, akan tetapi karena ia tidak dapat melawan puluhan orang, pula karena ia belum mendengar apa kehendak Raja Liang memanggilnya secara diculik, Kam Si Ek tidak melawan. Sekarang menghadapi seorang Khitan yang hanya memberi dua jalan, yaitu mati dibunuh kakek ini atau takluk dan membantu Khitan, tentu saja ia lebih senang memilih mati daripada harus menjadi penghianat bangsa.

Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak. Entah apa yang terjadi di dalam kuil itu Lu Sian tidak dapat melihat jelas. Selagi ia hendak meloncat masuk membantu Kam Si Ek , tiba-tiba ia mendengar desir angin dari dalam. Cepat ia mengelak dan kiranya golok emas di tangan Kam Si Ek tadi sudah terlepas dari pegangan pemiliknya dan menyambar ke luar mengarah Lu Sian ! Gadis itu terkejut dan cepat meloncat keluar kuil, maklum bahwa kakek itu agaknya sejak tadi sudah tahu bahwa ada orang mengintai.

Benar saja, bayangan kakek gundul itu berkelebat dan tahu-tahu sudah berhadapan dengan Lu Sian. Kakek itu menyeringai, matanya terbelalak lebar, dan sepasang biji matanya yang bundar itu melotot. Memang ia sudah tahu bahwa ada orang mengintai, akan tetapi karena ia memang “besar kepala” dan memandang rendah semua orang, ia tidak peduli. Baru setelah Kam Si Ek menyerangnya, ia

“menangkap” golok emas itu dengan ujung lengan baju dan menggentak golok emas itu terlepas dari tangan Kam Si Ek lalu melontarkannya langsung menyerang Si Pengintai. Sama sekali tidak disangkanya bahwa pengintainya adalah seorang gadis yang begini cantik jelita sehingga membuat matanya melotot dan mulutnya mengiler. Biarpun sudah banyak sekali kakek gundul ini mempermainkan wanita cantik, namun harus ia akui selama itu belum pernah ia berjumpa dengan seorang gadis yang seperti ini jelitanya. Tentu saja hatinya girang bukan main.

“Ha-ha-ha, cantik jelita ! Aduh, bidadari manis. Hampir saja aku kesalahan tangan membunuhmu. Untung…” Ia melangkah maju jari tangannya yang besar-besar dan berbulu itu bergerak hendak mengelus pipi Lu Sian. Gadis ini mencelat mundur dan wajahnya pucat ketika ia memikirkan Kam Si Ek.

“Kau apakan dia…? Kau… kau bunuh dia…? Ia berseru dan kakinya, bergerak hendak meloncat ke
dalam kuil. “Kalau kau membunuh Kam Si Ek, aku akan mengadu nyawa denganmu, Ban-pi Lo-cia!”

“Eh-eh, juita… kau tahu namaku…?” Ban-pi Lo-cia merasa heran. Akan tetapi Lu Sian tidak memperdulikannya dan melangkah masuk ke dalam kuil. Akan tetapi cepat ia menghindar karena hampir ia bertumbukan dengan Kam Si Ek yang berlari keluar dari dalam untuk mengejar lawannya. Ia terheran-heran melihat Lu Sian yang segera dikenalnya. Ia mendengar ucapan gadis itu tadi, maka alangkah herannya karena sama sekali ia tidak menyangka bahwa yang pertama datang untuk menolongnya adalah… puteri Ketua Beng-kauw yang pernah membuat ia tergila-gila begitu berjumpa !

keroyok, dia lihai sekali!”

Tentu saja Kam Si Ek tahu akan kelihaian kakek gundul itu. Tadi saja di dalam gelap, sekali gebrak goloknya sudah kena dirampas ! Akan tetapi karena tidak ada jalan lain kecuali nekat melawan, ia mengangguk dan cepat ia lari dan mencabut goloknya yang menancap pada sebatang pohon. Setelah itu ia kembali berlari menghampiri lawannya yang sudah berhadapan dengan Lu Sian. Agaknya, kecantikan Lu Sian yang luar biasa itu seakan-akan menyilaukan pandangan mata yang lebar melotot itu, membetot semangatnya dan membuat Si Kakek Gundul berdiri seperti patung, menikmati wajah ayu lalu merayap-rayap turun, Lu Sian menjadi merah mukanya. Pandang mata itu seakan-akan mulut besar yang melahapnya dengan rakus !

“Monyet tua, kau melihat apa?” Lu Sian membentak marah dan pedangnya berkelebat dengan serangan jurus Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat. Karena maklum bahwa lawannya ini amat lihai, maka begitu bergerak ia segera menggunakan ilmu pedang ciptaan ayahnya itu. Pedangnya berkelebat menyambar menimbulkan angin berdesir diikuti suara mengaung.

“Aihh, bagus ilmu pedangmu!” Ban-pi Lo-cia berseru kaget. Tentu saja ia dapat mengenal ilmu pedang yang baik. Cepat ia mengebutkan ujung lengan bajunya yang kiri. Biarpun hanya ujung lengan baju, akan tetapi karena digerakkan oleh seorang yang berkepandaian tinggi, lengan baju itu menjadi senjata yang amat ampuh. Ketika ujungnya menangkis pedang, Lu Sian merasa betapa tangannya panas. Itulah tanda betapa besarnya tenaga sin-kang dari lawannya. Di lain pihak, ban-pi Lo-cia juga heran. Ia tadi sudah mengerahkan tenaganya dengan maksud memukul runtuh pedang Si Nona, siapa kira pedang itu tidak runtuh. Dari rasa kaget ia menjadi gembira.

“Heh-heh-heh, cantik jelita dan manis seperti bidadari, ilmu pedangnya lumayan pula. Heh-heh, sukar dicari keduanya…!”

Pada saat itu, golok ditangan Kam Si Ek sudah menyambar, membacok, ke arah kepalanya yang gundul. Kepala itu gundul plontos seperti labu, agaknya akan terbelah dua kalau bacokan golok itu mengenainya. Akan tetapi Ban-pi Lo-cia adalah seorang tokoh besar yang sakti. Tanpa menoleh atau membalikkan tubuhnya, ia sudah menundukkan kepalanya sehingga golok itu berdesing hanya beberapa senti di sebelah kanan kepalanya. Kakek ini tentu saja tidak mendiamkan orang yang menyerangnya. Tangan kanannya mencengkram ke belakang dan biarpun ia masih tetap memandang penuh kekaguman kepada Lu Sian, namun tangan yang digerakkan ke belakang itu dengan cepat sekali telah menyerang ke arah pergelangan tangan kanan Kam Si Ek yang memegang golok. Jenderal muda ini kaget. Ternyata kakek yang diserang ini tanpa merobah kedudukan badan telah dapat mengelak dan sekaligus mengancam lengannya. Cepat ia menarik kembali goloknya dan meloncat ke samping untuk menghindarkan cengkraman yang amat hebat itu.

Lu Sian sudah menerjang pula. Kini gerakan kakinya membentuk pat-kwa mengelilingi Si Kakek Gundul, pedangnya menyambar-nyambar dari delapan penjuru. Inilah Pat-mo Kiam-hoat yang dimainkan sepenuhnya oleh gadis itu, karena ia tahu betul, tanpa usaha keras dan sungguh-sungguh, dia dan Kam Si Ek pasti akan celaka menghadapi lawan tangguh ini. Kam Si Ek yang masih merasa heran mengapa gadis puteri Beng-kauwcu ini bisa tiba-tiba muncul di tempat ini dan berusaha menolongnya, juga maklum bahwa mereka berdua menghadapi seorang lawan tangguh. Ia tidak pernah mendengar nama Ban-pi Lo-cia, akan tetapi kakek gundul itu sudah membuktikan kelihaiannya. Cepat Kam Si Ek juga memutar golok emasnya dan kini ia berhati-hati sekali, mengeluarakan jurus-jurus berbahaya mendesak dari belakang.

Kam Si Ek adalah murid dari ayahnya sendiri, seorang panglima perang yang ulung. Akan tetapi, karena ayahnya juga seorang ahli perang, dengan sendirinya ia lebih suka mempelajari ilmu perang dan memimpin barisan daripada ilmu silat. Dalam hal menunggang kuda, melepas panah dan mencari siasat dalam memimpin barisan, ia jauh lebih hebat daripada ilmu silatnya. Betapapun juga, golok emasnya yang digerakkan dengan tenaganya yang besar, cukup berbahaya.

Ban-pi Lo-cia agak tertegun ketika tubuhnya terpaksa bergerak ke sana kemari dan kedua lengan bajunya berkibar-kibar karena ia gunakan sebagai senjata untuk menghadapi hujan serangan pedang Lu Sian. Ia tertegun karena mengenal ilmu pedang itu.

“Kau… murid Pat-jiu Sin-ong…?” tanyanya sambil miringkan tubuh ke kiri disusul kebutan lengan bajunya ke belakang untuk menghalau golok Kam Si Ek.

Lu Sian tersenyum mengejek. “Ban-pi Lo-cia manusia liar, kau berhadapan dengan puteri tunggalnya!”

“Ahh… ha-ha-ha, bagus sekali!” Ban-pi Lo-cia tertawa keras dan tiba-tiba ia menghentikan semua gerakannya. Melihat hal ini, Lu Sian dan Kam Si Ek cepat menerjang, pedang Lu Sian membabat ke arah leher disusul dengan tangan kiri, sedangkan Kam Si Ek dari belakang membacokkan goloknya ke arah pinggang. Hebat sekali serangan dua orang muda ini.

Akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar hitam kecil panjang, seperti seekor ular terbang mengitari tubuh Ban-pi Lo-cia. Hebat sekali ini yang ternyata merupakan sehelai cambuk atau tali hitam panjang berkelebatan sambil mengeluarkan suara meledak-ledak seperti petir menyambar. Kam Si Ek berseru kaget karena goloknya sudah terlepas dari tangannya karena lengan kanannya tiba-tiba menjadi lumpuh terkena totokan ujung cambuk !

nekat, menggerakkan pedangnya menusuk ke arah tenggorokan kakek itu untuk dilanjutkan dengan gerakan mengiris ke arah cambuk. Serangan ini benar-benar amat berbahaya dan Ban-pi Lo-cia maklum akan hal ini. Dengan gerakan kaki ringan, kakek itu meloncat ke belakang sampai dua meter lebih dan ketika Lu Sian menerjang maju, tiba-tiba cambuknya mengeluarkan suara keras lalu menyambar ke depan, ujungnya menghantam ke arah muka yang cantik jelita itu.

Kini Lu Sian yang menjadi kaget setengah mati. Bunyi seperti petir dari ujung cambuk itu membingungkannya, apalagi melihat sinar hitam itu berputaran di depan mukanya. Celakalah ia kalau menerima lecutan cambuk ini, tentu akan bercacat ! Karena ini, ia menggerakkan pedang dan tangan kirinya ke depan, pedangnya berusaha membabat cambuk, tangan kirinya menggunakan gerakan Houw-jiauw-kang (Ilmu Mencengkram Kuku Harimau) untuk menangkap cambuk.

Ban-pi Lo-cia terkekeh dan tahu-tahu sinar cambuknya melingkar-lingkar makin lama makin mengecil dan tanpa dapat dihindarkan lagi oleh Lu Sian, kedua lengan gadis itu sudah terlibat cambuk, terus berputar-putar melibat dan membelenggu kedua pergelengan tangannya, Lu Sian mengeluh kaget, pedangnya terlepas dari tangannya dan betapapun ia mengerahkan tenaga untuk membebaskan kedua lengannya, namun sia-sia belaka.

“Huah-hah-hah, manisku, kau hendak lari ke manakah?” Ban-pi Lo-cia memegangi cambuk atau tali hitamnya itu dengan tangan kiri, kemudian ia melangkah maju dan tangan kanannya dengan jari besar-besar dan penuh bulu itu diulur ke depan, agaknya hendak menangkap tubuh Lu Sian, matanya melotot penuh nafsu. Melihat muka yang berkulit kasar, mata yang bijinya kemerahan, mulut dengan bibir tebal menyeringai makin mendekatinya, Lu Sian hampir menjerit saking ngeri dan seremnya.

“Binatang, kaulepaskan dia!” Tiba-tiba Kam Si Ek yang sudah kehilangan goloknya itu meloncat dan menubruk Ban-pi Lo-cia dari belakang ! Tadi jenderal muda ini merasa lemgan kanannya lumpuh setelah totokan ujung cambuk sehingga goloknya terlepas. Akan tetapi setelah cambuk itu menyambar ke arah Lu Sian, ia cepat mengerahkan sin-kang ke arah lengan untuk mengusir kelumpuhan. Betapa kagetnya melihat kini Lu Sian yang tertangkap dan agaknya Si Kakek Iblis itu hendak berbuat kurang ajar. Rasa kuatir membuat Kam Si Ek menjadi nekat dan seperti seekor singa muda ia meloncat dan menerkam dari belakang.

Kalau saja ia berada dalam keadaan biasa, tak mungkin Ban-pi Lo-cia dapat diserang secara kasar begini. Akan tetapi pada saat itu, Ban-pi Lo-cia seakan-akan dalam mabok, mabok kecantikan Lu Sian yang membuat semangatnya melayang-layang, apalagi setelah ia berhasil mengikat kedua tangan gadis itu dengan cambuknya. Bagaikan seorang kelaparan melihat panggang ayam di depannya. Ban-pi Lo-cia tidak ingat apa-apa lagi kecuali korbannya. Inilah sebabnya mengapa Kam Si Ek berhasil menerkamnya dan menggulatnya dari belakang. Pemuda yang bertenaga kuat itu sudah memiting lehernya dari belakang dan menggunakan ilmu gulat yang memang pernah ia pelajari untuk memiting dan mencekik leher Ban-pi Lo-cia !

Kagetlah Ban-pi Lo-cia ketika tahu-tahu punggungnya diterkam dan lehernya dicekik lingkaran tangan yang kuat ! Karena jalan pernapasannya terancam, Ban-pi Lo-cia marah sekali. Sesaat ia melupakan Lu Sian, cambuknya ia tarik kembali dan kedua tangannya bergerak memukul kepala Kam Si Ek di belakangnya dan merenggut lengan yang mencekiknya. Akan tetapi Kam Si Ek menyembunyikan kepalanya di belakang punggung, memiting dan mencekik terus, bahkan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang dan paha lawannya dari belakang. Ia seakan-akan menjadi seekor lintah yang sudah menempel dan lekat, tak dapat dilepaskan lagi ! Menghadapi ilmu gulat macam ini Ban-pi Lo-cia kelabakan. Ia bisa dan berani menghadapi tata kelahi (ilmu silat) dari aliran manapun juga, akan tetapi menghadapi cara berkelahi yang ngawur dan tanpa aturan ini ia benar-benar terkejut sekali.

Pada saat itu, Lu Sian yang sudah terbebas daripada belenggu ujung cambuk, sejenak mengurut-ngurut kedua lengannya yang terasa sakit, kemudian ia menyambar pedangnya lagi dan cepat melakukan serangan tusukan bertubi-tubi, juga membabat lengan kakek itu untuk mencegah Si Kakek lihai ini memukul Kam Si Ek.

Repot juga Ban-pi Lo-cia. Kedua tangannya harus menghadapi pedang Lu Sian di depan yang menyerang seperti seekor burung walet menyambar-nyambar, sedangkan cekikan Kam Si Ek pada lehernya makin mengeras dan kuat sekali. Sebetulnya dengan mudah Ban-pi Lo-cia akan dapat mengalahkan Lu Sian, akan tetapi karena ia terburu-buru saking gugup dan kuatirnya akan cekikan yang ketat, ia menjadi bingung sendiri, mengebut-ngebutkan kedua lengan baju untuk menghalau lengan Lu Sian tanpa mendapat kesempatan untuk memikirkan daya agar ia terbebas dari cekikan orang muda itu. Kam Si Ek mengerahkan seluruh tenaganya. Niatnya hanya satu, yakni mematahkan tulang leher lawannya ! Tenaga jenderal muda ini memang besar sekali ! kalau yang ia piting lehernya itu bukan Ban-pi Lo-cia, tentu leher itu sudah patah tulangnya karena tenaga pitingan Kam si Ek ini mampu mematahkan tulang seekor harimau ! Akan tetapi Ban-pi Lo-cia bukan seekor harimau, bukan pula manusia biasa, melainkan seorang tokoh persilatan yang tinggi ilmunya dan amat kuat tenaganya. Ia pun cerdik. Hanya sebentar saja ia bingung. Segera ia mengerti bahwa kalau ia gugup, akan celakalah dia. Maka kini cambuknya kembali melecut-lecut dan mengeluarkan bunyi seperti petir menyambar, membentuk lingkaran-lingkaran dan di lain saat ujung cambuknya telah melibat pedang Lu Sian dan merampas pedang itu, kemudian ujung cambuk yang melibat pedang itu menyambar pula sehingga pedang itu seakan-akan dimainkan tangan menikam ke arah Lu Sian.

“Ayaaaa……………………………… !” Lu sian terpaksa mengelak mundur, akan tetapi pedang itu terus mengejarnya, menikam

bertubi-tubi sehingga gadis ini terpaksa menggulingkan dirinya dan menjauhi lawan. Saat inilah dipergunakan Ban-pi Lo-cia untuk menggunakan tangan kirinya menotok jalan darah di dekat siku lengan Kam Si Ek yang mengempit lehernya. Ditotok jalan darahnya, seketika lumpuhlah lengan Kam Si Ek dan otomatis kempitannya pada leher juga terlepas. Dengan penuh amarah Ban-pi Lo-cia merenggutkan diri terlepas lalu membalik dan sekali tangan kirinya menampar, pundak Kam Si Ek kena pukulan dan pemuda itu terguling roboh !

membuatku menjadi mayat dengan mata melotot dan lidah keluar, ya ? Mari kita lihat, siapa yang akan mampus menjadi setan penasaran!” Ia menubruk maju dan di lain saat ia sudah menindih tubuh Kam Si Ek dan mencekik leher pemuda itu dengan lengan kanannya yang berjari besar-besar dan berbulu ! Tangan kirinya memegang cambuk dan ia tertawa bergelak-gelak ketika kedua tangan Kam Si Ek berusaha melepaskan cekikannya.

“Iblis tua, lepaskan dia!” Liu Lu Sian terkejut sekali melihat pemuda itu terkejut sekali melihat pemuda itu tercekik, maka cepat ia menyambar pedangnya yang tadi dilepaskan libatan cambuk, lalu ia menerjang maju dengan nekat untuk menolong pemuda pujaan hatinya.

Heh-heh-heh, kau bersabar dan tunggulah, manis ! Nanti kita bersenang-senang kalau bocah ini sudah kucekik sampai melotot matanya, keluar lidahnya dan melayang nyawanya ! Ha-ha-ha!” Kakek gundul ini menggunakan cambuk di tangan kirinya untuk menangkis setiap kali pedang Lu Sian menyambar.

Kam Si Ek tahu bahwa nyawanya berada dalam cengkraman maut. Ia mengerahkan tenaga pada kedua tangannya, berusaha sekuatna untuk merenggut lepas lengan tangan yang mencekiknya. Namun hasilnya sia-sia belaka, karena tangan kakek yang kuat itu tidak dapat direnggutnya. Ia sudah hampir tidak tahan lagi, tak dapat bernapas, pandang matanya sudah berkunang, telinganya penuh suara melengking tinggi, kepalanya serasa membesar dan hampir meledak. Tadinya ia mengharapkan bantuan Lu Sian, akan tetapi gadis itu pun tidak berdaya menolongnya, selalu tertangkis cambuk, habislah harapan Kam Si Ek. Ia merasa menyesal sekali, bukan menyesal harus mati. Bagi seorang gagah, kematian bukanlah apa-apa. Akan tetapi sebagai seorang panglima perang, ia ingin mati di dalam perang, bukan mati di tangan kakek ini yang berarti mati konyol bagi seorang pejuang. Lebih menyesal lagi hatinya itu pun menghadapi bencana yang agaknya akan lebih hebat daripada maut !

Tiba-tiba wajah Kam Si Ek yang sudah merah itu membayangkan kekagetan. Pada saat itu ia tengah memandang ke arah Liu Lu Sian dan kini hendak melihat apa yang akan dilakukan oleh gadis itu, ia berteriak sekuatnya. “Jangan…!” akan tetapi teriakannya terhenti di tenggorokan yang terjepit erat oleh jari tangan Ban-pi Lo-cia.

“Brett…! Breettt ! Ban-pi Lo-cia, kau lihatlah ke sini dan lepaskan dia…!”

Mendengar suara kain robek dan suara Lu Sian menggetar, Ban-pi Lo-cia tertarik dan menoleh. Matanya yang sudah lebar makin melebar, mulutnya terbuka dan ujung bibirnya penuh air liur ketika ia melihat nona itu merobek bajunya sendiri sehingga baju bagian dada terobek lebar memperlihatkan baju dalam berwarna merah muda yang membayangkan kulit tubuh putih dengan bentuk menggiurkan.

“Kau masih belum mau melepaskannya?” Suara Lu Sian merdu dan diucapkan dengan mulut menyungging senyum manis ditambah lirikan mata memikat.

“Heh-heh-heh… ah, hebat kau…!” Ban-pi Lo-cia lupa kepada Kam Si Ek dan bagaikan dalam mimpi ia bangkit meninggalkan pemuda itu, kini ia terkekeh, matanya tak pernah berkedip menelan gadis di depannya, kakinya melangkah ke depan dan kedua tangannya dikembangkan siap untuk menubruk dan memeluk.

Lu Sian masih tersenyum-senyum, menyembunyikan pedang di tangannya di belakang tubuh, melangkah mundur dengan gerakan lemah gemulai seperti orang menari sehingga makin menonjollah kecantikan tubuhnya, terus mundur dan kadang-kadang melirik kepada Kam Si Ek yang masih rebah di belakang kakek itu. Ketika ia melihat Kam Si Ek sudah merayap bangun, meraba-raba dan menemukan kembali goloknya kemudian bangkit berdiri, tangan kanan memegang gagang golok, tangan kiri mengelus-ngelus lehernya yang terasa kaku dan sakit, tiba-tiba Lu Sian menggerakkan tangan kirinya yang tadinya bersembunyi di belakang tubuhnya, dibarengi teriakan nyaring.

“Bangsat tua, makanlah ini!” Sinar merah menyambar ke seluruh tubuh Ban-pi Lo-cia disusul terjangan pedang yang menusuk ke arah muka di antara sepasang alisnya. Inilah serangan hebat sekali ! Ban-pi Lo-cia tengah terpesona oleh kecantikan Lu Sian, maka hampir saja ia menjadi korban serangan ini. Baiknya ia memang amat lihai, begitu melihat kelebatnya jarum dan pedang kesadarannya pulih dan sambil berseru kaget ia mencelat ke belakang, menyampok jarum-jarum dengan lengan bajunya dan menggerakkan cambuk untuk melibat pedang Lu Sian. Tiba-tiba terdengar angin mendesir di belakangnya, ia cepat mengelebatkan cambuknya membentuk lingkaran lebar dan sekaligus ia sudah dapat menangkis golok di belakangnya dan pedang di depannya. Segera Lu Sian dan Si Ek, tanpa dikomando lagi, telah mengeroyok Si Kakek Lihai sambil mengeluarkan seluruh kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga. Maklum bahwa mereka berdua terancam bahaya maut yang hebat, maka mereka menjadi nekat. Mau melarikan diri tak mungkin, walaupun akan kalah, maka mereka kini menyerang dengan jurus-jurus berbahaya, kalau perlu siap mengadu nyawa !

Liu Lu Sian adalah puteri tunggal Pat-jiu-sin-ng, biarpun tingkat kepandaiannya jauh kalah kalau dibandingkan dengan Ban-pi Lo-cia, namun ia bukan sembarang lawan dan dapat berbahaya kalau maju secara nekat seperti itu. Adapun Kam Si Ek, biarpun ilmu silatnya tidak seganas ilmu silat Lu Sian, namun pemuda ini bertenaga besar dan tak mengenal takut. Oleh karena inilah maka tidak mudah bai Ban-pi Lo-cia untuk merobohkan mereka tanpa melukai berat atau membunuh. Padahal ia tidak sekali-kali bermaksud membunuh Lu Sian yang membuatnya tergila-gila, adapun Kam Si Ek kalau memang tidak dapat ia bujuk tentu akan dibunuhnya. Setelah mencari akal, tiba-tiba cambuknya yang bernama Lui-kong-pian (Cambuk Kilat) membuat gerakan melingkar-lingkar ke atas dan terdengarlah suara cambuk meledak-ledak seperti petir, kemudian ujung cambuk menyambar bertubi-tubi ke arah kepala Kam Si Ek dan Liu Lu Sian.

maka begitu melihat sinar menyambar ke atas kepala, mereka cepat menangkis dengan senjata. Akan tetapi, golok dan pedang seperti terhisap oleh cambuk, lekat dan tak dapat ditarik kembali. Mereka berdua mengerahkan tenaga untuk dapat menarik kembali senjata mereka, dan saat ini dipergunakan oleh Ban-pi Lo-cia untuk secara tiba-tiba melepaskan cambuk Lui-kong-pian, tubuhnya segera berjongkok dan kedua lengannya memukul ke depan dengan jari-jari tangan terbuka. Inilah pukulan Hek-see-ciang (Tangan Pasir Hitam) yang luar biasa ampuhnya. Biarpun jarak mereka terpisah antara dua meter, namun begitu angin pukulan menghantam, dua orang muda itu terpental dan terjengkang lalu roboh !

“Hemm, tua bangka tak tahu malu ! Berani kau merobohkan Kam-goanswe yang gagah perkasa?” Tiba-tiba terdengar angin mendesing dari kiri. Maklum bahwa ini adalah pukulan yang amat hebat. Ban-pi Lo-cia dengan kaget cepat memutar tubuh ke kiri dan menangkis. Dua macam tenaga pukulan

sakti bertemu di udara, tidak mengeluarkan suara, akan tetapi akibatnya Ban-pi Lo-cia terhuyung mundur sampai empat langkah. Dan di depannya kini berdiri seorang kakek tua yang rambutnya riap-riapan, berdiri secara aneh karena bukan kedua kakinya yang berdiri, melainkan sepasang tongkat bambu yang menggantikan kedua kakinya yang ditekuk bersila.

“Eh… kau… kau Sin-jiu Couw Pa Ong ? Ha-ha, aku mendengar kau menjadi orang buronan yang lari ke sana ke mari seperti anjing terkena gebuk ? Ha-ha-ha, kedua kakimu lumpuh ? Aduh kasihan, Raja Muda yang malang kini menjadi pengemis lumpuh.” Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak. Ia tidak gentar menhadapi Couw Pa Ong yang kini berjuluk Kong Lo Sengjin karena melihat orang itu sudah lumpuh. Ia maklum bahwa kakek bekas raja muda ini terkenal sekali dengan sepasang tangannya sehingga dijuluki Sin-jiu (Kepala Sakti), akan tetapi andaikata kakek itu belum lumpuh sekalipun ia tidak takut, apalagi sudah lumpuh. Segera ia memegang cambuk kilatnya erat-erat, siap untuk menggempur.

Kong Long Sengjin tidak menjadi marah mendengar makian ini. “Ban-pi Lo-cia, kau tikus Khitan yang busuk. Mana aku ada waktu melayani segala tikus yang tiada harganya? Akan tetapi jangan kau mencoba menganggu Kam-goanswe. Dia seorang patriot Ahala Tang, dan aku akan membelanya sampai mati!”

Ban-pi Lo-cia cukup maklum bahwa menghadapi kakek lumpuh ini, biarpun ia tidak akan kalah, namun ia merasa sangsi apakah ia akan dapat merobohkannya cepat-cepat, apalagi kalau dua orang muda itu nanti membantu Si Kakek Lumpuh. Ia memang cerdik. Perlu apa meributkan Kam Si Ek. Terang bahwa jenderal muda itu tidak akan suka membantu Khitan, andaikata ia paksa bawa ke Khitan, akhirnya tentu akan nekat tidak mau membantu. Tadi pun sudah tampak jelas kekerasan hati pemuda ini. Membunuhnya pun kalau resikonya harus dikeroyok, tidak menguntungkan. Kerajaan di selatan tidaklah berbahaya lagi, mereka saling gempur, saling berebutan kekuasaan, apa perlunya takut akan barisan yang dipimpin Kam Si Ek ? ia lalu tertawa menyeringai.

“Kakek lumpuh, raja jembel ! Siapa butuh dia ? Kau bawalah jenderalmu itu, yang kubutuhkan adalah Si Bidadari!” Ia menoleh dan memandang kepada Liu Lu Sian dengan mata melotot dan mulut terbuka lebar.

Pada saat itu, Liu Lu Sian yang sudah sadar lebih dulu, telah lari kepada Kam Si Ek. Pemuda itu masih pingsan, akan tetapi setelah Lu Sian mengurut dada dan menotok tiga jalan darah terpenting, pemuda itu pun siuman dari pingsannya. Untung bahwa mereka tadi terkena pukulan secara langsung, hanya terpukul oleh anginnya saja yang membuat mereka pingsan. Kalau tersentuh tangan Ban-pi Lo-cia dengan pukulannya Hek-see-ciang tentu sukar ditolong nyawa mereka.

Mendengar ucapan dua orang kakek sakti itu, Liu Lu Sian terkejut bukan main. Menghadapi seorang kakek saja sudah repot, apalagi kalau mereka berdua itu maju bersama, seorang menculik Kam Si Ek dan yang seorang pula menculik dia ! Ia tertawa bekikikan sambil menutup mulutnya dan matanya memandang ke arah Kong Lo Sengjin. Dua orang kakek itu terheran, dan Lu Sian segera meloncat berdiri, menudingkan telunjuknya ke arah Kong Lo Sengjin sambil berkata.

“Ayahku Pat-jiu Sin-ong pernah bilang bahwa Sin-jiu Couw Pa Ong adalah seorang patriot yang gagah perkasa dan seorang di antara tokoh-tokoh besar di dunia persilatan, tidak takut akan setan dan iblis sehingga ayahku kagum sekali. Akan tetapi setelah aku menyaksikan sendiri, hi-hi-hik…” Liu Lu Sian tidak melanjutkan kata-katanya melainkan tertawa lagi terkekeh.

Kong Lo Sengjin mengerutkan keningnya, hatinya serasa dibakar dan ia membentak, “Budak rendah ! Biarpun kau puteri Pat-jiu Sin-ong aku takut apa ? Mengapa kau mentertawakan aku ? Apanya yang tidak cocok?”

“kau ternyata seorang yang licik, beraninya hanya membunuhi para pengungsi ! Orang-orang yang tidak bersalah, masih bangsa sendiri pula, karena mereka itu tidak kuat melawanmu, kau bunuhi seperti orang membunuh lalat saja. Akan tetapi sekali ini kau menghadapi seorang Khitan, musuh lama Kerajaan Tang, karena kau tahu bahwa Ban-pi Lo-cia orangnya lihai bukan main, kau lalu mengkeret nyalimu, nyali tikus yang beraninya hanya kepada si lemah. Khitan ini hampir membunuh Jenderal Kam, kau mengalah dan ketakutan. Cihh, mana itu darah pahlawan ? Hi-hi-hik!”

Sin-jiu Couw Pa Ong yang sekarang bernama Kong Lo Sengjin adalah seorang bekas raja muda yang selalu dihormati orang. Selama hidupnya baru sekarang ia mendengar olok-olok macam itu terhadap dirinya, maka mukanya segera menjadi merah, dan ia mencak-mencak seperti orang kebakaran jenggot. Matanya bernyala jalang ketika ia menghadapi Ban-pi Lo-cia yang hanya menyeringai penuh ejekan.

“Ban-pi Lo-cia, bersiaplah kau ! Biar aku melawanmu agar jangan ada siluman cilik mengira Kong Lo Sengjin takut menghadapi seekor monyet Khitan!”

Ban-pi Lo-cia tentu saja maklum akan kelicikan Liu Lu Sian yang menggunakan siasat mengadu domba. Akan tetapi ia pun terkenal sebagai tokoh kang-ouw tingkat tinggi, mana bisa ia mengalah terhadap seorang kakek yang sudah lumpuh ? Ia harus memperlihatkan kelihaiannya, setelah merobohkan kakek lumpuh ini, apa sukarnya menangkap Si Gadis Liar dan membunuh Kam Si Ek ?

“Raja Muda bangkrut ! Kaulihat Lui-kong-pian mengambil nyawamu!” Bentakan ini disusul suara “tar-tar-tar!” keras sekali ketika cambuknya melayang ke atas dan melecut-lecut sambil mengeluarkan bunyi seperti halilintar.

“Ha-ha-ha, kau benar, Ban-pi Lo-cia. Hajar saja kakek lumpuh itu, mana dia kuat melawanmu ?” Liu Lu Sian berseru sambil bertepuk tangan. Besar hati Ban-pi Lo-cia mendengar gadis itu memihak kepadanya, maka ia makin hebat memutar cambuknya dan menyerang.

Di lain pihak, Kong Lo Sengjin yang berwatak angkuh dan tinggi, merasa marah sekali dan ia tidak akan berhenti, tidak akan mau sudah sebelum ia berhasil mengalahkan Ban-pi Lo-cia. Memang cerdik Liu Lu Sian. Ia memakai taktik memanaskan kedua pihak, sebentar ia memihak Ban-pi Lo-cia, sebentar ia memihak kakek lumpuh sehingga pertandingan di antara kedua orang sakti itu makin menghebat. Sementara itu, seperti menjadi harapan Lu Sian, pertandingan makin lama makin hebat dan mati-matian sedangkan cuaca menjadi makin gelap, malam pun tiba. Dengan hati-hati Lu Sian mengumpulkan pedang dan golok Kam Si Ek, memberi isyarat supaya pemuda itu tidak banyak bergerak atau bicara, kemudian di dalam gelap ia memegang tangan pemuda itu, menyerahkan goloknya dan mengajaknya pergi dari situ dengan perlahan-lahan dan sedikit-sedikit.

Sementara itu, dua orang kakek yang sudah dibakar perasaannya oleh Lu Sian, telah bertanding dengan hebatnya. Mula-mula Ban-pi Lo-cia menggunakan tangan kosong karena ia memandang rendah kepada lawannya yang sudah lumpuh. Namun tahu bahwa lawannya ini tentu memiliki sin-kang yang kuat, maka dalam serangannya ia mengerahkan tenaga dan menggunakan Hek-see-ciang yang ia andalkan. Agaknya Ban-pi Lo-cia, seperti biasa menjadi watak tokoh besar yang terlalu percaya kepandaian sendiri, memang sengaja hendak menguji sampai di mana hebatnya Si Kepalan Sakti. Pukulannya Hek-see-ciang yang tadi anginnya saja sudah mampu merobohkan Lu Sian dan Si Ek, kini menghantam ke arah Kong Lo Sengjin. Hebat memang pukulan Hek-see-ciang dari kakek gundul ini. Tentu dilatih belasan tahun lamanya, dengan latihan mencacah dan memukul pasir besi panas yang tercampur racun kelabang direndam arak tua, maka kini pukulan yang dilancarkan kengan pengaruh tenaga sin-kang, hebatnya luar biasa sehingga tidak aneh kalau orang-orang muda perkasa seperti Lu Sian dan Si Ek tadi roboh hanya oleh anginnya saja.

Namun sekali ini perhitungan Ban-pi Lo-cia meleset. Kong Lo Sengjin tidak percuma dijuluki Sin-jiu atau Kepalan Sakti. Ia memang seorang ahli silat tangan kosong, maka tentu saja ia hafal akan segala macam pukulan berbisa seperti Hek-see-ciang atau Ang-see-jiu, maupun Pek-lek-jiu, malah sudah tahu

pula bagaimana harus menghadapi pukulan-pukulan ini. Kini melihat Ban-pi Lo-cia yang didahului oleh sinar hitam, ia tertawa bergelak, lalu memapaki pukulan itu dengan telapak tangan kanannya setelah memindahkan tongkat kanan ke tangan kiri. Ban-pi Lo-cia girang melihat ini. Tangan terbuka merupakan sasaran lunak bagi Hek-see-ciang, karena hawa pukulannya akan langsung menembus kulit telapak tangan dan menyerbu ke dalam saluran darah terus ke jantung. Maka ia mengerahkan tenaganya dan memukul telapak tangan itu.

“Dessss…!” Ban-pi Lo-cia kaget setengah mati karena kepalan tangannya bertemu dengan benda yang lemas lunak seperti kapas dan mendadak ia merasa betapa tenaga pukulannya seperti amblas tanpa dasar, tidak menemui sesuatu. Selagi ia hendak menarik tangannya, tiba-tiba tenaga pukulannya membalik dan menyerang dirinya sendiri melalui kepalan tangannya !

“Celaka… !” Ia berseru kaget dan cepat lengan kirinya menampar tangan kanannya sendiri sehingga tenaga yang membalik itu tertangkis dan ia segera melempar diri ke belakang sambil bergulingan. Kiranya kakek buntung itu sudah mempergunakan jurus dari Bian-kun (Silat Tangan Kapas) yang dasarnya memainkan atau mencuri tenaga lawan, kemudian dengan pengerahan tenaga sin-kang ia melontarkan kembali tenaga lawannya yang tadi tenggelam atau tersimpan.

Marahlah Ban-pi Lo-cia. Tahu bahwa tak boleh ia main-main lagi dengan tangan kosong melawan kakek yang berjulukan Kepalan Sakti ini, ia melolos Lui-kong-pian dan terus mengadakan serangan dahsyat. Cambuknya menyambar-nyambar dan meledak di atas kepala Si Kakek Buntung. Diam-diam Kong Lo Sengjin terkejut. Ia lebih mahir menggunakan tangan kosong, akan tetapi menghadapi cambuk yang demikian panas dan dahsyatnya, kalau dilawan dengan tangan kosong, tentu ia akan terdesak. Maka ia lalu melompat ke belakang dan mengangkat tongkat bambumya untuk menangkis, kemudian secepat kilat tongkat bambu yang kiri menusuk perut lawan. Kiranya dua batang bambu yang dipergunakan untuk pengganti kaki itu kini dapat dimainkan seperti senjata. Kalau yang kanan akan menyerang, yang kiri menjadi kaki dan demikian sebaliknya. Bahkan adakalanya tubuh kakek lumpuh ini melayang ke atas dan pada saat seperti itu, dua batang bambunya dapat menyerang bertubi-tubi. Hebat memang bekas raja muda ini ! Tongkat-tongkat bambunya itu tidak saja dapat menyerang dengan pukulan dan hantaman atau sodokan seperti dua batang toya panjang, malah ujungnya dapat ia pergunakan untuk menotok jalan darah. Karena bambu itu berlubang, maka ketika digerakkan oleh sepasang tangan yang sakti itu, mengeluarkan bunyi angin mengaung-ngaung seperti suara dua ekor harimau bertanding.

Ramai bukan main pertandingan tingkat tinggi ini. Bayangan mereka lenyap terbungkus gulungan sinar senjata dan terdengar pada saat itu adalah auman-auman yang keluar dari sepasang bambu diseling suara meledak-ledak dari ujung cambuk. Keadaan yang seimbang ini, ketangguhan lawan membuat hati yang sudah menjadi gelap, tidak mendusin lagi bahwa dua orang muda itu sudah lenyap dari situ.

Kini tongkat bambu di tangan kirinya menerjang dengan gerakan memutar seperti kitiran sehingga suara mengaung jadi makin keras. Demikian cepatnya putaran tongkat bambu ini sehingga Ban-pi Lo-cia terpaksa memutar cambuknya pula untuk menangkis dan melindungi tubuh. Dengan tongkat lawan diputar sperti itu, tak mungkin ia dapat melibat dengan cambuknya.

Tiba-tiba sekali, selagi bayangan tongkatnya itu masih belum lenyap, tongkatnya sendiri sudah turun dan kini sebagai gantinya, tangan kanan kakek lumpuh itu menghantam ke depan dengan pukulan jarak jauh. Angin mendesis ketika pukulan ini dilakukan. Pukulan ini sudah membunuh puluhan orang pengungsi tanpa mengenai tubuh, maka dapat dibayangkan betapa ampuhnya. Ban-pi Lo-cia kaget dan maklum bahwa inilah pukulan maut yang membuat kakek bekas raja muda itu dijuluki Kepalan Sakti. Ia tidak berani berlaku sembrono, maka tidak mau menangkis secara langsung karena maklum bahwa lawannya memang memiliki keistimewaan dalam hal pukulan tangan kosong. Cepat ia menggeser kakinya sehingga kedudukan kuda-kudanya miring, kemudian dari samping ia baru berani menangkis dengan Hek-see-ciang. Tentu saja menangkis dari samping tidak sama dengan menerima dari depan secara langsung. Betapapun juga, begitu lengannya bertemu dengan lengan kakek lumpuh, hampir saja Ban-pi Lo-cia terjengkang, maka cepat-cepat ia melompat ke belakang sambil tertawa bergelak.

“Huah-hah-hah, bidadari cantik manis. Kaulihat, bukankah Ban-pi Lo-cia tidak dapat roboh oleh Sin-jiu ? Sekarang kaulihat betapa aku membalasnya…” Tiba-tiba Ban-pi Lo-cia berhenti berkata-kata, matanya liar mencari-cari di dalam gelap dan tiba-tiba ia berseru, “Celaka, kita kena tipu gadis liar itu!”

“Huh-huh, siapa butuh siluman itu ? Biar dia mampus!” Kong Lo Sengjin memaki. “Hayo kita lanjutkan pertandingan, tak usah banyak cerewet!” Kembali ia menerjang maju dengan tongkat bambunya.

“Nanti dulu!” Ban-pi Lo-cia mengelak. Lenyapnya gadis jelita yang tadinya ia anggap sebagai korban yang sudah berada di depan mulut, melenyapkan pula nafsunya bertempur. “Kau tahu ia itu puteri Pat-jiu Sin-ong. Mengapa pula ia ikut-ikut memperebutkan Kam-goanswe kalau tidak diutus ayahnya ? Hemm, apakah kaukira Nan-cao tidak mengilar pula memiliki panglima seperti Kam-goanswe?”

Kong Lo Sengjin menyumpah-nyumpah. “Kau betul ! Celaka, kita kejar dia!”

Dua orang itu lalu melesat pergi mengejar. Tiba-tiba keduanya seperti ada yang memberi aba-aba, meloncat ke atas pohon dan memandang dari puncak pohon besar. Biarpun keadaan gelap, namun sinar bintang-bintang di langit cukup untuk menerangi sebagian besar permukaan bumi dan pandangan tajam kedua orang kakek ini segera melihat berkelebatnya bayangan dua orang muda itu yang belum lari jauh.

mengejar ke arah dua bayangan tadi.

Bukan main kagetnya hati Lu Sian. Tadinya ia sudah merasa girang karena berhasil lari pergi dari tempat pertempuran selagi dua orang kakek sakti itu berkutetan mencari menang. Tanpa disengaja, mereka lari sambil berpegang tangan. Agaknya Kam Si Ek masih belum pulih betul oleh bekas pukulan Hek-se-ciang, maka ia menurut saja digandeng dan ditarik oleh gadis itu.

“Celaka.” Bisik Lu Sian, “Si Monyet Gundul mengejar kita…”

“Hemm, kita bersembunyi di balik batang pohon besar, biarkan ia lewat lalu tiba-tiba kita berdua menyerang dari kanan kiri, bukankah itu akan berhasil?” Kam Si Ek memberi usul. Siasat seperti ini adalah siasat perang, akan tetapi agaknya takkan berhasil banyak kalau dipergunakan sebagai siasat pertandingan perorangan. Dalam perang mungkin siasat ini dapat dipergunakan melawan musuh yang lebih banyak.

“Percuma, kepandaiannya beberapa kali lipat lebih tinggi daripada kita, akal itu takkan berhasil. Lebih baik bersembunyi, tapi jangan sampai dapat dicari.”

Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari arah belakang, “Kam-goansewe, jangan takut aku menolongmu!”

Gemetar suara Lu Sian mendengar ini. “Wah, benar-benar celaka. Kusangka Ban-pi Lo-cia menang dan mengejar, kiranya kedua-duanya iblis tua itu yang mengejar kita.”

“Hemm, mengapa takut ? Kalau memang tidak ada jalan keluar, kita lawan mati-matian. Aku tidak takut mati!”

“Aku… aku juga tidak takut mati, akan tetapi aku masih ingin hidup, apalagi sekarang setelah bertemu denganmu.” Kata-kata Lu Sian ini membikin Kam Si Ek terkejut dan tercengang. Selanjutnya ia menurut saja ketika Lu Sian menariknya ke arah kiri di mana terdapat sebuah danau kecil. Kini bulan mulai menerangi jagat dan tampaklah permukaan danau kilau kemilau, dan rumput alang-alang yang tumbuh di pinggir danau bergerak-gerak seperti menari-nari ketika tertiup angin malam.

air danau yang gelap dan dingin. Kam Si Ek segera menggerakkan kaki tangan hendak berenang ke tengah, akan tetapi gadis itu menahannya.

“Tidak usah ke tengah, kita bersembunyi di sini saja.” “Di sini?” “Ya, menyelam. Lihat, alang-alang ini dapat menyembunyikan kita.” Lu Sian memilih batang alang-alang yang besar dan panjang, memotongnya dan memasukkan ujungnya ke mulut. “Kalau mereka lewat, kita menyelam, batang alang-alang ini membantu pernapasan kita.”

Diam-diam Kam Si Ek kagum bukan main. Gadis ini cerdik luar biasa, pikirnya setelah ia mengerti apa yang dimaksudkan Lu Sian. Ia pun segera memotong sebatang alang-alang dan mereka menanti. Danau di bagian pinggir itu tidak dalam, air hanya sebatas dada mereka. Akan tetapi dinginnya bukan main !

Tidak lama mereka menanti. Dua bayangan yang cepat sekali gerakannya datang dari depan, lalu terdengar suara Ban-pi Lo-cia, “Ke mana mereka pergi ? Tak mungkin mereka lari jauh!”

“Hemm, kalu tidak bersembunyi di danau itu, kemana lagi?” kata pula Si Kakek Lumpuh, Kong Lo Sengjin.

Kagetlah hati dua orang muda itu dan cepat-cepat Lu Sian menarik tangan Kam Si Ek memberi isyarat supaya menyelam. Keduanya lalu menyelamkan kepala, berlutut ke dalam danau dan batang alang-alang itu mereka pergunakan untuk menghisap hawa dari permukaan air. Karena di situ memang banyak tumbuh alang-alang maka batang alang-alang dari mulut mereka itu tidak tampak dari luar.

Mereka tidak berani banyak bergerak, kuatir kalau-kalau air bergelombang dan menimbulkan kecurigaan. Dari dalam air mereka dapat melihat bayangan dua orang itu di pinggir danau. Agaknya dua orang kakek itu tetap menyangka mereka bersembunyi di danau maka sengaja mereka menanti. Akan celakalah agaknya kalau tadi mereka tidak mempergunakan batang alang-alang untuk bernapas, karena kalau tadi mereka hanya menyelam biasa, tentu sekarang sudah tidak kuat menahan napas dan terpaksa muncul lagi. Dan sekali mereka muncul, berarti mereka pasti akan tertawan ! Saking girang dan kagum hati Kam Si Ek memikirkan ini, di dalam air ia memegang tangan Lu Sian dan menggenggamnya. Kagetlah ia karena tangan gadis itu menggigil kedinginan. Baru ia teringat bahwa di dalam air danau ini dingin luar biasa, maka tanpa ragu-ragu lagi Kam Si Ek lalu memeluk pundak gadis itu sambil merapatkan tubuhnya agar dengan jalan ini mereka berdua agak merasa hangat.

Ketika melihat dari dalam air bahwa kedua orang kakek itu berdiri agak menjauhi tempat mereka sembunyi, Lu Sian menempelkan telinganya ke permukaan air dengan gerakan hati-hati sekali. Daun telinganya timbul di permukaan air di antara alang-alang dan terdengarlah suara Ban-pi Lo-cia.

“Aku harus mendapatkan bidadari itu!” “Ah, monyet tua bangka tak tahu malu, masih suka mengejar-ngejar gadis remaja. Aku sama sekali tidak peduli. Nah, kaucarilah sendiri!” jawab Kong Lo Sengjin sambil menggerakkan tongkat hendak pergi.

“Uh, uh, kaulah yang tolol!” Si Gundul memaki. “Apa kaukira Jenderal Kam Si Ek akan aman berada di tangannya ? Eh, setan lumpuh, mari kita kerja sama. Kau mengejar ke kanan aku mengejar ke kiri, syukur kalau aku dapat menangkap Si Bidadari Manis dan kau dapat menemukan Jenderal Kam. Kalau sebaliknya, kita lalu saling menukar tangkapan kita, bukankah ini kerja sama yang baik sekali?”

Si Kakek Lumpuh diam sejenak. Dipikir-pikir memang benar juga ucapan iblis gundul ini. Iblis gundul ini lihai bukan main, kalau dia sampai mengganggu puteri Beng-kauw-cu Pat-jiu Sin-ong, itulah baik. Biar kelak Pat-jiu Sin-ong mencarinya untuk membalas dendam. Biar dua orang iblis itu saling gempur, dengan demikian berarti ia akan kehilangan dua orang musuh yang tangguh, dan kalau mereka itu sampai mampus, berarti Khitan dan Nan-cao akan kehilangan tulang punggungnya.

“Usulmu baik sekali, mari kita kerjakan!” kata Si Kakek Lumpuh yang segera meloncat dan berlari cepat sekali dengan sepasang tongkatnya, ke arah kiri, Ban-pi Lo-cia juga berlari cepat ke arah kanan dan sebentar saja lenyaplah bayangan mereka, meninggalkan danau yang sunyi.

Lu Sian menarik tangan Kam Si Ek dan kini keduanya berdiri lagi. Air sampai sebatas dada mereka. Akan tetapi mereka belum berani keluar dari danau.

“Kita tunggu sebentar, siapa tahu mereka itu hanya menipu. Kalau mereka tiba-tiba kembali, kita dapat menyelam lagi.” Kata Lu Sian dan Kam Si Ek mengangguk. Mereka masih berpegang tangan dan kini, di bawah sinar bulan mereka saling pandang dengan seluruh rambut, muka dan tubuh basah ! Melihat pandang mata Kam Si Ek seperti itu, tak terasa lagi Lu Sian menjadi merah mukanya, berdebar hatinya dan ia cepat menundukkan mukanya !

“Liu-siocia (Nona Liu), tanpa bantuanmu aku tentu sudah menjadi orang halus. Aku berhutang budi, berhutang nyawa kepadamu, entah bagaimana aku dapat membalasnya.”

“Tidak ada yang hutang dan tidak ada yang menghutangkan nyawa!” jawab Lu Sian, kini matanya bersinar-sinar memandang. Wajah mereka hanya terpisah dua jengkal saja, tangan mereka masih saling berpegang. “Kalau tadi aku tidak kaubantu, aku pun sudah celaka di tangan Ban-pi Lo-cia.” Ketika Lu

Sian menunduk dan melihat bajunya yang robek, ia cepat-cepat menutupkannya, dan kembali dua pipinya tiba-tiba menjadi merah.

Kam Si Ek bingung. Sejenak ia terpesona. Biasanya, menghadapi gadis cantik yang terang-terangan memperlihatkan cinta kasih kepadanya, ia memandang randah dan tidak mengacuhkan. Ia selalu menganggap bahwa wanita hanya akan melemahkan semangatnya berjuang ! Akan tetapi sekali ini ia benar-benar bingung. Wajah ini, biarpun basah kuyup dan rambutnya awut-awutan, luar biasa cantiknya.

“Kenapa kau memandang terus tanpa berkedip?” Tiba-tiba Lu Sian bertanya sambil tersenyum.

“Eh.. oh.. aku heran, bagaimana kau bisa tahu bahwa aku terkurung bencana dan dapat datang menolong…” Dalam gugupnya Kam Si Ek berkata, heran akan kenakalan gadis ini menggodanya seperti itu.

Lu Sian lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak ia mendengar rencana jahat yang dilakukan Phang-ciangkun untuk menipu dan menawan Kam Si Ek dan semua peristiwa yang terjadi ketika ia melakukan pengejaran untuk menolong Kam Si Ek ke Lok-yang, Kam Si Ek mendengarkan penuh perhatian, kagum akan kecerdikan Lu Sian dalam mengikuti jejak mereka yang menculiknya, bergidik mendengar akan kekejaman Kong Lo Sengjin membunuhi pengungsi.

“Dia dahulu adalah seorang Raja Muda yang perkasa, berjuang mati-matian mempertahankan Dinasti Tang. Sayang bahwa kekecewaan karena melihat jatuhnya Kerajaan Tang membuat ia seperti gila dan menjadi seorang kejam.”

“Kau sendiri bersetia kepada Tang sampai rela mengorbankan nyawa.” Lu Sian menegur.

“Akan tetapi semua kesetiaanku kutujukan kepada negara dan bangsa. Kerajaan Tang roboh karena kesalahan Kaisar dan pembantu-pembantunya, yang mengabaikan rakyat. Sekarang, setelah Kerajaan Tang jatuh, aku hanya mengabdi kepada negara dan rakyat, tidak mudah tertipu oleh mereka yang mengangkat diri sendiri menjadi raja-raja kecil yang saling bertempur memperebutkan kekuasaan.”

“Hemm, kau memang… memang lain daripada yang lain…” Lu Sian menarik napas panjang memandang kagum tanpa disembunyikan lagi. Melihat pandang mata gadis ini, berdebar jantung Kam Si Ek karena ia menjadi bingung dan tidak mengerti mengapa gadis ini memandangnya seperti itu, menimbulkan rasa tegang dan juga senang.

“Nona, mengapa kaulakukan semua ini…?” Akhirnya ia bertanya, memandang tajam.

“Lakukan apa?” Lu Sian sambil memperlihatkan senyumnya yang membuat darah diseluruh tubuh Kam Si Ek bergelora.

“Melakukan semua untuk menolongku ? Mengapa kau seperti tidak mempedulikan keselamatanmu sendiri hanya… hanya untuk menolong orang seperti aku?”

Sejenak mereka saling pandang dan tanpa sengaja, kini mereka saling mendekat, tinggal sejengkal saja jarak antara hidung mereka. Akhirnya Lu Sian menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali, akan tetapi suaranya terdengar merdu dan jelas. “Karena karena aku cinta kepadamu !”

Hampir saja Kam Si Ek terjengkang ke dalam air kalau saja Lu Sian tidak cepat-cepat memegang lengannya dan menariknya, “Kau … kenapa…………………………………………………………………………………. ?” Gadis itu bertanya kaget. “Ah…………………… Lui Lu Sian…. Kau

membikin aku hampir mati kaget…………….. !” Kam Si Ek memang amat kaget, kaget dan girang. Siapa yang
takkan kaget mendengar seorang gadis remaja yang demikian cantik jelita, yang dahulu telah merobohkan hatinya, kini tiba-tiba mengaku cinta secara terang-terangan ? “Lu Sian… mungkin… mungkinkah ini…” ia lalu merangkul.

“Mengapa tidak mungkin ? Ketika kau muncul dahulu itu… menangkis pedangku, lalu bilang bahwa hanya Tuhan yang tahu betapa inginnya kau menangkan aku… nah, sejak itu aku tak dapat melupakanmu…”

“Aduh, kau adikku yang nakal… adikku yang manis…” Dalam kegirangan yang meluap-luap Kam Si Ek lalu mendekap kepala gadis itu dan menciumnya. Keduanya yang selama hidupnya baru kali ini mengalami hal seperti itu, merasa seakan-akan lemas seluruh syaraf di tubuh, membuat mereka tak dapat berdiri tegak, dan tergulinglah mereka ke dalam air, masih berpelukan dan berciuman ! Dalam keadaan seperti itu untung sebelum mereka bangkit, mereka melihat bayangan Ban-pi Lo-cia berkelebat di pinggir danau dan berdiri tak jauh dari rumpun alang-alang ! Tentu saja mereka tidak berani berkutik, dengan saling rangkul mereka memaksa diri berendam di dalam air, menahan napas !

Setelah bayangan itu lenyap lagi, baru mereka berani muncul dalam keadaan saling rangkul dan terengah-engah, kemudian tertawa-tawa karena keadaan itu mereka anggap lucu. Tiba-tiba mereka berhenti tertawa, masih saling peluk dan saling pandang dengan sinar mata penuh kasih sayang. Lama

mereka saling pandang tanpa kata-kata, kemudian terdengar Kam Si Ek berkata lirih, “Moi-moi, terima kasih atas budi dan cintamu, percayalah, semenjak aku melihatmu dahulu, aku sudah jatuh cinta kepadamu, hanya aku… aku tahu diri, seorang seperti aku mana mungkin mengharapkan seorang dewi puteri Beng-kauwcu?”

Lu Sian mencubit lengan pemuda itu. “Kau seorang Jenderal ! Dan aku.. aku hanya wanita biasa, bagaimana kau bisa bilang begitu?” Ia lalu menyandarkan mukanya pada dada yang bidang dan basah itu, sedangkan Kam Si Ek dengan penuh kebahagiaan mendekap kepala kekasihnya itu menggigil kedinginan. Memang tadi di dalam air sudah amat dingin, kini setelah separuh tubuh berada dipermukaan air dan tertiup angin malam, dinginnya makin menghebat.

“Ah, kau kedinginan ! Mari kita keluar dari sini!” katanya

“Hemm, kukira kau akan mengajakku menjadi sepasang kura-kura disini.” Lu Sian menggoda. Mereka tertawa dan kembali Kam Si Ek merasa kagum terhadap kekasihnya ini. Jelas bahwa Lu Sian ini memiliki watak yang bebas, lincah dan jenaka sekali. Tidak biasa ia menghadapi watak seperti ini dan karenanya ia merasa amat gembira dan heran.

Mereka lalu meloncat ke darat. “Kita kembali ke Sungai Kuning, bukankah perahu yang membawamu masih berada di sana?”

“Ah, malah kembali ke perahu?” “Tentu saja. Perahu itulah tempat satu-satunya yang tidak akan disangka oleh dua orang kakek itu. Mereka tentu mengira kita mengambil jalan darat, untuk kembali ke bentengmu atau ke selatan.”

Kam Si Ek mengangguk. Cerdik benar kekasihnya ini dan ia makin bangga serta gembira. Mereka lalu sedapat mungkin memeras air dari pakaian yang mereka pakai, kemudian berlari-lari mengambil jalan yang gelap menuju ke Sungai Kuning di utara. Di tengah jalan, Lu Sian mengeluarkan jarum dan benang yang selalu dibawanya dalam saku, dan sambil berjalan ia menjahit bajunya yang robek. Mereka melakukan perjalanan tanpa bicara karena kuatir kalau-kalau suara mereka akan terdengar orang, hanya genggaman jari-jari tangan mereka yang bicara banyak, menggetarkan perasaan hati masing-masing. Kadang-kadang Kam Si Ek tak dapat menahan hatinya dan ia memeluk Lu Sian, beberapa lama mereka berdekapan dan berbisik-bisik di dekat telinga masing-masing.

Karena melakukan perjalanan dengan hati-hati sekali, pada keesokan harinya pagi hari barulah mereka sampai di sudut di mana perahu besar itu berlabuh. Alangkah kaget hati Lu Sian melihat bahwa air bah makin membesar. Dusun yang terendam air makin tak tampak dan keadaan di situ sunyi sekali, para anak

buah perahu berjaga. Dari tempat tinggi itu tampak perahu masih berada di sana sehingga mereka menjadi girang sekali.

Karena banjir makin membesar, kini rumah gedung itu mulai terendam air sedikit, kira-kira sejengkal dalamnya. Ketika Lu Sian dan Kam Si Ek tiba di gedung itu, mereka mendengar suara bersungut-sungut dari dalam.

“Celaka betul, sampai sekarang belum juga ada berita dari kota raja ! Apakah kita akan didiamkan di sini sampai mati kedinginan?”

“Ah, Laote, tak perlu mengomel. Ini termasuk kewajiban dan tentu akan ada pahalanya!” cela suara lain. Tiba-tiba enam orang prajurit yang bertugas menjaga perahu itu terkejut ketika dua sosok bayangan melompat masuk dan seorang gadis dengan pedang di tangan telah berada di depan mereka. Apalagi ketika melihat bahwa bayangan ke dua adalah Kam Si Ek, orang yang tadinya tertawan dan dibawa ke kota raja, seketika mereka menjadi pucat dan berseru. “Celaka…!”

Akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Lu Sian sudah berkelebatan bagaikan seekor burung garuda menyambar, mengeluarkan angin menderu dan muncratlah darah dari tubuh enam orang itu yang roboh satu-satu dengan dada berlubang atau leher hampir putus. Darah yang keluar dari luka mereka membuat sedikit air yang merendam lantai seketika menjadi merah.

“Moi-moi… jangan…” Kam Si Ek mencegah, akan tetapi gerakan pedang Lu Sian amat cepat, secepat kilat menyambar dan enam orang itu telah menggeletak tak bernyawa lagi. Cegahan Kam Si Ek terlambat dan pemuda ini berdiri dengan muka berkerut, tak senang ia menyaksikan perbuatan gadis ini yang dianggapnya amat kejam dan ganas. Teringat ia bahwa gadis kekasihnya ini adalah puteri tunggal Beng-kauwcu dan terbayang dalam benaknya kekejaman-kekejaman yang terjadi di Beng-kauw. Tiba-tiba ia menjadi marah sekali.

“Hemm, gadis berhati kejam ! Sekarang aku tahu maksud hatimu ! Kau tidak ada bedanya dengan yang lain. Tentu kau hendak membujukku untuk membantu ayahmu di Nan-cao, bukan ? Kau mempergunakan kecantikanmu untuk menjatuhkan hatiku. Memang, aku cinta kepadamu, aku tergila-gila kepadamu oleh kecantikanmu. Akan tetapi jangan harap bahwa aku, Kam Si Ek seorang laki-laki sejati akan menjual negara dan bangsa hanya karena seorang wanita!” Ia mencabut golok emasnya dan memandang dengan mata penuh kemarahan.

Orang yang patut dibunuh harus dibunuh, demikian ajaran ayahnya. Kini ia memandang dengan mata penuh kagum dan cinta kepada Kam Si Ek, akan tetapi sengaja ia tersenyum mengejek. Inilah kesempatan baik baginya untuk menguji kepandaian pemuda itu. Maka ia lalu menggerakkan pedangnya dan berkata.

“Kam Si Ek, begitukah dugaanmu ? Dan kau telah menghunus golokmu ? Baiklah, mari kita lihat siapa diantara kita yang lebih lihai!” Sambil berkata demikian, gadis itu meloncat ke ruangan belakang gedung yang lebih luas karena ruangan itu penuh mayat. Sambil melompat ia melirik dan mengeluarkan suara ketawa mengejek, membikin hati Kam Si Ek makin panas.

“Lihat golok!” bentak Kam Si Ek sambil meloncat mengejar bagaikan kilat. Lu Sian membalikkan tubuh dan menggerakkan pedangnya menangkis. Maka bertandinglah kedua orang itu dalam ruangan belakang di mana lantainya penuh air sehingga kaki mereka membuat air di lantai muncrat-muncrat. Golok dan pedang menyambar-nyambar dan berkali-kali terdengar suara nyaring beradunya kedua senjata itu ! Memang aneh kedua orang muda ini. Beberapa jam yang lalu mereka masih berpelukan, berciuman, dan sekarang mereka sudah saling serang, senjata mereka saling mengintai nyawa !

Dalam hal ilmu silat, Kam Si Ek masih kalah oleh Liu Lu Sian. Akan tetapi, pemuda ini mempunyai ketabahan hati luar biasa, karenanya ilmu goloknya seperti dimainkan oleh orang nekat, juga tenaganya besar sekali sehingga untuk seratus jurus lamanya mereka bertanding dengan seru dalam keadaan berimbang.

Lu Sian orangnya memang cerdik sekali. Ia sudah dapat menyelami perasaan hati kekasihnya, maka ia tidak marah ketika tadi dimaki-maki. Ia tahu bahwa cara hidup kekasihnya itu jauh berbeda dengan dia, maka bagi Kam Si Ek, cara pembunuhan yang dilakukan tadi tentu amat mengagetkan. Selain itu, agaknya kekasihnya ini mulai merasa curiga, mengira bahwa dia memang bermaksud membujuk dan menariknya untuk membantu Kerajaan Nan-cao. Oleh karena ini, maka ia berlaku hati-hati sekali. Kalau sampai ia menyinggung hati pemuda yang sudah menjadi kekasihnya itu, maka hal itu dapat merenggangkan perhubungan mereka yang sudah mulai terjalin.

Kini ia sudah merasa puas menguji kepandaian Kam Si Ek. Sungguhpun tingkat kepandaian jenderal muda ini tentu saja sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan tingkat kepandaian Kwee Seng, namun kalau dibandingkan dengan para pemuda yang pernah datang ke Beng-kauw, Kam Si Ek boleh dibilang paling unggul. Tidak banyak selisihnya daripada tingkatnya sendiri. Kalau ia mau, tentu lambat laun ia dapat mendesak dan mengalahkan Kam Si Ek. Maka ia sudah merasa puas. Bakat ilmu silat dalam diri Kam Si Ek amat baik, kalau pemuda ini menerima pelajaran ilmu silat tinggi, tentu dia sendiri pun akan kalah ! Ia sudah mencoba kepandaiannya, akan tetapi belum mencoba hatinya. Biarlah ia mainkan ujian berbahaya ini. Setelah berpikir demikian, ia sengaja memperlambat gerakan pedangnya dan ketika golok menyambar lehernya, ia sengaja tidak menangkis, bahkan meramkan kedua matanya menanti maut !

Betapa terkejutnya hati Kam Si Ek, tak usah diceritakan lagi. Pemuda ini berseru kaget dan karena ia sudah tak mungkin menarik pulang goloknya, maka sedapat mungkin ia menyelewengkan bacokannya ke arah leher. Namun, tetap saja goloknya itu membabat ke arah pundak dan “makan” ke dalam daging di pangkal lengan Lu Sian. Darah mengucur, membasahi baju gadis itu. Kam Si Ek berdiri tegak seperti patung, mukanya pucat, matanya terbelalak, lalu ia memandang wajah Lu Sian dengan bingung.

“Kau bunuhlah. Mengapa tidak jadi ? Bukankah engkau hendak membunuhku?” Lu Sian berkata, biarpun pangkal lengannya terasa sakit, namun jantungnya berdebar girang melihat hasil ujiannya yang berbahaya ini. Jelas bahwa pemuda itu tidak membencinya, buktinya tidak tega membunuhnya dan tadi serangan pemuda itu hanya digerakkan oleh kemarahan yang tiba-tiba.

“Kau.. kau mengapa begini aneh..? Mengapa membunuh orang… dengan kejam…?”

“Mengapa aku membunuh mereka berenam tadi ? Hemm, dengarlah. Mereka adalah anak buah pasukan yang telah menawanmu, mereka adalah musuh. Pula, kita sedang dikejar-kejar dua orang kakek iblis, dan mereka ini sudah melihat kita. Kalau tidak dibunuh, apakah mereka tidak akan membocorkan keadaan kita kepada mereka ? Kau seorang jenderal, dengan pasukanmu sudah biasa kau membunuh laksaan orang musuh tanpa berkedip, membunuh laksaan orang yang tidak kau ketahui apa kesalahan mereka dan apa kejahatan mereka. Sekarang aku membunuh enam orang yang terang-terangan adalah orang jahat dan yang akan mendatangkan bahaya bagi kita, mengapa kau marah-marah ? Kau mengucapkan fitnah busuk, mengira aku akan membujukmu untuk mengabdi kepada Nan-cao ! Alangkah tipis kepercayaanmu, tanda bahwa cintamu palsu belaka, hanya di bibir. Aku… aku… ahhhh    !” Tubuh Lu Sian terhuyung-huyung lalu ia roboh terguling.

Kam Si Ek kaget sekali, cepat ia melompat maju dan memeluk tubuh gadis itu, dan melihat betapa wajah gadis itu pucat, matanya meram, mulutnya terkancing rapat, ia makin gugup.

“Moi-moi…. Moi-moi…, kaumaafkan aku… ah, aku bodoh sekali ! Lu Sian… ! Moi-moi…!” Kam Si Ek lalu memondong tubuh gadis itu, menyambar pedang dan golok, lalu berlari ke belakang rumah dan meloncat ke atas dek perahu besar. Hanya di perahu itulah tempat kering, maka ia lalu meletakkan tubuh Lu Sian ke atas sebuah opembaringan yang berada di bilik perahu.

“Ah, benar-benar aku lancang tangan… Moi-moi, kau ampunkan aku…!” Kam Si Ek merobek baju di pundak Lu Sian dan memeriksa. Luka itu cukup dalam dan mengeluarkan banyak sekali darah. Dengan hati penuh kegelisahan pemuda itu lalu merobek ikat pinggangnya dan membalut pundak dengan erat sekali untuk mencegah mengalirnya darah terlalu banyak. Kemudian, melihat wajah gadis itu masih pucat dan matanya masih meram, napasnya tersengal-sengal seperti orang sekarat, ia lari kesana kemari, mengambil panci dari belakang perahu, membuat api dan memanaskan air. Tidak ada yang lebih baik

daripada air matang untuk mencuci luka, pikirnya. Di musim banjir seperti itu, air sungai amat kotor dan amat tidak baik untuk mencuci luka sebelum dimasak mendidih.

Ia sama sekali tidak tahu betapa napas gadis yang tadinya terengah-engah itu menjadi biasa kembali, mata yang tadinya meram itu, terbuka satu dan bergerak mengikuti gerak-geriknya dengan mulut menahan senyum geli ! Kalau ia mendekat, mata itu tertutup lagi dan napas itu tersengal-sengal lagi ! Setelah air matang Kam Si Ek lalu membuka balutan pada pundak Lu Sian, mencuci luka sampai bersih lalu membalut lagi. Kemudian, melihat di perahu itu banyak perlengkapan bahan makan ia lalu membuat bubur dan membakar daging asin.

Bukan main gelisah hati Kam Si Ek melihat gadis itu biarpun sudah siuman, namun belum sadar, masih bergerak-gerak gelisah di atas pembaringan, matanya tetap ditutup dan sekarang malah mulutnya mengigau seperti orang terserang demam ! Dapat dibayangkan betapa terharu hatinya ketika dalam igauannya, sambil meramkan mata gadis itu selalu menyebut-nyebut namanya !

“Ayah, aku tidak mau menikah dengan Kwee Seng ! Tidak mau dengan raja muda di timur, pangeran di barat atau putera mahkota di utara ! Aku hanya mau menikah dengan Kam Si Ek, biar dia jenderal tolol, biar dia laki-laki canggung, aku sudah cinta kepadanya, Ayah!”

Kam Si Ek duduk bengong di pinggir pembaringan. Bermacam perasaan teraduk dalam hatinya. Girang dan bahagia karena dalam igauannya ini Liu Lu Sian jelas membuka isi hatinya yang amat mencintainya. Bingung karena gadis itu makin malam makin hebat mengigau dan gelisah. Duka dan khawatir karena ia telah melukai gadis itu, melukai tubuh dan hatinya.

Lu Sian mengigau terus. Dalam igauannya itu malah ia menyebut-nyebut bahwa ia bersama Kam Si Ek akan pergi menemui Gubernur Li Ko Yung di Shan-si, untuk minta bantuan gubernur ini menjadi perantara meminangnya kepada ayahnya di Nan-cao. Mendengar igauan ini, sadarlah Kam Si Ek bahwa itulah jalan terbaik. Ia memang tadinya menerima undangan atau panggilan Gubernur Li dan di tengah jalan ia dijebak dan dikhianati komplotan para perwira yang memberontak dan pasukan-pasukan kerajaan Liang. Hal itu perlu ia laporkan kepada Gubernur Li. Disamping itu untuk mengajukan lamaran kepada ayah Liu Lu Sian yang selain menjadi Ketua Beng-kauw, juga menjadi koksu (guru negara) di Nan-cao, siapa lagi yang lebih tepat selain dengan perantaraan Gubernur Li?”

Ia memeluk Lu Sian dan mencium pipinya dengan mesra. “Moi-moi, tenangkanlah hatimu, kauampunkan kokomu yang tolol ini. Aku cinta kepadamu, Moi-moi, dan demi Tuhan, aku akan meminangmu dari tangan ayahmu.” Ia lalu sibuk melepaskan perahu daripada ikatan, mendayung ke tengah lalu memasang layar. Biarpun bukan ahli, Kam Si Ek tidak asing dengan pelayaran, maka biarpun hari telah berganti malam, ia berani melayarkan perahunya di bawah sinar bulan.

Lu Sian membuka matanya dan tersenyum-senyum girang. Melihat Kam Si Ek sibuk mengemudikan perahu, ia lalu mengeluarkan bungkusannya, mengambil obat luka dan mengobati pundaknya. Kemudian ia mengusap-ngusap pipinya yang masih panas oleh ciuman Kam Si Ek, turun dari pembaringan perlahan-lahan lalu keluar dari dalam bilik.

“Koko (Kanda)…” ia berseru memanggil lirih. Kam Si Ek terkejut dan menoleh. Melihat gadis itu berdiri bersandar pintu bilik, ia terkejut, girang dan juga khawatir.

“Eh, kau sudah bangun, Moi-moi ? Kau beristirahatlah, jangan keluar dulu, nanti kena angin… ! Itu ada bubur di meja, kaumakanlah…!”

“Aku tidak lapar, Koko, dan aku sudah sembuh.” Mana bisa ia merasa lapar kalau hatinya sebahagia itu ? Pula, ketika ia berpura-pura pingsan dan mengigau, bukankah Kam Si Ek dengan amat telaten telah menyuapinya dengan bubur sampai kekenyangan ? “Aku merasa seperti baru bangun dari mimpi. Eh, Koko kau melayarkan perahu ini ke manakah?”

Girang sekali hati Kam Si Ek melihat kekasihnya benar-benar telah sembuh, wajahnya berseri pipinya merah dan matanya bersinar-seinar. “Pundakmu tidak nyeri lagi, Moi-moi?”

Dengan gaya manja Lu Sian menggeleng kepalanya lalu berjalan menghampiri. Dengan satu tangan Kam Si Ek memegang tali layar, tangan ke dua meraih lengan gadis itu dan mereka berpegang tangan, saling pandang penuh kasih.

“Sian-moi, kau tahu bahwa aku dipanggil oleh Gubernur Li akan tetapi oleh pasukan yang berkhianat dan bersekongkol dengan Raja Liang, aku diculik. Hal ini harus kulaporkan kepada Gubernur Li, maka aku sekarang hendak pergi ke Shan-si untuk berunding dengan beliau. Kuharap kau suka ikut denganku ke sana, selain berunding urusan pengkhianatan itu, akupun perlu minta bantuannya.” Sampai di sini pemuda itu berhenti bicara dan mukanya menjadi merah.

“Bantuan apa, Koko?” Lu Sian bertanya, pura-pura tidak tahu akan tetapi diam-diam girang sekali karena agaknya akalnya “mengigau” itu berhasil baik.

bantuannya untuk menjadi orang perantara, mengajukan pinangan atas dirimu dari tangan ayahmu, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan di Nan-cao.”

Girang sekali hati Lu Sian. “Koko, kemanapun juga kau pergi, aku suka ikut!”

Tidak ada kegembiraan yang lebih besar bagi muda-mudi daripada kegembiraan dua buah hati yang saling bertemu. Berhari-hari mereka menjalankan perahu sambil bersenda gurau, menceritakan keadaan masing-masing, menangkap ikan dan masak-masak lalu makan bersama. Kam Si Ek makin mendalam cinta dan kagumnya terhadap Lu Sian, mengagumi kecantikan dan kelincahan gadis ini, termasuk wataknya yang kadang-kadang aneh. Di lain pihak, Lu Sian juga kagum akan kekasihnya yang sudah tiada orang tua lagi, tentang keturunan keluarga Kam yang semenjak dahulu terkenal sebagai panglima-panglima perang jagoan. Ketika Lu Sian bercerita tentang pertemuannya dengan kakak seperguruan jenderal itu, yaitu Lai Kui Lan di dalam benteng, Kam Si Ek menyatakan kekuatirannya.

“Suci seakan-akan telah menjadi saudara kandungku. Dia seorang pendiam dan bersungguh-sungguh, banyak membantuku dalam perang. Akan tetapi akhir-akhir ini ia sering kudapati menangis di kamarnya, dan sama sekali tidak mau menceritakan apa sebab-sebabnya. Aku kuatir sekali ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Malah sebelum aku pergi dari benteng, Suci seringkali berkunjung ke Kwan-im-bio di luar benteng, bahkan bermalam di sana. Agaknya ia menjadi kenalan baik dari para nikouw (pendeta wanita) di kuil itu.”

Mendengar ini, Lu Sian dapat menduga dan ia hanya mengeluh di dalam hatinya, tidak mau menceritakan apa yang menjadi dugaannya. Ia menduga bahwa Kui Lan tentu menjadi korban asmara, tentu berduka karena Kwee Seng terjatuh ke dalam jurang dan binasa. Gadis itu mencinta Kwee Seng dan menjadi patah hati. Ia tidak berani bercerita tentang Kwee Seng kepada Kam Si Ek karena cerita ini tentu akan membuka pula rahasia tentang perasaan Kwee Seng kepadanya. Akibat ceritanya ini tentu akan mendatangkan suasana tidak enak diantara mereka, apalagi di situ tersangkut pula diri Lai Kui Lan.

Cinta memang aneh. Biarpun dua orang muda yang amat jauh berbeda sifat dan wataknya, namun kalau sudah dipengaruhi cinta kasih, mereka seperti lupa akan semua perbedaan ini. Seorang yang mabok dicinta, hanya akan melihat yang baik-baik saja dari kekasihnya. Demikian pula dengan Liu Lu Sian dan Kam Si Ek. Kalau saja mereka tidak sedang mabok cinta, tentu mereka akan dapat melihat bahwa mereka mempunyai watak yang jauh berbeda. Kam Si Ek adalah seorang pemuda yang keras hati, jujur, berdisplin memegang aturan, gagah perkasa dan seorang patriot. Sebaliknya, Lu Sian memiliki dasar watak yang aneh, kadang-kadang licik dan menjalankan siasat-siasat yang curang bukanlah aneh baginya. Ia tidak peduli akan segala aturan, bebas merdeka dan liar. Tidak mau kalah oleh siapapun juga, tidak peduli akan orang lain menderita atau tidak, tidak peduli sama sekali tentang negara maupun bangsa. Baginya, siapa yang menentangnya akan ia hantam !

Perbedaan itu secara mencolok akan tampak kalau kita dapat menjenguk isi hati dan pikiran mereka pada saat mereka duduk melamun. Kam Si Ek melamunkan kebahagiaannya kalau sudah menikah dengan Liu Lu Sian, melamun betapa dengan bantuan isterinya yang memiliki kecerdikan dan kepandaian luar biasa itu, ia akan dapat berjuang dan memilih junjungan yang benar-benar tepat pada jaman itu, seorang calon raja yang akan benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Sebaliknya, Lu Sian di samping melamun tentang kesenangannya menjadi isteri pemuda yang dicintanya, juga ia teringat akan kekalahan-kekalahannya yang diderita selama ini. Hatinya panas bukan main kalau ia teringat betapa ia sama sekali tidak berdaya menghadapi orang-orang sakti seperti Kwee Seng, Ban-pi Lo-cia, Bayisan, dan Kong Lo Sengjin. Alangkah masih jauh ia ketinggalan dalam ilmu silat, pikirnya dengan hati tidak puas. Ia bercita-cita untuk memperdalam ilmu silatnya, mencari kitab-kitab pusaka dan wasiat-wasiat ilmu silat agar ia dapat menjadi seorang tokoh sakti yang akan menjagoi dunia persilatan, mengalahkan orang-orang itu. Pertama-tama ia akan minta kepada ayahnya untuk mewariskan ilmu-ilmu baru ciptaan ayahnya, kemudian ia akan menitahkan anak buah suaminya untuk menyelidiki dan mencari orang-orang berilmu !

Untung bagi mereka, di dalam perjalanan mereka tidak bertemu dengan Ban-pi Lo-cia maupun Kong Lo Sengjin dan setelah tiba di wilayah Shan-si, mereka merasa aman, melakukan perjalanan cepat dengan menunggang kuda memasuki ibu kota Shan-si, menghadap Gubernur Li Ko Yung.

Gubernur Li adalah seorang yang cerdik sekali. Dia merupakan seorang diantara pimpinan pemberontakan yang menggulingkan kedudukan kaisar terakhir Dinasti Tang. Akan tetapi ia tidak semaju Gubernur Cu Bun di Ho-nan yang akhirnya berhasil menggulingkan Kerajaan Tang dan mengangkat diri sendiri menjadi kaisar pertama Kerajaan Liang.

Terhadap Jenderal Kam Si Ek, Gubernur Li berlaku amat hati-hati. Ia maklum bahwa jenderal muda ini amat setia terhadap negara dan bangsa, dan bahwa jatuhnya Kerajaan Tang tidak mempengaruhi hati Kam-goanswe. Oleh karena itulah maka dengan cerdik ia hendak mempergunakan tenaga dan pikiran jenderal muda itu secara halus. Ia menyambut kedatangan Kam Si Ek dengan ramah tamah dan penuh penghormatan, juga terhadap Liu Lu Sian yang diperkenalkan sebagai puteri Beng-kauwcu, ia menyambut dengan ramah. Ketika secara singkat Kam Si Ek menceritakan bahwa perwira she Phang yang diutus memanggilnya ke benteng itu telah bersekongkol dengan pasukan Kerajaan Liang untuk menawannya, Gubernur Li menjadi marah sekali.

“Keparat itu berani melakukan kejahatan seperti itu?” Gubernur Li menggebrak meja, memanggil seorang panglima dan memerintahnya segera berangkat membawa pasukan dan surat perintahnya untuk menangkap Phang-ciangkun dan menjatuhi hukuman mati ! Setelah itu ia menjamu kedua orang tamu agung ini dengan arak dan hidangan lezat, berkali-kali ia memberi selamat atas pembebasan Kam-goanswe daripada bahaya. Kemudian, setelah mereka kenyang makan minum dan mengusir para pelayan, Gubernur Li Ko Yung berkata.

“Goanswe, saya ingin sekali bicara empat mata denganmu, untuk merundingkan urusan negara dalam keadaan kacau-balau seperti sekarang ini.” Berkata demikian, ia melirik ke arah Liu Lu Sian. Gadis ini tentu saja maklum bahwa dia merupakan “orang luar” apalagi dia adalah puteri Guru Negara Nan-cao, maka tentu saja ia tidak berhak mendengar. Namun dasar ia berwatak nakal dan kukwai (aneh), ia

pura-pura tidak tahu dan enak-enak duduk minum arak wangi ! Kam Si Ek merasa tidak enak sekali. Mengusir Liu Lu Sian pergi, tentu saja tidak enak baginya, mendiamkannya saja kekasihnya berada di situ, juga tidak enak terhadap Gubernur Li. Maka dengan memberanikan hati ia lalu berkata sambil bangkit berdiri dan menjura kepada gubernur itu.

“Li-taijin, harap maafkan. Sebelum kita meningkat kepada percakapan urusan negara yang penting, baiklah lebih dulu saya menyatakan terus terang bahwa Nona Liu ini bukanlah orang luar. Dia adalah… adalah… calon isteri saya, yaitu… eh…, kalau saja Taijin sudi melepas budi kebaikan kepada kami berdua untuk menjadi orang perantara dan mengajukan pinangan kepada Beng-kauwcu di Nan-cao.” Setelah berkata demikian, dengan muka merah ia duduk kembali. Liu Lu Sian tersenyum di dalam hati, akan tetapi ia diam saja pura-pura tunduk karena malu.

Sejenak gubernur ini tercengang, kemudian ia tertawa bergelak-gelak saking girangnya. Tidak ada kesempatan sebaik ini ! Cocok benar dengan cita-cita hatinya. Mengikat hubungan baik dengan Nan-cao ! Melepas budi kepada Jenderal Kam ! Maka ada kesempatan yang lebih bagus daripada ini demi terlaksananya cita-citanya ?

“Ha-ha-ha ! Bagus…, bagus sekali ! Kionghi, kionghi (selamat,selamat)! Memang sudah tiba waktunya Kam-goanswe memilih teman hidup dan Nona Liu yang cantik jelita puteri Beng-kauwcu benar-benar merupakan pasangan yang amat cocok dengan Kam-goanswe. Sekali lagi kionghi dan tentu saja dengan segala senang hati saya suka menjadi perantara!”

Gubernur Li mengangkat cawan memberi selamat dan dua orang muda itu cepat menghaturkan terima kasih. Setelah itu, Gubernur Li Ko Yung berkata dengan suara bersungguh-sungguh.

“Ji-wi (kalian) tentu maklum bahwa bekas Gubernur Cu Bun yang sekarang mengangkat diri sendiri menjadi Raja Dinasti Liang adalah seorang pengkhianat, maka tidak mengherankan pula ia berusaha menculik Kam-goanswe. Memang dahulu kami bekerja sama dalam usaha menggulingkan Raja Tang yang pada waktu itu merupakan raja lalim. Akan tetapi sama sekali bukan menjadi rencana kami untuk mengangkar diri sendiri menjadi raja, melainkan hanya bermaksud menggulingkan raja lalim dan mencari pengganti yang tepat. Siapa kira Cu Bun berkhianat dan mendirikan dinasti baru yang sekarang ini. Maka tidak mengherankan apabila mereka yang tadinya membantu dalam perjuangan, kini memisahkan diri dan terbentuklah kerajaan-kerajaan kecil. Sekarang, bagaimana dengan daerah kita yang meliputi Propinsi Shan-si ? Tentu saja kita tidak akan tunduk kepada Kerajaan Liang atau kerajaan kecil yang manapun juga. Bagaimana pendapat Kam-goanswe?”

Kam Si Ek mengangguk-angguk, lalu berkata, “Saya setuju dengan pendapat Taijin. Demi kesetiaan leluhur kita yang berjuang untuk negara dan rakyat, saya sendiri tidak akan mudah memilih junjungan, karena sekali kita salah pilih mengabdi kepada raja lalim berarti kita pun membantu kelalimannya.”

“Betul sekali ucapan Kam-goanswe ! Kita berjuang di bidang yang lain, saya di bidang sipil, Goanswe di bidang muliter, namun pendapat dan tujuan kita cocok ! Kita boleh menanti dan memilih secara hati-hati, sementara itu, sebelum muncul seorang pemimpin yang betul-betul cocok, kita tidak bisa membiarkan daerah Shan-si yang menjadi tanggung jawab kita ini dicaplok oleh raja kecil palsu yang manapun juga. Bukankah begitu, Kam-goanswe?”

“Betul sekali, Taijin. Saya akan menyerahkan jiwa raga untuk mempertahankan dan membela Shan-si!”

“Bagus ! Nah, ketahuilah, Goanswe. Di antara para raja kecil yang secara lancang mengangkat diri sendiri, kini terjadi perebutan wilayah dan kekuasaan. Bukan hanya dari Kerajaan Liang saja datangnya ancaman terhadap wilayah kita, melainkan dari Se-cuan, dari timur Kerajaan Wu Yue, belum lagi ancaman yang amat membahayakan dari Bangsa Khitan. Untuk mempertahankan wilayah kita, perlu kita membentuk pemerintahan sementara dan kerja sama yang erat antara kita semua yang bertugas di Shan-si. Oleh karena itu, setelah nanti saya menjadi orang perantara dan telah dilangsungkan pernikahan antara Ji-wi berdua, saya minta agar Kam-goanswe sudi memegang tugas panglima di sini dan mengatur semua barisan yang perlu diperkuat untuk mejaga wilayah kita dari ancaman di segala jurusan.”

Pandai sekali Gubernur Li mengatur rencana dengan halus sehingga Kam Si Ek yang berwatak jujur itu percaya seratus prosen. Sama sekali Gubernur Li Ko Yung tidak membayangkan niat untuk mencari kekuasaan sendiri, maka serta merta Kam Si Ek menyatakan kesanggupannya untuk bekerja sama.

Adapun Lu Sian yang lebih cerdik dan sudah biasa menghadapi kelicikan dan siasat busuk orang, sedikit banyak menaruh curiga, akan tetapi ia tidak mau peduli akan cita-cita gubernur itu. Hasratnya hanya satu yaitu menjadi isteri Kam Si Ek yang dicintainya, dan kalau gubernur itu dapat menjadi perantara sehingga hasrat hatinya terkabul, ia merasa cukup puas. Baginya sama saja apakah Gubernur Li itu seorang patriot tulen ataukah seorang pengkhianat. Juga ia tidak peduli Kam Si Ek akan membantu siapa, asal jenderal muda yang perkasa ini menjadi suaminya.

Ketika utusan Gubernur Li yang merupakan sepasukan berkuda membawa seorang wakil dan surat pribadi mengajukan pinangan, berikut pula berpeti-peti barang berharga, tiba di Nan-cao menghadap kepada Beng-kauwcu pat-jiu Sin-ong Liu Gan, Ketua Beng-kauw ini membaca surat dan menarik napas panjang. Betapapun juga, ia kurang cocok dengan pilihan puterinya ini, dan ia akan lebih senang kalau

puterinya mendapat jodoh seorang tokoh kang-ouw seperti Kwee Seng. Puterinya terdidik sebagai seorang ahli silat, sebagai seorang yang biasa terbang bebas seperti burung di udara, sekarang puterinya memilih Kam Si Ek, seorang jenderal yang terkenal sebagai ahli perang yang berdisiplin, bagaimana dapat cocok watak mereka ? Akan tetapi karena surat itu dilampiri surat puterinya, dan ia mengenal baik watak puterinya yang mewarisi wataknya sendiri, yaitu tidak mau mundur sejengkal pun untuk melaksanakan keinginan hatinya, pula mengingat bahwa Kam Si Ek adalah seorang pemuda perkasa yang dijadikan rebutan oleh kaum wanita, keturunan panglima-panglima perkasa pula, terpaksa ia mengalah.

Apalagi kalau Ketua Beng-kauw ini sebagai seorang kok-su (guru negara) mengingat akan suasana dan kedudukan Kam-goanswe sebagai panglima di Shan-si, yang tentu saja merupakan kekuasaan yang amat baik untuk dijadikan sekutu, maka ia segera menulis surat balasan menerima pinangan itu dan menetapkan hari pernikahan puterinya di Nan-cao.

Semenjak kerajaan besar Tang yang memerintah selama hampir tiga abad (618-907) roboh oleh Gubernur Cu Bun yang kemudian mengangkat diri sendiri menjadi raja dari Kerajaan Liang Muda, muncul raja-raja kecil di seluruh negara yang jumlahnya sukar dihitung. Di samping perebutan kekuasaan di antara raja-raja kecil ini, banyak pula keluarga Kaisar Tang yang berhasil menyelamatkan diri, dibantu oleh para bekas panglima dan bangsawan, berusaha untuk merebut kembali tahta Kerajaan Tang yang sudah roboh itu.

Seorang pangeran Tang secara diam-diam menghimpun kekuatan dan berhasil menarik tenaga-tenaga ahli, diantaranya bahkan telah mendapat bantuan dari bekas Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong yang sekarang sudah menjadi seorang kakek lumpuh yang sakti dan berjuluk Kong Lo Sengjin, dapat pula menarik bantuan Gubernur Li Ko Yung yang dibantu oleh Jenderal Muda Kam Si Ek, dan masih banyak pula orang-orang gagah yang menganggap bahwa memang Pangeran Tang itu tepat untuk mendirikan kembali Kerajaan Tang setelah berhasil merampas tahta kerajaan dari Pemerintah Liang Muda.

Setelah mengalami perang hebat, yang merupakan perang saudara, maka berhasillah Pangeran Tang itu merobohkan Kerajaan Liang Muda, menghajar habis bala tentaranya dan merampas kota raja Lok-yang. Hal ini terjadi pada tahun 923 sehingga kerajaan Liang Muda itu hanya tercatat dalam sejarah sebagai kerajaan pertama dari jaman Lima Dinasti, berumur hanya tujuh belas tahun saja (907-923).

Kini pemerintahan dikuasai lagi oleh keluarga Kerajaan Tang, dimulai pada tahun 923 itu dan diberi nama Kerajaan Tang Muda. Akan tetapi ternyata tidaklah seperti Kerajaan Tang yang telah roboh, Kerajaan Tang Muda ini, karena masih terus-menerus timbul rebutan kekuasaan diantara “orang dalam”, juga ancaman serangan dari raja-raja kecil masih terus mengepung Kerajaan Tang Muda.

kota raja untuk dijadikan menteri, melainkan oleh Raja Tang Muda ditetapkan menjadi Gubernur di Shan-si seperti biasa dan hanya diberi pengampunan atas dosa-dosanya karena dahulu pernah ikut memberontak kepada raja terakhir Dinasti Tang ! Gubernur ini tidak berani membantah secara berterang, namun di dalam hatinya timbul dendam terhadap Kerajaan Tang Muda. Adapun Kam Si Ek yang tenaganya amat dihargai dan terutama sekali masih amat dibutuhkan oleh kerajaan baru ini, Jenderal Kam Si Ek tetap tinggal di Shan-si.

Waktu berjalan dengan amat cepatnya dan sementara terjadi pergantian kekuasaan itu, pernikahan antara Kam Si Ek dan Liu Lu Sian sudah berjalan tujuh tahun dan mereka mempunyai seorang putera berusia enam tahun. Anak ini bernama Kam Bu Song, seorang anak yang sinar matanya tajam membayangkan kecerdasan, wajahnya toapan (lebar dan terang), dan mempunyai tulang dan otot yang kuat, menjadi bahan baik untuk menjadi ilmu silat. Akan tetapi, Kam Si Ek lebih suka menggembleng puteranya itu dengan ilmu surat lebih dulu, maka sejak berusia lima tahun, Kam Bu Song sudah pandai membaca ribuan huruf.

Suami isteri ini pada tahun-tahun pertama hidup penuh kebahagiaan, berenang dalam madu cinta kasih. Akan tetapi, seperti yang telah dikhawatirkan oleh Pat-jiu Sin-ong, perbedaan watak mereka mulai terasa setelah lewat beberapa tahun. Dalam soal pendidikan terhadap Bu Song saja, mereka sudah berbeda pendapat dan hal ini sudah menjadi bahan percekcokan. Liu Lu Sian menghendaki puteranya menjadi ahli silat yang kelak akan menjagoi kolong langit, sebaliknya Kam Si Ek berpendapat lain, tidak menyukai puteranya menjadi seorang petualang dunia kang-ouw. Soal-soal lain yang jelas memperlihatkan perbedaan paham dan kesenangan segera susul-menyusul memperlihatkan diri. Kalau tadinya perbedaan-perbedaan itu masih terselimut cinta kasih mereka yang mesra, lambat laun perbedaan ini terlihat mencolok dan mulai mengganggu perasaan. Lu sian beberapa kali menyatakan keinginannya merantau, malah mengajak suaminya meninggalkan tugas untuk setahun dua tahun agar mereka dapat mengajak putera mereka merantau dan menambah pengalaman di dunia kang-ouw. Tentu saja Kam Si Ek menolak ajakan ini.

Lu Sian menyatakan bahwa ia ingin sekali memperdalam ilmu kepandaiannya agar kelak dapat diturunkan kepada puteranya atau setidaknya, kelak takkan dapat terhina lagi oleh orang-orang sakti seperti pernah mereka derita ketika mereka bentrok melawan orang-orang sakti, akan tetapi Kam Si Ek menjawab bahwa bukanlah ilmu silat yang dapat melindungi kita, melainkan watak yang baik !

Demikianlah, percekcokan-percekcokan kecil timbul, disusul dengan percekcokan-percekcokan besar, Kam Si Ek yang berwatak keras dan jujur tidak mau mengalah, dan akhirnya tak dapat dicegah lagi rumah tangga yang tadinya penuh kebahagiaan itu menjadi berantakan ! Pada suatu pagi yang cerah, kegelapan meliputi rumah Panglima Kam Si Ek, karena isterinya tidak berada di dalam kamarnya. Liu Lu Sian berjiwa petualang ! Hanya sehelai kertas ditinggalkan berikut beberapa huruf tulisannya.

Kita berpisah untuk selamanya. Kau boleh menikah lagi dengan seorang yang kau anggap cocok dengan keadaanmu. Aku titip Bu Song, kelak kalau aku sudah berhasil, akan kujemput dia.

Liu Lu Sian

Kam Si Ek menjadi pucat mukanya ketika ia menjatuhkan diri di atas kursi dalam kamar mandi memegang surat itu dengan tangan gemetar. Ia tahu bahwa ia telah salah pilih dalam perjodohan, bahwa watak isterinya itu sama sekali berbeda dengan wataknya, berbeda watak berbeda paham, namun sebagai seorang laki-laki ia menerima penderitaan daripada kesalahan ini dengan hati tabah. Betapapun juga, ia mencinta isterinya itu dan sekarang, melihat kenyataan pahit bahwa isterinya meninggalkannya, hatinya menjadi kosong dan perasaannya perih. Terbayang percekcokan mereka malam tadi ketika Lu Sian untuk kesekian kalinya membujuknya untuk meletakkan jabatan dan meletakkan jabatan dan melakukan perantauan.

“Si Ek !” demikian isterinya berkata marah, isterinya itu sejak menikah menyebut namanya begitu saja. “Kau sendiri bilang bahwa Kerajaan Tang Muda ini tidaklah sama dengan Kerajaan Tang yang telah roboh, bahwa kerajaan ini menjadi sarang koruptor dan medan perebutan kekuasaan. Apalagi rajanya mengandalkan bimbingan seorang kejam dan jahat seperti Kong Lo Sengjin, mengapa kau masih mau diperkuda oleh pemerintah macam itu?”

“Lu Sian, isteriku, jangan kau salah mengerti. Aku sama sekali bukan menghambakan diriku kepada orang-orang tertentu, melainkan kepada negara dan bangsaku. Itulah sebabnya mengapa aku bisa mengatakan bahwa Kerajaan Tang Muda ini tetap bukan pemerintahan yang baik, dan sesungguhnya aku sama sekali tidak ikut-ikut dengan kelaliman mereka, aku bertugas menjaga keamanan di perbatasan barat untuk menghalau musuh dari luar yang hendak mengganggu wilayah kita, bertugas mengamankan keadaan daerah ini dari gangguan orang-orang jahat.”

“Apa bedanya?” Lu Sian panas dan mukanya merah menambah kecantikannya, “Kaukurung dirimu dengan tugas, dan kaukurung diriku pula dengan kekukuhanmu, Si Ek, kenapa kau tidak mau menerima permintaanku ? Ah, kiranya cintamu terhadapku sudah mulai luntur!” Lu Sian bersungut-sungut, akan tetapi tidak seperti kebiasaan kaum wanita kalau bertengkar, dia tidak menangis.

“Lu Sian, mengapa kau selalu berpemandangan sempit terhadap hubungan suami isteri ? Ketahuilah, isteriku. Cinta kasih antar suami isteri haruslah lebih masak, tidak seperti cinta kasih muda-mudi yang belum terikat oleh pernikahan. Cinta muda-mudi masih mentah, hanya terdorong rasa saling suka dan mabuk oleh daya tarik masing-masing. Akan tetapi, cinta kasih suami istri lebih mendalam, lebih matang dan libat-melibat dengan kewajiban, saling berkorban dan mengurangi pementingan diri sendiri. Sekarang

ini, aku menjalankan kewajibanku sebagai suami dan ayah, juga sebagai seorang patriot, kau tingal di sisiku melaksanakan kewajiban sebagai isteri dan ibu, apalagi kekurangannya ? Kalau kau ajak aku dan anak kita pergi merantau, bukankah itu berarti kita sama-sama melarikan diri dari pada kewajiban ? Bagaimana pula dengan pendidikan Bu Song ? Kau tahu sendiri, anak kita itu maju sekali dalam ilmu surat.”

Lu Sian menggebrak meja dengan tangannya sehingga ujung meja tebal itu menjadi somplak ! “Cukup ! Bosan aku mendengar kuliahmu ! Kalau aku tahu bahwa cintamu terhadapku hanya unutk membuat aku hanya untuk membuat aku terikat kewajiban-kewajiban, tak sudi aku !” Sambil berkata demikian Lu Sian lari memasuki kamar dan membanting pintu keras-keras.

Kam Si Ek berdiri tercengang dan terpaku memandang meja, berulang kali menarik napas panjang, kemudian ia pun memasuki kamar lain karena tidak mau membuat isterinya makin marah. Ia tahu bahwa kalau sedang marah begitu, isterinya sama sekali tidak suka didekatinya. Di dalam kamar, Kam Si Ek duduk termenung sampai akhirnya ia tertidur dengan duduk, mukanya disembunyikan di atas kedua lengan. Dan pada pagi harinya, baru ia tahu bahwa isterinya telah pergi meninggalkannya, meninggalkan putera mereka, dan ia yang sudah mengenal baik watak isterinya, tahu pula bahwa percuma saja kalau ia mengejar, percuma pula kalau ia menanti. Isterinya tidak akan mau kembali, karena watak isterinya itu, sekali mengeluarkan kata-kata, akan dipegangnya sampai mati!

Baru tujuh tahun mereka menikah. Ia baru berusia dua puluh sembilan tahun. Lu Sian baru berusia dua puluh lima ! Mereka berdua masih muda dan harus sudah berpisah. Kam Si Ek merasa betapa berat derita hidup yang dialaminya. Apalagi kalau Bu Song, puteranya yang baru berusia enam tahun itu bertanya tentang ibunya, serasa dicabik-cabik hatinya. Puteranya itu cerdik sekali dan agaknya puteranya yang berusia enam tahun itu sudah dapat menduga apa yang terjadi antara ayah dan bundanya.

“Apakah ibu nakal dan ayah mengusirnya ? Apakah kesalahan ibu?” berkali-kali Bu Song bertanya, dan selalu Kam Si Ek menjawab bahwa ibunya sedang pergi ke selatan, menengok kakeknya yang sedang menjadi ketua Beng-kauw di Nan-cao. Bu Song tidak menangis, hanya menyatakan heran dan tidak percaya mengapa ibunya pergi begitu saja tanpa pamit kepadanya, pergi tidak mengajak ayahnya ataupun dia. Ketika anak itu mendesak-desaknya, Kam Si Ek yang sedang pusing dan duka itu, membentaknya dengan keras dan sejak itu Bu Song tidak mau bertanya lagi tentang ibunya, akan tetapi diam-diam anak ini hatinya penuh pertanyaan dan menduga-duga siapa yang bersalah antara ayah dan ibunya. Ia sudah terlalu sering mendengar ayah dan ibunya bercekcok, ia tahu bahwa mereka bertengkar akan tetapi tidak tahu apa urusannya dan tidak tahu pula siapakah sebetulnya yang salah diantara mereka.

Hidup seakan-akan hukuman bagi Kam Si Ek semenjak isterinya pergi meninggalkannya. Setelah Lu Sian pergi, barulah ia merasa betapa sunyi rasanya dan betapa tiada kegembiraan sama sekali dalam hidupnya. Kalau keadaan Kerajaan Tang Muda tidak seburuk itu, agaknya ia akan mendapat hiburan dengan pekerjaannya. Akan tetapi keadaan Kerajaan Tang Muda ini benar-benar seperti yang

digambarkan Lu Sian dalam pertengkaran mereka. Memang betul bahwa Kerajaan Liang yang meerobohkan Dinasti Tang itu dapat dihancurkan dan dapat pula didirikan Kerajaan Tang Muda dengan pimpinan para keturunan keluarga Raja Tang, namun keadaannya sudah amat buruk dan rusak. Pimpinan muda itu hanya sekelompok orang-orang yang mengumbar nafsu, orang-orang yang mengejar kesenangan belaka, mengejar kedudukan dan kemuliaan. Orang-orang yang tadinya menjadi pejuang gagah berani, setelah memperoleh kedudukan dan kemuliaan, menjadi lupa sama sekali akan tujuan perjuangan mereka. Setiap orang pejuang tadinya bercita-cita menghalau penindas, menghalau kelaliman demi kesejahteraan rakyat jelata, demi nusa dan bangsa. Akan tetapi, begitu para pejuang ini merasai kenikmatan daripada kedudukan dan kemuliaan, maboklah mereka dan lupalah mereka akan cita-cita luhur itu. Masa bodoh rakyat yang melarat tertindas. Masa bodoh orang lain. Aku yang berjuang mati-matian. Aku yang bertaruh nyawa. Aku pula yang harus senang. Mengapa memikirkan orang lain ? Begitulah kira-kira bantahan dan sanggahan mereka apabila sewaktu-waktu suara hati pejuang menuntut mereka di dalam hati sanubari.

Namun, tiada yang kekal di dunia ini. Kesenangan tidak. Kedudukan pun tidak. Semua pasti berakhir, kesenangan dan kesusahan silih berganti mengisi hidup. Semua serba berputar. Selama manusia mengenal suka, tentu ia akan bertemu dengan duka. Siapa yang mengabdi kepada duka, pasti sekali waktu akan diperbudak suka. Inilah hukum timbal balik yang tak terbantahkan lagi. Im Yang ! Titik kedua ujung poros yang memutar segala sesuatu di alam mayapada ini.

Tiga tahun semenjak Lu Sian meninggalkan Kam Si Ek tanpa pernah ada berita, maka Kam Si Ek mengalami pernikahannya yang kedua. Gadis pilihannya kali ini adalah puteri seorang siucai (gelar sastrawan), bernama Ciu Bwee Hwa. Tidak secantik Liu Lu Sian tentu saja karena puteri Beng-kauwcu itu memang memiliki kecantikan yang sukar dicari keduanya, akan tetapi Ciu Bwee Hwa terdidik sebagai seorang wanita yang halus perangainya, bersusila dan berkebudayaan tinggi. Yang mendesak Kam Si Ek adalah sucinya sendiri, yaitu Lai Kui Lan yang sekarang telah menjadi nikouw (pendeta wanita) di Kelenteng Kwan-im-bio, dan berjuluk Kui Lan Nikouw. Seperti telah diceritakan di bagian depan, Lai Kui Lan ini pun menjadi korban asmara. Ia jatuh hati kepada Kwee Seng, kemudian patah hati melihat Kwee Seng terjungkal di dalam jurang yang pasti akan membawa maut bagi pendekar itu. Inilah sebabnya mengapa Lai Kui Lan kini menjadi seorang nikouw, setelah ia tertarik oleh ajaran dan ceramah para pendeta wanita yang sering dikunjunginya.

Kui Lan Nikouw yang menyaksikan kehancuran rumah tangga sutenya, menjadi ikut berduka. Maka dari itu, dialah yang mendesak kepada Kam Si Ek untuk menikah lagi, karena hal ini selain perlu bagi Kam Si Ek sendiri, juga amat perlu bagi Bu Song. Anak itu tentu saja memerlukan kasih sayang seorang ibu, dan karena ibunya sendiri sudah pergi meninggalkannya, sebaiknya dicarikan pengganti seorang ibu yang baik budi. Dan pilihan mereka jatuh kepada Ciu Bwee Hwa, puteri tunggal sastrawan Ciu Kwan yang hidup menduda di dusun Ting-chun dikaki Gunung Cin-ling-san di lembah sungai Han.

Upacara pernikahan antara Kam Si Ek dengan Ciu Bwee Hwa, dilangsungkan secara sederhana sekali. Namun karena Kam Si Ek adalah seorang jenderal muda yang terkenal dan disegani, maka tetap saja menjadi meriah dengan datangnya para pembesar dan orang-orang ternama. Akan tetapi, setelah perayaan pesta pernikahan itu selesai, muncullah peristiwa-peristiwa yang membuat hati Kam Si Ek lebih menderita lagi.

Tepat pada malam pernikahannya, ketika para tamu sudah pulang, di waktu malam sunyi dan kedua mempelai sudah memasuki kamar pengantin, tiba-tiba jendela kamar itu diketuk orang dari luar dan ada suara membentak, “Kam Si Ek, kalau kau benar laki-laki, keluarlah!”

Mendengar suara ini, Ciu Bwee Hwa menjadi pucat dan mempelai wanita ini memegang lengan suaminya sambil berkata, suaranya gemetar, “Harap jangan layani orang itu…!”

Tentu saja Kam Si Ek menjadi curiga. Sebagai seorang laki-laki yang gagah perkasa, mana mungkin ia tidak melayani orang yang menantangnya seperti itu ? Ia memandang tajam wajah isterinya, lalu bertanya, “Mengapa ? Siapa dia?” Dalam suaranya jelas terkandung kecurigaan dan penasaran.

Tiba-tiba Ciu Bwee menangis sedih. Lalu terisak-isak berkata, “Dia… dia… itu Giam Sui Lok, orang sekampung denganku. Dia… seorang jago silat muda di kampung kami… dan dia pernah melamarku akan tetapi … ditolak oleh ayah. Biarpun dia seorang pendekar yang terkenal baik, namun ayah tidak suka… karena dia buta huruf. Ah, dia telah bersumpah hendak menjadi suamiku, harap kau suka menaruh kasihan… dan jangan melayaninya…”

Kam Si Ek mengerutkan keningnya. Mana ada aturan begini ? biarpun disebut pendekar oleh isterinya, jelas bahwa pemuda itu seorang yang tidak tahu aturan. Setelah ditolak lamarannya, bagaimana berani bersumpah hendak memusuhi siapapun yang menjadi suami Bee Hwa ? Dan kalau dia tidak mau melayaninya, bukankah ia akan disangka pengecut dan penakut ?

Kau bilanglah terus terang, apakah sebabnya kau melarangku melayaninya ? Apakah kau suka kepadanya?”

Bwee Hwa masih menangis ketika ia menjatuhkan dirinya berlutut di depan suaminya. “Bagaima kau bisa bilang begitu ? Ahh…, bukankah aku sudah menjadi isterimu ? Jiwa ragaku kuserahkan kepadamu, bagaimana pikiranku dapat mengingat laki-laki lain ? Suamiku, aku memohon kau tidak melayaninya, karena aku tidak ingin kalian bertempur, kemudian seorang diantara kalian terluka atau terbunuh. Kau suamiku, tentu saja aku berpihak kepadamu… akan tetapi, dia terkenal sebagai seorang yang gagah dan baik di kampung kami, dia bukan orang jahat…”

Kembali daun jendela diketuk dari luar. “Kam Si Ek, aku Gam Sui Lok dari Cin-ling-san ! Ada urusan diantara kita berdua yang harus diselesaikan sekarang juga. Apakah kau benar-benar tidak berani keluar?”

“Hemm, kautunggulah!” Kam Si Ek lalu melepaskan isterinya, menyambar senjatanya dan membuka daun jendela, terus melompat keluar.

Di pekarangan belakang rumah, tempat yang sunyi, di bawah sinar bulan purnama, ia melihat seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam. Sinar mata orang itu muram, akan tetapi wajahnya membayangkan kegagahan dan kejujuran. Biarpun merasa tak senang melihat orang ini begitu tidak tahu aturan, namun sedikitnya Kam Si Ek kagum akan keberanian dan kejujurannya.

“Orang she Giam, baru saja isteriku bercerita tentang dirimu. Kau seorang laki-laki, bagaimana begini tak tahu aturan dan tak tahu malu ? Dia sudah menjadi isteri orang, mengapa kau masih saja mengejar-ngejar ? Apakah di dunia ini hanya ada dia seorang wanita ? Perbuatanmu datang malam ini, benar-benar merupakan penghinaan bagiku, akan tetapi mengingat bahwa kau bertindak karena kebodohanmu, aku mau maafkan dan harap kau segera pergi dari sini, jangan memperlihatkan diri lagi. Perkara ini habis sampai disini saja.”

Giam Sui Lok mengertak gigi dan berkata, suaranya lantang penuh kegeraman hati, “Kam Si Ek, enak saja kau bicara ! Semenjak kecil aku mengenal Bee Hwa, belasan tahun aku melihatnya, aku mimpikan dia, dan ayahnya menolak lamaranku karena aku seorang miskin dan bodoh ! Karena itu aku sudah tak dapat hidup lagi kalau tidak dapat berjodoh dengan Ciu Bwee Hwa. Aku sudah bersumpah akan mati

diujung senjata siapa yang menjadi suaminya, atau membunuh suami itu. Sekarang dia menjadi isterimu. Nah, mari kita selesaikan persoalan ini. Kau harus mati di tanganku atau aku yang akan mampus di tanganmu untuk mengakhiri penderitaan batin ini!” Sambil berkata demikian, Giam Sui Lok mencabut goloknya !

Kam Si Ek menjadi marah. “Kau benar-benar seorang yang berwatak berandalan dan tidak menggunakan aturan.”

“Tak perlu banyak cakap, pendeknya berani atau tidak kau mengakhiri urusan ini diujung senjata ? Kalau tidak berani, sudahlah, sedikitnya aku tidak akan menderita lagi karena tahu bahwa ayah Bwee Hwa memilih kau bukan karena kau lebih gagah daripada aku, melainkan karena kau seorang panglima, biarpun hanya panglima pengecut.”

“Tutup mulut ! Lihat golokku siap menandingimu!” bentak Kam Si Ek yang juga sudah mencabut golok emasnya.

Giam Sui Lok tertawa bergelak lalu menerjang maju dan terjadilah pertandingan hebat dan seru antara kedua orang itu. Pemuda tinggi besar bermuka hitam itu bertanding dengan nekat, goloknya menyambar-nyambar dengan amat cepat dan kuat agaknya bernafsu sekali untuk segera merobohkan lawan yang amat dibencinya karena telah mengawini wanita yang menjadi idaman hatinya ! Kalau saja ilmu silatnya agak lebih tinggi tingkatnya, agaknya Kam Si Ek akan repot menghadapi terjangan penuh nafsu dan nekat ini. Akan tetapi, ternyata tingkat kepandaian Giam Sui Lok tidaklah sehebat nafsunya, dan dibandingkan dengan Kam Si Ek ia kalah jauh. Dengan tenang sekali Kam Si Ek menggerakkan golok emasnya menangkis sampai belasan jurus, kemudian setelah ia melihat kelemahan lawan dan banyaknya kesempatan terbuka karena kenekatan itu, mulailah ia menerjang dan membalas. Akan tetapi Kam Si Ek tidak berniat membunuh lawannya yang sama sekali tidak mempunyai dosa terhadapnya itu, maka setelah melihat kesempatan baik, goloknya menyerempet pangkal lengan kanan lawannya. Giam Sui Lok mengeluh, pangkal lengannya luka dan goloknya terlepas dari pegangan. Ia tidak mengerang kesakitan, menahan rasa nyeri lalu berkata, “Kau menang. Nah, lekas bacoklah leherku, aku tidak ingin hidup lagi!”

Kam Si Ek tersenyum dan menyimpan goloknya. “Justeru aku hendak membiarkan kau hidup, sobat ! Kau masih muda dan birlah kau hidup lebih lama untuk menyesali perbuatanmu yang lancang ini. Kelak kau akan meresa malu sendiri akan sepak terjangmu yang bodoh ini. Nah, kau pergilah!”

Giam Sui Lok memandang dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. “Kam Si Ek ! Aku mengaku kalah dan minta mati, akan tetapi kau membiarkan aku hidup, agaknya kau ingin lebih menyiksaku. Akan tetapi, akan datang saatnya aku kembali mencarimu dan sebelum aku mati di tanganmu atau kau mati di tanganku, aku takkan mau sudah!” Setelah berkata demikian, dengan tangan kiri ia menjemput goloknya lalu pergi menghilang di balik gelap malam.

Kam Si Ek berdiri tertegun, hatinya penuh penyesalan. Ia tidak tahu bahwa sejak tadi, seorang anak kecil berusia sembilan tahun mengintai dari balik semak-semak. Anak ini adalah puteranya sendiri, Kam Bu Song ! Semenjak beberapa hari ini, Bu Song mengunci diri di dalam kamarnya dan menangis saja. Malam ini ia membawa buntalan pakaian, diam-diam keluar dari kamarnya, dan terkejut menyaksikan pertempuran di pekarangan belakang. Ia bersembunyi dan mengintai, kemudian setelah ayahnya kembali ke dalam rumah, ia cepat berlari keluar dan lenyap pula di tempat gelap.

Dapat dibayangkan betapa duka dan bingungnya hati Kam Si Ek. Pernikahannya yang ke dua itu amat cepat disusul dua peristiwa yang mengganjal hatinya. Peristiwa dengan Giam Sui Lok sudah cukup menjengkelkan, akan tetapi peristiwa kedua, larinya Kam Bu Song benar-benar membuatnya berduka dan gelisah sekali. Tentu saja ia segera menyebar orang-orangnya untuk mencari, namun hasilnya sia-sia

belaka. Anak itu tidak dapat ditemukan, seakan-akan ditelan bumi tanpa meninggalkan bekas. Mula-mula ia menyangka bahwa Giam Sui Lok yang melakukan penculikan, akan tetapi ketika ia menyuruh orangnya menyelidik, ternyata Giam Sui Lok kembali ke Cin-ling-san, merawat luka dan memperdalam ilmu silat, sama sekali tidak tahu-menahu tentang lenyapnya Kam Bu Song !

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Kwee Seng ! Sengaja kita lakukan ini agar jalan cerita dapat tersusun baik, karena memang ada hubungannya antara tokoh-tokoh yang diceritakan itu.

Telah kita ketahui betapa dalam keadaan linglung, Kwee Seng telah melayani cinta kasih seorang nenek-nenek di Neraka Bumi selama belasan hari ketika Arus Maut di Neraka Bumi itu meluap airnya dan cuaca menjadi gelap. Setelah cuaca menjadi terang kembali, pikirannya pun menjadi terang dan sadarlah ia bahwa ia telah mencurahkan kasih sayangnya kepada seorang nenek-nenek yang memang menghendaki ia menjadi suaminya ! Bagaikan gila Kwee Seng memukuli muka dan kepalanya sendiri, kemudian ia meloncat ke dalam air arus Arus Maut, menyelam dan berenang melawan arus.

Bukan main kuatnya arus itu, seekor ikan pun agaknya takkan mampu berenang melawan arus itu. Akan tetapi, selama tiga tahun berdiam di dalam Neraka Bumi, Kwee Seng telah memperoleh kemajuan yang luar biasa. Berkat latihan samadhi menurut ajaran kitab samadhi, tenaga lweekangnya meningkat hebat beberapa kali lipat, sedangkan ilmu silatnya juga tanpa ia sadari telah menjdai hebat luar biasa setelah ia memahami kitab Ilmu Perbintangan. Kini, menghadapi terjangan arus yang demikian ganasnya, Kwee Seng dapat mempergunakan lweekangnya, menyelam dan berenang sepenuh tenaga sambil menahan napas. Beberapa kali ia terpukul kembali, namun dengan gigih Kwee Seng maju terus. Benturan-benturan dengan batu ketika ia dihempaskan Arus Maut, tidak terasa oleh tubuhnya yang sudah menjadi kuat dan kebal. Kadang-kadang ia muncul di permukaan air untuk mengambil napas, lalu menyelam kembali dan bergerak maju terus. Bukan main hebatnya perjuangan melawan Arus Maut ini. Perjuangan mati-matian dan ia tidak tahu bahwa andaikata tiga tahun yang lalu ia harus melakukan perjuangan macam ini, tentu ia akan tewas !

Akhirnya ia dapat keluar dari dalam terowongan dan ketika ia muncul di permukaan air, ia melihat langit menyinarkan cahaya terang benderang, membuat matanya silau karena sudah terlalu lama ia tinggal di tempat agak gelap. Biarpun sudah keluar dari terowongan Arus Maut, namun sungai yang diterjangnya ini diapit-apit dinding batu karang yang amat tinggi. Ia berenang terus dan akhirnya, sejam kemudian, ia melihat dinding yang biarpun masih amat tinggi dan curam, namun tidak selicin dinding yang telah ia lalui. Cepat ia berenang ke pinggir, menangkap celah dinding batu karang dan mengangkat tubuhnya ke atas. Cepat ia bersila di bawah dinding karang, untuk memulihkan tenaganya dan pernapasannya.

Akan tetapi, setelah tenaganya pulih, ia teringat akan perbuatannya dengan nenek itu dan… tiba-tiba Kwee Seng menangis, lalu menampari pipinya beberapa kali sampai kedua pipinya bengkak-bengkak matang biru ! Sebentar kemudian ia tertawa-tawa, suara ketawanya bergema di sepanjang sungai yang diapit dinding karang. Kemudian ia merayap naik melalui dinding yang tidak rata, menggunakan tangan kirinya menangkap dan menginjak celah-celah karang. Cepat sekali gerakannya, seperti seekor monyet

saja dan tak sampai seperempat jam, ia telah berada dia atas tanah datar, di lembah sungai di lereng Bukit Liong-kui-san ! Tak jauh di sebelah depan, ia melihat puncak di mana tiga tahun yang lalu ia bertanding mati-matian melawan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, dimana ia dirobohkan secara pengecut oleh jarum-jarum beracun Bayisan.

“Ha-ha-ha-ha-ha!” Tiba-tiba Kwee Seng tertawa bergelak sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar dan rambut riap-riapan karena ketika melawan arus tadi pita rambutnya hilang entah ke mana, bajunya robek-robek, kedua pipinya bengkak-bengkak, akan tetapi matanya bersinar terang biarpun mulutnya tersenyum setengah mewek seperti orang mau menangis !

Masih terdengar suaranya tertawa-tawa ketika tubuhnya berloncatan dengan gerakan yang luar biasa, tidak seperti manusia lagi, melainkan lebih pantas iblis penjaga gunung sedang menari-nari. Memang patut dikasihani Kwee Seng ini. Karena tergila-gila akan kecantikan Liu Lu Sian dan kecewa melihat watak gadis yang ia cinta, ia menjadi seorang pemabok, dan kini setiap kali teringat kepada Lu Sian ia masih tertawa-tawa. Kemudian pengalamannya dengan nenek-nenek di dalam Neraka Bumi, benar-benar telah membuat rusak pikirannya, membuat ia tak kuat lagi menahan tekanan batin, membuatnya seperti gila. Kalau teringat kepada nenek-nenek itu, ia menangis. Maka sejak saat itu kembali ke dunia ramai, tawa dan tangis silih berganti dilakukan oleh pendekar muda ini ! Seorang pendekar muda yang tadinya terkenal tampan dan gagah perkasa, kini berubah menjadi seorang berpakaian compang-camping yang suka tertawa dan menangis, pendeknya berubah menjadi seorang jembel gila ! Dan semua ini karena asmara.

Akan tetapi, sesungguhnya Kwee Seng sama sekali tidaklah gila. Ia hanya seperti orang gila kalau teringat kepada Liu Lu Sian dan teringat pula kepada Si Nenek, karena kedua orang itu mengingatkan ia akan semua pengalaman dan perbuatannya. Kalau ia sedang sadar, Kwee Seng tetap merupakan pendekar yang gagah perkasa, yang cerdik dan berpemandangan luas. Ia tidak pernah pula melupakan Bayisan yang telah berlaku curang dan menyebabkan ia terjungkal ke dalam jurang di puncak Liong-kui-san. Ia tidak pula dapat melupakan guru Bayisan, Ban-pi Lo-cia yang telah membunuh atau lebih hebat lagi, menodai Ang-siauw-hwa sehingga wanita itu membunuh diri, tidak pula lupa kepada Liu Lu Sian yang telah menolak cintanya dan bahkan menghinanya.

Demikianlah, Kwee Seng mulai dengan perantauannya. Ia tetap berpakaian seperti jembel, pakaian yang compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan, akan tetapi tubuhnya selalu bersih terpelihara ! Di dalam perantauannya bertahun-tahun ini, tak pernah ia melupakan tugasnya sebagai seorang gagah, seorang pendekar yang aneh dan sakti. Namun, tetap seperti dahulu, ia melakukan perbuatannya dengan sembunyi dan semenjak ia keluar dari Neraka Bumi, muncullah di dunia kang-ouw seorang tokoh aneh tak terkenal yang luar biasa, yang menggegerkan dunia kang-ouw karena banyak sekali tokoh-tokoh dunia hitam dihancurkan oleh pendekar gila ini. Akhirnya ada yang mengenalnya sebagai Kim-mo-eng dan makin terkenal lah nama ini yang dahulu malah tidak begitu terkenal. Kalau dulu hanya tokoh-tokoh terbesar di dunia kang-ouw saja yang mengenal Kim-mo-eng sebagai seorang pendekar muda yang berkepandaian tinggi, kini dunia kang-ouw mengenal Kim-mo-eng sebagai seorang pendekar gila, sungguhpun jarang ada orang pernah melihatnya beraksi. Dengan demikian, dalam perantauannya, orang-orang yang bertemu dengan Kwee Seng hanya mengira dia seorang jembel gila, sama sekali tidak

ada yang pernah mengira bahwa dia inilah Kim-mo-eng, tokoh kang-ouw yang baru muncul dan membikin geger dunia persilatan itu !

Rasa penasaran di hatinya terhadap Bayisan membuat Kwee Seng mengarahkan perantauannya menuju ke daerah Khitan ! Ia hendak meluaskan pengalaman dan sekalian mencari Bayisan atau Ban-pi Lo-cia yang keduanya masih mempunyai perhitungan dengannya.

Bangsa Khitan adalah bangsa nomad (perantau) yang terkenal gagah perkasa, ulet dan pandai perang. Karena iklim dan keadaan tanah di mana mereka hidup, yaitu di daerah timur laut yang penuh gunung-gunung, gurun-gurun pasir, dan salju, maka mereka dipaksa oleh keadaan untuk selalu berpindah-pindah tempat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka. Inilah sebabnya mengapa suku bangsa Khitan amat ulet dan berani. Dan ini pula agaknya yang menyebabkan Khitan seringkali mengadakan penyerbuan ke selatan dalam usaha mereka mencari tempat yang lebih makmur untuk bangsa mereka. Akan tetapi, berkali-kali mereka terpukul mundur oleh bala tentara kerajaan selatan sehingga akhirnya mereka tidaklah begitu berani melakukan penyerbuan secara liar, melainkan baru berani menyerbu setelah direncanakan terlebih dahulu. Karena usaha mereka yang terus menerus menyerbu ke selatan inilah maka bangsa Khitan selalu dianggap sebagai musuh besar oleh orang selatan, dari jaman dinasti manapun juga.

Pada waktu Kwee Seng melakukan perantauannya ke daerah Khitan, yang dijadikan ibu kota Khitan adalah kota Paoto di lembah Sungai Kuning, termasuk daerah Mancuria selatan. Rajanya adalah Raja Kulu-khan, seorang raja yang terkenal gagah suka perang, namun amat dicinta oleh rakyatnya karena terhadap rakyatnya ia selalu bertindak adil dan penuh perhatian.

Raja Kulu-khan mempunyai belasan orang putera dan puteri, akan tetapi semua itu lahir dari para selir. Adapun permaisurinya hanya mempunyai seorang anak perempuan, yang dengan sendirinya menjadi puteri mahkota. Puteri mahkota ini bernama Puteri Tayami yang semenjak kecilnya digembleng oleh ayahnya sendiri, pandai menunggang kuda, pandai bermain panah dan pandai pula mainkan tombak dan pedang. Selain ini, ia pun seorang puteri yang amat cantik jelita, menjadi kenangan dan kembang mimpi semua pemuda Khitan. Namun, tak seorang pun diantara para pemuda berani main-main dengan puteri Tayami, bukan saja karena Tayami adalah Puteri Mahkota, akan tetapi terutama karena mereka gentar menghadapi kegagahan puteri ini. Kalau Tayami sudah ikut maju perang dengan pedang pusaka di tangan, yaitu Pedang Besi Kuning, dengan gendewa dan anak panah menghias bahu, menyengkelit tombak, bukan main hebatnya puteri ini. Entah sudah berapa banyak tentara musuh yang roboh oleh anak panahnya, pedangnya, maupun tombaknya.

Khitan memiliki pula banyak panglima-panglima perang yang berilmu tinggi di antaranya adalah Panglima Tua Kalisani dan Panglima Muda Bayisan. Hanya dua orang ini yang paling hebat kepandaiannya di antara semua panglima yang juga memiliki keistimewaan masing-masing. Akan tetapi hanya kedua orang panglima itu yang memiliki ilmu silat dari selatan dan barat. Adapun Ban-pi Lo-cia biarpun terkenal, namun tidaklah langsung membantu pergerakan bangsanya. Dia adalah guru dari Panglima Muda

Bayisan, namun jarang ia tinggal terlalu lama di Khitan, lebih suka merantau ke selatan, ke dunia yang lebih ramai dan lebih banyak terdapat kesenangan-kesenangan yang sesuai dengan selera nafsunya.

Dasar watak manusia jantan, di mana-mana sama saja. Asalkan melihat wanita cantik, tentu mereka itu saling berebutan. Yang kasar yang halus, ya begitu juga, hanya yang kasar itu mengeluarkan perasaan hatinya melalui kata-kata kasar atau pandang mata kurang ajar, sedangkan yang halus diam-diam menyimpan di hati. Namun hakekatnya, sama juga. Di antara sekian banyaknya pemuda Khitan yang jatuh hati terhadap Puteri Tayami, termasuk juga Bayisan dan… Kalisani ! Kita sudah mengenal Bayisan sebagai seorang tokoh muda yang haus akan wanita cantik, yang jahat dan keji, tidak segan-segan melakukan perkosaan terhadap wanita yang manapun juga, baik ia isteri orang maupun anak orang, baik ia mau ataupun tidak. Maka tidak mengherankan apabila Bayisan tergila-gila kepada Puteri Mahkota bangasanya sendiri yang demikian jelita ayu. Akan tetapi, yang amat mengherankan adalah Panglima Tua Kalisani. Usianya sudah empat puluh tahun lebih, dua kali usia Tayami, namun panglima yang belum pernah menikah ini secara diam-diam tergila-gila pula kepada Tayami. Hanya bedanya, kalau Bayisan mengungkapkan perasaannya melalui senyum dan pandang mata, kadang-kadang kata-kata kurang ajar, adalah Kalisani memendam dalam hati, dan mungkin hanya dapat terlihat oleh Tayami sendiri melalui pancaran sinar mata penuh kasih sayang.

Namun, semua harapan para muda termasuk dua orang panglima itu, sebenarnya sia-sia belaka. Puteri Mahkota Tayami sudah mempunyai pilihan hati sendiri. Ia telah menjatuhkan cinta kasihnya kepada seorang bekas temannya semenjak kecil, putera dari pelayan pribadi ayahnya. Kini bekas teman itu telah menjadi seorang pemuda tampan dan gagah, dan biarpun pangkatnya hanya perwira menengah, namun kegagahannya dalam pandang mata Tayami tiada yang dapat menandinginya ! Pemuda ini bernama Salinga, biarpun keturunan pelayan raja, namun semenjak nenek moyangnya dahulu amat setia dan berdarah patriot.

Raja Kulu-khan amat mencinta puterinya, dan raja ini pun berpemandangan luas, tidak mengukur pribadi seseorang dari kedudukannya, maka biarpun ia tahu akan perhubungan antara puterinya dengan Salinga, raja ini tidak pernah menegur puterinya. Malah ketika Bayisan mengadukan hubungan itu, ia memarahi Bayisan. Bayisan ini biarpun terkenal diluaran sebagai panglima muda, namun adalah putera Raja Kulu-khan juga. Putera yang lahir dari seorang wanita yang telah bersuamikan seorang pembantu raja, akan tetapi oleh suaminya seakan-akan di”jual” kepada raja karena mengharapkan kenaikan pangkat ! Peristiwa ini terjadi ketika Raja Kulu-khan masih muda dan tidak kuat menghadapi godaan isteri ponggawa itu. Namun, setelah mengetahui niat licik dari ponggawa yang menjual isterinya sendiri itu, raja ini malah menjatuhkan hukuman kepada Si Ponggawa, sedangkan isteri ponggawa itu ia ambil sekalian menjadi selirnya. Hal ini dilakukan untuk mencuci segala noda. Anak yang lahir dari hubungan inilah yang sekarang menjadi Panglima Muda Bayisan !

“Cinta kasih antara orang muda adalah cinta kasih murni yang timbul dari hati sanubari. Adalah Dewa yang menjodohkan, bagaimana kita manusia hendak merusaknya, Bayisan ? Kalau adikmu Tayami memang saling mencinta dengan Salinga, biarlah. Salinga seorang pemuda baik, apa salahnya?”

“Akan tetapi, Sri Baginda. Adinda Tayami adalah seorang Puteri Mahkota, sedangkan Salinga… seorang prajurit biasa…”

“Hemm, dia seorang perwira…” “Apa artinya ? Seorang Puteri Mahkota jodohnya adalah pangeran, atau yang setingkat…”

“Ha-ha-ha, Bayisan. Alangkah sempit pandanganmu. Siapakah yang membuat hati dan menimbulkan cinta ? Hanya para Dewa yang tahu. Siapa sekarang yang membuat segala macam pangkat dan kedudukan ? Hanya manusia. Apa sukarnya kalau sekarang aku mengangkat Salinga menjadi Pangeran atau Ponggawa yang tinggi kedudukannya ? Mudah saja, bukan ? Akan tetapi aku tidak mau lakukan itu, kenaikan tingkat menurut jasa dan pahala. Kalau aku mengangkat Salinga, berarti suatu penghinaan, baik bagi Salinga maupun bagi keluargaku sendiri. Nah, cukup, tak perlu kau mencampuri urusan dalam hati Tayami!”

Demikianlah, dengan hati mengkal dan penuh dendam Bayisan selalu mencari kesempatan untuk menjatuhkan hati Tayami dan menjatuhkan diri Salinga. Akan tetapi, tentu saja ia tidak berani secara berterang melakukan hal ini, karena Salinga adalah kekasih Tayami dan bahwa dia tergila-gila pula kepada Tayami, adik tirinya !

Pagi hari itu kota raja Paoto amatlah ramainya. Kwee Seng memasuki kota raja ini dan biarpun ia menarik perhatian karena pakaiannya yang compang-camping dan penuh tambalan itu menunjukkan bahwa dia seorang selatan, namun sikapnya yang seperti orang gila membuat orang-orang hanya tertawa kepadanya. Memang pada waktu itu, banyak sekali orang Khitan sudah berpakaian seperti orang Han, dengan pakaian yang dapat mereka rampas kalau mereka menyerbu ke selatan, atau pakaian yang mereka perdagangkan dengan kulit dan bulu domba. Banyak juga pedagang-pedagang dari selatan sampai Khitan, mempertaruhkan keselamatan nyawanya. Bagi para pedagang, di mana ada “untung” ke sana ia pergi, tak peduli di sana terdapat bahaya menantang.

Keramaian kota raja Paoto ada sebabnya. Beberapa pekan yang lalu, di bawah pimpinan Panglima Muda Bayisan sendiri, sepasukan orang Khitan menyerbu dan menghancurkan pasukan Kerajaan Cin Muda yang ternyata adalah pasukan yang melarikan diri membawa barang-barang berharga hasil perampasan mereka terhadap Kerajaan Tang Muda yang kalah perang. Banyak sekali barang rampasan ini, belum lagi kuda dan senjata, maka saking gembiranya Raja Kulu-khan lalu mengadakan pesta untuk menghormati pasukan itu. Dan sebagaimana biasanya, dalam setiap keramaian seperti itu, tentu diadakan perlombaan-perlombaan ketangkasan di tepi Sungai Kuning. Perlombaan macam ini bukan hanya sebagai hiburan untuk menggembirakan suasana, namun ada maksudnya pula unutk mengumpulkan tenaga-tenaga muda dan tidak jarang dalam kesempatan seperti ini bermunculan perwira-perwira baru yang diangkat karena kemenangannya dalam perlombaan.

Kwee Seng hanyut dalam arus gelombang manusia yang menuju ke tepi sungai, ke tempat perlombaan. Sambil makan roti susu kambing yang tadi dibelinya dari warung dan kini digerogoti, Kwee Seng ikut berlari-lari. Lapangan di tepi sungai itu luas sekali dan memang tempat ini sengaja dibuat sedemikian rupa sehingga rata dan baik untuk tempat perlombaan ketangkasan.

Hati Kwee Seng berdenyut girang ketika ia mengenal seorang di antara para perwira tinggi yang hadir di tempat itu. Seorang Muda yang tinggi kurus, berpakaian panglima, bertopi indah dengan hiasan bulu, bukan lain adalah Bayisan, musuh lama yang dicari-carinya. Matanya tetap mencari-cari dan ia agak kecewa tidak melihat Ban-pi Lo-cia di tempat itu. Di panggung yang sengaja dibuat, duduklah Raja Khitan, ditemani Bayisan, Kalisani, belasan orang panglima tinggi lainnya, dan di samping raja ini duduk pula seorang gadis yang cantik jelita, pakaiannya serba hijau, pedang yang bergagang indah tergantung di belakang punggung. Inilah Puteri Mahkota Tayami, dan Kwee Seng juga dapat menduganya karena seringkali ia mendengar nama puteri ini disanjung-sanjung orang dalam perjalanannya di daerah Khitan.

Pada saat itu, enam orang penunggang kuda masing-masing, berdiri sejajar dan agaknya menanti tanda untuk segera berlomba lari cepat. Kwee Seng melihat betapa di sebelah depan dipasangi tombak berjajar-jajar, antara dua meter tingginya dan ada empat meter lebarnya. Tombak-tombak itu memenuhi jalan dan dipasang amat kuatnya, gagangnya menancap pada tanah dan ujungnya yang runcing di atas. Tak jauh dari situ, di sebelah kiri jalan berdiri belasan orang barisan panah yang siap dengan busur dan anak panah. Kwee Seng tertarik dan bertanya kepada penonton di sebelahnya, seorang Han yang agaknya adalah seorang daripada para pedagang perantau.

“Inilah saat penentuan bagi para pemenang,” orang itu menerangkan, “enam orang itu adalah orang-orang pilihan yang telah keluar sebagai pemenang beberapa perlombaan. Kini diadakan perlombaan untuk memilih yang paling gagah di antara mereka. Pertandingan kali ini tentu seru, karena Salinga ikut. Tuh dia yang berbaju kuning!”

Kwee Seng melihat bahwa pemuda yang berbaju kuning adalah seorang muda yang memang tampan dan gagah, kudanya berbulu putih dan ia berada di tempat paling kiri. Lima orang pemuda lain juga gagah-gagah, bertubuh kekar dan sinar matanya penuh semangat.

“Perlombaan apa saja yang akan dipertandingkan?” ia bertanya gembira. Orang itu menengok. Melihat orang yang bertanya, biarpun dari suaranya jelas seorang Han, namun pakaiannya yang compang-camping dan sikapnya yang bebas lepas dan tertawa-tawa menunjukkan bahwa orang ini tak beres otaknya, maka ia lalu menjawab singkat, “Kaulihat saja, tak usah banyak tanya!”

Kwee Seng membelalakkan mata, mengangkat pundak dan tersenyum lebar. Manusia di mana-mana masih belum dapat melempar wataknya yang buruk, yaitu menilai seseorang dari pakaiannya. Makin

indah pakaianmu, makin di hormat oranglah kamu ! Akan tetapi ia tidak peduli dan melongok-longok, mendesak di antara banyak orang untuk dapat menonton lebih jelas.

Sementara itu, di panggung, Bayisan memohon kepada Raja untuk mengikuti pertandingan ini. “Ahh,” jawab Raja Kulu-khan. “Siapa yang tidak tahu bahwa kau adalah Panglima Muda dan memiliki kepandaian tinggi ? Apa perlunya kau hendak ikut pertandingan?”

Bayisan tersenyum. “Hamba rasa amatlah perlu, untuk memberi contoh dan menambah kegembiraan para peserta, dan hal ini dapat menarik perhatian para muda kita agar mereka berlatih lebih giat lagi. Bukankah dengan cara ini, Paduka kelak akan mendapatkan banyak pemuda-pemuda perkasa?”

Raja Kulu-khan tersenyum. Di dalam hatinya ia maklum bahwa panglima mudanya ini juga mencari kesempatan “jual muka” memamerkan kepandaian, akan tetapi karena alasan tadi ada benarnya pula, maka ia mengangguk memberi ijin.

“Heh-heh-heh, Bayisan, hati-hati kalau kau sampai kalah, bisa jatuh nama!” Panglima Tua Kalisani menegur Bayisan dengan suaranya yang penuh kelakar. Memang Kalisani terkenal sebagai seorang yang suka bergurau dan selalu berwatak gembira. Dia juga terhitung masih sanak dengan keluarga raja.

Bayisan hanya tersenyum mengejek, lalu mengerling ke arah Puteri Tayami sambil berkata, “Mana mungkin aku kalah dengan segala macam perwira seprti mereka itu?” setelah berkata demikian, ia memberi hormat kepada raja dan meloncat turun dari panggung. Ucapan ini secara langsung merupakan ejekan terhadap diri Salinga, pemuda pilihan hati Tayami, hal ini tentu saja dimengerti oleh Tayami sendiri, maupun Raja Kulu-khan dan juga Kalisani.

Ketika Kwee Seng melihat Bayisan datang menunggang seekor kuda merah, ikut berj ajar sebaris dengan enam orang penunggang kuda, tangannya gatal-gatal untuk segera menerjang orang yang telah berbuat curang terhadapnya itu. Akan tetapi ia menahan nafsu hatinya karena maklum bahwa perbuatannya itu tentu akan menimbukan kegemparan dan kalau ia kemudian dikepung oleh samua orang Khitan meloloskan diri ? Lebih baik ia bersabar dan menanti sampai terbuka kesempatan, turun tangan di waktu malam sunyi.

Raja memberi tanda dengan tangan diangkat ke atas, terompet tanduk menjangan dibunyikan orang dan perlombaan ketangkasan dimulai. Peserta paling kanan dengan kuda hitamnya, seorang pemuda yang tubuhnya kokoh kuat seperti batu karang, berteriak keras, kudanya dicambuk dan larilah binatang ini cepat laksana terbang. Debu mengepul tinggi dan para penonton mengulur leher mengikuti larinya kuda yang makin mendekati barisan tombak yang menghalang jalan. Kwee Seng sudah tidak tampak lagi di

antara penonton, karena ia sudah enak-enak duduk di atas cabang pohon, tertawa-tawa dan dapat menonton dengan enak.

Setelah tiba dekat barisan tombak, pemuda berkuda hitam itu berseru keras dan kudanya melompat ke atas. Hebat lompatan kuda ini. Keempat kakinya hampir menyentuh ujung tombak. Ketangkasan yang luar biasa akan tetapi juga permainan yang amat berbahaya. Sebuah saja dari keempat kaki kuda itu menyentuh mata tombak, tentu tubuh kuda akan terguling dan jatuh di “sate” ujung banyak tombak, mungkin berikut penunggangnya ! Namun kuda hitam bersama penunggangnya amatlah tangkas, secepat kilat kuda itu sudah mewakili barisan tombak dan turun dengan selamat, menimbulkan debu mengebul tinggi dan sorak-sorai tepuk tangan gemuruh dari para penonton. Raja mengangguk puas. Makin banyak ia mempunyai orang-orang setangkas itu, makin kuatlah Kerajaan Khitan.

Akan tetapi lomba ketangkasan itu belum selesai. Ujian bukan hanya sampai pada melompati barisan mata tombak. Ini masih belum berbahaya ! Ujian kedua lebih hebat lagi, yaitu melalui barisan anak panah. Penunggang kuda hitam sudah melarikan kudanya cepat-cepat, kembali lagi setelah tiba di ujung sana untuk memasuki lingkungan barisan anak panah, yang sudah siap sedia. Begitu kuda itu memasuki lingkungan itu, busur-busur di pentang dan melesatlah puluhan batanga anak panah, menyambar ke arah tubuh Si Penunggang Kuda. Semua pelepas anak panah adalah ahli-ahli pilihan sehingga tidak sebatang pun anak panah yang akan mengenai tubuh kuda, melainkan menyambar tepat di atas tubuh kuda, lewat dengan cepat, dekat sekali dengan punggung, bahkan ada yang menyerempet pelana di punggung kuda. Akan tetapi Si Penunggang Kuda yang cekatan itu tahu-tahu telah lenyap dari atas kuda. Demikian cepatnya gerakan itu sehingga ia seolah-olah menghilang, padahal ketika anak-anak panah menyambar, penunggang ini sudah menjatuhkan diri ke kiri, terus tubuhnya menggantung ke bawah perut kuda, hanya kedua kakinya yang menahan tubuh, kedua kaki yang dikaitkan kepada pelana kuda itu. Kuda lari terus, penunggangnya bergantung dibawahnya, sungguh ketangkasan yang mengagumkan ! Tepuk tangan dan sorak-sorai menyambut ketangkasan ini setelah kuda besarta penunggangnya selamat melewati barisan anak panah. Dengan gerakan indah Si Penunggang mengayun tubuhnya dan dari sebelah kanan perut kuda ia telah duduk kembali dengan tegaknya !

Ujian ke tiga adalah ujian ketangkasan memanah. Sambil menunggang kuda yang mengitari lapangan, Si Penunggang Kuda hitam itu mementang busur dan berturut-turut ia melepas anak panah yang menancap tepat pada dada dan perut boneka besar manusia yang menjadi sasaran dan ditempatkan di tengah lapangan. Tujuh kali Si Penunggang Kuda hitam itu melepas anak panahnya, dan lima di antaranya menancap tepat di tengah dada, yang dua agak meleset, menancap di pundak dan paha. Namun ini saja sudah cukup menyatakan bahwa ia lulus ! Dengan bangga Si Penunggang Kuda hitam itu lalu menjalankan kudanya ke bawah panggung, melompat turun dan berlutut ke arah raja, kemudian menuntun kudanya berdiri di pinggir ikut menonton peserta-peserta berikutnya

Peserta ke dua mengalami saat naas baginya. Ketika kudanya melompati barisan tombak, di bagian terakhir kudanya terjungkal, jatuh ke bawah. Perut kuda tertembus tombak-tombak itu dan penunggangnya pun mengalami nasib yang sama, perut dan dadanya tembus oleh tombak. Penonton berseru kengerian dan beberapa orang penjaga segera lari mendatangi untuk membawa pergi mayat kuda dan orang. Korban mulai jatuh dan permainan berbahaya ini, dan penonton mulai tegang !

Peserta ke tiga selamat melampaui barisan tombak, dan ketika melampaui barisan anak panah, kurang cepat ia bersembunyi sehingga pundak dan pahanya terserempet anak panah. Dalam keadaan luka ringan ini ketika ia memanah orang-orangan, di antara tujuh batang anak panahnya, hanya dua yang mengenai sasaran, maka tentu saja ia pun dinyatakan gagal !

Peserta ke empat hanya berhasil melampaui barisan tombak. Ia terjungkal roboh dengan anak panah menancap di perut dan lehernya ! Kembali ada korban yang kehilangan nyawanya dalam lomba ketangkasan ini. Namun para penonton tidak lagi menjadi ngeri. Bahkan menjadi makin tegang, karena sekarang ternyata oleh mereka betapa sukarnya olah ketangkasan yang diperlombakan ini.

Ketika peserta ke lima yang mukanya sudah pucat melihat betapa rekan-rekannya gagal bahkan ada yang tewas itu membentak kudanya mulai mulai lari membalap, semua orang memandang penuh ketegangan. Peserta ke lima ini tubuhnya jangkung kurus namun bahunya bidang dan lengannya kelihatan kuat. Ia berhasil melompati barisan tombak, berhasil pula melewati barisan anak panah dengan cara sembunyi di bawah perut kuda seperti dilakukan peserta pertama, akan tetapi ketika ia memperlihatkan keahliannya memanah, di antara tujuh batang anak panahnya hanya dua yang menancap pada perut sasaran, yang lima meleset semua. Kegagalan inilah yang menyebabkan ia dianggap tidak lulus, tidak diterima menjadi calon panglima dan hanya dinaikkan pangkatnya satu tingkat saja. Namun ia masih beruntung kalau dibandingkan dengan rekan-rekannya yang tewas atau terluka parah.

Tibalah kini giliran Salinga. Begitu pemuda berkuda putih ini maju, para penonton bertepuk tangan. Pemuda ini amatlah tampan dan sikapnya tenang, jelas bahwa orangnya rendah hati dan tidak sombong, namun pandang matanya yang tajam itu membayangkan semangat dan keberanian yang luar biasa. Para penonton yang sudah tahu bahwa pemuda ini adalah pilihan puteri mahkota, tentu saja simpati dan mengharapkan pemuda ini akan berhasil baik dan lulus. Sebaliknya, Puteri Tayami biarpun kelihatan tenang-tenang saja, diam-diam ia merasa kuatir kalau-kalau kekasihnya takkan berhasil. Perlombaan atau ujian sehebat ini hanya diadakan beberapa tahun sekali kalau raja berkenan hendak memilih calon-calon panglima yang harus benar-benar gagah perkasa.

Seperti juga yang lain-lain. Salinga membawa kudanya ke depan panggung, lalu ia turun dan memberi hormat sambil berlutut ke arah raja. Kemudian matanya mengerling sekilas ke arah kekasihnya. Alangkah besar hatinya ketika ia menerima kiriman senyum dari Tayami, senyum yang menimbulkan keyakinan di dalam hatinya bahwa demi untuk puteri pujaannya, ia harus dan akan berhasil !

Pada saat ia bangun kembali dan melompat ke atas punggung kudanya, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda dan tahu-tahu seekor kuda berbulu merah telah berada di dekatnya. Salinga tercengang ketika mengenal penunggangnya yang bukan lain adalah Panglima Muda Bayisan ! Segera ia menjura di atas kuda putihnya dan berkata.

yang hendak Tuan sampaikan kepada saya?”

“Tidak ada apa-apa Salinga. Hanya, melihat bahwa peserta terakhir tinggal engkau seorang dan aku yang hendak mencoba-coba sukarnya ujian, sebaliknya kita lakukan itu bersama. Bukankah hal itu akan menambah kegembiraan dan akan membesarkan hati kita, juga menggembirakan para penonton?”

Tentu saja Salinga maklum bahwa di antara para saingannya dalam berebut hati tuan puteri, Bayisan ini merupakan saingan terberat dan juga paling berbahaya. Sudah seringkali kekasihnya, Puteri Tayami, memperingatkan agar ia berhati-hati terhadap Bayisan. Ia tentu saja dapat menduga bahwa panglima muda yang sebetulnya juga pangeran ini mempunyai maksud tersembunyi dalam mengajak ia melakukan ujian bersama. Terang bahwa Bayisan takkan mungkin berani mencelakainya di depan begitu banyak saksi, di antaranya raja dan puteri mahkota sendiri. Salinga menaruh curiga dan tidak suka, akan tetapi betapapun juga, tak dapat ia menolak, tak dapat ia berlaku tidak hormat kepada Bayisan. Pertama, Bayisan adalah panglima muda, jadi masih termasuk atasannya biarpun ia dimasukkan ke dalam pasukan yang langsung dikepalai panglima tua. Ke dua, Bayisan adalah putera raja sendiri, biarpun hanya putera selir yang tidak begitu harum namanya karena menjadi selir raja atas kehendak suaminya yang kemudian di hukum mati.

“Tuan Panglima amat gagah perkasa, tentu saja ujian ini sebagai main-main belaka, berbeda dengan saya yang harus mempertaruhkan nyawa untuk dapat lulus.” Kata salinga merendah.

Mendengar ini, Bayisan tertawa bergelak dan sengaja berkata dengan suara keras agar terdengar orang lain, terutama tentu saja, agar terdengar Puteri Tayami.

“Ha-ha-ha, mempertaruhkan nyawa untuk permainan macam itu saja ? Ha-ha, kau berkelakar, Salinga ! Siapa yang tidak tahu akan ketangkasanmu ? Hayolah, jangan membuang waktu lagi. Kuda kita sama-sama baik, usiamu lebih muda daripada usiaku, tentu kau lebih tangkas. Ha-ha!” Bayisan lalu mencambuk kudanya yang melesat maju. Merah muka Salinga karena ia maklum apa yang dimaksudkan oleh Bayisan tadi, akan tetapi ketika ia mengerling ke arah panggung, ia melihat Tayami kembali tersenyum kepadanya, senyum yang mengatakan berpihak kepadanya. Ia pun tersenyum pula dan mencambuk kuda putihnya yang terbang maju ke depan.

Penonton bersorak riuh rendah. Hebat memang melihat kedua orang gagah itu. Kuda yang mereka tunggangi juga merupakan kuda pilihan. Kuda putih tunggangan Salinga adalah kuda pemberian Puteri Tayami, tentu saja merupakan kuda pilihan dari kandang istana. Adapun kuda merah tunggangan Bayisan juga datang dari kandang istana, karena kuda ini hadiah dari raja sendiri ketika ia berhasil menumpas pasukan musuh beberapa hari yang lalu. Banyak di antara penonton hanya mendengar kegagahan panglima muda dari cerita para anggota pasukan belaka, jarang ada yang pernah menyaksikan sendiri, maka kesempatan yang amat baik tentu saja menggembirakan hati mereka.

mendengar suara berkeresekan di atasnya dan ketika ia mengangkat mukanya, ia melihat seorang kakek tua sudah duduk di atas cabang, hanya dua meter di sebelah atasnya ! Inilah yang membuat ia merasa kaget bukan main. Biarpun ia tadi memperhatikan ketegangan di bawah, namun bagaimana ia tidak dapat mendengar ada orang yang tahu-tahu berada di atasnya ? Ia memperhatikan kakek itu. Kakek yang aneh sekali. Pendek, luar biasa pendeknya paling-paling satu meter tingginya. Tubuhnya, kaki tangannya, kecil seperti kaki tangan anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi kepalanya sebesar kepala orang dewasa, bahkan lebih besar lagi tampaknya karena rambutnya yang penuh uban itu riap-riapan, kumis jenggotnya memenuhi separuh muka, alisnya juga panjang sampai ke pipi, bibir yang merah tampak membayang di antara kumis jenggot, tersenyum-tersenyum lebar dan matanya yang kecil itu bersinar gembira seperti anak yang nakal. Di pundaknya sebelah kanan bertengger seekor burung, burung hantu atau burung malam yang matanya seperti mata kucing, kelihatan cerdik licik dan menakutkan! Sekali pandang saja maklumlah Kwee Seng bahwa kakek pendek aneh yang duduk di sebelah atasnya itu adalah seorang yang berkepandaian tinggi, maka ia bersikap hati-hati dan waspada. Ia tidak pernah mendengar di dunia kang-ouw ada tokoh macam ini, maka ia tidak tahu dari golongan mana kakek ini dan bagaimana pula sepak terjang serta wataknya.

Karena sejak tadi ia sendiri tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya, bahkan ketika naik ke atas pohon itu pun ia mendaki seperti orang biasa, maka Kwee Seng merasa yakin bahwa tak seorang pun dapat menduga ia berkepandaian, juga kakek itu tentu tidak. Maka ia segera pura-pura tidak melihatnya, atau tidak mempedulikannya, tertawa-tawa dan bertepuk-tepuk tangan melanjutkan keasyikannya tadi menonton perlombaan.

Tangkas sekali Salinga dengan kuda putihnya. Sambil mengeluarkan teriakan nyaring, Salinga mencambuk dan kudanya melompat ke atas melewati barisan tombak. Rambut dan ujung baju Salinga berkibar-kibar bersama ekor kuda ketika mereka melayang di atas barisan tombak, selamat sampai di ujung dan turun kembali ke atas tanah. Akan tetapi, lebih hebat sorak-sorai menyambut lompatan kuda merah yang ditunggangi Bayisan. Panglima muda ini sengaja melompat tepat di belakang Salinga dan begitu kuda merahnya melompat diam-diam Bayisan mengerahkan lwee-kang dan gin-kangnya. Ia menjepit perut kudanya dan menambah tenaga loncatan kuda dengan loncatannya sendiri sehingga dia bersama kudanya melayang jauh lebih tinggi daripada Salinga ! Para penonton dengan jelas melihat betapa kuda merah itu semeter lebih berada di atas kuda putih dan melayang lebih cepat. Kalau saja Bayisan menghendaki, bisa saja ia menurunkan kuda merahnya tepat di atas Salinga sehingga pemuda itu dengan kuda putihnya akan celaka. Kalau hal ini terjadi, tentu merupakan kecelakaan yang tidak disengaja, namun ia tetap kuatir kalau-kalau Raja dan Tayami mengetahui rahasianya, selagi para penonton menahan napas dan berseru kaget melihat kuda merah meluncur di atas kuda putih, tiba-tiba Bayisan berseru keras sekali dan tahu-tahu kuda merahnya itu berjungkir balik membuat salto di udara dan turun beberapa meter di sebelah depan kuda putih !

Gemuruh sorak dan tepuk tangan menyambut pertunjukan yang hebat ini. Bahkan Kwee Seng sendiri yang ikut bertepuk tangan, diam-diam terkejut dan kagum menyaksikan kelihaian Bayisan. Ia tahu bagaimana caranya Bayisan melakukan semua itu, dan inilah pula yang menyebabkan ia kagum karana tokoh Khitan itu ternyata amat maju dalam lwee-kang dan gin-kangnya. Kalau semua orang bertepuk dan bersorak, adalah kakek di atas Kwee Seng itu bersungut-sungut, “Ah, bau…! Bau…!” Kwee Seng mendengar ini akan tetapi pura-pura tidak dengar dan tidak tahu, karena sebenarnya ia pun tidak mengerti mengapa kakek itu mengatakan bau. Bau apa sih ?

Dengan lagak dibuat-buat Bayisan sengaja minggirkan kudanya dan memberi isyarat dengan tangan agar Salinga melarikan kudanya terlebih dahulu memasuki barisan anak panah. Para penonton sudah diam semua karena kini mereka mulai merasa tegang. Bagaimanakah gerangan cara kedua orang gagah ini menghadapi hujan anak panah ? Apakah juga seperti yang dilakukan peserta pertama tadi bersembunyi di bawah perut kuda ? Cara seperti ini memang amat populer di antara orang-orang Khitan dan boleh dibilang setiap prajurit mempelajarinya, walaupun tidak banyak berhasil baik karena cara ini hanya dapat menyelamatkan diri dalam keadaan darurat saja. Dalam keadaan darurat saja. Dalam keadaan perang sungguh-sungguh, cara ini malah kurang tepat karena biarpun tubuh sendiri tidak terkena anak panah, kalau kudanya yang terkena dan roboh, bukankah penunggangnya akan tergencet dan memudahkan musuh untuk membunuhnya? Betapapun juga, cara lain tidak ada dan kini menyaksikan dua orang muda itu memasuki barisan panah, tentu saja para penonton, termasuk raja sendiri dan juga puteri mahkota, memandang penuh perhatian dan ketegangan.

Ketika kudanya telah memasuki barisan anak panah, begitu terdengar menjepret dan anak panah menyambar-nyambar, sekali menggentakkan tubuhnya, Salinga telah meloncat dan berdiri di atas punggung kudanya, berdiri sambil menekuk lutut membuat tubuhnya sependek mungkin, hampir berjongkok. Dengan begini, anak panah menyambar ke arahnya ke seluruh bagian tubuh dari kepala sampai ke kaki ! Karena para pemanah itu memang diperintahkan untuk memanah Si Penunggang Kuda dan sama sekali tidak boleh memanah kudanya. Begitu puluhan batang anak panah itu sudah menyambar dekat, tiba-tiba Salinga berseru keras dan tubuhnya mencelat ke atas dalam keadaan masih seperti berjongkok. Kudanya lari ke depan, akan tetapi karena Salinga juga mencelat ke depan, ketika ia turun lagi, tepat kakinya tiba di atas pelana kudanya. Kembali anak panah menyambar, akan tetapi kembali tubuh Salinga mencelat ke atas dan demikianlah secara bertubi-tubi anak panah itu dapat dielakkan sambil meloncat ke atas dengan gerakan yang tangkas sekali !

Sorak-sorai menyambut cara menghindarkan anak-anak panah ini, cara yang dianggap lebih tangkas dan lebih berani daripada cara bersembunyi di perut kuda, akan tetapi sudah tentu saja merupakan cara yang lebih sukar, yang hanya dapat dipelajari orang-orang pandai. Tiba-tiba sorak-sorai lebih menggegap-gempita ketika Bayisan dengan tenangnya memasuki barisan anak panah bersama kudanya yang ia jalankan seenaknya saja. Anak panah menyambar bagaikan hujan ke arahnya, namun panglima muda ini sama sekali tidak membuat gerakan mengelak. Semua orang termasuk raja kaget karena bagaimana orang itu begitu enak-enakan sedangkan puluhan anak panah menyambar dengan cepat ke arahnya ? Akan tetapi tiba-tiba Bayisan menggunakan cambuk di tangan kanan yang diputar-putar cepat sekali, menangkis semua anak panah yang runtuh ke kanan kiri begitu terkena sambaran cambuk yang diputar. Tangan kirinya juga ikut membantu, begitu lengan baju yang kiri menyampok, anak panah menyeleweng atau terpental kembali Kwee Seng diam-diam memuji. Kiranya Bayisan sudah banyak maju dan kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

“Ah, bau…! Tengik dan kecut ! Jembel busuk tak pernah mandi!” Terdengar makian perlahan di sebelah atas Kwee Seng. Mendengar makian ini, Kwee Seng mengerutkan kening. Kurang ajar, pikirnya. Kiranya yang dimaki bau tengik dan kecut adalah dia ! Dengan hati mendongkol Kwee Seng berdongak, memandang kakek itu yang juga memandang kepadanya sambil menutup lubang hidung dengan telunjuk

dan ibu jari yang menjepit hidung.

“Heh-heh, kakek cebol. Bau tengik dan kecut itu datangnya dari jenggot dan kumismu. Coba kau cukur bersih cambang baukmu, tentu lenyap bau tak enak itu, heh-heh-heh!”

Mendengar ini, kakek itu melepaskan dekapan pada hidungnya, lalu tangannya menyambar jenggot dan kumisnya yang panjang, dibawa dekat-dekat ke ujung hidung lalu ia mendengus-dengus dan mencium-cium. Mendadak ia berbangkis dua kali.

“Haching ! Haching ! Apek… apek ! Wah, jembel busuk, kau berani mempermainkan aku, hah ? Burung setan, kau wakili aku pancal hidungnya sampai keluar kecap dan tampar kedua pipinya sampai bengkak-bengkak!” Kakek itu berkata perlahan.

Kwee Seng memang sudah siap sedia menghadapi segala kemungkinan, karena orang takkan dapat menduga apa yang akan dilakukan seorang kakek aneh seperti itu, akan tetapi ia kaget juga ketika tiba-tiba sesosok sinar abu-abu menyambaar ke arah mukanya, kiranya burung hantu itu telah menyerang dengan gerakan terbang yang sama sekali tidak menimbulkan bunyi, tahu-tahu burung itu telah menggunakan paruhnya untuk mematuk hidungnya, disusul tamparan dengan kedua sayap burung itu ke arah kedua pipinya ! Serangan yang hebat sekali, lebih hebat daripada sambaran anak-anak panah yang betapa laju pun.

“Plak-plak-plak!!!” Beberapa helai bulu burung rontok dan burung itu sendiri mengeluarkan suara “huuuk… huuuuk…!” terbang ke atas, lalu lenyap ke atas pohon, mengeluh kesakitan. Hidung Kwee Seng sama sekali tidak mengeluarkan kecap dan sepasang pipinya tidak bengkak-bengkak seperti yang diharapkan kakek cebol itu. Kwee Seng masih duduk enak-enakan dan tidak pedulikan lagi kakek di atasnya, melainkan menonton kelanjutan perlombaan di bawah. Tadi ia menggunakan sentilan dan tamparan mengusir burung tanpa membunuhnya karena ia tahu bahwa burung itu tidak bersalah apa-apa, hanya memenuhi perintah Si Kakek Cebol.

Saat itu, Salinga sudah melarikan kuda putihnya mengelilingi lapangan untuk memperlihatkan ketangkasannya melepas anak panah. Pemuda ini biarpun tidak selihai bayisan namun ketangkasannya sudah cukup untuk menjadi seorang perwira jagoan di dalam barisan Khitan. Gendewanya yang besar dan berat mengeluarkan suara menjepret, hanya dua kali dan tahu-tahu tujuh batang anak panah telah menancap, empat batang anak panah yang kesemuanya tepat mengenai sasaran di bagian yang penting dan mematikan. Tentu saja para penonton, termasuk Puteri Tayami sendiri, menyambut ketangkasan ini dengan tepuk sorak gemuruh, karena jelas bahwa Salinga telah lulus ujian dan patut menjadi calon panglima !

Akan tetapi, apa yang dilihat penonton selanjutnya, benar-benar membuat penonton besorak lebih gemuruh lagi, karena pertunjukan Bayisan benar-benar mengagumkan mereka. Seperti juga Salinga, panglima muda ini melarikan kuda merahnya amat cepat mengelilingi lapangan, demikian cepatnya kuda merah itu lari sehingga merupakan bayangan merah yang bagaikan terbang mengelilingi sasaran. Ketika larinya kuda tiba di depan sasaran, tiba-tiba tampak sinar berkilauan menyambar dari atas kuda menuju

sasaran, dan …. Tiga belas batang hui-to (pisau terbang) telah menancap di tiga belas bagian tubuh yang mematikan yaitu di antara kedua alis, ditenggorokan, di kedua pundak, di kanan kiri dada, di pusar, di kanan kiri lambung, dikedua paha dan kedua lutut!. Tentu saja ini merupakan demonstrasi ilmu melempar senjata yang amat hebat, yang belum pernah disaksikan oleh mereka semua. Memang sebenarnya Bayisan merahasiakan kepandaiannya ini, akan tetapi karena ingin memamerkan kepandaiannya di depan Tayami, untuk mengalahkan Salinga, terpaksa kini ia perlihatkan.

Bau… bau…! He, jembel muda yang tengik. Kau berada di bawahku, baumu naik memenuhi hidungku. Hayo kau bersamaku memeperlihatkan kepada monyet-monyet itu bahwa tidak ada artinya semua pertunjukan ini. Akan tetapi karena kau bau sekali, kau harus berada di atasku, aku menjadi kuda, kau boleh menunggang punggungku!”

Kwee Seng berdongak ia terkekeh geli. Kakek itu tidak tampak lagi mukanya, ditutup baju yang ditariknya ke atas, kemudian tubuh kakek itu melayang jauh ke bawah, di depannya menyambar tangannya untuk ditarik bersama ke bawah. Kwee Seng terkejut, namun ia cepat mengerahkan gin-kangnya yang ikut melayang ke bawah. Maklum bahwa kakek ini memang hendak main-main dan cari perkara, ia merasa gembira dan begitu melihat kakek itu tiba di tanah dalam keadaan merangkak, yaitu kedua tangan menjadi kaki depan, muka seekor keledai kecil sekali, ia tidak merasa sungkan-sungkan lagi dan melayani kehendak Si Kakek, cepat ia melompat dan tepat tiba di punggung kakek itu dengan ringan !

Begitu merasa tubuh jembel muda itu tiba-tiba di punggungnya, Si Kakek memperdengarkan suara meringkik mirip kuda, lalu ia “lari” dengan empat kakinya, lari congklang ke tengah lapangan ! Kwee Seng terkekeh-kekeh, rambutnya riap-riapan, dan ia menoleh ke kanan kiri dengan lagak congkak, meniru lagak Bayisan dan lain-lain peserta tadi. Seolah-olah ia juga seorang peserta yang gagah perkasa menunggang kuda yang tangkas.

Ributlah para penonton, terdengar gelak tawa di sana-sini, lalu memecah terbahak-bahak. Lucu sekali memang. Penunggangnya seorang jembel berpakaian compang-camping penuh tambalan, rambutnya riap-riapan bertelanjang kaki, “kudanya” mirip seekor anjing buduk yang pincang kakinya.

Para perajurit penjaga menjadi marah dan hendak menghalangi Si Gila itu membikin kacau, akan tetapi raja mengangkat tangan mencegah. Sambil tertawa-tawa Raja Kulu-khan berkata, “Biarkan! Biarkan! Bukankah ini merupakan pertunjukan lawak yang menarik?”

Diam-diam Si Kakek aneh itu kagum ketika tadi merasa tubuh jembel muda itu tiba di punggungnya seperti sehelai daun kering. Rasa kagum yang disusul rasa penasaran karena biarpun ia adalah sudah tua bangka, namun ia adalah seorang yang memiliki watak yang tidak mau kalah oleh siapapun juga ! Maka kini ia lari mencongklang ke arah barisan tombak. Kemudian sekali ia menggerakkan kaki tangannya, tubuhnya mencelat ke atas dan hinggap di atas tombak ! Di atas ujung mata tombak yang runcing, yaitu empat buah tombak pertama, tangan dan kakinya menekan ujung itu seperti seekor burung hinggap di

atas cabang ! Kwee Seng terkejut sekali dan diam-diam ia merasa amat kagum.

Gelak tawa dari para penonton seketika terhenti, dan kini para penonton melongok terheran-heran. Raja Kulu-khan sendiri terhenti di tengah-tengah senyumnya. Puteri Tayami bangkit berdiri, dan para penglima, termasuk Kalisani dan Bayisan berubah air mukanya. Ini bukan pelawak-pelawak gila lagi, melainkan pertunjukan yang hebat ! Bayisan segera lari ke arah barisan panah dan memberi perintah dengan suara perlahan, kemudian kembali lagi di tempat semula sambil memandang penuh perhatian.

Tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, kakek yang menjadi kuda itu melangkahkan “empat kakinya” setapak demi setapak melalui ujung mata tombak yang berj ajar-j ajar itu, sedangkan Kwee Seng enak-enak duduk di atas punggungnya. Karena Kwee Seng juga merasa panas perutnya melihat kakek ini seakan-akan memamerkan kepandaiannya, maka diam-diam Kwee Seng tidak menggunakan lagi gin-kangnya, membiarkan tubuhnya memberat dan menindih kakek itu. Akan tetapi, kakek itu cerdik

juga karena sekarang ia cepat melompat-lompat di atas mata tombak, tidak menekankan tangan kaki lagi seperti tadi melainkan memegang dengan tangan lalu melompat sehingga akhirnya ia sampai di baris terakhir lalu melompat ke bawah.

Para penonton sudah sadar kembali dari kaget dan heran, maka kini suara sorak-sorai mengalahkan yang tadi karena sorakan itu diseling tawa terbahak saking kagum dan lucu. Akan tetapi, suara ketawa mereka itu hanya sebentar karena “orang gila” bersama “kudanya” yang aneh sekali itu telah mendekati barisan anak panah. Apakah mereka benar-benar hendak memasuki barisan itu ? Mencari mampus ?

Ketegangan memuncak karena Kwee Seng yang masih enak-enak “nongkrong” di punggung kakek itu seakan-akan tidak melihat bahaya, membiarkan dirinya dibawa ke dalam barisan anak panah, di mana ahli-ahli panah telah siap melepaskan anak panah. Busur telah mereka tarik sepenuhnya ! Bahkan di panggung kehormatan, tidak ada suara berkelisik semua mata memandang penuh ketegangan, agaknya napasnya pun ditahan menanti detik-detik yang akan datang itu. Dari mulut Raja Kulu-khan terdengar suara. “Ah, sayang… kalau sampai mereka tewas…” Akan tetapi suara ini hanya seperti bisik-bisik saja, pula pada saat seperti itu, siapa orangnya tidak ingin menyaksikan bagaimana kelanjutan peristiwa aneh itu ? Raja sendiri biarpun mulut berkata demikian, hatinya amat ingin menyaksikan dan tentu akan melarang kalau ada yang hendak menghalangi orang gila itu memasuki barisan anak panah.

Para ahli panah yang telah menerima bisikan dari Bayisan, menanti sampai orang gila itu tiba di tengah-tengah lapangan, dan tepat pula seperti yang diperintahkan Bayisan, mereka memanah untuk membunuh, maka begitu terdengar suara tali busur menjepret disusul berdesirnya anak panah yang puluhan batang banyaknya, semua anak panah itu selain menuju ke arah bagian-bagian berbahaya dari tubuh Kwee Seng, juga ada yang mengaung lewat di pinggir dan aras kepalanya intuk mencegah orang gila itu mengelak !

“Aduh celaka…!” “Ahh…!” “Mati dia…!”

Bahkan Raja Kulu-khan sendiri mengeluarkan seruan kecewa, demikian pula puteri Tayami dan yang lain-lain ketika melihat betapa anak-anak panah yang banyak sekali mengenai tubuh “orang gila” itu sehingga tubuhnya seperti penuh anak panah, di kanan diri dada, bahkan ada yang menancap di mukanya ! Akan tetapi anehnya, “kuda” kecil itu masih merayap terus dan orang gila itu masih enak-enak duduk mengantuk, seakan-akan anak-anak panah yang menancap pada dada dan mukanya itu tidak dirasainya sama sekali ! Kembali anak panah yang banyak sekali menyambar, kini menuju kepada “kuda”! Berbeda dengan peraturan yang berlaku dalam ujian ketangkasan itu, kini karena telah diberi komando Bayisan yang tahu bahwa dua orang itu adalah orang-orang pandai yang agaknya memancing keributan, mereka lalu menghujani “kuda” itu dengan anak panah pula.

“Anak kecil itu pun mati…!” teriak orang-orang yang menonton yang tentu saja sudah dapat menduga bahwa kuda itu adalah kuda palsu, bukan kuda melainkan seorang manusia. Tentu seorang anak-anak karena kaki tangannya begitu kecil dan pendek.

Aneh pula, seperti halnya penunggangnya, kuda palsu itu pun sama sekali tidak mengelak dan tubuhnya pun penuh dengan anak panah ! Akan tetapi, lebih aneh lagi, dia masih saja merangkak-rangkak, bahkan kini menuju ke lapangan di mana tersedia sasaran boneka besar untuk menguji kepandaian memanah !

Barulah kini orang-orang melihat bahwa anak-anak panah yang disangka menancap di dada orang gila itu sama sekali bukan menancap, melainkan di kempit di antara kedua kelek (ketiak) dan di antara jari-jari tangan, malah yang tadinya disangka menancap di muka ternyata adalah anak-anak panah yang kena gigit oleh “orang gila” itu. Entah bagaimana cara “kuda” itu menerima anak-anak panah yang kelihatannya masih menancap pada tubuhnya, karena tubuh itu masih tertutup baju yang dikerobongkan di kepala ! Setelah tiba di lapangan memanah, tiba-tiba “kuda” itu lari congklang, bukan main cepatnya, agaknya tidak kalah cepatnya oleh larinya kuda !

Tentu saja kenyataan itu membuat para penonton menjadi kaget, kagum, heran, dan gembira sehingga meledaklah sorak-sorai mereka, melebihi yang sudah-sudah, Raja Kulu-khan sampai bangkit dari kursinya, Puteri Mahkota Tayami bertukar pandang dengan Salinga, para panglima berbisik-bisik. Yang lucu adalah Kalisani. Panglima tua ini meloncat-loncat seperti anak kecil kegirangan dan mulutnya tiada hentinya berteriak.

“Hebat… ! Mereka orang-orang sakti ! Ah, mana bisa kepandaian kita dibandingkan dengan mereka?”

Hanya Bayisan yang mukanya menjadi pucat dan matanya menyinarkan kemarahan. Pada saat itu ia mendekati seorang pangeran yang juga merupakan putera Raja Kulu-khan dari selir, tapi lebih tua daripada Bayisan yang bernama Pangeran Kubakan. Pangeran ini pucat mukanya, lalu berbisik-bisik dengan Bayisan.

“Siapakah mereka…?” tanya Kubakan. “Aku tidak tahu…” jawab Bayisan bingung.

“Jangan-jangan…” Kubakan menoleh ke arah ayahnya yang berdiri dan memandang kagum ke arah lapangan, malah kini kedua tangan raja itu ikut pula bertepuk tangan memuji bersama semua penonton.

“Ah, agaknya Sribaginda pun tidak mengenalnya. Akan tetapi siapa tahu ? Malam ini kita harus turun tangan…”

Kembali Kubakan menoleh ke arah ayahnya, lalu mengangguk-angguk. Sekali lagi dua orang pangeran ini bertukar pandang, kemudian mereka berpisah. Bayisan lari ke arah lapangan untuk menyaksikan dua orang aneh itu dari dekat.

Setelah lari cepat seputaran dengan cara berloncatan seperti kuda, kakek yang menggendong Kwee Seng itu tiba di depan sasaran, jaraknya sama dengan jarak para peserta tadi. Tiba-tiba Kwee Seng mengeluarkan seruan bentakan yang nyaring sekali sehingga beberapa orang penonton yang jaraknya terlalu dekat roboh terguling. Berbareng dengan seruan ini tubuhnya meloncat turun dari punggung “kuda” dan sekali tubuhnya itu terbang cepat ke arah sasaran.

“Cap-cap-cap-cap!!!” Cepat sekali anak-anak panah itu terbang susul-menyusul menancap pada sasaran, tak sebatang pun luput. Akan tetapi para penonton memandang bingung karena tidak tampak bekasnya. Setelah mata yang memandang ridak begitu kabur lagi oleh berkelebatnya anak-anak panah itu, tampaklah oleh mereka betapa semua anak panah yang dilepaskan oleh Kwee Seng itu telah menancap di atas gagang tiga belas buah pisau terbang papnglima muda ! Gegerlah semua penonton saking kagum dan herannya, akan tetapi diam-diam Bayisan menjadi pucat mukanya. Terang bahwa “orang gila” itu memusuhinya, buktinya anak-anak panah itu menancap di gagang hui-to yang tadi ia lepaskan.

Tiba-tiba terdengar suara berkakakan dan “kuda” itu meloncat berdiri di atas dua kaki belakangnya dan tampaklah seorang kakek cebol yang wajahnya seperti wajah patung dewa di kelenteng, kedua tangannya sudah menggenggam banyak sekali anak panah sambil masih tertawa-tawa bergelak, keuda tangannya bergerak ke depan dan meluncurlah anak-anak panah itu beterbangan ke arah sasaran. Anehnya, anak-anak panah itu terbangnya masih berkelompok dan setelah dekat dengan boneka lalu terpisah menjadi lima rombongan yang menyambar ke leher, kedua pundak dan kedua pangkal lengannya, dan kedua kakinya telah patah !

Tanpa mempedulikan keributan semua orang di situ, Kwee Seng kini berdiri dengan kakek aneh. Kakek itu tertawa bergelak-gelak, Kwee Seng pringas-pringis menyeringai aneh, keduanya orang-orang aneh atau mungkin juga keduanya sudah miring otaknya !

“Hoa-ha-hah, jembel muda bau busuk, kau lumayan juga ! Aku harus mencobamu!”

“Kakek cebol menjemukan ! Siapa gentar menghadapi kesombonganmu?” Kwee Seng menjawab, karena betapapun juga, ia mendongkol melihat kakek ini amat jumawa (tekebur). Biarpun Kwee Seng

berdiri acuh tak acuh, sama sekali tidak memasang kuda-kuda seperti ahli silat, seperti juga kakek itu yang berdiri dengan kaki dibengkokkan lucu, namun diam-diam Kwee Seng siap dan waspada karena maklum bahwa seorang sakti seperti kakek ini, sekali menyerang tentulah amat hebat sekali.

Akan tetapi pada saat itu. Bayisan sudah mengerahkan pasukannya, siap mengurung dan menyerang dua orang ini yang dianggapnya mengacau dan hendak membikun rusuh. Melihat ini, kakek cebol tertawa bergelak. “Aha-ha-ha ! Sudah cukup main-main hari ini, jembel muda bau, kakekmu tidak ada waktu laagi, sudah lapar dan mengantuk. Biarlah lain hari aku akan mencarimu dan tak mau sudah sebelum kau terkencing-kencing oleh pukulanku!” Setelah berkata demikian, kakek itu melompat-lompat, makinlama makin itnggi lompatannya yang modelnya seperti katak melompat. Akhirnya ia melompat demikian tingginya sampai melewati kepala orang-orang banyak. Celaka bagi mereka yang terinjak kepala atau pundaknya oleh kaki itu, karena ia lalu dipergunakan seperti batu loncatan oleh Si Kakek Aneh sehingga kepala dan pundak mereka menjadi kotor oleh debu dan lumpur, malah hebat dan lucunya, sambil menjejak kepala dan pundak orang, kadang-kadang Si Kakek melepas kentut yang nyaring sekali sambil tertawa terbahak-bahak !

Kwee Seng juga segera melompat, melampaui kepala banyak orang, kemudian mempercepat larinya menjauhkan diri dari tempat itu dan lenyap di antara pohon-pohon yang lebat tumbuh di lembah Sungai Huang-ho. Gegerlah keadaan di situ dan Bayisan cepat mengatur pasukannya untuk melakukan penjagaan keras pada hari itu dan seterusnya.

Kalisani mendekatinya dan berkata, “Bayisan, mengapa kau ribut-ribut sendiri ? Jelas bahwa dua orang sakti itu adalah petualang-petualang yang tidak mempunyai niat buruk terhadap kita, bahkan gaknya mereka berdua itu pun tidak saling mengenal. Menghadapi orang-orang seperti itu, lebih baik kita menyambut mereka sebagai tamu agung untuk dijadikan sahabat. Mengapa kita harus menjaga dan mengejar-ngejar mereka seperti maling?”

Dengan wajah berkerut, Bayisan menjawab, “Paman Kalisani, pandangan kita dalam hal ini berbeda. Betapapun juga, aku tidak bisa mengabaikan kewajibanku menjaga keamanan Sribaginda. Malam ini harus aku sendiri yang melakkukan perondaan di dalam istana. Siapa tahu, mereka itu akan datang dengan niat busuk, dan mereka amatlah lihai.” Setelah berkata demikian, Bayisan meninggalkan Kalisani yang masih terpengaruh oleh kepandaian dua orang itu dan kadang-kadang tertawa sendiri mengingat akan kelucuan sepak terjang mereka. Juga diam-diam ia ingin sekali bertemu dan berkenalan dengan mereka. Kalisani biarpun seorang tokoh Khitan, namun pengalamannya sudah luas sekali. Sudah bertahun-tahun ia merantau ke selatan, mengenal baik ilmu silat selatan, bahkan ia seorang ahli silat yang pandai pula. Namun belum pernah ia mendengar tentang seorang pemuda gila dan kakek cebol yang begitu aneh.

Malam itu indah sekali. Tiada angin mengusik daun. Alam tenang tentram pada malam hari itu setelah siangnya tadi terdengar sorak-sorai menggetarkan air sungai. Bulan purnama memenuhi permukaan bumi dengan sinarnya yang tenang redup, membuat air Sungai Huang-ho berkilauan seperti kaca. Agaknya

sudah terlalu letih semua penduduk Paoto setelah sehari penuh tadi berpesta dan menonton keramaian, sehingga malam ini mereka tidak mempunyai nafsu lagi untuk menikmati keindahan sinar bulan. Kecuali, tentu saja anak-anak dan orang-orang muda yang masih selalu haus akan kesenangan.

Di tepi sungai sebelah barat kota yang sunyi, terdapat dua orang menunggang kuda perlahan-lahan, menyusuri tepi pantai sungai yang amat lebar itu. Mereka itu sepasang orang muda, yang perempuan cantik jelita dengan rambut disanggul ke atas, kudanya berwarna kuning, yang pria tampan gagah, memakai topi terhias bulu, kudanya berbulu seputih salju. Mereka ini adalah Salinga dan Tayami.

“Betapa bahagianya hatiku, hanya bulan yang mengetahuinya, Dinda Tayami,” terdengar pemuda itu berkata, suaranya seperti orang bersyair. “Lihat bulan selalu tersenyum-senyum kepadaku!”

“Sudah semestinya kita berbahagia, Kanda Salinga, setelah tadi kita merasa gelisah dan bimbang. Oh, kau tidak tahu betapa tadi aku menggigil ketika kau mengajukan permintaanmu kepada ayah. Aku tahu bahwa yang akan kau minta tentulah diriku namun aku amat kuatir kalau-kalau ayah merubah pendiriannya selama ini. Setelah ayah mengabulkan permintaanmu, barulah hatiku lega sekali.” Mereka menghentikan kuda di bawah pohon di tepi sungai, saling pandang penuh mesra.

“Sesungguhnyalah Adinda, aku pun tadi merasa betapa jantungku berdebar, serasa hendak pecah menanti keputusan Sribaginda. Memang kesempatan yang amat bagus. Aku diterima menjadi calon panglima, kemudian disuruh memilih pahala. Di depan semua panglima dan ponggawa, tentu saja aku segera memilih tanganmu sehingga persetujuan Sribaginda merupakan keputusan Sang Ayah, banyak saksinya. Alangkah bahagia hatiku….”

Akan tetapi wajah Tayami membayangkan kekuatiran. “Betapapun juga Kanda Salinga, kita harus waspada terhadap Kanda Panglima Bayisan. Kau lihat tadi sinar matanya ketika mendengar keputusan ayah menerima kau sebagai calon mantunya ? Aku masih merasa ngeri kalau mengingat sinar matanya, seolah-olah memancarkan cahaya berapi.”

“Ah, dia kan masih kakak tirimu sendiri. Cinta kasihnya terhadapmu tentu lebih condong kepada cinta kasih seorang kakak terhadap adiknya.”

“Kau tidak tahu, Kanda Salinga. Sudahlah, aku teringat akan dua orang aneh tadi. Apakah maksud mereka datang mengacaukan perlombaan bangsa kita ? Si Pengemis Muda itu terang seorang Han dari selatan, entah kalau Si Kakek Cebol. Betapapun juga, mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa. Siapa gerangan mereka?”

“Memang aneh-aneh watak orang sakti di dunia ini. Sudah banyak aku mendengar akan hal itu. Tak perlu kuatir, mereka itu kurasa bukanlah orang-orang jahat. Dinda Tayami, lihat, betapa indahnya air sungai, betapa tenang dan bening seperti kaca. Mari kita berperahu. Di sana ada perahu kecil.”

Tanpa menjawab Tayami menuruti permintaan kekasihnya. Mereka berdua meloncat turun dari kuda, menambatkan kendali kuda, menambatkan kendali kuda pada batang pohon, kemudian kembali bergandengan tangan dan bernisik-bisik mesra keduanya berjalan menuju ke pinggir sungai, memasuki perahu kecil, melepaskan ikatan perahu dan tak lama kemudian perahu itu meluncurlah ke tengah. Salinga mendayung perahu, Tayami duduk bersandar kepadanya, merebahkan kepala pada dadanya yang bidang.

Kwee Seng berdiri di belakang pohon, memandang dengan melongo, mata terbelalak lebar dan mulut ternganga. Memang hebat pemandangan itu, muda-mudi berkecimpung dalam madu asmara, di bawah sinar bulan purnama di dalam biduk kecil yang diombang-ambingkan alunan air sungai sehalus kaca, rambut halus juita terurai di atas dada, kata-kata bermadu dibisikkan, sayup-sayup sampai mendesir di telinga Kwee Seng bagaikan nyanyian sorgaloka.

Tanpa disadarinya, dua titik air mata menetes turun membasahi pipi Kwee Seng. Pikirannya menjadi kabur, ingatannya melayang-layang jauh di masa lampau, membayangkan wajah Liu Lu Sian, wajah Ang-siauw-hwa, membuat ia tersenyum-senyum dengan mata berkaca-kaca basah. Kemudian terbayang wajah nenek di Neraka Bumi dan tiba-tiba Kwee Seng mengeluh, memaki diri sendiri dan menampari mukanya sambil tertawa setengah menangis. Gilanya kumat kalau ia teringat kepada nenek itu karena tiap kali teringat akan segala yang ia perbuat dengan nenek itu di dalam Neraka Bumi, dadanya seperti diaduk-aduk dengan pelbagai macam perasaan. Ada rasa malu, kecewa, menyesal, bercampur dengan rasa girang, rindu muncul silih berganti, maka tidak heran kalau ia menjadi seperti orang gila.

Mendadak Kwee Seng sadar kembali. Telinganya yang amat tajam menangkap suara-suara yang tidak wajar, suara orang berbisik-bisik tak jauh dari sini. Cepat ia menyelinap, mendekat. Di bawah bayangan pohon yang amat gelap, ia melihat tiga orang laki-laki, orang-orang Khitan yang berpakaian hitam.

“Ah, mengapa justeru kita yang mendapat tugas berat ini…?” Seorang di antara mereka mengeluh. “Mereka tidak pandai berenang.”

“Goblok ! Apa kau hendak membantah perintahnya ? Justeru mereka tidak pandai berenang, maka memudahkan tugas kita. Ingat, kita menggulingkan perahu, lalu menarik perahu agar hanyut sehingga besok orang-orang hanya akan tahu bahwa mereka berdua yang sedang main-main di perahu tertimpa malapetaka, perahu terguling dan mereka mati tenggelam..”

“Ahhh…!” Kembali yang seorang mengeluh, yaitu orang yang tubuhnya tinggi kurus, tidak seperti yang dua orang temannya, yang bertubuh kokoh kekar.

adalah ahli-ahli berenang, dan maklum pula bahwa ada komplotan jahat hendak berkhianat dan membunuh kedua orang muda yang asyik dimabok cinta itu. Ia menarik napas berkali-kali kemudian dengan hati mangkal karena perasaannya amat terganggu oleh peristiwa ini, karena suara hatinya tidak membolehkan dia berpeluk tangan saja, ia lalu menghantam sebatang pohon terdekat dengan tangan dimiringkan.

“Krakkkk!” Batang pohon itu tidak dapat menahan hantaman tangan Kwee Seng yang amat ampuh, bagian yang dihantam pecah remuk dan patah, membuat pohon itu tumbang seketika !

“Eh, apa itu.. .?” terdengar dari jauh suara Salinga ketika mendengar suara keras robohnya batang pohon.

“Aiihhh, Kanda… celaka…!” Disusul jeritan Tayami karena pada saat itu, perahu mereka tiba-tiba terguling membalik dan mereka berdua terlempar ke dalam air ! Perahu itu meluncur cepat dalam keadaan tertelungkup menuju ke tengah dan diseret arus air menjauhi mereka.

Dua orang itu megap-megap, meronta-ronta dengan kaki tangan mereka, akan tetapi karena tidak pandai berenang, banyak sudah air yang memasuki mulut.

“Tolonggg…!” Tayami menjerit akan tetapi suaranya terhenti oleh air yang memasuki hidung dan mulut.

“Dinda…!” “Kanda Salinga… ooohh…!” Mereka saling menangkap tangan, akan tetapi justeru ini membuat gerakan mereka mengurang dan tubuh mereka tenggelam kembali. Cepat-cepat mereka menendang-nendang dengan kaki dan muncul lagi gelagapan. Pada saat itu, entah darimana datangnya, sebatang pohon meluncur di dekat mereka.

“Dinda Tayami, cepat pegang ini…!” Salinga berseru girang. Tak lama kemudian mereka sudah berhasil menangkap batang pohon itu. Dengan bantuan Salinga, Tayami sudah duduk di atas batang pohon sambil muntahkan air yang telah banyak diminumnya. Salinga sendiri memeluk batang pohon itu agar jangan bergulingan. Pakaian mereka basah kuyup, rambut mereka terurai, akan tetapi untuk sementara mereka selamat.

“Kanda… mengapa perahu kita terguling..?” “Entahlah, tidak perlu dipikirkan sekarang. Paling penting kita harus dapat mendayung batang ini ke pinggir…” Dengan susah payah Salinga berusaha menggerak-gerakkan batang itu ke pinggir akan tetapi karena tidak didayung, batang pohon itu bergerak perlahan menurutkan arus sungai.

Pada saat itu, terdengar suara “huuukk.. huuukkk…!” dan menyambarlah seekor burung yang matanya berkilauan seperti mata kucing.

“Ihhh… burung hantu…!” seru Tayami dengan perasaan ngeri. Sudah menjadi kepercayaan di daerah itu bahwa burung hantu ini pembawa berita kematian, maka siapa bertemu dengannya tentu akan kematian seorang keluarga.

Ia… membawa bungkusan…!” seru pula Salinga terheran-heran.

Betul saja. Kuku burung itu mencengkram tali di mana tergantung sebuah bungkusan kecil. Anehnya, begitu melihat mereka, burung itu menyambar turun dan sayapnya hampir saja mengenai muka Tayami kalau saja gadis ini tidak cepat-cepat mengelak sambil berseru jijik. Akan tetapi burung itu bukannya menyerang, melainkan melepas tali dan bungkusan itu jatuhlah ke depan Tayami, tepat di atas batang pohon !

“Ada tulisannya!” Tayami berseru heran melihat tulisan huruf-huruf besar dan jelas di atas bungkusan. Kalau huruf-huruf itu tidak jelas tentu takkan dapat terbaca di bawah sinar bulan.

“LEKAS PULANG DAN ISI BUNGKUSAN INI PAKAI SEBAGAI BEDAK BARU MALAPETAKA DAPAT DICEGAH.”

Tayami membaca dengan keras sehingga terdengar pula oleh Salinga. “Apa artinya ini?” “Entahlah, Dinda. Semua terjadi serba aneh. Perahu kita terguling. Kita hampir celaka lalu tiba-tiba ada batang pohon ini yang menolong kita. Lalu muncul burung hantu yang memberi bungkusan dan surat. Ihhh, benar-benar menyeramkan sekali. Kausimpan bungkusan itu, mari bantu aku mendayung batang pohon itu dengan kaki agar dapat minggir.” Mereka segera bekerja dan betul saja, sedikit demi sedikit batang kayu itu bergerak ke pinggir.

Sementara itu, tiga orang Khitan yang telah selesai melakukan pekerjaan jahat itu, cepat-cepat menyelam dan berenang ke pinggir kembali. Akan tetapi begitu mereka muncul di pinggir dan meloncat ke darat, mereka kaget sekali karena di depan mereka telah berdiri seorang yang terkekeh-kekeh dan ketika mereka mengenal laki-laki gila yang pagi tadi mengacaukan perlombaan, mereka menjadi ngeri.

“Heh-heh-heh, setelah membunuh lalu lari, ya?” Kwee Seng menegur. Tentu saja mereka bertiga terkejut bukan main. Pekerjaan mereka tadi mencelakai dan membunuh puteri mahkota adalah perbuatan yang amat berbahaya. Kalau diketahui orang, tentu mereka akan celaka, maka sekarang mendengar bahwa jembel gila ini sudah melihat perbuatan mereka, serentak dua orang yang bertubuh tinggi besar itu mencabut golok dan menerjang Kwee Seng ! Cepat gerakan mereka ini, dan cepat pula hasil ayunan golok mereka, yaitu kepala mereka sendiri terbelah oleh golok masing-masing sampai hampir menjadi

dua dan tubuh mereka masuk ke dalam sungai dan hanyut. Hanya dengan sentilan jari tangannya Kwee Seng telah membuat golok yang menyerangnya itu membalik dan “makan tuan”. Sejenak ia memandang dua buah mayat yang menggantikan tempat Tayami dan Salinga itu, kemudian sekali berkelebat ia telah meloncat dan menangkap tengkuk orang ke tiga yang melarikan diri ketakutan.

“Ke mana kau hendak lari?” “Am… ampun… hamba tahu pekerjaan itu terkutuk… akan tetapi hamba terpaksa… kalau tidak mau melakukan tentu akan dibunuh…”

“Hemm, aku mendengar tadi keraguan melakukan perbuatan itu. Siapa yang memaksamu melakukannya?”

“Panglima Muda Bayisan…” “Mengapa ? Mengapa Puteri Mahkota dan Salinga akan dibunuh?” “Hamba… hamba tidak tahu… mungkin karena cemburu setelah … Sribaginda menerima Salinga menjadi calon mantu…”

“Hemmm…” Kwee Seng mengangguk-angguk, kemudian tangannya bergerak cepat, tahu-tahu orang Khitan itu telah roboh tertotok, lumpuh seluruh tubuhnya. Kemudian tubuhnya berkelebat lenyap dalam kegelapan malam.

Setelah berhasil mendarat, Salinga dan Tayami segera lari ke arah kuda mereka, meloncat ke punggung kuda setelah melepaskan kendali dari pohon, lalu membalapkan kuda kembali ke kota raja.

“Aku merasa kuatir sekali akan terjadi sesuatu di kota raja.” Kata Salinga.

Akan tetapi ketika mereka tiba di kota raja, keadaan sunyi saja dan biasa, tidak ada tanda-tanda terjadi sesuatu yang luar biasa. Karena pakaian mereka masih basah dan hati mereka masih tegang oleh peristiwa tadi, mereka langsung melarikan kuda sampai depan istana. “Kau pulanglah, Kanda Salinga. Urusan tadi tak perlu kau ceritakan siapapun juga. Biar besok kita bertemu lagi dan kita bicarakan peristiwa itu!” Salinga mengangguk. Tentu saja ia tidak mau bicara dengan siapa juga tentang peristiwa itu sebelum ia dapat membuka rahasianya. Peristiwa yang penuh keanehan. Akan tetapi sebelum ia memutar kudanya pergi, ia berkata.

“Adinda, sebaiknya kau jangan tergesa-gesa memakai isi bungkusan sebagai bedak. Lebih baik suruh selidiki dulu oleh ahli obat.”

Tayami mengangguk dan mereka pun berpisah. Tayami menyerahkan kuda kepada pelayan lalu berlari-lari memasuki istana, langsung ke kamarnya untuk bertukar pakaian. Sedangkan Salinga

melarikan kuda menuju ke rumahnya. Setelah para pelayan sibuk membuka pakaian basah sang puteri cantik ini, menyusuti tubuhnya sampai kering kemudian menggantikan pakaian bersih, lalu hendak menyanggul rambut yang belum kering benar itu, Tayami mengusir mereka, “Keluarlah kalian semua, aku ingin mengaso seorang diri.”

Sambil tersenyum-senyum maklum para pelayan itu berlari-lari ke luar dan Tayami duduk di atas pembaringan dengan rambut terurai, seluruh tubuh terasa segar karena habis digosoki. Bungkusan yang dijatuhkan burung hantu tadi ia buka perlahan-lahan. Ternyata isinya adalah sejenis obat bubuk yang halus sekali berwarna kuning. Begitu dibuka tercium bau yang amat harum oleh Tayami. Ganda harum ini dan tulisan yang menganjurkan agar ia memakainya sebagai bedak untuk mencegah malapetaka, membuat tangannya gatal-gatal untuk memakainya. Akan tetapi pesan kekasihnya Salinga, bergema di telinganya. Salinga benar juga, pikirnya. Aku tidak tahu siapa yang memberi bedak ini, dan mencegah malapetaka apakah ? Di sini aman saja. Puteri Tayami bimbang antara kepercayaannya akan tahyul dan pesan kekasihnya. Bungkusannya yang sudah terbuka itu ia taruh di atas meja dekat pembaringan.

Gadis puteri raja ini sama sekali tidak tahu bahwa sejak tadi ada dua pasang mata mengintai, penuh kekaguman. Mana ia bisa tahu kalau dua orang yang mengintainya itu datang seperti setan, tanpa menimbulkan suara sedikitpun ketika kaki mereka menginjak genteng ? Dan dua pasang mata itu memandang kagum ke dalam kamar pun tak dapat dipersalahkan. Siapa orangnya, apalagi kalau ia laki-laki, takkan terpesona dan kaagum melihat gadis puteri mahkota yang cantik jelita itu ? Melihat di ditukar pakaiannya oleh para dayang keraton, kemudian kini dengan pakaian tidur yang longgar dan tipis, duduk termenung seorang diri di dalam kamar yang indah.

Kwee Seng yang datang terlebih dulu karena sejak tadi ia dari jauh mengikuti puteri ini, bersembunyi di sudut atas, maka ia pun tahu akan kedatangan sesosok bayangan yang gesit dan ringan sekali, bayangan yang membuka genting dan mengintai ke dalam pula, seperti dia ! Berdebar hatinya ketika mengenal orang itu, yang bukan lain adalah Bayisan, orang yang dicarinya untuk dibalas kecurangannya beberapa tahun yang lalu. Akan tetapi karena ia pun terpesona oleh keindahan di dalam kamar itu, Kwee Seng tidak segera turun tangan, ingin melihat dulu apa yang dikehendaki Bayisan. Pula, melihat kecantikan Puteri Khitan, teringatlah ia kepada Liu Lu Sian dan Ang-siauw-hwa, membuatnya termenung dan penyakitnya hampir kumat !

Tayami yang sedang termenung di dalam kamarnya, mengenang peristiwa di sungai tadi. Teringat akan kekasihnya, ia tersenyum. Akan tetapi ketika ia teringat akan peristiwa yang amat berbahaya, ia bergidik, lalu ia memandang bubukan obat. Apakah maksudnya pengirim obat ini ? Benarkah burung itu bukan burung biasa ? Ataukah disuruh oleh orang sakti ? Sungguh harum baunya bedak ini. Dan kalau memang bedak ini dipakai untuk menolak malapetaka, apa salahnya ? Tentu pengirimannya berniat baik. Tidak akan ada salahnya kalau aku pakai sedikit untuk coba-coba. Berpikir demikian, jari-jari tangan yang halus runcing itu bergerak mendekati kertas, hendak menjumput bedak. Akan tetapi tiba-tiba gerakannya tertahan karena melihat bayangan berkelebat, api lilin bergoyang-goyang. Cepat Tayami menggunakan tangan kiri merapatkan bajunya yang terbuka lebar sambil membalikkan tubuhnya. Terbelalak matanya saking kaget melihat bahwa di dalam kamar itu telah berdiri seorang laki-laki yang tersenyum-senyum, Bayisan !

“Kanda Panglima Bayisan…! Apa artinya ini ? Mengapa kau masuk ke sini secara begini?” tayami bertanya gagap.

Bayisan memandang dengan sinar mata seakan-akan hendak menelan bulat-bulat gadis di depannya, mulutnya menyeringai lalu terdengar ia berkata, suaranya gemetar penuh perasaan, “Alangkah indahnya rambutmu, Tayami… alangkah cantik engkau…., bisa gila aku karena berahi melihatmu….”

Tiba-tiba Tayami bangkit dan matanya memancarkan sinar kemerahan. “Kanda Panglima ! Apakah kau sudah gila ? Berani kau bersikap kurang ajar seperti ini di depanku ? Pergi kau keluar ! Kau tahu apa yang akan kauhadapi kalau kuadukan kekurangajaranmu ini kepada ayah!”

Bayisan tertawa mengejek. “Huh ! Ayahmu juga ayahku. Biarlah ia tahu asal malam ini kau sudah menjadi milikku. Tayami, kita sama-sama memiliki darah Raja Khitan, kau lebih patut menjadi isteriku daripada menjadi isteri seorang berdarah seorang berdarah pelayan rendah. Tayami, kekasihku, marilah… aku sudah terlalu lama menahan rindu berahiku…!” Bayisan melangkah maju, kedua tangannya dikembangkan seperti akan memeluk, mataya yang agak kemerahan karena nafsu itu disipitkan, mulutnya menyeringai.

“Bayisan, berhenti ! Kalau tidak, sekali aku menjerit kamar ini akan penuh pelayan dan penjaga. Ke mana hendak kau taruh mukamu?”

“Heh-heh-heh, menjeritlah manis. Para pelayan dan penjaga sudah kutidurkan pulas dengan totokan-totokanku yang lihai. Lebih baik kau menurut saja kepadaku, kau layani cinta kasihku dengan suka rela karena… karena terhadapmu aku tidak suka menggunakan kekerasan.”

Mengingat akan kemungkinan ucapan Bayisan yang memang ia tahu amat lihai. Tayami menjadi makin panik. Sambil berseru keras ia melompat ke samping, menyambar pedangnya, yaitu pedang Besi Kuning yang tergantung di dinding, lalu tanpa banyak cakap lagi ia menerjang Bayisan dengan bacokan maut mengarah leher. Cepat bacokan ini dan dilakukan dengan tenaga yang cukup hebat, karena Tayami adalah seorang puteri mahkota yang terlatih, menguasai ilmu pedang yang cukup tinggi. Akan tetapi, tentu saja silat puteri mahkota ini tak ada artinya.

“Heh-heh, Tayami yang manis. Kau seranglah, makin ganas kau menyerang, akan makin sedap rasanya kalau nanti kau menyerahkan diri kepadaku!”

aku ini Puteri Mahkota dan kau ini Panglima Muda ? Lupakah kau bahwa pagi tadi ayah telah menjodohkan aku dengan Salinga ? Bayisan, sadarlah dan pergi dari sini sebelum kupenggal lehermu!”

“Heh-heh-heh, Tayami bidadari jelita. Kau hendak memenggal leherku, kau penggallah, sayang. Tanpa kepala pun aku masih akan mencintaimu!” Bayisan mengejek dan betul-betul ia mengulur leher mendekatkan kepalanya, malah mukanya akan mencium pipi gadis itu.

Tayami marah sekali, pedangnya berkelebat, benar-benar hendak memenggal leher itu dengan gerakan cepat sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Bayisan tertawa, miringkan tubuh menarik kembali kepalanya. Pedang menyambar lewat, jari tangan Bayisan bergerak menotok pergelangan lengan dan… pedang itu terlepas dari pegangan Tayami, terlempar ke sudut kamar !

Bayisan sudah mencengkeram rambut yang panjang riap-riapan itu ke depan mukanya, mencium rambut sambil berkata lirih, “Alangkah indahnya rambutmu… halus… ah, harumnya…”

Tayami kaget sekali, tangan kirinya diayun memukul kepala, akan tetapi dengan mudah saja Bayisan menangkap tangan ini dan ketika tangan kanan Tayami juga datang memukul, kembali tangan ini ditangkap. Kedua tangan gadis itu kini tertangkap oleh tangan kanan Bayisan yang tertawa menyeringai.

“Kaulihat, alangkah mudahnya aku membuat kau tidak berdaya!” Tangan kirinya mengelus-elis dagu yang halus. “Kau baru tahu sekarang bahwa aku amat kuat, amat kosen, jauh lebih lihai dari Salinga, dari laki-laki manapun juga di Khitan ini!” Sekali mendorong, ia melepaskan pegangan tangannya dan tubuh Tayami terguling ke atas pembaringan.

Gadis itu takut setengah mati, lalu nekat, menerjang maju lagi sambil melompat dari atas pembaringan. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi lemas ketika jari tangan Bayisan menotok jalan darah bagian thian-hu-hiat yang membuat seluruh tubuhnya menjadi seperti lumpuh ! Dengan lagak tengik Bayisan kembali mengusap pipi gadis itu sambil tertawa.

“Heh-heh, betapa mudahnya kalau aku mau menggunakan kekerasan. Kau tak dapat bergerak sama sekali, bukan ? Akan tetapi aku tidak menghendaki demikian, juitaku. Aku ingin kau menyerahkan diri secara sukarela kepadaku, ingin kau membalas cinta kasihku, bukan menyerah karena terpaksa dan tak berdaya. Nah, bebaslah dan kuberi kesempatan berpikir.” Tangannya menotok lagi dan benar saja. Tayami dapat bergerak kembali. Muka gadis ini sudah pucat sekali, akan tetapi sepasang matanya berapi-api saking marahnya. Ia akan melawan sampai mati, tidak nanti ai mau menyerah ! Baru sekarang ia teringat untuk menjerit, karena tadinya, selain terpengaruh oleh ucapan Bayisan yang katanya telah merobohkan semua penjaga dan pelayan, juga tadinya ia merasa malu kalau peristiwa ini diketahui orang luar. Akan tetapi melihat kenekatan Bayisan yang seperti gila itu, ia tidak peduli lagi dan tiba-tiba Tayami menjerit sekuatnya. Aneh dan kagetlah ia ketika tiba-tiba lehernya terasa sakit dan sama sekali ia tidak dapat mengeluarkan suara!

“Heh-heh-heh, jalan darahmu di leher kutotok, membuat kau menjadi gagau ! Nah, insyaflah, Tayami, betapa mudahnya bagiku. Dengan tertotok lemas dan gagu, apa yang dapat kaulakukan untuk menolak kehendakku ? Akan tetapi aku tidak mau begitu… aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, berikut hatimu. Manis, kau balaslah cintaku….” Bayisan melangkah maju lalu memeluk.

Tayami memukul-mukulkan kedua tangannya, akan tetapi pukulan-pukulan itu sama sekali tidak terasa agaknya oleh Bayisan. Pemuda Khitan yang seperti gila ini menciumi muka Tayami, mebujuk-bujuk dan terdengar kain robek. Terengah-engah Tayami ketika Bayisan untuk sejenak melepaskannya sambil memandang dengan mulut menyeringai. Baju Tayami bagian atas sudah robek, wajah gadis ini pucat sekali.

Celaka pikirnya. Tidak ada senjata lagi. Tiba-tiba Tayami teringat akan bungkusan bedak di atas meja. Kalau bedak itu mengenai mata, tentu untuk sesaat Bayisan takkan dapat membuka matanya, mungkin ada kesempatan baginya untuk lari ke luar kamar.

Bayisan sudah hendak memeluk lagi. “Tayami sayang, aku cinta kepadamu… kau layanilah hasratku….”

Tiba-tiba Tayami memukulkan tangan kirinya ke arah ulu hati Bayisan. Melihat pukulan itu keras juga dan mengarah bagian berbahaya, sambil tertawa Bayisan menangkap tangan ini dan hendak mendekap tubuh Tayami. Mendadak tangan Tayami yang kanan menyambar dan segumpak uap putih menghantammuka Bayisan yang sama sekali tidak menyangka-nyangka itu. Begitu melihat sambitannya mengenai sasaran, Tayami cepat melompat ke belakang sampai mepet dinding belakang pembaringan.

“Kau… kau apakan mukaku ? Tayami… kau gunakan apa ini…?” Ia terhuyung-huyung menuju ke meja rias di mana terdapat sebuah cermin. Ketika ia memandang wajahnya pada cermin itu, keluar teriakan liar seperti bukan suara manusia lagi.

Tayami yang sudah tak dapat menahan ngerinya, menutupi mukanya dengan kedua tangannya tak sanggup ia melihat lebih lama lagi. Ia memang seorang gadis perkasa, tak gentar menghadapi perang, sudah biasa melihat mayat bertumpukan sebagai korban perang, melihat orang terluka parah. Akan tetapi peristiwa yang mereka hadapi sekarang ini benar-benar mengerikan sekali, apalagi kalau ia ingat betapa tadi sebelum Bayisan datang, hampir saja ia menggunakan bedak beracun itu untuk membedaki mukanya. Menggigil kengerian ia kalau membayangkan betapa kulit mukanya yang halus itu akan digerogoti perlahan-lahan oleh racun itu, betapa mukanya akan tak berkulit lagi, seperti muka iblis yang seburuk-buruknya.

pembaringan di mana Tayami duduk bersimpuh kengerian dan ketakutan.

“Kau… kau… setan betina… kucekik lehermu sampai mampus…” Ia menubruk maju, akan tetapi tiba-tiba ia berseru kesakitan dan terhuyung ke belakang, tangan kirinya meraih ke arah pundak kanannya yang terasa sakit, lumpuh dan gatal panas. Ketika ia berhasil mencabut jarum hitam yang menancap di pundak kanannya, ia berteriak kaget, mundur beberapa langkah dan berdongak ke atas. Di sana, di celah-celah genteng, tampaklah sebuah muka menyeringai, muka seorang muda yang rambutnya riap-riapan. Bayisan tentu saja mengenal jarum hitamnya, maka tadi ia kaget setengah mati melihat pundaknya dilukai orang dengan jarumnya sendiri, kini melihat muka itu, muka jembel muda yang siang

tadi membikin kacau, teringatlah ia akan muka Kwee Seng, teringatlah ia akan semua peristiwa di puncak Liong-kwi-san.

“Liong… kwi…. san ….” Bayisan mengeluh, mukanya pucat sekali dan tahulah ia bahwa tidak harapan baginya untuk menghadapi pemuda gila yang ternyata Kwee Seng adanya itu. Tahu pula ia bahwa tak mungkin ia dapat tinggal di istana setelah apa yang ia lakukan terhadap Tayami, setelah kini mukanya menjadi seperti muka iblis yang mengerikan. Terdengar ia melengking panjang seperti lolong seekor srigala hutan yang kelaparan ketika tubuhnya berkelebat ke arah jendela dan lenyaplah Bayisan di dalam kegelapan malam.

Kwee Seng tersenyum puas. Tak perlu ia membunuh Bayisan, cukup dengan mengembalikan jarumnya di tempat yang sama. Ia puas melihat Bayisan sudah cukup terhukum oleh perbuatannya sendiri yang jahat. Siapa kira, bungkusan yang ia duga dikirim kakek cebol untuk puteri mahkota Khitan itu, ternyata berisi bedak beracun dan secara tidak sengaja telah dapat memberi hukuman mengerikan kepada Bayisan si manusia jahat ! Akan tetapi kakek cebol itu juga jahat. Bagaimana seandainya bedak itu dipergunakan oleh puteri mahkota ? Kwee Seng bergidik. Tak sampai hatinya membayangkan hal ini. Dia amat sayang akan segala yang indah-indah, kalau sampai wajah yang jelita itu, dikupas kulitnya oleh bedak beracun, hiiiih !

“Kakek cebol, kau tua bangka iblis, tak dapat kudiamkan saja perbuatanmu ini!” kata Kwee Seng di dalam hatinya dan ia pun meloncat turun dari atas genteng, menghilang di dalam gelap

Pada keesokan harinya, kota raja bangsa Khitan itu geger ketika Pangeran Kubakan mengumumkan bahwa Raja Kulu -khan telah meninggal dunia dengan mendadak karena terserang sakit setelah menghadiri pesta perlombaan kemarin. Tentu saja hal ini mengejutkan bangsa Khitan yang merasa sayang kepada raja yang adil itu. Semua orang berkabung untuk kematian yang tak tersangka-sangka ini.

Adapun di dalam istana sendiri, tidak kurang hebatnya pukulan yang tak tersangka-sangka ini. Tayami mengisi jenazah ayahnya dan para panglima hanya saling pandang dengan penuh pengertian. Tidak ada tanda-tanda penganiayaan, akan tetapi tahu-tahu raja telah meninggal dunia di atas pembaringannya, tidak ada tanda luka, tidak ada tanda minuman atau makanan beracun. Akan tetapi bagi pandang mata yang awas dari para panglima yang tahu akan ilmu silat tinggi, yaitu misalnya Kalisani Si Panglima Tua, atau juga panglima-panglima kosen seperti Pek-bin Ciangkun (Panglima Muka Putih) dan Salinga, dapat menduga bahwa kematian raja mereka itu adalah akibat pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga

sin-kang dengan hawa beracun. Dari sembilan lubang di tubuh raja itu keluar darah menghitam, ini tandanya keracunan hebat oleh pukulan yang merusak tubuh sebelah dalam.

Ketidak hadiran Bayisan menimbulkan dugaan mereka ini bahwa Bayisan itulah yang telah membunuh raja, ayahnya sendiri! Mungkin karena tak senang dengan pengangkatan Salinga sebagai calon panglima dan mantu raja. Akan tetapi, setelah mereka mendengar penuturan puteri mahkota tentang kekurangajaran Bayisan memasuki kamar Sang Puteri lalu dapat diusir oleh Puteri Tayami dengan bubuk beracun sehingga Bayisan menghilang, para panglima itu tidak mau membicarakan hal ini di luaran. Hanya diam-diam mereka mencari Bayisan untuk membalas dendam atas kematian raja, namun semenjak saat itu Bayisan menghilang sehingga orang menyangka bekas panglima itu tentu telah tewas oleh racun.

Sejak kematian Raja Kulu-khan itulah, timbul perebutan kedudukan raja di Khitan. Tentu saja menurut sepatutnya karena yang menjadi puteri mahkota adalah Tayami, maka puteri inilah yang menggantikan kedudukan raja. Akan tetapi ia seorang wanita yang merasa kurang mampu mengendalikan pemerintahan, sedangkan calon suaminya hanyalah keturunan pelayan, maka hal ini menjadi perdebatan sengit di antara mereka yang pro dan yang kontra. Sayangnya bagi Tayami, yang pro dengannya tidaklah banyak. Terutama sekali yang mendukungnya adalah panglima tua Kalisani, yang bicara penuh semangat di depan sidang.

“Biarpun tak dapat disangkal bahwa pimpinan puteri tidaklah sekuat pimpinan putera, akan tetapi apa gunanya kita semua menjadi pembantu raja? Kalau ada urusan, cukup ada kita yang akan maju dengan persetujuan raja. Puteri Tayami adalah puteri mahkota, hal ini mendiang raja sendiri yang menetapkan. Kalau kita sekarang tidak mengangkat beliau menjadi pengganti raja, bukankah itu berarti kita tidak mentaati perintah mendiang raja kita?” Demikian antara lain Kalisani membela kedudukan Puteri Tayami!

Akan tetapi, pihak lain membantah dengan sama kerasnya. “Kita semua maklum bahwa bangsa Khitan menghadapi banyak tantangan di selatan. Kalau kita sebagai bangsa yang gagah perkasa tidak sekarang mencari tempat di selatan mau tunggu sampai kapan lagi? Dan penyerbuan itu membutuhkan bimbingan seorang raja yang gagah berani, seorang laki-laki sejati. Kita percaya bahwa Paduka Puteri Tayami juga seorang wanita jantan yang gagah perkasa, akan tetapi betapapun juga, langkah seorang wanita tidak selebar laki-laki. Biarlah Puteri Tayami juga tinggal dalam kedudukannya sebagai puteri mahkota yang kita hormati, akan tetapi pimpinan kerajaan harus berada di tangan seorang pangeran.”

Perdebatan sengit terjadi, akan tetapi akhirnya Kalisani kalah suara. Sebagian besar para panglima dan ponggawa memilih Pangeran Kubakan untuk mengganti kedudukan ayahnya menjadi raja di Khitan! Hal ini mengecewakan hati Kalisani yang amat tidak suka melihat perebutan kekuasaan yang bukan haknya itu, apalagi karena dengan adanya perdebatan itu, setelah ia mengalami kekalahan, tentu saja golongan

raja ini akan membencinya. Maka pada hari itu juga ia meletakkan jabatan dan meninggalkan Khitan untuk melakukan perantauan yang menjadi kesukaannya sejak dahulu. Karena kesukaannya akan merantau ini pula agaknya yang membuat Kalisani tidak juga mau menikah. Sebelum pergi meninggalkan Khitan, Kalisani hanya minta diri kepada Puteri Tayami.

“Harap Paduka menjaga diri baik-baik. Setelah ayah Paduka wafat, belum tentu keadaan pemerintahan akan sebaik sebelumnya. Terutama sekali, harap Paduka berhati-hati terhadap Bayisan, kalau-kalau dia kembali lagi. Selamat tinggal, Tuan Puteri. Selamanya saya akan berdoa untuk kebaikan Paduka.”

Tentu saja Tayami telah maklum bahwa Kalisani sejak dahulu juga menaruh hati cinta kepadanya. Ia menjadi terharu sekali karena maklum bahwa perasaan cinta panglima tua ini benar-benar perasaan yang jujur dan tulus ihklas, yang murni. Ia maklum pula akan pembelaan Kalisani kepadanya di dalam sidang. Mengingat betapa sekaligus ia ditinggal pergi ayahnya dan Kalisani, dua orang yang benar-benar menaruh sayang kepadanya, tak terasa pula Tayami menangis. Puteri ini lalu mengambil dua buah roda emas yang menjadi berang permainan dan kesayangannya sejak kecil, menyerahkannya kepada Kalisani sambil berkata.

“Terima kasih atas segala kebaikan yang telah kaulimpahkan kepadaku, Kalisani. Semoga para dewa yang akan membalasnya dan terimalah sepasang roda emas milikku ini sebagai kenangan-kenangan.”

Kalisani mengejap-mengejapkan kedua matanya yang menjadi basah, menerima sepasang roda emas, mencium kedua benda mengkilap itu, lalu mengundurkan diri sambil berkata, “Sampai mati aku takkan berpisah dari sepasang roda emas ini…”

Biarpun kemudian Kubakan menjadi raja bangsa Khitan, namun Puteri Tayami masih mendampingi kakak tirinya ini dan kekuasaan puteri mahkota ini masih besar sekali. Raja Kubakan yang baru tidak berani mengganggu Tayami, karena sungguhpun para panglima membenarkan dia yang menggantikan raja, namun boleh dibilang semua panglima masih bersetia penuh kepada puteri mahkota. Raja Kubakan merasa kehilangan sekali karena Bayisan pergi tanpa pamit dan tidak ada orang tahu entah kemana perginya. Kalau seandainya ada Bayisan di sampingnya, tentu rasa ini akan merasa lebih kuat dan ada yang diandalkan.

Demikianlah, secara singkat dituturkan di sini bahwa Puteri Mahkota Tayami menikah dengan Salinga dan mereka berdua hidup rukun dan saling mencinta. Tidak terjadi sesuatu di antara raja baru dan Puteri Tayami maupun suaminya karena mereka tidak saling menganggu, bahkan di waktu bangsa Khitan berperang menghadapi musuh, keduanya berjuang bersama-sama. Akan tetapi, sesungguhnya di dalam hati mereka itu terdapat semacam “perang dingin”.

Kita kembali kepada Kwee Seng yang meninggalkan istana dan terus keluar dari kota raja. Sambil menggerogoti sepotong paha kambing panggang yang ia sambar secara sambil lalu dari dapur istana sebelum keluar, ia berjalan seenaknya di malam hari itu. Tak pernah ia mengaso karena bagi Kwee Seng yang kondisi tubuhnya sudah luar biasa anehnya itu, tidak tidur selama seminggu atau tidak makan selama sebulan bukan apa-apa lagi, juga sebaliknya ia bisa saja tidur tiga hari tiga malam terus-menerus atau

sekali makan menghabiskan makanan sepuluh orang!

Kwee Seng masih enak-enak berjalan memasuki hutan setelah matahari muncul mengusir kegelapan malam. Dan pada saat itulah ia mendengar suara orang tertawa-tawa, suara tergelak-gelak yang amat dikenalnya karena itulah suara Si Kakek Cebol! Mendengar suara Si Cebol, bangkitlah amarah di hati Kwee Seng. Si Kakek Cebol yang kejam! Sekejam-kejamnyalah orang yang berniat merusak muka yang demikian cantiknya seperti muka Puteri Mahkota Tayami! Kakek iblis itu harus diberi hajaran. Dengan tangan kanan memegang tulang paha kambing, tangan kiri menyambar sehelai daun yang kaku dan lebar, Kwee Seng lalu mempercepat langkahnya menghampiri arah suara ketawa.

Kakek cebol itu tampak berdiri dibawah sebatang pohon besar, tertawa-tawa sabil memeriksa muka seorang yang menggeletak di depqn kakinya. Ketika Kwee Seng mengenal orang yang menggeletak itu, ia terheran-heran dan kaget, karena orang itu bukan lain adalah Bayisan ! Memang aneh kakek itu, ia membungkuk, mengamat-amati muka Bayisan yang rusak, lalu terpingkal-pingkal ketawa lagi, membungkuk lagi, memeriksa dengan jari-jari tangan, lalu terkekeh-kekeh lagi seperti orang gila.

“Huah-hah-hah, lucu perbuatan si tangan jail iblis siluman ! Muka Si Cantik halus yang kuarah, kiranya malah bocah tolol ini yang terkena ! Heh-heh-heh!”

Makin yakin kin hati Kwee Seng bahwa kakek cebol ini sengaja mengirim obat bubuk beracun untuk merusak muka Tayami, maka ia menjadi makin marah. Di samping kemarahannya, ia pun ingin sekali mengerti mengapa kakek itu hendak berbuat sedemikian kejinya terhadap Tayami. Untuk melihat apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh kakek itu Kwee Seng menanti sesaat. Bayisan agaknya pingsan, atau mungkin sudah mati, karena tubuhnya tidak bergerak sama sekali.

Tiba-tiba kakek itu berseru. “Aiiihhh, bau… bau…! Bau jembel tengik… !”

Terkejutlah Kwee Seng, dengan kening berkerut ia menggerakkan muka ke kana kiri, hidungnya kembang-kempis mencium-cium. Benar-benarkah ia berbau begitu tengik sehingga kehadirannya tercium oleh kakek itu ? Tentu saja pakaiannya yang sudah butut itu tak enak baunya, akan tetapi tidaklah begitu tengik sehingga dapat tercium dari jarak sepuluh meter jauhnya. Ia mendongkol dan berbareng juga kagum. Kakek cebol itu tentu sengaja memakinya dan kenyataan bahwa kakek itu dapat mengetahui kehadirannya menunjukkan kelihaiannya. Terpaksa ia muncul dari balik pohon dan melangkah maju menghampiri.

Kakek itu berdiri membelakanginya dan kini kakek itu mencak-mencak berjingkrakan sambil mengoceh. “Wah, baunya, baunya makin keras ! Jembel busuk tengik ini kalau tidak cepat dicuci bersih, bisa meracuni keadaan sekelilingnya. Wah, bau… bau… tak tertahankan… !” Kakek itu lalu berbangkis-bangkis.

dipandang!” Ia memaki. “Sudah mukamu seperti monyet tua, tubuhmu cebol, mulutmu kotor watakmu pun keji seperti ular berbisa !”

Kakek itu kini membalikkan tubuhnya dan menghadapi Kwee Seng, matanya dibelalakkan lebar, mengintai dari balik alisnya yang panjang dan berjuntai ke bawah menutupi mata. “Jembel tengik, jembel bau, kiranya benar engkau yang mengotori hawa udara di sini ! Ucapanmu tentang muka, tubuh dan mulutku tidak keliru. Memang mukaku seperti monyet, apakah kau mengira bahwa muka monyet itu lebih buruk daripada muka orang. Hah-hah-hah, coba kau tanya kepada monyet betina, muka monyet siapa yang lebih gagah menarik, muka monyet jantan berbulu ataukah mukamu yang licin menjijikkan !

Tubuhku memang cebol, lebih baik cebol daripada merasa tubuhnya besar dan gagah sendiri tapi tanpa isi seperti tubuh yang menggeletak di sini. Tentang mulut kotor, memang kau benar. Mulut manusia mana yang tidak kotor ? Segala macam bangkai dimasukkan ke mulut, sedangkan yang keluar dari mulut pun selalu kotoran-kotoran melulu. Bukankah segala penyakit disebabkan oleh yang masuk melalu mulut, dan bukankah segala cekcok dan ribut disebabkan oleh apa yang keluar melalui mulut? Memang mulut manusia kotor dan bau pula! Huah-hah-hah! Tapi tentang watak keji seperti ular berbisa? Eh, jangan kau menuduh dan memaki sembarangan, bocah jembel!”

Kwee Seng tersenyum mengejek dan menggerogoti sisa daging yang menempel di tulang paha, sedangkan dengan daun lebar ia mengipasi lehernya, padahal hawa udara di pagi hari itu amat dingin.

“Kakek cebol, omonganmu memang tidak keliru dan mendengar omonganmu tadi, agaknya kau tahu juga akan kebenaran. Akan tetapi, kau menyangkal watakmu yang keji berbisa, padahal sudah ada dua macam bukti di depan mata.”

Kakek itu meloncat-loncat dan membanting-bantingkan kakinya di atas tanah, mukanya memperlihatkan kejengkelan dan kemarahan. “Iihh… oohh… aku adalah Bu Tek Lojin! Selamanya belum pernah ada orang berani memaki kepada Bu Tek Lojin. Tapi hari ini kau jembel muda busuk tengik berani bilang bahwa Bu Tek Lojin berwatak keji dan dua buktinya. Heh, bocah, jangan main-main dengan Bu Tek Lojin. Hayo katakan, apa buktinya?”

Diam-diam Kwee Seng terheran-heran. Kakek ini memiliki nama yang hampir sama dengan Bu Kek Siansu, manusia setengah dewa yang suci dan yang tidak membutuhkan apa-apa lagi, yang sudah hampir dapat membebaskan diri sepenuhnya daripada ikatan lahir. Akan tetapi kakek ini namanya saja sudah membayangkan kesombongan. Bu Tek Lojin ! Orang Tua Tanpa Tanding! Belum pernah Kwee Seng mendengar nama ini. Banyak tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti ia kenal, baik mengenal muka maupun hanya mengenal nama, akan tetapi tak pernah ia mendengar nama Bu Tek Lojin! Ada Sin-jiu Couw Pa Ong, Ban-pi Lo-cia, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, Hui-kiam-eng Tan Hui, Kim-tung Lo-kai, disamping tokoh-tokoh besar yang menjadi ketua partai persilatan seperti Kian Hi Hosiang Ketua Siauw-lim-pai, Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun pai, dan lain-lain. Dari mana munculnya kakek cebol yang mengaku bernama Orang Tua Tanpa Tanding ini?

agaknya malah hendak menolongnya, bukan? Tadi kulihat betapa kau menotok beberapa jalan darah untuk mencegah menjalarnya racun di mukanya. Mengapa kau menolong seorang busuk dan jahat seperti Bayisan? Bukankah orang-orang gagah tahu bahwa membantu

pekerjaan penjahat sama artinya dengan diri sandiri melakukan kejahatan ? Bukti pertama sudah jelas, kau membantu Bayisan Si Jahat !”

Tiba-tiba kakek cebol yang mengaku bernama Bu Tek Lojin itu tertawa bergelak, kembali tubuhnya meloncat-loncat berjingkrakan seperti seorang anak kecil diberi kembang gula. “Ho-ho-ho-hah! Ada anak ayam mengejar terbang seekor garuda! Kau anak ayamnya dan aku garudanya!” Ia tertawa-tawa lagi.

Kwee Seng mendongkol sekali. Kakek ini selain lihai ilmunya, juga lihai mulutnya, seperti anak yang nakal sekali. Akan tetapi ia diam saja mendengarkan.

“Bocah, kau tahu apa tentang membantu? Tahu apa tentang menolong? Tahu apa tentang jahat dan baik? Membantu tidak sama dengan menolong, akan tetapi jahat tidak ada bedanya dengan baik, kau tahu??”

Kwee Seng seakan-akan menghadapi teka-teki. “Kakek sombong, apa bedanya membantu dan menolong?”

“Uuhhh, goblok! Kalau dia ini melakukan sesuatu dan aku ikut-ikutan mendorong agar apa yang ia lakukan itu berhasil, itu namanya membantu. Melihat lebih dulu sebab dan akibat sebelum berbuat, itulah membantu. Tanpa mempedulikan sebab dan akibatnya lalu turun tangan, itulah menolong. Siapapun juga dia, apa sebabnya dan bagaimana akibatnya, tidak peduli, pendeknya harus turun tangan, itulah penolong yang sejati!” Kakek itu bicaranya seperti orang membaca sajak, pakai irama dan berlagu pula sukar dimengerti. Akan tetapi Kwee Seng terkejut karena mengenal filsafat ini, biarpun diucapkan seperti sajak berkelakar, namun adalah kata-kata filsafat yang amat dalam! Mulailah ia kagum dan tidak lagi main-main.

“Bu Tek Lojin, sekarang aku ingin tahu, mengapa kaukatakan bahwa jahat tidak ada bedanya dengan baik?”

“Ho-ho-hah-hah, memang kau bodoh dan goblok! Semua menusia bodoh dan tolol, termasuk aku! Semua manusia goblok itu merasa diri pintar, termasuk aku! Apa bedanya baik dan buruk? Apa bedanya siang dan malam? Apa bedanya ada tidak ada? Kalau tidak ada matahari, mana ada siang malam? Kalau tidak tahu, mana bisa ada atau tidak ada? Kalau tidak menyayang diri sendiri, mana ada buruk dan baik? Ha-ha-ha! Eh bocah, siapa namamu?”

“Aku yang muda dan bodoh bernama… Kim-mo Taisu!” Kwee Seng sengaja memakai nama ini untuk menandingi kesombongan Si Kakek. Ia memang telah mempunyai nama poyokan Kim-mo-eng (Pendekar Aneh Berhati Emas), akan tetapi untuk mempergunakan nama Kim-mo-eng, berarti memperkenalkan dirinya sendiri, padahal ia sudah merasa malu untuk menghidupkan lagi nama Kwee Seng yang di anggap sudah mati terpendam di Neraka Bumi, maka kini ia sengaja menamakan dirinya Kim-mo Taisu yang berarti Guru Besar Setan Emas!”

“Wah, wah, namamu hebat! Pandai kau memilih nama, memang memilih nama bebas, boleh pakai apa saja. Dalam hal ini kita cocok, maka aku pun memilih nama Bu Tek Lojin, huah-hah-hah! Eh. Kim-mo Taisu yang tidak patut bernama Kim-mo Taisu karena masih muda, aku Tanya, apakah kau seorang baik?”

Ditanya begini Kwee Seng melengak dan tak dapat menjawab.

“Ha-ha-ha, tentu saja dalam hatimu kau menjawab bahwa kau ini seorang baik. Tidak ada di dunia ini orang yang mengaku dirinya orang jahat. Biarpun mulutnya bilang jahat, hatinya tetap mengaku baik. Jadi, siapakah dia yang baik? Yang baik adalah dirinya sendiri, dan orang yang melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya sendiri, dianggap orang baik pula. Siapakah dia yang dinamakan orang jahat? Yang jahat adalah orang yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, nah, mereka ini tentu akan disebut jahat. Baik dan jahat tidak ada, sama saja, yang ada hanya penilaian di hati orang yang membedakan demi kesenangan diri sendiri. Yang menyenangkan diri dianggap baik, yang tidak menyenangkan diri dianggap buruk. Ha-ha-ha-ha! Menolong yang dianggap baik, itu bukan menolong namanya! Bukan menolong orang, melainkan menolong diri sendiri, menyenangkan perasaan sendiri. Mengertikah kau, Kim-mo Taisu yang goblok?”

Di dalam hatinya Kwee Seng kembali terkejut. Kakek cebol ini kiranya bukan sembarangan orang! Betapapun juga, hatinya tidak puas. Kakek ini sifatnya terlalu berandalan, terlalu liar dan bahkan mungkin keliarannya dan suka menggunakan aturannya sendiri itu dapat menimbulkan bahaya bagi orang lain.

“Bu Tek Lojin, kau boleh mengeluarkan alasan apapun juga, boleh kau membongkar-bongkar filsafat untuk mencari kebenaran, sendiri. Akan tetapi aku melihat sendiri betapa kau memberi sebungkus bubuk racun kepada Puteri Mahkota Tayami dengan nasihat supaya dia memakai bubuk itu membedaki mukanya. Apa kau mau bilang bahwa perbuatanmu ini termasuk baik? Kau hendak membikin rusak muka yang begitu cantik bukankah itu perbuatan keji sekali? Kalau kau masih mengaku seorang manusia, di mana perikemanusiaanmu?”

“Huah-hah-hah! Memang aku bukan manusia biasa, aku setengah dewa! Tentang pengiriman obat itu, memang ku sengaja, dan memang maksudku baik. Baik sekali! Kau tahu apa yang menyebabkan semua keributan itu? Apa yang menyebabkan pemuda-pemuda tolol itu berlomba dan saling membenci? Tak lain untuk memperebutkan hati Puteri Mahkota! Dan mengapa mereka berlomba memperebutkan hati

Puteri Mahkota? Karena dia cantik jelita! Ha-ha-ha! Karena itu aku berusaha melenyapkan kecantikannya. Kecantikan hanya sebatas kulit muka! Kalau obatku dapat mengupas kulit mukanya, hendak kulihat apakah para pemuda itu akan mau memperebutkannya. Inilah namanya menghilangkan akibat dengan membongkar sebabnya!”

“Hemm, membongkar sebab secara merusak tanpa mengenal kasihan seperti itu, benar-benar mencerminkan hatimu yang keji. Kau tua bangka yang benar-benar berhati iblis!”

“Uwaaaahh! Kim-mo Taisu, mulutmu lancang benar! Apa kau mau mengajak aku berkelahi?” “Bukan mau berkelahi, melainkan mau memberi hajaran kepadamu!” “Wah-wah, kau mau menghajar aku? Heh-heh-heh! Ada ular kecil mau menghajar seekor naga. Lucu… lucu      !”

Makin mendongkol hati Kwee Seng. Benar sombong kakek ini, tadi menyamakan dia anak ayam dan dirinya sendiri garuda, sekarang memaki dia ular kecil dan mengangkat dirinya sendiri seekor naga! “Biarpun naga, kalau matanya buta dan merusak sana-sini, apa boleh buat, wajib dihajar!”

“Bagus, mari kaulayani aku beberapa jurus!” Kakek itu berkata, lalu meloncat ke kiri dan memasang kuda-kuda yang aneh, kedua sikunya mepet pinggang, jari-jari tangan terbuka dan miring, tubuhnya doyong ke depan, pundaknya diangkat pula ke depan, matanya melirak-lirik, persis gaya seekor jago aduan yang akan dipersabungkan! Melihat kakek itu tidak bersenjata, Kwee Seng menyelipkan tulang paha kambing dan daun ke pinggangnya, kemudian ia pun menghampiri kakek itu, memasang kuda-kuda dan diam-diam ia mengerahkan sin-kangnya seperti yang ia pelajari di Neraka Bumi karena ia cukup maklum bahwa betapapun aneh dan lucu sikap kakek itu, namun sudah terbukti kemarin betapa kakek ini memiliki lwee-kang yang amat kuat serta gin-kang yang amat tinggi. Lawan ini amat berbahaya, dan dengan cerdik Kwee Seng lalu menanti sambil siap siaga, tidak mau menyerang lebih dulu.

Bu Tek Lojin, sekarang aku ingin tahu, mengapa kaukatakan bahwa jahat tidak ada bedanya dengan baik?”

“Ho-ho-hah-hah, memang kau bodoh dan goblok! Semua menusia bodoh dan tolol, termasuk aku! Semua manusia goblok itu merasa diri pintar, termasuk aku! Apa bedanya baik dan buruk? Apa bedanya siang dan malam? Apa bedanya ada tidak ada? Kalau tidak ada matahari, mana ada siang malam? Kalau tidak tahu, mana bisa ada atau tidak ada? Kalau tidak menyayang diri sendiri, mana ada buruk dan baik? Ha-ha-ha! Eh bocah, siapa namamu?”

“Aku yang muda dan bodoh bernama… Kim-mo Taisu!” Kwee Seng sengaja memakai nama ini untuk menandingi kesombongan Si Kakek. Ia memang telah mempunyai nama poyokan Kim-mo-eng (Pendekar Aneh Berhati Emas), akan tetapi untuk mempergunakan nama Kim-mo-eng, berarti memperkenalkan dirinya sendiri, padahal ia sudah merasa malu untuk menghidupkan lagi nama Kwee Seng yang di anggap sudah mati terpendam di Neraka Bumi, maka kini ia sengaja menamakan dirinya Kim-mo Taisu yang berarti Guru Besar Setan Emas!”

“Wah, wah, namamu hebat! Pandai kau memilih nama, memang memilih nama bebas, boleh pakai apa

saja. Dalam hal ini kita cocok, maka aku pun memilih nama Bu Tek Lojin, huah-hah-hah! Eh. Kim-mo Taisu yang tidak patut bernama Kim-mo Taisu karena masih muda, aku Tanya, apakah kau seorang baik?”

Ditanya begini Kwee Seng melengak dan tak dapat menjawab.

“Ha-ha-ha, tentu saja dalam hatimu kau menjawab bahwa kau ini seorang baik. Tidak ada di dunia ini orang yang mengaku dirinya orang jahat. Biarpun mulutnya bilang jahat, hatinya tetap mengaku baik. Jadi, siapakah dia yang baik? Yang baik adalah dirinya sendiri, dan orang yang melakukan sesuatu yang menyenangkan dirinya sendiri, dianggap orang baik pula. Siapakah dia yang dinamakan orang jahat? Yang jahat adalah orang yang melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya sendiri, nah, mereka ini tentu akan disebut jahat. Baik dan jahat tidak ada, sama saja, yang ada hanya penilaian di hati orang yang membedakan demi kesenangan diri sendiri. Yang menyenangkan diri dianggap baik, yang tidak menyenangkan diri dianggap buruk. Ha-ha-ha-ha! Menolong yang dianggap baik, itu bukan menolong namanya! Bukan menolong orang, melainkan menolong diri sendiri, menyenangkan perasaan sendiri. Mengertikah kau, Kim-mo Taisu yang goblok?”

Di dalam hatinya Kwee Seng kembali terkejut. Kakek cebol ini kiranya bukan sembarangan orang! Betapapun juga, hatinya tidak puas. Kakek ini sifatnya terlalu berandalan, terlalu liar dan bahkan mungkin keliarannya dan suka menggunakan aturannya sendiri itu dapat menimbulkan bahaya bagi orang lain.

“Bu Tek Lojin, kau boleh mengeluarkan alasan apapun juga, boleh kau membongkar-bongkar filsafat untuk mencari kebenaran, sendiri. Akan tetapi aku melihat sendiri betapa kau memberi sebungkus bubuk racun kepada Puteri Mahkota Tayami dengan nasihat supaya dia memakai bubuk itu membedaki mukanya. Apa kau mau bilang bahwa perbuatanmu ini termasuk baik? Kau hendak membikin rusak muka yang begitu cantik bukankah itu perbuatan keji sekali? Kalau kau masih mengaku seorang manusia, di mana perikemanusiaanmu?”

“Huah-hah-hah! Memang aku bukan manusia biasa, aku setengah dewa! Tentang pengiriman obat itu, memang ku sengaja, dan memang maksudku baik. Baik sekali! Kau tahu apa yang menyebabkan semua keributan itu? Apa yang menyebabkan pemuda-pemuda tolol itu berlomba dan saling membenci? Tak lain untuk memperebutkan hati Puteri Mahkota! Dan mengapa mereka berlomba memperebutkan hati Puteri Mahkota? Karena dia cantik jelita! Ha-ha-ha! Karena itu aku berusaha melenyapkan kecantikannya. Kecantikan hanya sebatas kulit muka! Kalau obatku dapat mengupas kulit mukanya, hendak kulihat apakah para pemuda itu akan mau memperebutkannya. Inilah namanya menghilangkan akibat dengan membongkar sebabnya!”

“Hemm, membongkar sebab secara merusak tanpa mengenal kasihan seperti itu, benar-benar mencerminkan hatimu yang keji. Kau tua bangka yang benar-benar berhati iblis!”

“Uwaaaahh! Kim-mo Taisu, mulutmu lancang benar! Apa kau mau mengajak aku berkelahi?” “Bukan mau berkelahi, melainkan mau memberi hajaran kepadamu!” “Wah-wah, kau mau menghajar aku? Heh-heh-heh! Ada ular kecil mau menghajar seekor naga. Lucu… lucu      !”

Makin mendongkol hati Kwee Seng. Benar sombong kakek ini, tadi menyamakan dia anak ayam dan dirinya sendiri garuda, sekarang memaki dia ular kecil dan mengangkat dirinya sendiri seekor naga! “Biarpun naga, kalau matanya buta dan merusak sana-sini, apa boleh buat, wajib dihajar!”

“Bagus, mari kaulayani aku beberapa jurus!” Kakek itu berkata, lalu meloncat ke kiri dan memasang kuda-kuda yang aneh, kedua sikunya mepet pinggang, jari-jari tangan terbuka dan miring, tubuhnya doyong ke depan, pundaknya diangkat pula ke depan, matanya melirak-lirik, persis gaya seekor jago aduan yang akan dipersabungkan! Melihat kakek itu tidak bersenjata, Kwee Seng menyelipkan tulang paha kambing dan daun ke pinggangnya, kemudian ia pun menghampiri kakek itu, memasang kuda-kuda dan diam-diam ia mengerahkan sin-kangnya seperti yang ia pelajari di Neraka Bumi karena ia cukup maklum bahwa betapapun aneh dan lucu sikap kakek itu, namun sudah terbukti kemarin betapa kakek ini memiliki lwee-kang yang amat kuat serta gin-kang yang amat tinggi. Lawan ini amat berbahaya, dan dengan cerdik Kwee Seng lalu menanti sambil siap siaga, tidak mau menyerang lebih dulu.

Akan tetapi kakek itu juga tak kunjung datang serangannya. Hanya kepalanya bergerak ke kanan kiri, matanya lirak-lirik seperti ayam jago sedang menaksir-naksir kekuatan lawan, kemudian kakinya melangkah-langkah berputar mengelilingi Kwee Seng! Tentu saja Kwee Seng juga segera mengubah kedudukan kaki dan mengatur langkah mengikuti Si Kakek yang aneh. Ia melihat betapa jari-jari kakek itu yang telanjang seperti kakinya sendiri, terpentang seperti cakar ayam. Benar-benar kuda-kuda ilmu silat yang aneh sekali. Apakah kakek ini menciptakan ilmunya berdasarkan gerakan ayam jago? Ataukah semacam burung? Ia menaksir-naksir akan tetapi tetap waspada.

Tiba-tiba kakek itu berseru, “Awas !” dan tubuhnya mencelat ke depan, menerjang, kedua tangannya menggampar dari kanan kiri, kedua kakinya menendang. Biarpun kelihatan hanya sebuah terjangan kasar, namun jari-jari kakinya serta jari-jari tangannya melakukan totokan di tujuh bagian hiato(jalan darah) yang berbahaya! Kwee Seng kaget sekali, tak mungkin mengelak dari terjangan liar ini, maka cepat ia menggerakkan kakinya melangkah mundur lalu kedua tangannya membuat gerakan membentuk lingkaran-lingkaran dan sekaligus ia dapat menangkis dua pasang tangan kaki kakek itu.

“Dukkk!” Tubuh Bu Tek Lojin mencelat ke belakang membuat salto dua kali, akan tetapi kedudukan kaki Kwee Seng juga tergempur sehingga dia terhuyung-huyung ke belakang. Kagetlah Kwee Seng. Tenaganya setelah berlatih di Neraka Bumi, mengalami kemajuan pesat sekali. Namun kini ia ketemu batunya. Kakek yang menerjang di tengah udara itu ternyata mampu membuatnya terhuyung-huyung, dan kedua lengannya yang menangkis tadi seakan-akan bertemu dengan benda yang antep dan keras.

“Heh-heh, kau boleh juga!” Kakek itu memuji, kemudian mengulangi lagi pasangannya seperti ayam jago, berputar-putar sehingga terpaksa Kwee Seng juga berputaran. Kembali Bu Tak Lojin menerjang maju dan kali ini terjangannya disusul serangkaian serangan yang ganas, memukul dan menendang bergantian, semua mengarah jalan darah yang berbahaya. Kwee Seng berlaku cepat, tubuhnya mencelat ke sana-sini dan ia pun membalas dengan pukulan tanpa memakai sungkan-sungkan lagi. Maka lenyaplah

bayangan kedua orang ahli silat yang mengerahkan gin-kang ini, berkelebatan seperti petir menyambar. Berkali-kali mereka beradu tangan dan selalu Kwee Seng terdesak mundur. Terang bahwa ia kalah kuat dalam hal tenaga dalam, akan tetapi karena Kwee Seng memang memiliki ilmu silat yang tinggi maka penjagaannya rapat sekali. Setelah mengalami benturan tangan belasan kali yang membuat kedua lengannya terasa sakit-sakit, Kwee Seng segera mengerahkan Ilmu Silat Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti). Kedua tangannya menjadi lunak seperti kapas dan kapas dan tenaga kakek itu seperti amblas kalau bertemu dengan tangannya, sehingga ia tidak mengalami rasa nyeri lagi, malah dengan ilmunya ini ia dapat membalas serangan dengan mendadak dan cepat, membuat kakek itu berkali-kali mengeluarkan seruan memuji dan penasaran.

Tiba-tiba kakek cebol itu mengganti dan gerakannya yang tadinya amat cepat lincah itu, menjadi gerakan lambat. Malah kedua kakinya seakan-akan tidak bertenaga, seperti mengambang di atas air saja. Namun hebatnya, begitu mereka beradu lengan, Kwee Seng terlempar ke belakang sedangkan kakek itu hanya menari-nari dengan kedua kaki seperti tidak menginjak tanah.

Kwee Seng terkejut sekali, ia melihat kakek itu tadi hanya membuat gerakan mendorong dengan kedua tangan, mengapa begitu beradu tangan ia terlempar sampai tiga meter ke belakang? Seakan-akan dari kedua tangan kakek itu mengandung tenaga yang luar biasa kuatnya, padahal gerakan kakek itu lambat dan kelihatan lemah serta kosong? Ia tidak tahu bahwa ini ilmu ciptaan Bu Tek Lo-jin yang dinamainya Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Mengandung Kekuatan Selaksa Kati)! Adapun ilmu ini adalah ilmu sin-kang yang mendasarkan ilmu memanfaatkan yang kosong seperti seringkali disebut-sebut oleh Nabi Locu dalam kitabnya To-tik-keng sehingga merupakan penggabungan ilmu silat dan ilmu batin yang tinggi.

Karena maklum bahwa kalu ia terus melayani kakek sakti ini dengan tangan kosong tentu ia akan kalah, Kwee Seng lalu mencabut tulang paha kambing dan daun lebar dari ikat pinggangnya. “Bu Tek Lojin, dengan tangan kosong aku kalah, marilah kita gunakan senjata!”

Bu Tek Lojin bukanlah orang buta. Melihat lawannya yang muda mengeluarkan senjata yang begitu sederhana dan aneh, ia tahu bahwa lawannya ini benar-benar merupakan lawan yang tangguh sekali. Tadi pun diam-diam ia sudah terheran-heran mengapa ada orang muda yang begitu lihai. Selama hidupnya, belum pernah ia bertemu tanding yang semuda ini. Akan tetapi memang wataknya tinggi hati, tidak memandang mata kepada lawan manapun juga, maka ia tertawa sambil berkata, “Jembel tengik, keluarkan saja semua kepandaianmu untuk kulihat!”

Setelah berkata demikian kakek cebol itu langsung menyerang lagi dan kini kembali ilmu silatnya sudah berubah, tenaganya masih sehebat tadi namun kedua tangannya membuat gerakan yang membentuk lingkaran-lingkaran lebar dengan tangan kirinya, sedangkan yang kanan membentuk lingkaran-lingkaran sempit. Pukulan-pukulan dan tendangan-tendangannya datang bergulung-gulung seperti ombak samudera menerjang habis segala yang merintanginya. Melihat hebatnya gerakan ini, Kwee Seng segera memutar ulang paha kambing yang ia gunakan seperti pedang, untuk melindungi tubuh, sedangkan daun di tangan kiri mulai ia kebut-kebutkan yang juga mengeluarkan angin pukulan yang amat dahsyat.

Tiba-tiba terdengar suara keras, “Bagus, Bu Tek Lojin, kauhajar mampus bocah itu. Kalau kau kalah, baru aku yang maju!” Suara itu terdengar dari jauh akan tetapi nyaring dan jelas sekali, kemudian sebelum suara itu lenyap kumandangnya, orangnya sudah berkelebat datang. Seorang raksasa tinggi besar berkepala gundul yang segera dikenal Kwee Seng sebagai musuh lamanya, Ban-pi Lo-cia!

Sejenak kakek cebol menghentikan serangannya, membanting-banting kaki dan memaki, “Kau bilang kalau aku kalah? Kuda gundul, kau lihat saja aku menjatuhkan jembel tengik ini, kalau sudah, biar kau punya selaksa lengan (ban-pi), pasti kedua tanganku yang hanya dua ini akan kenyang menempilingi gundulmu sampai kau berkuik-kuik dan berkaing-kaing!” Setelah berkata demikian, kakek cebol itu segera menyerang Kwee Seng lagi dengan hebatnya.

Kwee Seng mencelat ke kiri sambil memutar tulang paha kambing. “Stop dulu, Bu Tek Lojin. Dia itu musuh lamaku, biarkan aku membuat perhitungan dengan dia! Heh, manusia cabul, rasakan pembalasanku atas kematian Ang-siauw-hwa…!” Kwee Seng hendak menyerang Ban-pi Lo-cia, akan tetapi kakek cebol itu merintangi, bahkan menyerangnya lagi sambil mengomel.

“Kau belum kalah olehku, bagaimana bisa berhenti dan melawan orang lain?”

Karena serangan kakek cebol ini memang hebat sekali, Kwee Seng tidak dapat memecah perhatian dan terpaksa ia melayani lagi dengan hati mendongkol. Ia tahu bahwa percuma saja bicara dengan kakek cebol ini. Jalan satu-satunya mengalahkan Si Cebol ini lebih dulu, baru nanti menghadapi Ban-pi Lo-cia. Akan tetapi ini hanya rencana saja, pelaksanaannya sukar setengah mati karena Si Cebol ini benar-benar sakti luar biasa.

Sementara itu, baru sekarang Ban-pi Lo-cia melihat tubuh Bayisan yang menggeletak di atas tanah. Ia kaget sekali dan tidak mempedulikan lagi mereka yang sedang bertempur. Cepat ia berlutut di dekat muridnya dan setelah melihat muka muridnya ia mengeluarkan suara tertahan, menotok dan mengurut sana-sini. Akhirnya Bayisan dapat bicara.

“Suhu (Guru) …” ia mengeluh. “Muridku, siapa yang melakukan ini padamu? Hayo katakan, siapa? Akan kubeset kulit mukanya!”

Dengan suara terputus-putus Bayisan bercerita terus terang kepada gurunya bagaimana ia tergila-gila kepada Tayami dan memasuki kamarnya, kemudian puteri mahkota itu menggunakan bubuk beracun mengenai mukanya. Ketika bicara agak panjang ini, Bayisan telah terlalu banyak mengerahkan tenaganya, maka begitu habis bicara, ia jatuh pingsan lagi. Ban-pi Lo-cia menarik napas panjang, menggeleng kepala dan berkata. “Ahhh, banyak wanita cantik di dunia ini, mengapa kau memilih Puteri Mahkota bangsa sendiri? Ah, tidak bisa aku menggangu Puteri Tayami. Tayami anak Kulu-khan, mengapa engkau begini kejam? Muridku, jangan penasaran. Aku akan menurunkan semua kepandaianku

kepadamu agar kelak kau dapat menjagoi dan menjadi orang nomor satu di Khitan!” Setelah berkata demikian, Ban-pi Lo-cia memondong tubuh muridnya itu dan lari meninggalkan tempat itu tanpa peduli lagi kepada dua orang yang sedang bertanding.

“Ban-pi Lo-cia, kau hendak lari kemana?” Kwee Seng menusukkan tulang paha dengan jurus maut Pat-sian-toat-beng (Delapan Dewa Mencabut Nyawa) dari Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat. Baru sekarang ia menggunakan jurus Pat-sian Kiam-hoat karena tadi dalam menghadapi Bu Tek Lojin ia belum mau mempegunakan ilmunya ini yang telah diperbaiki dahulu oleh Bu Kek Siansu, sekarang ia ingin sekali mengejar Ban-pi Lo-cia, terpaksa ia menggunakan jurus ini. Kagetlah Bu Tek Lojin. Serangan ini memang hebat sekali dan tak mungkin ditangkis atau dielakkan. Tulang itu ujungnya tahu-tahu sudah mengancam ulu hati. Terpaksa Bu Tek Lojin menggunakan gerakan yang sebetulnya kalau tidak

terpaksa, ahli silat tinggi enggan melakukannya, yaitu membuang diri ke belakang seperti batang pohon tumbang, lalu bergulingan di atas tanah.

Akan tetapi Kwee Seng memang hanya ingin membuat kakek cebol ini untuk sementara menjauhkan diri, langsung ia meloncat dengan gin-kangnya yang hebat ke arah Ban-pi Lo-cia yang sedang melarikan diri membawa muridnya, tulangnya menghantam ke arah lambung Ban-pi Lo-cia. Kakek gundul ini mendengar desir angin, menangkis dengan lengan karena tahu bahwa senjata lawan itu tidak tajam.

Dukkk!!” Tubuh Ban-pi Lo-cia terguling! Bukan main kagetnya hati Si Gundul, karena sama sekali tidak disangkanya Kwee Seng akan sekuat itu, jauh lebih kuat daripada beberapa tahun yang lalu. Tulang lengannya tidak patah akan tetapi rasa nyeri menusuk sampai ke jantung. Ia tidak berani main-main lagi dan karena ia memang amat kuat, sekali meloncat ia telah berada jauh di depan, lalu menggunakan ilmu lari cepatnya meninggalkan tempat itu.

Kwee Seng hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar geraman hebat dan kakek cebol sudah menerjangnya penuh kemarahan karena tadi dipaksa harus bergulingan sehingga pakaian dan rambut serta jenggotnya terkena debu. Terpaksa Kwee Seng mencurahkan perhatiannya kepada kakek cebol lagi dan karena mendongkol, kini ia segera mainkan Pat-sian Kiam-hoat dengan tulang di tangan kanan, sedangkan daun lebar di tangan kiri ia mainkan dengan Ilmu Silat Lo-hai-san-hoat. Kalau tiga empat tahun yang lalu saja sepasang ilmu ini dapat membuat ia terkenal dengan sebutan Kim-mo-eng, apalagi sekarang setelah ia memperoleh kemajuan pesat di Neraka Bumi. Hebat bukan main permainan pedang dan kipasnya. Dalam segebrakan saja Bu-tek Lojin sudah terdesak sampai sepuluh jurus lebih. Kwee Seng mengerahkan seluruh kepandaian karena maklum bahwa menghadapi kakek itu, sukar baginya untuk dapat mengalahkannya. Dalam hal tenaga sin-kang maupun keringanan tubuh, kakek cebol ini hebat sekali.

“Eh… ohh… tahan dulu…!” Sambil mencelat ke sana-sini menghindarkan diri dari sambaran daun dan tulang, Bu Tek Lojin berteriak-teriak. Sebagai seorang pendekar, tentu saja Kwee Seng menurut dan menghentikan serangannya.

“Mau bicara apa lagi. Bukankah kau yang tadi mendesakku untuk bertanding sampai mati?” Kwee Seng menegur marah dan mendongkol.

“Mengapa gaya permainan silatmu seperti itu? Apakah kau murid Bu… Bu Kek … Siansu .. .?” Kwee Seng tersenyum. “Bukan, akan tetapi beliau pernah memberi petunjuk kepadaku..”

“Wah… celaka… cukuplah kita main-main.” Kakek cebol itu lalu bersuit panjang dan datanglah burung hantu melayang-layang di atas kepalanya, kemudian ia lari meninggalkan Kwee Seng diikuti dari atas oleh burung hantu.

Sejenak Kwee Seng terlongong heran, kemudian ia pernasaran dan berlari pula mengejar. Ternyata ilmu lari cepat kakek itu hebat, sukar baginya untuk dapat menyusul. Ia tahu bahwa kakek itu belum kalah, bahkan agaknya kalau dilanjutkan dia sendirilah yang akan kalah. Akan tetapi mengapa Bu Tek Lojin menjadi seperti orang jerih dan lari?

Bayangan kakek itu telah lenyap. Hanya tampak burung hantu merupakan titik hitam kecil jauh di depan. Kwee Seng kehilangan semangat untuk mengejar terus maka ia menghentikan larinya dan berjalan biasa menuju ke depan. Ketika ia memasuki hutan, tiba-tiba ia mendengar suara orang tertawa, suara ketawa Bu Tek Lojin! Ia menjadi heran dan lari lagi memasuki hutan.

Apa yang dilihatnya membuat Kwee Seng berhenti dan menyelinap di belakang pohon. Kiranya kakek cebol itu sudah berdiri sambil tertawa bergelak, sedangkan didepannya tampak seorang laki-laki bangsa Khitan yang bertubuh pendek pula akan tetapi kuat, yang ia kenal sebagai seorang tokoh Khitan yang kata orang adalah panglima tua!

Memang, laki-laki ini bukan lain adalah Kalisani yang telah meninggalkan kota raja dengan maksud merantau ke selatan. Kebetulan sekali di dalam hutan itu Kalisani bertemu dengan kakek cebol yang amat ia kagumi sepak terjangnya ketika kakek itu menggegerkan pesta perlombaan Khitan. Begitu melihat Si Kakek Cebol, tanpa ragu-ragu lagi Kalisani lalu menjatuhkan diri berlutut sambil berkata.

“Locianpwe (Orang Tua Gagah) sudilah Locianpwe menerima teecu (murid) sebagai murid. Apa pun yang locianpwe perintahkan, akan teecu taati dengan taruhan jiwa raga teecu.”

Inilah yang membuat Bu Tek Lojin tertawa bergelak-gelak sehingga terdengar tadi oleh Kwee Seng. Kakek cebol itu setelah tertawa berkata, “Aku akan membikin kepalamu seperti kepala Ban-pi Lo-cia, hendak kulihat apakah kau masih nekat mau mengangkat aku sebagai gurumu!” Setelah berkata demikian, kakek cebol itu menggerakkan telapak tangannya ke arah kepala Kalisani. Bekas Panglima Khitan ini terkejut sekali ketika merasa hawa panas menyambar kepalanya. Celaka, pikirnya, mati aku sekali ini! Akan tetapi karena ia telah terlanjur berjanji akan patuh menurut, ia meramkan matanya dan menguatkan hatinya, kalau perlu mati, apa boleh buat!

Kwee Seng yang mengintai juga kaget sekali. Telapak tangan kakek cebol itu bukannya memukul, melainkan mengusap kepala Kalisani dan ketika ia mengangkat kembali tangannya, semua rambut bagian atas kepala Kalisani rontok semua sehingga kepala itu menjadi gundul kelimis bagian atasnya, botak tidak kepalang! Diam-diam Kwee Seng memaki atas kekejaman kakek cebol itu.

Kalisani meringis , kulit kepalanya terasa panas dan sakit, akan tetapi tidak tembus sampai menembus ke dalam, hanya terasa seperti dibakar. Melihat rambutnya rontok semua, ia kaget dan makin teguh hatinya untuk belajar ilmu kepada kakek yang amat sakti ini. Ia segera mengangguk-angguk sampai jidatnya membentur tanah sambil berkata, “Jangan lagi begini, biar nyawa teecu kalau memang Suhu membutuhkan, teecu serahkan!”

Bu Tek Lojin tercengang menyaksikan kebulatan tekad hati orang. Ia mengelus-elus jenggotnya dan menarik napas panjang. “Kau boleh juga. Bukankah kau panglima di Khitan, mengapa kau mengikuti aku dan hendak menjadi murid?”

“Sekarang teecu bukanlah prajurit Khitan lagi, teecu sudah meninggalkan kerajaan karena jemu menyaksikan perebutan kekuasaan dan melihat betapa Khitan akan menjadi tidak beres. Karena amat kagum akan kesaktian suhu, maka teecu hanya mempunyai satu niat di hati, yaitu menjadi murid suhu.”

“Hah-hah-hah, selamanya aku tidak menerima murid. Akan tetapi, hemmm, dia sudah menurunkan kepandaian kepada jembel tengik, mengapa aku tidak? Eh, Botak, baiklah kau menjadi muridku. Nah, hayo kau gendong aku dan jangan berhenti sebelum kuminta, biarpun kedua kakimu akan patah-patah!”

Bukan main girangnya hati Kalisani. Setelah memberi hormat berlutut dan mengangguk sampai delapan kali, ia menggendong kakek cebol itu dan lari congklang seperti kuda. Si Kakek Cebol tertawa bergelak-gelak lalu berkata, “Hayo kau pun tertawa yang keras! Menjadi muridku harus gembira selalu, kalau tidak kau akan kubunuh!” Dan terdengarlah suara Kalisani tertawa pula, terkekeh-kekeh menyaingi suara ketawa gurunya! Kalau ada orang melihat mereka, tentu orang itu akan lari terbirit-birit atau berdiri terlongong keheranan karena keadaan mereka itu hanya akan menimbulkan dua macam dugaan,

pertama, mereka adalah dua iblis neraka atau yang kedua, mereka adalah sepasang orang gila yang liar. Yang menggendong seorang berkepala botak dan tertawa terkekeh-kekeh, yang digendong seorang kakek cebol tertawa bergelak-gelak sepanjang jalan. Dan di atas mereka, terbanglah si Burung Hantu sambil mengeluarkan suara seperti tertawa pula, hanya saja suara itu akan membuat orang menggigil serem di waktu malam!

di dunia ini, memang! Kemudian ia lalu melanjutkan perjalanan meninggalkan Khitan. Urusannya di Khitan sudah selesai. Bayisan telah terhukum, sungguhpun bukan langsung dari tangannya, adapun Ban-pi Lo-cia, biarlah lain kali kalau ada kesempatan berjumpa, akan ia tantang untuk membereskan perhitungan, karena betapapun juga, matinya Ang-siauw-hwa karena perbuatan keji Ban-pi Lo-cia, tak dapat terhapus begitu saja dari ingatannya.

Dalam perantauannya ini yang menjelajah belasan propinsi dan puluhan kota ratusan desa, tiada hentinya Kwee Seng mengulurkan tangan melakukan darma baktinya sebagai seorang berilmu. Tak terhitung lagi jumlahnya penjahat yang mengenal betapa keras dan ampuhnya telapak tangan kanannya, dan sebaliknya entah berapa banyaknya orang-orang tertindas mengenal betapa lunak halus dan terbukanya telapak tangan kirinya! Di mana-mana Kwee Seng melakukan perbuatan gagah perkasa dan kini masih saja ia sembunyi, tak suka menonjolkan namanya, dan hanya beberapa kali karena terpaksa ia memperkenalkan namanya sebagai Kim-mo Taisu. Namun tak seorang pun dapat menduga bahwa orang yang berpakaian compang-camping penuh tambalan, yang rambutnya riap-riapan dan tertawa-tawa di sepanjang jalan, orang gila ini sebenarnya adalah Kim-mo Taisu Si Pendekar Budiman!

Berbahayalah orang yang terlalu lemah menghadapi racun asmara seperti halnya Kwee Seng. Pendekar ini seorang yang kuat lahir batin, namun menghadapi pengaruh asmara, ia roboh. Perasaannya menjadi lemah dan lunak seperti lilin cair dipermainkan tangan-tangan asmara yang jahil. Kegagalan cinta kasihnya terhadap Ang-siauw-hwa, kemudian pukulan batin oleh asmara yang nakal ketika terjadi peristiwa dengan nenek di Neraka Bumi, benar-benar membuatnya runtuh. Rasa sesal dan malu bercampur aduk sehingga membuat kelakuannya seperti orang gila. Membuat ia merantau tanpa tujuan sampai bertahun-tahun lamanya.

Memang sesungguhnya, tiada seorang pun manusia di dunia ini yang terluput dari pada serangan dan dorongan nafsu yang merobah diri menjadi cinta. Tak seorang pun boleh mengingkari atau menghindarinya, karena hal ini sudahlah wajar. Namun, betapa hebat cinta kasih merangsang hatinya, manusia tetap harus tenang waspada, jangan membiarkan diri diperhamba nafsu, harus tetap berada di atas nafsu dan dapat mengendalikannya. Nafsu seumpama kuda. Badan wadag (jasmani) seumpama kereta. Nafsulah yang menarik jasmani ke depan sehingga berhasil memperoleh kemajuan jasmani, seperti halnya kuda menarik kereta sehingga dapat maju dengan lancar. Akan tetapi, tanpa ada Sang Kusir yang menguasai kuda itu maka akan berbahayalah jadinya. Sifat kuda memang liar, ganas dan tidak mudah ditundukkan. Sang Kusir inilah rohani yang harus diperkuat dengan kesadaran. Apabila Sang Kusir kuat dan dapat menguasai keliaran kuda nafsu, maka kuda itu akan dapat dibikin jinak, dapat dikendalikan untuk maju menarik kereta jasmani ke arah jalan yang benar. Sebaliknya, apabila Sang Kusir itu lemah, maka kuda nafsu yang akan menguasai perjalanan, dan akibatnya dapat mengerikan. Kuda liar dapat menarik kereta beserta kusirnya tanpa aturan lagi dan besar kemungkinan akan membawa kereta masuk jurang!

Betapapun juga, terlalu meremehkan cinta kasih seperti halnya Liu Lu Sian, juga berbahaya sekali. Sekali meremehkan cinta kasih murni antara suami isteri, besar kemungkinan orang akan terseret kepada sifat tinggi hati dan memandang cinta sebagai barang permainan dan iseng-iseng belaka! Sifat ini akan menyeret orang untuk berkecimpung ke dalam percintaan hewani yang terdorong oleh nafsu berahi

semata.

Liu Lu Sian telah melakukan kesalah itu. Ia memandang rendah akan cinta kasih suami isteri sehingga ia rela meninggalkan kam Si Ek dan puteranya, mencari kebebasan. Memang hal ini tidak mungkin. Siapapun juga yang telah mengikatkan diri dengan perjodohan, berarti ia mengikatkan diri pula dengan pelbagai kewajiban, tak mungkin dapat bebas lagi kalau ia mau menjadi seorang isteri atau suami yang baik. Lu Sian lari daripada kewajiban-kewajiban yang dianggapnya berat tak menyenangkan itu. Ia lari mencari kebebasan, kebebasan total, juga kebebasan cinta!

Ada juga rasa sesal di hatinya ketika ia meninggalkan rumah, namun rasa ini ia buang jauh-jauh dengan bayangan yang menyenangkan. Betapa pun ia akan bertualang sesuka hatinya. Pergi ke mana pun ia suka. Agak berat hatinya kalau ia teringat kepada Bu Song. Namun, bantah hatinya, Bu Song sudah besar, dan di sana ada ayahnya. Tentu anak itu takkan terlantar. Pula, ia memang hendak mempertinggi ilmunya untuk kelak diwariskan kepada Bu Song. Puteranya harus menjadi ahli silat nomor satu di dunia ini!

Lu Sian berangkat menuju rumah ayahnya di Nan-cao. Ia harus memberitahukan ayahnya tentang perceraiannya dengan Kam Si Ek. Kalau tidak diberitahu dan ayahnya itu datang menjenguknya di rumah Kam Si Ek, tentu ayahnya akan mendapat malu. Selain ini, untuk mempertinggi ilmunya ia harus minta bantuan ayahnya. Ia maklum betapa ayahnya amat kikir dalam hal menurunkan kepandaiannya. Ketika ayahnya bertanding melawan Kwee Seng, ayahnya dapat mengimbangi kelihaian pendekar itu,

sedangkan dia sama sekali tidak berdaya menghadapi Kwee Seng. Kalau ayahnya masih bersikap kikir, ia tahu di mana ayahnya menyimpan kitab-kitab itu, kalau perlu dicurinya.

Ia tidak tergesa-gesa dalam perjalanannya yang amat jauh itu, karena ia hendak menikmati “kebebasannya”. Bukan main gembira hatinya ketika ia melihat betapa semua mata, terutama laki-laki, di sepanjang perjalanan menelannya dengan lahap. Teringat ia akan keadaannya dahulu sebelum menjadi isteri Kam Si Ek, di mana semua laki-laki memuja dan memperebutkan cintanya. Alangkah senangnya dalam keadaan seperti itu. Ia merasa dirinya terangkat tinggi sekali, merasa amat berharga, tidak seperti kalau berada di rumah Kam Si Ek di mana ia hanya terikat oleh kewajiban melayani suaminya seorang dan merawat anaknya.

Akan tetapi, beberapa bulan kemudian mulailah Lu Sian merasa kesepian. Mulai ia merasa rindu akan belaian dan cumbu rayu, akan kasih sayang seorang pria. Ia merasa rindu sekali kepada Kam Si Ek, suaminya yang selalu memperlihatkan kasih sayang mesra terhadap dirinya.

Pada pagi hari itu, Lu Sian duduk termenung di dalam rumah makan. Semalam ia sama sekali tidak tidur dalam rumah penginapan tak jauh dari rumah makan itu. Gelisah semalam suntuk ia bergulingan di atas pembaringan, hatinya penuh rindu berahi kepada suami yang telah ia tinggalkan. Ia malah sampai menangis penuh penyesalan mengapa ia tinggalkan suami dan anaknya. Akan tetapi hatinya yang keras melarangnya untuk kembali, karena ia maklum bahwa di rumah suaminya, segala akan berubah lagi menjadi hambar, sehari-hari hanya berkeliaran di dalam rumah tak pernah dapat menikmati alam bebas.

Hanya semangkok bubur dan daging asin dapat memasuki perutnya. Sehabis makan ia termenung, tak merasa betapa tiga pasang mata pelayan melahap kecantikannya. Rumah makan itu masih kosong, belum ada tamu sepagi itu.

“Bung pelayan, beri aku dua mangkok bubur panas dan arak panas dan arak hangat!” tiba-tiba suara ini menyadarkan Lu Sian dari lamunannya. Ia melirik ke kanan dan tampak olehnya seorang laki-laki sudah duduk di depan meja sebelah kanannya, dekat pintu rumah makan. Karena tenggelam dalam lamunannya, ia sampai tidak tahu bahwa ada tamu memasuki rumah makan itu. Pelayan cepat melayani tamu baru ini dan laki-laki itu makan dengan lahapnya, kelihatannya lapar sekali.

Dari sudut matanya, Lu Sian melihat bahwa laki-laki itu berusia tiga puluh lebih, sikapnya tenang dan wajahnya tampan gagah, akan tetapi seperti diliputi awan kedukaan dan kekuatiran. Tubuh laki-laki itu tegap dan di pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya lapuk, akan tetapi gagangnya yang licin karena sering dipergunakan itu berukirkan kepala burung dewata, Lu Sian dapat menduga bahwa laki-laki itu tentulah seorang yang pandai ilmu silat, akan tetapi seperti biasa, ia memandang rendah karena selama perjalanan, terlalu banyak ia melihat laki-laki berpedang namun yang tingkat kepandaiannya hanya begitu-begitu saja. Hanya wajah orang itu agak menarik perhatiannya, wajah yang benar-benar gagah, dagunya membayangkan kekerasan hati, wajah yang memiliki kegagahan seperti wajah Kam Si Ek, suaminya.

Pada saat itu terdengar suara nyanyian yang parau dan serak, datangnya dari jalan besar, diselingi suara berketuknya tongkat di atas tanah berbatu. Lapat-lapat terdengar kata-kata dalam nyanyian bersama dari beberapa orang itu, membuat Lu Sian terkejut dan cepat memandang ke luar.

Beratap langit berlantai bumi Disanalah tempat tinggal kami Kami tidak punya apa-apa

Makan pakaian kami tinggal minta!

Kekagetan Lu Sian ada sebabnya. Pernah ia mendengar nyanyian sederhana ini dari mulut ayahnya yang memuji nyanyian itu sebagai syair yang baik dan berisi dari Perkumpulan Pengemis Hati Kosong (Khong-sim Kai-pang). Menurut penuturan ayahnya, diantara perkumpulan-perkumpulan pengemis yang besar-besar, yang paling terkenal dan amat banyak anggotanya, adalah Khong-sim Kai-pang itulah. Mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan biarpun hanya perkumpulan pengemis, namun sesungguhnya merupakan orang-orang yang menjadi penganut agama gabungan Buddha dan Locu. Karena filsafat Locu, maka mereka namakan diri Pengemis Hati Kosong, dan karena pengaruh ajaran Budhha, maka mereka mengemis ke sana ke mari, hidup sederhana sekali! Lu Sian masih teringat beberapa tahun yang lalu ayahnya menyatakan bahwa ketua perkumpulan Pengemis Hati Kosong ini adalah Yu Jin Tianglo, seorang yang memiliki ilmu silat tinggi, ahli bermain toya dan tongkat. Biarpun

tidak secara resmi, namun pada umumnya para perkumpulan pengemis lain di beberapa propinsi mengakui Khong-sim Kai-pang sebagai partai induk dan semua peraturan mengenai “dunia pengemis” bersumber kepada perkumpulan Pengemis Hati Kosong inilah. Kiranya hanya perkumpulan pengemis Ban-hwa-kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga) di pantai timur sajalah yang dapat menandingi kebesaran nama Khong-sim Kai-pang.

Pada saat Lu Sian termenung mengingat cerita ayahnya, suara nyanyian mereka sudah berhenti, tinggal suara ketukan tongkat di atas batu-batu jalan saja yang terdengar, makin lama makin dekat. Ketika Lu Sian melirik ke arah laki-laki gagah di dekat pintu, orang itu juga menggeser kursinya menghadap pintu, akan tetapi wajahnya tidak membayangkan sesuatu, tetap tenang dengan awan kedukaan

menyelimutinya. Orang itu masih tetap makan buburnya dengan sumpit, sebentar-sebentar diseling minum araknya. Karena penggeseran kursi itu, maka kini Lu Sian duduknya berhadapan dengan laki-laki itu dan diam-diam ia harus mengakui bahwa laki-laki itu tampan dan gagah, amat menarik hati.

Muncullah kini rombongan penyanyi itu di depan pintu. Mereka terdiri dari tiga orang pengemis, pakaian mereka bermacam-macam akan tetapi kesemuanya sudah rombeng, penuh tambalan, bahkan ada seorang di antara mereka yang kaki celana sebelah kiri buntung sampai di atas lutut. Ada pula yang kaki kanannya telanjang sedangkan kaki kiri bersepatu baru. Orang ke tiga masih muda, biarpun pakaiannya tambal-tambalan dan robek-robek, namun kainnya bersih sekali dan jelas tampak pengemis muda ini “pasang aksi” ketika matanya memandang Lu Sian.

Tiga orang pengemis ini kelihatan tercengang kaget ketika melihat laki-laki tadi, dan segera mereka maju ke depan, mata mereka tiba-tiba mengandung sinar kemarahan, akan tetapi mulut mereka masih senyum-senyum. Hanya Si Pengemis Muda saja yang kadang-kadang melirik tajam ke arah Lu Sian, agaknya perhatiannya terhadap laki-laki tadi amat terganggu oleh hadirnya Lu Sian yang membetot semangatnya. Pengemis yang bersepatu sebelah itu mengetuk-ngetukkan tongkat berirama, lalu membuka mulutnya bernyanyi, suaranya parau dan dalam seperti suara seekor katak besar.

“Tamu tak diundang datang kemari apakah hendak menyerahkan diri?”

Laki-laki gagah itu menghabiskan buburnya, lalu berteriak memanggil pelayan dengan suara tenang, “Heii, Bung Pelayan. Tolong tambah bubur setengah mangkok lagi.” Pelayan segera datang, akan tetapi ketika melirik keluar pintu ia menjadi marah. Setelah mengisi mangkok kosong dengan bubur dan menghidangkannya ke meja Si Laki-laki gagah, pelayan itu lalu mendamprat ke luar pintu.

“Eh, kalian ini bagaimana berani tak tahu aturan begini? Ada tamu sedang dahar, jangan diganggu! Nanti sore saja datang kalau hendak minta sisa…” Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya ketika melihat betapa pengemis termuda telah mengambil batu dan meremasnya hancur seperti orang meremas tepung saja! Pelayan itu mengenal gelagat, tahu bahwa tiga orang pengemis itu bukan pengemis biasa, maka mukanya menjadi pucat ketika ia menoleh ke arah tamunya yang enak-enak makan kemudian

cepat-cepat ia pergi menjauhi. Pengemis muda itu dengan lagak sombong membuang hancuran batu ke atas tanah, matanya melirik ke arah Lu Sian mengharapkan pujian. Akan tetapi gadis ini melirik pun tidak, melainkan terus memperhatikan Si Laki-laki Gagah, dan di dalam hatinya siap untuk membantu kalu laki-laki itu menghadapi bahaya.

Tanpa mempedulikan teguran pimpinan tadi, pengemis ke dua yang kaki celananya panjang sebelah, menyambung nyanyiannya.

“Menyerahkan diri membayar hutang baru si Kecil diantar pulang!”

Pengemis muda segera menyambung nyanyian ini, suaranya dibuat-buat dan memang suaranya merdu, matanya melirik Lu Sian dan bibirnya tersenyum-senyum.

“Diantar pulang ke rumah siapa? Apakah si Manis ada yang punya?”

Mendengar nyanyian terakhir ini, tiba-tiba lelaki itu menoleh ke arah Lu Sian dan dalam beberapa detik dua pasang mata bertemu. Muka lelaki itu menjadi merah, sinar matanya tampak terpesona lalu bingung. Namun jelas bahwa dengan kekerasan hati laki-laki itu dapat menyadarkan kembali kebingungannya karena terpesona oleh kecantikan wajah Lu Sian yang sejak tadi tidak dilihatnya. Ia memaksa mukanya kembali menunduk dan tenang-tenang saja makan buburnya dengan sumpit.

Juga hati Lu Sian berdebar aneh, ketika mereka bertemu pandang tadi. Melihat pandang mata orang itu, ia seperti dapat menjeguk isi hatinya! Jelas sekali laki-laki itu kagum kepadanya. Biasanya, semua laki-laki yang memandangnya tentu kagum dan jatuh hati, akan tetapi hal itu malah membuat Lu Sian kadang-kadang tersenyum mengejek di samping kebanggaannya. Sekali ini tidak. Ia merasa girang sekali!

Tiga orang pengemis itu jelas menujukan nyanyian mereka kepada orang itu, kecuali pengemis muda yang menyelewengkan nyanyian ke arah Lu Sian. Kini melihat orang itu sama sekali tidak peduli mereka menjadi marah. Si Pengemis Muda menggerakkan tangannya dan menyambarlah sinar kehitaman ke arah leher laki-laki gagah. Lu Sian diam-diam kaget sekali, tahu bahwa itu adalah senjata rahasia, yang biarpun tidak terlalu hebat namun cukup berbahaya kalau Si Laki-laki tidak dapat menghindarkan diri. Akan tetapi hatinya lega dan kagum ketika melihat laki-laki itu mengangkat sumpitnya dan… paku hitam yang menyambar lehernya telah terjepit di antara sepasang sumpit! Kemudian tangan yang memegang sumpit bergerak, paku hitam menyambar dengan kecepatan beberapa kali lipat daripada tadi ke arah Si

Penyerang.

“Auuuhhh…!” Pengemis muda yang aksi itu meloncat-loncat dengan kaki kanan sambil mengaduh-aduh dan memegangi kaki kirinya yang diangka-angkat. Paku tadi, pakunya sendiri yang biasanya ia sombongkan sehingga ia memakai julukan Tou-hiat-teng (Si Paku Penembus Jalan Darah), kini telah menancap di paha kirinya sampai tidak kelihatan lagi kepalanya!

Dua orang pengemis melihat ini menjadi marah sekali. Si Celana Panjang Sebelah menerjang dengan tongkatnya yang ditusukkan ke arah muka sedangkan pengemis sepatu tunggal itu mencabut golok lalu membacok ke arah leher. Namun orang itu masih enak-enak makan buburnya yang belum habis, membiarkan dua senjata itu menyambar sampai dekat sekali. Kali ini Lu Sian benar-benar kaget. Sungguh berbahaya sekali ketenangan yang berlebih-lebihan itu, pikirnya. Cepat tangannya menyambar sumpit yang tadi ia pakai makan, sekali tangannya bergerak sepasang sumpit itu meluncur ke depan seperti anak panah melesat dari busurnya.

“Tranggg! Aduhhh! Aduhhh…!” Peristiwa yang menjadi beberapa detik mengherankan sekali. Secara tiba-tiba, laki-laki yang dijadikan sasaran tongkat dan golok itu lenyap dari atas kursinya sehingga golok dan tongkat saling bertemu di udara, kemudian dalam detik selanjutnya, tangan dua orang pengemis yang memegang senjata itu telah tertusuk sumpit, tembus di telapak tangan sehingga senjata mereka terlepas dari pegangan, mereka berteriak-teriak kesakitan sambil menggunakan tangan kiri memijit-mijit tangan kanan.

“Lee-hi-ta-teng (Ikan Lee Meloncat) yang bagus!” “Sambitan yang luar biasa!” Pujian yang keluar dari mulut Lu Sian dan orang gagah itu keluar dalam waktu bersamaan, mereka saling pandang pula. Hanya beberapa detik, pandang mata penuh kagum dan “ada rasa”! akan tetapi laki-laki itu segera melangkah keluar menghadapi tiga orang pengemis yang masih mengaduh-aduh, lalu berkata dengan suara lantang berwibawa.

“Aku Tan Hui adalah laki-laki tidak suka berlaku pengecut! Setahun yang lalu urusanku dengan Kong-sim Kai-pang sudah kubereskan dengan Yu Jin Tianglo, kami berdua saling menghargai dan bersahabat. Kenapa sekarang tanpa alasan Kong-sim Kai-pang mengganggu anak kecil? Kalu ada urusan silahkan Yu Jin Tianglo menemui aku, mengapa mengutus segala macam anjing kecil macam kalian? Hayo katakana kepada Yu Jin Tianglo bahwa aku Tan Hui ingin bicara dengan dia sendiri. Pergilah!” Dengan tangan kanannya laki-laki yang bernama Tan Hui itu mendorong. Hawa dorongan ini menimbulkan angin dan tiga orang pengemis yang sudah terluka itu roboh terguling! Mereka merangkak bangun, meringis kesakitan, lalu yang sebelah kakinya telanjang memandang dengan mata melotot kepada Lu Sian.

“Nona, kau siapakah dan mengapa mencampuri urusan kami? Apa hubunganmu dengan Hui-kiam-eng Tan Hui?”

Karena jemu menyaksikan sikap tengik kalian, maka aku menjadi muak. Masih untung sumpitku tidak kutujukan kepada kepala kalian!”

Tiga orang pengemis itu memandang dengan mata melotot, kemudian mereka membalikkan tubuh dan sambil menuntun pengemis muda yang terpincang-pincang mereka meninggalkan tempat itu.

Lu Sian tadi kaget juga mendengar laki-laki itu memperkenalkan namanya. Tentu saja ia sudah mendengar akan Hui-kiam-eng (Pendekar Pedang Terbang) yang amat terkenal di daerah timur ini, seorang yang kabarnya amat lihai ilmu pedangnya dan terutama sekali gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang dimilikinya tak pernah menemui tanding. Tadi ia sudah menyaksikan gerakan yang biasa saja, namun dilakukan oleh Tan Hui dengan hebat luar biasa. Dia sendiri tak mungkin dapat melakukan gerakan ini secepat itu.

Di lain pihak, Tan Hui mengingat-ingat dan ia tak pernah mendengar nama seorang pendekar wanita bernama Sian dengan nama keturunan Lu. Akan tetapi sambitan sumpit tadi jelas membuktikan bahwa wanita cantik jelita seperti bidadari di hadapannya ini adalah seorang ahli silat yang berilmu tinggi. Ketika ia memandang wajah yang tersenyum itu, sepasang mata yang bagaikan bintang begitu bercahaya, bening dan berbentuk indah sekali, hidung mancung dan bibir merah basah, rambut sinom yang terurai di kening, benar-benar membuatnya terpesona dan dengan gagap ia berkata sambil mengangkat kedua tangan di depan dada.

“Nona, banyak terima kasih atas bantuanmu tadi.” Lu Sian tersenyum, tampaklah deretan gigi yang laksana mutiara, kemudian bibirnya bergerak-gerak ketika bicara, matanya bersinar-sinar. “ah, itu bukanlah bantuan namanya dan tidak ada artinya. Kita mempunyai perasaan yang sama, bukan? Sama-sama sebal menyaksikan tiga orang jembel tadi…”

Hening sejenak, dan tiba-tiba Lu Sian menahan tawanya melihat betapa orang itu memandangnya dengan melongo, jelas terpesona dan seperti lupa keadaan.

“Eh, Tan-enghiong, kau kenapa….?” Tegurnya, tersenyum manis.

Tan Hui gelagapan. Selama hidupnya belum pernah ia menyaksikan wanita begini cantik jelita, yang bibirnya bergerak-gerak dan matanya bersinar-sinar. “Eh… oh… kau… kau hebat sekali…”

Kembali Lu Sian tersenyum lebar dan untuk sesaat mereka hanya berdiri saling pandang dengan kaku. Akhirnya Lu Sian berkata, “Apkah kita akan terus bicara sambil berdiri saja?”

Kembali Tan Hui baru sadar akan keadaan yang serba canggung itu, maka ia menjadi malu, merah sekali mukanya ketika ia berkata. “ah…, silakan, Nona. Mari silakan duduk.”

Mereka duduk semeja, saling berhadapan. “Sudah lama aku mendengar tentang Khong-sim Kai-pang. Kabarnya perkumpulan pengemis itu terkenal sebagai perkumpulan baik-baik, diketuai oleh Yu Jin Tianglo yang lihai dan terkenal sebagai tokoh baik-baik. Mengapa kau di musuhi mereka?”

Tan Hui menarik napas panjang dan kembali wajahnya yang sejenak tadi kehilangan bayangan duka, kini menjadi keruh kembali. “Panjang ceritanya, nona. Akan tetapi aku yakin bahwa kita segolongan, maka tidak ada salahnya kalau aku ceritakan hal ini kepadamu. Eh, Bung Pelayan, tolong kauantarkan seguci arak dan daging sekati.”

Pelayan menghampiri mereka. Pelayan ini tersenyum-senyum dan terbongkok-bongkok penuh hormat. “Maaf, Taihiap. Kami tidak tahu bahwa Tuan adalah Tan-taihiap yang terkenal budiman. Dasar pengemis-pengemis itu tidak tahu diri, berani main gila terhadap Hui-kiam-eng Tan Hui Taihiap (Pendekar Besar)!”

“Sudahlah tolong kau sediakan pesananku.” Pelayan itu tersenyum-senyum ramah, lalu berlari pergi untuk mempersiapkan pesanan itu. Adapun pelayan lain melihat rumah itu masih belum banyak tamu, menggunakan kesempatan menganggur ini lari ke luar rumah makan untuk membual tentang kehadiran pendekar budiman Hui-kiam-eng Tan Hui di tempat kerjanya!

“Aku mempunyai banyak musuh.” Tan Hui mulai bercerita setelah menarik napas panjang, semua karena salahku. Aku terlalu lancang tangan dan suka mencampuri urusan lain orang. Tak tahan aku melihat orang ditindas atau kejahatan berlalu saja tanpa orang membenciku….”

“Sudah selayaknya orang gagah dibenci orang jahat.” Lu Sian berkata menghibur, karena ia anggap hal seperti itu bukanlah hal yang patut disusahkan. Orang ini gagah sekali dan sikapnya jantan, amat menarik hati. Akan tetapi wajahnya selalu membayangkan kerisauan hati.

Tan Hui mengangguk. “Cocok! Memang begitulah pendirianku pula, Nona. Karena itulah maka aku tak pernah berhenti dengan tugasku, selalu kubela kebenaran dan kutegakkan keadilan, kalau perlu kugunakan kekerasan untuk menghantam mereka yang sewenang-wenang. Dan ini pula sebabnya mengapa aku mempunyai urusan dengan Khong-sim Kai-pang. Lima orang angguta Khong-sim Kai-pang melakukan penyelewengan setahun yang lalu di kota Tong-an. Mereka minta derma secara paksa, tidak itu saja, malah seorang di antara mereka telah menculik puteri seorang hartawan dan memperkosanya. Aku kebetulan lewat di kota itu, lalu turun tangan memberi hajaran kepada mereka dan malah membunuh Si Penculik.”

“Kenapa tidak dibunuh semua saja?” Lu Sian memotong. Tan Hui menghela napas. “Kalau kubunuh semua, kiranya tidak akan muncul akibat begini panjang. Akan tetapi mengingat bahwa selamanya Khong-sim Kai-pang terkenal baik, apalagi aku memandang muka ketuanya, maka kuampunkan mereka dan hanya membunuh seorang yang paling jahat. Aku sangka urusan hanya berhenti sampai di situ. Tidak tahunya, ketika kau melakukan perjalanan, aku dihadang dan dikeroyok tiga puluh orang Khong-sim Kai-pang yang memendam atas kematian seorang temannya. Terjadi pertempuran dan biarpun aku merobohkan dan melukai banyak di antara mereka, namun aku menjaga sehingga tidak seorang pun tewas. Aku lalu pergi langsung mencari Yu Jin Tianglo, menceritakan semua urusan itu. Yu Jin Tianglo marah sekali kepada anak buahnya, malah menghukum mereka dengan penurunan tingkat. Urusan itu sudah beres sampai… setengah bulan yang lalu…” Sampai di sini Tan Hui berhenti dan wajahnya memperlihatkan kemuraman.

“Lalu mereka mengganggumu? Kalau hanya pengemis-pengemis itu saja, takut apakah? Biar mereka datang mencari mati. Yu Jin Tianglo kalau membela anak buahnya yang mencari perkara, dia pun tidak benar dan perlu diberi hajaran!”

Tan Hui tercengang keheranan menyaksikan Lu Sian bicara penuh semangat dan marah-marah. Urusan ini tidak ada sangkut-pautnya denga Lu Sian, mengapa gadis ini menjadi begitu marah?

“Sungguh tidak enak terhadap Yu Jin Tianglo…” “Tidak enak bagaimana? Anak buahnya yang tak tahu aturan yang mencari-cari perkara! Apakah kau takut menghadapi orang tua itu? Tan-enghiong, jangan kuatir, aku akan membantumu. Aku tidak takut menghadapi orang tua itu kalau ia banyak bertingkah membantu anak buahnya yang tidak benar!”

Tan Hui tentu saja tidak mengenal watak Lu Sian maka ia makin terheran-heran. Memang watak Lu Sian amat ganas menghadapi orang-orang yang ia anggap memusuhinya atau memusuhi orang yang disukainya. Dan Tan Hui otomatis telah menarik perhatiannya dan menimbulkan rasa sukanya!

Dengan muka masih terheran Tan Hui bangkit berdiri dan menjura. “Terima kasih atas perhatian Nona terhadap perkaraku.”

“Ah, kita sudah menjadi sahabat. Bukankah kau katakan tadi bahwa kita orang segolongan? Tak perlu sungkan-sungkan lagi.” Jawab Lu Sian.

Tan Hui duduk kembali dan menarik napas panjang, lalu menghirup araknya. “Persoalannya tidaklah begitu sederhana. Kalau hanya para anggota Khong-sim Kai-pang yang masih penasaran, hal itu tidaklah menguatirkan. Akan tetapi dua pekan yang lalu… aku hidup sebatang kara, mengapa mereka mengganggu anakku? Mereka menculik anakku yang baru berusia lima tahun…”

Lu Sian terkejut dan merasa agak kecewa. “Tan-enghiong! Kau bilang hidup sebatang kara… tapi kau… mempunyai anak?”

Melihat kekagetan orang, Tan Hui tersenyum duka. “Memang aku sebatang kara… semenjak isteriku meninggal dua tahun yang lalu. Aku seorang duda dengan seorang anak yang kutitipkan kepada pamannya. Itu pula sebabnya orang-orang jahat itu dapat menculik puteriku. Kalau dia berada bersamaku, tak mungkin mereka dapat melakukannya! Ah, aku menyesal sekali mengapa aku suka merantau seorang diri dan menitipkan kepada kakak isteriku. Pada suatu malam, serombongan anggota Khong-sim kai-pang mendatangi rumah itu dan menggunakan kekerasan menculik pergi anakku. Iparku tidak dapat berbuat apa-apa dan mereka meninggalkan pesan bahwa kalau aku menghendaki anakku selamat, aku harus menyerahkan diri kepada mereka!”

“Ah… begitukah? Jahanam benar mereka! Di manakah adanya Yu Jin Tianglo sekarang? Dia seoranglah yang harus bertanggungjawab menghadapi semua ini. Minta anak itu dari tangannya, kalau tidak diberikan, berarti dia menantang!”

“Markas Khong-sim Kai-pang berada di kota Kang-hu, hanya dua puluh li dari sini jauhnya. Adapun Yu Jin Tianglo biasanya berdiam dalam sebuah kuil tua di luar kota itu. Karena itu pula aku hari ini sampai di sini, siapa tahu, agaknya Yu Jin Tianglo sudah menyuruh anak buahnya sengaja datang untuk menentang!”

“Tak usah takut! Kita serbu saja ke sana. Mari kita ke sana, aku akan membantumu, Tan-enghiong!”

“Nona Lu…, bukan aku tidak menghargai penawaranmu yang amat berharga itu. Akan tetapi… urusan ini mengenai pribadiku sendiri, sedangkan Yu Jin Tianglo amat lihai, belum lagi anak buahnya yang banyak…”

“Aku tidak takut!” “Aku percaya, Nona. Kepandaianmu tinggi. Akan tetapi… aku seorang duda yang mencari anaknya, sedangkan kau… kau seorang Nona terhormat, seorang gadis muda yang baru saja kujumpai. Kalau orang luar melihat, tentu… ah, kiranya amat tidak baik untuk namamu kelak….”

Tiba-tiba Lu Sian serentak bangun berdiri, alisnya berkerut matanya berkilat. “Apa peduliku akan pendapat orang luar! Aku suka membantumu, siapa melarangmu? Tentang kau seorang duda, apa salahnya? Aku pun seorang… janda! Kita maju bersama untuk menghadapi Khong-sim Kai-pang, seorang duda dan seorang janda mana yang lebih cocok lagi?”

Tan Hui tertegun dan diam-diam berdebar hatinya. Belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan wanita begini cantik jelita, begini berani dan terbuka, kata-kata yang keluar dari mulutnya mencerminkan isi hatinya, tinggi ilmu silatnya. Seorang janda pula!

Pada saat itu terdengar bentakan dari luar rumah makan. “Orang she Tan! Keluarlah dan lekas berlutut untuk kami tangkap dan hadapkan kepada ketua kami!”

“Hemm, mereka benar-benar amat tak sabar. Heran aku mengapa Khong-sim Kai-pang dalam waktu setahun telah begini berubah!”

“Kaulihat saja bagaimana aku menghajar mereka!” Sekali menggerakkan kakinya Lu Sian sudah meloncat keluar menghadapi dua orang pengemis tua yang berdiri di depan rumah makan. Akan tetapi Lu Sian mendengar desir angin dan tahu-tahu Tan Hui sudah pula berada di sampingnya. Kembali ia kagum bukan main dan harus ia akui bahwa nama besar Hui-kiam-eng sebagai jago gin-kang nomor satu benar-benar bukanlah omong kosong belaka. Ia tadi sudah sengaja mengerahkan ilmunya meringankan tubuh ketika meloncat, sebagian untuk pamer kepada Tan Hui, juga untuk membikin jerih kedua orang pengemis tua. Siapa kira, gerakannya itu bagi Tan Hui agaknya kurang cepat karena dalam sekejap mata ia tersusul!

“Nanti dulu, adik Sian!” bisik Tan Hui yang kini tidak tahu harus menyebut apa kepada Lu Sian. Menyebut Nona tidak tepat karena Lu Sian ternyata bukan seorang gadis, melainkan seorang janda seperti pengakuannya. Menyebut Nyonya, wanita ini masih amat muda, maka ia merasa paling tepat menyebut adik saja. “Biarkan aku bicara dulu dengan mereka.”

Tanpa memberi kesempatan kepada Lu Sian yang hendak membantah, Tan Hui sudah menjura kepada dua orang pengemis tua itu sambil berkata,

“Melihat ikat pinggang putih yang Jiwi (Tuan Berdua) pakai, kiranya Ji-wi termasuk pimpinan Khong-sim Kai-pang, aku dapat bicara dengan baik, tidak seperti tiga orang anggotanya tadi yang datang-datang lantas menyerang. Mungkin Ji-wi sudah tahu bahwa di antara Khong-sim Kai-pang dan aku, tidak ada urusan permusuhan semenjak aku bertemu dengan Yu Jin Tianglo setahun yang lalu. Oleh karena itu, kuharap Ji-wi suka menghadapkan aku kepada orang tua itu agar urusan di antara kita dapat diselesaikan baik-baik. Ingin benar aku mendengar kata-kata orang tua itu tentang main-main dari Khong-sim Kai-pang dengan anakku ini!”

Di dalam ucapan Tan Hui ini, biarpun terdengar sopan dan lunak, namun terkandung kekerasan tersembunyi, sehingga sama sekali tak boleh dikatakan pendekar ini merendahkan diri. Betapapun juga, Lu Sian tidak puas. Menurut kata hatinya, lebih baik menggunakan pedang daripada menggunakan lidah dalam menghadapi orang-orang macam itu.

Dua orang pengemis itu sudah tua, usia mereka lima puluh tahun lebih. Keduanya bersikap sombong dan memandang rendah, apalagi yang memegang tongkat berbentuk ular. Mukanya yang penuh keriput itu kelihatan pucat, akan tetapi selalu membayangkan senyum mengejek dan pandang matanya seperti pandang mata seorang bangsawan melihat pengemis. Dengan gerakan mulut yang kedua ujungnya ditarik ke bawah, Si Tongkat Ular ini berkata,

“Inikah orang muda sombong bernama Tan Hui yang telah membunuh dan menghina anak buah Khong-sim Kai-pang?” Sambil berkata demikian, ia menggoyang-goyangkan tongkatnya berbentuk ular itu di depan dada dengan gerakan penuh aksi!

Akan tetapi pengemis ke dua yang mempunyai kepala besar sekali, sikapnya biar sombong namun lebih sungguh-sungguh dan berwibawa. Ia berkata dengan suara membayangkan ketinggian hati. “Hui-kiam-eng Tan Hui! Setahun yang lalu kau menggunakan kelemahan bekas pangcu (ketua) kami, mengandalkan kepandaian untuk membunuh dan menghina anak buah kami. Sekarang, kami telah mempunyai pangcu baru yang tidak mau membiarkan Khong-sim Kai-pang dihina orang. Oleh karena itu, kalau kau menghendaki anakmu selamat, pangcu kami minta kau datang menghadap kepada beliau di Kang-hu!” Setelah berkata demikian, pengemis berkepala besar ini membalikkan tubuh hendak pergi.

diampuni!” kata Si Pengemis Bertongkat Ular yang lalu membalikkan tubuh pula, kemudian dengan langkah dibuat-buat ia meninggalkan tempat itu, setelah melirik-lirik ke arah Lu Sian.

Tan Hui terkejut sekali dan termenung. Kiranya Yu Jin Tianglo sudah tidak menjadi Ketua Khong-sim Kai-pang, sudah diganti. Pantas timbul urusan ini, pikirnya. Akan tetapi, ke manakah perginya Yu Jin Tianglo? Dan siapa penggantinya? Ia harus lekas-lekas datang ke Kang-hu dan semua pertanyaan itu tentu akan terjawab. Terhadap sikap dua orang pengemis tua itu, Tan Hui sama sekali tidak ambil peduli.

Boleh jadi Tan Hui menganggap mereka itu tidak perlu dilayani. Akan tetapi tidak demikian dengan Lu Sian. Dia masih dapat menahan kesabarannya melihat dua orang itu memandang rendah Tan Hui, akan tetapi ketika pengemis kurus bertongkat ular itu membawa-bawa dia yang jelas sekali mengandung maksud kotor dan kurang ajar, mana mungkin Lu Sian berlaku sabar lagi?

“Eh, eh, nanti dulu, Lo-kai (Pengemis Tua) yang baik, aku mau bicara denganmu!” Dengan langkah cepat Lu Sian mengejar. Tan Hui mengerutkan keningnya. Sahabat barunya ini benar-benar seorang wanita yang tidak tahu bahaya, pikirnya. Melihat ikat pinggang putih lebar yang dipakai kedua orang pengemis itu, terbukti bahwa mereka adalah pimpinan Khong-sim Kai-pang dan sudah terkenal bahwa para pimpinan Khong-sim Kai-pang adalah orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi. Sekelebatan saja ia tadi dapat menerka bahwa Si Kepala Besar adalah seorang ahli lwee-kang yang amat kuat, sedangkan Si Kurus itu agaknya seorang ahli bermin ilmu tongkat. Ia dapat menduga bahwa Lu Sian tentu hendak mencari perkara, maka diam-diam ia merasa kuatir, akan tetapi juga ingin sekali ia tahu sampai di mana kelihaian dua orang pengemis itu dan terutama wanita yang menarik hatinya ini. Tadi ia hanya menaksir kelihaian Lu Sian melihat cara ia menyambit dengan sumpit, akan tetapi sesungguhnya hal itu belum dapat dijadikan ukuran. Karena keinginan tahu inilah maka ia tidak menghalangi Lu Sian, melainkan mendekat agar dalam waktu keadaan berbahaya, ia dapat memberikan pertolongan dengan cepat.

Kedua orang pengemis itu berhenti, Si Kepala Besar tidak bergerak, hanya membalikkan tubuhnya, akan tetapi Si Kurus sudah melangkah lebar menghadapi Lu Sian sambil memutar-mutar tongkat ularnya dan menyeringai. “Nona mau bicara apakah?” Ia melangkah maju sampai dekat sekali sehingga terpaksa Lu Sian mundur dua langkah.

“Harum… sedap…!” Si Pengemis mengembang-kempiskan hidungnya karena memang tercium keharuman luar biasa ketika ia mendekati Lu Sian.

Diam-diam Tan Hui mendongkol sekali terhadap pengemis itu. Memang ia sendiri diam-diam sudah menjadi heran ketika ia mencium keharuman dari tubuh Lu Sian, akan tetapi mendengar seruan kurang ajar itu ia merasa panas dadanya. Benar-benar tidak patut sikap seorang pimpinan Khong-sim Kai-pang seceriwis itu!

Lu Sian sengaja melempar senyum manis, matanya bergerak-gerak dengan kerling tajam, kemudian ia berkata, “Orang tua yang baik, kau tadi bilang kepada Tan-enghiong supaya mengajak aku menghadap pangcumu agar mendapat pengampunan, apa artinya itu?”

Si Pengemis tertawa ha-hah-he-heh. “Nona seorang yang cantik luar biasa seperti bidadari, harum seperti mawar hutan. Pangcu baru kami masih muda, tentu girang hatinya bertemu dengan orang seperti Nona, dan mungkin kemarahannya terhadap orang she Tan akan mencair.”

Di dalam hati Lu Sian mendongkol. Siapa sudi mendapat pujian dari seorang kakek jembel buruk seperti ini? Akan tetapi wajahnya yang jelita itu tersenyum manis. “Pengemis tua, kau seorang pimpinan Khong-sim Kai-pang tentu lihai dan terkenal sekali. Bolehkah aku mendengar namamu yang mulia dan terkenal?”

Si Kurus kegirangan, terkekeh sampai keluar air matanya. “Wah, namaku sih tidak terlalu besar akan tetapi di dunia kang-ouw tentu cukup dikenal, cukup menggemparkan. Julukanku adalah Sin-coa Koai-tung (Tongkat Aneh Ular Sakti)!”

Kakek jembel itu mengharapkan Lu Sian menjadi kagum, akan tetapi ia sejenak tercengang ketika melihat gadis itu bertepuk tangan memuji. Hanya sejenak ia bingung melihat cara menyatakan kagum seperti ini, akan tetapi hatinya lalu membengkak besar saking bangganya. “Hebat, Kakek Jembel, hebat namamu! Pantas kaugoyang-goyang selalu tongkatmu seperti ular itu! Kiranya julukanmu Ular Sakti. Wah, hebat, seperti halilintar di tengah hari panas!”

Kembali pengemis itu melengak. “Seperti halilintar di tengah hari? Wah, baru sekali ini aku mendengar pujian begitu.”

“Kau tahu, bukan? Halilintar yang menyambar-nyambar mengeluarkan suara keras, takkan mendatangkan hujan! Namamu seperti gentong kosong berbunyi nyaring! Seperti perut kosong kebanyakan angin, maka angin busuk pula yang dikeluarkan!”

Tan Hui tak dapat menahan senyumnya. Wah, Lu Sian ini terlalu berani, terlalu bebas dan liar, akan tetapi juga terlalu… menarik hati! Sebaliknya, Sin-coa Koai-tung marah bukan main. Tahu-tahulah ia sekarang bahwa ia telah dipermainkan oleh wanita cantik ini.

“Uh-uh, bocah kemarin sore berani kau memandang rendah tongkatku dan nama besarku?”

“Ah, sama sekali tidak. Sin-coa Koai-tung! Hanya mengingat nama julukanmu istimewa, tentu kau pun mempunyai keistimewaan pula.”

“Memang, aku mempunyai dua keistimewaan. Pertama, sekali tongkatku ini bergerak, jiwa seorang manusia melayang! Dan sekali aku melihat wanita sejelita seperti kau ini, sekaligus hatiku lemas!” Ternyata kakek ini tidak hanya lihai julukannya, juga lihai pula mulutnya sehingga serentak ia mampu membalas.

Namun ia menghadapi Liu Lu Sian, gadis yang lincah jenaka, liar ganas dan pandai bicara. “Sayang sekali, tua bangka jembel, mulai hari ini julukanmu akan terganti dengan Tongkat Buntung Ular Buduk!” Kata-kata ini ditutup dengan gerakan tangan dan “singgg!” pedang Toa-hong-kiam sudah berada di tangan kanan sedangkan tangan kirinya di saat itu juga sudah mengipatkan tujuh batang Siang-tok-ciam yang hanya tampak sebagai kilatan sinar merah menuju semuanya ke arah muka Si Pengemis Kurus!

“Aiiihhh!” Pengemis itu kaget bukan main, akan tetapi ia lihai, karena dalam kegugupannya, tongkatnya sudah diputar cepat melindungi mukanya sehingga jarum merah itu kena dipukul runtuh.

“Monyet tua, makan pedangku!” Lu Sian sudah menerjang lagi dengan pedangnya. Ia menggunakan Ilmu Pedang Toa-hong Kiam-hoat, cepatnya bukan main, dahsyat bagaikan angin badai, sesuai dengan sifat dan namanya. Seperti badai mengeluarkan kilat bertubi-tubi, dalam serentetan serangan pedangnya sudah menyambar ke arah lima jalan darah berturut-turut!

“Eh… orang…! Oh… ting… cring-cring-cring….!” Lima kali pengemis itu menangkis dengan tongkatnya, keringat dingin mengucur membasahi mukanya karena hampir saja ia tak dapat menahan serbuan hebat itu. Baiknya ilmu tongkatnya memang lihai maka setelah berhasil menangkis lima kali sambil mengeluarkan seruan kaget, ia melompat ke belakang menjauhkan diri agar terlepas daripada rangkaian kilat menyambar itu. Lu Sian berdiri tersenyum memandang dengan sinar mata berseri-seri mengejek.

“Ular Buduk, apakah kau tidak lekas berlutut minta ampun?”

Kalau tadinya pengemis kurus tua itu tertarik oleh kecantikan Lu Sian yang berhasil membangkitkan darah tuanya yang sudah hampir mendingin, kini kakek itu menjadi demikian marahnya sehingga serasa dadanya hampir meledak dan ia mengeluarkan kata-kata. Setelah menelan ludah beberapa kali, barulah ia berteriak-teriak. “Bocah setan, agaknya kau sudah bosan hidup!” Berkata demikian ia lalu memutar tongkatnya dan menerjang maju. Tongkatnya menusuk dengan gerakan aneh dan karena ujung tongkat yang bergerak-gerak tak menentu itu sukar diduga ke mana hendak menyerang.

Sejak tadi Tan Hui melongo kagum menyaksikan kehebatan ilmu pedang dan ilmu melepas jarum wanita itu. Kini ia makin kagum lagi setelah menyaksikan betapa Lu Sian menghadapi tongkat yang digerakkan sedemikian lihainya dengan cara sembarangan dan main-main saja. Pedang di tangan Lu Sian membentuk garis-garis segi delapan seperti pat-kwa. Akan tetapi anehnya, ke mana pun ujung tongkat pengemis itu meluncur, ia pasti bertemu dengan garis pedang sehingga tongkatnya terpental kembali.

“Hebat wanita ini!” diam-diam Tan Hui berpikir. Ia mencoba untuk memperhatikan dan mengenal ilmu pedang itu, namun sia-sia. Sifatnya seperti Pat-kwa-kun, akan tetapi ada kalanya mirip Ilmu Pedang Pat-sian Kiam-hoat yang tersohor, namun ini hanya mirip belaka karena sifatnya benar amat berlainan.

Ilmu pedang ini aneh dan menyembunyikan sifat yang amat ganas. Dalam waktu singkat saja Sin-coa Koai-tung merasai keganasan ini karena tiba-tiba garis-garis itu berobah menjadi lingkaran berputar-putar dan tiba-tiba dari kedudukan mempertahankan, pedang itu berobah menjadi fihak penyerang karena setiap tangkisan dilanjutkan dengan tusukan yang kesemuanya mengarah bagian berbahaya. Mulailah pengemis itu terdesak dan celakanya, tangan kiri Lu Sian terus menerus bergerak, sekali bergerak menyambarlah sebatang jarum merah yang berbau wangi. Sambaran jarum dibarengi tusukan pedang. Serangan Ilmu Pedang Pat-mo Kiam-hoat ciptaan Pat-jiu Sin-ong saja sudah hebat apalagi kini ditambah dengan serangan Siang-tok-ciam, tentu saja ia menjadi repot sekali.

“Menarilah, Ular Buduk, menarilah!” Lu Sian berkata mengejek dan menyerang makin gencar dengan jarum dan pedangnya. Sengaja ia menutup jalan bawah dengan serangan jarum bertubi-tubi sedangkan pedangnya merangsang ke arah muka sehingga keadaan pengemis itu seperti seekor kera dikeroyok tawon. Ia meloncat-loncat menghindarkan kakinya dari sambaran jarum, sedangkan sedapat mungkin ia melindungi mukanya dari ancaman pedang dengan pemutaran tongkatnya yang sudah tidak karuan lagi gerakannya!

Tiba-tiba Lu Sian membentak, disusul teriakan kesakitan. Cepat sekali hal ini terjadi, tahu-tahu pengemis itu roboh dengan paha tertusuk jarum dan telinganya menggelinding ke dekat kaki Lu Sian dan sekali bacok, tongkat itupun buntung!

“Nah, bukankah kau sekarang menjadi Tongkat Buntung Ular Buduk?” Lu Sian mengejek.

Kebetulan saat itu Lu Sian berdiri membelakangi pengemis kepala besar, dan agaknya ia tidak tahu betapa dengan penuh kemarahan kakek pengemis itu sudah melompat maju dan mengirim pukulan dengan tangan kosong yang menimbulkan angin bersiutan!

“Jangan curang!” Tiba-tiba Tan Hui berseru. Tempat ia berdiri cukup jauh, akan tetapi sekali kakinya menjejak tanah, tubuhnya berkelebat cepat luar biasa dan di lain saat ia telah menangkis pukulan jarak jauh yang dilakukan pengemis kepala besar.

“Dukkk!” Dua buah lengan yang kuat bertemu dan terus menempel. Alangkah kaget hati Tan Hui ketika mendapat kenyataan betapa lengannya seakan-akan lekat dan tak dapat ditarik kembali. Ia maklum bahwa pengemis itu mempergunakan lweekang yang amat tinggi, maka terpaksa ia pun lalu mengerahkan lweekangnya untuk melawan. Mereka bertanding tanpa bergerak, hanya kedua lengan saling tempel, saling mendorong dengan pengerahan tenaga lweekang. Pertandingan macam ini selalu lebih berbahaya daripada pertandingan ilmu silat yang setiap serangan masih dapat dielakkan. Akan tetapi adu tenaga macam ini, yang kalah tentu akan menderita luka dalam yang amat berbahaya. Ketika merasa betapa tenaga pengemis itu benar-benar amat kuat, makin lama dorongan dan tekanannya makin berat, diam-diam Tan Hui mengeluh. Kalau mengandalkan ilmu silat, kiranya takkan sukar mengalahkan lawan ini, akan tetapi sekarang sudah terlanjur mengadu tenaga, sukar baginya untuk mundur lagi. Maju payah, mundur berbahaya! Terpaksa ia nekat dan mengerahkan terus tenaga dalamnya.

“Koko, mengapa begini sabar melayani dia?” Tiba-tiba Lu Sian berkata halus di belakang Tan Hui sambil menepuk pundak pendekar itu. Tan Hui kaget. Tepukan itu biarpun perlahan namun dapat mengganggu pengerahan tenaga lweekangnya, karena tepukan itu agaknya mengarah punggung dekat pundak. Namun untuk menghindarkan diri tak mungkin. Celaka, pikirnya, apakah Lu Sian ini hendak mencelakai aku? Tapi suaranya begitu merdu, panggilannya “koko” begitu mesra.

“Plakkk!” Benar-benar Lu Sian menepuk punggungnya, tempat dimana hawa sin-kang lewat dan menjurus ke lengannya yang menempel dengan lengan lawan. Akan tetapi anehnya, tenaganya bukannya buyar melainkan menjadi makin kuat dan tahu-tahu kakek berkepala besar itu mencelat ke belakang sampai tiga meter jauhnya, lalu bergulingan beberapa kali baru meloncat berdiri dengan muka pucat!

“Kalian yang curang!!” Kakek itu memaki dan begitu kedua tangannya bergerak, ia sudah menyambar sebuah batu besar di sampingnya dan melontarkannya ke arah Tan Hui dan Lu Sian. Batu itu besar sekali, beratnya tentu tidak kurang dari lima ratus kati, akan tetapi tidak begitu mudah dilontarkan seperti orang melontarkan sekepal batu saja!

Hebat serangan ini, karena jarak di antara mereka hanya empat meter sedangkan batu itu menyambar amat cepat. Lu Sian berseru keras dan tubuhnya lalu ia banting ke belakang, terus ia bergulingan menjauhi tempat itu. Ia melihat dengan penuh kekaguman betapa tubuh Tan Hui mencelat ke depan agak tinggi dan tepat pendekar itu hinggap di atas batu yang menyambar lewat, seperti seekor burung saja gerakan ini, kemudian ia “menunggang” batu itu dan ketika batu jatuh ke tanah, ia pun meloncat turun!

“Wah, kalau aku memiliki ginkang seperti itu, barulah puas hidupku!” Tanpa terasa lagi Lu Sian berseru penuh kekaguman.

Kakek berkepala besar itu telah menderita luka dalam. Ia menjura lalu berkata, “Hui-kiam-eng, kepandaianmu dan temanmu memang hebat. Akan tetapi kalau kau berani mendatangi tempat pangcu kami di Kang-hu untuk menerima puterimu atau menerima kematiamu, barulah kami benar-benar kagum!” Ia lalu menghampiri temannya yang masih merintih-rintih, dan menyeretnya pergi dari situ.

Adik Lu Sian, hebat bukan main kepandaianmu! Benar-benar tak pernah kusangka. Kiam-hoatmu aneh dan hebat, adapun tenaga lweekangmu… ah, benar-benar aku seperti tidak bermata tak tahu bahwa aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang sakti!”

Lu Sian tersenyum, girang sekali hatinya. “Ah, Tan Hui Koko, mengapa kau begitu memuji setinggi langit? Kalau mau bicara tentang kelihaian, kaulah orangnya. Terutama sekali ginkangmu, benar-benar

membuat aku tunduk dan kagum. Kalau saja aku dapat memiliki ginkang seperti itu, ahh.. alangkah akan bahagia hatiku.”

“Bagi seorang seperti kau ini, Adik Lu Sian, tidak ada lagi yang tak mungkin di dunia. Apa sukarnya mempelajari ginkang bagi kau uang sudah mampu mempelajari ilmu silat sehebat itu?”

“Benarkah? Benarkah, Kakak yang baik? Kau suka untuk mengajarkan ginkangmu kepadaku? Ah, terima kasih… kau baik sekali, baik sekali…” saking girangnya Lu Sian memegang lengan Tan Hui dengan kedua tangannya. Sejenak mereka berdiri seperti itu, mata saling pandang, dan di dalam hati masing-masing makin tertarik. Semenjak dua tahun yang lalu isterinya meninggal dunia karena sakit, Tan Hui hidup penuh dengan kesunyian. Hal itu biarpun amat mendukakan hatinya, namun dapat ia tahan, karena Tan Hui adalah seorang jantan yang berbatin kuat. Tidak mudah hatinya tergoda oleh kecantikan wanita, maka selama ini ia pun tinggal menduda, sedikit pun tidak pernah menoleh ke arah wanita lain, menekuni kesunyian hidupnya. Akan tetapi pertemuannya dengan Lu Sian ini adalah luar biasa. Wanita ini luar biasa cantiknya, luar biasa pula kepandaiannya. Tidaklah heran kalau Tan Hui menjadi tertarik. Hati seorang kakek pendeta sekalipun mungkin akan tergetar kalau melihat Lu Sian yang cantik jelita, yang semerbak harum, berlagak memikat hati. Bagi Tan Hui, Lu Sian merupakan wanita yang amat menarik, apalagi kalau diingat bahwa mendiang isterinya adalah seorang wanita lemah, berbeda sekali dengan Lu Sian ini yang dalam hal kepandaian, tidak berada di sebelah bawah tingkatnya sendiri!

“Bagaimana, Koko? Tentu kau mau mengajarku ginkang, bukan?”

Sudah berada di ujung lidah Tan Hui untuk menyanggupi, akan tetapi mengingat bahwa ilmu pedang dan ilmu ginkangnya adalah kepandaian yang merupakan ilmu turunan, ia merasa agak meragu. “Aku tidak keberatan… eh, tapi… ilmu itu belum pernah diturunkan kepada orang luar… eh, maksudku, itu adalah ilmu turunan…”

Lu Sian yang masih memegang lengan Tan Hui, merapatkan tubuhnya sehingga Tan Hui terpaksa meramkan mata karena keharuman yang menyengat hidungnya membuat hatinya berguncang keras. “Apakah kau tidak mau menganggap aku orang dalam…?” Suaranya merdu lirih seperti berbisik.

Pada saat itu, sudah banyak orang berkumpul karena tadi tertarik oleh keributan di depan rumah makan. Melihat ini, Tan Hui segera berkata perlahan.

“Moi-moi, tak baik bicara di sini seperti ini. Di manakah kau tinggal? Mari kita bereskan perhitungan dengan rumah makan dulu.”

“Aku tinggal di penginapan sebelah rumah makan. Biarkan aku yang membayar, Tan-koko…”

pengawal atau tukang pukul. Akan tetapi begitu tiba di depan Tan Hui, tujuh orang itu segera menjatuhkan diri berlutut dan setelah dekat tampaklah bahwa mereka adalah para piauwsu (pengawal barang berharga) yang mukanya penuh debu dan keringat, bahkan di antara mereka ada yang terluka sehingga pakaian mereka berlumur darah.

“Tan-taihiap (Pendekar Besar Tan), mohon suka memberi pertolongan kepada kami para piauwsu yang celaka !” Seorang diantara mereka yang tertua dan pundaknya terluka bacokan, segera berkata dengan
suara penuh permohonan. “Kebetulan sekali kami yang bercelaka mendengar akan kehadiran Taihiap di sini, maka kami segera menghadap Taihiap untuk mohon pertolongan. Kalau Taihiap tidak suka menolong, berarti kami sekeluarga akan mati….”

Tan Hui mengerutkan keningnya. Tidak patut para piauwsu yang termasuk golongan orang gagah bersikap selemah ini. “Kalian ini rombongan piauwsu dari manakah dan apa yang terjadi sehingga kalian merengek-rengek seperti anak kecil?” tanyanya berisikan teguran.

“Maaf, Taihiap, kalau sikap kami menjemukan Taihiap. Akan tetapi karena kami sudah putus harapan. Ketahuilah, Tan-hiap. Kami dari perusahaan pengantar barang Hong-ma-piauwkiok (Perusahaan Pengantar Kuda Angin). Kali ini kami ditugaskan mengantar lima peti barang-barang berharga milik seorang pembesar yang pindah tempat, yang katanya berharga ribuan tali emas. Karena perjalanan menuju kota Sui-kiang biasanya aman, kami tidak merasa kuatir apa-apa. Ternyata, di luar dugaan, di lereng bukit itu, hanya empat puluh li dari sini, kami dihadang perampok, barang-barang kami dirampas semua, bahkan diantara kami ada yang tewas dan luka-luka. Gerombolan perampok itu agaknya masih baru di sana, dipimpin oleh kepalanya yang lihai. Tan-taihiap, harap tuan sudi menolong kami, karena kami tidak mampu merampas kembali lima buah peti itu pasti perusahaan kami akan bangkrut, dan kami semua akan diseret ke penjara!”

“Kalian tidak becus melawan perampok, mengapa berani menjadi piauwsu?” Tiba-tiba Lu Sian membentak mereka. “Memang piauwsu lawannya perampok, siapa kalah harus berani menanggung resikonya, mengapa kalian ribut merengek-rengek minta bantuan orang lain? Tak tahu malu! Hayo pergi, jangan ganggu lagi, kami punya urusan yang lebih penting!”

Tujuh orang piauwsu itu kaget sekali. Mereka bingung karena tidak tahu siapa adanya wanita cantik jelita yang galak itu. Akan tetapi karena melihat wanita itu berada di situ bersama Tan Hui, mereka lalu membentur-benturkan jidat ke tanah sambil memohon-mohon dengan suara pilu.

“Sudah bertahun-tahun mendengar nama besar Tan-taihiap sebagai pendekar budiman yang selalu mengulurkan tangan menolong mereka yang menghadapi melapetaka! Kini kami mohon dengan segala kerendahan hati…”

“Koko! Kau hendak memenuhi permintaan mereka yang cerewet ini? Bukan urusan kita…”

“Hanya sebentar, Sian-moi. Bukit itu tampak dari sini, dan membereskan segala macam perampok hina apa sih sukarnya? Hanya makan waktu beberapa jam juga beres.”

“Aku tidak sudi mencampuri urusan piauwsu-piauwsu tengik ini!” Lu Sian cemberut. Tan Hui tersenyum. “Biarlah aku sendiri yang mengurus hal ini, harap kau suka menanti. Tak lama aku kembali.”

Lu Sian tidak menjawab, keningnya berkerut dan matanya memandang ke arah para piauwsu dengan marah. Kemudian ia membalikkan tubuh memasuki rumah makan. Setelah Tan Hui pergi dengan cepatnya diikuti para piauwsu yang seakan-akan hidup kembali karena mendapat harapan besar tertolong. Lu Sian lalu dengan sikap uring-uringan membayar harga makanan, menyuruh pelayan rumah makan mengambil alat tulils, lalu ditulisnya beberapa huruf di atas kertas yang kemudian dilipatnya dan diserahkannya kepada pengurus rumah makan.

“Kalau Tan Hiap datang, kauberikan surat ini kepadanya. Awas, jangan sampai lupa, surat ini sama harganya dengan sepasang telingamu!” Pengurus itu yang tadi melihat betapa wanita kosen ini membikin buntung telinga seorang pengemis lihai, menjadi ngeri dan hanya dapat memandang dengan lidah keluar ketika Lu Sian dengan langkah gesit keluar dari situ

Mengapa terjadi keanehan pada perkumpulan Khong-sim Kai-pang? Dahulu perkumpulan ini terkenal sebagai perkumpulan pengemis yang mengutamakan kegagahan dan kebaikan, di bawah pimpinan Yu Jin Tianglo yang terkenal bijaksana dan keras terhadap anak buahnya sehingga jarang terjadi anak buah perkumpulan ini berani melakukan penyelewengan.

Akan tetapai, memang terjadi perubahan hebat sejak tiga bulan yang lalu. Seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih bernama Pouw Kee Lui, berasal dari pantai Lautan Po-hai, datang membuat gara-gara. Pouw Kee Lui ini bukan orang sembarangan, ia murid seorang sakti yang bertapa di dalam gua-gua sepanjang pantai Po-hai. Semenjak kecil Pouw Kee Lui digembleng oleh pertapa ini dan memperoleh ilmu silat yang tinggi sekali. Akan tetapi beberapa tahun yang lalu, ia tidak dapat menahan gelora nafsunya yang memang selalu mengalahkan batinnya sehingga ia menculik dan memperkosa seorang wanita nelayan, membunuh suami wanita itu dan beberapa orang keluarganya yang hendak membela wanita itu. Gurunya marah sekali, akan tetapi dalam cengkeraman nafsu iblis, Pouw Kee Lui turun tangan pula terhadap gurunya yang sudah amat tua dan lemah sehingga ia berhasil membunuh gurunya sendiri, kemudian membunuh pula wanita itu! Peninggalan gurunya berupa kitab-kitab pelajaran ilmu kesaktian ia ambil semua dan pergilah Pouw Kee Lui meninggalklan pantai Po-hai dengan kedua tangan berlepotan darah pembunuhan kejam! Selama bertahun-tahun ia memperdalam ilmunya, mempelajari kitab-kitab

dari suhunya, maka kepandaiannya makin meningkat tinggi.

murka, mengandalkan kepandaiannya untuk melakukan apa saja demi memuaskan dirinya. Merampok, membunuh, merampas wanita, dan mengganggu orang-orang kang-ouw untuk mengangkat diri dan namanya sehingga dalam beberapa tahun saja terkenallah nama Pouw Kee Lui sebagai seorang tokoh muda yang ganas dan kejam sepak terjangnya.

Pada suatu hari, yaitu tiga bulan yang lalu, sampailah Pouw Kee Lui di Kang-hu dan ia mendengar tentang perkumpulan Khong-sim Kai-pang yang terkenal dan kuat. Dengan tertarik ia mendatangi markas perkumpulan itu dan tercenganglah ia menyaksikan betapa kuil tua yang dijadikan pusat perkumpulan, ternyata di sebelah dalamnya terdapat perabot-perabot rumah yang cukup lumayan dan lengkap. Tertarik pula melihat betapa kedudukan ketua perkumpulan ini amat dihormat, baik oleh anak buah Khong-sim kai-pang yang mempunyai ratusan orang anggota, maupun oleh para penduduk sekitar tempat itu. Bahkan pembesar-pembesar negeri memandang perkumpulan ini dengan hormat! Maka timbullah niatnya yang bukan-bukan yaitu ingin merampas kedudukan ketua Khong-sim Kai-pang!

Dengan tenang ia mendatangi kuil di luar kota Khang-hu, dan dengan seenaknya pula ia menyatakan kepada Yu Jin Tianglo bahwa ia ingin menjadi ketua Khong-sim Kai-pang! Tentu saja belasan orang pimpinan itu menjadi marah, namun sekaligus mereka itu dirobohkan secara mudah oleh Pouw Kee Lui! Bahkan Yu Jin Tianglo sendiri yang tentu saja mempertahankan kedudukan, terutama nama besarnya, dalam pertandingan yang hebat terbunuh olehnya!

Sifat-sifat baik seseorang sukar ditiru dan tidak mudah menular. Sebaliknya sifat-sifat buruk itu tanpa diajarkan pun akan mudah ditiru dan merupakan semacam penyakit batin yang mudah menular. Setelah menyaksikan kesaktian petualang muda itu, para pimpinan Khong-sim Kai-pang mau tak mau terpaksa tunduk, dan kemudian, melihat sifat Pouw Kee Lui atau Kai-pangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis) yang baru ini jauh berlainan dengan sifat dan watak Yu Jin Tianglo, para anggota perkumpulan ini menjadi gembira sekali. Nafsu mereka yang selama berada di bawah pimpinan dan pengawasan Yu Jin Tianglo seakan-akan tertekan, kini mendapat jalan keluar dan mulailah terjadi pelanggaran-pelanggaran oleh anak buah Khong-sim Kai-pang. Bahkan dendam yang selama ini terpaksa disimpan saja di dalam hati terhadap Hui-kiam-eng Tan Hui karena Yu Jin Tianglo malah menyalahkan anak buahnya sendiri, kini meluap-luap dan ketika para pimpinan menceritakan kepada ketua baru itu. Pouw Kee Lui segera mengatur rencana dan menyuruh para pimpinan yang berkepandaian cukup tinggi untuk menculik puteri Tan Hui yang baru berusia lima tahun dari rumah paman bocah itu. Hal ini dilakukan untuk langsung pergi mencari Hui-kiam-eng Tan Hui, ketua baru ini merasa dirinya terlalu tinggi!

Demikianlah peristiwa hebat yang terjadi pada perkumpulan Khong-sim Kai-pang dan yang tentu saja mengherankan hati Tan Hui dan juga Lu Sian yang sudah mendengar akan kebesaran perkumpulan itu dan ketuanya, Yu Jin Tianglo.

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Pouw Kee Lui melihat anak buahnya mendapat penghinaan dari Tan Hui dan seorang wanita jelita bernama Lu Sian, malah dua orang pembantunya yang ia anggap berkepandaian cukup yang ia utus menantang Hui-kiam-eng Tan Hui, juga menerima penghinaan pula. Ia anggap penghinaan melampaui batas dan ketika sore hari itu ia mengambil keputusan untuk mencari sendiri Tan Hui, tiba-tiba muncullah Lu Sian yang menerobos masuk dengan pedang di tangan dan berseru.

“Di mana adanya Yu Jin Tianglo! Aku mewakili Hui-kiam-eng Tan Hui untuk mengambil kembali puterinya!”

Di dalam kuil itu para pimpinan Khong-sim Kai-pang berkumpul, malah dua orang pengemis yang telinganya buntung dan Si Kepala Besar yang menderita luka dalam juga hadir di situ. Menyaksikan seorang wanita muda dengan pedang di tangan yang demikian cantik jelita, sejenak Pouw Kee Lui melongo terpesona dan keheranan. Ia dapat menduga tentu inilah teman Tan Hui yang telah membuntungi telinga pembantunya. Ia terheran-heran bagaimana ada seorang wanita muda yang cantik jelita seperti ini mampu melakukan hal itu. Pouw Kee Lui pada hakekatnya bukanlah seorang laki-laki mata keranjang, namun kali ini ia benar-benar terpesona dan untuk sejenak ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Namun ia tidak bodoh. Ia tahu bahwa seorang, apalagi kalau ia wanita, yang sudah berani dengan sikap begini tabah memasuki sarang lawan, tentulah memiliki kepandaian yang boleh diandalkan. Kepandaian dua orang pembantunya bukanlah rendah, dan kalau dua orang pembantunya itu setelah bertemu dengan wanita ini pulang dalam keadaan terluka cukup hebat, terkena jarum beracun harum, telinganya buntung dan isi dadanya terguncang dan terluka, jelas bahwa di dalam kai-pang, kiranya hanya dia seorang yang akan sanggup menandingi wanita itu. Maka sebagai seorang yang berpengalaman luas, ia bersikap hati-hati, ingin tahu lebih dulu siapa gerangan wanita ini dan dari golongan mana.

Akan tetapi, begitu dua orang pengemis yang kalah di depan rumah makan itu melihat munculnya Lu Sian, mereka sudah lantas memaki dan memandang dengan mata melotot. Ini cukup menjadi isyarat bagi para pimpinan pengemis yang jumlahnya ada tujuh orang lagi. Serentak mereka itu bangkit dan mencabut senjata masing-masing. Tujuh orang pengemis ini semua adalah pengemis tua dan yang memiliki kepandaian tinggi. Lima di antara mereka, bersenjatakan tongkat mereka, sedangkan yang dua orang mencabut pedang.

Namun Lu Sian sama sekali tidak takut. Dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tangan kanan yang memegang pedang menudingkan ujung pedangnya ke arah tujuh orang pengemis itu, ia membentak.

“Aku tidak ada tempo untuk berurusan dengan segala macam jembel tua bangka! Suruh Yu Jin Tianglo keluar untuk bicara denganku!”

Akan tetapi tujuh orang pengemis itu tidak ada yang menjawab atau peduli, bahkan mereka lalu membuat gerakan mengurung nona yang cantik dan galak ini. Lu Sian menjadi gemas sekali dan ia sudah siap menerjang untuk memberi hajaran ketika di belakangnya terdengar suara yang jelas dan nyaring.

Kaget sekali Lu Sian mendengar hal ini. Ia memang mendengar dari dua orang pengemis bahwa para para pengemis sudah mempunyai ketua baru, akan tetapi tidak ia sangka bahwa Yu Jin Tianglo sudah mati. Cepat ia memutar tubuh menghadapi Si Pembicara yang bukan lain adalah Pouw Kee Lui. Ia melihat sorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, tubuhnya sedang, kumis dan jenggotnya pendek, wajahnya berkulit kasar akan tetapi tidaklah buruk bahkan mendekati tampan. Kelihatannya orang ini lemah dan tidak mempunyai kepandaian yang tinggi, akan tetapi sepasang matanya mencorong bagaikan mata srigala. Pakaiannya biar sederhana, namun tidak ada yang ditambal, maka ia sama sekali tidak kelihatan seperti anggota pengemis, apalagi seperti ketua pengemis.

“Mati…?” Lu Sian ketika memutar tubuhnya berseru. “Ya, mati,” kata Pouw Kee Lui dan senyum sinis muncul di bibirnya. “Tidak kebetulan sekali, ia mati melawan aku.”

Diam-diam kagetlah Lu Sian. Siapa kira, orang macam ini mampu mengalahkan bahkan membunuh Yu Jin Tianglo yang terkenal berkepandaian tinggi? Tak masuk akal! Orang di depannya ini pantasnya seorang petani gunung, atau paling hebat seorang pedagang obat keliling.

“Hemmmm,” akhirnya ia mendengus, “kau siapakah?” Akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba tujuh orang pengemis tua sudah serentak maju menerjangnya. Terpaksa Lu Sian memutar pedangnya dan membalikkan tubuh menghadapi mereka yang sudah mengurungnya. Ia segera menggunakan jurus Delapan Iblis Menahan Hujan dari Ilmu Silat Pat-mo Kiam-hoat, sekaligus ia menangkis datangnya hujan senjata, bahkan sekaligus pula dapat balas menyerang! Terdengar suara nyaring beradunya senjata dan di antara berdentingan ini Lu Sian mendengar orang itu tertawa dan berkata dengan nada mengejek.

“Namaku Pouw Kee Lui, Nona, dan akulah sekarang Ketua Khong-sim kai-pang!”

Lu Sian marah sekali karena ia kini dapat menduga bahwa ketua baru yang kelihatan lemah itu amat curang. Tentu tadi selagi bicara memberi perintah kepada para pembantunya untuk menyerbunya, menggunakan kesempatan selagi ia agak jengah. Baiknya ia dapat menghindarkan diri dari serangan mendadak itu dan kemarahannya meluap-luap ketika ia memaki, “Pengecut tengik! Kalau tidak lekas dibebaskan puteri Tan Hui, akan kubasmi habis Khong-sim Kai-pang hari ini!”

Pouw Kee Lui memperhatikan gerakan pedang nona itu dan diam-diam ia terkejut dan heran karena ia sama sekali tidak mengenal gerakan ilmu pedang yang mirip Pat-sian Kiam-hoat itu. Ia sudah berpengalaman dan boleh dibilang mengenal ilmu pedang dari golongan manapun, baik dari partai bersih maupun dari golongan hitam. Akan tetapi ilmu pedang yang dimainkan nona ini sama sekali asing baginya dan ia harus akui bahwa ilmu pedang ini hebat!

Tiba-tiba tedengar suara “wesss-wessss” beberapa kali dan…. Seorang demi seorang pengemis tua yang mengeroyok Lu Sian, terjungkal roboh karena mereka merasa kaki mereka menjadi lumpuh secara mendadak. Lu Sian sendiri tidak tahu mengapa mereka itu pada roboh dengan sendirinya, maka ia tidak mau mengotori pedangnya dengan lawan yang robh bukan oleh dia. Dengan heran dia hanya menambah tendangan saja yang membuat amereka roboh mencelat keluar dari ruangan, hiruk pikik mereka memaki dan menyatakan rasa heran.

“Ilmu siluman….!” “Dia bukan manusia!” Tujuh orang pengemis itu memaki-maki. Akan tetapi Pouw Kee Lui menjadi kaget bukan main. Matanya mengerling kekiri dan ia melihat sebuah kantung besar, seperti karung tempat beras, bersandar di sudut kiri ruangan itu, di belakang patung Budha. Ia tahu betul bahwa tadinya tak pernah ada karung seperti itu. Tentu dari karung itulah datangnya hawa pukulan yang membuat para pembantunya tadi roboh, maka ia berlaku hati-hati sekali. Gadis cantik jelita itu sudah lihai ilmu pedangnya, dan masih mempunyai pembantu yang demikian hebat ilmu pukulannya dari jarak jauh. Ia harus membikin wanita ini tidak berdaya, baru ia akan menghadapi tokoh aneh yang bersembunyi itu. Pouw Kee Lui memang cerdik dan juga banyak akal bulusnya. Kini dengan wajah tersenyum dan pandang mata kagum ia melangkah maju menghampiri Lu Sian sambil menjura dan berkata.

“Lihiap benar-benar hebat sekali, membuat orang kagum!” Akan tetapi ia menjura bukan sembarang menghormat karena diam-diam ia menggunakan tenaga dalam untuk melancarkan pukulan yang amat kuat. Lu Sian kaget. Tentu saja ia sudah bersiap sedia dan sudah pula menduga bahwa ketua baru Khong-sim Kai-pang ini mungkin melakukan serangan gelap berselimut penghormatan, akan tetapi ia sama sekali tidak mengira bahwa tenaga serangan gelap itu akan sehebat ini. Ia merasa dadanya sesak. Cepat-cepat ia mengerahkan tenaga untuk melawan dorongan tenaga yang tak tampak itu, dan legalah hatinya bahwa ia berhasil mendorong mundur hawa pukulan Pouw Kee Lui. Akan tetapi pada saat keduanya bersitegang mengerahkan tenaga dan pada saat Lu Sian merasa lega karena mengira bahwa tenaga dalamnya dapat menolak mundur lawan sehingga perasaan ini membuat ia agak lengah, tiba-tiba tangan kanan Pouw Kee Lui menyambar ke depan dan tahu-tahu lengan kiri Lu Sian sudah kena dicengkeram!

Lu Sian terkejut bukan main, tak pernah mengira lawan ini selicik itu karena biasanya orang yang saling mengadu tenaga lwee-kang seperti mereka itu, sama sekali tidak mengandung lain pikiran untuk melakukan serangan gelap seperti yang dilakukan ketua pengemis ini. Dicengkram lengan kirinya, Lu Sian merasa sakit sekali, seakan-akan dari telapak tangan kanan Pouw Kee Lui keluar api yang mengalir masuk melalui pergelangan tangannya yang dicengkram. Ia kaget dan marah, lalu menggerakkan pedang di tangan kanannya dibacokkan ke arah muka lawan.

Namun tenaga bacokan ini berkurang karena ia merasa tangan kirinya sakit sekali. Agaknya Si Ketua Pengemis menambah tenaga cengkeramannya. Begitu hebatnya rasa nyeri sehingga bacokan Lu Sian tidaklah sehebat yang ia inginkan. Dengan tangan kirinya yang dibuka jari-jarinya, Pouw Kee Lui menangkis, tepat mengenai tangan kanan Lu Sian yang memegang pedang. Begitu keras tangkisan ini sehingga terpaksa Lu Sian melepaskan pedangnya yang meluncur ke sebelah kanannya, ke arah karung yang bersandar di sudut belakang arca! Ini saja sudah membuktikan kehebatan tenaga dan kepandaian Pouw Kee Lui yang sekaligus sambil menangkis serangan pedang, dapat membuat pedang lawan menyerang “karung” itu.

Tepat seperti yang diduganya, karung itu bukan benda mati Karena tiba-tiba karung itu mencelat ke atas dan pedang Toa-hong-kiam yang menyambarnya itu terpental dan menancap pada lengan patung. Karung itu sendiri setelah jatuh di atas lantai, membal lagi ke atas dan hinggap di atas kepala arca itu, bergoyang-goyang akan tetapi tidak jatuh ke bawah.

Sementara itu, sejenak Lu Sian terkejut sekali oleh kelihaian ketua baru Khong-sim Kai-pang ini. Namun ia segera mengerahkan khikang, tubuhnya merendah dan tangan kanan dengan jari terbuka menghantam pusar lawan sambil tangan kirinya yang masih dicengkram itu di tarik keras.

Hebat sekali serangan yang bersifat ganas ini, serangan maut dengan pukulan dari ilmu silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti) ditambah pengerahan tenaga sakti dan suara teriakan yang mengandung khi-kang. Pouw Kee Lui juga kaget, terpaksa melepaskan pegangannya dan mencelat mundur. Lu Sian sudah menyambar pedangnya yang menancap di lengan arca, dengan kemarahan meluap ia sudah siap lagi menghadapi lawannya yang tangguh, tangan kirinya diam-diam mengambil segenggam Siang-tok-ciam.

Pouw Kee Lui kagum menyaksikan kepandaian Lu Sian. Akan tetapi ia tahu, bahwa menghadapi gadis jelita ini, ia takkan kalah. Yang membuat ia ragu-ragu adalah setan karung itu, yang ia belum ketahui siapa, bahkan belum ia ketahui apakah isinya, manusia, binatang, ataukah setan? Akan tetapi ia dapat menduga bahwa yang berada dalam karung itu memiliki kepandaian yang amat tinggi, lebih tiggi daripada kepandaian nona ini, bahkan belum tentu ia sendiri mampu menandinginya. Melihat munculnya tokoh rahasia ini tepat pada waktu Lu Sian datang mewakili Tan Hui, Ketua Khong-sim Kai-pang ini menjadi curiga dan ia berlaku lebih hati-hati. Seperti biasa, Pouw Kee Lui orangnya cerdik, dapat melihat gelagat dan tidak mau sembrono.

“Tahan dulu, Nona!” ia berseru melihat lawannya sudah siap hendak menerjangnya lagi, bahkan siap dengan jarum-jarum rahasia di tangan kiri. Ketika ia memeriksa luka akibat jarum merah yang wangi itu, ia sudah terheran dan menduga-duga, dari golongan mana wanita cantik yang menggunakan jarum beracun harum dan berwarna merah.

Lu Sian juga bukan seorang bodoh. Ia tahu bahwa ketua baru yang masih muda ini benar-benar amat lihai, dan ia masih belum tahu pula apakah atau siapakah adanya karung yang dapat bergerak aneh bahkan yang tidak termakan oleh pedangnya, yang dapat mengeluarkan hawa pukulan membikin roboh para pimpinan pengemis yang mengeroyoknya tadi dan sekarang masih bergoyang-goyang di atas kepala arca. Menghadapi seorang seperti Pouw Kee Lui, ia tidak boleh berlaku nekat dan sembrono. Maka ia pun menahan serangannya, memandang dengan mulut, hatinya masih mendongkol karena pergelangan tangan kirinya, masih terasa nyeri bekas cengkeraman Pouw Kee Lui yang kuat.

“Nona, terus terang saja, di antara kau dan aku tidak terdapat permusuhan apa-apa, bahkan selamanya baru kali ini kita saling jumpa. Urusan antara kami dan Hui-kiam-eng Tan Hui adalah urusan perkumpulan yang kupimpin, bukan urusanku pribadi, melainkan urusan Khong-sim Kai-pang. Oleh karena itu, untuk menghindarkan kesalahpahaman, bolehkah kami bertanya, siapakah Nona yang datang mewakili Tan Hui, dari golongan mana dan apa sebabnya mewakili Hui-kiam-eng Tan Hui yang tidak berani datang sendiri?”

situ masih banyak terdapat pimpinan Khong-sim Kai-pang yang juga tidak boleh dipandang ringan kalau mereka maju mengeroyok, perlu ia mempergunakan nama Beng-kauw. Maka jawabnya dengan suara lantang.

“Dari golongan mana datangku, tak perlu kusebut-sebut karena terlampau besar untuk dibandingkan dengan perkumpulan segala macam jembel busuk. Akan tetapi kalau hendak mengetahui namaku, aku adalah Liu Lu Sian, adapun Ayahku adalah Pat-jiu Sin-ong Liu Gan…”

“Beng-kauwcu (Ketua Beng-kauw). ..??” Pouw Kee Lui memotong cepat dan kaget. “Betul. Nah, kau mau bicara apalagi?” Lu Sian berkata dengan suara angkuh. “Aku mendengar bahwa puteri Beng-kauwcu telah menikah dengan Kam-goanswe…?” “Sekarang tidak lagi!” Lu Sian cepat memotong. “Nah, sekarang kau mau serahkan puteri Hui-kiam-eng atau kita lanjutkan pertandingan?”

Pouw Kee Lui tersenyum. Tentu saja ia tidak takut menghadapi Lu Sian. Akan tetapi setelah ia mengetahui bahwa wanita ini adalah puteri Beng-kauwcu, ini lain lagi soalnya! Tentu saja ia tidak boleh main-main dengan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, ketua dari Beng-kauw! Tidak nanti ia mau mengorbankan diri untuk membela anak buah Khong-sim Kai-pang, perkumpulan pengemis yang baru saja ia pimpin. Ia merebut kedudukan pangcu bukan karena ia terlalu mencinta para pengemis.

“Ah, kiranya puteri Beng-kauwcu! Di antara kita orang segolongan, perlu apa terjadi pertengkaran tiada artinya?”

“Kita bukan segolongan! Dan jangan kira aku datang untuk mengemis kebaikanmu. Aku bukan pengemis!”

Kembali Pouw Kee Lui tersenyum. Tidak terasa sakit hatinya karena ia sendiri pun tidak merasa sebagai pengemis biarpun ia mengepalai perkumpulan pengemis. Akan tetapi para pimpinan Khong-sim Kai-pang melototkan mata, karena mereka sebagai tokoh-tokoh pengemis merasa terhina.

“Biarlah kukembalikan anak Hui-kiam-eng, karena mengingat persahabatan dengan Pat-jiu Sin-ong!” Sambil berkata demikian, Pouw Kee Lui menoleh ke arah arca dan alangkah kagetnya melihat bahwa setan karung tadi sudah tidak berada lagi di tempat itu. Entah ke mana perginya! Ia meresa heran dan penasaran. Dengan kepandaiannya yang tinggi, bagaimana ia sampai tidak dapat melihat perginya mehluk aneh dalam karung itu? Ia menduga bahwa tentu karung itu terisi manusia sakti dari Beng-kauw yang terkenal dengan tokoh-tokohnya yang sakti. Ia menghela napas. Baiknya ia berlaku hati-hati. Kalau ia sampai berlaku ceroboh dan melanjutkan permusuhan dengan wanita ini, biarpun ia akan dapat menangkan Lu Sian, tapi tentu ia akan berhadapan dengan tokoh-tokoh Beng-kauw dan tentu setan karung itu seorang tokoh Beng-kauw yang akan membantu Lu Sian.

Ia memberi isyarat kepada seorang anggota kai-pang yang cepat masuk ke belakang kuil itu dan tak lama kemudian orang itu datang kembali menuntun seorang anak perempuan. Anak itu berusia lima tahun, wajahnya cantik dan masih kecil sudah tampak sifat kegagahannya karena anak itu tidak menangis, hanya dengan sepasang matanya yang bening memandang ke arah Lu Sian.

Lu Sian tersenyum kepada anak itu. “Anak baik, mari kau ikut aku pulang menemui Ayahmu.” Akan tetapi anak itu diam saja, bergerak maju pun tidak, hanya memandang dengan penuh pertanyaan dan ragu-ragu, agaknya tidak percaya kepada Lu Sian. Akan tetapi ketika Lu Sian memondongnya, anak itu pun menurut saja, tidak membantah.

“Nah, sudah beres urusan kita, aku pergi Pouw-pangcu!” kata Lu Sian sambil melangkah keluar.

“Harap sampaikan hormatku kepada Beng-kauwcu!” kata Pouw Kee Lui tanpa mempedulikan sikap para pembantunya yang kelihatan penasaran. Setelah Lu Sian pergi jauh tak tampak bayangannya lagi, barulah Pouw Kee Lui menghadapi para pembantunya sambil berkata, suaranya keren.

“Kalian mau apa?” “Pangcu,sudah banyak anak buah kita celaka oleh wanita itu, pula, apakah kematian anak buah kita di tangan Tan Hui harus didiamkan saja? Bukankah hal ini, biarpun kami tahu bahwa Pangcu sengaja mengalah, akan dipandang oleh dunia kang-ouw bahwa kita telah dikalahkan oleh Tan Hui dan seorang temannya siluman betina? Bukankah Khong-sim Kai-pang akan menjadi bahan tertawaan dan…”

“Desss!” Pouw Kee Lui mengayun tangannya dan Si Pembicara itu, seorang pengemis tua, jatuh tersungkur, giginya yang tinggal buah itu meloncat keluar dari mulutnya yang berdarah.

“kau tua bangka tahu apakah? Kalian tidak tahu orang macam apakah aku ini sehingga mudah dikalahkan oleh Tan Hui dan wanita itu? Akan tetapi kalian harus menggunakan akal cerdik, tidak seperti kerbau gila asal berani menerjang saja tanpa perhitungan. Apakah kalian tidak tahu bahwa Beng-kauwcu adalah perkumpulan agama yang amat besar dan berpengaruh, menjadi tulang punggung dari Nan-cao? Ketua Beng-kauw adalah Koksu Negara Nan-cao yang dalam sedetik bisa mengumpulkan laksaan orang tentara! Kita Khong-sim Kai-pang sama sekali bukanlah lawan Beng-kauw, seperti anak kijang melawan harimau! Apakah kekuatan Khong-sim Kai-pang yang dulu dipimpin oleh seorang tua bangka lemah model Yu Jin Tianglo? Phuh, hanya dua ratusan orang! Sebelum kita menjadi besar dan kuat, jangan bertingkah hendak menentang Beng-kauw dengan jalan mencelakai puteri ketuanya. Sungguh tolol perbuatan begitu, berarti bunuh diri!”

Tercengang para pimpinan pengemis. Baru sekarang mereka mendengar keterangan yang begitu banyak isi dan alasannya. Makin tertarik mereka dan kagum akan pandangan ketua baru ini yang luas.

“Kami mentaati segala perintah Pangcu. Mohon penjelasan.” Kata Si Kepala Besar. Pouw Kee Lui tertawa bergelak. “Di seluruh dunia ini, entah berapa banyaknya pengemis macam kalian yang

sesungguhnya merupakan kekuatan yang besar. Akan tetapi kalian hanya berpisah-pisah secara berkelompok, merupakan kai-pang-kai-pang yang tidak ada artinya. Kalian lihat saja, aku akan menaklukkan semua kai-pang di seluruh negeri, dengan Khong-sim Kai-pang menjadi golongan teratas. Setelah itu, barulah kita menjadi kuat, dengan anak buah yang puluhan ribu orang banyaknya. Baru setelah itu, Beng-kauw dan yang lain-lain tak usah kita pandang lagi! Ha-ha-ha!”

Para pimpinan pengemis menjadi terkejut dan kagum. Memang tak pernah mereka memikirkan hal ini, dan dengan ketua seperti Pouw-pangcu ini, agaknya niat itu bukan mimpi belaka. Dahulu ketika Yu Jin Tianglo masih menjadi ketua mereka, perkumpulan Khong-sim Kai-pang sudah terkenal paling kuat. Apalagi Pouw-pangcu ini kepandaiannya jauh melebihi Yu Jin Tianglo! Maka mereka lalu tunduk mendengarkan uraian Pouw Kee Lui tentang rencananya hendak menundukkan para kai-pang, menjatuhkan ketua mereka dan kalau ada ketua kai-pang yang tidak tunduk akan dibunuhnya.

Sementara itu, sambil memondong anak perempuan Hui-kiam-eng Tan Hui, Lu Sian berlari cepat mempergunakan gin-kangnya menuju kembali ke dusun yang terletak tiga puluh li lebih, di mana ia meninggalkan pakaiannya di rumah penginapan. Anak perempuan itu tidur dalam pondongannya. Menjelang tengah malam, sampailah ia di dusun itu, terus saja ia langsung menuju ke pondok penginapan dengan niat menanti di situ sampai Tan Hui datang.

Akan tetapi pada saat itu, ia melihat banyak orang di ruangan depan penginapan. Kiranya Tan Hui baru saja kembali setelah menyelesaikan bantuannya pada para piauwsu. Pendekar ini berhasil mengalahkan para perampok dan merampas kembali barang-barang berharga yang menjadi tanggungan para pengawal. Dengan cepat Lu Sian menyelinap ke tempat gelap dan berindap-indap menghampiri rumah penginapan. Ia tidak dapat melihat jelas, akan tetapi dapat mendengar percakapan mereka. Terdengar suara seorang laki-laki yang parau, dan mudah dimengerti bahwa laki-laki itu sedang mengomeli Tan Hui, karena ucapannya begini.

“Dasar kau yang tidak mentaati nasihat orang tua! Kalau dulu-dulu kau suka menikah lagi dengan gadis pilihanku, tentu kau tidak akan merantau meninggalkan anakmu sehingga takkan terjadi urusan ini! Kau tahu sendiri betapa Lian-ji (Anak Lian) amat mencinta Siok Lan, dan dia masih terhitung saudara sepupu mendiang isterimu. Tidak akan ada wanita yang lebih tepat daripada Siok Lan untuk menjadi ibu Lian-ji…”

“Paman, harap jangan terlalu memarahi kakak Tan Hui, dia sedang menguatirkan anak Lian…” terdengar suara wanita, suaranya menggetar penuh perasaan dan tiba-tiba Lu Sian menjadi cemburu sekali. Ketika ia mengintai, di bawah sinar lampu tampaklah seorang laki-laki tua dan seorang gadis cantik di dalam ruangan itu, masih ada beberapa orang lain yang berpakaian piauwsu. Adapun Tan Hui duduk menunjang dagu di atas bangku.

saja?”

“Kau terluka dan lelah, mana boleh pergi lagi menghadapi lawan tangguh? Tunggu sampai besok pagi juga belum terlambat.” Kata suara parau.

“Akan tetapi Lauw-ko, Nona Lu pergi seorang diri, dan Khong-sim Kai-pang amat berbahaya, banyak orangnya yang pandai.”

Pada saat itu, terdengar suara anak kecil berteriak. “Ayah…! Ayah…!” Dan anak perempuan yang tadi digendong Lu Sian meronta dari pondongan lalu lari masuk.

“Lian-ji…!” Seruan ini sekaligus keluar dari mulut mereka yang berada di ruangan, disusul tangis seorang wanita yang memeluk anak itu.

“Lian-ji! Syukur kepada Thian bahwa kau selamat, Nak…” “Bibi Lan…!” Anak itu menangis dalam pelukan gadis cantik, sedangkan tan Hui yang sudah meloncat dekat membelai rambut kepala puterinya dengan wajah berseri. Kemudian Tan Hui menghadap ke arah pintu dan berkata, “Adik Lu Sian, silakan masuk!”

Akan tetapi tidak ada orang yang masuk, tidak ada suara. Tan Hui terheran dan cepat meloncat keluar. Ia melihat bayangan Lu Sian terhuyung-huyung keluar dari halaman depan.

“Adik Lu Sian…!” Tan Hui mengejar dan ia berseru kaget ketika melihat tubuh nona itu terguling roboh. Cepat ia meloncat dekat dan memondong tubuh itu. “Kau… terluka…?” bisiknya.

Sambil merintih kesakitan Lu Sian berkata lirih. “… punggungku… terkena… jarum beracun…!” Lalu ia menjerit dan pingsan.

Kagetlah semua orang melihat Tan Hui datang memondong tubuh seorang wanita cantik yang pingsan. “Inilah Nona Lu Sian yang telah menolong Lian-ji dan membawanya pulang. Akan tetapi ia terluka parah, terkena racun. Lauw-ko, harap suka menjaga dan mengantar pulang Anak Lian lebih dulu ke rumah, biar Adik Siok Lan menemaninya. Aku harus mengantar Nona Lu Sian ini ke seorang ahli pengobatan racun, sekarang juga!”

Orang yang suaranya parau itu adalah kakak dari mendiang isteri Tan Hui. Melihat Tan Hui memondong tubuh seorang wanita cantik seperti itu, ia mengerutkan keningnya dan berkata. “Mengapa susah-susah? Apakah tidak lebih baik dirawat di penginapan sini lalu memanggil tabib?”

“Ah, kau tidak tahu, Lauw-ko. Luka jarum beracun amat berbahaya, dan hanya ahli-ahli saja yang dapat mengobatinya. Sudahlah, Nona ini telah menyelamatkan anakku sampai mengorbankan diri, bagaimana aku dapat ragu-tagu lagi untuk menolongnya? Harap Lauwko suka menjaga Lian-ji baik-baik, dan Adik Siok Lan, aku mohon bantuanmu menemani keponakanmu.” Setelah berkata demikian, sambil kedua lengan memondong tubuh Lu Sian yang lemas. Tan Hui berkelebat dan sebentar saja ia sudah berada di luar rumah penginapan.

“Tan-taihiap, sekali lagi kami menghaturkan terima kasih atas bantuanmu dan maafkan kami yang tidak mampu balas menolong Tai-hiap yang menghadapi kesukaran.” Seorang diantara para piauwsu itu berteriak, namun Tan Hui tidak mempedulikan mereka, dengan kecepatan luar biasa ia telah menggunakan gin-kangnya untuk berlari cepat meninggalkan dusun itu. Setengah malam penuh ia berlari cepat, bahkan pada keesokan harinya ia masih kelihatan berlari-lari cepat keluar masuk hutan dan dusun. Setelah matahari naik tinggi, Tan Hui memasuki sebuah dusun yang sunyi dan tiba-tiba ia mendengar Lu Sian mengeluh dan Tan Hui girang sekali karena tadinya ia merasa kuatir melihat Lu Sian tidak pernah bergerak dalam pondongannya, dan wajahnya pucat.

“Bagaimana, Sian-moi? Sakit sekalikah?” Ia berhenti sambil memandang wajah orang dalam pondongannya.

Lu Sian membuka mata, mengeluh lagi perlahan, lalu mengangguk. “Tan Hui Koko, kau hendak bawa aku ke manakah?”

“Di Lembah Sungai Yang-ce bagian selatan, ada seorang ahli pengobatan racun yang tinggal di kota I-kiang. Kalau aku berlari cepat, dalam tiga hari akan sampai di sana, dan kau tentu akan tertolong.”

Lu Sian menggeleng kepala sambil mengerutkan alisnya yang hitam panjag dan bagus bentuknya. “Percuma, Koko, akan terlambat…”

Kaget sekali Tan Hui mendenagar hal ini, ia seorang ahli pedang dan ahli gin-kang, tidak banyak mengetahui tentang senjata-senjata beracun, maka ia menjadi kaget dan gugup. “Ah… kalau begitu… bagaimana baiknya Moi-moi?”

Sejenak Lu Sian diam saja, berpikir, lalu bertanya. “Tan Hui Koko, mengapa aku membingungkan keadaanku? Kalau aku sampai mati pun kau tidak akan rugi apa-apa!”

“Ah, jangan kau bilang begitu, Moi-moi. Kau telah mengorbankan diri untuk menolong puteriku. Aku bersedia mengorbankan nyawa untuk membalas budimu yang amat besar itu.”

“Ah… eh, bagaimana pula ini? Sian-moi, jangan kau berpikiran begitu! Biarpun kita baru saja berkenalan, akan tetapi aku… aku amat kagum dan suka kepadamu. Sudahlah, untuk apa bicara seperti ini? Sekarang yang paling penting, bagaimana harus membebaskanmu daripada bahaya racun. Sian-moi tadi kau bilang… dalam tiga hari terlambat. Bagaimana kau bisa bilang begitu? Apakah kau mengerti tentang pengaruh racun?”

“Aku tahu, bahkan aku mengerti bagaimana caranya mengobati luka karena jarum beracun ini. Akan tetapi aku sangsi apakah kau sudi melakukannya untukku.” “Wah, bagus!! Tentu saja aku suka menolongmu, biarpun untuk itu aku harus korbankan apa juga. Moi-moi yang baik, lekas kaukatakan bagaimana aku dapat menyembuhkanmu!” Girang sekali Tan Hui, hal ini dapat dirasakan oleh Lu Sian yang merasa betapa kedua lengan laki-laki gagah itu memeluk tubuhnya makin erat. Diam-diam Lu Sian tersenyum di dalam hatinya.

“Tan-koko, tenanglah dulu. Kau ini lucu, melihat lukaku pun belum, kau sudah kebingungan tidak karuan. Lekaslah kau cari sebuah kamar penginapan di dusun ini.”

“Kurasa tidak akan ada sebuah pun rumah penginapan di dusun kecil seperti ini.” Tan Hui menjawab sangsi, memandang keadaan dusun yang sunyi itu.

“Kalau begitu, kita sewa rumah seorang petani. Nanti akan kuberi petunjuk kepadamu untuk mengobati punggungku. Mudah-mudahan saja berhasil dan nyawaku masih belum bosan tinggal di dalam badanku.”

Tan Hui girang sekali dan diam-diam ia menjawab ucapan Lu Sian. “Siapa yang akan bosan tinggal di dalam tubuh seindah tubuhmu?” Akan tetapi mulutnya tidak menyatakan sesuatu. Segera mereka bisa mendapatkan sebuah rumah kecil yang cukup bersih, yang mereka sewa dari keluarga petani. Dengan amat hati-hati Tan Hui meletakkan tubuh Lu Sian di atas sebuah pembaringan dalam kamar sederhana tapi cukup bersih di pondok itu.

“Aduhh…! Ah, punggungku yang terluka, kenapa kautelentangkan tubuhku…?” Lu Sian mengeluh kesakitan, membuat Tan Hui makin bingung dan cepat-cepat ia membantu wanita itu tertelungkup.

“Lekas, Koko, lekas periksa punggungku, sebelah kiri, ah, sakit sekali rasanya. Panas, perih dan gatal-gatal…!”

berarti harus membuka baju yang menutupnya, betapa mungkin?

“Ah, Koko, katanya kau hendak menolongku. Selagi nyawaku terancam oleh racun yang makin menghebat menjalar masuk mendekati jantungku, kau masih memakai segala sopan santun dan sungkan-sungkan? Katakanlah, kau mau menolongku atau tidak? Kalau tidak, lebih baik kau lekas pergi dan tinggalkan aku mati sendiri di sini!”

“Moi-moi kau tahu aku ingin sekali menolong…” “Kalau begitu, lekas kau buka baju di punggungku,
kaurobek saja! Lekas periksa dan ceritakan kepadaku bagaimana macamnya dan di mana letaknya.”

Mendengar ucapan yang keras ini, lenyap kebingungan Tan Hui. Tangannya merenggut baju di atas punggung dan “brettt!” baju luar berikut baju dalam yang tipis berwarna merah muda terobek oleh jari-jari tangannya yang kuat. Sejenak ia puyeng melihat kulit punggung yang putih halus seperti salju, dengan urat-urat merah membayang. Akan tetapi Tan Hui menggoyang kepalanya mengusir kepeningannya, dan ia berkerut kuatir melihat tujuh batang jarum merah menancap pada punggung berkulit putih halus itu, di sebelah kiri!

“Tujuh batang jarum merah!” Katanya dengan suara menggetar melihat betapa kulit di sekitar jarum-jarum itu mulai berwarna merah kebiruan, tanda keracunan hebat.

“Lekas cabut dan berikan jarum-jarumnya kepadaku!” karena ingin sekali menolong sedangkan dia sendiri memang tidak mengerti tentang senjata beracun, Tan hui memenuhi permintaan ini dengan cepat. Ketika tujuh batang jarum-jarum merah itu tercabut dan disimpan oleh Lu Sian yang memeriksa sebentar, tampak bekas tusukan jarum-jarum itu merupakan tujuh bintik-bintik merah. Lu Sian merogoh saku mengeluarkan dua batang jarum perak, memberikan jarum-jarum itu kepada Tan Hui.

“Tan-koko, kaucari lilin dan nyalakan lilin itu. Kemudian kaubakarlah ujung kedua jarum itu sebentar. Cepat, Koko. Racun ini sekali memasuki jantungku, nyawaku takkan bertahan sampai dua hari lagi!”

Mendengar ini bukan main kagetnya hati Tan Hui. Ia cepat mencari dan akhirnya datang kembali ke dalam kamar membawa lilin yang dinyalakan. Kemudian, sesuai dengan petunjuk Lu Sian, ia membakar ujung kedua jarum.

“Sekarang kautusuklah tepat di kedua jalan darah kian-ceng-hiat dengan jarum-jarum itu, Koko, diamkan sebentar lalu kautusukkan pada jalan darah hong-hu-hiat.”

Jari-jari tangan Tan Hui gemetar ketika tangannya memegangi dua jarum perak, keningnya berkerut. Bermacam perasaan menggelora di dalam dadanya. Perasaan gelisah kalau-kalau Lu Sian takkan sembuh dan juga perasaan tidak karuan yang ditimbulkan oleh penglihatan di depannya! Lu Sian begitu bebas! Wanita ini seakan-akan menganggapnya bukan orang lain. Tidak sungkan-sungkan dan tidak malu-malu membuka robekan baju itu lebih besar lagi ketika ia menyuruh Tan Hui menusuk jalan darah di bawah pangkal lengan.

Biarpun dia merasa mulai lega hatinya karena kini di sekitar bintik-bintik merah itu tidak kelihatan biru lagi, namun setiap kali menusukkan jarum dan ujung jarinya menyentuh kulit punggung atau kulit lambung, Tan Hui menggigil dan terpaksa meramkan kedua matanya.

“koko, kau kenapakah.. .?” pertanyaan dengan suara halus merdu ini membuat Tan Hui sadar. Ia membuka matanya dan merahlah kedua pipinya ketika ia melihat betapa Lu Sian kini sudah duduk di depannya dan memandangnya dengan sepasang mata menyatakan kemakluman hati akan keadaannya!

“Aku… aku… ah, aku, telah berdosa besar terhadapmu, Moi-moi. Betapa aku berani berlancang tangan, menghadapimu, dalam keadaan begini.”

Lu Sian meraih dan memegang lengan Tan Hui. “Aiih, mengapa kau bilang begitu? Koko, kau telah mengobatiku, mengapa lancang? Tentang keadaan kita seperti ini, apa salahnya? Bersamamu aku tidak merasa malu. Tan Hui Koko, bukankah… bukankah kau suka pula kepadaku seperti aku kagum dan suka kepadamu?”

Tan Hui menelan ludah. Bukan main wanita ini. Cantik jelita sukar dicari keduanya, berilmu tinggi pula. Laki-laki mana di dunia ini yang takkan tergila-gila? Apakah dia suka kepada Lu Sian? Pertanyaan gila! “Moi-moi, tentu saja aku suka kepadamu, aku kagum kepadamu. Akan tetapi ketahuilah, Sian-moi, aku hanya seorang duda yang sama sekali tidak cukup berharga untukmu dan….” Tiba-tiba Lu Sian menutupkan jari-jari tangannya yang kecil dan berkulit halus itu di depan mulut Tan hui, mencegahnya bicara lebih lanjut.

Betapapun hebatnya seseorang, sudah tentu sekali ada kelemahannya. Dan bagi pria, biasanya takkan kuat menghadapi rayuan wanita, betapa kuat pun si pria itu. Bujuk rayu seorang wanita cantik lebih dahsyat daripada gerak kilat ratusan anak panah atau ribuan mata pedang! Tan Hui adalah seorang pendekar yang memiliki nama besar. Nama julukan Hui-kiam-eng bukanlah nama kosong belaka. Ia merupakan seorang pendekar penegak keadilan dan kebenaran, penentang kejahatan, ditakuti lawan disegani kawan. Namun ia seorang laki-laki juga, malah ditinggalkan isterinya, seorang laki-laki yang haus akan cinta kasih, yang haus akan kehadiran wanita di dekatnya. Kalau saja ia tidak kematian isterinya, belum tentu ada wanita betapapun cantiknya akan dapat berhasil menggodanya. Akan tetapi kini keadaannya lain. Ia kehilangan isterinya, sedang haus akan cinta. Celakanya, ia berjumpa dengan seorang wanita seperti Lu Sian, seorang wanita yang hebat, cantik jelita, apalagi yang sudah menolong puterinya

dengan pengorbanan. Wanita muda yang bajunya robek terbuka bagian punggung sampai hampir membuka dadanya, yang memegang tangannya, yang memandangnya dengan sinar mata mesra dan bibir tersenyum menantang. Herankah kita kalau kemudian Tan Hui terjungkal pertahanan batinnya dan tergila-gila membiarkan diri menjadi hamba nafsu asmara? Begitu tergila-gila pendekar ini sampai ia lupa bahwa perbuatannya ini adalah sebuah pelanggaran besar bagi seorang satria, bagi seorang pendekar! Lupa bahwa ia telah melanggar pantangan, melanggar susila. Lupa pula bahwa ia melanggar hukum keluarganya ketika ia berbisik-bisik menjanjikan kepada Lu Sian untuk menurunkan ilmu gin-kang yang luar biasa dengan keluarganya!

Tan Hui, pendekar besar berjuluk Hui-kiam-eng itu telah benar-benar menjadi mabok oleh kecantikan wajah dan keharuman tubuh Lu Sian. Mereka berdua lupa akan segala, mengejar kesenangan yang tak kunjung puas. Sampai berpekan-pekan Tan Hui dan Lu Sian berdiam di dusun sunyi itu, setiap hari bermain-main di pinggir anak sungai dalam hutan, bersenda-gurau, tertawa-tawa dan bermain cinta, di samping berlatih ilmu gin-kang yang diturunkan oleh Tan Hui kepada kekasihnya. Ilmu gin-kang keturunan keluarga Tan Hui ini memang hebat dan aneh pula cara melatihnya. Rahasia kehebatannya terletak dalam latihan pernapasan dan samadhi, cara penyaluran jalan darah di waktu mempergunakan ilmu ini untuk bergerak atau berlari cepat. Di situlah terletak perbedaannya dengan gin-kang dari golongan lain. Dan cara melatihnya pun istimewa, yaitu dengan bersamadhi dalam keadaan telanjang bulat! Inilah sebabnya mengapa Tan Hui pernah menyatakan keraguannya untuk mengajarkan gin-kang, dan menyatakan bahwa hanya orang “dalam” atau keluarga sendiri yang boleh melatihnya, karena untuk mengajar orang lain, bagaimana mungkin dengan syarat seperti itu? Akan tetapi setelah Lu Sian si cantik jelita menjadi kekasihnya, menjadi isteri walaupun di luar pernikahan, tentu saja syarat itu tidak menyusahkan mereka lagi.

Karena Lu Sian memang sudah memiliki ilmu silat tinggi, dan di samping ini juga amat cerdik, dalam waktu kurang lebih dua bulan saja ia sudah berhasil menguasai ilmu gin-kang yang diturunkan oleh kekasihnya kepadanya. Ia merasa girang sekali. Bukan hanya girang karena dapat mempelajari gin-kang yang terkenal di dunia kang-ouw sebagai gin-kang nomor satu itu, juga ia merasa girang karena mendapat kenyataan bahwa Tan Hui adalah seorang kekasih yang menyenangkan hatinya. Seorang kekasih yang cocok dengannya, tidak seperti bekas suaminya, Jenderal Kam Si Ek, yang dalam segala hal ingin menonjolkan disiplin! Sudah dapat ia membayangkan berapa akan bahagia hidupnya di samping Tan Hui, karena kekasihnya ini sudah menyanggupi untuk berdua dengan dia menjelajah di dunia kang-ouw, mencari ilmu-ilmu yang lebih tinggi lagi dan sedapat mungkin ingin menjadi suami isteri jagoan nomor satu di dunia! Dengan Tan Hui di sampingnya, bukan tak mungkin cita-cita ini akan tercapai

Akan tetapi, betapapun juga, manusia takkan mampu mengatur nasibnya sendiri kalau perbuatannya bertentangan dengan prikebajikan. Mimpi yang muluk-muluk ini ternyata menghadapi kegagalan total yang menyedihkan! Pagi hari itu, ketika pagi-pagi sekali Lu Sian mendahului kekasihnya bangun dan pergi mandi di anak sungai, kebetulan datang serombongan orang mencari Hui-kiam-eng Tan Hui di dalam dusun. Mereka ini adalah serombongan piauwsu terdiri dari sembilan orang. Ketika bertemu dengan Tan Hui, mereka menceritakan bahwa mereka diminta tolong oleh kakak ipar pendekar ini untuk mencarinya sebagai pembalasan budi, tentu saja para piauwsu ini segera mencarinya. Selain menyampaikan pesan kakak iparnya agar Tan Hui segera pulang, juga para piauwsu ini membawa berita yang membuat Tan Hui hampir pingsan saking kagetnya. Akan tetapi pendekar ini masih mampu menekan perasaannya dan segera ia menyuruh pergi para piauwsu itu secepatnya sambil mengirim pesan

kepada kakak iparnya bahwa ia segera pulang.

Demikianlah, ketika Lu Sian dengan wajah berseri, wajah seorang wanita dalam cinta, pulang dari anak sungai, ia disambut oleh Tan Hui dengan muka masam. Jelas sekali bahwa Tan Hui menahan-nahan gelora amarah yang mengamuk di hatinya. Menurutkan kata hatinya, ingin Tan Hui mengamuk, namun ia mencinta Lu Sian maka yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan singkat.

“Sian-moi, sampai saat ini sajalah hubungan kita. Aku hendak pergi sekarang. Selamat tinggal!”

“Eh-eh-eh, Koko, mengapa senda-guraumu tak enak benar pagi ini?” Lu Sian menangkap lengan kekasihnya yang hendak pergi itu. Ia masih menganggap kekasihnya bergurau.

Akan tetapi Tan Hui tidaklah bergurau. Ia merenggut lengannya yang dipegang Lu Sian secara kasar, sambil berkata. “Aku tidak bergurau. Aku benar-benar akan pergi meninggalkanmu karena hendak menikah dengan Siok Lan, gadis dusun yang baik!”

Tiba-tiba sepasang mata Lu Sian berkilat marah. Suaranya dingin sekali ketika ia menghadapi Tan Hui, sambil berkata, “Hemm, begitukah? Tan Hui, katakanlah apa yang menyebabkan perubahan pada dirimu ini! Mengapa kau marah-marah kepadaku dan seperti tiba-tiba membenciku? Apakah kesalahanku? Bukankah semalam kau masih memperlihatkan cinta kasih yang besat terhadap diriku dan…”

“Cukup?” Tan Hui membanting kakinya dengan marah, sedangkan mukanya berubah menjadi merah.

“Jangan sebut-sebut lagi hal itu, jangan sebut-sebut lagi perbuatan biadab kita yang tak mengenal tata susila. Perbuatan terkutuk!”

“Tan Hui, apa maksudmu? Kita saling mencinta, aku menyerahkan jiwa ragaku sebulatnya kepadamu, dan kaubilang itu terkutuk?”

“Perbuatan jina yang terkutuk! Apa kau masih ingin memaksa aku bicara? Sudahlah, aku pergi!” Tan Hui memaksa keluar dari pintu depan.

Akan tetapi Lu Sian meloncat dan menangkap lengannya. “Kau bicara! Kau keluarkan isi hatimu! Aku akan mati penasaran kalau kau tidak bicara. Hayo katakanlah, mengapa kau marah-marah dan membenci padaku!”

Dengan kening berkerut dan muka keruh Tan Hui membalikkan tubuhnya. Sejenak ia menunduk dan menarik napas panjang, lalu terdengar ia satu kali terisak. “Setiap kali aku menanyakan riwayatmu, kau selalu mengelak. Kiranya kau menyembunyikan rahasia dan aku menjadi barang permainanmu. Liu Lu Sian! Setelah kau menipuku, mewarisi gin-kang dan menyeretku ke dalam hubungan jina karena kau adalah isteri dari seorang Jederal Kam Si Ek, apakah kau sekarang masih tidak mau melepaskan aku?” Kalimat terakhir ini diucapkan dengan suara pahit sekali oleh Tan Hui, tajam seperti pedang menusuk dada Lu Sian.

“Hemm, kiranya kau sudah tahu bahwa aku puteri Beng-kauwcu dan bekas isteri Kam-goanswe? Bekas isteri, kataku, karena aku sudah meninggalkannya. Tan Hui Koko, semalam kau masih bersikap baik, mengapa pagi-pagi ini kau berubah? Sejak kapankah kauketahui rahasiaku itu?”

“Tadi para piauwsu datang menyampaikan panggilan Lauw-ko dan mereka itu mendengar dari para pengemis Khong-sim Kai-pang tentang kau….”

“Uh-uh, begitukah? Koko berkali-kali kau bersumpah menyatakan cinta kasihmu. Apakah hal itu akan mudah kaulempar begitu saja? Apakah kau sama saja seperti lelaki-lelaki isi sampah yang bersumpah palsu, seperti kumbang yang terbang pergi begitu saja setelah menghisap madu dari kembang? Apakah kau seorang laki-laki begitu rendah ahlak?”

Tan Hui marah. “Liu Lu Sian, kau cukup tahu laki-laki macam apa aku ini! Aku pasti akan memenuhi janji-janjiku. Aku cinta kepadamu. Sampai detik ini pun aku masih cinta kepadamu, terkutuk! Akan tetapi kau adalah isteri Kam SI Ek, seorang pahlawan yang kuhormati. Aku telah berjina denganmu, ini saja sudah merupakan perbuatanku yang biadab, yang cukup membuat aku bisa mati karena malu. Akan tetapi engkau… hemm, Lu Sian, bagaimanakah Thian memberkahimu dengan wajah secantik itu dan tubuh seindah itu akan tetapi dengan hati serendah ini? Bagaimanakah kau seorang isteri dari seorang pahlawan terhormat bisa meninggalkan suami dengan bermain gila dengan laki-laki lain hanya untuk mencuri gin-kang? Kau manusia rendah, wanita tak tahu malu, biarpun aku cinta kepadamu, namun aku pun muak akan tingkah lakumu. Sudahlah, aku pergi sekarang, aku akan menikah dengan gadis kampung agar tidak dapat terjerat lagi oleh siluman betina macam engkau!”

Tan Hui meloncat jauh ke depan. Terdengar pekik kemarahan dan tangan kiri Lu Sian bergerak. Sinar merah menyambar ke arah Tan Hui, disusul bentakannya, “Tan Hui, kau terlalu menghinaku!”

Mendengar sambaran angin dari belakang, Tan Hui cepat mengelak dan tangannya menyambar. Ia berhasil menangkap sebatang di antara jarum-jarum yang tadi menyambarnya. Melihat jarum merah di tangannya itu. Tan Hui tertegun, kemudian kemarahannya memuncak. Ia tidak jadi lari pergi, malah kini ia kembali dan memaki-maki.

“Sungguh perempuan tak tahu malu! Jadi ketika kau terluka dahulu itu, hanyalah akalmu saja untuk merayu aku dan menyeret aku ke dalam jurang perjinaan, ya? Yang melukai punggungmu adalah jarum-jarum merahmu sendiri!”

Lu Sian tersenyum mengejek. “Apa salahnya seorang wanita mempergunakan segala macam akal untuk memperoleh cinta? Tan Hui, sejak semula bertemu denganmu, aku sudah kagum dan hal ini menimbulkan rasa cinta. Akan tetapi kiranya kau hanya seorang laki-laki pengecut, berani berbuat takut bertanggung jawab, melawan suara hati dan perasaan sendiri. Huh, muak perutku melihatmu!”

“Dan aku… aku benci kepadamu! Kau perempuan lacur… kau…” saking marahnya Tan Hui tak dapat melanjutkan kata-katanya, melainkan mencabut pedangnya.

Lu Sian juga sudah mencabut pedangnya dan tanpa berkata-kata lagi, kedua orang muda yang semalam masih saling peluk cium dengan kasih sayang yang semesra-mesranya, kini bertanding pedang dengan hebat dan mati-matian karena hati dipenuhi kemarahan sehingga setiap serangan merupakan tangan maut yang mencari korban.

Julukan Tan Hui adalah Pendekar Pedang Terbang, tentu saja ilmu pedangnya lihai sekali, akan tetapi sesungguhnya, yang membuat ilmu pedangnya menjadi lihai itu adalah karena ia memiliki ilmu gin-kang yang hebat. Ilmu meringankan tubuh ini membuat ia dapat bergerak cepat bukan main sehingga ilmu pedangnya tentu saja menjadi amat berbahaya karena cepatnya.

Biarpun ilmu pedangnya masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan ilmu pedang Liu Lu Sian yang diwarisi dari ayahnya, pada dasarnya kalah tinggi, namun andaikata Lu Sian belum mempelajari gin-kang istimewa itu, agaknya Tan Hui akan dapat mengimbanginya dengan kecepatan. Namun, kini Lu Sian telah memiliki gin-kang Coan-in-hui (Terbang Terjang Awan) yang dipelajari dan dilatih secara tekun dari Tan Hui sehingga biarpun dibandingkan dengan Tan Hui gin-kangnya masih kalah sedikit karena membuat ilmu pedangnya Pat-mo Kiam-hoat ciptaan ayahnya menjadi beberapa kali lipat dahsyatnya.

Lu Sian adalah seorang wanita yang berwatak keras dan aneh. Memang tidak dapat disangkal pula bahwa semenjak meninggalkan suaminya, Kam Si Ek, belum pernah ia jatuh cinta lagi kecuali kepada Tan Hui. Ia mencinta Tan Hui dan agaknya akan bersedia menjadi isteri duda pendekar ini kalau saja tidak terjadi perselisihan di pagi hari itu. Karena ia berwatak keras, begitu Tan Hui memperlihatkan sikap membenci dan menghina, maka ia pun memaksa perasaannya untuk balas membenci, dan menganggap Tan Hui seorang musuh yang harus dibasmi.

Pertandingan berlangsung makin hebat dan seru. Berdentingan pedang mereka saling beradu, diseling bersiutnya pedang menyambar membelah angin ketika dielakkan lawan. Setelah berjalan seratus jurus mulailah Tan Hui terdesak. Ilmu pedang yang dimainkan Lu Sian amat aneh dan banyak mengandung gerakan-gerakan yang curang. Di samping kalah tinggi ilmu pedangnya, juga di dalam hatinya, Tan Hui

tidaklah sebulat Lu Sian untuk membunuh lawan. Tan Hui marah hanya terdorong kekecewaan setelah mendengar bahwa kekasihnya yang benar-benar amat dicintanya itu adalah isteri orang! Ia menentang Lu Sian terdorong kemarahan karena kecewa inilah, maka setelah bertanding agak lama, mulai ia merasa menyesal dan tidak menyerang secara sungguh-sungguh.

Berbeda dengan Lu Sian yang makin lama makin bersemangat. Melihat betapa lawannya mulai terdesak, ia berseru keras dan berubahlah pedangnya menjadi segulungan sinar yang amat hebat. Angin menderu-deru keluar dari sinar ini yang tadinya bergulung-gulung, tapi makin lama makin cepat membentuk lingkaran-lingkaran secara cepat sekali mengurung tubuh Tan Hui. Inilah Toa-hong Kiam-sut yang dimainkan oleh Lu Sian. Ilmu pedang yang dimilikinya, biasanya sudah hebat sekali apalagi sekarang setelah gin-kangnya maju pesat. Maka cepatlah gerakannya dan makin hebat hawa pukulan yang keluar dari gerakan senjata itu.

Tan Hui yang sudah terdesak hebat itu berseru keras saking kagumnya menyaksikan ilmu pedang yang demikian dahsyatnya. Cepat ia mempertahankan diri, namun kecepatan pedangnya tidak cukup untuk membendung datangnya lingkaran-lingkaran yang bergelombang seperti ombak badai ini. Baru saja pedangnya berdenting karena bertemu dengan pedang Lu Sian, pedang wanita itu sudah menyelinap dengan kecepatan yang tak dapat disangka-sangka, tahu-tahu sudah memasuki perut Hui-kiam-eng Tan Hui!

“Cepppp!” Hanya sedetik terjadinya hal ini Lu Sian sendiri merasa kaget, cepat-cepat mencabut pedang dan meloncat mundur sejauh empat lima meter, lalu berdiri tegak dengan mata terbelalak memandang bekas kekasihnya yang kini menjadi musuhnya itu.

Tan Hui masih berdiri tegak, tangan kanan memegang pedang, tangan kiri menutup luka di perutnya sambil menekan keras-keras namun tetap saja darahnya menetes-netes melalui celah-celah jari tangannya. Mukanya pucat, akan tetapi bibirnya tersenyum pahit.

“Tidak penasaran Hui-kiam-eng roboh di tangan puteri Beng-kauwcu, karena memang kiam-hoatmu hebat luar biasa. Akan tetapi sebagai bekas kekasihku, biarlah kunasehatkan kepadamu bahwa kalau kau melanjutkan kesukaanmu menggoda dan menghancurkan hati laki-laki, hidupmu kelak akan terkutuk, kau akan banyak dimusuhi orang. Sian-moi, kenapa kau tidak kembali saja kepada suamimu sehingga hidupmu kelak akan terjamin…?”

“Cerewet! Kau tak berhak mencampuri urusan hidupku. Kau sudah terluka, aku memberi kesempatan kepadamu untuk pergi mengingat akan perkenalan kita yang lalu!”

Senyum di mulut Tan Hui berubah makin pahit. “Seorang pendekar tidak akan lari daripada maut. Lukaku memang hebat, tak terobati, akan tetapi aku masih berdiri tegak, pedangku masih di tangan.

Siapa bilang aku kalah? Baru kalah kalau pedang ini sudah terlepas dari tangan dan kedua kaki ini sudah tak dapat berdiri. Lihat serangan!” Tan Hui menerjang maju lagi dengan dahsyat, sambil menekan perut dengan tangan kiri. Karena gerakannya dalam menyerang ini mempergunakan tenaga, maka menyemprotlah darah dari luka yang ditutupnya dengan tangan.

Lu Sian cepat mengelak sambil memutar pedangnya. Tadi saja selagi masih belum terluka, Tan Hui tidak mampu menandingi ilmu pedangnya, apalagi sekarang setelah pendekar itu terluka parah. Tiga kali berturut-turut ujung pedang Lu Sian mengenai dada dan leher dan sekali ini Tan Hui terjungkal roboh bergulingan lalu diam telentang, tubuhnya mandi darah, akan tetapi tangan kanan masih memegang pedang dan mulutnya tetap tersenyum! Melihat keadaan bekas kekasihnya ini, Lu Sian menarik napas panjang menyimpan pedangnya.

“Salahmu sendiri, Tan Hui. Kau yang mencari mati…” Tan Hui menggigit bibirnya menahan sakit, napasnya terengah-engah, kemudian terdengar ia lirih berkata, “Seharusnya aku membencimu… Sian-moi…, tapi… tapi tak mungkin. Aku sudah jatuh… aku terlalu mencintamu. Sian-moi, hanya pesanku… jangan kauturunkan gin-kang kepada orang lain… dan kalau kelak anakku… mencarimu untuk membalas…. Jangan kau layani dia… harap kauampunkan dia…” Makin lirih suara Tan Hui akhirnya hanya terdengar bisik-bisik yang tak dapat dimengerti, kemudian ia diam tak bergerak lagi.

Sejenak Lu Sian berdiri tegak tak bergerak. Ia menekan rasa haru yang hendak mencekam hatinya. Ia seorang yang berwatak keras, tak mau ia dipengaruhi rasa kasihan. Kemudian ia berlutut di dekat mayat Tan Hui. Setelah mati wajah Tan Hui tampak tenang dan tampan sekali. Teringatlah Lu Sian akan malam-malam bahagia bersama pendekar ini. Ia membungkuk dan mencium muka Tan Hui sambil berbisik lirih. “Akan kupenuhi pesanmu, Koko, tenanglah!”

“Celaka ia membunuh Tan-taihiap!” terdengar suara “sing-sing” dicabutnya golok dan pedang. Perlahan Lu Sian bangkit berdiri, ujung matanya menyapu sembilan orang piauwsu yang sudah mengurungnya, sinar matanya berkilat-kilat, bibirnya yang merah tersenyum mengejek dan ujung hidungnya agak berkembang kempis. Alamat celakalah mereka yang berhadapan dengan Lu Sian kalau dia sudah seperti itu, karena itu adalah tanda-tanda daripada kemarahan yang meluap-luap. Tadi Tan Hui mengenalnya oleh keterangan para piauwsu, sehingga secara tidak langsung, para piauwsu inilah yang merusak kebahagiaannya dengan Tan Hui!

Kalian piauwsu-piauwsu jahanam inilah yang menceritakan kepada Tan Hui siapa adanya aku?” suaranya terdengar satu-satu perlahan dan jelas, diucapkan dengan mulut setengah tersenyum.

Seorang piauwsu muda menudingkan telunjuknya dan memaki. “Kau siluman betina! Kau puteri Beng-kauwcu dan sudah menjadi isteri Jenderal Kam, akan tetapi kau membunuh Tan-taihiap… ah, perempuan keji, kau…!”

“Syiuuutt, cring… crokkk!” piauwsu muda itu sia-sia menangkis ketika sinar berkilauan menyambar ke arahnya. Goloknya yang menangkis patah menjadi dua disusul lehernya yang terbacok sampai putus sama sekali dan kepalanya terpental jauh, tubuhnya yang tak berkepala lagi roboh dan menyemprotkan

darah seperti air mancur!

Ributlah delapan orang piauwsu yang lain dan cepat mereka itu menerjang dari segala penjuru. Namun Lu Sian sudah siap sedia, dan sudah tak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Pedang Toa-hong-kiam di tangannya berkelebat laksana naga mengamuk. Kini gin-kangnya sudah maju pesat sekali sehingga gerakannya sukar diikuti pandangan mata para piauwsu itu. Sungguhpun delapan orang itu menerjang berbareng, namun mereka masih kalah cepat oleh Lu Sian yang seakan-akan dapat melejit dan menyelinap di antara sinar golok dan pedang para pengeroyok, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa sekali pedang Toa-hong-kiam di tangannya merobohkan mereka seorang demi seorang!

Hanya terdengar bunyi senjata berdencingan diseling bunyi pedang golok menyambar bersiutan, kemudian yang terakhir disusul pekik kesakitan dan robohlah seorang pengeroyok, disusul orang ke dua ke tiga dan seterusnya dengan tangan buntung, perut robek, atau muka terbelah dua. Darah muncrat-muncrat dan tubuh bergelimpangan. Tidak sampai seperempat jam lamanya, sembilan orang piauwsu telah roboh mandi darah di sekeliling mayat Tan Hui! Ada diantara mereka yang tidak tewas, akan tetapi mereka ini tentu akan menjadi orang cacat karena sebelah tangannya atau sebelah kakinya buntung!

Sambil tersenyum mengejek Lu Sian membersihkan pedangnya, menyarungkannya kembali lalu pergi dari situ tanpa menengok lagi. Hanya beberapa loncatan saja dan ia sudah lenyap dari situ. Setelah Lu Sian pergi, barulah penduduk dusun itu geger, berlarian keluar dari rumah dengan muka pucat. Di halaman pondok yang tadinya dijadikan sarang asmara sepasang orang muda itu, di mana setiap hari orang-orang dusun melihat mereka berkasih-kasihan, kini pebuh dengan tubuh bergelimpangan, ada yang sudah mati, ada yang terluka parah, dan kesemuanya mandi darah! Ngeri sekali pemandangan itu, akan tetapi karena tidak ada pertempuran lagi, orang-orang dusun mulai turun tangan menolong mereka sedapatnya.

Semenjak peristiwa ini, mulailah nama Liu Lu Sian dikenal sebagai seorang wanita yang selain cantik jelita dan mudah menggoncangkan batin dan membobolkan pertahanan hati para pria, juga amat ganas dan kejam menghadapi mereka yang ia anggap musuh. Pendeknya, bagi seorang pria yang disuka oleh Lu Sian, wanita ini tentu akan menjadi seorang dewi khayangan yang penuh dengan madu, mesra dan menggairahkan. Sebaliknya bagi pria yang dibencinya, Lu Sian, tentu akan berubah menjadi iblis betina yang haus darah. Para piauwsu yang tidak mati, tentu saja merupakan pemberita yang aktif tentang diri Lu Sian sehingga sebentar saja Lu Sian dijuluki Tok-siauw-kwi (Setan Kecil Beracun)!

Seorang anak kecil berusia sembilan tahun pergi dari rumah memasuki dunia luar yang tak pernah dikenalnya, tanpa sanak kadang, tanpa tujuan, sudah tentu merupakan hal yang amat sengsara. Sembilan daripada sepuluh orang anak kecil tentu akan menangis dan minta diantar pulang oleh siapa saja yang dijumpainya kalau ia sudah kehabisan bekal dan tidak tahu harus makan apa dan minta tolong kepada siapa.

berusia lima tahun ia sudah diajar membaca dan menulis. Setiap hari ia dijejali kitab-kitab dan pada masa itu, yang disebut kitab pelajaran hanyalah kitab-kitab filsafat, kitab-kitab sajak dan agama yang isinya berat-berat, segalanya ada hubungannya dengan kebatinan. Sekecil itu, Bu Song sudah mempunyai pemandangan yang luas, sudah dapat mempergunakan kebijakan dan dapat menangkap suara batin.

Ia adalah putera Jenderal Kam Si Ek, seorang pahlawan yang patriotik, yang berdisiplin dan berbudi. Ibunya adalah seorang yang memiliki watak aneh dan keras membaja. Agaknya Bu Song mewarisi watak ibunya ini, maka hatinya keras, kemauannya besar dan kenekatannya bulat. Sekali ia mengambil keputusan, akan diterjangnya terus tanpa takut apa pun juga. Kekerasan hati inilah yang banyak menolongnya dalam perantauan yang tiada tujuan ini, kekerasan hati yang takkan dapat dilemahkan oleh ancaman maut sekalipun. Kemudian kebijaksanaan dan disiplin diri yang ia warisi dari ayahnya membuat ia dapat saja mencari jalan hidup. Bekalnya tidak banyak, namun sebelum habis sama sekali, ia sudah mempergunakan tenaganya untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Ia tidak malu-malu untuk minta pekerjaan betapa kasar pun di setiap dusun, sekedar minta upah sebagai pengisi perutnya. Memotong kayu, menjaga sawah, mengembala kerbau, menggiling tahu, menuai gandum, bahkan mengangkut batu kali, apa saja akan dikerjakannya. Tenaga anak ini memang besar dan tubuhnya juga tegap. Namun tak pernah tinggal terlalu lama di sebuah tempat, karena ia mau bekerja hanya untuk menyambung hidupnya.

Biarpun ayah bundanya adalah jagoan silat yang jarang ditemui tandingannya, namun Bu Song yang berusia sembilan tahun itu sama sekali tidak mengerti ilmu silat. Ia pun tidak ingin belajar silat, karen sejak kecil, kitab-kitab filsafat dan nasihat-nasihat ayahnya membuat ia mempunyai pandangan rendah terhadap ahli silat. Ahli silat hanya menyeretmu ke dalam pekerjaan kasar dan kotor, demikian nasihat ayahnya. Menjadi tentara, menjadi tukang pukul, menjadi pengawal, atau menjadi perampok! Kesemuanya membutuhkan ilmu silat untuk melawan musuh, untuk membunuh orang lain dalam permusuhan pribadi! Memang ada yang dapat mempergunakan ilmu silat untuk menjadi pendekar dan berbakti untuk negera, membasmi musuh negara, akan tetapi berapa banyaknya? Kecil sekali dibandingkan dengan yang menyeleweng menjadi penjahat mengandalkan kekuatan dan kepandaian silatnya.

Inilah sebabnya mengapa Bu Song sama sekali tidak bisa ilmu silat, namun ia pandai bersajak, pandai pula menulis dan menggambar huruf hias. Karena kekerasan wataknyalah maka ia “memaksa diri” untuk membenci ilmu silat, padahal wataknya yang keras, jujur, tubuhnya yang tegap dan tenaganya yang besar itu menunjukkan bahwa ia memiliki bakat baik untuk menjadi pendekar, bukan menjadi seorang sastrawan!

Karena semenjak kecil ia memang hidup sebagai putera seorang pembesar yang serba cukup, maka biarpun sekarang telah menjadi seorang “gelandangan”, namun Bu Song selalu dapat menjaga dirinya agar tetap bersih dan sehat, biarpun pakaiannya kemudian habis dijualnya untuk makan sehingga yang dimilikinya hanya yang menempel pada tubuhnya, namun ia merawat pakaian itu dengan hati-hati, mencucinya setiap kali pakaian itu kotor. Oleh karena inilah, Bu Song selalu tampak sehat dan bersih, tidak seperti seorang anak jembel.

Pada suatu hari dalam perantauannya tanpa arah, tibalah Bu Song di lembah Sungai Huai yang subur daerahnya. Ia meninggalkan Kabupaten Jwee-bun dimana ia tinggal selama sebulan dan bekerja

membantu seorang pemilik rumah makan. Kini, dengan bekal sisa uang gajinya, Bu Song berangkat pagi-pagi meninggalkan Jwee-bun, terus ke timur melalui hutan-hutan kecil sepanjang lembah sungai.

Matahari sudah naik tinggi, sinarnya menerobos celah-celah daun pohon di atas kepalanya. Angin semilir berdendang dengan daun bunga, mengiringi nyanyian burung-burung hutan. Di sana-sini, binatang kelinci dengan telinganya yang panjang-panjang berlompatan saling kejar dan bermain “sembunyi-cari” dengan teman-temannya di antara rumpun. Demikian indah pemandangan, demikian merdu pendengaran, demikian nyaman perasaan pada pagi cerah itu sehingga Bu Song lupa akan segala kesukaran yang pernah ia alami maupun yang akan ia hadapi. Anak ini berdiri diam tak bergerak agar jangan mengagetkan kelinci-kelinci itu, menonton mereka bermain-main dengan hati geli.

“Ha-ha-ha-ha! Akulah raja di antara segala raja! Dikawal monyet-monyet berkuda! Ha-ha-ha!”

Bu Song tersentak kaget mendengar tiba-tiba ada suara ketawa yang disambung kata-kata yang dinyanyikan itu. Suara itu datangnya dari belakang, masih jauh sekali. Heran sekali ia, mengapa di dalam hutan sesunyi ini ada seorang bernyanyi seaneh itu. Orang gilakah? Akan tetapi ia menjadi makin heran ketika mendengar suaran kaki kuda, kemudian melihat munculnya lima ekor kuda besar-besar ditunggangi lima orang yang wajahnya kelihatan bengis-bengis. Kuda terdepan yang ditunggangi oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam, menyeret seorang laki-laki yang rambutnya compang-camping penuh tambalan. Laki-laki aneh inilah yang agaknya bernyanyi tadi, karena memang keadaannya seperti orang gila. Kedua lengannya terikat dengan tali yang cukup besar dan kuat, dan ujung tali ikatan ini dipegang oleh Si Penunggang Kuda. Si gila ini tangan kanannya memegang sebuah paha panggang yang besar, mungkin paha angsa atau kalkun, yang digerogotinya. Biarpun kedua lengannya terikat, ia kelihatan enak-enak saja, diseret kuda ia malah menari dan bernyanyi-nyanyi, sama sekali tidak kelihatan takut. Terang dia gila, pikir Bu Song. Ia memperhatikan lima orang itu. Mereka kelihatan galak dan membawa senjata tajam. Rasa iba menyesak di dadanya. Orang itu jelas gila, berarti dalam sakit. Kenapa harus disiksa seperti itu?

Tentu saja Bu Song tidak tahu bahwa yang ia sangka gila itu adalah seorang sakti yang telah menggemparkan dunia kang-ouw dengan perbuatannya yang hebat dalam menentang kejahatan, disertai tindakannya yang selalu edan-edanan seperti orang tidak waras otaknya. Dan agaknya sangat boleh jadi lima orang itu juga seperti Bu Song, tidak tahu sama sekali bahwa yang mereka tangkap itu adalah Kim-mo Taisu, pendekar sastrawan gila yang dahulu adalah seorang sastrawan tampan dan gagah bernama Kwee Seng dan berjuluk Kim-mo eng!

Terdorong oleh rasa kasihan, Bu Song berlari menghampiri orang gila itu. “He, bocah! Mau apa kau??” Seorang di antara para penunggang kuda itu membentak, tangannya bergerak dan cambuk di tangannya itu mengeluarkan bunyi “tar-tar-tar” seperti mercon.

Laki-laki gila itu dengan enaknya menggigit sepotong daging dari paha panggang yang dipegangnya, lau melirik ke kanan memandang Bu Song, tertawa dan berkata. “Eh, bocah sinting! Kau lapar? Nih, kau boleh gigit dan makan sepotong!” Sedapatnya ia mengelurkan tangannya yang terikat untuk memberikan paha panggang itu kepada Bu Song.

“Tidak, Paman, aku tidak lapar. Kau makanlah sendiri.” Bu Song terpaksa harus maju setengah berlari untuk mengimbangi orang gila yang terseret di belakang kuda itu. Orang gila itu terpaksa pula melangkah lebar dan terhuyung-huyung. “Paman, kenapa kau ditawan? Apakah kesalahanmu? Dan kau hendak dibawa ke mana?”

“Bocah gila! Pergi kau! Tar-tar-tar!” Cambuk di tangan penunggang kuda yang paling belakang, melecut ke arah Bu Song dan orang gila itu. Cambuk itu panjang dan tangan yang memegangnya biarpun kurus namun bertenaga sehingga lecutan itu keras sekali, tepat mengenai pundak Bu Song dan leher orang gila. Akan tetapi anehnya, Bu Song sama sekali tidak merasa sakit karena ujung cambuk itu ketika mengenai tubuhnya, terpental kembali seakan-akan tertangkis tenaga yang tak tampak.

“Heh-heh-heh, bocah sinting, kenapa kau bertanya-tanya?” Si Gila itu berkata kepada Bu Song sambil tertawa menggerogoti paha panggang pula.

“Aku kasihan kepadamu, paman. Biarlah kumintakan ampun untukmu…” “Hush, jangan goblok! Aku memang berdosa, aku mencuri paha panggang ini, ha-ha-ha, dan untuk itu aku harus menerima hukuman. Biarlah aku diseret dan baru hukum seret ini habis kalau paha ini pun habis kumakan.”

“Kau masih tidak mau pergi?!” Kembali Si Penunggang Kuda mencambuk, kini ujung cambuk mengenai pipi Bu Song, terasa sakit dan panas. Namun Bu Song memang keras hati, ia tidak mundur, dan terus berlari di sebelah Si Gila.

Kini orang gila itu memandang kepadanya dengan mata bersinar-sinar, memandang ke arah jalur merah di pipi yang tercambuk. “Ha-ha-ha, bocah, kau lumayan! Kau mau tahu? Mereka ini adalah lima ekor monyet yang hendak menangkap anjing, akan tetapi sayang kali ini mereka menangkap harimau. Ha-ha-ha-ha! Nah, pergilah kau, sampai jumpa pula!”

Tentu saja Bu Song sama sekali tidak mengerti akan maksud kata-kata Si Gila itu, hanya ia dapat menduga bahwa Si Gila ini tentu memaki para penawannya yang disebut sebagai lima ekor monyet. Menurut dugaannya, Si Gila ini malah mengumpamakan diri sebagai harimau. Mempergunakan kata-kata bersajak mengandung sindiran yang memaki orang!

“Cerewet, masih pura-pura gila? Bocah setan, apa kau bosan hidup?” Kembali cambuk itu melecut, mengenai kaki Bu Song dan sekali cambuk itu digerakkan, Bu Song terlempar ke pinggir jalan, bergulingan. Kulitnya lecet-lecet, akan tetapi Bu Song tidak pedulikan rasa sakitnya. Cepat ia bangun berdiri dan sempat melihat betapa orang gila itu kini terseret-seret karena lima ekor kuda itu dilarikan cepat-cepat. Biarpun terseret-seret jatuh bangun dan terhuyung-huyung, namun Si Gila itu masih tertawa-tawa dan bernyanyi dengan suara riang dan nyaring. Bu Song berdiri bengong, penuh iba dan juga penuh kagum kepada orang gila itu.

Biarpun kelihatannya terseret-seret kuda, tentu saja sebetulnya hal itu disengaja oleh Kim-mo Taisu Kwee Seng! Pagi hari itu, baru saja ia bangun dari tidur nyenyak di sebelah kuil bobrok di luar kota Kabupaten Jwee-bun ketika lima orang penunggang kuda itu serentak menyergapnya. Karena tidak tahu apa urusannya, Kwee Seng tidak melawan dan memang pada saat itu, gilanya sedang kumat. Malam tadi ia terlalu banyak minum arak yang dicurinya dari rumah makan terbesar di kota itu, minum-minum sampai mabok dan kalau sudah begini, tentu ia teringat akan semua pederitaannya sehingga membuat ia tertawa-tawa dan menangis seorang diri. Ketika lima orang itu menyergapnya dan mengikat kedua lengannya dengaa tali yang khusus dipergunakan ahli-ahli silat untuk membelenggu lawan, ia hanya tertawa-tawa dan memutar-mutar biji matanya.

Orang tinggi besar muka hitam yang memimpin rombongan lima orang itu, setelah membelenggu kedua tangannya, lalu bertolak pinggang dan berkata, “Kami adalah murid-murid tertua dari perkumpulan Sian-kauw-bu-koan (Perkumpulan Silat Monyet Sakti). Kami mentaati perintah Suhu menyelidiki dan mengejar penjahat yang tiga malam yang lalu telah mengganggu rumah Suhu. Kau lah agaknya orangnya, karena kaulah orang baru yang kami temui dan jelas bahwa kau pandai ilmu silat, hanya berpura-pura gila. Kami takkan membunuhmu sebelum kau dihadapkan kepada Suhu.” Demikianlah, Kwee Seng digusur keluar lalu mereka menunggang kuda dan menarik Kwee Seng yang dibelenggu itu keluar dari Jwee-bun. Akan tetapi, Kwee Seng menari-nari dan bernyanyi-nyanyi.

“Akulah raja-diraja! Pengawal-pengawalku monyet-monyet berkuda!” Ia menari-nari di pinggir-pinggir jalan dan ketika mereka lewat di depan rumah makan, kaki Kwee Seng menendang meja. Anehnya, meja itu tidak roboh, hanya panggang paha yang berada di tempatnya telah berloncatan. Kwee Seng tertawa dan menyambar sebuah paha panggang yang meloncat di dekatnya, terus saja digerogotinya paha panggang yang masih panas itu sambil mulutnya mengoceh, “enak… enak, gurih sedap…!”

Pemilik warung marah-marah, bersama beberapa orang pembantunya memungut paha panggang yang berjatuhan di tanah, kemudian mereka hendak memukuli oarng gila itu. Akan tetapi Si Muka Hitam membentak.

“Jangan sembarangan pukul tawanan kami! Nih, kerugianmu kuganti!” ia melemparkan sepotong uang perak yang diterima oleh pemilik warung dengan girang. Arak-arakan itu kemudian menjadi tontonan, anak-anak menggoda Kwee Seng, orang-orang tua mempercakapkan kejadian aneh itu. Menyaksikan

tingkah Kwee Seng yang mencuri paha panggang, dan melihat betapa kepala rombongan orang berkuda itu dengan baik membayar kerugian Si Tukang Warung, otomatis semua orang berpihak kepada para penunggang kuda dan menduga bahwa orang gila itu tentulah telah melakukan perbuatan jahat.

Kwee Seng terus diseret berlari-lari di belakang kuda sambil tetap menggerogoti daging paha. Setelah dagingnya habis semua tinggal tulang yang juga ia gigit pecah ujungnya untuk dihisap sum-sumnya, mendadak Kwee Seng berhenti dan berkata.

“Sudah cukup! Paha curian sudah habis, hukumanku pun habis!”

Kuda di depannya lari terus, akan tetapi penunggangnya, Si Muka Hitam yang memegangi ujung tali belenggu, tersentak ke belakang dan jatuh melalui ekor kuda! Ia kaget sekali, berseru keras dan tubuhnya membuat salto sehingga ia dapat jatuh melalui ekor kuda! Ia kaget sekali, berseru keras dan tubuhnya membuat salto sehingga ia dapat jatuh berdiri di atas tanah sambil membelalakkan matanya. Empat orang kawannya juga cepat melompat turun dan mencabut senjata masing-masing, sikap mereka mengancam, akan tetapi juga agak jerih.

Kwee Seng menggerakkan kedua tangannya dan “bret, brett” tali yang mengikat pergelangan kedua tangannya putus dengan mudah. Kembali lima orang itu terkejut, juga Si Tinggi Besar muka hitam sudah mencabut goloknya, siap menghadapi tawanan yang memberontak ini.

Kwee Seng tertawa bergelak, menoleh ke kanan kiri memandang lima orang yang mengurungnya. “heh-heh, habis makan tidak minum, sungguh tak enak sekali. Eh, sahabat-sahabat seperjalanan, siapa di antara kalian yang mempunyai arak? Aku ingin sekali minum!”

Empat orang itu sudah gatal-gatal tangannya hendak menerjang, akan tetapi Si Muka Hitam menggeleng kepala, menghampiri kudanya yang sudah dipegang oleh seorang temannya, mengeluarkan sebuah guci arak dan melemparkannya kepada Kwee Seng. Kwee Seng tertawa-tawa menyambut guci arak lalu menuangkan isinya ke mulut, meneguk arak dengan lahap sekali tak kunjung henti sampai akhirnya guci itu kosong!

“Heh-heh, arak tidak baik, tapi cukup menghilangkan dahaga!” katanya sambil mengusap mulut dengan lengan baju. “Nah, sekarang kita bicara. Aku memang mencuri paha panggang, maka aku suka kalian hukum diseret-seret. Akan tetapi sekarang barang curian itu sudah habis, maka sampai di sini pula hukumanku.”

“Tidak perlu segala pura-pura ini!” Si Muka Hitam membentak. “Seorang gagah tidak akan menyangkal perbuatannya. Kau jelas seorang kang-ouw yang pura-pura gila, apakah tidak malu kalau bersikap pengecut? Kaulah satu-satunya orang yang mungkin melakukan pengacauan di rumah Suhu, oleh karena itu, kami harap supaya kau ikut baik-baik menghadap Suhu untuk menerima pengadilan. Kalau kau berkeras menolak, terpaksa kami akan menggunakan kekerasan pula!”

“Siapa guru kalian itu?” Kwee Seng bertanya tak acuh. “Suhu adalah guru silat yang mendirikan Silat Monyet Sakti, namanya terkenal sebagai seorang yang menghargai persahabatan dan tidak pernah mengganggu golongan lain.”

“Aha! Kiranya Sin-kauw-jiu (Kepalan Monyet Sakti) Liong Keng Lo-enghiong di kota Sin-yang.”

Lima orang itu cepat saling pandang dan wajah mereka berubah girang. “Hemm, kau sudah mengenal Suhu, sudah mengacau rumahnya tiga hari yang lalu, masih berpura-pura lagi!” tegur Si Muka Hitam.

“Ha-ha-ha! Liong-lo-enghiong memang patut menjadi monyet tua sakti, akan tetapi kalian ini benar-benar monyet buntung yang lancang sekali. Sudah kukatakan tadi, kalian hendak menangkap anjing, akan tetapi keliru menangkap hariamau, bukankah itu amat lucu? Sudahlah , aku hendak pergi!” Setelah berkata demikian, Kwee Seng melempar guci arak yang sudah kosong ke atas tanah, kemudian tanpa menoleh lagi ia berjalan melewati mereka dengan lenggang seenaknya dan bernyanyi-nyanyi!

“Kalau To menyuram, dianjurkan prikebajikan!

Prikebajikan muncul tampak pula kemunafikan!

Kalau rumah tangga hancur berantakan dianjurkan kerukunan!

“Setelah negara kacau, baru timbul pahlawan!

Hayaaaaa…….. ! Hayaaaa…!

Hayaaaaa….. !!!”

Nyanyian itu adalah ayat-ayat dalam kitab To-tek-khing pelajaran Nabi Lo Cu. Kwee Seng amat tertarik oleh pelajaran Agama To-kauw ini setelah selama tiga tahun ia berada di Neraka Bumi, di mana terkumpul banyak kitab-kitab kuno tentang To-kauw milik nenek penghuni Neraka Bumi, dan banyak pula kitab-kitab ini dibacanya. Agaknya pengaruh pelajaran To ini pulalah yang membuat Kwee Seng kini menjadi tak acuh akan keduniawian, bersikap bebas lepas seperti orang tidak normal!

Adapun lima orang itu ketika melihat Si Gila seperti hendak melarikan diri, cepat lari mengejar dan mengurungnya dengan senjata di tangan, sikap mengancam dan siap menerjang. Si Muka

Hitam yang tinggi besar berdiri menghadapi Kwee Seng sambil membentak. “Kau tidak boleh pergi sebelum ikut kami menghadap Suhu!”

Ha-Ha-Ha, aku akan menghadap Suhumu sekarang juga!” Kwee Seng berkata sambil berjalan terus tanpa mempedulikan mereka. Tentu saja lima orang itu tidak sudi percaya dan menyangka Kwee Seng mempergunakan siasat untuk dapat melarikan diri. Si Muka Hitam memberi tanda dan menyerbulah

mereka semua dengan golok dan pedang mereka. Senjata-senjata itu mereka tujukan pada tempat-tempat yang tidak berbahaya, bahkan ada yang hanya dipakai mengancam karena mereka tidak berniat membunuh Si Gila ini yang perlu dihadapkan kepada guru mereka untuk diperiksa.

“Siuuuttt… wrr-wrr-wrrr!” Lima orang itu menjadi silau matanya melihat sinar menyilaukan mata disambung tubuh mereka terpental ke belakang. Entah apa yang terjadi, mereka tahu-tahu sudah terlempar dan jatuh duduk terjengkang sedangkan senjata mereka lenyap entah ke mana bersamaan pula dengan lenyapnya orang gila yang mereka serang tadi! Mereka saling pandang dengan penuh keheranan. Mereka adalah murid-murid pilihan dari Sin-kauw-jiu Liong Keng, jagoan Sin-yang! Bagaimana mereka dapat dengan mudah saja, dalam segebrakan dirobohkan seorang lawan tanpa mereka ketahui bagaimana caranya?

“Eh, Twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua)… lihat…!” Seorang diantara mereka berkata sambil menudingkan telunjuknya ke belakang. Si Muka Hitam dan adik-adik seperguruannya menoleh dan ternyata golok dan pedang mereka yang lenyap tadi telah menancap di atas tanah, di sekeliling guci arak yang kosong! Entah bagaimana bisa menancap di situ, dan kapan terjadinya, mereka sama sekali tidak dapat menerka. Dengan penuh keheranan, kekaguman, juga kekhawatiran karena perguruan mereka menghadapi seorang musuh yang sedemikian saktinya, mereka bangkit, membersihkan pakaian lalu mengambi senjata dan meloncat ke atas kuda yang mereka kaburkan cepat-cepat ke Sin-yang untuk memberi laporan kepada guru mereka.

Dengan cepat lima orang itu membalapkan kuda karena mereka amat khawatir akan keselamatan perguruan mereka. Guru mereka harus diberi peringatan akan datangnya malapetaka dari tangan Si Jembel yang sakti itu. Lima ekor kuda mereka sampai mandi peluh ketika akhirnya mereka memasuki Sin-yang dan cepat-cepat mereka melompat turun di depan rumah besar yang pintu depannya terdapat tulisan Sin-kauw-bu-koan. Mereka berlima lalu lari masuk tanpa mempedulikan pertanyaan para murid lain yang berada di depan gedung.

“Mana Suhu? Kami harus cepat-cepat menghadap Suhu!” Demikianlah ucapan mereka sambil berlari terus menuju ke ruangan dalam.

Akan tetapi begitu mereka membuka pintu ruangan tamu, lima orang murid ini berdiri seperti patung, membelalakkan mata karena hampir tidak percaya kepada pandang mata dan pendengaran telinga sendiri. Suhu mereka, seorang tua berusia enam puluh tahun yang jenggotnya sudah putih semua, duduk di ruangan tamu, menjamu seorang tamu yang tertawa-tawa bergelak sambil minum arak, menimbulkan suasana gembira sedangkan suhu mereka juga tertawa-tawa, seorang tamu berpakaian compang-camping yang bukan lain adalah…. Jembel gila yang mereka keroyok tadi! Orang gila itu kini menoleh ke arah mereka sambil mengangkat cawan arak dan berkata sambil tertawa.

Lima orang murid itu masih bingung dan khawatir. Orang gila itu memang sikapnya edan-edanan, jangan-jangan suhu mereka kena ditipu pula. Suhu mereka memang selalu ramah kepada siapapun juga, siapa tahu bahwa Si Gila inilah mungkin orang jahat yang mengacau tiga hari yang lalu.

“Suhu… eh, dia ini…” Si Muka Hitam berkata akan tetapi segera menghentikan kata-katanya ketika melihat sepasang mata suhunya memandang marah kepadanya.

“Hemm, apa-apaan kalian ini? Bersikap tolol terhadap tamu agung? Hayo lekas memberi hormat kepada yang terhormat Kim-mo Taisu!”

Lima orang itu merasa seakan-akan kepala mereka disiram air es! Tentu saja mereka sudah mendengar suhu mereka bicara dengan kagum akan seorang pendekar aneh yang menggemparkan dunia persilatan, yaitu seorang pendekar muda yang amat sakti dan jarang dapat ditemui orang namun yang perbuatan-perbuatannya membuat namanya menjulang tinggi di antara para pendekar lainnya, yaitu Kim-mo Taisu. Siapa kira nama besar ini dimiliki oleh seorang jembel muda! Patutnya nama julukan Kim-mo Taisu dipakai oleh seoarang tua yang berwibawa. Kalau saja bukan suhu mereka yang memperkenalkan, sampai mati pun mereka takkan dapat percaya. Meremang bulu tengkuk mereka menawan dan menyeret-nyeret Kim-mo Taisu.

Serempak lima orang itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Kwee Seng sambil berkata, “Mohon Taisu sudi mengampuni kekurangajaran kami berlima!”

Sin-kauw Liong Keng yang sudah tua itu tercengang dan bercuriga ketika melihat murid-murid kepala ini memberi penghormatan seperti itu kepada tamu-tamunya, maka cepat ia bertanya dengan suara keren.

“Hemm, apakah yang telah kalian perbuat terhadap dia?” Si Muka Hitam segera menjawab, suaranya penuh penyesalan, “Suhu, teecu berlima dalam menyelidiki penjahat, telah salah duga dan kesalahan tangan menangkap Taisu, mohon Suhu dapat mengampunkan teecu.”

“Hah…?? Kalian menangkap Kim-mo Taisu? Wah celaka! Gila betul murid-muridku. Harap Taisu suka memaafkan aku orang tua yang mempunyai murid-murid tolol.” Liong Keng cepat-cepat menjura kepada Kwee Seng.

Kwee Seng tertawa dan balas menjura. “Wah, mengapa begini sungkan? Tidak aneh bila terjadi kesalahpahaman, kalau tidak ada kejadian itu, mana aku dapat mengetahui bahwa Lo-enghiong diganggu orang?”

Liong Keng duduk kembali, mengelus jenggotnya dan wajahnya kelihatan murung. Ia menarik napas panjang lalu memberi perintah kepada lima orang muridnya untuk bangun. Dengan taat mereka bangkit dan mengambil tempat duduk di belakang suhu mereka. Kini pandang mata mereka terhadap Kim-mo Taisu berobah sama sekali, penuh keseganan dan kekaguman.

“Memang murid-muridku goblok, akan tetapi dapat dimengerti juga kesalahdugaan mereka karena dia pun seorang muda yang suka memakai pakaian jembel seperti Taisu. Dan dia lihai bukan main… hemm, ataukah agaknya aku yang sudah terlalu tua dan tiada guna….” Kembali guru silat tua itu menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba ia bangkit berdiri, gerakannya cepat sekali, lalu ia menghadapi Kwee Seng sambil berkata. “Kim-mo Taisu, aku sudah tahu sampai di mana hebatnya kepandaianmu ketika kau membantuku setahun yang lalu di Hutan Ayam Putih membasmi perampok, coba sekarang kau uji, apakah kepandaianku sudah amat merosot?” Setelah berkata demikian, guru silat tua itu tiba-tiba menerjang Kim-mo Taisu yang masih duduk di atas bangkunya. Guru silat tua itu memukul dengan tangan kanannya, pukulan yang antep dan ampuh, namun Kwee Seng hanya duduk tersenyum. Ketika pukulan sudah tiba pada sasarannya, terdengar suara keras dan bangku yang diduduki Kwee Seng tadi hancur berkeping-keping, akan tetapi pendekar sakti itu sendiri sudah tidak berada di situ! Kejadian ini berlangsung cepat sekali, menghilangnya Kwee Seng juga amat luar biasa sehingga guru silat dan lima orang muridnya melongo, lalu celingukan mencari-cari dengan mata mereka.

“Ha-ha, pukulan tanganmu masih ampuh sekali, Lo-enghiong!” tiba-tiba terdengar suaranya dan ketika semua orang memandang, ternyata Kim-mo Taisu atau Kwee Seng itu telah berada di sudut ruangan, punggungnya menempel pada sudut dinding bagian atas, seperti orang enak-enak duduk saja! Ternyata pendekar sakti itu sekaligus telah membuktikan kehebatan gin-kangnya ketika ia “menghilang” dan juga kekuatan lwe-kangnya dengan cara menempelkan punggung pada dinding!

Hemm, kauanggap pukulan tanganku masih cukup ampuh? Sekarang harap kau suka melihat ilmu toyaku, bagaimana?” Cepat sekali guru silat itu tahu-tahu sudah menyambar sebatang toya, yaitu senjata tongkat atau pentung terbuat daripada sebuah kuningan dengan ujungnya baja, sebuah senjata yang berat dan keras bukan main. Kemudian toya itu diputar-putarnya sampai mengeluarkan angin berciutan, toyanya sendiri hilang bentuknya karena yang tampak hanya gulungan sinar kuning yang makin lama makin berkembang lebar. Terdengar suara keras berkali-kali dan di lain saat Si Guru Silat sudah meloncat turun, toyanya melintang di depan dada, dan ia bengong memandang ke atas di mana tadi Kim-mo Taisu berada. Pendekar sakti itu sudah tidak berada di atas dinding itu memperlihatkan akibat serangan yang hebat tadi, yaitu berlubang-lubang pada tujuh tempat, tepat di bagian tubuh yang berbahaya.

“Wah, ilmu toyamu masih amat luar biasa Lo-enghiong!” Tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata dan kiranya pendekar ini tadi melompat ke sudut lain dari ruangan itu dengan gerakan demikian cepatnya sehingga tak tampak oleh mereka yang berada di ruangan itu. Kini ia menghampiri Si Guru Silat tua sambil menjura dan tertawa-tawa, “Kau yang begini tua masih sehebat ini, benar-benar harus diberi ucapan selamat dengan seguci arak wangi.”

Liong Keng tersenyum dan melempar toyanya ke arah muridnya yang cepat menerimanya dan menyimpannya. “Ha-ha-ha, pujianmu kosong, dan orang setua aku ini sudah tidak butuhkan itu lagi. Taisu kalau kau menganggap bahwa ilmuku masih belum berkurang, maka makin sukarlah penasaran ini dibereskan. Heeei, ambil lagi guci besar arak wangi untuk Taisu!”

Biarpun tadinya guru silat itu tertawa-tawa melayani Kwee Seng minum arak yang baru dibuka dari guci, namun kerut-kerut di dahinya timbul lagi dan ia menarik napas panjang berkali-kali.

“Lo-enghiong, mengapa kausimpan-simpan penasaran di hati? Ceritakanlah, apa yang terjadi dan siapa itu orang muda berpakaian jembel yang lihai sekali?”

Liong Keng kembali menarik napas panjang. “Kalau diceritakan sungguh membikin orang mati penasaran! Aku Liong Keng selama puluhan tahun hidup sebagai guru silat tak pernah mencari permusuhan dengan siapapun juga, kecuali dengan orang-orang jahat sehingga selama ini namaku tetap disuka dunia kang-ouw. Siapa tahu, sekali ini namaku hancur oleh seorang bu-beng-siauw-cut (orang kecil tak terkenal)!” Dengan suara penuh penasaran ia lalu bercerita akan peristiwa yang menimpa padanya beberapa hari yang lalu.

Liong Keng seorang guru silat yang terkenal, guru silat walaupun merupakan guru bayaran, namun dalam menerima murid ia tidaklah asal orang mampu membayarnya saja. Ia memilih calon murid yang berbakat dan yang berkelakuan baik-baik, bahkan banyak di antara muridnya yang karena miskin tidak mampu membayarnya. Ada seorang murid perempuan, anak seorang janda miskin yang amat dikasihinya sehingga ketika janda itu meninggal dunia, murid perempuan yang bernama Bi Loan itu ia pungut sebagai puterinya, karena guru silat itu sendiri memang tidak mempunyai keturunan. Bi Loan menjadi murid yang pandai dan anak yang berbakti, wajahnya cukup cantik sehingga guru silat itu tentu saja mengharapkan mantu yang pantas. Sebagai seorang gadis yang pandai silat, puteri Sin-kauw-jiu Liong Keng, Bi Loan bukanlah gadis pingitan yang selalu berada di dalam kamarnya. Ia sudah biasa keluar pintu, bahkan biasa pula menggunakan kepandaiannya untuk membela si lemah yang tertindas. Tidak ada orang yang berani mencoba-coba mengganggunya, karena selain gadis itu sendiri pandai silat, juga orang merasa sungkan bermusuhan dengan Sin-kauw-jiu itu, Liong Keng dan murid-muridnya yang banyak jumlahnya.

“Akan tetapi, sepekan yang lalu,” demikian guru silat itu melanjutkan ceritanya. “Bi Loan memasuki sebuah tempat judi Karena tertarik. Di tempat itu tentu saja berkumpul banyak penjahat dan di situ pula Bi Loan mendengar ucapan kurang ajar. Terjadilah keributan dan beberapa orang lelaki yang kurang ajar itu dihajar kalang kabut oleh Bi Loan sehingga mereka itu lari tunggang langgang. Akan tetapi tiba-tiba seorang pengemis muda, kukatakan pengemis karena ia berpakaian jembel. Ia tidak terkenal dan menurut cerita mereka yang menyaksikan kejadian itu, Bi Loan bertanding dengan jembel muda itu yang agaknya membela para penjahat tadi. Pertandingan berjalan seru dan laki-laki muda itu lalu melarikan diri sambil menyindir-nyindir. Bi Loan marah dan mengejar, sebentar saja mereka lenyap dari tempat itu.” Guru silat itu berhenti bercerita dan menarik napas panjang.

“Tak seorang pun tahu ke mana mereka pergi berkejaran, karena sampai sehari semalam Bi Loan tidak pulang, aku menjadi kuatir dan pada keesokan harinya aku sendiri pergi mencari. Aku mendapatkan Bi Loan di dalam sebuah kuil kosong di hutan sebelah barat kota….”

Melihat wajah guru silat itu merah padam, Kwee Seng menduga-duga. “Dan pengemis itu?”

“Dia tidak ada, entah berada di mana. Akan tetapi sikap Bi Loan luar biasa sekali. Anakku itu dengan sikap yang aneh menyatakan tidak ingin pulang karena ia sudah menjadi isteri Kai-ong!”

“Kai-ong (Raja Pengemis)??” Kwee Seng tertegun.

Demikianlah pengakuannya. Ia menyebut Kai-ong kepada laki-laki muda jembel itu. Aku marah dan memaksanya pulang karena kuanggap Bi Loan sedang dalam keadaan tidak sadar. Dan setibanya di rumah, ia hanya menangis, tidak mau bicara apa-apa kecuali menyatakan hendak ikut kai-ong! Malam harinya, tiga hari yang lalu, di depan hidungku sendiri tanpa aku dapat berbuat sesuatu, bangsat itu datang dan membawa pergi Bi Loan!”

“Apa? Bagaimana terjadinya?” Kwee Seng kaget. Ia maklum bahwa guru silat ini kepandaiannya sudah lumayan, kalau laki-laki muda yang mengaku sebagai raja pengemis itu mampu menculik seorang gadis begitu saja, itu membuktikan bahwa ilmu kepandaian jembel muda itu tentulah hebat!

“Sungguh aku harus merasa malu, menjadi guru silat puluhan tahun lamanya, sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang penjahat tak ternama seperti dia. Aku harus tutup perguruanku!”

“Suhu…!” lima orang murid kepala berseru. “Ahh, perlu apa belajar ilmu silat dari seorang lemah seperti aku?” guru silat itu menghela napas. “Kim-mo Taisu, kau tadi menyatakan sendiri bahwa baik tenagaku maupun ilmu toyaku masih kuat, namun malam hari itu aku benar-benar seperti anak kecil, dipermainkan orang. Dia itu, tanpa kuketahui padahal aku sama sekali belum tidur, tahu-tahu telah dapat memasuki kamar puteriku, memondongnya keluar dan meloncat ke atas genteng. Aku mendengar puteriku berkata “Selamat tinggal, Ayah” dan melihat berkelebatnya bayangan itu di atas. Tentu saja aku menyambar toya dan mengejar ke atas, lalu kuhantamkan toyaku pada punggung orang itu. Tepat toyaku mengenai punggung, namun… ahhh… toyaku terlepas dari tanganku dan dia tidak apa-apa! Kemudian menghilang di dalam gelap!”

Makin kagum hati Kwee Seng. Selama ini, baru Bayisan seorang yang ia anggap seorang muda yang berkepandaian hebat, siapa kira sekarang muncul lagi seorang pemuda lain yang menyebut diri raja pengemis yang demikian lihai!

akan tetapi bukannya mengetahui di mana sembunyinya penjahat yang menculik anakku, malah berani berlaku kurang ajar kepadamu. Betapapun juga, hal ini kuanggap kebetulan sekali, karena, kalau tidak kau sahabat muda, siapa lagi yang dapat mencuci bersih namaku ini?” Suara guru silat itu terdengar sedih sekali, penuh permohonan sehingga nampak benar bahwa ia telah tua dan telah banyak berkurang semangatnya begitu menderita kekalahan.

“Baiklah, Lo-enghiong.” Kwee Seng menyanggupi. “Mendengar ceritamu, aku jadi ingin sekali bertemu dengan raja pengemis itu! Mudah-mudahan saja aku akan dapat menemukannuya. Akan tetapi tentang puterimu, kalau memang betul dia itu telah memilih Si Raja Pengemis, apa yang dapat kita perbuat? Lo-enghiong, tentu kau sendiri maklum betapa ruwetnya soal asmara…” Perih hati Kwee Seng berkata demikian, seakan-akan ia menusuk dan menyindir hatinya sendiri yang berkali-kali menjadi korban asmara jahil!

Liong Keng menghela napas dan mengangguk-angguk. “Dia bukan keturunanku sendiri, bagaimana aku bisa mengetahui isi hatinya yang sesungguhnya? Kalau memang demikian halnya, biarlah ia pergi, memang Thian tidak menghendaki aku mempunyai keturunan.”

Setelah menyatakan janjinya akan pergi mencari penculik puteri guru silat Liong, Kwee Seng lalu berpamit dan pergilah ia dari rumah itu untuk mencari orang yang amat menarik hatinya Si Raja Pengemis!

Dua orang penjaga pintu rumah judi yang bertubuh tinggi besar seperti gajah bengkak itu memandang penuh perhatian, kemudian seorang di antara mereka yang berkepala botak bertanya seius, “Dari mana mau ke mana?”

Pertanyaan singkat ini tentulah merupakan sebuah kode rahasia, pikir Kwee Seng, maka ia tertawa dan menjawab seenaknya, “Dari belakang mau ke depan!”

Sejenak kedua orang penjaga itu tercengang mendengar jawaban ini, kemudian mereka tertawa bergelak dan orang ke dua yang hidungnya bengkok ke atas menghardik. “Jembel kapiran! hayo lekas pergi, di sini bukan tempat kau mengemis!”

“Tempat apa sih ini?” Kwee Seng bertanya, berlagak orang sinting. “Di sini rumah judi, mau apa kau tanya-tanya? Hayo lekas minggat, apa kau ingin kupukul mampus?” bentak Si Botak sambil mengepal tinjunya yang sebesar kepala Kwee Seng itu di depan hidung Si Pendekar Sakti.

“Waduh, tanganmu bau kencing kuda!” Kwee Seng menutupi hidungnya, lalu menjauhkan mukanya dan memandang kepada papan nama di depan pintu, mengerutkan keningnya dan membacanya dengan lagak sukar, sedangkan Si Botak itu otomatis menarik kepalannya dan mencium tangannya itu. Agaknya

memang bau tangannya itu, karena hidungnya bergerak-gerak seperti hidung kuda diganggu lalat. Kemudian ia marah besar, baru merasa bahwa ia dipermainkan, akan tetapi sebelum ia sempat memukul, ia dan kawannya yang berhidung bengkok itu memandang heran karena pengemis itu sudah membaca papan nama dengan suara keras, “BAN HOA PO KOAN (Rumah Judi Selaksa Bunga)! Wah, kebetulan sekali, aku paling gemar berjudi!”

Sekaligus kemarahan dua orang itu berubah menjadi keheranan. Mana ada seorang jembel pandai membaca huruf, dan mana mungkin jembel itu masih gemar berjudi pula? “Eh, setan sampah! Makan saja kau harus minta-minta, bagaimana kau bisa berjudi? Apakah taruhannya sisa makanan?” ejek Si Botak dan kedua orang penjag apintu ini tertawa bergelak sambil memegangi perut mereka yang gendut. Mendadak suara ketawa mereka terhenti dan mata mereka melotot lebar memandang tangan Kwee Seng yang sudah mengeluarkan sebuah kantung kuning berisi penuh uang perak yang berkilauan!

“Apakah modal sekian ini kurang cukup?” Dua orang itu menelan ludah menaksir-naksir bahwa kantung itu isinya tidak kurang dari seratus tail perak. Kemudian mereka mengangguk-angguk. “Cukup… cukup… silakan masuk…!”

Kwee Seng menutup kantungnya dan dengan lenggang kangkung ia melangkah masuk, diawasi dua orang penjaga yang terheran-heran. Akan tetapi Kwee Seng tidak mempedulikan mereka, terus saja melangkah masuk ke dalam ruangan yang cukup luas, di mana terdapat banyak orang mengelilingi beberapa buah meja judi. Ngeri hati Kwee Seng ketika menyaksikan orang-orang yang berjudi. Bukan seperti wajah manusia lagi, melainkan seperti sekelompok binatang kelaparan. Muka penuh peluh, berkilauan basah, mata melotot dan seluruh uratnya menegang. Sinar mata penuh kerakusan, kemurkaan, sedangkan yang kehabisan uang kelihatan putus asa, penasaran, dendam, dan iri. Tempat setan dan iblis berpesta-pora, pikir Kwee Seng. Hawa udara panas di dalam Rumah Judi Selaksa Bunga itu. Panas luar dalam. Luar panas Karen kurang hawa, dalam panas karena pengaruh uang.

Kwee Seng menhampiri meja tengah yang paling besar dan paling ramai. Semua meja adalah meja permainan dadu. Meja tengah juga tempat bermain dadu, akan tetapi di sini agaknya tempat istimewa di mana taruhannya amat besar. Uang perak bertumpuk-tumpuk, bahkan ada beberapa potong emas. Yang mainkan dadu adalah seorang laki-laki kurus bermata sipit seperti selalu terpejam. Orang itu usianya empat puluh tahun lebih, lengan bajunya digulung sampai ke siku. Gerakan kedua tangannya cepat sekali ketika ia memutar biji-biji dadu di dalam mangkok, kemudian secepat kilat ia menutupkan mangkok itu ke atas meja dengan biji-biji dadu di bawah mangkok. Mulailah orang-orang memasang nomer yang ia duga dengan mempertaruhkan uang. Ketika pemasangan selesai, dengan gerakan tangan cepat sekali pemain itu membuka mangkok, maka tampaklah dua biji dadu di atas meja dengan permukaan memperlihatkan titik-titik merah. Jumlah titik-titik inilah merupakan angka yang keluar. Bagi yang pasangannya kena, mendapat jumlah taruhannya yang diterima dengan wajah berseri-seri dan mata berkilat-kilat. Bagi yang kalah, dan sebagian besar memang kalah, mereka hanya melihat dengan mata sayu betapa tumpukan uang taruhan mereka digaruk oleh Si Bandar yang tertawa-tawa lebar. Agaknya yang nasibnya mujur adalah selalu Si Bandar, buktinya yang mendapat atau yang pasangannya terkena selalu hanya yang memasang kecil, sebaliknya yang taruhannya besar selalu tak pernah kena pasangannya!

Kedatangan Kwee Seng tidak ada yang tahu karena memang semua perhatian ditujukan ke atas meja. Setelah melihat tiga empat kali pasangan melalui pundak orang-orang yang bertaruh. Kwee Seng mendesak maju. Dengan lagak dibuat-buat ia mengeluarkan pundi-pundi uangnya dan menaruhkannya di atas meja dengan keras. Jelas tampak bahwa pundi-pundi itu isinya berat dan banyak, maka tertegunlah semua orang. Yang merasa pasangannya hanya kecil-kecilan lalu memberi tempat sehingga akhirnya Kwee Seng dapat duduk berhadapan dengan Si Bandar Judi. Pundi-pundi itu belum dibuka, maka Si Bandar yang kurus itu memandang tajam dengan mata sipitnya, kemudian bertanya.

“Pasangan dengan uang tunai. Apakah anda punya uang?” Diam-diam SI Bandar ini merasa heran mengapa penjaga pintu memperkenankan seorang jembel masuk ruangan itu.

“Heh-heh-heh, kalau tidak punya uang, tentu aku tidak akan berjudi!” Kwee Seng membuka pundi-pundinya dan terdengar seruan-seruan heran dan kaget ketika kelihatan isi pundi-pundi oleh mereka. “Tapi aku tidak sudi berjudi kecil-kecilan. Aku ingin mengadu untung dengan Bandar sendiri, bertaruh angka ganjil atau genap, dengan hanya sebuah biji dadu saja. Berani?”

Kembali orang-orang berseru heran. Gila benar orang ini, menantang bandar! Ban-hwa Po-koan adalah rumah judi besar, orang-orang yang menjadi bandar adalah ahli-ahli judi yang ulung. Si Bandar kurus kecil ini tersenyum-senyum memperlihatkan giginya yang runcing-runcing seperti gigi tikus. “Mengapa tidak berani? Berapa uangmu dan berapa akan kaupertaruhkan?” “Isi pundi-pundi ini ada seratus dua puluh tail, kupertaruhkan semua!”

Terdengar seruan “ah-oh-eh” ramai sekali ketika para penjudi mendengar ucapan ini. Sekali pasang seratus dua puluh tail perak? Benar-benar hanya orang gila yang dapat melakukan hal ini! Bahkan Si Bandar Kurus itu sendiri menjadi basah penuh keringat Karena betapapun juga hatinya menjadi tegang menghadapi taruhan yang begini hebat. Akan tetapi Kwee Seng hanya tersenyum-senyum dan menggaruk-garuk kepalanya seperti orang mencari kutu rambut.

“Eh, Muka Tikus, berani tidak kau?” akhirnya ia berkata kesal melihat bandar itu hanya memandang kepadanya.

Ada yang teratawa geli, ada pula yang kuatir mendengar jembel itu berani menyebut muka tikus kepada bandar. Apalagi ketika mereka melihat betapa empat orang tukang pukul rumah judi itu, yang tegap-tegap tubuhnya, diam-diam mendekati Kwee Seng dan berdiri di belakang Si Jembel ini sambil saling memberi tanda dengan mata, siap untuk menerjang kalau perlu.

“Apa? Mengapa tidak berani? Mari kita mulai! Kau bertaruh genap atau ganjil?” Si Bandar menyisihkan sebuah dadu yang bermuka enam memasukkannya ke dalam mangkok yang telentang di atas meja. Suasana menjadi tegang, semua orang tidak ada yang mengeluarkan suara, menanti jawaban Kwee Seng sehingga keadaan menjadi sunyi dan sebuah jarum yang jatuh ke lantai agaknya akan terdengar pada saat itu.

Kwee Seng masih tersenyum-senyum dan ia mendorong pundi-pundinya ke depan. “Seratus dua puluh tail perak kupasangkan untuk angka ganjil!” katanya nyaring.

Si Bandar tertawa, hatinya girang bukan main karena tiba-tiba ada makanan begini lunak tersodor di depan mulutnya. Jari-jari tangannya sudah terlatih sempurna sehingga sambil memegang mangkok, ia dapat mempergunakan dua jari telunjuk dan tengah yang berada di belakang mangkok untuk membalik-balik biji dadu di waktu ia menutup atau membuka mangkok, tanpa seorang pun dapat melihatnya. Kecurangan ini sudah ia lakukan bertahun-tahun dan tak pernah ada yang tahu. Dengan jari-jarinya yang terlatih ia dapat membalik-balik dua biji dadu sesuka hatinya, apalagi kalau hanya sebuah! Alangkah mudahnya. Tiap kali ia menutup mangkok, matanya yang seperti terpejam itu sekelebatan dapat melihat angka yang berada di permukaan biji dadu, kemudian di waktu membuka mangkok, cepat jari-jari tangannya yang memegang mangkok dan tersembunyi di belakang mangkok bekerja membalik biji-biji dadu menjadi angka-angka yang hanya dipasangi taruhan-taruhan kecil. Dengan cara demikian, selalu pemasang taruhan besar akan kalah. Sekarang, jembel gila ini bertaruh angka ganjil untuk sebuah biji dadu. Alangkah mudahnya untuk membalikkan biji dadu itu agar permukaannya yang genap berada di atas untuk memperoleh kemenangan seratus dua puluh tail. Alangkah mudahnya!

Baik!” katanya. “Semua orang disini menjadi saksi. Kau memasang angka ganjil!” Kemudian ia menggulung kedua lengan bajunya lebih tinggi lagi, dan memutar-mutar dadu ke dalam mangkok. Gerakannya cepat sekali sehingga dadu yang berputaran di dalam mangkok itu tidak kelihatan lagi saking cepatnya, kemudian dengan gerakan tiba-tiba, ia membalikkan mangkok ke atas meja dengan biji dadu di bawahnya.

“Heh-heh-heh!” Si Bandar mengusap peluh di dahinya. “Apakah kau tidak merobah pasanganmu? Tetap ganjil? Boleh pilih, sobat. Selagi mangkok belum dibuka kau berhak memilih. Ganjil atau genap?”

Suasana makin tegang, akan tetapi sambil tersenyum dingin Kwee Seng menaruh kedua tangannya di atas meja, di depannya, dan ia tenang-tenang menjawab. “Aku tetap memasang angka ganjil!”

Si Bandar dengan tangan agak gemetar memegang mangkok, mulutnya berkata. “Nah, siap untuk dibuka, semua orang menjadi saksi!” Jari-jarinya bergerak dan mangkok diangkat, dibarengi seruan Si Bandar. “Heeeeeiiitt!”

Semua mata memandang kepada biji dadu yang telentang, jelas memperlihatkan lima buah titik merah. “Ganjil… !” Semua mulut berseru.

“Aaahhhhh…” Si Bandar menjadi pucat, berdiri terlongong keheranan memandang ke arah biji dadu, hampir tidak percaya kepada matanya sendiri. Tadi ketika menutup mangkok, jelas ia dapat mengintai

bahwa dadu itu tadi berangka lima, maka ketika membuka mangkok, telunjuknya sudah menyentil dadu itu agar membalik ke angka enam atau empat. Akan tetapi mengapa dadu itu tetap telentang pada angka lima, padahal ia yakin betul bahwa sentilan jarinya tadi berhasil baik? Apakah kurang keras ia menggunakan jarinya?

“Heh-heh-heh, apakah kemenanganku hanya cukup kaubayar dengan seruan ah-ah-eh-eh? Hayo bayar seratus dua puluh tail!” kata Kwee Seng tertawa-tawa.

Empat orang tukang pukul sudah siap dengan tangan di gagang golok, akan tetapi bandar itu tidak memberi tanda maka mereka tidak berani turun tangan. Bandar itu menggunakan ujung jubahnya untuk mengusap peluh yang memenuhi muka dan lehernya, kemudian ia tertawa ha-hah-heh-heh.

“Tentu saja dibayar, sobat. Anda mujur sekali! Akan tetapi, apakah kau termasuk botoh kendil?”

Kwee Seng memang bukan seorang penjudi, tentu saja ia tidak mengerti apa artinya istilah “botoh kendil!” ini. Botoh berarti penjudi, adapun kendil adalah perabot dapur untuk masak nasi. Ia mengerutkan kening, mengira istilah itu merupakan makian. “Apa maksudmu? Apa itu botoh kendil?”

Jawaban ini membuat semua orang yang hadir makin terheran. Dari jawaban ini saja mudah diketahui bahwa jembel ini bukanlah seoarang ahli judi, bagaimana mendadak ia begini berani bertaruhan besar dan malah menang?

“Botoh kendil adalah penjudi yang segera lari meninggalkan gelanggang begitu mendapat kemenangan, termasuk golongan yang licik!” jawab Si bandar yang juga terheran-heran.

Kwee Seng tertawa, tidak jadi marah. “wah, belum apa-apa kau sudah takut kalau-kalau aku pergi membawa kemenanganku. Bandar macam apa kau ini, tidak berani menghadapi kekalahan? Jangan kuatir, tikus, aku tidak akan lari. Hayo bayar dulu kemenanganku!”

Dengan tangan gemetar akan tetapi mulut memaksa senyum, bandar itu memerintahkan pembantunya untuk membayar jumlah taruhan itu, dimasukkan ke dalam pundi-pundi hitam. Ketika menerima pembayaran ini, Kwee Seng lalu menaruh pundi-pundi baru di sebelah pundi-pundi kuningnya sambil berkata, suaranya nyaring. “Sekarang kupertaruhkan semua ini, dua ratus empat puluh tail!”

“Ohhhh…………………………….. !!!” Kini orang-orang yang tadinya bermain di meja-meja kecil menjadi tertarik dan

berkerumunlah mereka di sekeliliing meja besar. Seakan-akan menjadi terhenti sama sekali perjudian di dalam ruangan itu, semua penjudi menjadi penonton dan yang berjudi hanyalah Kwee Seng seorang melawan Si Bandar bermata sipit. Bandar ini pun kaget, akan tetapi kini wajahnya berseri-seri. Kiranya jembel ini benar-benar gila. Dengan begini, sekaligus ia dapat menarik kembali kekalahannya, bahkan

sekalian menarik uang modal Si Jembel! Kalau tadi ia mungkin kurang tepat menyentil dadu, sekarang tidak mungkin lagi. Ia akan berlaku hati-hati dan pasti kali ini ia akan menang.

“Bagus! Kau benar-benar menjadi penjudi jempol!” Ia memuji sambil mulai memutar-mutar biji dadu ke dalam mangkok.

“Huh, aku bukan penjudi, sama sekali tidak jempol.” Kwee Seng membantah, akan tetapi matanya mengawasi dadu yang berputar-putar di mangkok, sedangkan kedua tangannya masih ia tumpangkan di atas meja di depan dadanya.

Si Bandar menggerakkan tangannya dan dengan cepat mangkok itu sudah tertelungkup lagi di atas meja menyembunyikan dadu di bawahnya. “Nah, sekarang ulangi taruhanmu biar disaksikan semua orang!” Si Bandar berkata, suaranya agak gemetar karena menahan ketegangan hatinya. Ia tadi melihat jelas bawa biji dadu yang ditutupnya itu telentang dengan angka dua di atas! Jadi genap! Ia mengharapkan Si Jembel ini tidak merobah taruhannya.

“Aku mempertaruhkan dua ratus empat puluh tail untuk angka ganjil!” Kwee Seng berkata tenang tapi cukup jelas. Muka Si Bandar berseri gembira, mulutnya menyeringai penuh kemenangan ketika ia tertawa penuh ejekan.

“Bagus, semua orang mendengar dan menyaksikan. Dia bertaruh dengan pasangan angka ganjil. Nah, siap dibuka, kali ini kau pasti kalah!” Tangannya membuka mangkok dan tentu saja jari tangannya tidak melakukan gerakan apa-apa karena ia sudah tahu betul bahwa dadu itu berangka dua, jadi berarti genap. Begitu tangannya yang kiri membuka dadu, tangan kanan siap untuk menggaruk dua buah pundi-pundi uang penuh perak berharga itu.

“Wah, ganjil lagi…!!” seru semua orang dan Si Bandar menengok kaget………………………………. !!!” Seru semua orang dan Si

Bandar menengok kaget. Kedua kakinya menggigil ketika matanya melihat betapa dadu itu kini jelas memperlihatkan titik satu! Bagaimana mungkin ini? Ia mengucek-ngucek matanya. Tadi ia jelas melihat titik dua!

“Heh-heh-heh, mengapa kau mengosok-gosok mata? Apakah matamu lamur? semua orang melihat jelas bahwa itu angka satu, berarti ganjil. Kau kalah lagi dan hayo bayar aku dua ratus empat puluh tail!”

bagaimana bisa ganjil lagi…?” Ia sudah memandang ke arah empat tukang pukul, siap untuk memerintahkan menangkap Si Jembel, menyeretnya keluar dan memukulinya, kalau perlu membunuhnya.

“Hayo bayar!” Kwee Seng berkata. “Apakah rumah judi ini tidak mampu bayar lagi?” Selagi Si Bandar Judi tergagap-gagap dan empat orang tukang pukul lain sudah siap pula datang mendekat dengan wajah beringas, tiba-tiba terdengar suara tertawa-tawa. Dari sebelah dalam muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, akan tetapi pakaiannya penuh tambal-tambalan, pakaian pengemis!

“Orang muda ini sudah menang mengapa tidak lekas-lekas dibayar?” kata pengemis tua itu. Heran tapi nyata! Si Bandar kelihatan takut dan cepat-cepat duduk memerintahkan pembantunya membayar dua ratus empat puluh tail perak, sedangkan para tukang pukul itu mundur dengan sikap hormat sekali! Si Kakek Pengemis itu lalu berjalan menghampiri bandar, mengambil tempat duduk di dekat bandar, berhadapan dengan Kwee Seng!

“Baiklah, Pangcu,” kata Si Bandar dan mendengar sebutan Pangcu (Ketua Perkumpulan) ini, diam-diam Kwee Seng melirik dan memandang kakek itu penuh perhatian. Usianya lima puluh lebih, pakaiannya tambal-tambalan akan tetapi jelas bukan pakaian butut, melainkan kain bermacam-macam yang masih baru sengaja dipotong-potong dan disambung-sambung. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang kini disandarkan di bangkunya sedangkan kedua tangannya ditaruh di atas meja di depan dadanya. Diam-diam Kwee Seng menduga bahwa kakek ini tentulah seorang yang berilmu tinggi, maka ia bersikap hati-hati. Tadi ia telah menggunakan tenaga lwee-kangnya memperoleh kemenangan, yaitu dengan hawa lwee-kang disalurkan melalui tangan menekan meja membuat biji dadu itu tetap atau membalik sesuka hatinya.

Dua buah pundi-pundi hitam telah dibayarkan kepadanya dan kini di depan Kwee Seng terdapat empat pundi-pundi uang yang isinya semua empat ratus delapan puluh tail! Setelah membayar, Si Bandar ragu-ragu untuk melanjutkan perjudian, karena ia takut kalau kalah. Kalau sampai kalah lagi, ia akan celaka, harus mempertanggung jawabkan kekalahannya yang aneh! Akan tetapi ketika ia melirik ke arah kakek itu, Si Kakek berkata perlahan.

“Teruskan, biar aku menyaksikan sampai di mana nasib baik orang muda ini.” Mendengar ini, Si Bandar berseri lagi wajahnya. Ucapan itu berarti bahwa Si Kakek hendak membantunya dan tentu saja dengan adanya perintah ini, tanggung jawab digeser dari pundaknya. Siapakah kakek ini? Dia ini bukan lain adalah ketua dari Ban-hwa Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Selaksa Bunga). Tadinya rumah judi itu dibuka oleh para pencoleng kota, akan tetapi kurang lebih setengah tahun yang lalu, secara tiba-tiba rumah judi itu diberi nama Ban-hwa-po-koan, karena sesungguhnya, terjadi perubahan hebat pada Ban-hwa Kai-pang. Perkumpulan pengemis ini secara tiba-tiba berubah sepak terjangnya dan dengan kekerasan menguasai rumah judi itu pula. Karena para pimpinannya memang berilmu tinggi, tidak ada yang berani menentangnya, bahkan para penjahat menjadi sekutu mereka. Inilah sebabnya mengapa bandar dan para tukang pukul yang mengenal Koai-tung Tiang-lo (Orang Tua Tongkat Setan) Ketua ban-hwa Kai-pang, menjadi ketakutan, akan tetapi juga lega karena dengan hadirnya ketua ini, mereka

menjadi besar hati.

Si Bandar dengan semangat baru telah memutar-mutar dadu di dalam mangkok lagi. Lalu ia membalikkan mangkok di atas meja. Ia melihat jelas bahwa dadu itu berangka tiga, maka dengan ujung kakinya ia menyentuh kaki Koai-tung Tiang-lo tiga kali untuk memberi tahu. Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum dengan ujung mulut ditekuk ke bawah, penuh ejekan.

“Nah, sekarang kau mau bertaruh berapa dan dengan pasangan ganjil atau genap?” keadaan menjadi tegang dan sunyi kembali, lebih tegang daripada tadi. Semua orang yang berada di situ, biarpun sebagian tidak mengenal kakek pengemis, namun dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang berpengaruh dan berpihak kepada rumah judi. Benar-benar amat menarik melihat jembel muda yang rambutnya awut-awutan dan yang bernasib baik itu kini berhadapan dengan seorang pengemis tua yang serba bersih. Baru pertama kali ini terjadi hal begitu menarik di dalam rumah judi sehingga semua orang menonton dengan hati berdebar-debar, bahkan yang tadinya murung karena kalah, sejenak lupa akan kekalahannya.

Sambil menarik ke arah kakek itu Kwee Seng mendorong empat pundi-pundi perak sambil berkata. “Tidak ada perubahan, kupertaruhkan semua, empat ratus delapan puluh tail perak dengan pasangan angka ganjil!”

Si Bandar mengerling ke arah kakek, tampaknya bingung. Akan tetapi kakek itu tersenyum dan memberi tanda dengan mata supaya Si Bandar bekerja seperti biasa, yaitu menggunakan jari tangannya yang lihai itu membalikkan dadu agar membalikkan dadu agar membalik menjadi angka empat atau dua. Dengan gerakan hati-hati Si Bandar menangkap pantat mangkok, jari-jari tangannya menyelinap masuk dan pada saat itu ia merasa betapa siku tangannya di pegang oleh kakek pengemis dan terasa betapa hawa yang hangat memasuki lengannya sampai ke jari-jari tangannya. Bandar ini sedikit banyak tahu akan ilmu silat, maka ia girang sekali, maklum bahwa ketua pengemis itu membantunya dengan tenaga sin-kang.

“Siap Buka… heeeiittt! Aduuhhh………………………………. !” Si Bandar berteriak kesakitan ketika mangkok dibuka. Jari-jari

tangannya yang menyentil biji dadu seakan-akan digencet antara dua tenaga yang merupakan dua jepitan baja, tertekan oleh hawa sin-kang Si Kakek dan terhimpit dari depan oleh hawa yang tidak tampak yang entah bagaimana memasuki biji dadu. Cepat ia menarik kembali tangannya.

“Ganjil lagi…!” Hebat…! !” Semua orang berseru ketika melihat biji dadu itu memperlihatkan angka tiga! Diam-diam Si Kakek menatap wajah Kwee Seng. Ia maklum bahwa jembel muda ini bukan orang sembarangan, dan maklum pula bahwa tadi ia gagal membantu karena jembel muda itu menyerang dengan dorongan berhawa sin-kang dari jari-jari tangan, mencegah Si Bandar menggulingkan biji dadu dengan jari tangan!

dan mohon bantuan. Kakek itu hanya tersenyum dan berkata. “Sahabat muda ini besar sekali untungnya. Dia sudah menang, tidak lekas dibayar mau tunggu kapan lagi?”

Mendengar ini, Si Bandar dan para pembantunya sibuk mengumpulkan uang, akan tetapi mana cukup untuk membayar jumlah begitu besar? Bandar itu terpaksa lari ke sebelah dalam untuk mengambil kekurangan uang dari kas besar! Jumlah yang dibayarkan ini adalah hasil beberapa hari!

Orang-orang di situ makin terheran-heran melihat betapa jembel muda yang kini sudah menjadi raja uang dengan kemenangan-kemenangan besar sehingga di depannya berjajar delapan pundi-pundi yang jumlahnya hampir seribu tail perak, masih belum puas agaknya buktinya ia masih memandang ke arah mangkok dadu. Kini kakek pengemis itu yang bertanya.

“Sahabat muda masih berani melanjutkan?” Kwee Seng tertawa, menengok ke kanan kiri. “Mana arak? Berilah seguci arak berapa saja kubeli. Aku sudah menjadi kaya-raya, ha-ha-ha!”

Seorang tukang pukul menerima tanda kedipan mata dari kakek pengemis, cepat-cepat ia menggotong seguci besar arak dan meletakkannya di depan Kwee Seng, “Tidak usah bayar, sahabat. Arak ini adalah suguhan kami untuk tamu yang menjadi langganan baik.” Kata Si Kakek yang kini tidak sembunyi-sembunyi lagi bersikap sebagai tuan rumah.

“Bagus! Terima kasih! Sudah diberi kemenangan besar, masih disuguhi arak lagi.” Kata Kwee Seng yang segera mengangkat guci dan menuangkannya ke mulut, minum sampai bergelogok suaranya. Setelah habis setengah guci, ia baru berhenti dan mengusap mulutnya dengan ujung lengan baju. “Arak baik… arak baik… ha-ha, hayo teruskan permainan!”

Ketika bandar yang bermuka pucat itu dengan tangan menggigil memegang mangkok, Si Ketua Pengemis merampas mangkok dan mendorong bandar itu ke pinggir. Dorongan perlahan saja akan tetapi bandar itu hampir roboh, terhuyung-huyung sampai jauh.

“Ha-ha-ha, memang dia sialan!” Kwee Seng menertawakan. Koai-tung Tiang-lo memegang mangkok dan memandang Kwee Seng dengan mata penuh selidik. “Orang muda, kau hendak pasang berapa?”

“Heh-heh, semua ini kupasangkan untuk angka ganjil, ha-ha” “Gila!” seru seorang di antara para penonton. Ia berkata demikian karena tidak tahan hatinya melihat betapa kemenangan sebesar itu akan diludeskan dalam sekali pasangan. Kwee Seng mendengar makian menengok dan melihat muka orang yang pucat, mata yang muram tanda kalah judi.

“Kau benar, sahabat. Memang kita semua yang sudah memasuki rumah judi adalah orang-orang gila belaka! Ha-ha-ha! Orang tua, kaumainkanlah dadu itu. Delapan pundi-pundi ini untuk angka ganjil.”

“Hemm, orang muda, apakah yang kaukehendaki? Tentu bukan kemenangan uang.” Kata Si Kakek sambil mulai memutar-mutar dadu dalam mangkok. Gerakannya kaku, tidak seindah dan secepat gerakan bandar tadi. Memang Koai-tung Tiang-lo bukanlah seorang bandar judi. Namun, biar tangannya kaku dan seperti tidak bergerak, dadu di dalam mangkok itu berputar cepat sekali, jauh lebih cepat dariapada kalau diputar oleh Si Bandar tadi.

“Heh-heh, orang tua, kau benar. Delapan pundi-pundi perak ini kupertaruhkan untuk angka ganjil. Kalau aku kalah, kau boleh ambil semua perak ini tanpa banyak urusan lagi. Akan tetapi kalau aku yang menang, aku hanya minta dibayar sebuah keterangan.”

Semua orang makin terheran, akan tetapi kakek itu tersenyum maklum. Memang bagi orang-orang kang-ouw, uang tidaklah berharga. “Uangmu delapan kantung, sudah jelas harganya. Akan tetapi keterangan itu, harus disebutkan dulu agar diketahui harganya, apakah cukup dibayar dengan delapan kantung perak.”

Percakapan ini benar-benar tak dapat dimengerti oleh tukang judi yang mendengarkan dengan perasaan heran. Kwee Seng mengangguk. “Itu pantas! Keterangan itu adalah tentang diri seorang jembel muda macam aku ini yang menyebut dirinya kai-ong (raja pengemis). Aku ingin berjumpa dengannya!”

Berubah wajah kakek itu mendengar ini, matanya menyambar tajam. “Hemm, ada urusan apakah dengan kai-ong?”

“Urusan pribadi. Bagaimana, kauterima?”

Kakek itu mengangguk. “Boleh. Akan tetapi keterangan itu jauh lebih berharga daripada delapan pundi-pundi perak. Kalau kau kalah, keterangan tidak kaudapat, delapan pundi-pundi ini berikut tangan kirimu harus kaubayarkan kepadaku. Kalau kau menang, uangmu ini kaubawa pergi bersama keterangan tentang di mana adanya kai-ong. Akor?”

Semua orang terkejut. Bukan main taruhan itu. Berikut tangan kiri? Berarti tangan kiri jembel muda itu kalau kalah harus dibuntungi? Ah, kalau tidak gila, tentu Si Jembel menolak. Akan tetapi, Kwee Seng mengangguk dan berkata, “Cocok!” Wah, benar-benar jembel muda ini sudah gila. Masa sebuah keterangan tentang seorang kai-ong saja dipertaruhkan dengan hampir seribu tail perak berikut sebuah tangan dibuntungi!

Keadaan menjadi tegang bukan main, bahkan kini ditambah rasa ngeri di hati. Dadu itu berputaran makin cepat dan tiba-tiba mangkok itu ditutupkan di atas meja, menyembunyikan dadu yang akan menentukan nasib Si Jembel dan tangan kiri. Koai-tung Tiang-lo masih menindih mangkok tertutup, sedangkan tangan kanannya terletak di atas meja dengan jari-jari tangan terbuka. Namun, suasana yang amat tegang itu sama sekali tidak mempengaruhi Si Jembel muda, kini ia malah mengangkat guci dengan tangan kanan untuk dituangkan isinya ke dalam mulut, sedangkan tangan kirinya juga terletak di atas meja dan matanya terus melirik ke arah mangkok di atas meja.

Melihat kesempatan selagi lawannya minum arak, Koai-tung Tiang-lo segera berseru. “Siap buka, lihatlah!” Tangan kirinya mengangkat mangkok dan jari-jari tangan kiri mengangkat mangkok dan jari-jari tangan kanannya menegang! Akan tetapi pada saat itu, juga jari-jari tangan kiri Kwee Seng menegang dan seperti halnya Koai-tung Tiang-lo, dari jari-jari tangan ini, menyambar keluar tenaga sin-kang (hawa sakti) ke arah biji dadu di atas meja.

Semua mata memandang dan… terdengar seruan heran karena begitu mangkok dibuka, biji dadu di atas meja itu berputaran! Hal ini tentu saja tidak mungkin Karena begitu tadi begitu mangkok ditutup, tentu biji dadu itu telah jatuh ke meja dan berhenti bergerak. Bagaimana sekarang bisa berputaran? Hanya sebentar saja dadu itu berputar, mendadak kini berhenti sehingga semua mata memandang dengan terbelalak dan melotot seperti mau terloncat keluar dari tmpatnya. Kembali terdengar seruan-seruan tertahan di sana-sini ketika mereka melihat betapa biji dadu itu terletak miring sedemikian rupa sehingga permukaannya dibagi dua antara titik-titik angka tiga dan dua! Akan tetapi dadu itu bukannya diam melainkan bergerak ke kanan kiri, sebentar mendoyomg ke angka tiga, di lain saat mendoyong ke angka dua, seakan-akan ada kekuatan tak tampak yang saling dorong, saling mengadu kekuatan untuk mendorong dadu roboh telentang memperlihatkan permukaan angka tiga atau dua.

Ketika orang-orang yang berada di situ memandang kepada dua orang pengemis tua dan muda itu, mereka makin kaget dan heran, lalu gelisah dengan sendirinya. Pengemis tua itu wajahnya merah sekali dan basah penuh peluh, tangan kanannya menggetar di atas meja dengan jari-jari terbuka dan telapak tangan menghadap ke arah dadu, napasnya agak terengah-engah. Adapun pengemis muda itu masih enak-enak saja duduk dengan tangan kiri dibuka jarinya menghadap ke depan, tangan kanan masih memegang guci arak yang diminumya dan kini perlahan-lahan diletakkannya guci arak ke atas meja. Gerakan ini menimbulkan getar pada meja dan dadu itu membalik hampir telentang dengan muka angka tiga, akan tetapi terdengar Koai-tung Tiang-lo berseru aneh dan dadu itu membalik lagi menjadi miring!

“Pangcu, apa kau masih hendak berkeras? Terdengar Kwee Seng berkata sambil tersenyum. Betapapun juga, Kwee Seng adalah seorang terpelajar yang masih ingat akan peraturan. Ia maklum bahwa pengemis tua yang dipanggil Pangcu (ketua) ini adalah seorang terkemuka, maka ia sengaja tidak mau membikin malu. Dengan adu tenaga sin-kang itu, tentu sudah cukup bagi pangcu itu untuk mengetahui bahwa kakek itu tidak akan menang, lalu suka mengalah tanpa menderita malu karena jarang ada yang mengerti bahwa mereka telah saling mengadu sin-kang.

Akan tetapi Koai-tung Tiang-lo adalah seorang yang keras kepala. Apalagi sekarang setelah ia

mengandalkan pengaruhnya kepada seorang yang ia anggap paling sakti di dunia ini, yaitu orang berjuluk Raja Pengemis, maka Ketua Ban-hwa Kai-pang ini menjadi tinggi hati. Mana ia sudi mengalah terhadap seorang jembel tak ternama yang seperti miring otaknya ini?

Tiba-tiba Koai-tung Tiang-lo berseru keras dan biji dadu itu melayang naik dari atas meja! Kakek itu sendiri bangkit berdiri, tangan kanannya kini dengan terang-terangan diangkat ke depan sedangkan tangan kirinya masih memegang dengan tangan kirinya masih memegang mangkok. Kwee Seng menghela napas. Kakek ini benar-benar keras kepala, perlu ditundukkan. Ia masih saja duduk, tapi tangan kirinya terpaksa ia angkat dan tertuju ke atas, ke arah dadu yang mengambang di udara dalam keadaan masih miring!

Tentu saja semua orang menahan napas, mata terbelalak mulut ternganga memandang peristiwa aneh itu. Mereka tidak mengerti jelas apa yang terjadi dan siapa di antara mereka berdua yang bermain sulap, akan tetapi mereka dapat menduga bahwa terjadi pertandingan hebat di antara kedua orang aneh itu.

“Aaiiihhh!” Teriakan ini keluar dari dalam dada Koai-tung Tiang-lo dan menyambarlah mangkok dari tangan kirinya menuju Kwee Seng. Namun pendekar ini sambil tersenyum mengulur tangan kanan dan sebelum mangkok itu menyentuh tangan kanannya, benda itu sudah terpental kembali kemudian terhenti di tengah-tengah, biji dadu itu seperti mengambang di udara karena “terjepit” di antara dua rangkum tenaga dahsyat yang saling mendorong!

“Semua yang hadir harap lihat baik-baik, angka berapakah permukaan dadu itu? Ucapan Kwee Seng ini diikuti pengerahan tenaga sin-kang. Tadi dalam menahan serangan lawan ia hanya mempergunakan sepertiga tenaganya saja, maka kini ia menambah tenaganya dan… betapa pun Koai-tung Tiang-lo mempertahankan sekuat tenaga, tetap saja dadu itu kini membalik dan biarpun masih mengambang di udara, namun jelas kini memperlihatkan angka tiga pada permukaannya. Semua orang yang melihat angka tiga ini, tentu saja serentak berkata “Angka tiga…!”

“Hemm, berarti angka ganjil. Pangcu, kau kalah….” Pada saat Kwee Seng berkata demikian itu empat orang tukang pukul sudah mencabut golok dan membacok kepala dan leher Kwee Seng dari belakang! Tentu saja Kwee Seng tahu akan hal ini, namun karena sambaran tenaga empat batang golok itu tidak arti baginya dan karena ia sedang mengerahkan sin-kang sehingga seluruh tubuhnya terlindung ia pura-pura tidak tahu dan diam saja. Empat batang golok itu meluncur kuat ke arah kepala dan leher, tiba-tiba… “wuuuutttt!” senjata-senjata itu membalik seakan-akan terdorong tenaga yang amat kuat. Tanpa dapat dicegah lagi, golok-golok itu menyerang pemegangnya karena tangan itu sudah tak dapat dikuasai lagi saking hebatnya tenaga membalik. Bukan kepala Kwee Seng yang termakan mata golok melainkan kepala para penyerangnya yang terpukul punggung golok. Terdengar suara keras disusul jerit kesakitan dan suara berkerontangan golok-golok terjatuh di lantai. Biarpun tidak tajam, namun punggung golok baja cukup keras untuk membuat kepala mereka “bocor” dan tumbuh tanduk biru!

Pada saat berikutnya, terdengar suara keras dan mangkok itu meledak pecah, demikian pula biji dadu, lalu disusul terjengkangnya tubuh Koai-tung tiang-lo ke belakang menimpa kursinya! Kwee Seng tertawa lalu menyambar guci araknya dan menenggak habis araknya. Sementara itu, Koai-tung Tiang-lo sudah melompat bangun, mukanya sebentar merah sebentar pucat, napasnya agak terengah-engah. Cepat ia menghardik para tukang pukul yang sudah mengurung Kwee Seng dengan senjata di tangan sedangkan para pengunjung rumah judi sudah panik hendak melarikan diri, takut terbawa-bawa dalam perkelahian.

Koai-tung Tiang-lo mengangkat kedua tangn menjura kepada Kwee Seng. “Sicu (Orang Gagah) hebat, pantas berjumpa dengan kai-ong. Di lereng sebelah utara Tapie-san, di mana kai-ong kami menanti kunjunganmu.”

Kwee Seng tersenyum dan menjura. “Kau cukup jujur, Pangcu. Terima kasih.” Seenaknya Kwee Seng mengambil dan mengempit delapan kantung uang yang isinya seribu tail lebih itu termasuk uangnya sendiri, lalu berjalan ke luar. Uang sebanyak itu sudah tentu amat berat, seratus dua puluh lima kati, tapi ia dapat mengempit dan membawanya seakan-aakan amat ringan.

“Siapa yang kalah judi di sini, mari ikut aku keluar!” kata Kwee Seng sambil melangkah terus. Sebentar saja, lebih dari tiga puluh orang ikut keluar, dan tentu saja tidak semua dari mereka penderita kekalahan. Yang menang pun karena ia mengharapkan keuntungan ikut pula keluar.

Sampai di luar rumah judi, Kwee Seng berhenti. Ternyata banyak orang pula berkumpul di depan rumah judi karena mereka sudah mendengar akan peristiwa aneh di rumah judi itu. Memang karena baru beberapa hari yang lalu terjadi keributan ketika puteri guru silat Sin-kauw-bu-koan bertanding dengan para tukang pukul rumah judi itu.

“Saudara-suadara sekalian telah kalah berjudi, bukan? Hentikanlah kebiasaan kalian gemar berjudi, karena percayalah, kalian tidak akan menang. Kalau kalian melanjutkan kegemaran buruk itu, pasti saudara sekalian akan menderita kesengsaraan lahir batin. Pada lahirnya, Saudara akan habis-habisan yang akibatnya tentu kekacauan rumah tangga, kehancuran pekerjaan karena tidak terurus, kemiskinan yang akan menyeret kalian kepada kemaksiatan lainnya. Kerugian batin, Saudara akan menjadi orang yang suka melakukan kecurangan, menjauhkan rasa cinta sesama, menimbulkan sifat iri dan tamak. Nah, ini uang kubagi-bagikan di antara kalian untuk menebus kekalahan kalian, akan tetapi mulai saat ini harap kalian jangan suka berjudi lagi. Pergunakan sedikit uang ini untuk modal bekerja!” tentu saja ucapan Kwee Seng ini disambut sorak-sorai oleh mereka dan dengan adil Kwee Seng membagi-bagi semua uang kemenangannya berikut uangnya sendiri sampai habis, seorang kebagian dua puluh tail perak lebih!

Setelah membagi habis delapan pundi-pundi uang itu, Kwee Seng lalu berjalan pergi keluar dari kota itu, menuju ke selatan karena ia hendak mencari raja pengemis di Gunung Tapie-san. “Paman, perbuatanmu itu semua sia-sia belaka, tiada gunanya sama sekali!” Ucapan ini keluar dari mulut seorang anak laki-laki yang semenjak tadi mengikuti Kwee Seng dari depan rumah judi. Kwee Seng sedang melamun, maka ia tidak memperhatikan langkah kaki seorang kanak-kanak yang mengikutinya dan sejak tadi melihat semua perbuatannya.

Ia melirik dan melihat anak kecil yang berwajah terang dan tampan, berpakaian sederhana namun bersih. Ia merasa heran dan tidak dapat menangkap arti kata-kata anak laki-laki yang usianya paling banyak sepuluh tahun ini.

“Apa kau bilang?” tanyanya sambil melangkah terus, diikuti oleh anak itu. “Aku bilang bahwa akan sia-sia saja perbuatan paman tadi di depan rumah judi, menghamburkan uang seperti orang melempar rabuk pada tanah kering!”

Kwee Seng melengak heran, lalu memandang lebih teliti sambil menghentikan langkahnya. Ia lalu tertawa bergelak karena mengenal anak ini sebagai anak yang pernah menaruh kasihan ketika ia ditawan oleh murid-murid guru silat Liong Keng!

“Ha-ha-ha-ha, kau bocah sinting itu muncul lagi?” tegurnya kepada anak laki-laki ini yang bukan lain
adalah Kam Bu Song. “Eh, bocah, kenapa kau selalu bertemu denganku dan mencampuri urusanku?”

“Entah, Paman. Perjumpaan kita bukan kusengaja akan tetapi setiap kali kita bertemu, aku selalu tertarik kepadamu. Pertama dulu, aku tertarik karena merasa kasihan melihat kau diseret-seret orang. Sekarang, aku pun kasihan kepadamu karena melihat kau melakukan perbuatan yang sia-sia belaka akibat kau tidak mengerti.”

Hampir Kwee Seng tidak percaya kepada telinganya sendiri. Dia seorang yang tinggi ilmunya mengenai sastra dan silat, kini diberi “kuliah” oleh seorang bocah yang berusia sepuluh tahun! Akan tetapi karena kata-kata anak ini disusun rapi, ia tertarik sekali, apalagi setelah ia perhatikan, anak ini mempunyai pembawaan dan pribadi yang amat menarik. Pada saat itu, mereka sudah tiba di luar kota dan di tempat yang sunyi itu Kwee Seng lalu pergi ke bawah pohon di pinggir jalan, menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Anak itu pun mengikutinya, berdiri di depannya dengan pandang mata penuh perhatian. Kwee Seng tertawa lagi.

“Heh-heh, bocah sinting. Sekarang kaukatakan, mengapa perbuatanku tadi kaukatakan sia-sia belaka tidak ada gunanya?

“Karena perbuatan paman tadi bertentangan dengan dua hal,” jawab anak itu tanpa ragu-ragu dan tanpa pikir-pikir lagi, tanda bahwa ia tahu akan apa yang diucapkannya dan tanda bahwa ia memang cerdas. “Pertama bertentangan dengan wejangan ini.” Anak itu lalu membusungkan dada mengambil napas,

berdongak dan bernyanyilah ia dengan suara keras nyaring.

“Diri sendiri melakukan kejahatan

diri sendiri menimbulkan kesengsaraan. Diri sendiri menghindarkan kejahatan diri sendiri mendapatkan kebahagiaan.

Suci atau tidak tergantung kepribadiannya orang lain mana mampu membersihkannya?”

Kwee Seng melongo. “Eh, apakah kau murid seorang hwesio (pendeta Buddha)? Nyanyianmu adalah kalimat suci dalam kitab Sang Buddha!” ia mengenal sajak itu. Memang sajak ini adalah pelajaran dalam kitab Buddha Dhammapada.

Bu Song mengangguk. “Aku membacanya dari kitab, kalau Sang Buddha yang mengajarkannya, biarlah aku menjadi murid Sang Buddha.”

Jawaban ini pun aneh dan membuat Kwee Seng makin terterik. “Anak baik, mari kau duduklah di sini.” Ia tidak mau lagi menyebut anak itu “anak sinting”. Setelah Bu Song ikut duduk di bawah pohon di depannya, Kwee Seng lalu bertanya.

“Anak baik, coba kaujelaskan, apa hubungannya pelajaran itu dengan perbuatanku tadi.” “Para penjudi itu berjudi tidak ada yang menyuruh, adalah mereka sendiri yang membuat mereka melakukan penjudian. Mereka mau jadi atau tidak mau judi, adalah mereka sendiri yang memutuskan. Mereka celaka karena judi, atau tidak celaka karena tidak judi, juga mereka sendiri yang menimbulkan. Pokok dan sumber semua perbuatan adalah terletak di dalam hatinya, ibarat baik buruknya kembang tergantung daripada pohonnya. Kalau pohonnya sakit, mana bisa kembangnya baik? Kalau hatinya kotor, mana bisa perbuatannya bersih? Perbuatan buruk mana bisa betulkan orang lain? Yang bisa membetulkan hanya dirinya sendiri, karena hati berada di dalam dirinya sendiri. Inilah sebabnya maka perbuatan Paman tadi sia-sia belaka. Pembagian uang takkan menolong mereka melepaskan kemaksiatan berjudi.”

Kwee Seng melongo seperti patung. Kalau anak ini pandai membaca sajak dari kitab-kitab suci hal itu tidaklah mengherankan benar, semua anak yang diajar membaca tentu dapat disuruh menghafalkannya. Akan tetapi apa yang diucapkannya ini sama sekali bukanlah hafalan dari kitab suci manapun juga, melainkan keluar dari pendapat dan pikiran berdasarkan pelajaran filsafat kebatinan untuk menguraikan sajak tadi! Inilah hebat! Ia kagum bukan main, akan tetapi masih sangsi. Jangan-jangan hanya kebetulan saja anak ini “ngoceh” tanpa sengaja tapi tepat. Ia hendak menguji pula.

“Hemm, kau tadi bilang perbuatanku bertentangan dengan dua hal. Hal pertama adalah sajak tadi, kini apakah hal ke dua?”

“Segala macam nasihat dan wejangan memanglah muluk-muluk dan enak didengar, akan tetapi itu hanyalah suara yang keluar dari mulut. Segala macam ayat dan pelajaran dalam kitab-kitab suci memanglah indah dan enak dibaca, akan tetapi hal itu hanyalah tulisan di atas kertas. Apakah artinya semua itu kalau tidak ada kenyataan dalam perbuatannya? Semenjak kanak-kanak sampai tua manusia lebih suka mencoba dari orang lain daripada belajar sendiri! Oleh karana itu. PERBAIKILAH DIRIMU SENDIRI SEBELUM ENGKAU MEMPERBAIKI ORANG LAIN.”

“Ah, kau murid Nabi Khong Cu!” Kwee Seng berseru, kagum. “Boleh juga disebut begitu karena beliau memang seorang guru besar yang patut menjadi guru. Dengan memperbaiki diri sendiri, kita membersihkan diri dari perbuatan jahat, dengan demikian orang-orang akan mencontoh. Kalau SEMUA ORANG MASING-MASING BELAJAR MEMPERBAIKI DIRI SENDIRI, maka apa perlunya segala macam nasihat dan pelajaran? Akan tetapi kalau tidak mau membersihkan diri sendiri, orang lain mana mau mencucinya bersih? Paman, itulah sebabnya kukatakan bahwa sia-sia saja Paman menasihati para penjudi itu. Alangkah akan janggalnya kalau mereka yang telah mendengar nasihat Paman itu mendapat kenyataan betapa Paman sendiri seorang maling…”

“Hahhh…? Apa kaubilang? Aku…. maling?” Kwee Seng benar-benar kaget dan penasaran, matanya melotot dan ia memperlihatkan muka merah. Akan tetapi diam-diam ia kagum dan heran. Anak ini sama sekali tidak takut, matanya memandang bening dan wajahnya serius (sungguh-sungguh).

“Aku tahu bahwa fitnah itu jahat, Paman, karenanya tak mungkin aku berani melakukan fitnah. Akan tetapi yang menyatakan bahwa Paman seorang maling adalah Paman sendiri, dalam pertemuan kita yang pertama. Bukankah Paman sendiri yang bercerita kepadaku bahwa Paman mencuri paha panggang yang Paman makan itu?”

Sejenak Kwee Seng tertegun, mengingat-ingat, lalu ia tertawa bergelak sampai perutnya terasa kaku.
“Ha-ha-ha! Mengambil paha panggang kauanggap maling! Anak baik, aku sama sekali bukan maling!”

Bu Song menarik napas panjang. “Syukurlah kalau begitu. Sebetulnya tidak perlu mencuri. Mencuri paha ayam maupun gajah, tetap mencuri namanya. Aku tidak akan mencuri, Paman.”

Kwee Seng mengamati wajah anak itu penuh perhatian. Sepasang mata anak ini bening dan tajam, indah bentuknya dan dihias bulu mata yang panjang dan melengkung ke atas. Serasa pernah ia melihat mata indah seperti ini, akan tetapi tak dapat ia mengingat di mana dan kapan. Adapun Bu Song tidak merasa bahwa jembel itu memperhatikannya, karena sebaliknya ia sendiri memperhatikan pakaian yang butut dan rambut riap-riapan itu. Kembali ia menghela napas dan berkata, “Sayang, Paman, uang sebanyak itu dihamburkan sia-sia. Mengapa tidak paman sisakan sedikit untuk membeli pakaian? Pakaian Paman sudah begini rusak, juga kaki Paman telanjang tidak bersepatu.”

Diam-diam ada rasa haru menyelinap di hati Kwee Seng. Baru kali ini semenjak perantauannya, ia mendapat perhatian orang lain, dikasihani orang lain. Hal ini menimbulkan haru dan suka di hatinya. Entah mengapa, pribadi anak ini amat menarik hatinya dan diam-diam Kwee Seng mencela dirinya sendiri. Tertarik kepada orang lain inilah yang menjadi sebab-musabab segala penderitaanya. Kalau dahulu ia tidak tertarik kepada Ang-siauw-hwa, atau kepada Liu Lu Sian! Sekarang ia tertarik oleh keadaan bocah ini, kalau ia menuruti hatinya, tentu ada saja persoalan baru muncul. Ia lalu berdongak dan berusaha mengusir perasaannya sambil bernyanyi dengan suara keras.

“Lima warna membutakan mata lima bunyi menulikan telinga

lima lezat merusak rasa

memburu membunuh menjadikan buas benda dihargai menjadi curang

itulah sebabnya orang bijaksana

mementingkan kebutuhan perut

tak menghiraukan panca indera!”

Bu Song memandang dengan mata terbuka lebar dan kagum. Sama sekali tidak disangkanya bahwa jembel yang seperti orang gila dan suka bersikap edan-edanan dan aneh ini begitu pandai bernyanyi, suaranya nyaring merdu dan sajaknya bukan pula sembarang sajak. Kata-kata dalam sajak itu menimbulkan kesan mendalam di hatinya dan karena semenjak kecil ia dijejali kitab-kitab kuno yang sukar bentuk dan arti kalimatnya, maka sekali mendengar sajak ini Bu Song sudah dapat menangkap inti sarinya. Tak terasa lagi ia bertepuk tangan memuji. “Bagus sekali, Paman terutama isi sajaknya!”

Kwee Seng tersenyum. “Kau belum pernah mendengarnya? Belum pernah membacanya?”

Bu Song menggeleng kepalanya. Memang dahulu ayahnya melarang ia membaca kitab-kitab Agama To, kerena menurut anggapan Kam Si Ek, pelajaran dalam agama ini hanya melemahkan semangat anak-anak. Akan tetapi Bu Song yang sudah banyak membaca kitab-kitab kuno, dapat menduganya, maka ia berkata. “Aku belum pernah membaca sajak itu, akan tetapi agaknya itu adalah perlajaran Agama To, bukan?”

Kwee Seng girang dan merangkul pundak anak itu. “Anak baik, memang itu adalah sajak dari kitab To-tek-kheng dari Agama To ajaran Nabi Lo Cu. Anak yang baik siapakah namamu?”

“Aku bernama Bu Song, paman.” “Bu Song? Nama yang indah dan gagah. Dan apa shemu (nama keturunan)?”

Song saja, tanpa tambahan.”

Kwee Seng memandang dengan alis bergerak-gerak. “Mengapa begitu? Di manakah kau tinggal?”

Bu Song memandangnya dan kini anak itu tersenyum. “Sama dengan engkau Paman.” “Heh…? Bagaimana bisa sama dengan aku, kalau aku tidak mempunyai tempat tinggal… Ehhh! Apa kau mau bilang bahwa kau tidak mempunyai tempat tinggal?”

Bu Song mengangguk!

“Dan orang tuamu? Siapakah mereka? Mengapa kau meninggalkan rumah orang tuamu?” Ucapan Kwee Seng terdengar bengis dan ia memandang Bu Song dengan mata marah, seakan-akan hendak memaksa anak ini mengaku. Memang Kwee Seng marah karena ia dapat membayangkan betapa susahnya hati ayah bunda anak ini. Anak seperti ini tentu amat disayang oleh orang tuanya, maka kalau anak ini pergi tanpa pamit, tentu akan menyusahkan hati mereka.

Tiba-tiba Bu Song berdiri, lalu mengangkat tangan menjura kepada Kwee Seng. “Maaf, Paman, terpaksa aku tidak dapat melayani bercakap-cakap dengan Paman lebih lama. Aku pergi…!”

“Hee, nanti dulu! Mengapa kau tidak mau bicara lagi?” Sambil menoleh dan memperlihatkan muka sedih Bu Song menjawab, “Orang bercakap-cakap harus jujur dan tidak saling membohong. Akan tetapi aku terpaksa tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman, aku tidak dapat dan tidak mau bercerita tentang diriku, tentang riwayatku, maka terpaksa aku harus meninggalkan Paman, biarpun dengan penuh kesal dan kecewa….”

“He, Bu Song, kau kembalilah. Aku tidak akan tanya-tanya lagi tentang keadaan dirimu atau orang tuamu.”

Bu Song menjadi girang sekali, ia berlari kembali dan duduk di depan Kwee Seng lagi. Kwee Seng kini memandang penuh perhatian, lalu memegang kedua pundak anak itu, meraba-raba memeriksa tubuh dengan hati girang dan heran ia mendapat kenyataan bahwa anak ini mempunyai bakat yang luar biasa untuk ilmu silat. Tulang-tulangnya bersih dan kuat seperti tubuh seekor harimau muda!

“Bu Song apakah kau pernah belajar ilmu silat?” “Silat? Tidak, tidak pernah.” Bu Song menggeleng kepalanya. “Bagus! Anak baik, aku cocok sekali denganmu. Maukah kau menjadi muridku?”

Murid? Menjadi murid jembel yang gila-gilaan ini? Mau belajar apakah dari orang ini, pikir Bu Song dengan kening berkerut karena merasa sangsi. “Paman, sipakah Paman ini dan hendak mengajar apakah kepadaku?”

Kwee Seng tertawa bergelak. Jari tangannya mencoret-coret tanah dan tampaklah guratan yang dalam dan indah gayanya, terdiri dari empat huruf yang berbunyi “Kim-mo Taisu”, lalu ia tertawa dan berkata, “Inilah namaku.”

“Kim-mo Taisu!” Bu Song membaca dengan pandang mata kagum. “Alangkah indahnya huruf tulisan Paman! Aku suka menjadi murid Paman untuk belajar menulis huruf indah dan belajar kitab Agama to!”

Kwee Seng girang sekali mendapat kenyataan behwa anak ini memang pandai. Ia tadi sengaja menuliskan huruf kembang, huruf-huruf yang indah dan coretannya cepat, sukar dimengerti pelajar setengah matang. Akan tetapi anak ini sekali melihat dapat membacanya, sungguh membuktikan kepandaian sastra yang cukup baik. Ia tertawa bergelak.

“Aku hanyalah seorang mahasiswa gagal, Bu Song. Tidak, aku bukan hanya mengajar kau tulis dan baca kitab agama To, akan tetapi terutama sekali aku akan mengajarkan ilmu silat kepadamu. Kau berbakat baik sekali untuk belajar ilmu silat.”

Akan tetapi alangkah herannya ketika ia melihat anak itu menggeleng kepala cepat-cepat sambil mengerutkan sepasang alisnya yang berbentuk golok.

“Tidak, Paman! Aku tidak mau belajar silat!” “Eh, kenapa?” “Ilmu silat adalah ilmu yang jahat, pangkal permusuhan sumber kekejaman!”

“Ha-ha-ha, omongan apa ini? Ilmu tetap ilmu, baik jahatnya, kejam tidaknya, tergantung kepada si manusia yang mempergunakan ilmu itu.”

“Betul, Paman. Akan tetapi, ilmu silat merupakan pendorong yang berbahaya. Kalau pandai silat, tentu menjadi berani untuk berkelahi, kalau gemar berkelahi tentu banyak musuh. Untuk apakah gunanya ilmu silat kalau tidak untuk berkelahi, bunuh-membunuh dan menjual lagak?”

“Waduhhhh! Dari siapa kau mendengar pendapat tentang ilmu silat seperti itu? Siapa yang bilang

begitu?”

“Yang bilang begitu adalah Ay… tidak Paman, itu adalah pendapatku sendiri.”

Hemm, agaknya ayah anak ini seorang sastrawan yang benci akan kekerasan maka membenci pula ilmu silat, pikir Kwee Seng. Ia diam-diam merasa heran mengapa anak ini demikian berkeras merahasiakan riwatnya, dan ia pun heran mengapa anak yang agaknya sejak kecil dididik sastra dan kehalusan, memiliki hati yang begini keras dan kuat seperti benteng baja. Anak yang pandai sekali mempergunakan pikirannya, yang sekecil itu sudah berpemandangan luas, dapat menangkap inti sari filsafat kebatinan, yang berhati tabah tak kenal takut, berani mengemukakan jalan pikirannya secara terbuka dan jujur. Kwee Seng makin tertarik dan suka sekali.

“Baiklah, Bu Song. Kau menjadi muridku dan aku tidak akan mengajarmu ilmu silat, melainkan ilmu sastra, ilmu kesehatan dan pengobatan. Mulai saat ini kau adalah muridku dan aku adalah Suhumu, kau harus ikut ke mana pun aku pergi.”

Girang hati Bu Song. Ia memang merasa tertarik dan suka kepada jembel yang rambutnya awut-awutan itu, apalagi setelah menyaksikan sepak terjang Kwee Seng di depan rumah judi, ia benar-benar merasa kagum dan maklum bahwa orang itu bukanlah orang sembarangan walaupun ia tidak setuju dengan sepak terjangnya. Maka ia lalu cepat menjatuhkan diri berlutut memberi hormat sebagaimana layaknya seorang mengangkat guru sambil menyebut, “Suhu!” Kim-mo Taisu yang masih duduk di atas tanah sambil bersila, tiba-tiba menggunakan kedua telapak tangannya menggebrak tanah di depan Bu Song dan… tubuh anak itu mencelat ke atas semeter lebih tingginya. Akan tetapi, hebat memang ketabahan hati Bu Song. Ia mencelat ke atas dalam keadaan masih berlutut dan biarpun hal itu merupakan hal tak tersangka-sangka dan amat mengejutkan, tidak sedikit pun seruan kaget atau takut keluar dari mulutnya yang bening dan tajam itu menatap ke arah wajah suhunya penuh pertanyaan. Kim-mo Taisu tertawa girang dan menyambar tubuh muridnya itu, lalu dipeluknya.

“Anak baik, muridku yang baik….!” Bu Song terharu, matanya terasa panas namun hatinya yang keras menentang untuk meruntuhkan air mata. Ia merasa betapa dari diri suhunya memancar kasih sayang yang amat ia butuhkan, kasih sayang orang tua yang amat ia rindukan karena sejak kecil ia telah kehilangan perasaan ini. Maka dalam saat itu, di dalam hatinya timbul rasa kasih yang amat besar terhadap gurunya yang berpakaian jembel dan berambut riap-riapan ini. Bukan hanya rasa taat dan bakti seorang murid terhadap guru, melainkan juga rasa sayang seorang anak terhadap ayah!

“Bu Song, kautunggu sebentar di sini!” tiba-tiba Kim-mo Taisu berkata dan tanpa menanti jawaban muridnya, tubuhnya melesat lenyap dari tempat itu. Bu Song bengong, kagum dan terheran-heran. Sewajarnyalah kalau pada saat itu timbul rasa inginnya belajar “terbang” seperti yang dilakukan suhunya, akan tetapi hatinya yang keras menolak keinginan ini karena pesan ayahnya dahulu ketika ia masih kecil, masih lekat di lubuk hatinya. Ia tidak tahu ke mana suhunya pergi, juga tidak dapat menduga kemana. Akan tetapi karena memang sejak semula maklum bahwa gurunya itu seorang manusia dengan kelakuan edan-edanan, ia hanya menghela napas lalu duduk di bawah pohon itu, menanti. Kewajiban seorang

murid untuk menanti perintah gurunya dan andaikata gurunya itu sehari semalam tidak kembali, ia akan tetap menanti di tempat itu!

Untung baginya, tak usah ia menanti sampai begitu lama. Belum sejam lamanya, Kim-mo Taisu sudah berkelebat datang, membawa pundi-pundi kuning, datang-datang melempar pundi-pundi itu ke depan Bu Song sambil tertawa bergelak dan berkata.

“Ha-ha-ha, kau benar, muridku! Setan-setan judi itu memang sukar disembuhkan dari penyakit gemar judi. Mereka itu telah ramai-ramai berjudi pula dan betul saja, uang pembagian dariku mereka pergunakan sebagai modal! Benar menjemukan!”

Bu Song menahan geli hatinya. Setelah Kim-mo Taisu menjadi gurunya, tentu saja tak berani ia mentertawakannya. “Apakah yang kemudian Suhu lakukan terhadap mereka?” tanyanya, sikapnya hormat, sehingga Kim-mo Taisu tercengang.

“Aku? Ha-ha-ha, kurampas dari saku mereka seratus dua puluh tail, jumlah uangku sendiri, kemudian kujungkirbalikkan meja judi, kelempar-lemparkan mereka ke atas genteng.”

Bu Song diam saja, akan tetapi di dalam hati ia tidak setuju dengan perbuatan suhunya ini yang dianggap juga sia-sia belaka, tidak mungkin dapat mengobati penyakit para penjudi, malah hanya menimbulkan dendam dalam hati mereka terhadap suhunya. Kim-mo Taisu memandang muridnya dengan tajam sambil tersenyum, mengerti bahwa muridnya tentu saja tidak setuju, akan tetapi melihat mulut muridnya tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu, diam-diam ia makin kagum. Bocah ini kecil-kecil sudah tahu akan arti ketaatan murid terhadap guru, dan pandai pula menyimpan perasaan. Akan tetapi ia belum menguji sampai di mana keuletan dan ketahanan hati muridnya ini.

“Bu Song, kau melihat gunung itu?” Ia menudingkan telunjuknya ke arah sebuah bukit di selatan. “Itu adalah Gunung Tapie-san. Aku ada urusan penting ke sana, harus cepat-cepat berangkat. Kau bawalah pundi-pundi uang ini dan kau susullah aku ke sana. Carilah jalan menuju puncaknya. Beranikah kau?”

“Mengapa tidak berani, Suhu?” “Baik, nah, sampai jumpa di pegunungan itu. Aku pergi sekarang!” Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu menyerahkan pundi-pundi uang dan sekali berkelebat ia telah lenyap. Untuk kedua kalinya Bu Song kagum karena gerakan gurunya itu sama sekali tidak kelihatan, tahu-tahu bergerak dan lenyap begitu saja, seakan-akan suhunya pandai ilmu “menghilang”. Ia memandang pundi-pundi itu kemudian mengikatkanya di punggung, lalu mulailah anak ini melangkah menuju ke selatan. Bukit itu masih jauh, hanya kelihatan menjulang tinggi, puncaknya tertutup awan. Akan tetapi ia tidak merasa jerih. Ia percaya penuh bahwa suhunya pasti menanti di sana. Mengejar ilmu harus berani menderita sengsara, ini adalah ucapan ayahnya. Apapun akan ia jalani untuk mentaati perintah suhunya. Hatinya lapang, langkahnya ringan, akan tetapi perutnya lapar sekali, Anak kecil ini memandang

ke sekeliling, hanya pohon-pohon belaka, tidak ada dusun, maka tersenyumlah ia. Kejanggalan yang menggelikan hatinya. Ia membawa banyak uang, malah beberapa potong uang kecil sisa hasilnya bekerja masih terdapat di saku. Akan tetapi, di dalam hutan seperti ini, apa gunanya banyak uang? Di kota orang berlomba mencari uang, akan tetapi di tempat seperti ini, uang segudang pun tiada gunanya!

Dua hari sudah ia berjalan, melalui hutan-hutan belaka. Tidak ada dusun, tidak ada rumah orang di mana ia dapat mencari pengisi perut. Namun, perantauannya selama ini membuat Bu Song selain tahan lapar, juga mendapatkan pengalaman, menambah akalnya untuk mengisi perut kosong. Buah-buahan, telur-telur di sarang burung, kalau perlu malah daun-daun muda dan beberapa macam ubi, dapat ia pergunakan untuk mengusir lapar. Soal minum tidaklah sukar, karena banyak terdapat sumber-sumber air atau sungai-sungai kecil. Hatinya lega karena akhirnya sampai juga ia ke kaki Gunung Tapie-san.

Sementara itu, Kim-mo Taisu tentu saja sudah sampai di Gunung Tapie San lebih dulu. Bagi pendekar sakti ini, perjalanan semalam sudah cukup karena ia mempergunakan ilmu berlari cepat. Pada keesokan harinya pagi-pagi ia sudah berloncatan dai batu ke batu, melompati jurang-jurang, mendaki lereng Tapie-san sebelah utara.

Akhirnya ia berhenti di depan sebuah bangunan besar terkurung tembok tinggi, bentuknya seperti kuil kuno yang besar dan yang agaknya belum lama diperbaiki karena cat dan kapurnya masih baru. Pagar tembok bagian depan bersambung pada sebuah pintu cat merah, pintu yang tebal dan kokoh kuat, namun tertutup. Sekeliling gedung itu sunyi senyap dan memang amat mengherankan bahwa di lereng yang sunyi jauh tempat tinggal manisia ini terdapat sebuah gedung demikian megahnya, mirip sebuah istana musim panas di mana seoarang raja atau pangeran tinggal melewatkan musim panas. Tak mungkin seorang pengemis tinggal di tempat seperti ini, akan tetapi karena yang ia cari adalah raja pengemis, siapa tahu kalau-kalau inilah istananya?

Tanpa ragu-ragu lagi Kim-mo Taisu menghampiri pintu dan mengetoknya. Ketokannya keras dan suara ketokan bergema, lalu sunyi. Ia menanti sebentar, lalu mengetok lagi. Apakah gedung itu kosong? Tak mungkin kalau kosong pintu gerbangnya takkan tertutup, dan ia tadi melihat tiga ekor burung dara terbang berputaran di atas gedung. Burung dara tentu dipelihara orang.

Benar dugaannya. Tak lama kemudian terdengar suara orang disusul langkah kaki ke arah ppintu kemusian suara tapal pintu dibukakan orang. Daun pintu terbuka perlahan, pertama-tama memperlihatkan sebuah pekarangan yang luas di depan gedung yang dilihat dari keadaan tuan depannya saja jelas membayangkan kemewahan gedung. Dari balik daun pintu yang terbuka muncul dua orang pengemis tinggi besar yang berwajah bengis!

Kim-mo Taisu melangkah masuk dan sekarang tampaklah olehnya serombongan orang berpakaian pengemis berdiri berbaris di kanan kiri pekarangan itu setiap baris sembilan orang, sedangkan dari dalam gedung itu keluar tiga orang pengemis tua. Pakaian tiga orang tua ini pun tambal-tambalan, malah tidak begitu bersih seperti barisan di pekarangan. Tampaknya tiga orang ini adalah pengemis-pengemis tulen. Akan tetapi sikap dan langkah mereka sama sekali bukanlah sikap pengemis. Begitu angkuh dan agung-agungan seperti sikap pembesar-pembesar tinggi! Kim-mo Taisu memandang penuh perhatian.

Yang manakah di antara tiga orang ini yang memakai nama julukan Raja Pengemis? Akan tetapi menurut cerita yang ia dengar dari guru silat Liong, taja pengemis itu masih muda sedangkan tiga orang pengemis ini biarpun agaknya juga merupakan pimpinan pengemis, sudah berusia lima puluh lebih.

Melihat betapa semua orang yang hadir di tempat ini berpakaian tambal-tambaln, Kim-mo Taisu menunduk untuk memandang pakaiannya sendiri, kemudian ia tertawa bergelak-gelak. Memang lucu. Tuan rumah dan anak buahnya semua berpakaian pengemis, sedangkan dia sendiri pun pakaiannya butut dan penuh tambalan.

“Ha-ha-ha-ha! Dunia pengemis ini! Tamunya dan yang puny rumah sama-sama berpakaian pengemis. Akan tetapi biar sama, jauh bedanya! Pakaianku memang butut dan tambal-tambalan, asli pakaian pengemis, namun aku bukan pengemis. Sebaliknya, pakaian kalian adalah buatan, sengaja ditambal-tambal seperti pakaian pengemis, akan tetapi kalian betul-betul pengemis! Ha-ha-ha, bukankah ini lucu dan memperlihatkan kepalsuan manusia?”

Kini tiga orang pengemis tua itu sudah berada di depan Kim-mo Taisu. Mendengar perkataannya, tiga orang pengemis itu saling pandang, kemudian seorang di antara mereka berkata, suaranya perlahan akan tetapi mengandung tenaga sehingga terdengar jelas, “Apakah engkau ini orang gila yang mengacau di Sin-yang dan hendak mencari Kai-ong?”

Diam-diam Kim-mo Taisu terkejut. Bagaimana mereka ini bisa tahu akan peristiwa di Sin-Yang? Padahal ia telah melakukan perjalanan cepat sekali ke lereng gunung ini. Mungkinkah ada orang dari Sin-Yang mendahuluinya memberi kabar? Kalau memang ada tentu hebat bukan main ilmu lari cepat orang itu! Hampir sukar dipercaya. Tiba-tiba Kim-mo Taisu berdongak ke atas dan ia tertawa bergelak, “ha-ha-ha-ha! Aku tidak bersayap, mana bisa melawan kecepatan burung?” Ia kini dapat menduga bahwa tentulah dari Sin-yang orang mengirim surat dengan perantaraan burung dara itu ke tempat ini. “Memang akulah yang mencari Kai-ong. Suruh dia keluar, aku mau bicara dengannya!”

“Hemm, tidak mudah bertemu dengan Kai-ong. Orang muda, kau siapakah dan apa maksudmu mau bertemu dengan Kai-ong?”

“Aku bukan datang untuk memperkenalkan nama. Suruh saja rajamu keluar, aku tidak ada urusan dengan kalian pengemis-pengemis palsu.”

Mendengar ini, Kim-mo Taisu memandang teliti. Tiga orang kakek ini adalah orang-orang tua yang biasa saja, bertubuh kurus seperti kurang makan, pakaiannya tambal-tambalan, memakai sepatu kulit. Akan tetapi tangan mereka memegang sebuah tongkat panjang seperti toya, dapat dipergunakan sebagai tongkat maupun senjata. Melihat bentuk pentung ini ketiganya serua, teringatlah ia akah nama tiga tokoh besar pengemis, yaitu Sin-tung Sam-lo-kai (Tiga Pengemis Tua Bertongkat Sakti). Akan tetapi sepanjang pendengarannya, Sin-tung Sam-lo-kai adalah tokoh-tokoh pengemis yang amat terkenal di selatan, terkenal sebagai orang-orang pandai yang tidak termasuk golongan jahat, bahkan memimpin kaipang-kaipang (perkumpulan pengemis) di selatan. Bagaimana sekarang tiga orang tokoh ini hanya menjadi penjaga pintu di sini?” “Bukankah Sam-wi (Tuan Bertiga) ini Sin-tung Sam-lo-kai?”

Tiga orang kakek itu saling pandang, agaknya merasa heran. “Hemm, orang muda.” Kata kakek pertama yang paling tua, “Jadi kau sudah mengenal kami? Kalau begitu, lebih baik kau memperkenalkan diri dan katakana terus terang saja apa maksudmu mencari Kai-ong?”

“Sam-wi Lo-kai adalah orang-orang ternama di selatan, bagaimana sekarang hanya menjadi penjaga pintu di sini? Siapakah dia yang memiliki gedung ini?”

“Bukan urusanmu! Lebih baik kau lekas mengaku, atau pergi saja dari sini, jangan mengganggu kami.” Jawab pengemis itu cepat-cepat. Akan tetapi Kim-mo Taisu seorang cerdik. Ia dapat menduga bahwa tiga orang itu terntu merasa tidak sendang sekali dengan “pekerjaan” mereka akan tetapi agaknya terpaksa, entah oleh apa dan mengapa.

“Ha-ha-ha, kau boleh takut pada raja pengemis itu, akan tetapi aku tidak. Biar dia seorang siluman sekalipun, aku harus mencari dia!” Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu melangkah maju dan berkata keras, “Harap kalian bertiga minggir!”

Namun tiga orang kakek itu sudah memalangkan tongkat mereka yang panjang, siap menerjang. Kim-mo Taisu tertawa bergelak, seakan-akan tidak melihat ancaman tongkat terkenal itu, terus melangkah maju hendak memasuki pintu depan rumah gedung.

“Apakah kau mencari mampus?” bentak tiga orang kakek pengemis itu dan terdengar suara angin menyambar keras ketika mereka menggerakan tongkat menyerang. Dari angin serangan ini saja Kim-mo Taisu dapat menaksir bahwa kepandaian tiga orang kakek pengemis ini tidak kalah oleh Koai-tung tiang-lo yang pernah ia lawan di dalam rumah judi di Sin-yang. Maka dapat dibayangkan hebatnya tiga batang tongkat yang menusuk dari kanan kiri dan sebatang lagi diputar menghadang di depan!

“Wuuuttt! Wuuuttt!” Dua batang tongkat berubah menjadi sinar kehitaman menyambar dari kanan kiri mengancam lambung. Kim-mo Taisu mengembangkan kedua lengannya, kemudian tangannya bergerak secepat kilat menangkap ujung kedua tongkat, mengerahkan lwee-kang menarik ujung tongkat ke bawah

sambil berseru keras. Dua orang pengemis tua itu tak dapat melawan tarikan tenaga yang dahsyat ini. Betapa pun mereka mempertahankan kehendak merampas kembali tongkat yang terpegang lawan, sia-sia belaka dan tahu-tahu tongkat mereka telah amblas ke dalam tanah sampai setengahnya lebih!

Kakek ke tiga yang menyerang dari depan marah sekali, ujung tongkatnya yang tadinya terputar-putar itu kini meluncur ke depan bagaikan seekor ular hitam, menerjang maju dengan tusukan yang berlenggang-lenggok dan sekaligus telah menotok ke arah tujuh jalan darah berturut-turut. Kim-mo Taisu maklum akan kelihaian jurus serangan ini, maka ia cepat menggunakan gin-kangnya untuk berturut-turut pula mengelak ke kanan kiri, kemudian lengan bajunya bergerak memutar, melibat ujung tongkat dan “Lepas       !!” Teriaknya sambil mengerahkan sin-kang, sekali ia membetot dengan kuat, tongkat itu tak
dapat dipertahankan lagi oleh pemiliknya, terlepas dan meluncur bagaikan anak panah kemudian menancap pada dinding pagar, gagangnya bergetar keras mengeluarkan bunyi.

Tiga orang kakek itu adalah Sin-tung Sam-lo-kai, dari julukannya saja sudah menyatakan bahwa mereka itu ahli-ahli tongkat yang lihai. Tentu saja mereka kaget setengah mati melihat kenyataan yang sukar dipercaya betapa dalam segebrakan saja lawan muda yang seperti orang gila ini mampu merampas tongkat mereka! Mereka menjadi penasaran sekali, dan selain penasaran, juga mereka tidak berani membiarkan orang ini masuk ke dalam gedung begitu saja karena hal ini akan membuat mereka kesalahan dan akan mendapat marah dari Kai-ong.

“Tahan dia!” seru kakek tertua memberi perintah kepada barisan pengemis ketika ia melihat Kim-mo Taisu berlenggang seenaknya hendak memasuki gedung. Ia sendiri lari untuk mencabut tongkatnya dari dinding, sedangkan kedua orang temannya juga sudah mencabut tongkat masing-masing yang menancap di atas tanah. Barisan pengemis yang berdiri dari delapan belas orang itu bergerak maju cepat sekali dari kanan kiri, dan terkurunglah Kim-mo Taisu. Pendekar aneh ini berdiri di tengah-tengah pekarangan depan, bertolak pinggang dan tertawa bergelak melihat barisan pengemis itu lari berputaran di sekelilingnya, membentuk barisan aneh yang berubah-ubah, kadang-kadang merupakan lingkaran bundar, dalam sedetik berubah menjadi segi tiga, terus berubah-ubah dengan bertambah seginya dan setengah menjadi pat-kwa (segi delapan) lalu perlahan-lahan menjadi bulat lagi. Barisan ini teratur sekali dan melihat perubahan-perubahan yang rapi ini diam-diam Kim-mo Taisu merasa kagum.

“Orang muda, biarpun kau lihai, tak mungkin kau dapat lolos dari Kan-kauw-kai-tin (Barisan Pengemis Pengejar Anjing) kami. Sebelum kami turun tangan membunuhmu, lebih baik kau lekas mengaku siapakah engkau dan apa perlumu mencari Kai-ong!”

Kim-mo Taisu menarik napas panjang. “Barisanmu baik sekali, Sam-lo-kai, biarlah aku mencoba untuk menjadi anjingnya biar dikejar-kejar barisanmu.” Sambil tertawa bergelak Kim-mo Taisu lalu menerobos ke depan, nekat hendak memasuki gedung. Segera di depannya telah menghadang tiga orang pengemis anggota barisan yang sekaligus telah menerjang dan menyerangnya dengan senjata mereka. Seorang bersenjata tongkat panjang, seorang lagi bersenjata pedang dan orang ke tiga bersenjata joan-pian (ruyung lemas semacam cambuk). Tiga senjata yang amat berbeda sifatnya, amat berbeda pula caranya

menyerang, namun ketika maju bersama, ternyata mereka bertiga dapat bekerja sama baik sekali, seakan-akan seorang saja dengan tiga macam senjata, tiga pasang kaki tangan menyerang Kim-mo Taisu!

Pendekar ini berseru kagum, dan tentu saja ia tidak gentar menghadapi serangan tiga orang ini.

Kedua tangannya digerakkan, dengan ilmu tankapnya Kim-na-hoat ia hendak merampas senjata-senjata mereka. Akan tetapi tiga orang itu tidak jadi menyerangnya dan berlari terus ke depan dan pada detik itu juga, pengurung bagian belakang yang menyerang. Kim-mo Taisu cepat membalikkan tubuh dan ia kaget melihat betapa tiga orang di bagian belakangnya ini bersenjata persis seperti tiga orang pertama tadi akan tetapi cara mereka menyerang berbeda sungguhpun kerja sama mereka tetap baik. Karena ia diserang

dari belakang, Kim-mo Taisu terpaksa mengelak dan lewatlah berturut-turut pedang, toya, dan cambuk itu di samping tubuhnya. Begitu serangan mereka gagal, tiga orang ini bergerak lari, dan kini tiga orang lain yang berada di belakang Kim-mo Taisu menerjang hebat dengan tiga macam senjata mereka. Secara begini, sebentar saja Kim-mo Taisu telah diserang bertubi-tubi oleh barisan enam kali tiga orang ini dan ia betul-betul menjadi seperti seekor anjing yang dikejar-kejar oleh barisan pengemis! Kim-mo Taisu adalah seorang ahli silat ia memiliki penyakit yang sama, yaitu haus akan ilmu silat. Melihat hebat dan rapinya Ilmu Barisan Kan-kauw-kai-tin ini, ia menjadi kagum dan tertarik sekali, tertarik untuk mempelajarinya tentu. Kalau ia mau, dengan kepandaiannya yang jauh lebih tinggi daripada para

pengeroyoknya, tidaklah sukar baginya untuk merobohkan mereka ini. Akan tetapi ia justeru ingin melihat bentuk permainan mereka dalam barisan itu, maka ia sengaja membiarkan dirinya diserang terus-menerus. Ia hanya main berkelit saja karena tidak ingin merusak barisan mereka, maka ia dapat memperhatikan betapa barisan ini bergerak dan berubah. Setelah ia menghadapi pengurungan ini selama seperempat jam, tahulah ia bahwa ilmu barisan ini sesungguhnya juga berdasarkan garis-garis perubahan dalam pat-kwa-tin (barisan segi delapan) yang terkenal itu. Dia sendiri adalah ahli permaianan Pat-kwa-kun (Ilmu Silat Segi Delapan) tentu saja ia tahu dan hafal akan seluk-beluk pat-kwa, maka setelah menemui intisari barisan, ia menjadi jemu dan kecewa. Kiranya barisan biasa saja setelah terdapat rahasia sumbernya.

Ha-ha-ha-ha, Sin-tung Sam-lo-kai! Kiranya barisanmu ini adalah barisan pengemis kelaparan mengejar harimau! Bukan si harimau yang terpegang, melainkan pengemis-pengemis kelaparan ini yang menjadi mangsa harimau, ha-ha!” sambil berkata demikian, Kim-mo Taisu mulai “bekerja”, tangan kakinya bergerak cepat, tubuhnya berkelebat bagaikan bayangan kilat. Terdengar suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika senjata-senjata terlempar dan tubuh-tubuh menyusul bertebangan ke atas genteng. Dalam tempo beberapa menit saja delapan belas orang anggota barisan itu sudah berada di atas genteng semua, dilemparkan oleh Kim-mo Taisu tanpa mereka dapat mengerti bagaimana mereka itu kehilangan senjata dan berada di atas genteng dengan kaki atau tangan salah urat. Ketika melihat betapa Kim-mo Taisu mengamuk seperti harimau ganas, mereka ini tidak berani lagi turun!

Wajah Sin-tung Sam-lo-kai menjadi pucat. Barisan Kan-kauw-kai-tin sudah terkenal kehebatannya, mampu menghadapi seorang muda gila saja kocar-kacir! Mereka maklum bahwa orang muda gila ini memasuki gedung, tentu mereka mendapatkan hukuman berat dari Kai-ong, maka dengan muka beringas mereka bertekad untuk mempertahankan penjagaan mereka. Dengan senjata tongkat di tangan mereka berdiri menghadang di depan pintu.

“Orang muda, kau lihai. Akan tetapi jangan harap dapat masuk mengganggu Kai-ong kalau tidak melalui mayat kami bertiga!”

“Eh, eh, Sam-lo-kai! Raja pengemis itu orang macam apa sih? Aku Kim-mo Taisu datang ke sini bukan untuk main-main dengan segala macam pengemis tua! Mengapa kau tidak segera melaporkan kepadanya bahwa aku hendak bertemu?”

Terbelalak kaget tiga orang kakek pengemis itu ketika mendengar nama ini. Sengaja Kim-mo Taisu memperkenalkan namanya karena ia merasa segan untuk bermusuhan dengan pimpinan pengemis yang namanya di dunia kang-ouw terkenal baik itu. Dan memang akibatnya hebat. Tiga orang pengemis itu tentu saja sudah mendengar nama besar Kim-mo Taisu yang orang di dunia kang-ouw sudah merangkaikannya dengan nama Kim-mo-eng, pendekar sastrawan yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw dan yang sejak beberapa tahun tidak pernah muncul, kemudian muncul seorang pengemis muda yang sikapnya edan-edanan dan berjuluk Kim-mo Taisu. Mereka mendengar bahwa Kim-mo Taisu amat sakti sekali dan juga merupakan pemberantas kejahatan, pembela kebenaran, dan keadilan. Setelah terbelalak dengan muka pucat, seorang di antara mereka yang tertua segera menjatuhkan diri berlutut di depan Kim-mo Taisu dan berkata, suaranya penuh permohonan.

“Ah, kiranya Taisu yang datang! Kim-mo Taisu, kami tiga orang saudara mohon pertolonganmu! Perkumpulan kami, juga perkumpulan di empat penjuru, telah ditaklukkan oleh ketua baru Khong-sim Kai-pang, yaitu Kai-ong yang amat bengis dan sakti. Kalau kami membiarkan Taisu masuk berarti kami bertiga akan binasa. Karena itu, tolonglah Taisu membantu kami, membalaskan sakit hati kami… agar nama baik perkumpulan-perkumpulan Kai-pang di selatan dapat diangkat lagi dan…. Auuhhh!” Tiba-tiba kakek pengemis ini terguling dan darah muncrat dari punggungnya yang tertembus sebatang sumpit gading yang meluncur dari dalam gedung!

“Twa-suheng…!” Dua orang adik seperguruannya menubruk, dan mereka memandang kepada Kim-mo Taisu dengan mata penuh permohonan.

Kim-mo Taisu cepat membalikkan tubuh memandang. Akan tetapi tidak ada seorang raja pengemis muncul melainkan seorang wanita cantik, masih muda berpakaian pelayan. Dengan gerak tubuh lemah lembut wanita itu berkata, suaranya nyaring dan merdu.

“Kai-ong-ya memerintahkan tamu terhormat Kim-mo Taisu untuk datang menghadap!” Wanita itu lalu membungkuk dengan hormat, tangannya mempersilahkan.

Mendongkol hati Kim-mo Taisu. Bukan mendongkol karena pembunuhan atas pengemis tua, karena ia memang seorang aneh dan hal itu dianggapnya bukan urusannya. Ia mendongkol oleh sikap kai-ong itu, yang seakan-akan benar-benar seoarang raja yang memerintahkan tamunya datang menghadap! Akan

tetapi bukan watak Kim-mo Taisu untuk mengobral kemarahannya begitu saja. Ia tertawa begelak, lalu mengikuti wanita cantik itu memasuki ruangan depan. Heran sekali ia melihat perabot ruangan itu amat mewah, meja kursi halus dan dinding yang terkapur putih itu penuh hiasan tulisan dan gambar serba indah. Ketika ia mengikuti wanita itu memasuki ruangan dalam, keadaannya lebih mewah lagi, bahkan lantainya saja ditilam permadani merah muda! Mereka maju terus, ke ruangan yang lebih dalam lagi.

Sebuah pintu kaca yang lebar tertutup tilam sutera hijau. Benar-benar seperti kamar di dalam istana raja. Pintu terbuka dan terdengarlah suara wanita-wanita yang merdu di antara tawa yang genit, tercium bau asap dupa wangi.

“Harap Kim-mo Taisu suka membersihkan kaki lebih dulu.” Wanita itu berkata, menunjuk ke arah babut tebal di depan pintu.

“Ha-ha-ha! Tanah yang menempel di telapak kakiku bukankah jauh lebih bersih dan sehat daripada lantai dan permadani? Tidak biasa aku membersihkan kakiku, kalau mau rajamu ingin kakiku bersih, biarlah ada yang membersihkannya!”

Wanita itu nampak kaget sekali akan keberanian tamu ini, ia hanya memandang bingung dan samar-samar tampak oleh Kim-mo Taisu betapa di wajah yang cantik itu terbayang ketakutan dan kekuatiran. Agaknya wanita ini terlalu banyak menderita tekanan batin, pikirnya. Kasihan!

Tiba-tiba terdengar suara yang serak seperti orang berpenyakitan. “Tamu agung harus dihormati. Eh, kalian bertiga pergilah ke luar, cuci kaki tamu agung sampai bersih. Cepat!”

Terdengar suara tertawa-tawa genit disusul suara pakaian berkeresekan tanda bahwa wanita-wanita berjalan keluar tergesa-gesa, lalu muncul tiga orang wanita cantik-cantik dan muda. Pakaian mereka tidak seperti pakaian pelayan, melainkan pakaian puteri-puteri istana, terbuat daripada sutera tipis dan halus beraneka warna. Sambil tertawa-tawa mereka keluar, wajah yang cantik dan berbedak tebal itu berseri-seri. Akan tetapi ketika mereka keluar dan melihat bahwa “tamu agung” itu adalah seorang jembel yang pakaiannya penuh tambalan, kakinya telanjang dan rambutnya riap-riapan, mereka mengerutkan kening dan tersentak kaget, berhenti dan saling pandang dengan ragu-ragu. Akan tetapi seorang di antara mereka yang berbaju hijau mengedipkan mata dan mereka cepat menghampiri Kim-mo Taisu, menarik tangannya ke arah sebuah bangku sambil berkata.

“Silahkan Khekkoan (tamu) duduk di bangku ini, biarkan kami bertiga membersihkan kaki yang kotor.”

Sejenak Kim-mo Taisu tercengang, tak disangkanya bahwa ucapannya tadi mendapat sambutan dari Kai-ong yang aneh itu. Sukar baginya menggunakan kekerasan terhadap desakan tiga orang wanita ini, dan bau yang harum sekali yang keluar dari pakaian mereka membuat kepalanya terasa pening!

“Eh… oh…. tidak usah, Nona-nona. Tak usah, biar kubersihkan sendiri!” katanya cepat-cepat sambil menjauhkan diri, dan ia lalu menggosok-gosokkan kedua kakinya kepada babut tadi. Ngeri ia membayangkan kedua kakinya dipegang-pegang dan dicuci oleh tiga orang wanita muda cantik itu, yang demikian genit-genit. Tentu akan menimbulkan rasa seakan-akan kedua kakinya dikeroyok lintah yang menghisap darahnya! Tiga orang wanita itu terkekeh-kekeh sambil menutupi mulutnya dengan sikap yang amat genit, kemudian mereka mengantar Kim-mo Taisu memasuki ruangan indah sambil tertawa-tawa dan setengah berlari ke dalam di mana terdapat seorang laki-laki duduk menghadapi meja ditemani tiga orang wanita muda lain.

Kim-mo Taisu berhenti melangkah, memandang penuh perhatian, sikapnya waspada menjaga diri kalau-kalau menghadapi penyerangan. Ia melihat laki-laki itu dan merasa heran karena laki-laki itu tidak kelihatan seperti seorang yang berilmu tinggi. Usianya tiga puluh tahun lebih, pakaiannya sengaja dibuat bersambung-sambung seperti pakaian bertambal, akan tetapi karena bahan-bahannya adalah sutera yang halus, maka menyerupai pakaian berkembang-kembang yang aneh warnanya. Sepatunya baru dan rambutnya tertutup topi sutera pula. Wajahnya tampan akan tetapi kulit mukanya pucat, matanya seperti mata burung elang dan mukanya yang sempit membayangkan kelicikan. Laki-laki itu duduk menghadapi hidangan yang bermacam-macam dan arak yang baunya harum semerbak meimbulkan selera. Ketika ia masuk, laki-laki itu sama sekali tidak melihat ke arahnya, bahkan agaknya sedang bercakap-cakap dan bergurau dengan tiga orang wanita itu. Seorang wanita menyumpitkan daging dan disodorkan di depan mulutnya, yang segera digigitnya sambil tersenyum-senyum. Wanita ke dua menuangkan arak ke dalam cawan araknya. Adapun wanita ke tiga yang bersikap gagah duduk di sebelah kanannya dengan alis dikerutkan

Laki-laki itu menoleh kepada wanita muda cantik yang kelihatan tidak senang itu, tersenyum dan menyentuh dagunya yang halus dengan jari tangan sambil berkata halus akan tetapi suara tetap serak tak sedap didengar.

“Moi-moi, mengapa kau kurang gembira? Marilah minum, dan kau sejak tadi tidak mau makan. Nih, daging kelinci ini enak sekali!” Ia menyumpit sepotong daging dan mendekatkannya ke mulut Si Cantik. Wanita itu tersenyum paksa, membuka mulut kecil mungil dan menggigit daging itu, kemudian berkata.

“Pouw-koko (Kakanda Pouw), bukankah kau sudah berjanji bahwa kau akan menyuruh pergi semua selirmu? Aku tak senang dengan keadaan seperti ini.”

“Ha-ha-ha, Moi-moi yang manis! Selirku tadinya tiga puluh orang lebih, sebagian besar sudah kuhadiahkan kepada para pembantuku. Akan tetapi yang lima ini…., hemm, sayang, Moi-moi. Hayo kalian berlima lekas berlutut dan mohon kasihan kepada Nyonya besar agar diperkenankan tinggal di sini melayaniku!” ia menoleh kepada lima orang wanita cantik itu.

Tiga orang di antara mereka cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut di depan wanita berbaju biru tadi, akan tetapi yang dua tidak mau berlutut, malah memandang penuh kebencian. Seorang di antara mereka, yang ada tahi lalatnya di dagu, berkata genit.

“Aku sudah setahun lebih melayani Kai-ongya menjadi kesayangan Kai-ongya, namun tak pernah aku menyuruh usir selir lainnya. Mengapa Nona Loan ini begini manja? Apakah tidak mau membagi kebahagiaan sedikit pun dengan wanita lain?” Ia menggoyang tubuhnya dengan memalingkan muka, bibirnya yang merah cemberut.

“Benar tidak adil!” kata wanita kedua yang bajunya merah. “Semenjak dia ini datang, kita seperti disia-siakan oleh Kai-ongya. Apakah di dunia ini hanya dia saja wanita cantik?”

Wanita baju biru itu tiba-tiba bangkit berdiri, alisnya terangkat dan matanya merah, “Mana bisa aku dipersamakan dengan… perempuan-perempuan cabul macam kalian?”

“Sshh… sshh… Moi-moi, jangan marah, duduklah.” Dengan tangannya, raja pengemis itu menyuruh kekasihnya duduk, kemudian tangan kirinya bergerak cepat, dengan jari-jari terbuka menyambit ke arah dua orang selirnya yang berani membantah itu.

“Aduhhh…! Aduhhh…!!” Dua orang wanita cantik itu terjengkang roboh, menutupi muka sambil menjerit-jerit bergulingan di lantai. Ternyata kedua mata mereka terusuk tulang-tulang bekas makanan yang berada di atas meja dan tadi dipergunakan untuk menyambit mereka. Darah membasahi pipi. Hanya sebentar kedua orang wanita itu menjerit-jerit berkelojotan, lalu diam karena rasa nyeri yang luar biasa membuat mereka pingsan.

“Hayo bawa pergi mereka, lekas!” Perintah ini diturut tiga orang wanita yang lain dengan ketakutan. Mereka lalu menggotong kedua orang wanita malang itu keluar dari ruangan.

“Hemm, inikah Kai-ong yang tersohor yang telah menaklukkan seluruh kai-pang (perkumpulan pengemis), yang secara keji membunuh orang tertua dari Sin-tung Sam-lo-kai tadi, dan kini melukai dua orang selirnya secara ganas pula?” Kim-mo Taisu berkata, suaranya dingin dan pandang matanya kepada Si Raja Pengemis itu penuh ejekan.

Kee Lui adalah murid seorang pertapa sakti di pantai Po-hai yaitu pantai laut sebelah timur, yang secara kejam telah membunuh gurunya sendiri karena ia ditegur ketika ia mengganggu isteri orang. Ia memperdalam ilmu dari kitab-kitab simpanan gurunya itu, kemudian mulailah ia merantau dan merajalela mempergunakan ilmunya yang tinggi. Pertama-tama ia merebut kedudukan ketua di perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang. Pernah ia bertemu dengan Liu Lu Sian dan hanya karena mengingat bahwa Lu Sian adalah puteri Beng-kauwcu, maka Pouw Kee Lui yang cerdik ini membebaskan Lu Sian. Kemudian semenjak itu, ia memperbesar kekuasaannya dengan menundukkan perkumpulan-perkumpulan pengemis yang ada, lalu mengangkat diri sendiri menjadi Kai-ong atau raja pengemis yang hidup mewah, yang menundukkan siapa saja yang menentangnya dan merampas gadis mana saja yang disukainya.

Wanita baju biru di sebelahnya itu adalah Liong Bi Loan murid yang kemudian diambil sebagai anak angkat oleh guru silat Liong Keng. Ketika gadis ini berkelahi dengan tukang-tukang pukul di rumah judi, kebetulan sekali Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong sedang jalan-jalan ke rumah judi. Melihat gadis cantik ini serta melihat ilmu silatnya yang lumayan, hati Pouw-kai-ong tertarik sekali. Di antara tiga puluh orang lebih selirnya, tidak ada yang memiliki ilmu silat seperti gadis ini. Maka ia lalu turun tangan dan dengan ilmu kepandaiannya yang amat tinggi, ia mengalahkan Bi Loan dan berhasil membuat gadis ini kagum oleh kepandaian silatnya, wajahnya yang tampan, dan sikapnya yang pandai berpura-pura dan memikat hati. Gadis yang masih hijau ini terjatuh ke dalam perangkap, mereka bermain cinta dan gadis yang tidak tahu bahwa yang ia sangka seorang pendekar sakti itu sebetulnya seorang manusia iblis yang keji. Ia mengikuti Pouw Kee Lui bermain-main ke dalam hutan, dan di dalam sebuah kuil kosong, Si Manusia Iblis Pouw ini berhasil memberi minum arak yang ia campur obat sehingga Liong Bi Loan menjadi mabuk dan dalam keadaan tidak sadar telah menyerahkan dirinya dibawa terjun ke dalam jurang kehinaan oleh Pouw Kee Lui.

Ketika ia sadar, sesal pun tiada gunanya. Nasi telah menjadi bubur! Inilah akibatnya seorang gadis yang membuta saja menurutkan nafsu hati, membuta dalam bercinta sehingga tidak tahu bahwa yang disangka seekor domba sebenarnya adalah seekor serigala. Karena sudah terlanjur, ia hanya bisa menangis dan akhirnya reda juga penyesalannya ketika Pouw Kee Lui membujuk-bujuknya, bersumpah mati-matian akan bersetia kepadanya, akan mengambilnya sebagai isteri, sehidup semati dan lain omongan muluk-muluk lagi. Terobatilah hati Bi Loan. Ketika pada keesokan harinya ayahnya mendapatkannya di situ, terpaksa ia ikut pulang ayahnya. Dan tentu saja hatinya girang sekali ketika pada malam harinya, Pouw Kee Lui benar-benar datang membawanya pergi dan tentu saja ia ikut pergi dengan sukarela. Lebih baik ikut pergi bersama kekasihnya ini dan sehidup semati menjadi isterinya, daripada menjadi seorang gadis ternoda yang akan menderita malu seumur hidupnya! Apalagi setelah ia ketahui bahwa kekasihnya itu ternyata adalah seorang yang amat penting, seorang raja, biarpun hanya rajanya pengemis! Dan melihat selir “suaminya” begitu banyak, ia menjadi tidak senang dan minta kepada suaminya untuk menghalau semua selir itui, yang juga diturut oleh Pouw Kee Lui, kecuali lima selir yang tadi melayani mereka makan minum. Demikianlah keadaan singkat Si Raja Pengemis yang lihai itu.

Ketika Pouw-kai-ong mendengar kata-kata Kim-mo Taisu yang penuh teguran, ia mengangkat muka memandang, mulutnya tersenyum sinis, pelupuk matanya bergetar sedikit, kemudian terdengar suaranya yang serak, “Kim-mo Taisu, apakah kau mendapat nama besar itu karena kesukaanmu mencampuri urusan dalam rumah tangga orang lain? Kubunuh Lo-kai, itu adalah urusan kai-pang kami. Kubutakan mata kedua orang selirku, itu adalah urusan keluargaku sendiri.”

“Tidak peduli… tidak peduli…, aku hanya seorang tamu, aku tidak peduli akan segala urusanmu yang busuk!” Kim-mo Taisu menggoyang-goyang tangannya.

“Heh-heh, itu baru ucapan seorang gagah. Nah, kau menjadi tamuku, seorang tamu agung harus disambut dengan arak wangi dan hangat!” Raja pengemis ini menuangkan arak ke dalam mangkok itu dan berseru. “Silakan!” Sekali ia menggerakkan tangan, mangkok berisi penuh arak itu melayang cepat sekali seperti peluru tanpa araknya tumpah sedikit pun, menuju ke arah dada Kim-mo Taisu.

Kim-mo Taisu tersenyum, mengangkat tangan kirinya dan begitu tangannya bergerak, ia sudah menerima mangkok itu di atas telapak tangan kirinya, di mana mangkok itu kini berdiri dan sedikit pun tidak ada arak yang muncrat dari dalamnya. Diam-diam ia kagum juga karena tenaga sambaran mangkok itu amat kuat, tanda bahwa penyambitnya memiliki sin-kang yang hebat. Di lain fihak, Pouw-kai-ong juga kagum. Menerima sambitannya semangkok penuh arak, tanpa tergoyang sedikit pun badannya, tanpa mucrat setetes pun araknya, mungkin jarang didapatkan keduanya. Hebat Kim-mo Taisu ini, pikirnya dan otaknya yang cerdik sudah diputar-putar untuk mencari akal.

Sementara itu, Kim-mo Taisu sudah menenggak habis arak di dalam mangkok dengan tenang, mengecap-ngecapkan lidahnya dan mengangguk-angguk sambil memandang ke arah mangkoknya yang sudah kosong. “Arak baik… hemm, arak yang baik sekali. Terima kasih, Kai-ong, ini kukembalikan mangkokmu!” Tiba-tiba tangannya bergerak dan mangkok itu sudah ia sentil dengan jari telunjuknya.

“Tinggg!!” Mangkok kosong itu kini melayang ke arah Pouw-kai-ong, akan tetapi melayang sambil berputar seperti gasing. Pouw-kai-ong tersenyum dan mengangkat tangannya menyambut sambaran mangkok kosong.

“Brakkk!!” Mangkok kosong itu begitu menyentuh tangannya, lalu pecah berantakan! “Aiihhh!!” Pouw-kai-ong terloncat kaget. Mukanya menjadi merah sejenak, matanya mengeluarkan sinar berapi, kedua tangannya menegang, jari-jari tangannya bergerak-gerak seperti cakar harimau. Kim-mo Taisu tersenyum saja dengan tenang, menanti segala kemungkinan. Akan tetapi, lambat laun muka raja pengemis itu menjadi pucat kembali seperti sediakala, bukan pucat berpenyakitan, melainkan pucat karena latihan lwee-kang tertentu. Mulutnya masih tersenyum sinis dan tangannya membuat gerakan mempersilakan tamunya duduk.

“Heh-heh, tamu agung yang hebat! Kim-mo Taisu, namamu terkenal dan ternyata bukan kosong belaka. Silakan duduk!”

Kembali Pouw-kai-ong menuangkan arak ke dalam mangkok sampai penuh. Mangkok itu, ia letakkan di atas telapak tangan kanannya dan ia mengerahkan hawa sin-kang di tubuhnya, disalurkan melalui tangan kanan terus menjalar ke mangkok arak. Sebentar saja arak di dalam mangkok itu bergolak mendidih dan beruap! Inilah hawa sin-kang yang bukan main tingginya!

“Silakan minum, Kim-mo Taisu!” katanya tersenyum sinis seraya menyodorkan mangkok arak mendidih itu kepada tamunya.

Kim-mo Taisu menjadi kaget, kagum dan juga mendongkol. Harus ia akui bahwa demonstrasi hawa sin-kang yang diperlihatkan raja pengemis itu memang hebat dan hanya orang dengan kepandaian tinggi saja yang akan mampu melakukannya. Akan tetapi, orang lain boleh merasa jerih, baginya demonstarasi itu hanyalah permainan untuk menakuti anak kecil! Sambil tersenyum pula ia mengulur tangan menerima mangkok arak mendidih itu sambil mengerahkan sin-kangnya.

Aneh tapi nyata. Begitu mangkok arak mendidih itu berada di telapak tangan Kim-mo Taisu, mendadak uapnya hilang dan arak itu tidak bergolak mendidih lagi!

“Terima kasih, sayang arakmu dingin.” Kata Kim-mo Taisu sambil menuangkan arak ke mulutnya, tetapi arak itu tidak mau keluar dari mangkok karena ternyata telah membeku! Inilah demonstrasi yang lebih hebat lagi, menggunakan sifat dingin dari tenaga sin-kang yang sudah mencapai tingkat tinggi. Sambil tersenyum lebar Kim-mo Taisu meletakkan mangkok itu ke atas meja dan memandang tuan rumah.

Agak berubah air muka yang pucat dari raja pengemis itu. Telah dua kali ia menguji dan mendapat kenyataan bahwa kepandaian tamunya benar-benar hebat, maka ia harus berlaku hati-hati sekali. “Kim-mo Taisu, keperluan apakah yang membawamu datang mencari aku?”

Kim-mo Taisu menyambar mangkok arak dan meneguknya habis, lalu mengangguk-angguk dan menjilati bibirnya. “Arak baik, arak baik…!”

Pouw-kai-ong tertawa. “Ha-ha-ha, kiranya kau setan arak. Minumlah!” Ia melemparkan seguci arak ke arah Kim-mo Taisu. Lemparan ini kuat bukan main karena disertai tenaga lwee-kang, sedangkan jarak antara mereka dekat saja, hanya terpisah sebuah meja. Namun dengan enaknya Kim-mo Taisu menerima guci arak itu dan terus menggelogoknya langsung tanpa cawan atau mangkok lagi. Setelah lima enam mangkok arak memasuki perutnya, baru ia berhenti dan meletakkan guci arak di atas meja.

“Pouw-kai-ong, kebetulan sekali aku berkenalan dengan Liong-kauwsu (Guru Silat Liong) di Sin-yang dan karena tidak tahan mendengar tangis seorang ayah kehilangan puterinya, maka aku datang kesini mencarimu.”

“Aaahhhh….!” Wanita cantik baju biru yang sejak tadi duduk tenang menonton pertunjukan ilmu yang hebat itu, kini berseru tertahan, wajahnya berubah pucat. Akan tetapi Pouw Kee Lui tertawa mengejek. “Kim-mo Taisu, setelah sekarang kau dapat bertemu denganku, apa yang kau kehendaki?”

“Orang she Pouw, kau telah menculik puteri Liong-kauwsu. Sekarang harap kau memandang mukaku dan mengembalikan puterinya itu, kalau tidak… ha-ha-ha, terpaksa aku lupa bahwa aku telah kau suguhi arak yang baik!” Pouw Kee Lui juga tertawa. “Heh-heh-heh, aku pun menyuguhi arak padamu sama sekali bukan dengan maksud menyuap.” Ia lalu bangkit berdiri dan memperkenalkan wanita yang duduk di sebelahnya. “Kim-mo Taisu, perkenalkan, inilah isteriku yang bernama Liong Bi Loan, puteri Liong-kauwsu dari Sin-yang!”

“Is… terimu….?” Kim-mo Taisu terkejut dan heran. “Moi-moi kekasihku, kaukatakanlah kepada Kim-mo Taisu, benarkah bahwa aku menculikmu?”

Dengan muka berubah menjadi merah sekali karena jengah, wanita itu memandang Kim-mo Taisu dan berkata, “Aku pergi mengikutinya dengan sukarela, urusan kami berdua ini apa sangkut pautnya dengan orang luar?”

Kim-mo Taisu memandang terbelalak kepada wanita itu. Sungguh tak pernah disangkanya sama sekali bahwa ia akan menghadapi hal seperti ini, tak mengira bahwa urusan akan menjadi begini. Kalau ia tahu sebelumnya, tentu saja ia tidak sudi ikut mencampuri. Dapat ia menduga bahwa wanita ini telah terpikat oleh Pouw-kai-ong, telah jatuh cinta atau juga karena takut. Akan tetapi wajah yang cantik itu sama

sekali tidak membayangkan rasa takut, jadi terang bahwa wanita ini telah jatuh cinta kepada Si Raja Pengemis! Tentu saja Kim-mo Taisu tidak tahu apa yang telah terjadi, tidak tahu bahwa sesungguhnya bukan karena takut atau cinta, melainkan karena sudah terlanjur terjun ke dalam lumpur kehinaan maka wanita itu terpaksa mengikuti Pouw Kee Lui!

Saking malu dan mendongkol, Kim-mo Taisu menepuk kepalanya sendiri lalu bangkit berdiri. Wajahnya kehilangan senyumnya seperti orang gila ketika ia berkata, “Cinta memang aneh! Pouw-kai-ong, pada detik ini juga aku menyatakan lepas tangan tentang urusanmu dengan puteri Liong-kauwsu. Akan tetapi mendengar bahwa kau telah merampas kedudukan semua perkumpulan pengemis dan betapa tanganmu dengan ganas merenggut nyawa para pimpinannya, aku menduga bahwa kau tentu memiliki tangan maut yang lihai. Maka, setelah aku datang, biarlah aku merasai kelihaian tangan mautmu itu. Kau yang menentukan, di dalam ruangan ini atau di luar!”

Inilah tantangan blak-blakan! Orang gagah paling pantang menolak tantangan. Wajah Pouw Kee Lui yang biasanya pucat itu kini menjadi merah dan sejenak matanya menyinarkan pancaran kilat karena marahnya, akan tetapi mulutnya tersenyum sinis dan matanya lalu bergerak-gerak melirik ke kanan ke kiri

membayangkan kecerdikan otaknya. Selama ini ia sudah bersekutu dengan banyak orang pandai untuk bersama-sama meruntuhkan Kerajaan Tang Muda. Di antara sekutunya itu terdapat Ban-pi Lo-cia tokoh Khitan yang menganggap Kerajaan Tang Muda sebagai musuh. Dari Ban-pi Lo-cia inilah ia mendengar tentang kehebatan kepandaian Kim-mo-eng yang kini berjuluk Kim-mo Taisu. Kalau Ban-pi Lo-cia yang demikian lihainya memuji kepandaian seseorang, maka ia harus waspada menghadapi orang itu. Apalagi tadi ia pun sudah membuktikan sendiri kehebatan sin-kang dari manusia sinting ini. Dan sungguh kebetulan sekali, dalam beberapa hari ini ia sudah berjanji akan mengadakan pertemuan dengan para sekutunya di Puncak Tapie-san. Maka ia lalu menahan kemarahannya, berkata dengan senyum lebar.

“Bagus! Aku pun sudah lama mendengar akan kehebatanmu dan ingin sekali merasai pukulan tanganmu. Akan tetapi kau melihat sendiri, aku adalah… heh-heh, masih pengantin baru! Bagaimana aku dapat mengotori suasana meriah dengan isteriku tersayang ini dengan pertandingan? Isteriku tentu akan merasa gelisah setengah mati! Kim-mo Taisu, kalau kau memang jagoan dan tidak menyesal dengan tantanganmu, biarkan aku beristirahat selama tiga hari untuk mengumpulkan tenaga, kemudian tiga malam berikut ini aku akan menantimu di puncak gunung ini, di mana kita akan dapat bertanding sepuas hati kita tanpa mengganggu isteriku. Bagaimana, apakah kau berani?”

Kim-mo Taisu tertawa bergelak. Ia cukup berpengalaman, dan ia dapat menduga bahwa calon lawannya itu mencari alasan kosong. Entah tipu muslihat apa yang hendak digunakannya tiga hari kemudian di Puncak Tapie-san. Akan tetapi ia sama sekali tidak merasa gentar. “Heh-heh-heh, tiga malam yang akan datang kebetulan bulan gelap. Aku akan menantimu pagi-pagi pada hari ke empat di puncak. Nah, aku pergi!” Setelah melenggang keluar dari ruangan itu, terus berjalan dengan langkah seenaknya dan tidak mempedulikan pandang mata para pengemis yang menjaga di luar gedung. Setelah keluar dari gedung, tubuhnya bergerak cepat dan sebentar saja lenyaplah bayangannya dari pandang mata pengemis yang tebelalak lebar penuh kekaguman dan juga ketakutan. Baru kali ini mereka melihat ada orang yang berani menantang kai-ong mereka dapat keluar dengan selamat dan seenaknya!

Suhu…! !” Bu Song berseru girang sekali ketika ia melihat Kim-mo Taisu duduk bersamadhi di bawah pohon. Kedua kakinya sudah merasa amat lelah mendaki bukit yang amat sukar itu, akan tetapi begitu melihat suhunya, semangatnya timbul dan ia berlari terengah-engah di jalan tanjakan, menghampiri suhunya.

Kim-mo Taisu membuka kedua matanya dan tersenyum girang memandang muridnya. Bocah yang sama sekali tidak pandai ilmu silat ini telah membuktikan keberanian luar biasa dan keuletan yang mengagumkan bahwa ia dapat juga menyusulnya sampai ke lereng gunung yang merupakan perjalanan amat sukar bagi orang yang tidak terlatih ilmu silat. Muridnya itu datang dengan muka agak pucat dan tubuh membayangkan kelelahan hebat, akan tetapi pundi-pundi uang itu masih digendongnya dan semangat besar masih bernyala-nyala di sepasang mata yang bersinar-sinar itu.

Bu Song tidak membantah. Diturunkannya pundi-pundi dari pundaknya, kemudian ia duduk bersila di depan gurunya, meniru kedudukan kaki yang ditekuk tumpang tindih.

“Tarik napas dalam-dalam sewajarnya tanpa paksaan, busungkan dada kempiskan perut, tarik terus yang panjang…” Kim-mo Taisu memberi petunjuk sambil memberi contoh. Bu Song memandang gurunya dan mentaati perintah ini, terus menarik napas dan merasa betapa dadanya penuh sekali.

“Keluarkan napas, perlahan-lahan sewajarnya tanpa paksaan, kempiskan dada busungkan perut. Nah, begitu ulangi sampai sembilan kali, makin panjang makin baik.”

Otomatis Bu Song mentaati perintah suhunya ini, makin lama makin baik cara ia bernapas. Kemudian sambil masih bersila, Kim-mo Taisu mengajar muridnya mengatur napas, menarik napas dari dada ke perut, menahannya ke tengah pusar sampai perut terasa panas hangat, memberi petunjuk pula cara menguasai napas. “Kau umpamakan napasmu seekor naga yang sukar dikendalikan, akan tetapi kau harus dapat menunggang naga itu, kaubiarkan dirimu dibawa terbang keluar masuk, terus kautunggangi jangan lepaskan sedikitpun juga, akhirnya kau tentu akan mampu menguasai dan menaklukannya.” Demikianlah Kim-mo Taisu memberi petunjuk. Kemudian ia mengajar muridnya untuk sambil duduk bersila menguasai napas, duduknya tegak dengan punggung lurus, muka lurus ke depan, pandang mata menunduk ke arah ujung hidung, seluruh panca indera dipusatkan “menunggang naga”. Inilah inti pelajaran ilmu bersamadhi, dan siulian atau samadhi ini pula menjadi dasar pelajaran ilmu silat tinggi. Tentu saja Bu Song sama sekali tidak mengira bahwa gurunya mulai menurunkan ilmu yang menjadi dasar ilmu silat tinggi.

Diam-diam Kim-mo Taisu kagum bukan main menyaksikan kekerasan hati dan kemauan muridnya. Sayang muridnya terlalu membenci ilmu silat sehingga sukarlah baginya untuk melatih ilmu silat. Bocah ini yang baru saja tiba setelah melalui perjalanan yang amat melelahkan, kini sanggup untuk bersamadhi, sungguhpun baru saja dimulai hari ini, dari pagi sampai sore!

“Cukuplah!” kata Kim-mo Taisu sambil meraba punggung muridnya. Bu Song bagaikan sadar dari mimpi indah dan dengan hati girang ia merasa betapa tubuhnya sehat dan segar, tidak merasakan kelelahan lagi.

“Kau harus melatih siulian setiap kali ada waktu kosong. Dengan latihan ini, tubuhmu akan menjadi sehat, tidak mudah lelah dan tidak mudah diserang penyakit.”

“Kapankah Suhu akan mengajarkan ilmu menulis indah kepada teecu (murid)?” “Ha-ha-ha! Tidaklah mudah, Bu Song. Kau tentu tahu, tulisan huruf indah baru dapat disebut indah kalau tulisan itu dapat mengandung goresan yang bertenaga, dan untuk menghimpun tenaga dalam tangan agar dapat membuat goresan yang tepat, perlu tanganmu diisi tenaga. Dalam latihan siulian ini dapat membuat tanganmu bertenaga. Besok kuajarkan bagaimana kau harus menggunakan pernapasanmu untuk membangkitkan tenaga dari dalam pusar, menggunakan kekuatan hawa yang kau sedot itu untuk menerobos ke pergelangan tangan dan jari-jari tanganmu. Baru setelah tanganmu bertenaga, akan kuajarkan engkau menulis huruf indah.” Kim-mo Taisu memandang muridnya dengan mata berseri-seri akan tetapi

diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri bahwa ia harus bicara secara berputar-putar dan seakan-akan ia menipu muridnya ini yang tidak mau belajar ilmu silat! Ia melihat betapa muridnya memandangnya penuh perhatian, sinar matanya memancarkan kepercayaan dan ketaatan yang tulus. Terharu hati Kim-mo Taisu. Bocah ini hebat, memiliki bakat yang baik sekali di samping watak yang keras dan bersih. Entah apa sebabnya, mungkin pandang mata itulah, yang membuat Kim-mo Taisu benar-benar tertarik dan jatuh sayang kepada anak ini. Ia merangkul pundak muridnya dan berkata halus.

“Bu Song, kau mengasolah. Kau tentu lapar, bukan? Nah, coba kau mencari makanan seperti yang kaulakukan ketika kau mendaki bukit ini selama tiga hari tiga malam.”

“Baiklah, Suhu.” Bu Song lalu memasuki hutan di sebelah kiri, menyusup-nyusup sampai jauh dan akhirnya dengan hati girang ia mendapatkan sebuah pohon apel yang buahnya banyak yang sudah tua dan matang. Segera ia memanjat pohon itu dan memetik banyak buah apel yang kulitnya kuning kemerahan dan baunya sedap mengharum itu. Buah-buahan itu ia masukkan ke dalam kantung uang sampai penuh. Tiba-tiba telinganya mendengar bunyi kelenengan kuda, nyaring sekali bunyi itu, bergema di antara pohon-pohon. Suara yang menyelinap ke dalam telinganya seakan-akan berubah menjadi jarum-jarum yang menusuk telinga dan masuk merayap melalui urat-uratnya, membuat Bu Song menggigil dan tak dapat pula ia mempertahankan diri, buah-buah berikut pundi-pundi uang terlepas jatuh disusul tubuhnya jatuh pula dari atas pohon! Untung baginya, Pohon itu tidak terlalu tinggi, juga ketika ia terjatuh, tubuhnya tertahan oleh cabang dan dahan di sebelah bawah sehingga ketika ia terbanting ke atas tanah, Bu Song hanya merasa pinggul dan bahu kirinya saja yang agak sakit. Begitu ia melompat bangun lagi, suara itu masih terngiang di telinganya, membuat kepalanya pening dan tubuhnya sakit-sakit. Betapapun ia menahan dan menutupi telingan dengan kedua tangan, tetap saja suara itu menembus masuk. Saking sakitnya, serasa seperti jantungnya ditusuk-tusuk jarum, Bu Song bergulingan di atas tanah, merintih-rintih. Ingin ia melompat dan lari ke tempat suhunya, namun suara kelenengan itu makin keras dan kini ia sudah bangkit berdiri lagi. Tiba-tiba ia teringat akan nasihat suhunya, “Kalau kau berhasil menunggang naga, apa pun di dunia ini tidak akan mampu mengganggu badan dan pikiranmu.” Menunggang naga adalah istilah untuk duduk memusatkan perhatian kepada masuk keluarnya hawa pernapasan.

Teringat akan ini, cepat-cepat Bu Song mengerahkan tenaganya untuk duduk bersila, kemudian mengerahkan pula segenap tekad dan kemauannya untuk menarik semua panca indera, terutama pendengarannya, menjadi satu dan memaksa diri “menunggang naga” seperti yang pernah ia latih di bawah petunjuk suhunya. Sebentar saja anak yang bertekad membaja ini telah berhasil “tenggelam” ke dalam keadaan diam, tekun menunggang naga pernapasannya sendiri sehingga lupa pula akan suara kelenengan yang mempunyai daya mujijat tadi! Suara kelenengan masih terdengar nyaring, akan tetapi kini seakan-akan hanya lewat di luar daun telinganya saja, tidak mampu masuk karena telinga itu telah ditinggalkan “penumpangnya” atau penjaganya yang sedang seenaknya menunggang naga!

Setelah lama suara kelenengan itu tidak berbunyi lagi, baru Bu Song sadar bahwa telinganya tidak menghadapi bahaya suara mujijat itu, maka ia lalu melompat bangun, mengumpulkan buah-buah yang berceceran dan membungkusnya di dalam pundi-pundi uang. Kemudian ia lari menuju ke tempat

suhunya.

Bunyi kelenengan yang tadi terdengar oleh Bu Song keluar dari sebuah kelenengan kecil yang dibunyikan oleh tangan seorang kakek tinggi besar. Kakek ini menunggang keledai kecil sehingga kelihatannya lucu sekali. Kedua kakinya yang panjang tergantung di kanan kiri perut keledai hampir menyentuh tanah. Namun keledai kecil itu ternyata mampu berjalan cepat dan pandai pula mendaki bukit. Sambil membunyikan kelenengan, kakek ini melenggut di atas punggung keledai, hiasan bulu di atas kain kepalanya mengangguk-angguk dan jubahnya yang panjang lebar itu melambai-lambai tertiup angin gunung.

Ketika keledai itu tiba di depan Kim-mo Taisu yang masih duduk bersila di bawah pohon, kakek itu mengeluarkan seruan tertahan dan keledainya berhenti. Ia lalu melompat turun dan sengaja membunyikan kelenengannya di depan Kim-mo Taisu sambil mengerahkan tenaganya. Terheran-heran kakek itu melihat betapa orang yang duduk bersila itu masih saja duduk, sama sekali tidak bergeming biarpun bunyi kelenengan itu sebetulnya dapat merobohkan lawan tangguh!

Tiba-tiba Kim-mo Taisu membuka matanya memandang kakek itu lalu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Makin tua kau makin ugal-ugalan saja, Pat-jiu Sin-ong!”

Kakek itu terbelalak kaget. Kelenengannya terhenti dan ia membungkuk untuk memandang lebih teliti orang yang duduk bersila itu. Seorang berusia tiga puluhan, tubuhnya tegap rambutnya riap-riapan mukanya terselimut awan kedukaan, pakaiannya tambal-tambalan dan kakenya telanjang.

“Kau mengenal aku?” “Beng-kauwcu, apakah usia tua sudah membuat kau menjadi lamur sehingga tidak mengenal lagi bekas calon mantumu? Ha-ha-ha!” Kim-mo Taisu melompat berdiri.

“Hehh….?? Kau… kau… Kim-mo-eng Kwee Seng…!” Kakek itu menjelajahi tubuh Kim-mo Taisu dari kepala sampai ke kaki dengan pandang mata tidak percaya.

“Cukup Kim-mo Taisu saja, Kauwcu.” “Aha! Jadi kaulah Kim-mo Taisu….?” Kakek itu lalu merangkul pundak dan tertawa bergelak-gelak. “Siapa akan mengira…! Dahulu kau seorang sastrawan tampan, sekarang… sekarang…” “Seorang jembel busuk!”

“Ha-ha-ha! Alangkah akan girang hatiku kalau melihat anakku berpakaian jembel duduk disampingmu bersiulian di bawah pohon! Ahhh, sayang tidak demikian jadinya. Eh, Kwee Seng, menyesal sekali dahulu ada penjahat secara menggelap menyerangmu sehingga kau jatuh ke dalam jurang. Sungguh mati, kukira kau sudah hancur di dasar jurang.”

“Sebaiknya begitu, sayang nyawaku belum mau meninggalkan tubuh yang buruk nasib ini, masih ingin membiarkan tubuh ini menderita. Pat-jiu Sin-ong, bagaimana kau bisa sampai di sini?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Semua gara-gara Lu Sian, anak durhaka itu. Eh, apakah kau tidak pernah bertemu dengannya?”

Kim-mo Taisu menggeleng kepala, di dalam hatinya ia enggan bicara tentang bekas kekasihnya itu.

“Dia sudah pergi meninggalkan suaminya, Jenderal Kam Si Ek! Ahhh, alangkah untungnya kau. Kalau dia menjadi isterimu, agaknya kau pun akan makan hati seperti aku yang menjadi ayahnya. Dia pulang menceritakan bahwa dia meninggalkan suaminya, ketika aku marah-marah kepadanya, ia malah minggat sambil mencuri kitab-kitabku. Benar-benar anak durhaka dia! Aku mencarinya sampai berbulan-bulan. Kau benar-benar beruntung dapat terlepas daripadanya.”

Tiba-tiba Kim-mo Taisu tertawa bergelak sambil memandang awan. “Ha-ha-ha! Pat-jiu Sin-ong, kau bilang aku bahagia karena terlepas daripadanya, bukankah kau juga sudah terlepas daripadanya? Bukankah dengan demikian kita sama-sama menjadi orang bahagia?” Suara ketawa Kim-mo Taisu bergema di seluruh hutan dan di dalam hatinya, kakek itu terharu karena ia mampu menangkap tangis hati yang terkandung dalam suara tawa itu. Maka ia pun tertawa dan berkata.

“Kau benar! Kita harus rayakan ini! Dua orang laki-laki, muda dan tua, tunangan dan ayah, terbebas dari rongrongan seorang wanita siluman! Ha-ha-ha! Kita harus rayakan ini, tunggu… aku membawa arak baik!” Kakek itu lari ke arah keledainya yang makan rumput tak jauh dari situ, mengambil guci arak dari atas pelana, menuangkan arak ke dalam dua buah cawan dan membawanya kembali kepada Kim-mo Taisu. Mereka lalu minum arak bersama sambil berangkulan dan tertawa-tawa. Dua orang aneh di dunia kang-ouw bertemu dan kecocokan watak mereka mendatangkan kegembiraan sementara.

Saking gembira, mereka tidak melihat bahwa seorang anak laki-laki melihat dan mendengar percakapan mereka. Anak ini Bu Song dan mendengar bahwa kakek itu adalah Pat-jiu Sin-ong, wajahnya berubah. Kiranya orang tua itu adalah kakeknya sendiri! Tentu saja ia sudah mendengar penuturan kedua orang tuanya tentang kakeknya, Ketua Beng-kauw yang berjuluk Pat-jiu Sin-ong bernama Liu Gan. Dan sekarang kakeknya berada di sini, kalau mengenalnya sebagai putera ibunya, tentu akan membawanya ke selatan! Menurutkan kata hatinya Bu Song sudah ingin berlari pergi meninggalkan tempat itu, akan tetapi ia teringat akan gurunya yang lapar, maka ia lalu menurunkan buntalan pundi-pundi uang berikut apel, dengan hati-hati dan perlahan ia meletakkan buntalan itu ke atas tanah, kemudian berindap-indap sambil menoleh memandang kedua orang yang masih minum sambil tertawa-tawa, pergi dari tempat itu. Dua butir air mata menghias pipinya ketika ia teringat akan ucapan kakeknya tentang ibunya. Setelah dua orang itu tidak tampak lagi. Bu Song lalu pergi secepatnya.

Setelah arak yang diminum habis, Pat-jiu Sin-ong melepaskan rangkulannya, melempar cawan kosong ke bawah lalu berkata. “Kim-mo Taisu, sekarang kau bersiaplah, mari kita mengadu kepandaian!”

Kim-mo Taisu menghela napas, melemparkan cawan kosongnya pula ke atas tanah. “Pat-jiu Sin-ong, apa pula ini? Kau tahu bahwa aku takkan bisa mengalahkanmu, dan pula, aku pun tidak ada nafsu untuk bertempur denganmu. Tidak ada alasan bagiku maupun bagimu untuk saling serang.”

“Ha-ha-ha, tidak ada alasan katamu? Akulah yang membuat engkau terjungkal ke dalam jurang. Nah, sekarang tiba saatnya kau harus membalas dan aku bersedia melayanimu untuk membayar hutang. Aku yang membuatmu menjadi seperti ini, tak usah kau pura-pura, seorang laki-laki harus berani menghadapi kenyataan!”

Akan tetapi Kim-mo Taisu menggeleng kepala. “Kenyataannya bukan seperti yang kaukira. Aku tidak mendendam kepadamu. Bukan kau yang merobohkan aku beberapa tahun yang lalu. Dan aku tahu bahwa kau tidak mempunyai niat buruk, dahulu maupun sekarang Pat-jiu Sin-ong, kau seorang laki-laki sejati dan aku tidak suka bermusuhan denganmu.”

“Eh-eh!” Pat-jiu Sin-ong Liu Gan mencela dengan suara kecewa. “Siapa bilang tidak ada alasan? Bertahun-tahun aku tak pernah bertemu lawan tangguh, tanganku gatal-gatal. Kalau kau tidak mendendam kepadaku, sebaliknya akulah yang mendendam padamu dan sekarang kau harus membereskan hutangmu kepadaku!”

Berkerut alis Kim-mo Taisu. “Hem, hem…! Kalau begini lagi. Katakan, aku berhutang apa kepadamu? Kalau memang berhutang, tentu saja akan kubayar.”

“Ha-ha-ha, kau masih berpura? Aku kehilangan anak, aku menderita karena anak. Semua ini gara-gara engkau dahulu menolaknya. Aku baik-baik menyerahkan dia kepadamu, akan tetapi kau tidak mencintanya dan tidak mau menjadi suaminya maka timbul urusan seperti sekarang ini. Andaikata dahulu kau suka memperisteri dia, tentu kita semua akan hidup bahagia. Nah, penghinaanmu itu bukankah hutang besar?”

Tertusuk hati Kim-mo Taisu mendengar ini. Bukan dia yang menolak, melainkan Liu Lu Sian. Dia mencinta Lu Sian, akan tetapi Lu Sian tidak mencintanya! Akan tetapi sebagai laki-laki, tentu saja ia malu untuk mengaku terus terang akan hal ini kepada Pat-jiu Sin-ong. Pula, ia pun ingin sekali memperlihatkan kepandaiannya. Kalau dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu, tingkatnya telah maju amat jauh. Kalau sebelum masuk ke Neraka Bumi saja ia sudah sanggup menandingi Pat-jiu Sin-ong, agaknya sekarang ia akan mampu merobohkan kakek sakti ini secara mudah. Dan ia pun sudah lama tidak berlatih melawan seorang lawan yang tangguh sedangkan sekarang tiba kesempatan yang amat baik.

mulailah!”

Wajah kakek itu berseri girang. “Kepandaianku sudah maju pesat, orang muda, kau waspadalah!” Tiba-tiba ia memekik keras sekali dan tubuhnya bergerak ke depan, jubahnya yang leber itu berkibar mendatangkan angin yang dahsyat.

Kim-mo Taisu kagum. Pekikan itu mengandung tenaga khi-kang yang hebat sekali dan seandainya ia tidak mengalami latihan luar biasa di Neraka Bumi, oleh daya pekik ini saja ia tentu sudah kendor semangat. Cepat ia menggeser kakinya miringkan tubuh mengelak ke kiri sambil terus menghantamkan tangan kanannya dengan bantingan lengan dan tangan terbuka, serangan yang kelihatannya bertahan saja akan tetapi sebetulnya hebat bukan main karena ia telah mempergunakan Ilmu Silat Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti).

“Beng-kauwcu, awas serangan balasan!” Pat-jiu Sin-ong melihat datangnya serangan tanpa didahului angin pukulan akan tetapi telah terasa hawa amat dinginnya, menjadi terkejut dan cepat-cepat ia pun mengelak sambil melompat ke kanan.

“Bagus, kau hebat!” katanya sambil menerjang lagi. Bertandinglah dua orang sakti itu, mula-mula hanya dengan jurus satu-satu dan lambat, akan tetapi makin lama makin cepat dan kuatlah gerakan mereka sehingga tubuh mereka lenyap tak tampak lagi, yang kelihatan hanya gundukan bayangan mereka yang sudah bercampur menjadi satu dan sukar dibedakan.

Sejam sudah mereka bertanding. Keduanya merasa kagum bukan main akan kemajuan lawan. Sepasang lengan sudah terasa sakit-sakit karena sering beradu, namun belum pernah pukulan mereka mengenai sasaran. Kim-mo Taisu selain kagum juga mulai bosan dan kuatir. Kalau dilanjutkan, tentu seorang di antara mereka akan terluka hebat. Ia tidak ingin melukai orang tua itu, dan tentu saja tidak ingin dilukai, akan tetapi ia mengenal pula tabiat Pat-jiu Sin-ong yang gemar bertanding, sukar untuk dihentikan begitu saja. Pada saat Kim-mo Taisu memutar otak mencari jalan untuk menghentikan pertandingan ini, tiba-tiba Pat-jiu Sin-ong menyerang dengan pukulan kedua tangan berbareng sambil merendahkan tubuh, kedua kaki ditekuk dan kedua lengan dilonjorkan dengan jari-jari tangan terbuka, menghantam ke arah dada Kim-mo Taisu.

Jangan disangka ringan pukulan Ketua Beng-kauwcu ini. Tubuhnya yang setengah berjongkok itu dalam posisi pengumpulan tenaga dari pusat bawah perut yang meluncur keluar melalui kedua lengan yang dilonjorkan. Dengan pukulan simpanan Beng-kong-tong-te (Sinar Terang Menggetarkan Bumi) ini, dalam jarak lima meter, Ketua Beng-kauw ini sanggup merobohkan sebatang pohon hanya dengan hawa pukulannya. Inilah sebuah di antara jurus-jurus rahasia yang tak pernah ia keluarkan, yang kesemuanya ia himpun dan catat dalam kumpulan tiga kitab rahasia Sam-po-cin-keng (Tiga Kitab Pusaka) dan yang kesemuanya kini lenyap dicuri puterinya sendiri! Pukulan Beng-kong-tong-tee ini adalah ciptaannya sendiri dan merupakan pukulan yang ia banggakan, oleh karena itu ia beri nama sebagai lambang daripada Agama Beng-kauw (Agama Terang) yang ia pimpin. Jurus ini demikian hebat dan gemilang

seakan-akan Agama Beng-kauw yang merupakan sinar terang menggetarkan bumi. Karena ingin sekali memperoleh kemenangan atas lawannya yang amat tangguh ini, Pat-jiu Sin-ong mengeluarkan pukulan itu akan tetapi oleh karena ia diam-diam memang menaruh sayang kepada Kim-mo Taisu dan tidak ingin mencelakainya, maka ia hanya mempergunakan tiga perempat bagian saja dari tenaga sin-kangnya.

Menyaksikan gerak pukulan lawan, terkejutlah Kim-mo Taisu. Sebagai seorang ahli silat tingkat tinggi, sekali pandang saja dapatlah ia mengenal pukulan ampuh, maka ia pun cepat-cepat memasang kuda-kuda dan dengan kaki terpentang kokoh dan kuat dan kedua lengannya pun ia hantamkan ke depan dengan tangan terbuka. Tak berani ia mempergunakan tangan kapas lagi, karena maklum bahwa kedua tangan lawannya amatlah kuat dan berbahaya, maka ia juga mengerahkan sin-kangnya untuk melawan keras sama keras.

“Wuuuttt! Dess…!!” Jarak antara mereka dekat, maka dua pasang telapak tangan itu bertemu di udara, hebatnya bukan main pertemuan dua tenaga sin-kang kedua orang sakti ini. Akibatnya pun hebat karena keduanya terlempar ke belakang dan terhuyung-huyung seperti layang-layang putus talinya sampai mereka terpisah sepuluh meter jauhnya. Kim-mo Taisu jatuh terduduk, napasnya terengah-engah dan ia cepat bersila dan mengatur pernapasannya. Pat-jiu Sin-ong juga jatuh terduduk, dari mulutnya tersembur keluar sedikit darah segar. Untung bagi Ketua Beng-kauw ini bahwa Kim-mo Taisu juga mempergunakan tiga perempat tenaganya saja untuk menghadapi pukulannya tadi, dan karena tenaga mereka memang seimbang, maka keduanya tidak sampai menderita luka dalam. Hanya Pat-jiu Sin-ong lebih rugi karena dia yang menyerang, maka benturan tenaga seimbang itu membuat tenaga serangannya membalik sendiri dan membuat ia menderita lebih banyak daripada lawannya. Dalam penggunaan tenaga dalam, tenaga dan napas, tidak sampai lima menit keduanya sudah melompat bangun.

“Ha-ha-ha, kau hebat, Kim-mo Taisu. Akan tetapi aku masih belum kalah. Hayo kita lanjutkan!” Kata-kata ini diucapkan dengan wajah berseri, tanda bahwa kakek itu girang dan puas sekali dapat bertanding dengan seseorang lawan yang dapat menandinginya.

Akan tetapi Kim-mo Taisu tidak punya nafsu lagi bermain-main dengan kakek itu. “Cukuplah, Kauwcu. Aku harus menyimpan tenaga karena akan menghadapi lawan yang lebih tangguh daripadamu di puncak ini besok. Lain kali saja kita lanjutkan.”

Biarpun sudah tua, watak Pat-jiu Sin-ong yang tak mau kalah itu masih tetap ada. Mendengar ada lawan yang lebih tangguh daripadanya, ia menjadi penasaran sekali. “Hemm, siapakah dia yang kaukatakan lebih tangguh daripada aku?”

Kim-mo Taisu tersenyum. Memang ia cukup mengenal watak kakek ini maka tadi ia sengaja bilang demikian agar Si Kakek mau berhenti. “Dia seorang tokoh baru, masih muda, agaknya kau belum mengenalnya, julukannya Raja Pengemis yang menguasai seluruh kai-pang di empat penjuru.”

“Hemm, hemm ada kai-ong baru, ya? Ingin sekali aku melihat macamnya bagaimana. Kau hendak bertanding dengannya? Ha-ha-ha, Kim-mo Taisu, kalau kau kalah olehnya kemudian aku mengalahkannya, bukankah itu sama saja dengan pertandingan kita dilanjutkan? Ha-ha, kita lihat saja nanti!” Sambil tertawa-tawa Pat-jiu Sin-ong lalu berjalan menghampiri keledainya, sekali kaki kanannya diayun ke atas ia sudah duduk di punggung keledai kecil itu dan berlarilah si keledai ketika mendengar kelenengan yang dibunyikan oleh penunggangnya.

Setelah bunyi itu kelenengan itu lenyap dan bayangan Pat-jiu Sin-ong tak tampak lagi, barulah Kim-mo Taisu sadar dari lamunannya. Perjumpaannya dengan kakek itu sekaligus membangkitkan ingatannya kepada Lu Sian. Jadi Lu Sian telah menikah dengan Kam Si Ek, jenderal muda yang amat terkenal itu? Jodoh yang tepat! Akan tetapi mengapa Lu Sian kemudian meninggalkan suaminya? Bukan urusannya semua itu, namun sukar baginya untuk tidak memikirkannya. Ia mengeluh dan membalikkan tubuh. Tampaklah buntalan pundi-pundi uang, akan tetapi ia tidak melihat Bu Song. Baru sekarang ia teringat kepada Bu Song.

“Bu Song!” Ia memanggil. Tiada jawaban. Ia menyambar buntalan dan melihat bahwa di dalamnya ada beberapa buah apel, ia makin heran. Anak itu telah berhasil mencarikan buah untuknya, menaruh dalam bungkusan, mengapa lalu pergi? Dan ke mana perginya?

“Bu Song….!” Ia berseru lebih keras. Tetap tak ada jawaban. Tidak enaklah hatinya dan mulai ia mencari-cari sambil berseru memanggil-manggil nama muridnya.

Ke manakah perginya Bu Song? Anak ini setelah mendengar bahwa orang tua yang bercakap-cakap dengan gurunya itu adalah kakeknya, meninggalkan tempat itu sambil berlari-lari cepat. Ia berlari-lari terus tanpa tujuan tertentu, naik turun pegunungan. Kakinya sudah lelah bukan main namun ia tidak mau berhenti. Akhirnya dari puncak sebuah bukit kecil ia melihat atap rumah di lereng bawah. Ia berlari lagi menuruni puncak dan akhirnya karena tak dapat menahan lelahnya, ia roboh terguling di luar pagar rumah yang berdiri tanpa tetangga di lereng itu. Sebuah rumah yang sederhana, dari papan, namun bersih dan cukup luas.

Bu Song merangkak bangun, memandang ke arah rumah itu. Dari bagian belakang rumah tampak asap mengepul dan terciumlah bau masakan yang gurih dan sedap. Seketika perut Bu Song meronta-ronta dan anak ini menelan ludah beberapa kali. Untuk dapat ikut makan masakan di rumah ini, ia harus membantu pemilik rumah bekerja, seperti yang sudah-sudah. Tanpa ragu-ragu lagi ia lalu memasuki pekarangan rumah.

“Haiii! Bocah, siapa kau dan mau apa?” Tiba-tiba terdengar bentakan keras dan tahu-tahu di belakangnya berdiri seorang kakek yang dahinya lebar sekali, mukanya berkeriput dan memegang

sebatang tongkat. Bu Song tersentak kaget. Tadi di pekarangan itu sama sekali tidak tampak ada orang, bagaimana kakek ini tiba-tiba muncul seperti keluar dari dalam bumi?

“Maafkan aku, kek. Aku ingin membantu pemilik rumah ini dengan pekerjaan apa saja, sekedar mendapat upah makan.” Katanya sambil menjura dengan hormat.

Kakek itu memandang kepadanya. Matanya menakutkan, mata yang bundar dan lebar setengah melotot, mulutnya yang ompong itu berkemak-kemik. “Kau akan mengemis makanan?”

Kini Bu Song yang mengedikkan mukanya dan pandang mata anak ini tajam melotot pula. “Aku bukan pengemis! Aku mau bekerja, dan kalau tidak diberi pekerjaan, aku pun tidak sudi minta makanan! Kalau di sini tidak ada pekerjaan, sudahlah!” Dengan membusungkan dada Bu Song sudah memutar tubuh hendak keluar dari pekarangan itu. Akan tetapi tiba-tiba kakinya seperti tertarik sesuatu sehingga ia terguling jatuh. Ketika Bu Song merayap bangun, kakek itu sudah berada di dekatnya dan tersenyum mengejek.

“Bocah, tinggi hati sekali kau! Kalau cara orang minta pekerjaan semacam caramu ini, selamanya kau takkan bisa mendapat pekerjaan. Kau bisa apa? Hemm, tubuhmu kuat, apa kau bisa mengambil air dari sumber di puncak itu dipikul ke sini? Kalau kau sanggup, akan kami beri makan sekarang juga.”

Girang sekali hati Bu Song. Ia tadi secara aneh terguling roboh, akan tetapi ia tidak mengira sama sekali bahwa kakek inilah yang merobohkannya.

“Tentu saja aku sanggup, Kek. Akan kupenuhi semua tempat air di sini.” “Tak perlu omong besar lebih dulu, sebaiknya isi perutmu sampai kenyang agar kau kuat mengambil air. Mari ikut ke dapur!”

Di bagian dapur rumah itu, Bu Song bertemu dua orang lain. Seorang adalah wanita setengah tua, yang ke dua seorang kakek pula yang tubuhnya tinggi besar dan tubuh bagian atas selalu tak tertutup pakaian. Adapun yang wanita selalu cemberut, tak banyak cakap akan tetapi sikapnya galak sekali, berbeda dengan kakek tinggi besar yang selalu tersenyum dan sering tertawa berkelakar.

“Heh, A-kwi, jenggot kambing! Kau datang membawa anak kelaparan lagi?” tegur Si Tanpa Baju kepada kakek pertama.

ingin bekerja membantu kita. Aku tadi mengira dia pengemis, dia marah-marah dan hendak pergi. Ia tidak sudi diberi makanan kalau tidak diberi pekerjaan. Pernahkah kau mendengar hal seaneh ini?”

Kakek yang bernama A-liong itu memandang tajam, juga Si Nenek berpaling memandang. “Sam-hwa, kau isilah padat-padat perut anak ini lebih dulu, baru suruh dia mencari air ke puncak. Ia berkata sanggup memenuhi semua tempat air di sini. Lucu, kan?”

Nenek yang disebut Sam-hwa itu mengerutkan kening dan diam-diam Bu Song sudah merasa kecewa mengapa ia tadi minta pekerjaan di tempat ini. Agaknya orang serumah tidak ada yang waras!

“Kaumakanlah dan ambil sendiri di atas meja itu.” Kata Si Nenek tak acuh. Karena yakin bahwa yang akan dimakannya itu adalah hasil keringatnya nanti, tanpa malu-malu atau ragu-ragu lagi Bu Song menghampiri meja dan melihat nasi dan masakan-masakan masih mengebulkan asap, perutnya makin memberontak lagi. Ia segera mengambil mangkok kosong dan mengisinya dengan nasi dan masakan, lalu mulai makan dengan lahapnya. Lezat benar masakan itu, sungguhpun bahannya sangat sederhana. Bu Song adalah seorang anak yang sehat dan telah lama ia tidak bertemu nasi, setiap hari hanya makan buah-buahan saja, maka kini ia kuat sekali makan. Setelah ia menaruh mangkok kosong dan berhenti makan, persediaan nasi di tempat nasi tinggal setengahnya lagi!

“Ho-ho-ha-ha-hah!” Malam ini kita berpuasa, A-kwi!” kata A-liong sambil tertawa berkakakan, perutnya yang tak tertutup baju itu berguncang-guncang.

“Bocah ini kuat sekali makan, mudah-mudahan bekerjanya sekuat itu pula.” Kata A-kwi sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Sam-hwa muncul dari pintu. Melirik ke arah tempat nasi, ia pun mengerutkan kening dan bertukar pandang dengan dua orang kakek itu. “Apakah kau tidak sembrono, A-kwi? biar dia kuberi buah. Anak, mari terima!” Ia melemparkan sebutir buah merah ke arah Bu Song. Anak ini cepat menyambutnya, akan tetapi ia berteriak kaget karena buah yang hanya sebesar kepalan tangannya itu terasa amat berat ketika ia sambut sehingga tanpa dapat ia pertahankan lagi ia roboh terjengkang. Akan tetapi begitu korban roboh, buah itu ternyata biasa saja, sama sekali tidak berat. Ia tak pernah belajar ilmu silat, tentu saja sama sekali tidak tahu bahwa yang membuat berat buah tadi menjadi berat adalah tenaga lontaran Si Nenek yang hendak mengujinya.

Melihat dia roboh terjengkang, nenek itu dan kedua kakek menarik napas lega. A-kwi lalu menarik tangan Bu Song keluar dapur. “Hayo, mulai bekerja. Itu tahang air dan pikulannya bawa keluar.”

Bu Song dapat merasa betapa tangan kakek yang menariknya itu kuat bukan main. Akan tetapi karena ia sudah menerima upahnya, ia tidak mau membantah lagi dan segera mengambil pikulan bersama tahang air dari kayu yang terletak di sudut rumah.

“Kek, mengapa pikulannya begini kecil? Jangan-jangan tidak kuat menahan dua tahang air.” Celanya sambil mengamat-amati kayu pikulan yang kecil berwarna putih. “Oho, jangan pandang rendah kayu ini. Sepuluh tahang air ia masih sanggup angkat tanpa patah! Mari kutunjukkan kepadamu letak sumber air di puncak.” Mereka berjalan keluar.

Mendadak berkelebat bayangan dari luar pekarangan dan alangkah kaget hati Bu Song ketika tiba-tiba ia melihat seorang kakek tua renta yang rambutnya riap-riapan seperti suhunya, seorang kakek yang kedua kakinya rusak, ditekuk bersila sedangkan dua batang tongkat yang menunjang ketiaknya menggantikan pekerjaan sepasang kaki.

“Siapa dia?” suara kakek lumpuh ini parau menyakitkan telinga. A-kwi sudah memberi hormat dengan membungkuk dalam sekali sampai punggungnya hampir patah dua, “Ong-ya, dia anak yang bekerja mengambil air.”

Kakek itu mengangguk-angguk, akan tetapi matanya menyapu tubuh Bu Song dari atas ke bawah. “Siapa namamu?” “Nama saya Bu Song, Kek.” “Hushh, jangan kurang ajar!” A-kwi menjiwir telinga Bu Song. “Kau harus sebut Ong-ya!”

Bu Song mengerutkan keningnya. Daun telinganya terasa panas dan nyeri. Ia mengangkat muka memperhatikan kakek lumpuh. Kakek yang tua sekali, pakaiannya dan rambutnya kusut tidak karuan, masa disebut ong-ya? Sebutan seolah-olah kakek ini seorang raja muda. Bu Song yang banyak membaca tahu akan peraturan, maka ia menduga-duga. Tak mungkin orang macam ini menjadi raja muda. Ah, tentu seorang kepala rampok, pikirnya. Sudah menjadi kebiasaan umum bahwa kepala perampok juga disebut Twa-ong! Akan tetapi, menjadi kepala rampok juga tidak pantas. Masa kakek lumpuh menjadi kepala rampok? Karena kakek lumpuh ini tak mungkin menjadi raja muda maupun kepala rampok, maka Bu Song ragu-ragu dan tidak mau menyebut Ong-ya!

“Sudahlah, A-kwi, yang tidak tahu tak perlu dipaksa. Di mana Nyonya Muda?” “Pagi tadi Nyonya Muda bersama Nona Kecil keluar berkuda, mungkin seperti biasa berburu kelinci.” “Hemmm, kau keluar cari mereka, suruh pulang ada urusan penting.” “Baiklah, Ong-ya.”

Kakek lumpuh itu menggerakkan tongkatnya dan… sekali berkelebat bayangannya lenyap ke dalam rumah. Bu Song melongo dan bulu kuduknya meremang. Kakek itu seolah-olah pandai terbang atau pandai menghilang saja. Ah, kalau begitu tentulah kepala rampok, biarpun tua dan lumpuh namun agaknya pandai sekali ilmunya. Ia merasa menyesal sekali. Bekerja di keluarga perampok! Celaka, kalau

ia tahu, biar diupah lebih banyak lagi ia tidak akan sudi. Akan tetapi, nasi sudah masuk ke dalam perut, dan ia harus bekerja melunasi hutangnya.

“Nah, di puncak bukit itu terdapat sumber air. Lihat pohon besar itu? Di bawah pohon itulah letaknya, lekas kau pergi ke sana mengisi kedua tahang ini, bawa ke sini dan terus saja ke dapur, A-liong dan Sam-hwa akan memberi tahu ke mana kau harus menuangkan air. Kerja yang baik, aku mau pergi!” Setelah berkata demikian, kakek yang bernama A-kwi itu meloncat dan sebentar kemudian nampak bayangannya sudah jauh sekali seakan-akan ia lari setengah terbang.

Bu Song menghela napas panjang. Hebat, pikirnya. Orang-orang ini berkepandaian tinggi dan tanpa ia sengaja, ia agaknya telah terjatuh ke dalam tangan segerombolan perampok dan harus bekerja untuk mereka. Ia akan melakukan pekerjaannya cepat-cepat, memenuhi tempat air dan, kemudian segera meninggalkan tempat ini. Dengan penuh semangat Bu Song lalu mendaki bukit menuju ke sumber air. Perjalanannya sukar, namun ia telah terlatih menghadapi kesukaran. Air jernih mengucur keluar dari sebuah guha kecil, membentuk kolam air yang tak pernah kering. Segera Bu Song mengisi dua tahang air itu dan ketika ia memikulnya, benar saja, kayu pikulan itu dapat menahan dua tahang air, bahkan kayu ini mentul-mentul sehingga enak dipakai memikul. Hati-hati ia lalu meninggalkan tempat itu, menuruni puncak menuju ke rumah di bawah yang tampak dari tempat itu.

Dahinya penuh peluh ketika ia tiba di dapur rumah. A-liong menyambutnya sambil tertawa-tawa. “Latihan ini menguntungkan, tidak rugi kau, apalagi ditambah setengah bagian nasi ransum kami, ha-ha-ha! Nah, tuangkan air ke dalam kolam itu.”

Kaget sekali hati Bu Song melihat kolam air yang amat besar, terbuat dari pada batu. Untuk memenuhi kolam ini, sedikitnya ia harus mengambil air sepuluh kali! Celaka benar, ia tertipu. Akan tetapi apa boleh buat, nasi sudah memasuki perut, ia harus memenuhi janjinya. Hatinya mendongkol bukan main atas kekejaman orang-orang tua ini menipu dia, akan tetapi mulutnya tidak berkata apa-apa. Setelah kedua tahang air berpindah tempat, ia lalu mendaki lagi.

Menjelang senja, sudah sembilan kali ia mengambil air. Pundaknya serasa hendak copot, kedua kakinya seperti hendak lumpuh, tubuhnya sakit dan kelelahan yang dideritanya hebat sekali. Akan tetapi sekali lagi, kolam itu akan penuh. Ia sudah bekerja setengah hari untuk menebus hutang perutnya tadi!

“Ha-ha-ha, anak baik. Kejujuran dan kekerasan hatimu menciptakan keuletan yang luar biasa. Kau hampir lulus, tinggal satu kali lagi. Sebentar akan kuceritakan kepada Nyonya Muda, tentu ia tertarik dan menaruh kasihan kepadamu.”

Dengan wajah muram Bu Song hanya menjawab pendek. “Aku tidak membutuhkan kasihan orang!” Lalu ia membawa pikulan kosong mendaki bukit lagi, memaksa tubuhnya untuk berjalan gagah, akan tetapi karena memang sudah amat lelah, mana bisa ia berjalan dengan langkah tegap? Ia terhuyung-huyung dan kedua kakinya tersaruk-saruk. Hebatnya, A-liong malah menertawainya, membuat

ia makin jenkel dan desakan hatinya untuk beristirahat ia tekan kuat-kuat.

Untuk ke sepuluh dan penghabisan kalinya ia tiba di bawah pohon besar, mengisi kedua tahang itu penuh air. Biarpun masih kecil, Bu Song maklum bahwa sekali ia beristirahat menurutkan dorongan hatinya, ia takkan mampu menyelesaikan pekerjaannya. Maka ia memaksa diri dan memikul lagi pikulannya yang kini ia rasakan bukan main beratnya, seakan-akan bukan dua tahang air yang dipikulnya, melainkan dua puluh!

Baru ia menuruni tebing pertama, tiba-tiba ia mendengar suara orang. Wajahnya berubah dan ia cepat-cepat menghampiri tempat itu dengan hati-hati sekali, sejenak lupa akan kelelahan kedua kakinya. Itulah suara gurunya! Suara gurunya tertawa-tawa bergelak! Karena takut kalau-kalau Pat-jiu Sin-ong masih bersama gurunya. Bu Song tidak berani muncul begitu saja. Ia mengintai dari balik batu karang besar dan melihat betapa gurunya berdiri sambil bertolak pinggang dan tertawa di depan tiga orang laki-laki. Seorang di antara mereka bermuka bopeng penuh totol-totol hitam orang yang berdiri di tengah memakai pakaian tambal-tambalan, dan orang ketiga bermuka sempit seperti tikus.

“Ha-ha-ha-ha! Kai-ong, aku sudah menduga bahwa kau tentu akan menyambutku dengan meriah, memanggil semua sekutumu. Tak bisa mengharapkan sifat jantan dari seorang pengemis. Akan tetapi aku tidak takut, Kai-ong. Kerahkan semua sekutumu untuk menjadi saksi, siapa di antara kita yang lebih kuat. Apakah kau sudah siap?” demikian kata Kim-mo Taisu.

Pouw Kee Lui atau Pouw-kai-ong tersenyum menyeringai. “Kim-mo Taisu, kau sombong benar. Memang sahabat-sahabat baikku ikut datang karena mereka ini pun tertarik sekali mendengar bahwa kau datang. Telah lama mereka mendengar namamu dan ingin sekali menyaksikan apakan nama besarmu itu tidak sia-sia belaka. Sahabatku ini adalah Hwa-bin-liong (Naga Muka Kembang) dari pantai timur, raja sekalian penjaga gunung (perampok).” Ia menunjuk seorang sebelah kanannya yang bermuka bopeng. “Sahabat yang seorang ini adalah Sin-ciang-hai-ma (Kuda Laut Bertangan Sakti), juga tokoh pantai timur, raja daripada bajak. Masih ada beberapa orang sahabat baikku yang akan datang menjumpaimu. Apakah kau takut?”

Bu Song mendengarkan semua itu dengan hati berdebar. Wah, gurunya telah bertemu orang-orang jahat, pikirnya. Pada saat itu, tiba-tiba telinga kanannya dijiwir orang, Bu Song kaget dan melirik. Kiranya kakek A-kwi yang menjiwirnya.

“Hayo pikul tahang air itu dan bereskan pekerjaanmu, pemalas!” bisik Si Kakek tanpa melepaskan telinga Bu Song. Bu Song kaget dan ia cepat bangkit lalu memikul pikulannya. Ia tidak takut, melainkan taat karena tahu akan kewajiban. Tinggal sekali lagi mengantar air, kemudian ia akan lari kembali ke sini menonton gurunya. Kakek A-kwi melirik ke arah mereka yang sedang bantah-bantahan, nampaknya gelisah dan menarik telinga Bu Song agar anak itu berjalan lebih cepat.

Setelah agak jauh dari situ, kakek itu mengomel. “Anak tolol, apakah kau mencari mampus? Banyak tontonan di dunia ini, akan tetapi yang ditonton adalah harimau yang hendak bertempur melawan srigala-srigala! Gila betul. Hayo cepat dan jangan sekali-sekali kau beristirahat sebelum kau sampai di rumah. Aku jalan lebih dulu!” sekali berkelebat kakek itu sudah meloncat jauh ke depan, dan Bu Song sambil mengeluh di dalam hatinya memaksa diri untuk berjalan pula menuruni bukit. Istirahat yang sebentar tadi benar-benar membuat kedua kakinya hampir tak dapat dipakai berjalan. Akan tetapi ia menggigit bibir, memaksa diri untuk cepat-cepat menyelesaikan tugasnya agar ia dapat kembali ke tempat itu untuk menjumpai gurunya.

Sementara itu, Kim-mo Taisu masih tertawa bergelak mendengar ucapan Pouw-kai-ong. “Ha-ha-ha, segala rampok dan bajak. Pantas menjadi sahabat pengemis. Akan tetapi aku tidak punya urusan dengan segala macam rampok dan bajak. Aku sengaja datang untuk mengulangi tantanganku kepadamu, Kai-ong. Mari kita mulai!”

Ucapan itu merupakan penghinaan hebat bagi tokoh bajak dan tokoh rampok itu. Si Muka Bopeng Hwa-bin-liong sudah melangkah maju, diikuti oleh Si Kuda Laut. Mereka ini belum tua, paling banyak berusia empat puluh tahun. Begitu tiba di depan Kim-mo Taosu, Hwa-bin-liong melolos sebatang golok besar yang terselip di punggungnya, adapun Si Kuda Laut mengeluarkan sebatang cambuk yang terbuat daripada ekor ikan pee. Keduanya berdiri dengan sikap menantang.

“San-ong (Raja Gunung), biarkan aku menghadapi jembel kelaparan yang sombong ini!” kata Si Tokoh Bajak yang menyebut temannya raja gunung, cambuk ikan pee di tangannya digerak-gerakkan di atas kepala sehingga terdengar suara bersiutan mengerikan. Ekor ikan pee itu penuh duri-duri yang runcing, kalau sekali mengenai kulit tubuh manusia benar-benar akan mengakibatkan luka yang hebat. “Bersabarlah, Hai-ong (Raja Laut). Biarkan aku menghadapinya lebih dulu. He, Kim-mo Taisu. Aku sudah lama mendengar namamu yang baru muncul, dan dengan maksud baik aku ingin sekali berkenalan dan menyaksikan kelihaianmu. Siapa kira, kau begini sombong dan tidak memandang orang lain. Keluarkan senjatamu, biar aku Hwa-bin-liong mencoba sampai di mana kehebatanmu maka kau bersikap sesombong ini!”

“Ha-ha-ha-ha, raja pengemis dibantu oleh raja laut dan raja gunung, benar-benar hebat! Segala macam raja sudah berkumpul di sini, biarlah kuantar kalian menghadap raja akhirat!”

Tentu saja kedua orang raja penjahat itu menjadi marah sekali. Hwa-bin-liong Si Muka Bopeng yang sudah bertahun-tahun merajalela di hutan-hutan dan gunung-gunung, menjadi raja dari sekalian kecu dan rampok, baru kali ini merasa dipandang rendah orang. Ia membentak marah dan tanpa menanti lawan mengeluarkan senjata, ia sudah menyambar ke depan dan golok besarnya diayun mengarah leher Kim-mo Taisu.

“Wuttt… syuuuutttt! Tringgg…! !” Kim-mo Taisu yang melihat datangnya golok berkelebat, tidak mengelak malah menggerakkan tangannya, dengan jari tengah tangan kanan ia menyentil golok lawan yang sedang terbang mengarah lehernya itu. Hebatlah tenaga sentilan dari Kim-mo Taisu ini, karena

hampir saja golok itu terlepas dari pegangan Si Muka Bopeng, bahkan raja gunung itu terhuyung-huyung hampir roboh!

Marahlah Si Raja Laut melihat kawannya mendapat malu. Senjatanya ekor ikan pee yang menyeramkan itu melecut di udara, mengeluarkan bunyi “swing-swing-swing…!” dan berkelebatan diputar-putar di atas kepalanya lalu menyambar bertubi-tubi ke arah Kim-mo Taisu. Pendekar sakti ini tidak berani bertindak sembrono. Ia belum tahu bagaimana sifat senjata lawan yang aneh ini, maka beberapa kali mengelak.

Gerakannya perlahan dan lambat saja, akan tetapi tak pernah senjata ekor ikan pee itu dapat menyentuh kulitnya. Setelah mempergunakan hidungnya mencium-cium di kala senjata itu lewat, Kim-mo Taisu yakin bahwa senjata ini hanya mengerikan tampaknya, akan tetapi tidak mengandung racun berbahaya, maka sambil mengelak daripada tusukan golok Si Raja Gunung yang sudah mengeroyoknya, Kim-mo Taisu menyambar ekor ikan pee itu dan menjepit ujungnya dengan dua jari tangan kiri! Ia menggunakan tenaga membetot sehingga ekor ikan pee itu menegang, kemudian pada saat Si Raja Gunung Hwa-bin-liong dengan girang menyerangnya dari belakang, tiba-tiba ia mengerahkan tenaga betotan dan… melayanglah cambuk ekor ikan pee itu ke arah penyerang di belakangnya. Hwa-bin-liong berteriak kesakitan, Kim-mo Taisu cepat membalik, sekali merenggut ia berhasil menyambar golok lawan yang terluka itu dan di lain saat golok itu sudah terbang dan menancap pada paha raja laut yang masih terlongong karena senjatanya tadi kena dirampas lawan. Ia terguling dalam saat hampir berbareng dengan raja gunung, masing-masing terluka oleh senjata kawan sendiri. Luka yang tidak membahayakan keselamatan nyawa, namun cukup hebat untuk membuat mereka tak mampu bertempur lagi dan harus beristirahat untuk beberapa pekan!

Tanpa mempedulikan lagi mereka berdua yang kini merangkak-rangkak menjauhkan diri dari itu, Kim-mo Taisu menghampiri Pouw-kai-ong, memandang tajam dan berkata, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai urusan dengan segala rampok dan bajak. Mengapa kau mendatangkan penjahat-penjahat macam begitu untuk menggangu pertemuan kita? Segala macam penjahat kecil yang tidak ada artinya, memuakkan saja!”

Pouw Kee Lui tersenyum menyeringai. “Kim-mo Taisu, jangan buru-buru merasa tekebur dan bangga. Masih ada beberapa orang sahabat yang ingin sekali bertemu denganmu.” Setelah berkata demikian, Pouw Kee Lui lalu membalikkan tubuh, menjura dan memberi hormat sambil berkata, “Cu-wi Locianpwe, harap sudi memperlihatkan diri!”

Dari balik pohon dan batu besar bermunculan beberapa orang dan dapat dibayangan betapa heran dan kagetnya hati Kim-mo Taisu melihat mereka. Di antaranya banyak yang ia kenal sebagai tokoh-tokoh sakti yang pernah menjadi lawannya, yaitu Ban-pi Lo-cia pendeta gundul raksasa, musuh lamanya yang memang ia cari untuk membalaskan kematian bekas kekasihnya, Ang-siauw-hwa Si Ratu Pelacur! Orang ke dua yang dikenalnya bukan lain adalah Ma Thai Kun, sute (adik seperguruan) Beng-kauwcu Pat-jiu Sin-ong Liu Gan yang pernah bermusuhan dengannya karena cemburu dan iri hati karena paman guru ini mencintai murid keponakannya sendiri, yaitu Liu Lu Sian. Ia maklum bahwa Ma Thai Kun membencinya seperti ia membenci Ban-pi Lo-cia dengan dasar yang sama, ialah, merenggut wanita terkasih. Selain dua orang yang merupakan tandingan berat ini, muncul pula tokoh-tokoh dunia pengemis yaitu Kim-tung Sin-yang dan Koi-tung Tiang-lo dari Sin-yang. Di dekat Ban-pi Lo-cia berdiri seorang laki-laki berusia

tiga puluh tahun lebih, sikapnya tenang dan serius, sikapnya gagah. Dia ini adalah Lauw Kiat, murid terkasih Ban-pi Lo-cia. Lauw Kiat ini seorang petualang dari selatan yang merantau ke utara, bertemu dan dikalahkan Ban-pi Lo-cia lalu menjadi muridnya, ilmu kepandaiannya cukup hebat, hanya setingkat lebih rendah dari pada tingkat suhengnya, yaitu Bayisan.

“Ha-ha, Kim-mo Taisu. Kurasa kau sudah mengenal mereka ini, bukan? Ataukah perlu aku memperkenalkan mereka kepadamu?”

Kim-mo Taisu tidak menjawab, akan tetapi Ban-pi Lo-cia tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Tak usah diperkenalkan, aku dan dia adalah kenalan lama. Kau adalah pemuda sastrawan yang tampan bernama Kwee Seng yang berjuluk Kim-mo-eng dan yang sekarang sudah bangkrut menjadi pengemis jembel gila lalu berjuluk Kim-mo Taisu. Ha-ha-ha. Kenalan lama!”

“Orang she Kwee ini dengan aku pun mempunyai perhitungan lama yang belum dibereskan, Pouw-pangcu.” Kata Ma Thai Kun yang tidak suka banyak bicara lalu maju menerjang Kim-mo Taisu dengan pukulan yang mengeluarkan sinar merah. Melihat tangan yang kemerahan itu, maklumlah Kim-mo Taisu bahwa Ma Thai Kun telah dapat menyempurnakan Ang-tok-ciang (Tangan Racun Merah) yang memang telah dimilikinya sejak dahulu. Namun, ketika ia mengelak, kagetlah ia karena dari kepalan tangan merah itu tampak uap mengepul putih yang seakan-akan menyambar mukanya dengan hawa pukulan yang amat hebat. Biarpun pukulan itu tidak mengenai sasaran, namun hawa pukulannya yang berupa uap putih itu masih merupakan ancaman hebat. Dengan kaget Kim-mo Taisu mencelat mundur dan mengatur sikap, karena lawannya ini ternyata telah maju amat pesat kepandaiannya. Memang sesungguhnya tepat dugaan Kim-mo Taisu itu. Kini Ma Thai Kun yang meninggalkan Beng-kauw, bertahun-tahun bertapa sambil menggembleng diri sehingga ia berhasil menyempurnakan Ang-tok-ciang sedemikian rupa dan merobahnya menjadi ilmu pukulan yang ia namakan Cui-beng-ciang, (Tangan Pengejar Nyawa)! Kembali Ma Thai Kun menerjang maju, dari kedua tangannya keluar hawa pukulan berputar-putar yang amat panas. Terpaksa kali ini Kwee Seng menggunakan Bian-sin-kun (Tangan Kapas Sakti) untuk menangkis karena selain tak mungkin menghadapi desakan lawan tangguh hanya dengan berkelit, juga ia ingin menguji kekuatan lawan.

Ketika kedua lengan bertemu, Ma Thai Kun kaget sekali karena merasa betapa tanaganya seperti tenggelam dan tangan lawan sedemikian lunaknya sehingga ilmunya Cui-beng-ciang tidak berpengaruh sedikit pun, sebaliknya ada hawa dingin yang menjalar dari tangannya sampai ke pangkal lengan. Oleh karena ini, cepat ia menarik tangannya, menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan. Hanya dengan cara ini ia dapat terbebas dari pengaruh Bian-sin-kun. Sambil melompat berdiri, diam-diam Ma Thai Kun juga maklum bahwa ilmu kepandaian Kwee Seng ternyata telah meningkat hebat. Maka ia bersikap hati-hati dan menyerang lagi dengan Cui-beng-ciang, ditujukan ke arah anggota tubuh yang berbahaya, tidak mau lagi bertanding mengadu tenaga seperti tadi.

cambuk di udara dan tampaklah gulungan sinar hitam yang membentuk lingkaran-lingkaran besar kecil melayang dari tangan Ban-pi Lo-cia. Itulah cambuknya yang hebat, yang terkenal sebagai senjata tunggalnya yang ampuh disebut Lui-kong-pian (Cambuk Petir), terbuat daripada sirip dan ekor ular laut hitam yang hanya dapat ditemukan di laut utara, di antara gunung-gunung es!

“Bagus! Kalian pengecut-pengecut besar boleh mengeroyokku!” Kim-mo Taisu tertawa mengejek dan berkelebat cepat menyelinap di antara garis-garis lingkaran yang dibentuk sinar cambuk, kemudian membalas lawan lama ini dengan sebuah tendangan kilat. Ketika Ban-pi Lo-cia menangkis tendangan ini dengan tangan kirinya, Kim-mo Taisu mempergunakan tenaga tangkisan lawan untuk mencelat ke arah Ma Thai Kun dan sudah mendahului orang she Ma ini dengan sebuah gerakan dari ilmu silat Lo-hai-kun (Pengacau Lautan). Demikian cepat dan tak terduga gerakannya ini sehingga biarpun Ma Thai Kun sudah cepat menangkis, namun pundaknya masih kena tampar, kelihatannya tidak keras namun cukup membuat Ma Thai Kun terlempat dan bergulingan sampai lima meter jauhnya! Namun Ma Thai Kun memiliki kekebalan, dan tenaga dalamnya sudah cukup kuat, maka ia dapat melompat bangun kembali sambil menerjang maju dengan kemarahan meluap-luap.

Pada saat itu, murid Ban-pi Lo-cia yang bernama Lauw Kiat sudah maju pula. Dia ini bersenjatakan sebuah tongkat dan gerakannya ternyata cukup hebat. Pemuda ini menerjang tanpa banyak suara, akan tetapi serangannya selain kuat juga sungguh-sungguh sehingga sekali gebrakan saja ia sudah mengirim serangan sampai tiga jurus. Kim-mo Taisu menggunakan ginkangnya menghindarkan diri dan ia belum sempat membalas pemuda she Lauw itu karena kini kedua orang ketua kai-pang sudah menerjangnya juga sehingga dalam sekejap mata ia sudah dikurung oleh lima orang lawan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali tentu saja Ban-pi Lo-cia dan Ma Thai Kun, Kim-mo Taisu maklum bahwa orang-orang pandai dan keadaannya berbahaya, namun seujung rambut pun ia tidak terjadi gentar. Sambil mengerakan gin-kangnya yang kini menanjak tinggi tingkatnya sejak ia berlatih di dalam Neraka Bumi, ia malah mengejek kepada Pouw Kee Lui yang masih berdiri menonton. Hatinya panas bukan main dan diam-diam ia kagum akan kecerdikan raja pengemis yang masih muda itu, yang dapat mengerahkan dan mempergunakan orang-orang pandai sedangkan dia sendiri enak-enak menonton.

“Aha, tikus busuk she Pouw yang mengaku raja pengemis, kiranya kau hanyalah raja pengecut yang mengandalkan kawan banyak!” ia terpaksa hanyalah raja pengecut yang mengandalkan kawan banyak!” Ia terpaksa berhenti untuk menangkis pukulan tongkat Lauw Kiat yang tak dapat ia elakkan. Tangkisan ini disertai tenaga dalam sehingga Lauw Kiat berteriak kaget dan terlempar sampai jauh bersama tongkatnya! Kemudian Kim-mo Taisu sudah berkelebat lagi menghindar dari sambaran cambuk Ban-pi Lo-cia, sambil mengelak kakinya mencongkel ke arah Koai-tung Tiang-lo. Orang tua yang menjadi ketua perkumpulan pengemis di Sin-yang dan sudah terjatuh ke dalam tangan Pouw-kai-ong ini berteriak kaget, roboh terguling-guling dan tak dapat berdiri lagi karena sambungan lutut kanannya terlepas!

“Ha-ha, Pouw-kai-ong, kau tidak berani menghadapi aku, bukan?” melihat betapa dikeroyok lima, lawannya itu masih dapat mengejeknya bahkan merobohkan Koai-tung Tiang-lo, diam-diam Pouw Kee Lui terkejut sekali. Ia maklum bahwa Kim-mo Taisu memang lihai, akan tetapi tidak mengira akan dapat menghadapi pengeroyokan orang-orang sakti seperti Ban-pi Lo-cia dan yang lain-lain itu.

“Kim-mo Taisu, kematian sudah di depan mata masih berani mengoceh!” Teriak si Raja Pengemis dan cepat ia menerjang maju, menggabungkan diri dengan barisan pengeroyok sehingga kini Kim-mo Taisu dikeroyok lima. Akan tetapi pengeroyokan yang sekarang ini jauh lebih berat dibanding dengan tadi. Koai-tung Tiang-lo bukanlah seorang yang memiliki kepandaian seperti raja pengemis ini. Begitu maju dan menerjangnya dengan tubuh berputar-putar sehingga tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti angin badai dan kelihatannya seperti berubah menjadi belasan banyaknya. Kim-mo Taisu maklum bahwa dia inilah lawan yang berat, tidak kalah berat jika dibandingkan dengan Ban-pi Lo-cia, malah lebih lihai daripada Ma Thai Kun! Sibuklah Kim-mo Taisu sekarang, tadi pun ia sudah repot melayani desakan para pengeroyoknya dan hanya menghindar mengandalkan kecepatan gerakannya, akan tetapi sekarang pengeroyokan ditambah dengan Pouw-kai-ong yang ternyata memiliki gerakan yang hampir sama cepatnya dengan dia sendiri. Betapa pun Kim-mo Taisu mengerahkan kepandaian, tetap ia tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk balas menyerang. Namun, kelima orang lawannya itu pun terheran-heran betapa orang yang mereka keroyok itu selalu dapat menghindar dari serangan yang bertubi-tubi itu.

“Ha-ha-ha, alangkah gagahnya, tokoh-tokoh kang-ouw yang terkenal mengeroyok seorang lawan yang bertangan kosong!” Kim-mo Taisu sempat mengejek, akan tetapi ejekan ini ia bayar dengan terpukulnya pinggang oleh tongkat di tangan Kim-tung Sin-kai. Sebetulnya hal ini memang tak terelakkan lagi. Karena ia bicara, maka pencurahan panca inderanya terganggu dan pada detik yang bersamaan, setelah berhasil menghindarkan yang lain, ujung cambuk Ban-pi Lo-cia menyambar dari atas sedangkan tongkat Kim-tung Sin-kai menghantam ke arah pinggang. Tiga orang pengeroyok lain telah menutup jalan keluarnya, maka ia harus mengadakan pilihan. Menghindarkan tongkat berarti membuka jalan untuk datangnya cambuk, menghindarkan cambuk, harus menerima hantaman tongkat. Kim-mo Taisu tentu memilih dihantam tongkat, karena ia maklum bahwa hantaman ujung cambuk di tangan Ban-pi Lo-cia merupakan bahaya maut, sedangkan Kim-tung Sin-kai biarpun lihai, dapat ia atasi tenaganya.

“Bukkk!” Kim-mo Taisu merasa pinggangnya agak sakit, akan tetapi dilain pihak Kim-tung Sin-kai menyeringai aneh dan tubuhnya terangkat ke atas. Kim-mo Taisu menggunakan kesempatan ini meluncur lewat di bawah kedua kaki Kim-tung Sin-kai yang masih terpengaruh oleh benturan tenaga dalam sehingga empat orang pengeroyoknya tidak berani turun tangan khawatir akan mengenai tubuh kawan sendiri. Kesempatan ini dipergunakan oleh Kim-mo Taisu untuk meloncat tinggi ke atas pohon, dan beberapa detik kemudian ia telah turun kembali ke atas tanah, tangan kanannya memegang sebatang cabang pohon itu!

Ha-ha-ha, sekarang ada senjata di tanganku, majulah!” ia menantang dan kagum juga melihat bahwa Kim-tung Sin-kai sudah pulih kembali, agaknya tidak terluka. Ia heran tadinya karena tahu betul bahwa ketika pinggangnya terpukul, ia mengerahkan sin-kang yang tentu akan membuat tenaga kakek itu membalik dan melukai isi perutnya sendiri. Akan tetapi ketika melirik ke arah Pouw-kai-ong yang baru saja mengantongi bungkus merah, ia dapat menduga bahwa tentulah Si Raja Pengemis itu yang mempunyai obat penawar yang manjur sekali. Kini tanpa menanti datangnya pengeroyokan, Kim-mo Taisu mendahhului menggerakkan cabang pohon liu itu dan serta-merta ia mainkan Ilmu Pedang Cap-jit-seng-kiam (Ilmu Pedang Tujuh Belas Bintang) yang ia cipta dan sempurnakan dengan dasar ilmu yang ia baca dari kitab perbintangan di dalam Neraka Bumi. Hebat sekali gerakannya ini, karena selain

ilmu pedang itu merupakan ilmu pedang sakti yang diciptakan menurut pengalaman dan ilmu pengetahuan, juga memang seluruh anggota tubuh Kim-mo Taisu sudah terlatih sehingga hawa sin-kang di dalam tubuhnya sudah mencapai tingkat yang sukar dicari bandingannya lagi. Cabang kayu di tangannya itu mengeluarkan bunyi seperti angin mendesir-desir, membentuk sinar kehijauan bergulung-gulung dan tampak membayang dalam gulungan sinar itu tujuh belas batang kayu kelihatan jelas sekali

cabang-cabang ini bergerak ke sana ke mari membagi-bagi serangan kepada lima orang lawan.

Dengan bersenjatakan cabang kayu mainkan Cap-jit-seng-kiam, Kim-mo Taisu masih terus bertahan, akan tetapi tidak sepayah tadi. Kini ia mampu balas menyerang, akan tetapi karena daya serangnya hanya satu bagian saja sedangkan yang sembilan bagian dipakai untuk bertahan, maka tentu saja serangan balasannya itu tidak ada artinya bagi lawan seperti Ban-pi Lo-cia, Pouw-kai-ong dapat mengimbangi. Hanya kedua orang lainnya Kim-tung Sin-kai dan Lauw Kiat murid Ban-pi Lo-cia yang tingkat kepandaiannya lebih rendah, terpengaruh serangan balasannya. Melihat ini, Kim-mo Taisu lalu menujukan serangan balasan kepada dua orang itu. Ketika ia mendapat kesempatan, cepat sekali cabang kayu di tangannya bergerak disertai seruan keras, tubuhnya menyambar laksana seekor burung garuda. Kedua orang yang diserang itu tiba-tiba menjadi silau matanya oleh sinar yang menyambar dahsyat. Mereka mencoba untuk menangkis dengan tongkat di tangan mereka, akan tetapi tongkat mereka, seakan-akan terbetot oleh tenaga raksasa, terlepas dari tangan mereka, kemudian sinar hijau berkelebat cepat dan robohlah Kim-tung Sin-kai dan Lauw Kiat, muntah darah! Beberapa orang anggota pimpinan pengemis yang kiranya sudah berkumpul di sekitar tempat itu, cepat maju menolong dan membawa mereka mundur. “Ha-ha-ha. Pouw-kai-ong, Ban-pi Lo-cia dan Ma Thai Kun! Apakah tidak perlu kalian tambah lagi jumlah pengeroyokan?” Kim-mo Taisu masih mengejek sambil memutar cabang kayu di tangannya.

Marahlah tiga orang itu, terutama sekali Ban-pi Lo-cia. Beberapa tahun yang lalu, ia masih dapat mengatasi kepandaian Kim-mo-eng, dan selama ini kepandaiannya sendiri tidak berkurang, sungguhpun tenaga dalam dan hawa sakti di dalam tubuhnya tentu tidak memperoleh kemajuan karena terlalu menuruti nafsu birahinya yang tak kunjung padam. Namun ia merasa lebih unggul daripada seorang lawan semuda Kim-mo-eng yang kini menjadi Kim-mo Taisu. Ia jauh lebih tua, tentu lebih terlatih dan lebih berpengalaman. Maka mendengar ejekan ini, matanya melotot besar kemerahan, mulutnya mengeluarkan gerengan seperti beruang terluka dan tanpa berkata apa-apa Ban-pi Lo-cia memutar cambuknya dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga cambuk itu meledak-ledak dengan kerasnya lalu membentuk sinar hitam yang melingkar-lingkar dan bagai hujan datang menyambar ke arah Kim-mo Taisu tidak berani memandang rendah, cepat memutar cabang liu di tangannya, membentuk sebuah bayangan payung yang melindungi tubuhnya dari atas.

Pouw Kee Lui biarpun masih muda, namun dia belum pernah menemui lawan tangguh, maka sekali ini ia pun amat penasaran. Ilmu kepandaiannya adalah warisan orang sakti yang merupakan ilmu yang jarang ditemui orang di dunia persilatan, dan dalam hal tenaga dalam hawa sakti, dia boleh dibilang termasuk orang tingkatan tinggi. Ketika tadi Kim-mo Taisu mengambil cabang pohon itu untuk senjata, ia pun sudah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang tongkat pula, yang ia mainkan seperti orang bermain toya, kini melihat betapa lawan yang dikeroyok itu berhasil merobohkan dua orang kawan, ia menjadi marah dan penasaran. Pouw Kee Lui berseru keras, menekan ujung tongkat yang ada rahasianya sambil mencabut dan tahu-tahu sebatang pedang telah ia keluarkan dari dalam tongkat, pedang yang mempunyai sinar merah! Kemudian dengan gerakan yang tangkas sekali ia menyerbu, pedang di tangan kanan diputar dan tongkat di tangan kiri digerakkan secara aneh. Belum pernah dalam sejarah ilmu silat ada orang mainkan pedang di tangan kanan dan tongkat di tangan kiri, karena sebetulnya kedua senjata ini

mempunyai gaya permainan yang amat berbeda, bahkan berlawanan. Namun raja pengemis itu dapat memainkannya seakan-akan ia menjadi dua orang yang memegang pedang dan toya.

Hanya Ma Thai Kun seorang yang tidak bersenjata. Memang bekas tokoh Beng-kauw ini tidak suka menggunakan senjata, hanya mengandalkan keampuhan kedua tangannya yang sejak puluhan tahun telah digembleng telah di “isi” hawa beracun sehingga sebenarnya kedua tangannya itu lebih ampuh dan lebih berbahaya daripada sepasang senjata. Kalau senjata tajam hanya melukai kulit dan daging namun tangan Ma Thai Kun ini selain merusak kulit daging, juga memasukkan hawa beracun! Ia masih tetap mempergunakan ilmu pukulan Cui-beng-ciang yang amat hebat. Terlalu benci ia kepada Kim-mo Taisu yang membuat ia kehilangan wanita yang dicinta dan kehilangan tempat di Beng-kauw, maka setiap pukulannya merupakan tangan maut yang akan mendatangkan kematian mengerikan. namun Kim-mo Taisu agaknya tak pernah mau membiarkan dirinya terkena pukulan maut ini sehingga membuat Ma Thai Kun menjadi makin marah dan penasaran.

Setelah tiga orang itu maju dengan kemarahan meluap, diam-diam Kim-mo Taisu harus mengakui bahwa sekali ini ia benar-benar dihadapkan kepada ujian berat sekali. Kalau mereka bertiga maju seorang demi seorang, biarpun mereka ini merupakan lawan yang jarang dapat dicari bandingnya, namun ia masih sanggup merobohkan mereka seorang demi seorang. Akan tetapi menghadapi mereka bertiga maju bersama seperti ini, benar-benar amatlah berat karena mereka bertiga itu memiliki kepandaian khusus yang harus dihadapi secara khusus pula. Dengan pengeroyokan ini, tak mungkin ia memecah perhatian menjadi tiga untuk menghadapi mereka secara khusus, hanya dapat mempertahankan diri dan sekali-kali membalas dengan serangan yang tak berarti. Setelah kekurangan dua orang pengeroyok, tiga orang ini bukan menjadi lemah, bahkan makin kuat. Hal ini adalah karena dua orang yang telah toboh tadi memiliki tingkat jauh lebih rendah sehingga mereka berdua tadi bukannya membantu, bahkan menjadi penghalang gerakan bagi gerakan tiga orang ini dan sekarang setelah lapangannya lebih luas dan longgar, mereka ini dapat bersilat leluasa dan mencurahkan seluruh daya serangnya.

Kim-mo Taisu terdesak hebat. Apalagi kini Ban-pi Lo-cia menyelingi ayunan cambuknya dengan pukulan Hek-see-ciang, yaitu pukulan beracun dari Tangan Pasir Hitam yang hanya setingkat lebih lunak daripada tangan Cui-beng-ciang milik Ma Thai Kun! Bukan ini saja, juga Pouw-kai-ong menambah permainan tongkat dan pedangnya dengan serangan air ludah! Luar biasa berbahaya, dan menjijikkan sekali cara bertempur Si Raja Pengemis ini. Akan tetapi air ludah yang kadang-kadang ia semburkan dari mulutnya itu benar-benar tak boleh dipandang ringan. Ketika Kim-mo Taisu kurang cepat mengelak sehingga ada air ludah sedikit mengenai betisnya, terasa panas seperti terpercik air mendidih!

Ia kaget sekali dan cepat Kim-mo Taisu menghadapi tiga orang pengeroyoknya yang lihai ini dengan permainan Pat-sian Kiam-hoat dan Lo-hai-kun. Kalau tadi ia mainkan Cap-jit-seng-kiam, maka permaianannya itu hanyalah ilmu pedang belaka, ilmu pedang yang luar biasa namun masih kurang berhasil untuk menghadapi pengeroyokan lawan yang begini saktinya. Kini ia mainkan kedua ilmu itu yang sebetulnya merupakan ilmu yang sudah ia rangkai menjadi sepasang, dapat dimainkan berbareng. Pada dasarnya, Pat-sian Kiam-hoat adalah ilmu pedang, penyempurnaan dari Pat-sian Kiam-hoat atas

petunjuk manusia dewa Bu Kek Siansu, sedangkan Lo-hai-kun aslinya adalah Lo-hai-san-hoat, ilmu kipas yang juga telah mendapat petunjuk Bu Kek Siansu. Jadi kalau menurut semestinya, Kim-mo Taisu harus bermain pedang dan kipas, barulah ia dapat bersilat secara sempurna. Akan tetapi sayang, pendekar ini sudah terlalu tidak memperhatikan diri lagi sehingga ia tidak memiliki pedang maupun kipas, hanya mengandalkan tangan kaki dan kalau perlu ia mempergunakan cabang sebatai pedang. Tentu saja tidak bisa sehebat pedang tulen, apalagi kalau sedang menghadapi lawan tangguh. Karena tidak ada pedang, kini ia menggantikan dengan sebatang kayu, sedangkan tangan kirinya karena tidak bisa mendapatkan kipas, lalu ia robah menjadi ilmu pukulan yang mendatangkan angin.

Betapapun juga, Kim-mo Taisu tetap terdesak. Pada saat ia sibuk mengelak dan menangkis desakan pukulan Ma Thai Kun dan pedang serta tongkat Pouw Kee Lui, tiba-tiba tanpa mengeluarkan suara, cambuk hitam di tangan Ban-pi Lo-cia telah membelit pinggangnya! Kim-mo Taisu terkejut sekali. Dahulu ketika bertanding melawan Ban-pi Lo-cia, pernah terbelit juga pinggangnya dan ia tidak mampu melepaskan diri begitu saja. Oleh karena ini seperti juga dahulu, ia cepat mengerahkan tenaganya, meminjam tenaga tarikan cambuk, tubuhnya melayang ke arah Ban-pi Lo-cia dan cabang di tangannya menusuk dada sedangkan tangan kirinya menampar kepala! Hebat bukan main serangan ini dan Ban-pi Lo-cia tidak menyangka bahwa lawannya akan melakukan perlawanan senekat ini. Terpaksa ia melepaskan cambuknya yang melibat tubuh lawan dan bergulingan ke belakang! Memang Kim-mo Taisu juga hanya menggunakan siasat agar terlepas dari libatan cambuk, maka ia tidak mengejar karena pada saat itu, pedang di tangan Pouw Kee Lui sudah menyerangnya dengan ganas sekali, disusul pula hantaman tongkatnya. Kim-mo Taisu cepat menangkis pedang dan tongkat. Oleh dorongan hawa sakti dari tubuh mereka, ketiga senjata ini melekat, saling mengisap dan saling membetot.

Pada saat itu, Ma Thai Kun menendang, mengenai belakang lutut Kim-mo Taisu, membuat pendekar ini roboh terguling. Namun cabang liu itu masih menempel pada pedang dan tongkat Pouw Kee Lui dan kini dalam keadaan setengah berbaring, Kim-mo Taisu mempertahankan tek